Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 129919 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 17, 2019, 05:16:40 AM
Reply #2340
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Ironinya, banyak orang -termasuk sebagian orang Kristen di dalam gereja- berkeadaan seperti orang yang mengalami sakit jiwa. Bukan tidak mungkin sebagian mereka adalah orang-orang yang mengaku diri sebagai hamba Tuhan. Seperti yang dapat ditemukan di dalam media sosial, mereka menulis hal-hal yang jelas-jelas merusak nama baik orang lain, mencela, dan hal itu mendatangkan luka hati bagi sesamanya. Perdebatan-perdebatan dalam media sosial dengan kata-kata yang tidak patut memunjukkan bahwa mereka bukan orang yang pantas disebut anak-anak Allah. Apa yang mereka lakukan tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak pernah mengenal kasih Kristus. Ironinya, mereka tidak menyadari bahwa tindakan mereka sebenarnya jauh dari standar kasih yang harus dikenakan bagi orang percaya. Oleh sebab itu, bagi orang percaya yang jiwanya sehat, hendaknya menghindari tindakan yang tidak bermoral tersebut. Kalau orang percaya dinistai dan disakiti melalui media sosial, hendaknya tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Orang percaya dapat menunjukkan kelasnya sebagai manusia rohani yang beradab, dan menyerahkan penghakiman kepada Tuhan.


January 18, 2019, 05:35:33 AM
Reply #2341
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17845/0/18-JANUARI-2019-SAAT-PENTING-DAN-GENTING.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17845/1/18-JANUARI-2019-SAAT-PENTING-DAN-GENTING.amr

18. SAAT PENTING DAN GENTING
  17 January 2019 | Renungan Harian
SAAT-PENTING-DAN-GENTING Download (34)
SAAT-PENTING-DAN-GENTING Download (25)

Bagaimanapun, orang percaya pasti pernah diperhadapkan saat-saat yang bisa dikatakan penting dan genting. Kapankah hal itu terjadi? Pada saat dimana orang percaya harus memilih atau mengambil keputusan, antara kehendaknya sendiri atau kehendak Bapa dan Tuhan Yesus. Seperti ketika Yesus di taman Getsemani, yaitu saat Tuhan Yesus akan menghadapi penderitaan dan salib yang membawa-Nya kepada kematian. Yesus harus memilih, melakukan kehendak Bapa atau berkeras dengan keinginan-Nya sendiri. Pada waktu itu Tuhan Yesus sempat mengucapkan kalimat yang sangat membahayakan bagi Diri-Nya dan semua umat manusia (Mat. 26:36-46). Yesus sempat memohon, jika boleh cawan penderitaan bisa Dia hindari. Jika Yesus berhasil menghindari salib, maka tidak ada keselamatan bagi semua umat manusia. Semua manusia mati di dalam dosa, dan binasa.

Pergumulan Yesus di taman Getsemani sangat berat, Ia sendiri menyatakan bahwa rasanya Ia mau mati (Mat. 26:38). Peluh-Nya menitik seperti tetesan darah. Ia membutuhkan teman-teman, yaitu murid-murid untuk mendampingi-Nya. Jadi bisa dimengerti kalau Ia sempat memohon kepada Bapa kalau boleh cawan penderitaan tersebut bisa tidak diteguk-Nya, artinya Ia terhindar dari penderitaan. Tetapi pada akhirnya Yesus menyerah kepada Bapa dengan menyatakan bahwa Ia menerima kehendak Bapa yang jadi. Tuhan Yesus tidak berkeras dengan keinginan-Nya sendiri. Tetapi Yesus tunduk kepada kehendak Bapa.

Dalam perjalanan hidup ini, orang percaya akan menghadapi saat-saat seperti ini, dimana orang percaya harus memilih antara melakukan kehendak diri kita sendiri atau kehendak Bapa. Ini adalah pilihan yang sangat sulit. Saat seperti ini bisa disebut sebagai saat yang penting dan genting. Penting artinya saat dimana seseorang bisa menunjukkan dan membuktikan kesetiaannya kepada Bapa dan Tuhan Yesus. Tetapi juga genting artinya kalau meleset atau tidak mau melakukan kehendak Bapa, berarti sebuah tindakan yang melawan atau memberontak kepada Bapa dan Tuhan Yesus Kristus.

Kalau seseorang sudah terbiasa hidup hanya untuk menyenangkan diri sendiri, maka ia tidak akan mampu tunduk kepada Bapa dan menyerah secara tulus dan rela terhadap kehendak Bapa. Irama hidup yang salah -yaitu selalu mencari kesenangan dan kepuasan bagi diri sendiri- dapat membelenggu seseorang sehingga tidak dapat tunduk kepada kehendak Bapa. Oleh sebab itu orang percaya harus belajar untuk memenuhi apa yang tercantum dalam Doa Bapa Kami: Datanglah Kerajaan-Mu,jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Ironinya, banyak orang Kristen sangat fasih mengucapkan Doa Bapa Kami, bahkan sampai sangat hafal, tetapi mereka tidak mengerti bagaimana harus menundukkan diri kepada kehendak Bapa dalam segala hal. Dalam hal ini terdapat orang-orang Kristen yang menganggap remeh mengucapkan Doa Bapa kami. Mereka mengucapkan Doa Bapa Kami tanpa pengertian.

Tuhan pasti membawa orang percaya kepada situasi-sistuasi dimana orang percaya haris menentukan pilihan, melakukan kehendak Bapa atau kehendak diri sendiri. Situasi-situasi seperti itu sebenarnya menjadi latihan bagi orang percaya untuk menyenangkan hati Bapa atau melukai, tidak menyenangkan hatinya atau hati-Nya. Sekaligus situasi-situasi seperti itu menjadi ujian apakah orang percaya sungguh-sungguh setia kepada Tuhan atau tidak. Setiap hari akan selalu ada saat yang penting sekaligus genting seperti itu sebagai ujian, dari hal-hal sederhana, dari hal-hal kecil sampai hal-hal besar. Kalau orang percaya selalu memilih untuk melakukan kehendak Bapa dari hal-hal sederhana atau hal-hal kecil, maka dalam hal-hal besar dapat memilih dengan benar.

Orang percaya harus memandang bahwa situasi-situasi tersebut merupakan kesempatan yang berharga. Tetapi sayangnya banyak orang Kristen tidak mengerti hal ini, sehingga kesempatan-kesempatan yang berharga itu berlalu dengan sia-sia. Kesempatan-kesempatan berharga dilewatkan sehingga tidak mendatangkan faedah sama sekali dalam hidupnya. Setiap hari ada situasi dimana orang percaya harus memilih antara kehendak diri sendiri atau kehendak Bapa. Kalau orang percaya bersedia untuk dididik sebagai anak Bapa, pasti ia mengalami hal-hal tersebut. Situasi-situasi tersebut ini harus diterima sebagai berkat dari Tuhan. Ini adalah bagian dari kasih karunia yang disedikan oleh Bapa dan Tuhan Yesus Kristus untuk pendewasaan orang percaya.

...




January 18, 2019, 05:35:57 AM
Reply #2342
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Orang percaya harus mengerti bahwa kehidupan Yesus harus menjadi pola perjalanan hidupnya. Kalau Yesus mengalami pergumulan Getsemani, maka orang percaya juga harus mengalami pengalaman yang sama. Demikian pula dengan penyaliban di bukit Golgota, orang percaya juga harus mengalami penyaliban, yaitu menyalibkan manusia lamanya agar dapat hidup dalam hidup yang baru.




January 19, 2019, 05:12:59 AM
Reply #2343
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

19. TELITI DARI HAL KECIL
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17847/0/19-JANUARI-2019-TELITI-DARI-HAL-KECIL.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17847/1/19-JANUARI-2019-TELITI-DARI-HAL-KECIL.amr

Harus diketahui bahwa perjalanan 10 kilometer diawali dari langkah 1 meter. Hal ini bisa memberi pelajaran rohani yang baik. Orang percaya tidak akan bisa meraih hal-hal besar jika tidak dimulai dari hal-hal kecil atau hal-hal yang sederhana. Demikian pula hal menyenangkan hati Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus, harus dimulai dari perkara-perkara kecil atau hal-hal sederhana dalam kehidupan ini. Hendaknya orang percaya tidak berpikir bahwa untuk menyenangkan hati Bapa harus dimulai dari hal-hal yang menurut pandangan mata manusia pada umumnya sebagai hal-hal besar, seperti misalnya memberi uang dalam jumlah besar ke gereja atau yayasan sosial, menjadi majelis gereja, menjadi pendeta dan lain sebagainya. Kalau di kalangan para pendeta hal-hal besar adalah menjadi pendeta yang memiliki anggota gereja dalam jumlah besar, gedung yang besar, berkhotbah di depan ribuan masa, menjadi ketua sinode dan lain sebagainya.

Menyenangkan hati Bapa di mulai dari hal-hal kecil atau sederhana, untuk itu orang percaya harus teliti terhadap segala hal yang terjadi dan berlangsung di dalam hidup ini. Hal-hal sederhana tersebut dari setiap kata yang diucapkan, renungan hati dan semua tindakan yang dilakukan. Dari setiap kata yang diucapkan, bukan hanya kepada orang orang yang dianggap besar atau terhormat, tetapi juga kepada orang-orang yang dianggap lebih rendah seperti pegawai-pegawai bawahan, asisten atau pembantu rumah tangga, sopir dan lain sebagainya. Hendaknya orang percaya tidak menganggap sepele hal-hal sederhana tersebut. Firman Tuhan mengatakan bahwa setiap kata yang diucapkan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Jadi, kalau Alkitab berkata bahwa setiap kata yang diucapkan harus dipertanggungjawabkan itu berarti orang percaya harus serius dan teliti dari hal-hal kecil atau hal-hal sederhana.

Banyak orang Kristen ceroboh atau tidak berhati hati dalam melangkah. Mereka berpikir, karena hal-hal sederhana atau hal-hal kecil, maka hal tersebut tidak akan mempengaruhi perasaan Tuhan. Mereka berpikir bahwa dalam berurusan dengan orang percaya, Tuhan hanya mau berurusan dengan hal-hal besar. Pemikiran ini sangat keliru. Sejatinya dalam segala hal Tuhan ikut berperkara. Itulah sebabnya seharusnya dari hal-hal sederhana atau hal-hal kecil, orang percaya teliti dan berhati-hati. Hal ini dimaksudkan agar orang percaya tidak melukai hati Tuhan. Kalau orang percaya setia dalam perkara-perkara kecil atau hal-hal sederhana, maka ia juga setia dalam perkara-perkara besar atau hal-hal besar.

Hal-hal kecil atau hal sederhana menjadi sarana untuk berlatih melakukan segala sesuatu yang dapat menyenangkan hati Tuhan. Seperti seorang atlet lompat tinggi, ia tidak akan bisa melompat setinggi 1,6meter kalau tidak dimulai dari 1meter. Seorang pemain musik profesional tidak dalam waktu singkat bisa memainkan alat musik secara profesional kalau tidak dimulai latihan dari hal-hal sederhana atau hal-hal kecil. Demikian pula dengan seorang komposer. Ia akan mulai merangkai 2-3 nada kemudian merangkai belasan bahkan puluhan nada sampai ratusan nada, sehingga tercipta sebuah simphoni yang indah.

Demikian pula dengan kehidupan di hadapan Tuhan, dimulai dari memperhatikan setiap gerak pikiran dan perasaan, setiap kata yang diucapkan, setiap keputusan dan pilihan yang kelihatannya sepele, tetapi merupakan landasan dari keputusan-keputusan besar yang mengarahkan seluruh perjalanan hidup seseorang. Harus diingat, pintu-pintu besar yang beratnya puluhan bahkan ratusan kilo ternyata digerakkan oleh engsel-engsel kecil. Dari belokkan-belokkan kecil yang hanya beberapa derajat dapat mengarahkan ke arah lebih dari 100 derajat. Keputusan-keputusan yang dipandang sepele ternyata bisa mengarahkan seseorang kepada keadaan yang menentukan nasib kekalnya.

Dengan penjelasan di atas ini, orang percaya dipanggil untuk benar-benar bersikap sangat teliti dalam segala hal. Bila orang percaya benar-benar menghormati Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus, maka dalam segala hal akan memperhatikan perasaan Tuhan; yaitu ketika berpikir, merenung, mengucapkan kata, dan segala perilakunya. Orang percaya yang benar tidak memperhitungkan untung atau rugi dan senang atau tidak senang dalam bertindak, baginya yang penting adalah apakah yang dilakukan menyenangkan hati Allah Bapa dan Tuhan Yesus atau tidak.

...



January 19, 2019, 05:13:17 AM
Reply #2344
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Dengan sikap seperti ini, sesungguhnya orang percaya baru benar-benar menyembah dan memuliakan Dia. Inilah sejatinya penyembahan yang benar kepada Allah Bapa dan Tuhan Yesus. Pujian dengan iringan alat musik sebaik atau seindah apa pun tidak ada artinya tanpa sikap menghormati Bapa dan Tuhan Yesus dalam kehidupan setiap hari, serta dalam segala hal. Sesungguhnya sikap hidup kepada Tuhan inilah yang merangkai penyembahan dalam Roh dan kebenaran.



January 20, 2019, 04:51:36 AM
Reply #2345
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

20. WAKTU MILIK TUHAN
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17849/0/20-JANUARI-2019-WAKTU-MILIK-TUHAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17849/1/20-JANUARI-2019-WAKTU-MILIK-TUHAN.amr

Salah satu langkah penting untuk dapat menyenangkan hati Tuhan adalah menyadari dan mengakui bahwa bukan hanya harta dan tubuh kita milik Tuhan, tetapi waktu kita juga milik Tuhan. Dari setiap menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun semua adalah milik Tuhan. Banyak orang berpikir bahwa waktu hidupnya adalah miliknya sendiri, sehingga tidak mengatur waktunya secara bijaksana. Kecerobohan ini membuat banyak orang Kristen gagal dalam menyenangkan hati Tuhan.

Selama ini banyak orang berpikir bahwa harta boleh dimiliki Tuhan, uang dan seluruh kekayaan juga boleh dimiliki Tuhan, tetapi kalau waktu tidak diklaim sebagai milik Tuhan. Memang hal ini tidak diucapkan dengan kata-kata, tetapi sikap hidup mereka menunjukkan bahwa mereka tidak mengakui bahwa waktu adalah milik Tuhan. Tidak heran kalau mereka tidak bersedia menyerahkan waktu mereka kepada Tuhan. Dengan kebenaran ini orang percaya harus disadarkan bahwa setiap detik, menit, jam, hari, dan seterusnya adalah milik Tuhan.

Harus disadari bahwa harta yang tak ternilai yang kita miliki, seharusnya dipersembahkan kepada Tuhan. Di sinilah letak kegagalan banyak orang Kristen dalam menyelenggarakan hidupnya untuk bisa menyenangkan hati Tuhan. Kegagalan mengelola waktu sangat berdampak dalam membangun kualitas kehidupan. Kalau kualitas hidup seseorang rendah, tentu saja ia tidak dapat menyenangkan Tuhan secara proporsional atau secara ideal. Dalam hal ini betapa pentingnya mengelola waktu dengan cerdas, dengan mengalokasi kegiatan-kegiatan yang berguna untuk pendewasaan iman.

Tuhan menganugerahkan 24 jam setiap hari. Orang percaya harus dapat memanfaatkan setiap menit dari waktu yang Tuhan berikan tersebut. Adalah bijaksana kalau orang percaya menyusun seluruh kegiatan dari pagi sampai malam hari menjelang tidur. Memang tidak mudah memiliki kedisiplinan secara ketat dalam melaksanakan susunan kegiatan yang sudah direncanakan. Tetapi kalau orang percaya berlatih terus menegakkan kedisiplinan secara ketat dalam melaksanakan susunan kegiatan yang telah direncanakan, maka ia akan memiliki irama kedisiplinan dalam melaksanakan susunan kegiatan. Hal ini akan menjadi kesukaan dalam mengisi hari hidup.

Dalam menyusun kegiatan sehari-hari, selain tugas-tugas rutin seperti sekolah, kuliah, bekerja, bertemu dengan anggota keluarga yang lain, beristirahat, harus juga mengalokasi waktu untuk belajar kebenaran Firman dan berdiam diri di hadapan Tuhan. Alokasi waktu untuk belajar Firman Tuhan dapat melalui berbagai sarana -seperti literature, CD khotbah, internet, dan lain sebagainya- haruslah dipandang sebagai kemutlakan. Demikian pula dengan alokasi waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan adalah sebuah kemutlakan. Berdiam diri di hadapan Tuhan, isinya antara lain yaitu memuji dan menyembah Tuhan, menyampaikan berbagai hal yang harus didiskusikan dengan Tuhan, mengucap syukur, dan lain sebagainya. Setiap detik orang percaya adalah milik Tuhan. Implikasi dari pengakuan ini, orang percaya tidak boleh menggunakan waktu untuk kesenangannya sendiri. Setiap detik waktu yang digunakan hanya untuk kepentingan pekerjaan Tuhan.

Dengan mengakui dan mengklaim bahwa waktu orang percaya adalah milik Tuhan, maka semua waktu yang ada harus digunakan hanya untuk keuntungan pekerjaan Tuhan. Dengan prinsip ini seseorang tidak mudah terbawa kepada kesibukan-kesibukan dengan orang-orang yang tidak mengenal kebenaran. Orang percaya harus berani menolak ajakan atau undangan yang memuat acara-acara yang tidak mendatangkan kesenangan bagi Tuhan. Oleh sebab itu acara-acara seperti reuni, arisan, nonton bareng, pesta ulang tahun, dan lain sebagainya tidak mudah dihadiri oleh orang percaya. Orang percaya harus benar-benar selektif dalam mengikuti atau menghadiri berbagai acara. Kalau waktu tidak digunakan yang berdaya guna membangun iman, berarti sebaliknya merusak iman.

Memang konsekuensi dari keputusan-keputusan di atas akan membuat orang percaya tereliminir atau terpisah dari orang-orang dekat, sahabat-sahabat, bahkan saudara-saudara kandung. Orang percaya harus tetap memilih Tuhan daripada siapa pun. Inilah bukti kesetiaan dan kecintaan orang percaya kepada Tuhan. Demikianlah orang percaya harus rela meninggalkan semua bentuk persekutuan dengan orang yang tidak mengenal kebenaran. Namun demikian hendaknya orang percaya tidak menampilkan eksklusivitas, sehingga membangun prasangkan bahwa orang percaya arogan atau sombong dengan memisahkan diri dari pergaulan. Orang percaya harus cerdas, bagaimana membawa diri sedikian rupa untuk tetap hadir di tengah-tengah masyarakat tanpa tergarami, tetapi sebaliknya malah menggarami mereka.

...



January 20, 2019, 04:51:58 AM
Reply #2346
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Setiap orang percaya harus mempertanggungjawabkan penggunaan setiap menit dan jam yang Tuhan percayakan. Setiap orang memiliki porsi waktu yang sama. Adapun yang dihasilkan dari penggunaan waktu masing-masing individu berbeda. Suatu hari nanti setiap orang percaya harus menghadap takhta pengadilan Kristus dan mempertanggungjawabkan penggunaan waktu tersebut.



January 21, 2019, 05:17:41 AM
Reply #2347
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

21. WAKTU YANG DIBELI
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17854/0/21-JANUARI-2019-WAKTU-YANG-DIBELI.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17854/1/21-JANUARI-2019-WAKTU-YANG-DIBELI.amr

Salah satu yang membuat seseorang tidak merasa dan tidak mengaku bahwa dirinya meremehkan perjalanan waktu ini adalah merasa tidak berniat untuk mengkhianati Tuhan. Ia berpikir bahwa nanti selalu ada waktu untuk mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh dan selalu ada waktu untuk menemukan Tuhan. Seharusnya ia berpikir bahwa nanti akan tidak waktu lagi untuk mencari dan menemukan Tuhan. Dengan pikiran itu mereka merasa aman dan damai. Padahal itu semua perasaan aman dan damai yang semu. Mereka seperti domba kelu dibawa ke pembantaian. Banyak orang Kristen berkeadaan seperti ini. Kalau seseorang sudah tidak bersungguh-sungguh mulai sekarang atau sejak dini, maka ia tidak akan pernah bisa bersungguh-sungguh. Ini berarti mereka masuk perangkap. Perangkap abadi yang membinasakan.

Kuasa gelap akan menggiring seseorang berpikir bahwa nanti selalu ada waktu untuk mencari dan menemukan Tuhan, sehingga hidup hari ini diisi dengan segala kegiatan tanpa mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Sementara hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Iblis mewarnai hidupnya dengan segala warna kehidupan yang membuat kebenaran Tuhan tidak memiliki tempat dalam hidupnya. Seseorang merasa telah memberi tempat bagi Tuhan, sebab tidak merasa berencana mengkhianati Tuhan. Padahal tanpa mengisi jiwanya dengan kebenaran Tuhan dan pengalaman pribadi yang konkret dengan Tuhan, seseorang berarti tidak memberi tempat bagi Tuhan.

Momentum-momentum yang berharga, yang Tuhan sediakan bagi orang yang dikasihi-Nya berlalu dengan sia-sia. Momentum-momentum itu bisa berupa pengajaran-pengajaran Firman Tuhan yang dapat menjadi kunci pembuka pengertian dalam pengalaman hidup untuk menemukan Tuhan. Karena kuncinya tidak dimiliki, maka pengalaman hidup yang di dalamnya memuat pembentukan Tuhan untuk menyempurnakan hidup tidak berdampak sama sekali dalam hidupnya. Momentum-momentum ini adalah anugerah bertahap yang harus diterima secara berkesinambungan. Seperti tali yang harus bersambung terus dan dijaga agar tidak putus. Sayangnya, banyak alasan yang dibuat untuk membenarkan tindakan tidak setia belajar kebenaran Tuhan. Banyak hal yang dianggap lebih menarik daripada Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Dengan sikap ini mereka melecehkan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Melalui penjelasan ini orang percaya diingatkan untuk bertobat. Jika tidak, maka orang percaya akan binasa.

Banyak orang Kristen tidak menyadari perjalanan waktu sehingga tidak mengisi hidup ini guna mencari dan menemukan Tuhan secara benar. Hal ini juga terjadi atas orang-orang yang merasa bahwa dirinya sudah bijaksana, cukup umur, dan memiliki banyak pengalaman dan prestasi kehidupan, dan banyak uang. Mereka makin menjadi buta terhadap kebenaran yang murni. Padahal dalam Tuhan atau kedewasaan iman mereka miskin. Inilah kebodohan “orang-orang bijaksana”. Bagi orang-orang seperti Tuhan menyembunyikan hikmat-Nya (Mat. 11:25). Untuk orang-orang seperti ini Tuhan Yesus menuntut agar melepaskan segala sesuatu dan mengikut Dia (Mat. 19:21; Luk. 14:33). Kalau mereka tidak merendahkan diri, maka mereka akan binasa dalam keangkuhan yang sering sangat terselubung. Nilai diri yang mereka miliki akan menjebak mereka menjadi orang-orang yang tidak bertumbuh dalam Tuhan dan kedewasaan iman yang Tuhan kehendaki. Mereka tidak bertumbuh dalam karakter Kristus yang seharusnya makin melekat dan muncul dalam kehidupan mereka.

Orang-orang tersebut ternyata juga bisa terjadi atas rohaniwan-rohaniwan gereja, majelis, dan aktivis yang merasa sudah memiliki standar kerohanian yang baik. Kedudukan dan jabatan gerejani yang melekat dalam diri mereka bisa membutakan mata mereka terhadap hal ini. Ironisnya, tidak sedikit jemaat yang dengan kehausan mencari Tuhan dengan giat dan bersungguh-sungguh mencari perkenanan Tuhan. Sementara itu tidak sedikit kelompok “imam” yang merasa sudah menjalankan roda hidup Kekristenannya secara benar, padahal belum atau bahkan tidak.

...




January 21, 2019, 05:18:00 AM
Reply #2348
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Orang-orang yang merasa sudah puas diri dengan kehidupan imannya ini melihat standar keberagamaannya sudah cukup. Ia sudah merasa cukup menjadi orang Kristen yang tidak tercela. Ibarat orang naik kendaraan ia merasa bahwa kecepatannya sudah standar, ia tidak merasa perlu mempercepat laju kendaraannya. Baginya, mempercepat laju kendaraan berarti menyusahkan dan perjalanan merasa kurang menyenangkan. Dengan kecepatan yang menurutnya normal dan standar itu, banyak hal yang bisa dilakukan. Ia tidak menyadari bahwa perjalanan bisa terhenti setiap saat. Di pihak lain ia tidak menyadari bahwa ia memiliki sasaran dan target yang yang harus dicapai. Bila menyadari hal ini maka seseorang akan berkata seperti tulisan Paulus: Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul (1Kor. 9:26).



January 22, 2019, 05:54:34 AM
Reply #2349
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

22. MENGGUNAKAN WAKTU YANG ADA
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17856/0/22-JANUARI-2019-MENGGUNAKAN-WAKTU-YANG-ADA.mp3

Waktu ini tetap 24 jam perhari, setiap jam masih 60 menit, dan setiap menit masih 60 detik. Kalau kita hendak mempercepat kehidupan ini guna persiapan kekekalan, maka sejatinya yang dipercepat bukanlah waktu. Sebab kita tidak bisa mempercepat waktu, tetapi mengisi lebih banyak waktu yang berguna untuk persiapan memasuki kekekalan. Kuncinya adalah bagaimana menghargai setiap detik dan menit waktu yang Tuhan sediakan. Tentu untuk ini tidak harus mengurangi waktu untuk belajar, bekerja mencari nafkah, dan berbagai tanggung jawab lain yang harus dipenuhi, tetapi harus ada waktu yang juga dialokasi untuk belajar kebenaran. Selanjutnya, selalu memperhatikan perjalanan hidup setiap hari, sebab setiap hari Tuhan menyediakan berkat-berkat rohani yang tidak terbeli oleh apa pun. Itulah momentum-momentum yang sangat berharga, bisa langka dan bisa tidak terulang lagi. Untuk ini dibutuhkan kesungguhan setiap individu. Ingat waktu bisa menghidupkan, tetapi juga bisa membinasakan (Ef. 5:14-17)

Ukuran “bersungguh-sungguh” memang relatif, banyak orang sudah merasa bersungguh-sungguh telah menekuni imannya, padahal belum atau tidak sama sekali. Juga terdapat orang-orang Kristen yang merasa belum serius mengembangkan imannya, tetapi tidak merasa ada di zona berbahaya. Ia merasa bahwa keadaan kerohaniannya belum pada taraf membahayakan. Itulah sebabnya ia bertahan dalam kondisi seperti itu, padahal sementara ia bersikap pasif, Iblis terus menggarap secara intensif agar terjerat dalam kebodohan sehingga tidak pernah bisa bangkit untuk selamanya.

Langkah yang harus dilakukan adalah menyadari bahwa kita hidup ada dalam perjalanan waktu yang ketat. Oleh karena orang percaya harus menghargai setiap menit yang Tuhan percayakan kepada kita. Waktu hidup harus diprogram dengan benar. Singkirkan dan abaikan hal-hal yang tidak akan mendatangkan keselamatan abadi. Jangan tidak menyediakan waktu untuk mendengar Suara Kebenaran dan berdoa. Mendengar Suara Kebenaran melalui berbagai media, baik cetak (renungan dan majalah Truth), multimedia, dan elektronik (radio dan TV). Selalu mengembangkan kehausan akan Tuhan dalam diri kita. Untuk ini kita harus berani tidak mencintai dunia. Supaya bisa lebih terbantu, kita harus bergaul dengan orang-orang yang takut akan Tuhan. Lebih lengkap lagi kalau orang percaya turut mengambil bagian dalam pelayanan orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan benar-benar mengusahakan keselamatan jiwa orang lain.

Selama ini orang berkata waktu adalah uang,kemudian rohaniwan menangkisnya dengan konsep waktu adalah anugerah. Benarkah bahwa waktu adalah anugerah? Benar sebagian, sebab waktu adalah anugerah bagi orang tertentu dan waktu menjadi kutuk bagi orang tertentu pula. Waktu menjadi anugerah bagi orang mengisi waktu hidupnya secara bijaksana (Ef. 5:15-17), sebaliknya waktu menjadi kutuk bagi orang yang mengisi hari-hari hidupnya dengan tidak bijaksana. Perhatikan beberapa ungkapan dalam ayat ini: Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup, jadilah bijaksana jangan seperti orang bebal atau tidak bijaksana.Kita perlu memeriksa hidup kita, apakah hidup kita sudah benar atau bijaksana? Yang bijaksana adalah yang mendengar Firman dan melakukannya (Mat. 7:24-27).

Didalam waktu hidup ini terdapat kesempatan, kesempatan ini bisa diibaratkan sebagai kendaraan yang membawa kita kepada kebenaran Allah atau tidak. Dalam Efesus 5:16 dikatakan, pergunakanlah waktu yang ada. Disini waktu ibarat kendaraan yang dimanfaatkan. Dimanfaatkan disini lebih tepat digunakan kata diarahkan ketujuan yang benar. Sebab waktu tetap berjalan, tidak ada yang dapat menghentikannya. Setiap orang terseret oleh waktu itu. Karenanya sementara orang percaya terseret oleh waktu, hidup didalam waktu ini diarahkan ke tujuan yang benar (1Kor. 9:26). Waktu ini sangat singkat, artinya kendaraan yang membawa kita kepada kebenaran ini terbatas waktu penggunaannya (Yak. 4:4; 1Ptr. 1:24). Menyadari hal ini orang percayaharus memiliki hati yang bijaksana (Mzm. 90:10). Maka,waktu yang sisa ini jangan digunakan untuk hal-hal yang Tuhan tidak kehendaki, tetapi digunakan secara bijaksana (1Ptr. 4:2-3).

...



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)