Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 121591 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

January 22, 2019, 05:54:56 AM
Reply #2350
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Oleh sebab itu seseorang harus mengerti kebenaran dan mengakuinya serta berkomitmen dengan teguh. Supaya waktu yang ada digunakan untuk membawa diri kita ini kepada kebenaran Tuhan. Kenyataan yang terlihat adalah waktu yang ada digunakan untuk membawa manusia kepada berbagai hal yang tidak membawa orang percaya kepada kebenaran Allah. Banyak waktu yang digunakan sekadar mengumpulkan harta, meraih cita-cita duniawi -seperti pangkat prestasi, gelar dll- waktu digunakan untuk memuaskan hasrat daging dan berbagai kesenangan seolah-olah hidup ini adalah kesempatan sekali-kalinya.Banyak manusia tidak memiliki kesadaran, ia lupa bahwa hidup ini sekarang baru permulaan dari sebuah kesadaran abadi (1Kor. 15:32; Luk. 16:19-31). Dibalik kehidupan hari ini masih ada kehidupan yang panjang yang Allah sediakan, yaitu kehidupan di keabadian. Inilah yang dinanti-nantikan oleh tokoh-tokoh iman (Flp. 3:10-11). Gereja Tuhan harus menggiring jemaat kepada kehidupan yang penuh harapan disini (1Ptr. 1:3-4). Harapan disini menyangkut hidup kekal.



January 23, 2019, 05:24:14 AM
Reply #2351
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

23. MEMBANGUN PENGERTIAN

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17858/0/23-JANUARI-2019-MEMBANGUN-PENGERTIAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17858/1/23-JANUARI-2019-MEMBANGUN-PENGERTIAN.amr
Dalam Efesus 5:15-17 Firman Tuhan mengatakan: Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Ketika Firman Tuhan menasihati orang percaya untuk tidak bodoh, konteksnya mengenai penggunaan waktu. Seperti yang diketahui bahwa seseorang menjadi cakap atau pandai bukan dalam hitungan hari, tetapi melalui sebuah proses yang membutuhkan waktu panjang. Demikianlah, seseorang tetap berkeadaan bodoh atau bijaksana tergantung masing-masing individu, yaitu bagaimana seseorang menggunakan waktu secara efisien. Dalam hal ini harus ditegaskan, bahwa untuk menjadi orang yang bijaksana -artinya mengerti kehendak Tuhan-, tidak bisa secara mendadak (instant), semua harus melalui perjalanan waktu dimana proses menjadi bijaksana dapat terjadi atau berlangsung.

Di dalam kehidupan ini, masing-masing orang memperoleh porsi waktu yang sama. Tuhan memberikan masing masing orang porsi waktu yang sama, yaitu setiap orang mendapat setiap hari memuat 24 jam, satu jam memuat 60 menit. Adapun nilai waktu yang dimiliki setiap orang berbeda-beda, tergantung bagaimana setiap individu mengefisiensikan waktu tersebut, atau mengoptimalkan waktu yang tersedia untuk menemukan Tuhan dan mengubah karakternya. Dalam hal ini, nyatalah bahwa apakah waktu yang dimiliki seseorang menjadi berharga atau tidak, tergantung sikap seseorang terhadap waktu itu sendiri. Seseorang bisa menjadikan waktu hidupnya berharga, tetapi juga bisa membuat waktu hidupnya tidak berharga. Orang membuat waktu hidupnya menjadi tidak berharga karena menyia-nyiakannya, membawa diri kepada kebinasaan. Waktu adalah anugerah, orang yang tidak menghargai waktu berarti tidak menghargai anugerah. Keselamatan yang dimiliki seseorang diperagakan oleh sikapnya terhadap waktu.

Banyak orang yang membuat waktu hidupnya sia-sia untuk hal-hal yang tidak berdaya guna bagi kekekalannya. Mereka berjam-jam bisa terpaku oleh film-film seri yang tidak mendidik atau tidak memberi pelajaran rohani yang baik, berjam-jam hanyut dengan internet untuk hal-hal yang tidak membangun iman, atau media sosial, belum lagi terpaku dengan konten-konten internet, dan lain sebagainya. Hal ini sudah menjadi gaya hidup hampir semua orang, baik di kota maupun di daerah-daerah pinggiran sampai ke desa-desa. Bahayanya adalah apa yang mereka dengar dan saksikan melalui gadget tersebut tidak memberi manfaat untuk kehidupan rohani mereka, tetapi malah merusak pola berpikir. Memang Tuhan dapat menggunakan media ini untuk mengajarkan kebenaran, orang percaya harus menggunakan media ini untuk mendapat dan menyampaikan Firman Tuhan. Tetapi faktanya, kuasa kegelapan juga telah menggunakan media ini untuk membinasakan banyak manusia.

Kalau seseorang sibuk dengan hobi tertentu, maka waktunya akan tersita oleh hobi tersebut. Banyak orang lebih menginvestasikan waktunya untuk kesenangan-kesenangan duniawi dan dagingnya, tetapi tidak digunakan untuk belajar kebenaran Firman Tuhan. Sehingga tanpa mereka sadari, mereka telah membuang waktu dengan sia-sia. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun pengertian mengenai kebenaran dan mengadakan perjumpaan dengan Tuhan dalam doa, telah dijadikan Iblis sebagai sarana membangun kebodohan, yaitu membangun pola pikir yang melawan kebenaran. Sehingga wajah batin banyak orang -di dalamnya termasuk orang Kristen- lebih mengarah kepada wajah dunia, daripada wajah yang Tuhan kehendaki tergambar dalam kehidupan orang percaya. Dunia dengan segala pengaruhnya membentuk wajah batin seseorang.

Wajah batin yang dikehendaki oleh Tuhan tergambar dalam kehidupan orang percaya adalah wajah Tuhan Yesus, artinya bahwa orang percaya harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Hal ini bisa terealisir dalam kehidupan orang percaya kalau orang percaya membangun pengertian yang benar. Pengertian yang benar membangun kecerdasan rohani yang membuat seseorang memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah. Kehendak Allah bukan hanya berarti mengerti moral atau etika yang baik dan melakukan tatanan moral atau etika tersebut. Kehendak Allah adalah segala sesuatu yang Allah kehendaki untuk dilakukan orang percaya. Segala sesuatu di sini bukan hanya menyangkut hal-hal yang kelihatan, tetapi juga sikap hati dan gerak perasaan orang percaya. Justru pada dasarnya Tuhan lebih memperhatikan apa yang tidak kelihatan atau yang tidak dipandang oleh manusia. Tuhan menguji batin setiap orang.

...



January 23, 2019, 05:24:38 AM
Reply #2352
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...


Mencermati penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bagaimana wajah batin seseorang tergantung kepada masing-masing individu membangunnya. Tuhan menyediakan fasilitasnya, di dalamnya termasuk waktu yang ada, tetapi bagaimana sikap seseorang terhadap waktu menentukan bagaimana wajah yang tergambar di dalam kehidupannya. Dalam hal ini bukan Tuhan yang menentukan secara sepihak, tetapi tanggung jawab masing-masing individu yang berperan atau menentukan. Itulah sebabnya sangat keliru kalau seseorang berpendirian bahwa Tuhan menentukan secara sepihak orang-orang tertentu untuk selamat, dan di lain pihak Tuhan membiarkan orang-orang tertentu tidak pernah mengalami keselamatan.



January 24, 2019, 05:37:25 AM
Reply #2353
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

24. DARI KEMULIAAN KE KEMULIAAN

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17860/0/24-JANUARI-2019-DARI-KEMULIAAN-KE-KEMULIAAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17860/1/24-JANUARI-2019-DARI-KEMULIAAN-KE-KEMULIAAN.amr

Kalimat judul ini bagi sebagian orang percaya sudah tidak asing lagi. Kalimat ini bukan saja diucapkan oleh para pendeta, tetapi juga para pemimpin puji-pujian, juga jemaat awam. Ironinya, banyak orang yang sebenarnya tidak mengerti yang dimaksud dengan kalimat “dari kemuliaan ke kemuliaan” itu. Seperti biasa atau pada umumnya, dewasa ini banyak orang-orang Kristen yang mengucapkan kalimat-kalimat yang dia tidak pahami, tetapi mereka terus menerus mengucapkannya di mimbar-mimbar gereja. Mereka mengucapkan kalimat-kalimat tersebut dengan asumsi bahwa orang lain telah memiliki pengertian yang sama dengan dirinya terhadap kalimat tersebut, padahal belum tentu demikian. Malahan terdapat kecenderungan banyak orang memiliki berbagai konsep mengenai kalimat-kalimat yang sudah umum diucapkan.

Demikian pula dengan kalimat ini, orang percaya harus memahami dengan benar apa sebenarnya yang dimaksud dengan “dari kemuliaan ke kemuliaan” itu. Untuk mengerti maksud kalimat ini, terlebih dahulu harus dapat memahami pengertian kata mulia. Kata “mulia” berarti bernilai tinggi, agung, luhur, elok. Di dalam bahasa Ibrani kata ini terjemahan dari “kabod”. Kata “kabod” artinya sesuatu yang memiliki bobot atau memiliki nilai. Jadi, kemuliaan berarti sesuatu yang memiliki nilai tinggi. Tentu berbicara mengenai kemuliaan terkait dengan Tuhan yang memiliki standar atau ukuran yang berbeda dengan dunia. Hanya orang yang mengenal kebenaran yang memahami nilai-nilai Ilahi dari perspektif Allah. Orang yang tidak mengenal kebenaran hanya dapat mengenal kemuliaan duniawi.

Kemuliaan menurut dunia atau kemuliaan duniawi adalah segala sesuatu yang bersifat materi dan segala sesuatu yang bisa membangkitkan kekaguman manusia lain. Materi berarti segala sesuatu yang bersifat bendani; seperti rumah, kendaraan, perhiasan, pakaian, dan lain sebagainya. Semua itu dipandang memberi nilai atau kemuliaan kepada seseorang. Bila dimiliki oleh seseorang, maka hal tersebut bisa mengundang kekaguman orang lain yang melihatnya. Demikian pula dengan gelar, pangkat, kedudukan, dan kekuasaan, yang juga dipandang sebagai memiliki nilai atau kemuliaan yang membuat orang lain menjadi kagum, hormat, dan tunduk kepada mereka yang memilikinya. Ciri ini sudah melekat dalam kehidupan hampir semua manusia, karena memang sejak kanak-kanak filosofi hidup yang berunsur demikian telah diserap ke dalam jiwa semua manusia. Pada umumnya manusia memburu hal-hal tersebut di sepanjang umur dan waktu hidupnya. Mereka memaksimalkan semua potensi hanya demi meraih hal-hal tersebut.

Demi kemuliaan duniawi tersebut, banyak orang atau hampir semua orang tidak memedulikan keselamatan kekalnya, di dalamnya termasuk orang-orang Kristen. Banyak orang Kristen merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus, bahkan ada yang meyakini bahwa dirinya sudah ditentukan untuk menerima keselamatan, sehingga mereka tidak sadar adanya pengaruh dunia yang meracuni dirinya. Mereka bergaya hidup seperti anak-anak dunia yang mengisi tahun-tahun hidupnya untuk memburu kemuliaan duniawi. Jiwa mereka menjadi keruh dan rusak. Mereka tidak mengerti bagaimana memperlakukan Allah Bapa dan Tuhan Yesus secara benar. Pada dasarnya mereka tidak takut dan tidak menghormati Allah. Tentu saja mereka juga tidak mengasihi Tuhan, padahal orang yang tidak mengasihi Tuhan adalah orang-orang yang terkutuk (2Kor.16:22 Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia. Maranata). Orang-orang Kristen seperti ini tidak pernah mengerti bagaimana melakukan kehendak Bapa. Tentu saja mereka akan tertolak dari hadapan Tuhan Yesus (Mat. 7:21-23).

Kemuliaan dari sudut pandang atau perspektif Tuhan adalah moral atau etika Tuhan yang harus dikenakan dalam kehidupan orang percaya. Seorang yang memiliki kemuliaan Tuhan atau kemuliaan yang sesungguhnya, memiliki cara berpikir Tuhan, sehingga segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran, perasaan, dan selera Tuhan. Kehidupan orang percaya seperti ini adalah kehidupan yang mengasihi, menghormati Allah Bapa dan Tuhan Yesus secara patut. Mereka pasti memiliki hati yang takut akan Allah, sehingga segala sesuatu yang dilakukan tidak menyakiti hati Allah Bapa dan Tuhan Yesus, tetapi sebaliknya selalu menyenangkan hati-Nya. Dengan demikian orang Kristen seperti ini selalu dapat membuat Tuhan tersenyum. Tentu saja orang Kristen seperti ini, memiliki kerinduan yang sangat kuat untuk bertemu “muka dengan muka” memandang Yesus. Bagi mereka kematian bukan sesuatu yang menakutkan, tetapi malah dinantikan.

...



January 24, 2019, 05:37:48 AM
Reply #2354
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Bila dikatakan dari kemuliaan ke kemuliaan, maksudnya adalah terjadinya atau berlangsungnya pertumbuhan kehidupan orang percaya yang berpola pikir seperti Tuhan semakin meningkat. Dalam hal ini kehidupan Kekristenan seperti organisme yang hidup dan sangat dinamis. Perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan hidup dari kemuliaan ke kemuliaan, tidak pernah berhenti atau mestinya tidak bisa berhenti. Sama seperti sebuah entitas yang hidup, pasti terus menerus mengalami pertumbuhan, sebab ini adalah hukum kehidupan yang mutlak.



January 25, 2019, 05:23:33 AM
Reply #2355
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

25. BEKAL UNTUK KEKEKALAN
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17862/0/25-JANUARI-2019-BEKAL-UNTUK-KEKEKALAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17862/1/25-JANUARI-2019-BEKAL-UNTUK-KEKEKALAN.amr

Banyak orang Kristen merasa bahwa dengan menerima fakta bahwa Yesus adalah Juruselamat yang telah mati di kayu salib menebus dosa-dosa manusia, maka berarti sudah memiliki bekal yang cukup untuk masuk surga. Orang-orang Kristen seperti ini salah memahami pengertian percaya dan tidak mengerti pengertian keselamatan. Percaya bukan hanya aktivitas pikiran. Bukan sekadar persetujuan terhadap suatu fakta atau sebuah pengaminan akali. Percaya adalah tindakan terhadap apa yang diyakini, diakui, dan diterima sebagai suatu kebenaran. Seseorang tidak dapat dikatakan sudah percaya kalau hanya memiliki keyakinan dan penerimaan dalam pikiran. Seseorang dikatakan percaya atau memiliki iman kalau secara konkret mewujudkannya dalam tindakan apa yang diyakini dan diterima tersebut. Gambaran yang jelas mengenai percaya ini dapat dilihat dalam kehidupan Abraham. Ia disebut sebagai “bapa orang percaya”, karena memiliki tindakan melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh ELOHIM Yahweh.

Kasihan sekali dan benar-benar malang, banyak orang Kristen merasa sudah memiliki iman atau percaya kepada Tuhan Yesus dan merasa sudah selamat, padahal mereka hanya memiliki iman atau percaya semu. Iman mereka adalah iman fantasi yang tidak menyelamatkan. Orang-orang Kristen seperti ini pasti memahami anugerah secara dangkal dan murahan. Biasanya mereka akan berkata bahwa keselamatan bukan karena perbuatan baik, sehingga mereka tidak pernah memiliki perjuangan yang memadai untuk memahami keselamatan, mengalami dan memilikinya. Memang keselamatan seseorang terjadi bukan karena perbuatan baik, tetapi karena korban Tuhan Yesus di kayu salib. Tetapi memercayai karya Yesus di kayu salib adalah tindakan, bukan sekadar sebuah pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Untuk mewujudkan percayanya inilah seseorang harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12-13).

Kalau seorang Kristen salah dalam memahami pengertian percaya, maka pengertian keselamatannya pun juga pasti salah. Keselamatan bukan hanya berbicara mengenai terhindarnya seseorang dari api neraka, tetapi keberadaan seseorang yang diubahkan. Perubahan itu harus nyata terjadi atau berlangsung sejak di bumi ini. Justru keselamatan yang sejati dimiliki oleh seseorang nampak dari perilaku hidupnya setiap hari. Perilaku tersebut bukan hanya berstandar baik di mata manusia lain, tetapi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus berarti selalu melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Bukan hanya melakukan hukum-hukum yang tertulis, tetapi mewujudkan segala sesuatu yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan. Inilah yang disebut sebagai percaya atau beriman itu.

Mewujudkan iman atau percaya dalam tindakan adalah sesuatu yang mutlak. Jika seseorang menolak untuk mewujudkan apa yang dikehendaki oleh Tuhan untuk dilakukan, berarti ia tidak percaya atau tidak beriman kepada Tuhan. Ini juga berarti menolak atau menyia-nyiakan keselamatan yang Tuhan sediakan dan ditawarkan kepada seseorang. Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa orang percaya dipanggil bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus (1Tes. 4:7). Di bagian lain dalam Alkitab, Tuhan menghendaki agar orang percaya kudus seperti Dia (1Ptr. 1:16). Firman Tuhan ini sebenarnya merupakan panggilan untuk percaya. Jadi, kalau tidak memenuhi apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan -yaitu hidup tidak bercacat dan tidak bercela atau hidup kudus- hal itu sama dengan tidak percaya kepada Tuhan.

Dengan demikian dapat diperoleh kebenaran bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus, itu berarti tidak ada perwujudan hidup dalam kekudusan di luar keberimanan kepada Yesus. Oleh sebab itu, memahami keselamatan hanya dalam Yesus Kristus, tidak hanya memperhatikan subyeknya -yaitu Tuhan Yesus yang memikul salib- tetapi juga obyeknya, yaitu manusia yang diselamatkan. Diselamatkan di sini artinya dibuat untuk bisa hidup tidak bercacat dan tidak bercela atau memiliki kekudusan seperti Tuhan sendiri. Seorang Kristen yang adalah obyek dari keselamatan tidak bisa tidak harus berkeadaan seperti Tuhan Yesus yang menyelamatkan. Jadi, kalau seorang Kristen tidak memiliki keserupaan dengan Yesus, berarti ia belum mengalami dan memiliki keselamatan itu.

...



January 25, 2019, 05:23:53 AM
Reply #2356
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Dengan mencermati kebenaran di atas, hendaknya orang Kristen tidak merasa sudah selamat, diperkenan masuk surga hanya karena berbekal keyakinan di dalam pikiran terhadap fakta karya salib Yesus yang menyelamatkan. Orang percaya harus berbekal kehidupan yang diubahkan setiap hari, dari seorang yang berkodrat dosa menjadi seorang yang berkodrat Ilahi. Sebab hanya orang-orang yang serupa dengan Yesus atau berkodrat Ilahi, dimana Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara, yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Dia. Dengan demikian, perjalanan hidup orang beriman adalah petualangan hebat kehidupan yang selalu memburu pengenalan akan Allah, kehendak, dan rencana-Nya untuk diwujudkan. Inilah prinsip kehidupan Anak Tunggal Bapa yang juga menjadi prinsip hidup orang percaya: Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan perkerjaan-Nya.



January 26, 2019, 05:32:13 AM
Reply #2357
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

26. MENGISI KESELAMATAN

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17864/0/26-JANUARI-2019-MENGISI-KESELAMATAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17864/1/26-JANUARI-2019-MENGISI-KESELAMATAN.amr

Satu hal yang harus ditegaskan, sebab merupakan kemutlakan: Pertama, keselamatan hanya dalam Yesus Kristus, jadi tidak ada keselamatan di luar Kristus, apa pun bentuk dan caranya. Kedua, keselamatan terjadi dan dimiliki seseorang bukan karena perbuatan baik. Dua hal yang mutlak tersebut harus dipahami dengan tepat, sebab jika tidak dipahami dengan tepat maka keselamatan yang sejati meleset untuk dialami seseorang. Orang percaya harus selalu menggali Alkitab untuk menemukan kebenaran mengenai keselamatan yang semakin akurat seiring dengan keadaan zaman yang semakin jahat ini.

Keselamatan diperoleh seseorang bukan karena perbuatan baik, bukan berarti orang Kristen bisa tanpa perjuangan mengalami dan memiliki keselamatan. Orang percaya harus bertanggung jawab mengisi keselamatan yang telah diperjuangkan oleh Tuhan Yesus. Maksud mengisi keselamatan yang telah diperjuangkan oleh Tuhan Yesus adalah ia berjuang untuk mengusahakan maksud keselamatan itu diberikan oleh Tuhan Yesus. Sama seperti para pahlawan bangsa ini memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa dan negara. Adapun sebagai anak bangsa yang telah menerima kemerdekaan tersebut, ia harus mengisi kemerdekaan dengan bekerja keras untuk memenuhi maksud kemerdekaan itu dicapai.

Fakta yang terlihat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, walaupun bangsa ini secara hukum (de jure) sudah merdeka, tetapi kenyataannya banyak anggota masyarakat masih hidup di bawah garis kemiskinan, penindasan, dan berbagai keadaan yang tidak nyaman. Ini berarti, kemerdekaan yang diperjuangkan oleh para pahlawan belum dinikmati oleh semua anggota masyarakat. Memang secara politis negara dan bangsa ini tidak lagi di bawah penjajahan atau kekuasaan bangsa asing. Tetapi faktanya (de facto) sebagian anggota masyarakat masih hidup di bawah penjajahan dan kekuasaan bangsanya sendiri. Sehingga mereka hidup di dalam tekanan kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, dan berbagai penderitaan lainnya. Menjadi tugas dan tanggung jawab semua komponen bangsa ini untuk menghilangkan segala bentuk penjajahan tersebut. Itulah sebabnya, bangsa ini tidak boleh puas dengan kemerdekaan secara politis yang telah dicapai, tetapi harus berjuang mengisi kemerdekaan secara proporsional.

Analogi atau sejajar dengan pergumulan bangsa ini, orang percaya juga harus berjuang untuk mengisi kemerdekaan yang diberikan oleh Tuhan Yesus sebagai anugerah kepada orang percaya. Ironinya, banyak orang Kristen yang merasa bahwa kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh Tuhan Yesus dan disediakan untuk orang percaya, secara otomatis sudah memerdekakan orang percaya dalam segala aspek kehidupan. Dengan asumsi ini mereka tidak memiliki usaha yang proporsional untuk mengisi kemerdekaan yang Tuhan telah berikan. Hal ini terjadi oleh karena adanya pengajaran yang mengatakan: untuk menerima keselamatan tidak perlu ada usaha apa pun dari orang percaya, sebab keselamatan diberikan cuma-cuma tanpa perlu adanya usaha sama sekali. Usaha untuk berbuat baik mengisi keselamatan dari kemerdekaan yang Tuhan Yesus berikan, sering dipandang sebagai penyangkalan terhadap prisip sola gratia (Ingg. only by grace).

Usaha berbuat baik mengisi keselamatan tidak cukup hanya menjadi orang yang bermoral, beretika, dan santun hidup di tengah-tengah masyarakat, tetapi usaha untuk mencapai kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Jika tidak memiliki target seperti ini, berarti belum berjuang untuk mengisi kemerdekaan di dalam Tuhan secara benar. Faktanya, banyak orang Kristen tidak melakukan hal ini karena konsep percaya dan konsep keselamatan yang salah -yaitu asal dengan nalar percaya karya salib berarti sudah selamat-, maka mereka tidak memiliki perjuangan untuk mengisi keselamatan dengan target yang benar. Mereka merasa sudah selamat dan memiliki hak untuk masuk Kerajaan Surga. Untuk itu yang mereka lakukan adalah mengembangkan dan memantapkan keyakinan di dalam nalar bahwa mereka sudah selamat dan pasti masuk surga. Mereka berpikir, semakin yakin sudah selamat maka semakin pasti akan selamat dan semakin yakin bisa masuk surga, maka semakin pasti masuk surga.

...

...


January 26, 2019, 05:32:42 AM
Reply #2358
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Kuasa kegelapan memperoleh celah yang besar dan pijakan dalam kehidupan orang-orang Kristen seperti ini, sehingga mereka mudah sekali dikuasai oleh kuasa kegelapan. Tidak mengherankan kalau orang-orang Kristen seperti itu terjerat oleh percintaan dunia. Padahal, orang yang mengasihi dunia menjadikan dirinya musuh Allah. Mereka merasa menjadi umat Allah yang disayang oleh Dia, padahal mereka telah memposisikan diri sebagai musuh Allah. Semakin hari, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, hati nurani mereka semakin gelap, sehingga mereka tidak mengenal kebenaran dan tidak mengenal diri sendiri dengan baik. Orang-orang seperti inilah yang merasa diri sudah dikenal dan bahkan akrab dengan Tuhan Yesus, tetapi ternyata mereka ditolak oleh Tuhan (Mat. 7:21-23).

Jika melihat keadaan ini, pihak yang paling harus bertanggung jawab adalah gereja; khususnya para pembicara atau pengajarnya. Gereja tidak boleh hanya mempersiapkan liturgi bagi jemaatnya dan pelayanan diakonia. Gereja harus mengajarkan kebenaran sesuai Injil, dimana setiap individu dalam gereja harus didorong untuk sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Untuk ini, jemaat tidak boleh diarahkan untuk menikmati dunia dengan segala keindahannya, tetapi harus diarahkan kepada kehidupan yang akan datang, yaitu Kerajaan Tuhan Yesus Kristus di Langit Baru dan Bumi Baru. Selain itu, menjadi kemutlakan setiap pelayan jemaat harus bisa menjadi model atau prototipe anak Allah yang benar, sehingga mereka dapat menjadi teladan bagi seluruh jemaat.


January 27, 2019, 04:54:24 AM
Reply #2359
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17866/0/27-JANUARI-2019-BERJUANG-UNTUK-MENANG.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17866/1/27-JANUARI-2019-BERJUANG-UNTUK-MENANG.amr

27. BERJUANG UNTUK MENANG
  26 January 2019 | Renungan Harian
BERJUANG-UNTUK-MENANG Download (19)
BERJUANG-UNTUK-MENANG Download (11)

Ketika seseorang mengaku Yesus adalah Tuhan, maka dimulailah sebuah perjuangan untuk menempatkan diri sebagai umat di hadapan Yesus sebagai Majikan. Sejak itu, seseorang yang mengaku percaya tersebut, harus hidup dalam perhambaan kepada Tuhan. Perhambaan kepada Tuhan sesungguhnya adalah kemerdekaan, sebaliknya, lepas dari perhambaan dari Tuhan berarti belenggu yang membawa seseorang menuju api kekal. Dalam hal ini orang percaya harus memilih; hidup dalam perhambaan kepada Tuhan Yesus atau kepada yang lain. Orang percaya harus memilih salah satu, sebab seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Sepenuhnya atau segenap hidup mengabdi kepada Tuhan, atau tidak sama sekali.

Perjuangan ini untuk menempatkan diri sebagai hamba bagi Yesus -yang adalah Majikan orang percaya- bukanlah sesuatu yang mudah, sebab irama hidup setiap individu sudah terlanjur terbiasa menjadikan diri sebagai tuan atau majikan. Irama hidup manusia pada umumnya adalah I am the king. Biasanya segala sesuatu dilakukan hanya untuk kesenangan diri sendiri. Bahkan dalam berurusan dengan Tuhan pun karena hendak memperdaya Tuhan atau memanfaatkan Dia.

Ketika seseorang masih kanak-kanak rohani, maksudnya belum lama menjadi orang Kristen, sangatlah bisa dimengerti kalau relasi dengan Tuhan berdasarkan azas manfaat. Hal ini sama seperti mekanisme kalau seseorang datang ke dukun. Kepentingan datang ke dukun karena hendak memanfaatkan dukun tersebut bagi kepentingan pribadi, bukan kepentingan dukun. Tetapi kalau seorang Kristen sudah semakin dewasa atau akil balik, maka seharusnya relasi dengan Tuhan berdasarkan azas devosi. Berurusan dengan Tuhan karena mengabdi kepada Tuhan. Biasanya orang-orang Kristen yang dewasa seperti ini, tidak mudah menyampaikan permohonan kepada Tuhan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi yang dipersoalkan dan digumuli adalah bagaimana mengerti kehendak Tuhan dan rencana-Nya untuk dipenuhi.

Selama seseorang masih menjadikan dirinya sebagai tuan bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain, berarti ia belum bisa menjadikan Yesus sebagai Tuhan. Orang-orang seperti ini belum bisa dikatakan sebagai pemenang. Dewasa ini begitu mudah banyak orang Kristen mengklaim dirinya sebagai umat pemenang. Hal ini disebabkan oleh karena banyak pembicara-pembicara Kristen dan para pemimpin puji-pujian dalam kebaktian yang mengajarkan bahwa semua orang yang mengaku percaya berarti sudah menjadi umat pemenang. Seakan-akan menjadi umat pemenang adalah sesuatu yang otomatis melekat pada diri mereka setelah mengaku percaya kepada Tuhan Yesus. Hal ini menciptakan orang-orang Kristen yang bodoh, tetapi tidak menyadari kebodohonnya.

Untuk menemukan pengertian yang benar apa artinya menjadi pemenang, perlulah kita menemukan terlebih dahulu siapakah musuh kita. Bagaimana kita dapat berbicara mengenai kemenangan kalau kita tidak mengerti siapa musuh kita?Alkitab menunjukkan bahwa musuh kita adalah kuasa gelap atau si Iblis.Namun perlu diketahui dengan cerdas bahwa yang membahayakan dari Iblis dalam hidup orang percaya bukan hanya pada waktu ketika Iblis merusak ekonomi, kesehatan, fasilitas hidup, dan menyerbu dengan berbagai persoalan hidup lainnya, tetapi justru ketika ia menempatkan orang percaya dalam keadaan ekonomi baik, tubuh sehat, dan keadaan nyaman. Ketika orang Kristen dalam keadaan jaya, maka sangat berpotensi untuk menjadi tuan bagi dirinya dan semakin kuat dalam ekonomi, kedudukan dan lain sebagainya, akan semakin menjadi tuan bagi sesamanya.

Oleh sebab itu orang percaya harus berhati-hati terhadap musuh yang licik ketika membawa orang percaya kepada keadaan yang baik secara ekonomi, terhormat, makmur, nyaman, dan tidak berkekurangan secara materi. Dengan keadaan ini orang percaya hendaknya tidak hanyut dalam euphoria dunia. Keadaan yang baik dengan segala kelimpahan materi merupakan kesempatan untuk dapat digunakan bagi kepentingan Tuhan, yaitu bagi pelayanan pekerjaan-Nyaguna menyelamatkan jiwa-jiwa; bagaimana Injil diberitakan dan diajarkan kepada banyak orang sehingga mereka mengenal kebenaran sehingga menjadi corpus delicti. Keadaan hidup yang baik merupakan hak istimewa orang percaya untuk dapat melayani Tuhan tanpa gangguan.

...





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)