Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 121418 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

January 27, 2019, 04:54:48 AM
Reply #2360
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Sebaliknya, keadaan-keadaan yang sulit bukanlah sebuah kekalahan. Inilah yang salah dimengerti oleh banyak orang Kristen. Banyak di antara mereka yang berpikir bahwa keadaan sulit adalah akibat serangan Iblis. Jadi kalau mereka berkeadaan tidak menyenangkan, maka mereka merasa sebagai orang-orang yang kalah. Sebenarnya bukan sesuatu yang sulit bagi Tuhan melimpahi orang percaya dengan berkat materi, menjadikan mereka terhormat. Tidak sulit bagi Tuhan untuk membuat mereka menonjol dalam bidang-bidang kehidupan yang digumuli manusia, seperti politik, ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Tetapi, masalahnya adalah apakah dengan kelimpahan tersebut mereka tetap rendah hati, atau sebaliknya menjadi sombong? Kalau ternyata menjadi sombong dan mengangkat diri sebagai tuan bagi dirinya dan bagi sesamanya, maka berarti sebuah kekalahan.





January 28, 2019, 06:01:51 AM
Reply #2361
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

28. PERJUANGAN TERBERAT
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17868/0/28-JANUARI-2019-PERJUANGAN-TERBERAT.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17868/1/28-JANUARI-2019-PERJUANGAN-TERBERAT.amr

Tuhan Yesus mengatakan agar orang percaya mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Mat. 6:33). Hal ini sebenarnya mengisyaratkan bahwa perjuangan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan adalah sesuatu yang lebih berat dan sulit dibandingkan dengan segala perjuangan apa pun selama hidup di bumi ini. Tetapi faktanya, banyak orang Kristen yang tidak mengerti dan tidak menyadari hal ini sama sekali. Sehingga mereka menganggap studi, karir, mencari teman hidup, berkeluarga, dan mencari uang lebih sulit dan berat daripada mencari Tuhan atau menjadi anggota keluarga Kerajaan. Mereka menganggap menjadi anggota keluarga Kerajaan atau Tuhan sendiri bukan hal yang penting dan utama dalam hidup ini.

Bisa juga mereka bukan tidak menganggap penting, tetapi merasa sudah menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga, sehingga tidak merasa perlu melakukan perjuangan untuk itu. Hal ini terjadi sebab pengajaran yang ada tidak mengajarkan bahwa percaya itu bukan sekedar aktivitas pikiran, dan keselamatan itu bukan sekadar terhindar dari neraka. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Itulah sebabnya manusia harus memberi respon terhadap usaha Tuhan tersebut. Jika manusia meresponi usaha Tuhan tersebut, maka manusia akan mengalami pembaharuan hidup terus menerus menuju kesempurnaan sehingga layak menjadi anggota keluarga Kerajaan. Harus selalu diingat bahwa keselamatan yang difasilitasi pengorbanan Yesus di kayu salib pada prinsipnya adalah perubahan atas diri manusia yang diselamatkan.

Orang percaya harus menyadari kesalahan ini, sejatinya hal menjadi anggota keluarga Kerajaan atau yang sama dengan mencari Tuhan, bukan saja hal utama dalam kehidupan, tetapi harus dipandang sebagai satu-satunya isi dan tujuan hidup sebagai anak-anak Allah. Oleh sebab itu, dalam kehidupan orang percaya tidak ada prioritas atau urut-urutan kepentingan, sebab isi satu-satunya perjuangan hidup hanyalah bagaimana menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Dengan demikian, hidup di bumi yang tidak lebih dari seratus tahun ini hanya digunakan sebagai kesempatan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan. Jadi, kalau ada orang Kristen yang tidak tertarik hal ini -sehingga tidak mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya seperti yang dimaksud oleh Tuhan Yesus- berarti ia menjadikan dirinya sebagai pemberontak. Orang seperti ini selamanya tidak akan pernah menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.

Orang percaya harus menyadari bahwa kesempatan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan selama-lamanya hanya satu kali selama hidup di bumi yang sementara ini. Hal ini tidak pernah akan terulang untuk selamanya. Kesempatan ini bukan hanya satu kali, tetapi juga singkat dan tidak seorang pun tahu kapan berakhirnya kesempatan ini. Oleh sebab itu melakukan segera perjuangan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan tidak boleh ditunda sama sekali. Orang percaya harus memandang hal ini adalah sesuatu yang bukan saja selalu darurat untuk dilakukan segera, juga bukan saja penting, tetapi juga satu-satunya misi perjuangan hidup. Jika orang percaya memiliki kesadaran ini, maka secara otomatis atau dengan sendirinya menggiring dirinya untuk mendahulukan Kerajaan Allah.

Meneguhkan kebenaran ini, orang percaya harus selalu menyadari bahwa kehidupan manusia bukan hanya satu kali di bumi ini. Kehidupan yang indah yang dirancang oleh Allah di bumi ini telah menjadi rusak oleh karena kesalahan Adam dan Hawa, manusia pertama. Allah yang cerdas tidak menciptakan kehidupan seperti sekarang ini di bumi, dimana manusia didera oleh perang, sakit penyakit, bencana, kemiskinan, dan kematian, serta berbagai penderitaan lain. Itulah sebabnya Allah menciptakan dunia lain yang sempurna di langit baru dan bumi yang baru nanti. Untuk hal ini Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi orang percaya. Bila Ia sudah menyediakan tempat bagi orang percaya, maka Ia akan kembali dan membawa orang percaya ke sana, supaya di mana Dia ada, orang percaya juga ada (Yoh. 14:1-3). Dalam hal ini Kekristenan adalah kehidupan yang difokuskan ke depan, yaitu kehidupan di balik kubur, bukan di bumi ini.

...



January 28, 2019, 06:02:15 AM
Reply #2362
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Oleh sebab itu orang percaya yang sudah menyatakan diri untuk mengikut Tuhan Yesus harus sepenuhnya tidak lagi memikirkan perkara-perkara yang di bumi (Kol. 3:1-4). Segala sesuatu harus dilakukan hanya untuk persiapan memasuki kehidupan yang akan datang. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan agar orang percaya mengumpulkan harta di surga, bukan di bumi (Mat. 6:19-20). Kalau ada orang Kristen yang tidak melakukan hal ini, berarti ia memilih dunia ini dan tidak berminat untuk dibawa ke rumah Bapa. Biasanya orang-orang Kristen seperti ini tidak menjaga kelakuannya. Tentu saja mereka tidak berjuang untuk dapat melakukan kehendak Bapa. Orang Kristen seperti ini hendaknya tidak berharap akan dikenal oleh Tuhan Yesus dan diperkenan masuk Rumah Bapa. Meraka akan ditolak oleh Tuhan Yesus dan disamakan dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah.



January 29, 2019, 05:29:23 AM
Reply #2363
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

29. MEREMEHKAN BAPA DAN TUHAN YESUS
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17870/0/29-JANUARI-2019-MEREMEHKAN-BAPA-DAN-TUHAN-YESUS.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17870/1/29-JANUARI-2019-MEREMEHKAN-BAPA-DAN-TUHAN-YESUS.amr

Tanpa disadari, ternyata banyak orang -termasuk di dalamnya orang Kristen- memiliki sikap meremehkan Bapa dan Tuhan Yesus, atau tidak menghormati ELOHIM Yahweh secara patut. Mereka tidak menyadari sama sekali karena kebodohan pikiran mereka, berhubung tidak mengenal kebenaran atau mata hati mereka telah tumpul sehingga tidak memahami keadaan sebenarnya hidup mereka di hadapan Tuhan. Dunia telah membuat mereka tidak memiliki kesadaran dan kemampuan bagaimana menghormati Tuhan secara patut. Bila keadaan ini berlarut-larut atau berkepanjangan, maka mereka akan sampai pada tahap menghujat ROH KUDUS, dimana mereka tidak memiliki kesempatan untuk berbalik kepada Tuhan. Hal ini bukan karena tidak adanya kesempatan -dalam arti Tuhan mencabut kesempatan tersebut- tetapi mereka tidak lagi memiliki kesanggupan untuk bertobat atau berbalik kepada Tuhan.

Ruangan atau wilayah hati mereka telah diduduki banyak hal sehingga tidak lagi memiliki tempat berpijak bagi kebenaran. Keadaan orang Kristen seperti itu tidak memberi tempat bagi Tuhan untuk menguasai hidupnya. Tidak memberi tempat bagi Bapa dan Tuhan Yesus di dalam kehidupan ini, sudah merupakan tindakan yang meremehkan Bapa dan Tuhan Yesus. Sudah tentu ruangan dan wilayah hidup mereka diisi oleh banyak hal yang tidak memberi peluang Tuhan menguasai hidup orang tersebut. Mereka merasa berbuat demikian, sebab mereka belum menyadari, tidak mengerti atau tidak bersedia menerima bahwa sebenarnya segenap hidup mereka adalah milik Tuhan.

Orang-orang Kristen seperti di atas ini bukan berarti menjadi bejat tidak bermoral, tidak beradab, dan tidak memiliki kesantunan hidup. Mereka masih hidup sebagai anggota masyarakat dan anggota gereja yang baik. Di mata manusia mereka masih bisa berlaku sebagai orang yang bermoral baik, beretika uhur, santun, bahkan bisa dipandang rohani, karena mereka ke gereja sebagai anggota gereja yang setia, menjadi aktivis, bahkan bukan tidak mungkin menjadi pejabat sinode. Di mata manusia mereka orang-orang yang dianggap pantas masuk ke dalam Kerajaan Surga. Tetapi sejatinya, mereka adalah orang-orang yang masih meremehkan Tuhan, yaitu ketika mereka tidak sungguh-sungguh untuk menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus.

Orang-orang Kristen seperti itu -walau rajin ke gereja, mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan bahkan menjadi pejabat sinode- selain tidak sungguh-sungguh berusaha untuk mencapai kesucian Tuhan atau hidup tidak bercacat dan tidak bercela, mereka juga masih mengharapkan bisa dibahagiakan oleh dunia ini. Sebenarnya hati mereka masih mendua. Tidak sedikit mereka ke gereja hanya untuk memperoleh jalan kemudahan hidup di bumi dan memperoleh berkat, perlindungan, serta segala kebaikan untuk kehidupan di bumi sekarang ini. Kalau mereka mengambil bagian dalam pelayanan, tidak jarang yang masih memanfaatkan kesempatan melayani pekerjaan Tuhan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Tentu saja hal ini tidak mudah dikenali atau dilihat oleh sesamanya. Apalagi kalau mereka sudah lama dalam ladang pelayanan gerejani, mereka sangat cakap memanfaatkan segala kesempatan untuk kepentingan diri sendiri, bukan sepenuhnya untuk kepentingan Tuhan.

Bisa dipastikan orang-orang Kristen seperti ini masih menolerir kehidupan yang belum tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah. Mereka masih membangun sebagian Firdaus di bumi, atau sepenuhnya membangun Firdaus di bumi. Mereka tidak memiliki kerinduan yang bulat untuk bertemu muka dengan muka dengan Tuhan. Sebenarnya hati mereka masih tertambat di dunia ini. Kekayaan Kerajaan Surga tidak dipandang sebagai lebih mulia dari segala kekayaan di bumi ini. Bisa dipastikan sebenarnya mereka tidak pernah bisa menghayati bahwa rumah orang percaya bukan di bumi ini, tetapi di langit baru dan bumi yang baru. Tentu saja mereka tidak siap sepenuhnya kalau dipanggil pulang oleh Tuhan. Tidak mungkin orang-orang seperti ini bisa “all out” bagi Tuhan.

...





January 29, 2019, 05:29:42 AM
Reply #2364
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Biasanya orang-orang Kristen seperti yang dikemukakan di atas ini belum berkeadaan sebagai anggota keluarga Kerajaan. Sangat mungkin mereka belum berkeadaan sebagai anak-anak Allah yang sah. Jadi, masih berkeadaan sebagai anak Allah yang belum atau tidak sah (nothos). Tidak heran kalau mereka menghadapi persoalan-persoalan atau masalah-masalah hidup, mereka tidak berusaha untuk menemukan bagian mana dalam hidup mereka yang sedang digarap Tuhan guna mengalami pertumbuhan iman menuju kesempurnaan, tetapi mereka masih sibuk mencari jalan keluarnya. Bila mereka bertemu pendeta atau orang yang mengaku hamba Tuhan, maka pendeta itu akan mendoakan dan menjanjikan atau paling tidak memberi kesan bahwa Tuhan akan memberi jalan keluar segera. Seakan-akan Tuhan tidak menyukai mereka mengalami masalah tersebut. Padahal justru Tuhan yang menghendaki keadaan tersebut, sebab mereka hendak dijadikan anak Alah yang sah (huios) agar dapat mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:7-10).



January 30, 2019, 05:25:49 AM
Reply #2365
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17872/0/30-JANUARI-2019-MEMBELA-TUHAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17872/1/30-JANUARI-2019-MEMBELA-TUHAN.amr

30. MEMBELA TUHAN
  29 January 2019 | Renungan Harian
MEMBELA-TUHAN Download (31)
MEMBELA-TUHAN Download (20)

Tidak bisa dibantah kenyataan yang terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen bahwa sangat sedikit orang Kristen yang benar-benar membela Tuhan. Sebenarnya Tuhan sama sekali tidak membutuhkan pembelaan dari siapa pun dalam bentuk bagaimanapun, sebab Tuhan sangat kuat; Ia Mahakuasa. Ia tidak perlu dibela. Usaha membela Tuhan seakan-akan Tuhan tidak dapat membela Diri-Nya sendiri adalah bentuk pelecehan terhadap Tuhan. Oleh sebab itu orang Kristen tidak perlu membentuk semacam lembaga keagamaan atau suatu organisasi masyarakat (ormas) yang bertujuan untuk membela Kekristenan, seakan-akan Tuhan tidak mampu membela umat-Nya.

Usaha membela Tuhan dalam bentuk membela Kekristenan dengan cara kasar dan cara yang tidak bermartabat, malah merendahkan martabat orang percaya sendiri dan mengecilkan kebesaran Tuhan. Hendaknya orang Kristen tidak mengatakan Allah Mahabesar tetapi perlakuan atau tindakan hidupnya tidak menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang besar. Dengan demikian, hal itu berarti suatu sikap yang tidak konsisten dan munafik. Jika orang Kristen berbuat demikian, maka menunjukkan kepalsuan kepada Allah yang tidak diagungkan.

Membela Tuhan dengan cara kasar tersebut antara lain melakukan kekerasan kepada obyek-obyek tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan ajaran Kristen dan bisa mengganggu kehidupan peribadatan orang Kristen. Tindakan kasar tersebut bisa merupakan tindakan anarki yang melanggar hukum dan kesantunan hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Bahkan tindakan kasar tersebut bisa berupa persekusi kepada kelompok tertentu yang berseberangan dengan iman orang Kristen. Hal ini bisa merusak tatanan hidup bersama dalam masyarakat modern yang beradab.

Sebenarnya Tuhan tidak perlu dibela. Tetapi kalau anak-anak Allah diberi kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi Allah Bapa dan Tuhan Yesus, itu sebenarnya sebagai sikap mengasihi ELOHIM Yahweh yang menciptakan manusia dan secara khusus telah menebus orang percaya dari dosa dan kebinasaan. Dalam hal ini kesempatan membela Tuhan adalah bentuk ucapan syukur dan usaha membalas kebaikan Tuhan. Tentu saja Tuhan memberi kesempatan dan potensi anak-anak-Nya untuk menunjukkan kasih yang tulus kepada Diri-Nya. Allah Bapa dan Tuhan Yesus menikmati tindakan anak-anak-Nya yang ditujukan kepada Diri-Nya. Di sini masalahnya bukan seberapa besar tindakan yang dilakukan anak-anak Allah bagi Bapa dan Tuhannya, tetapi sikap hati umat Tuhan terhadap Sesembahannya.

Membela Tuhan harus dipahami sebagai kehormatan, sebab siapakah orang percaya yang adalah manusia biasa dengan segala keterbatasan. Allah Bapa dan Tuhan Yesus bukan saja memberikan peluang, tetapi juga kemampuan orang percaya untuk berbuat sesuatu yang maksimal bagi Sesembahannya. Selanjutnya, segala sesuatu yang dilakukan bagi Tuhan pasti diperhitungkan: ada upah di dunia yang akan datang. Dengan demikian, peluang dan potensi untuk membela Tuhan adalah kasih karunia supaya orang percaya dapat memiliki kekayaan abadi. Jadi, Tuhan memberikan kesempatan bagi orang percaya untuk membela Tuhan maksudnya agar Tuhan dapat memberikan berkat abadi di dalam Kerajaan Surga bagi kekasih-kekasih-Nya.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana caranya atau bentuknya kita membela Tuhan? Pertama, orang percaya harus mengalami perubahan menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Dengan hal ini, orang percaya dapat membuktikan kebenaran dari Injil kepada dunia. Harus digarisbawahi bahwa perubahan itu harus berstandar Tuhan Yesus, artinya memiliki kelakuan yang sangat luar biasa baiknya. Kelakuan yang luar biasa tersebut bisa dalam bentuk perbuatan baik kepada semua orang. Di sini orang percaya menjadi seperti anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Selain itu, orang percaya memiliki kehidupan moral yang sangat tinggi, sehingga akan sulit ditemukan kesalahannya.

Dengan kebaikan yang sempurna maka orang akan berkata mengenai orang percaya: orang sebaik ini tidak mungkin Tuhannya salah dan agamanya keliru. Orang percaya tidak perlu membela Tuhan dengan pentungan dan pedang, atau dengan cara kasar. Bila hal ini dilakukan, malah menjadi kontra produktif sehingga orang percaya tidak menjadi berkat tetapi menjadi laknat bagi sesamanya. Hanya Allah yang tidak bermartabat yang membiarkan atau mengizinkan umat-Nya berjuang membela Diri-Nya dengan mendatangkan penderitaan bagi manusia lain. Dengan memiliki kelakuan yang luar biasa baiknya dalam kehidupan orang percaya, sejatinya merupakan upaya membela Tuhan secara benar.

...



January 30, 2019, 05:26:15 AM
Reply #2366
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Kedua,orang percaya dapat membela Tuhan dengan cara menolong orang lain untuk dapat memiliki keselamatan seperti dirinya. Keselamatan itu adalah dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Dalam mengupayakan agar orang lain juga merima keselamatan, tentu disertai dengan berbagai pengorbanan. Pengorbanan yang paling besar dan paling berat adalah menunjukkan keteladan hidup seperti Yesus.



January 31, 2019, 05:26:44 AM
Reply #2367
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17874/0/31-JANUARI-2019-BERKAPASITAS-SEPERTI-PENGUTUS.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17874/1/31-JANUARI-2019-BERKAPASITAS-SEPERTI-PENGUTUS.amr

31. BERKAPASITAS SEPERTI PENGUTUS


Dalam Yohanes 20:21 Tuhan Yesus berkata: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Pernyataan Tuhan Yesus ini memuat kebenaran yang sangat luar biasa. Pertama, pernyataan Tuhan Yesus ini menunjukkan bahwa tugas penyelamatan yang dikerjakan di kayu salib belum selesai. Ini berarti karya keselamatan melalui salib tidak berhenti sampai bukit Golgota. Keselamatan dalam Yesus Kristus harus diteruskan sampai ke ujung bumi. Hal ini diteguhkan oleh banyak ayat dalam Alkitab. Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya menerima mandat agar menjadikan semua bangsa murid Tuhan Yesus (Mat. 28:18-20). Dalam Kisah Rasul 1: 8 Tuhan Yesus memberi kata-kata pengutusan kepada orang percaya sebagai berikut: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau ROH KUDUS turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Dengan pernyataan-pernyataan di atas menunjukkan bahwa ada tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh Tuhan Yesus yang dipercayakan kepada orang percaya. Dengan demikian, kebenaran kedua dari Yohanes 20:21 adalah bahwa orang percaya wajib meneruskan karya keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus sampai ke ujung bumi. Dalam hal ini, tidak ada orang percaya yang boleh menghindar dari tugas tersebut. Tetapi ironinya, tidak banyak orang Kristen yang menyadari mutlaknya tugas ini untuk ditunaikan. Itulah sebabnya, sangat sedikit orang Kristen yang turut serta mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Mereka berpikir bahwa pekerjaan Tuhan hanyalah bagian pada pendeta, majelis gereja, aktivis gereja, atau mereka yang aktif dalam kegiatan pelayanan gerejani.

Sebenarnya, Tuhan bisa tidak membutuhkan manusia untuk mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya. Tuhan bisa mengerjakan sendiri tanpa campur tangan dan keterlibatan manusia. Tetapi kalau orang percaya diberi kesempatan untuk mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, ini adalah suatu kehormatan yang akan mendatangkan berkat abadi bagi orang percaya. Oleh sebab itu, seharusnya orang percaya memandang pelayanan pekerjaan Tuhan adalah berkat yang diberikan oleh Tuhan. Dengan demikian, pelayanan pekerjaan Tuhan tidak dipandang sebagai beban.

Paulus sangat menyadari hal ini, sehingga ia bisa berbangga dalam penderitaan yang harus ia pikul demi pekerjaan Tuhan. Dalam kesaksiannya, ia menyatakan: … dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan ROH KUDUS dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah (Kis. 20:19-23).

Dari kesaksian Paulus ini menunjukkan kualitas hidupnya yang meneladani Tuhan dan gurunya. Dengan demikian, dapat diperoleh kebenaran bahwa menjadi utusan Tuhan Yesus harus berkapasitas seperti Tuhan Yesus sendiri; utusan harus berkeadaan seperti pengutusnya. Jadi, menjadi utusan Tuhan Yesus yang baik bukan hasil dari Sekolah Tinggi Teologi, bukan karena memiliki gelar akademisi yang tinggi, bukan karena penampilan dan kekayaan, tetapi kehidupan yang terus menerus diubah menjadi seperti Yesus. Selama ini banyak orang merasa sudah patut dan layak melakukan pekerjaan Tuhan serta mengaku sebagai utusan Kristus hanya karena telah menerima pelatihan di Sekolah Tinggi Teologi. Ternyata di lapangan pekerjaan Tuhan, hidup mereka tidak berdampak sama sekali. Seperti banyak lulusan sekolah tinggi di Barat, dengan gelar doktor dan profesor, tetapi ternyata mereka gagal menyelamatkan masyarakat Barat. Negara-negara Kristen di Barat yang tadinya “ibu zending” yang mengutus para misionaris ke Timur, sekarang seperti sebuah negara dan masyarakat yang tidak pernah mengenal Tuhan.

...



January 31, 2019, 05:27:06 AM
Reply #2368
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Sejatinya, semua orang percaya harus menjadi utusan Tuhan Yesus. Mereka tidak harus masuk dalam pendidikan Sekolah Tinggi Teologi, tidak harus menjadi pendeta, tidak harus menjadi majelis dan aktivis gereja. Menjadi utusan Tuhan Yesus membutuhkan satu bekal penting yang tidak bisa digantikan, yaitu kehidupan seperti Yesus. Seperti Yesus di sini artinya memiliki kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela atau bermoral sangat tinggi, bersedia menjadi seperti anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Kalau seorang percaya (orang Kristen) memiliki kualitas hidup seperti Yesus, maka secara otomatis atau dengan sendirinya pasti menjadi utusan Tuhan Yesus, di mana pun, kapanpun, dan melalui segala sarana. Dalam hal ini yang penting bagaimana orang percaya membantu orang lain menjadi seperti Yesus.



February 01, 2019, 05:33:24 AM
Reply #2369
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

1. DIKERAT DARI PERSEKUTUAN DENGAN TUHAN
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17907/0/01-FEBRUARI-2019-DIKERAT-DARI-PERSEKUTUAN-DENGAN-TUHAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17907/1/01-FEBRUARI-2019-DIKERAT-DARI-PERSEKUTUAN-DENGAN-TUHAN.amr

Dalam bab ini dikemukakan kenyataan yang tidak enak, yaitu fakta dikerat atau dipotongnya orang-orang Kristen dari persekutuan dengan Tuhan. Hal ini yang membuat seorang Kristen tersebut terbuang ke dalam api kekal, terpisah dari persekutuan dengan Bapa dan Tuhan Yesus selama-lamanya. Mereka tidak lagi memiliki kesempatan untuk dipulihkan. Sesuatu yang tidak pernah dipikirkan dan diduga, tetapi hal ini adalah kenyataan yang tidak bisa dibantah. Dengan memahami, menerima dan menghayati kebenaran ini, maka seseorang akan lebih berhati-hati dalam menapaki hari-hari hidupnya yang singkat di dunia ini.

Dari yang dikemukakan oleh Paulus dalam Roma 11:21-24, sangat jelas menunjukkan adanya kemungkinan orang-orang yang sudah mengaku percaya “dipotong” dan terbuang dari hadirat Allah selamanya. Itulah sebabnya Paulus tegas berkata: “Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu.” Dalam pernyataan ini Paulus menunjukkan kesejajaran orang percaya dengan bangsa Israel; sebagaimana Allah menolak sebagian bangsa Israel sehingga mereka tidak akan pernah mengalami dan memiliki keselamatan, demikian juga sebagian orang percaya. Dalam hal ini Tuhan tidak segan-segan membuang atau memotong orang percaya dari statusnya sebagai anak-anak Allah dan ahli waris Kerajaan Surga. Biasanya ini adalah anak-anak Allah yang belum sah (nothos). Hal ini juga dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 7:21-23, orang-orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, ternyata bisa tidak dikenal oleh Tuhan atau ditolak masuk Kerajaan Surga, karena tidak melakukan kehendak Bapa.

Kata “tidak menyayangkan” dalam teks aslinya adalah epheisato (ἐφείσατο), dari kata pheidomai (φείδομαι), yang sebenarnya lebih berarti spare, refrain (cadangan, menahan diri). Jadi, maksud pernyataan Paulus adalah bahwa Allah rela atau tidak menahan diri kalau ada cabang-cabang yang harus dipotong, dan mereka tidak lagi menempel pada batang yang ditunjang akar. Hal ini terjadi, jika mereka tidak hidup dalam kemurahan-Nya, atau tidak menuruti yang dikehendaki oleh Allah. Terjemahan Bahasa Indonesia sangat tepat untuk menunjukkan maksud ayat ini: “Allah tidak menyayangkan.” Terkesan kata ini “kejam”, tetapi inilah realitanya. Allah bisa mengasihi atau menyayangi seseorang dan membawanya ke surga, tetapi Allah juga bisa membuang seseorang ke dalam api kekal. Hal ini tergantung respon individu terhadap Allah.

Paulus mengatakan “perhatikanlah kemurahan-Nya” dan juga “kekerasan-Nya.” Kata kemurahan-Nya dalam teks aslinya adalah khrestotes (χρηστότης) yang juga berarti kebaikan (goodness, kindness), kebaikan (moral goodness), integritas (integrity) dan kemurahan hati (generosity). Sedangkan kata “kekerasan” dalam teks aslinya adalah apotomia (ἀποτομία) yang memiliki beberapa pengertian; antara lain keras, kejam (severity), kekasaran (roughness), ketegasan, kekakuan (rigour). Dalam teks ini, Paulus menasihati jemaat untuk memperhatikan dua kutub yang bisa dilakukan Allah atas umat, atau yang umat bisa alami dan menerimanya dari Allah.

Banyak orang Kristen hanya melihat kemurahan-Nya, tetapi tidak melihat aspek lain yang bisa dilakukan Allah, atau yang bisa terjadi dalam kehidupan orang Kristen. Ini adalah pemberitaan Firman yang tidak seimbang. Harus dipahami bahwa kebenaran haruslah utuh atau bulat, kalau hanya menyampaikan sebagian dari kebenaran berarti dusta. Harus diakui betapa kejamnya orang-orang yang memberitakan Firman tidak penuh, tetapi hanya sebagian kebenaran saja. Karena hal ini dapat membinasakan banyak orang. Biasanya pemberitaan Firman yang tidak utuh ini, disebabkan oleh teologi mereka yang salah, khususnya mereka yang mengajarkan kemakmuran jasmani (prosperity theology), hypergrace, hanya menekankan mukjizat dan karunia-karunia roh dan Kekristenan yang telah dijadikan sama seperti agama (biasanya ini terjadi atas gereja-gereja yang sudah berdiri sejak ratusan bahkan ribuan tahun).

...



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)