Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 129159 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

February 01, 2019, 05:33:45 AM
Reply #2370
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23698
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Kebenaran yang dikemukakan di atas, paralel dengan yang dikemukakan dalam 1 Korintus 10:11 Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba. Sebagaimana hanya sebagian orang Israel yang bisa sampai tanah Kanaan, maka tidak semua orang Kristen akan masuk surga. Hal ini seharusnya membangkitkan kegentaran kita terhadap Tuhan. Kita tidak boleh “main-main” atau menganggap remeh dalam berurusan dengan Tuhan. Orang-orang yang telah terbelenggu percintaan dengan dunia, pasti menganggap remeh bila berurusan dengan Tuhan.



February 02, 2019, 06:17:55 AM
Reply #2371
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23698
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

02. TETAP DALAM KEMURAHAN-NYA
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17909/0/02-FEBRUARI-2019-TETAP-DALAM-KEMURAHAN-NYA.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17909/1/02-FEBRUARI-2019-TETAP-DALAM-KEMURAHAN-NYA.amr

Karena lebih banyak mempromosikan kebaikan dan kemurahan Allah, tetapi tidak melihat aspek lain dari diri Allah, maka banyak jemaat memahami seakan-akan Allah tidak memiliki ketegasan. Hal ini mengakibatkan banyak orang Kristen hidup sembarangan, sembrono atau ceroboh. Untuk itu, kita harus memperhatikan kalimat dalam Roma 11:22 agar kita “tetap dalam kemurahan-Nya.” Tetap dalam kemurahan-Nya, bisa berarti tetap dalam kebaikan Tuhan, maksudnya bertumbuh terus untuk memiliki kebaikan moral atau integritas seperti Yesus, sebab kita diselamatkan agar sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus yang melakukan kehendak Bapa. Biasanya pemberitaan yang tidak seimbang dipengaruhi oleh beberapa faktor:

Pertama, seakan-akan Allah memberi keselamatan dengan mudah kepada manusia. Mereka memiliki pemahaman yang salah mengenai keselamatan, yaitu asalkan dengan pikiran atau nalar sudah setuju bahwa Yesus adalah Juruselamat, maka mereka sudah selamat. Mereka memahami keselamatan hanya sekadar terhindar dari neraka, padahal keselamatan adalah dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Mereka pasti tidak mengerti, bahwa Allah menghendaki orang percaya menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Dengan keadaan moral mereka yang sudah baik, mereka merasa yakin sudah diperkenankan masuk surga. Padahal orang percaya dirancang untuk dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus, sebagai anggota keluarga Kerajaan, yang sama dengan “datang atau sampai kepada Bapa.” Hanya orang yang seperti Yesus yang sampai kepada Bapa.

Kedua, ajaran yang mengajarkan Kekristenan adalah jalan yang mudah. Banyak orang Kristen memahami bahwa Allah yang murah hati membuat kehidupan ini tidak sulit dijalani dan Tuhan memberi segala kemudahan kepada orang yang mau percaya kepada-Nya. Dalam hal ini seakan-akan juga dikesankan bahwa Allah membutuhkan pengikut. Kalau orang sudah mau menjadi pengikut-Nya, yaitu menjadi orang Kristen, maka Tuhan disenangkan hati-Nya, sebagai balasannya, maka Allah menjagai orang-orang Kristen seperti ini dengan berkat jasmani dan perlindungan-Nya. Penggambaran Allah yang salah seperti hal tersebut di atas adalah penyesatan. Pandangan ini melukiskan Allah yang Agung menjadi murahan. Padahal Firman Tuhan sangat tegas mengatakan, kalau seseorang tidak meninggalkan dosanya, Allah tidak akan menerimanya atau menolak mereka (2Kor. 6:17-18; 1Tes. 4:7-8; 1Ptr. 1:16-17 dan lain-lain).

Ketiga, ajaran yang mengatakan bahwa Allah menentukan sebagian orang untuk selamat dalam pengertian masuk surga. Tentu saja di lain pihak, ada pula orang-orang yang tidak ditentukan untuk selamat. Doktrin ini paling merusak bangunan iman Kristen yang benar. Kalau Allah menentukan orang-orang tertentu untuk selamat dan yang lain tidak ditentukan untuk selamat, maka Firman Tuhan tidak akan mengatakan: “Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu. Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga (Rm. 11:21-22).” Justru Firman Tuhan ini mengajak orang percaya untuk bertindak dengan benar terhadap Allah, sebab Allah bisa menerima dan juga menolak atau membuang, hal mana tergantung dari sikap atau respon masing-masing individu, bukan karena Allah yang bertindak secara sepihak menentukan keselamatan masing-masing individu.

...



February 02, 2019, 06:18:14 AM
Reply #2372
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23698
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Di dalam Roma 11:21-22, terdapat kalimat-kalimat yang menunjukkan betapa masing-masing individu harus bertanggung jawab terhadap kehidupannya sendiri, bukan Allah yang bertanggung jawab atas kehidupan individu. Kita harus memperhatikan siapa dan bagaimana Allah itu. Untuk itu kita harus memiliki pengenalan, ajaran dan doktrin yang benar. Kalimat “perhatikanlah kemurahan dan kekerasan-Nya,” menunjukkan bahwa Allah memiliki hakikat yang harus dikenal dengan benar. Selanjutnya, terdapat kalimat “jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya” dan jika tidak… Kalimat ini sangat jelas menunjukkan bahwa orang percaya harus memiliki respon yang benar terhadap Allah. Kalau pengenalan akan Allah sudah salah, maka pasti tidak akan ada respon yang memadai dari seseorang terhadap Allah dan anugerah-Nya. Patut kita melihat dengan jujur, teliti dan cerdas, bahwa teologi yang salah seperti ini ada pada banyak orang Kristen di Eropa pada umumnya. Hal ini menggiring mereka kepada kekafiran, seakan-akan nenek moyang mereka tidak pernah mengenal Allah. Banyak gereja-gereja yang ditinggalkan dan menjadi bangkrut. Masyarakatnya menjadi sangat sekuler. Hal ini merupakan fakta empiris yang tidak dapat dibantah.



February 03, 2019, 05:05:37 AM
Reply #2373
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23698
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

03. USAHA UNTUK BERKENAN

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17911/0/03-FEBRUARI-2019-USAHA-UNTUK-BERKENAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17911/1/03-FEBRUARI-2019-USAHA-UNTUK-BERKENAN.amr

Paulus mengatakan bahwa masing-masing kita harus menghadap takhta pengadilan Kristus dan setiap orang akan memperoleh ganjaran sesuai dengan yang dilakukannya, baik atau jahat. Itulah sebabnya Paulus berusaha untuk berkenan kepada Allah (2Kor. 5:9-10). Kalau seorang rasul seperti Paulus bersikap dan bertindak demikian, mestinya kita semua harus waspada agar kita tidak terjerumus kepada keadaan “dikerat atau dipotong dari cabang.” Hal ini sinkron dengan pernyataan Tuhan Yesus sendiri: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar (Yoh. 15:4-6).” Ranting-ranting yang dimaksudkan dalam pelajaran yang Tuhan berikan dalam Yohanes 15 ini menunjuk kepada orang percaya. Ternyata untuk tetap melekat pada pokok anggur, ranting harus berbuah.

Sebagai cabang yang dicangkokkan kepada batang zaitun asli, tentu Tuhan menghendaki kita menyerap “getah zaitun” yang membuat kita menjadi cabang sesuai dengan keinginan “Dia yang menaruh kita.” Jika tidak -seperti Paulus katakan dengan tegas- Tuhan akan memotongnya. Dicangkokkan pada batang zaitun asli adalah kemurahan yang tiada tara. Inilah yang disebut kasih karunia atau anugerah. Tetapi berbicara mengenai anugerah bukan berarti tidak ada tanggung jawab. Melekat pada pokok zaitun berarti harus terus aktif menyerap getah dari batang zaitun. Menyerap getah berarti menyerap segala berkat rohani yang Tuhan sediakan bagi pertumbuhan iman kita guna mencapai kesempurnaan; sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Tentu saja proses penyerapan itu membutuhkan ketekunan dan kerja keras dalam integritas yang tinggi.

Kalau seorang Kristen sudah memiliki persepsi adanya pemilihan Allah secara sepihak, di mana Tuhan menentukan sekelompok orang untuk selamat dan yang lain tidak, maka pasti tidak ada usaha yang sungguh-sungguh untuk menyerap berkat rohani. Hal ini terbukti dengan adanya orang Kristen yang hanya pergi ke gereja seminggu satu atau dua kali, tetapi tidak setiap hari menyerap berkat rohani dari Tuhan. Ini berarti pengajaran yang mengajarkan bahwa Tuhan menentukan secara sepihak sekelompok orang selamat dan yang lain tidak, membawa dampak yang sangat negatif atau buruk dalam kehidupan masyarakat Kristen. Sebagai buktinya, banyak masyarakat Kristen Barat yang menganut teologi ini mudah mengalami kemurtadan dalam bentuk kehidupan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesucian Tuhan. Hari ini, jika kita melihat masyarakat Barat, terkesan seakan-akan mereka dan orang tua mereka tidak pernah mengenal Injil.

Dari pernyataan Paulus dalam 2 Korintus 5:9-10, jelas sekali menunjukkan bahwa setiap orang harus menghadap takhta pengadilan Allah, artinya menghadapi penghakiman. Dalam penghakiman tersebut, ada penilaian terhadap masing-masing individu. Jadi berbicara mengenai penghakiman -yang di dalamnya ada penilaian atas “prestasi rohani”- menunjukkan bahwa masing-masing orang harus bertanggung jawab mengisi hari hidupnya. Dalam penghakiman tersebut setiap orang harus memberi pertanggungjawaban kepada Tuhan yang memberikan kehidupan. Jadi, tidak mungkin Tuhan menentukan keselamatan masing-masing individu.

Kalau ada penentuan keselamatan secara sepihak oleh Tuhan, maka Paulus tidak akan mungkin berkata “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Apa yang dikatakan oleh Paulus ini jelas menunjukkan adanya tanggung jawab sebagai umat pilihan untuk menjadi berkenan kepada Tuhan. Fakta yang tidak bisa dibantah, banyak orang Kristen yang memiliki pemahaman yang salah mengenai hal ini, tidak memiliki usaha yang proporsional untuk menjalani hidup Kekristenannya.

...



February 03, 2019, 05:05:57 AM
Reply #2374
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23698
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Orang Kristen yang tidak memiliki usaha yang proporsional untuk menjalani hidup Kekristenannya, berarti ia melecehkan Tuhan dengan tidak memedulikan panggilan untuk hidup suci seperti Bapa di surga (1Ptr. 1:16). Ini berarti juga ia menolak Allah, sebab orang yang menolak hidup tidak bercacat tidak bercela berarti menolak Allah (1Tes. 4:7-8, “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu”).



February 04, 2019, 05:24:29 AM
Reply #2375
February 05, 2019, 05:17:29 AM
Reply #2376
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23698
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

05. TEGAR TENGKUK
 
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17916/0/05-FEBRUARI-2019-TEGAR-TENGKUK.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17916/1/05-FEBRUARI-2019-TEGAR-TENGKUK.amr

Dalam Roma 11:25 tertulis: “Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: “Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk.” Kalimat “kamu jangan menganggap dirimu pandai,” menunjukkan bahwa ada kesalahan atau ketidakmengertian jemaat mengenai suatu hal yang sedang dipercakapkan, yaitu mengenai kemungkinan seseorang bisa tertolak oleh Tuhan. Mengapa Paulus menuliskan hal ini? Sebab banyak orang Kristen yang merasa bahwa dirinya tidak mungkin dapat tertolak oleh Allah, karena merasa sudah percaya Yesus. Mereka tidak mengoreksi diri apakah dengan keadaan mereka itu layak masuk Kerajaan Surga atau tidak. Dengan kebodohan ini tidak sedikit orang Kristen merasa diri tidak perlu bertobat dan meningkatkan kualitas kesuciannya, terlebih lagi kalau mereka sudah memiliki kedudukan dalam gereja seperti pendeta atau majelis.

Paulus menunjukkan tegar tengkuk atau keras kepalanya orang-orang Kristen itu seperti keadaan bangsa Israel. Bangsa Israel telah menjadi tegar tengkuk atau keras kepala, yaitu dengan menolak Mesias sebagai Juruselamat. Orang-orang Kristen merasa sudah menerima Yesus padahal mereka menolak Dia, menolak Yesus dengan cara tidak hidup dalam kekudusan dan kesucian. Mereka tidak mengerti bahwa keselamatan merupakan proses dikembalikannya manusia kepada rancangan semula. Jadi, kalau orang tidak memiliki pengertian keselamatan yang benar, maka ia tidak akan pernah mengusahakan diri untuk semakin sempurna.

Dalam tulisan Paulus tersebut, ia menyinggung mengenai sebagian bangsa Israel yang keras kepala sehingga memberi kesempatan kepada bangsa-bangsa lain untuk menjadi percaya. Paulus secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa ada jumlah atau kuota yang disediakan bagai orang-orang di luar bangsa Israel “untuk masuk.” Masuk di sini artinya menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Allah. Seperti yang dikemukakan di pembahasan sebelumnya, bangsa-bangsa lain adalah seperti batang dari zaitun liar, yang dicangkokkan dalam akar pohon zaitun yang penuh getah (Rm. 11:17). Kalau dipertanyakan berapa jumlah kuota tersebut, tentu kita tidak dapat menjawabnya. Kalau dikatakan di sini kuota, ini berarti suatu jumlah yang harus dipenuhi, tentu saja hanya Tuhan yang tahu.

Selanjutnya Paulus menulis suatu tulisan yang sukar dipahami sebagai berikut: Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: “Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka.” (Rm. 11:26-27). Hal yang sulit dipahami adalah kalimat “seluruh Israel akan diselamatkan.” Kalimat tersebut bisa memiliki beberapa pengertian antara lain:

Pertama, bahwa semua bangsa Israel pada akhirnya akan diselamatkan. Tetapi hal ini tidak mungkin. Tuhan tidak akan menyelamatkan orang-orang yang tidak percaya kepada Yesus, sekalipun itu datang dari bangsa Israel, umat pilihan Allah secara keturunan darah daging dari Abraham. Walaupun bangsa Israel adalah umat pilihan Allah secara darah dan daging, tetapi kalau mereka menolak Yesus sebagai Mesias, maka mereka tidak akan mengalami dan tidak akan memiliki keselamatan. Dalam hal ini keselamatan tidak ditentukan oleh darah daging keturunan Abraham, tetapi berdasarkan iman kepada Yesus Kristus. Inilah yang dimaksud dengan pembenaran oleh iman, sola fide (hanya oleh iman).

Kedua, yang dimaksud dengan “seluruh Israel akan diselamatkan” adalah semua sisa-sisa bangsa Israel yang percaya kepada Tuhan Yesus yang juga akan diselamatkan (Rm. 9:7; 11:4-5). Jadi, kata “semua” di sini bukan berarti semua orang Israel tak terkecuali, tetapi hanya mereka yang berani meninggalkan agama Yahudinya dan memercayai Yesus sebagai Mesias. Hal ini diteguhkan oleh Roma 11:23-24, bahwa dalam perikop ini fokus pembahasan adalah mengenai bangsa Israel (Rm. 11:23-24, “Tetapi mereka pun akan dicangkokkan kembali, jika mereka tidak tetap dalam ketidakpercayaan mereka, sebab Allah berkuasa untuk mencangkokkan mereka kembali. Sebab jika kamu telah dipotong sebagai cabang dari pohon zaitun liar, dan bertentangan dengan keadaanmu itu kamu telah dicangkokkan pada pohon zaitun sejati, terlebih lagi mereka ini, yang menurut asal mereka akan dicangkokkan pada pohon zaitun mereka sendiri”).




February 06, 2019, 05:31:28 AM
Reply #2377
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23698
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17919/0/06-FEBRUARI-2019-ALLAH-TIDAK-MEMBATALKAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17919/1/06-FEBRUARI-2019-ALLAH-TIDAK-MEMBATALKAN.amr

06. ALLAH TIDAK MEMBATALKAN
  5 February 2019 | Renungan Harian
ALLAH-TIDAK-MEMBATALKAN Download (28)
ALLAH-TIDAK-MEMBATALKAN Download (68)

Paulus mengemukakan apa yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama sebagai berikut: “Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub. Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka” (Rm. 11:26-27). Kalimat dalam ayat ini menunjukkan suatu perjanjian baru antara Tuhan dan sisa-sisa umat Israel yang percaya kepada Tuhan Yesus. Dari bangsa Israel akan terpilih orang-orang percaya yang kefasikannya dilenyapkan dan dosa-dosanya diampuni. Tentu mereka adalah orang-orang Israel yang berani meninggalkan agama Yahudi, agama nenek moyang mereka dan mengikut Yesus yang adalah penggenapan dari kitab Perjanjian Lama.

Selanjutnya dalam Roma 11:28 tertulis: “Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang.” Kalimat “seteru Allah oleh karena kamu” maksudnya adalah dibanding dengan orang bukan bangsa Yahudi yang menerima Injil, bangsa Yahudi adalah musuh Allah, karena betapa nyata penolakan mereka terhadap Yesus sebagai Mesias. Bahkan sebagian bangsa Yahudilah yang menyalibkan Yesus. Ini memang ironi sekali, umat Allah yang telah mengecap kebaikan Tuhan, tetapi mereka sendiri yang menolak dan menyalibkan Rajanya.

Aspek lain, dipandang dari perspektif keturunan, berhubung nenek moyang mereka berasal dari Abraham, Ishak dan Yakub, maka mereka sebagai umat pilihan, sehingga Allah memandang bahwa mereka sebagai kekasih Allah. Dalam hal ini Allah tidak menyesali kasih karunia-Nya kepada bangsa tersebut (Rm. 11:29 “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya. Hal in menunjukkan kesetiaan Allah yang sempurna”). Allah tidak menyesal memilih Abraham dan memanggilnya untuk menjadi bapa segala bangsa. Berikut Ishak dan Yakub sebagai nenek moyang bangsa Israel yang melahirkan Mesias, sehingga sepanjang zaman Allah selalu mengingat perjanjian-Nya dengan Abraham. Itulah sebabnya bangsa Israel menjadi bangsa yang istimewa di mata Allah.

Terkait dengan hal ini, perlu dipersoalkan Roma 11:29 yang berbunyi: “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.” Allah di sini adalah ho Theos yang menunjuk Bapa. Dalam Roma 11:29 menunjukkan seakan-akan Bapa bisa menyesal. Kata “menyesal” dalam teks ini sebenarnya adalah ametameletos (ἀμεταμέλητος), yang bukan hanya berarti menyesal tetapi juga berarti membatalkan, atau menganulir atau menarik kembali. Oleh sebab itu kata ametameletos tidak harus diterjemahkan menyesal atau bertobat, tetapi juga bisa diterjemahkan “tidak membatalkan atau tidak menarik kembali.” Dalam hal ini ho Theos (Allah) atau Bapa bukan menyesal seperti pengertian penyesalan pada umumnya, tetapi ho Theos atau Bapa tidak membatalkan atau menarik kembali kasih karunia-Nya bagi umat Israel.

Kemudian di Roma 11:30-31, Paulus menulis: “Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan.” Pernyataan Paulus dalam ayat-ayat ini menunjukkan timbal balik antara bangsa Israel dengan orang percaya. Dalam konteks keselamatan, bangsa Israel memberkati bangsa-bangsa lain, tetapi sebaliknya bangsa-bangsa lain juga memberkati bangsa Istael.

Dalam implikasi konkretnya, bahwa orang percaya yang menaati Injil bisa menimbulkan kecemburuan di hati bangsa Israel. Kecemburuan tersebut bisa menjadi pemantik reaksi bangsa Israel untuk memperhatikan Injil dan menerimanya (Rm. 11:14, “…yaitu kalau-kalau aku dapat membangkitkan cemburu di dalam hati kaum sebangsaku menurut daging, dan dapat menyelamatkan beberapa orang dari mereka”). Besar kemungkinan hal tersebut hanya terjadi atau bisa berlangsung pada waktu itu, atau pada abad pertama ketika zaman gereja mula-mula dan sesudahnya. Tetapi sekarang, bangsa Israel sudah memiliki posisi yang permanen dalam menolak Yesus.

...



February 06, 2019, 05:31:50 AM
Reply #2378
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23698
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Mencermati hal di atas ini, maka sangatlah keliru kalau orang Kristen berpikir bahwa membantu bangsa Israel hari ini merupakan perintah Tuhan. Memang secara naluriah orang Kristen sulit menentang atau melawan bangsa Israel, sebab adanya ikatan emosi agamani dengan bangsa tersebut. Tetapi bukan berarti sekarang ini secara politis dan finansial orang Kristen harus membantu bangsa tersebut. Mereka bangsa yang kuat, yang tidak merasa perlu dibantu. Jadi, kalau ada orang-orang Kristen mencoba membantu bangsa itu secara finansial, ini menunjukkan sikap yang tidak mengerti kebenaran. Bisa memicu kemarahan dari pihak dunia Islam terhadap orang-orang Kristen.



February 07, 2019, 05:19:25 AM
Reply #2379
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23698
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17922/0/07-FEBRUARI-2019-MENUNJUKKAN-KEMURAHAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17922/1/07-FEBRUARI-2019-MENUNJUKKAN-KEMURAHAN.amr

07. MENUNJUKKAN KEMURAHAN
 

Dalam Roma 11:32 Paulus menyampaikan sesuatu yang jika salah dimahami dapat membangun pemikiran yang salah. Dalam ayat itu Paulus mengatakan: “Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.” Kalimat dari tulisan Paulus ini bukan bermaksud hendak menyatakan bahwa Allah secara sepihak dari kehendak bebas-Nya yang absolut dan mutlak, menentukan segala sesuatu, termasuk membelenggu orang-orang tertentu untuk tetap dalam cengkeraman dosa. Ada teolog-teolog yang berpandangan bahwa Allah sengaja membelenggu manusia dalam cengkeraman dosa, hal itu dimaksudkan agar Dia bisa menunjukkan kemurahan-Nya. Jika benar demikian, betapa miskin dan tidak agungnya allah seperti itu. Sesungguhnya, maksud tulisan Paulus tidaklah demikian.

Dalam teks aslinya, ayat tersebut bisa diartikan sebagai berikut: Pada waktu lampau Allah membiarkan semua (maksudnya adalah bangsa Israel) hidup dalam ketidaktaatan. Kata “ketidaktaatan” dalam teks ini adalah sugkleio (συγκλείω) yang memiliki beberapa pengertian antara lain: conclude, inclose, shut up (keputusan yang diambil setelah membuat pertimbangan, membungkus, membungkam). Ketidaktaatan di sini harus dipahami dengan tepat. Ketidaktataan di sini juga bisa berarti kebutaan mengenali sesuatu karena kebodohan, sehingga tidak memiliki pertimbangan yang benar, sebagai akibatnya akan terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan. Jadi, sangatlah jelas maksudnya bahwa Allah tidak menentukan secara sepihak keinginan mengeraskan hati sehingga ada orang-orang yang tidak bisa taat, sebaliknya ada orang-orang yang dibuat bisa taat.

Hal di atas ini terkait dengan sikap bangsa Israel terhadap kebenaran atau kesucian Tuhan. Selama ribuan tahun mereka hidup dalam kebodohan. Setelah hadir keselamatan dalam Yesus Kristus, Allah menunjukkan kemurahan-Nya, yaitu kebenaran atau jalan kehidupan di mana bangsa Israel -tentu juga sama seperti semua orang percaya- dapat mencapai kesucian atau kesempurnaan. Kata “menunjukkan kemurahan” dalam teks aslinya adalah eleoo (ἐλεέω), yang lebih berarti to compassionate (berbelaskasihan). Ini berarti bahwa Allah membelaskasihani manusia pada waktunya, dengan menunjukkan keselamatan dalam Yesus Kristus.

Akhirnya Paulus menambahkan tulisannya dengan pernyataan ini: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?” (Rm. 11:33-35). Selama ratusan bahkan ribuan tahun, Allah membiarkan bangsa Israel dalam kebodohan, tidak mengenal kebenaran. Kemudian, Allah menetapkan suatu saat, di mana Allah Bapa mengutus Putra Tunggal-Nya datang ke bumi membawa dan mengajarkan kebenaran.

Pertanyaan yang bisa muncul adalah: Mengapa kedatangan Putra-Nya tidak pada abad sebelum Masehi? Mengapa baru pada zaman kekaisaran Roma menguasai Palestina? Pada saat mana bangsa Israel sedang tertindas oleh bangsa kafir tersebut. Tentu saja semua itu dilakukan Tuhan tanpa pertimbangan siapa pun, tidak berdasarkan masukan siapa pun, Ia berdaulat dalam bertindak dan mengambil keputusan. Allah adalah Pribadi yang independen dari siapa pun atau apa pun. Pikiran-Nya tidak terselami dan tidak terjajaki oleh siapa pun. Dalam kesempurnaan hikmat-Nya, Ia mengambil keputusan dan bertindak.

...


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)