Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 109675 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

February 07, 2019, 05:19:46 AM
Reply #2380
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Kebenaran yang Tuhan berikan adalah kebenaran yang melampaui segala kekayaan, hikmat dan pengetahuan manapun juga. Kata “kekayaan” dalam konteks ini secara figuratif menunjuk kepada kekayaan rohani. Kebenaran itu ada di dalam Injil-Nya, yang dirindukan untuk didengar para nabi dan orang-orang benar di zaman Perjanjian Lama. Sebagai pujian kepada Allah dan pengakuan terhadap keberadaan Allah, Paulus menyatakan: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Ketika Paulus berbicara mengenai segala sesuatu dari Dia, dan oleh Dia dan bagi Dia, konteksnya bukan mengenai apa pun, tetapi mengenai kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah. Dengan pernyataan ini, Paulus hendak menunjukkan semua harus mengarah kepada kepentingan dan kemuliaan Tuhan Yesus Kristus.


February 08, 2019, 05:32:41 AM
Reply #2381
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17924/0/08-FEBRUARI-2019-BERBAKTI-YANG-BENAR.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17924/1/08-FEBRUARI-2019-BERBAKTI-YANG-BENAR.amr

08. BERBAKTI YANG BENAR
  7 February 2019 | Renungan Harian
BERBAKTI-YANG-BENAR Download (26)
BERBAKTI-YANG-BENAR Download (28)

Kemurahan Allah yang diberikan kepada orang percaya, ternyata memuat atau mengandung resiko atau konsekuensi. Setelah menerima kemurahan Allah, orang percaya memiliki tanggung jawab untuk mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, kudus dan yang berkenan. Inilah yang disebut sebagai ibadah yang sejati. Hal ini harus dimengerti dan diterima oleh semua orang percaya. Maksud ibadah di sini bukan saja kita memberi sesuatu kepada Tuhan, baik dalam berupa uang atau apa pun. Tetapi kesediaan untuk berupaya untuk mengalami proses perubahan. Di sini sebenarnya kunci kehidupan orang percaya. Oleh sebab itu orang percaya hendaknya tidak berpikir, kalau sudah pergi ke gereja berarti sudah memenuhi panggilannya sebagai orang percaya atau sudah berbakti kepada Tuhan. Harus dipahami, bahwa kebaktian di gereja mengikuti liturgi tidak sama artinya dengan beribadah atau berbakti kepada Tuhan secara benar atau dianggap sebagai ibadah yang sejati. Kita tidak boleh memiliki cara berpikir seperti cara agama-agama pada umumnya, yaitu mereka yang tidak mengenal kebenaran di dalam Injil. Biasanya mereka merasa sudah beribadah kepada dewa, ilah atau alah yang mereka sembah, karena sudah melakukan suatu ritual atau seremonial.

Sesungguhnya, ibadah kepada Tuhan atau kebaktian yang benar kepada Allah tidaklah demikian. Ibadah yang sejati atau kebaktian yang benar adalah ketika seseorang mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Allah, serta berkeadaan pola berpikir yang tidak sama dengan dunia ini (Rm. 12:1-2). Kata beribadah dalam Roma 12:1 adalah latreia (λατρεια), yang lebih berarti “melayani.” Kata ini juga digunakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 4:8, ketika Yesus menangkis bujukan Iblis untuk mengingini dunia ini. Yesus berkata: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Kata berbakti dalam ayat ini, sama dengan kata “ibadah” dalam Roma 12:1.

Mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, kudus, dan yang berkenan kepada Allah memiliki makna bahwa tubuh kita harus digunakan untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Tubuh kita bukan untuk kesenangan diri sendiri apalagi untuk memuaskan keinginannya, tetapi menjadi berguna bagi penggenapan rencana Allah di dunia ini. Kalau orang percaya bekerja menggunakan tubuh, hal tersebut dilakukan untuk kepentingan Kerajaan Allah. Oleh sebab itu, menjadi tanggung jawab setiap individu untuk mengembangkan potensi di dalam dirinya, agar tubuhnya bisa efektif bagi pekerjaan Tuhan. Dalam hal ini, kemalasan adalah suatu dosa; sebab orang malas membuat dirinya tidak efektif bagi Tuhan dan tidak bertanggung jawab kepada-Nya secara benar.

Dengan penebusan oleh darah Yesus, maka tubuh kita bukan milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Tuhan yang memiliki tubuh kita secara penuh. Sebenarnya, kita tidak lagi memiliki keberhakkan atas tubuh kita ini. Harus dimengerti bahwa konteks 1 Korintus 6:12-20 adalah mengenai dosa percabulan. Di dalamnya Paulus mengajar kita untuk menjadi satu roh dengan Tuhan (1Kor. 6:17). Untuk menjadi satu roh dengan Tuhan, tubuh kita harus kudus. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan dalam 2 Korintus 6:17-18, Sebab itu: “Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, Firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka …” Dalam teks ini orang percaya dipanggil untuk keluar dari kehidupan yang tidak sesuai kehendak Allah, sejak di dunia ini dan dalam pergaulan di bumi. Dengan penebusan oleh darah Yesus, maka tubuh kita adalah Bait ROH KUDUS. Allah berkenan hadir dalam hidup kita, menyatu dengan kita dalam persekutuan setiap saat. Itulah sebabnya, tidak bisa tidak, tubuh yang kita kenakan ini tidak boleh dicemari dosa sama sekali. Dosa yang dilakukan dengan tubuh ini merupakan tindakan tidak menghormati Tuhan. Idealnya, orang yang telah ditebus oleh darah Yesus berani menyatakan seperti yang dikatakan Paulus: “Hidupku bukan aku lagi” (Gal. 2:20).

...



February 08, 2019, 05:32:59 AM
Reply #2382
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Persembahan yang berkenan artinya, bahwa seluruh tindakan hidup kita dengan tubuh ini selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dalam hal ini, seluruh penggunaan tubuh harus sesuai dengan kehendak ROH KUDUS. Hal ini dapat dilihat dengan jelas melalui tulisan Paulus dalam 1 Korintus 6:19-20, “…atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait ROH KUDUS yang diam di dalam kamu, ROH KUDUS yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Dengan tubuh kita dibeli oleh Tuhan Yesus, maka hanya Dia yang berhak menggunakan sesuai dengan kehendak-Nya, jika tidak maka berarti memberontak.



February 09, 2019, 05:27:19 AM
Reply #2383
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17927/0/09-FEBRUARI-2019-SEGENAP-HIDUP.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17927/1/09-FEBRUARI-2019-SEGENAP-HIDUP.amr

09. SEGENAP HIDUP
 

Mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup dan kudus adalah puncak dari kehidupan yang menyukakan hati Allah. Inilah prestasi abadi yang tidak dapat dipadankan atau dibandingkan dengan apa pun. Seharusnya inilah satu-satunya isi agenda hidup orang percaya. Paulus menyatakan bahwa inilah persembahan yang berkenan kepada Allah. Kata berkenan dalam teks aslinya adalah euarestos (ευαρεστος), yang artinya selain berkenan (well pleasing) juga berarti diterima (acceptable).

Kata euarestos menunjukkan adanya standar yang harus dicapai oleh orang percaya. Ibarat sebuah barang, menunjuk kepada standar yang ditentukan. Oleh karena hal ini, hendaknya orang percaya tidak berpikir, kalau sudah meyakini dan menerima Yesus sebagai Juruselamat, maka sudah menjadi orang yang diterima oleh Allah Bapa. Dalam hal ini, kita dapat mengerti kalau Paulus berusaha di manapun dirinya berada, untuk bisa berkenan kepada Allah (2Kor. 5:9-10). Kata berusaha dalam teks aslinya adalah philotimoumetha (φιλοτιμούμεθα) yang juga bisa berarti berambisi. Hal ini menunjukkan hasrat yang kuat, atau keinginan yang membara untuk dapat mencapai sesuatu. Bagaimana Paulus dapat memiliki ambisi yang kuat demikian? Sebab Paulus memadamkan segala keinginan selain berkenan kepada Allah.

Keberkenanan di hadapan Tuhan atau melakukan kehendak Bapa hendaknya tidak diukur dari jumlah uang atau persentase dari penghasilan kita yang diberikan kepada gereja. Persembahan yang hidup dan kudus meliputi seluruh hidup dan milik kita yang harus dikembalikan kepada Tuhan. Kehidupan seperti ini dapat dikatakan sebagai ibadah yang sejati. Kata sejati dalam Roma 12:1 dalam teks aslinya adalah logikos (λογικος), yang bisa berarti logis (logical), rasional (rasional), cerdas (intelligent), beralasan memiliki dasar atau landasan (reasonable). Allah yang besar, mulia dan agung serta Mahasempurna, tidak cukup menerima ibadah dalam bentuk seremonial atau ritual pada tempat tertentu dan waktu yang terbatas. Tetapi kepada Allah yang benar tersebut, patut dipersembahkan ibadah yang sempurna pula, yaitu segenap hidup kita. Pengertian ini membedakan orang percaya dengan berbagai agama di dunia yang menekankan ritual atau seremonial. Tetapi inilah faktanya, banyak orang Kristen yang telah terjebak dalam kebodohan ini. Jika hal ini berlangsung terus dalam kehidupan mereka, maka banyak di antara mereka yang akan binasa, atau hanya cukup menjadi anggota masyarakat Kerajaan Surga, bukan anggota keluarga Kerajaan. Ini berarti karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus tidak mencapai sasaran.

Dengan penjelasan di atas ini, maka dapat dipahami bahwa rumah ibadah adalah tempat di mana seseorang menggunakan potensi jasmani dan rohaninya untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Rumah ibadah bagi orang percaya pada umumnya adalah tempat bekerja, kantor, pabrik, toko, sawah, rumah sakit, sekolah atau kampus, rumah tinggal dan lain sebagainya. Jika menyadari hal ini, maka orang percaya akan berusaha untuk memaksimalkan potensi, tidak malas tetapi semakin ahli di bidang yang digelutinya. Setiap hari dapat melakukan pekerjaan dengan sukacita dan bersemangat dengan landasan berpikir, mereka sedang melayani Tuhan.

Meningkatkan profesionalisme atau keahlian di bidang yang digeluti merupakan ibadah yang berkenan kepada Allah. Dengan demikian bisa diperoleh sebuah kebenaran: Orang yang semakin ahli di bidangnya belum tentu mengasihi Tuhan, tetapi orang yang mengasihi Tuhan pasti semakin ahli di bidangnya. Bagaimana seseorang dapat menunjukkan atau membuktikan dirinya mengasihi Tuhan? Tentu ketika ia berjuang untuk semakin profesional atau ahli di bidangnya, di mana dalam pencapaian tersebut nama Tuhan dipermuliakan, dan semua itu hanya untuk kepentingan Tuhan. Oleh sebab itu orang malas adalah penyangkalan kemanusiaan. Orang malas tidak mungkin berkenan kepada Tuhan.

Dengan kesadaran bahwa ibadah yang sejati adalah menggunakan semua potensi jasmani dan rohani, maka orang percaya harus berusaha menghilangkan segala unsur yang bertentangan dengan kehendak Allah dalam pekerjaan atau profesi yang disandangnya. Dengan demikian terang Firman Tuhan menerangi seluruh kehidupan orang percaya dalam segala bidang yang digelutinya. Dalam hal ini, sesungguhnya penerapan hidup dalam kebenaran dan kesucian, bukan hanya di gereja atau juga di tempat di mana kita memiliki banyak waktu dan pergumulan. Tentu saja tempat itu adalah di tempat di mana seseorang melakukan kegiatan setiap hari.





February 10, 2019, 05:12:28 AM
Reply #2384
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

10. WILAYAH PELAYANAN
http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17929/0/10-FEBRUARI-2019-WILAYAH-PELAYANAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17929/1/10-FEBRUARI-2019-WILAYAH-PELAYANAN.amr

Harus ditegaskan di sini, bahwa suatu pekerjaan dikategorikan rohani atau duniawi, tidak ditentukan oleh jenis pekerjaan tersebut semata-mata, tetapi motivasi terdalam melakukan pekerjaan tersebut. Selama ini orang berpikir bahwa pekerjaan rohani hanyalah aktivitas seorang rohaniwan atau mereka yang bekerja di lingkungan gereja. Tetapi pekerjaan atau profesi yang ada di luar gereja dipandang bukanlah pekerjaan rohani, biasanya disebut sebagai pekerjaan sekuler. Itulah sebabnya, status pendeta atau rohaniwan lain dipandang memiliki supremasi di atas profesi sekuler. Dalam lingkungan gereja, status rohaniwan dipandang lebih suci atau lebih rohani dibanding profesi sekuler. Pikiran seperti ini naif. Dengan pikiran naif ini mudah terjadi penjajahan rohani dari pihak rohaniwan kepada mereka yang berstatus atau menyandang profesi sekuler. Dengan keadaan ini maka suburlah politik agama di dalam gereja.

Orang percaya harus memahami dengan tepat yang dimaksud dengan ibadah itu. Ibadah atau pelayanan adalah segala sesuatu yang dilakukan bagi Kerajaan Allah dengan mengerahkan seluruh potensi jasmani dan rohaninya. Segala sesuatu yang dilakukan tersebut adalah pekerjaan rohani. Dengan demikian orang percaya dapat menghayati pelayanannya bagi Tuhan setiap hari secara benar, di mana seseorang dapat berstatus sebagai hamba Tuhan atau pelayan Tuhan. Seperti misalnya, setiap hari pergi ke kantor atau tempat kerja, ibu rumah tangga yang mengatur rumah tangga, dan memenuhi tugas di berbagai bidang hidup yang dijalani orang percaya, sesungguhnya mereka melakukan pelayanan bagi Tuhan. Dalam hal ini terpenuhilah maksud Firman Tuhan: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31).

Bagi orang percaya, mengembangkan potensi untuk semakin ahli di bidangnya, dan memaksimalkan potensi adalah pelayanan bagi pekerjaan Tuhan. Dengan potensi yang dikembangkan dan dimaksimalkan, maka orang percaya akan menjadi sukses dalam bisnis atau karirnya. Hal ini merupakan prestasi bagi Tuhan, sebab orang seperti ini semakin efektif bagi Tuhan. Seorang kondektur bisa dipakai Tuhan, tetapi seorang direktur akan lebih efektif bagi Tuhan. Seorang cleaning service bisa membawa dampak bagi lingkungannya, tetapi seorang komisaris atau seorang gubernur akan lebih membawa dampak secara luas di masyarakat. Sebaliknya, apa artinya seorang direktur, komisaris, pejabat tinggi, atau yang memiliki kedudukan tinggi tetapi tidak memiliki dampak keselamatan bagi sesamanya?

Oleh sebab itu, orang percaya harus mengembangkan diri, memaksimalkan semua potensi guna kepentingan Kerajaan Allah. Kemalasan yang merupakan sikap yang tidak bertanggung jawab adalah dosa. Orang malas yang tidak bertanggung jawab dalam bidang yang digelutinya berarti tidak melayani Tuhan dengan baik. Dalam hal ini, seluruh wilayah dan waktu hidup kita adalah wilayah pelayanan bagi Tuhan; bukan hanya lingkungan gereja. Tidak ada wilayah dan waktu dalam hidup ini yang bisa dikatakan “daerah netral” di mana orang percaya boleh hidup untuk dirinya sendiri.

Bagi seorang pengusaha, berhubung bisnisnya adalah pelayanan, maka semua hasil yang diperoleh dari bisnisnya tersebut haruslah dipersembahkan bagi Tuhan. Dipersembahkan bagi Tuhan berarti:
Pertama adalah untuk keluarganya. Keluarga adalah pekerjaan Tuhan. Anak-anak adalah aset Kerajaan Surga yang dipersiapkan menjadi “anak panah Tuhan.”
Kedua, merawat orang tua yang adalah tanggung jawab yang harus ditunaikan. Harus selalu diingat, bahwa anak-anak dibesarkan oleh orang tua. Anak-anak harus merawat orang tua dengan baik.
Ketiga, kita harus memperhatikan keluarga besar (paman, tante, keponakan dan lain sebagainya).
Keempat, menolong masyarakat di sekitar kita. Keberhasilan dan prestasi kita dapat menjadi naungan bagi banyak orang; mulai dari pembantu rumah tangga, supir, pegawai sampai semua kolega bisnis serta masyarakat luas.
Akhirnya, kelima, orang percaya harus sepenuhnya memikul tanggung jawab dalam pekerjaan Tuhan, yaitu turut mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan di gereja.

Urut-urutan di atas ini bukanlah urut-urutan secara mutlak, tetapi relatif. Hal ini tergantung situasi di mana Tuhan menempatkan orang percaya. Pada prinsipnya adalah segala sesuatu yang orang percaya lakukan harus dilakukan bagi Tuhan. Dalam hal ini, seseorang harus bertumbuh dewasa memiliki manusia batiniah yang cemerlang seperti Yesus, sehingga dapat membangun motivasi hidup seperti Yesus: Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.



February 11, 2019, 05:30:10 AM
Reply #2385
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17931/0/11-FEBRUARI-2019-KEBENARAN-YANG-MENTRANSFORMASI.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17931/1/11-FEBRUARI-2019-KEBENARAN-YANG-MENTRANSFORMASI.amr

11. KEBENARAN YANG MENTRANSFORMASI
 
Dalam Roma 12:2 Paulus menulis: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Ayat ini sangat penting, sebab dari ayat ini kita menemukan kebenaran Firman Tuhan mengenai transformasi. Transformasi adalah proses penting yang harus dialami setiap orang percaya. Tanpa proses ini tidak mungkin seseorang mengerti kehendak Tuhan; apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan yang sempurna. Banyak orang Kristen tidak memahami transformasi dari sudut kebenaran Alkitab.

Pengertian transformasi yang tidak berpijak pada kebenaran Alkitab, mengakibatkan orang percaya terjerumus kepada keadaan yang sangat buruk, menghambat bahkan menggagalkan pertumbuhan iman yang sejati, yaitu tidak terbangunnya karakter Kristus dalam kehidupan orang percaya. Sejatinya, ROH KUDUS giat mentransformasi orang percaya untuk menjadi pribadi unggul seperti yang Bapa kehendaki. Tetapi akibat pengertian transformasi yang salah, maka menghambat bahkan menggagalkan karya ROH KUDUS tersebut dalam proses transformasi. Akibat yang lain, menciptakan ketidaksiapan menghadapi hari esok dunia yang semakin sukar. Dalam hal ini, pengertian transformasi yang salah menyebabkan kerentanan pribadi dalam menghadapi realitas kehidupan yang semakin buas dan ganas. Untuk memahami pokok-pokok pengajaran Alkitab, juga mengenai transformasi, setiap pemikiran harus berlandaskan pada kebenaran Alkitab. Dengan demikian ditemukan kebenaran yang orisinal mengenai pokok tersebut.

Kata transformasi berasal dari kata dalam bahasa Inggris transformation yang artinya antara lain: Complete change: a complete change, usually into something with an improved appearance or usefulness (berubah secara penuh, biasanya dengan tampil lebih maju, berkembang atau berguna). Deskripsi ini sama dengan yang didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Definisi yang lain: Transforming: the act or process of transforming somebody or something (suatu proses perubahan pada sesuatu atau seseorang). Penjelasan ini belumlah mewakili pengertian transformasi menurut Alkitab. Namun demikian, penjelasan tersebut dapat membantu memahami transformasi secara lebih lengkap, sebab definisi transformasi tersebut bersinggungan dengan kebenaran Alkitab.

Dalam Alkitab Perjanjian Baru dapat ditemukan dua kata yang memiliki pengertian sejajar dengan transformasi, yaitu allasso (ἀλλάσσω) dan metamorphoste (μεταμορφοῦσθε). Dari dua kata tersebut, dapat diperoleh pengertian transformasi yang benar.
Pertama, allasso. Kata ini terdapat dalam beberapa ayat Perjanjian Baru (1Kor. 15:51-52 dan Kis. 6:14). Kata allasso berarti mengubah (Ing. change) atau membuat berbeda (to make different). Kata allasso menunjukkan perubahan fisik, yaitu ketika Tuhan Yesus datang (parousia) bersama orang kudus-Nya di akhir zaman. Mereka yang masih hidup “diubah” (transform) dalam sekejap. Di sini kata allasso berarti berubah bentuk. Kata yang sejajar dengan perubahan bentuk dari tubuh fana ke tubuh kemuliaan adalah metaschematizo (μετασχηματίζω), dalam bahasa Inggris diterjemahkan “transfer” (Flp. 3:21). Kata allasso juga terdapat dalam teks lain, yaitu dalam Kisah Para Rasul 6:14. Kata allasso dalam teks ini lebih menunjuk kepada perubahan tingkah laku.

Kata yang kedua dalam bahasa Yunani yang diterjemahkan transformasi adalah metamorphoo (μεταμορφόω). Kata ini juga terdapat pada beberapa ayat dalam Perjanjian Baru (Rm. 12:2). Kata metamorphoo berarti berubah (change), transfigure (mengubah rupa). Dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah pembaruan akal budi atau perubahan pikiran. Kata pembaruan dari teks aslinya anakainosis (ἀνακαίνωαις), yang berarti renewing (pembaruan), renovation (renovasi). Hal ini menunjuk kepada sesuatu yang diubahkan, diperbaharui atau dibuat dalam bentuk lain. Adapun kata “budi” dalam Roma 12:2 teks aslinya adalah nous (νοῦς) yang bisa berarti mind (pikiran), the intellect (kecerdasan), understanding (pengertian).

...
February 11, 2019, 05:30:29 AM
Reply #2386
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Kata methamorphoste terdapat juga dalam 2 Korintus 3:18 (Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya). Di sini Paulus berbicara mengenai perubahan watak atau kehidupan pribadi orang yang diperbarui Tuhan. Jadi dengan demikian kata methamorphosthe menunjuk perubahan tingkah laku dari orang berdosa menjadi seperti Allah. Perubahan tersebut bukan saja mengubah seseorang menjadi baik, tetapi memancarkan kemuliaan Tuhan yang sempurna. Dari penjelasan tersebut, dapat dijabarkan bahwa transformasi dalam hidup orang percaya adalah perubahan pola berpikir, proses yang berkesinambungan dan hasil kerja keras.
February 12, 2019, 05:56:23 AM
Reply #2387
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17934/0/12-FEBRUARI-2019-TRANSFORMASI-PIKIRAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17934/1/12-FEBRUARI-2019-TRANSFORMASI-PIKIRAN.amr

12. TRANSFORMASI PIKIRAN
 

Perubahan pola berpikir mengakibatkan perubahan arah hidup. Ini lebih dari perubahan moral. Perubahan ini menyangkut seluruh filosofi hidupnya, ini berarti juga perubahan sikap hati atau sikap batin dan seluruh gaya hidup. Perubahan pola berpikir ini sejajar dengan pertobatan. Sebab pertobatan pada dasarnya adalah perubahan pola berpikir. Bertobat dari bahasa Ibrani shuwb, yang berarti berbalik. Pertobatan bukan sekadar perubahan moral baru, tetapi arah hidup yang diubah. Arah hidup yang tadinya berorientasi atau tertuju kepada hal-hal dunia (materi), berpindah ke Kerajaan Surga (hal-hal surgawi). Dalam bahasa Yunani kata bertobat adalah metanuo (μετανοέω), yang berarti perubahan pikiran. Transformasi yang terjadi dalam diri seseorang membuka pikiran dan kesadarannya, sehingga dapat menghayati dari mana ia datang dan ke mana ia pergi (Yoh. 3:8-11). Bagi orang percaya, transformasi menyadarkan bahwa dirinya bukan berasal dari dunia ini.

Transformasi adalah perubahan yang berlangsung secara terus-menerus atau berkesinambungan, bukan sebuah momentum atau peristiwa yang terjadi dalam sekejap. Banyak orang berkata: “Kita menyongsong transformasi.” Padahal pengertian transformasi menunjuk kepada sebuah proses perubahan yang bertahap, berlangsung secara terus-menerus. Proses transformasi dapat digambarkan seperti sebuah garis panjang, bukan sebuah titik. Transformasi bukan sebuah momentum, tetapi sebuah proses yang terus berlangsung dalam hidup orang percaya. Transformasi sampai pada kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus hanya terjadi dalam kehidupan orang percaya. Sebab orang percaya memiliki fasilitas keselamatan, yaitu ROH KUDUS, Injil dan penggarapan melalui segala peristiwa kehidupan (Rm. 8:28)

Transformasi adalah sebuah proses perubahan perilaku seseorang dan komunitas. Hal ini terjadi dari hasil kerja keras orang percaya dalam memberitakan Injil dengan mengajarkan kebenaran. Perubahan dunia kekafiran pada abad mula-mula oleh Kekristenan adalah hasil pelayanan yang tak kenal lelah, bukan hanya karena pergumulan doa, tetapi juga karena kerja keras. Dalam hal ini bukan berarti doa tidak berperan, doa memiliki tempat sendiri, sementara tanggung jawab orang percaya juga memiliki tempatnya. Keduanya harus berjalan seiring. Dalam sejarah dapat dijumpai, bahwa setiap perubahan hampir selalu melalui mekanisme proses hasil perjuangan individu-individu, bukan sesuatu yang instan (mendadak). Suatu bangsa tidak akan bertobat dan mengalami pembaharuan kalau hanya didoakan, tetapi juga harus digarami oleh orang percaya yang bekerja keras memberi sepenuh hidupnya bagi Tuhan.

Proses transformasi adalah proses pembaharuan pikiran dalam hidup orang percaya, sehingga mereka mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Mengapa Tuhan menghendaki agar orang percaya terus menerus mengalami proses pembaruan pikiran? What’s got your mind, has got you (apa yang menguasai pikiran kamu, menguasai kamu). Dalam hal ini, dapat dimengerti betapa pentingnya pembaharuan pikiran. Tidak dapat dibantah bahwa pikiran seseorang sangat berperan dalam kehidupan. Pikiranlah yang menciptakan atau menetapkan standar hidup, dan seseorang terus bergerak sepanjang waktu untuk mencapai standar hidup tersebut. Pada umumnya manusia ingin mencapai apa yang juga dicapai oleh manusia di sekitarnya. Firman Tuhan berkata: “Janganlah serupa dengan dunia ini.” Alkitab versi King James menerjemahkan kalimat pertama ayat ini sebagai “and be not conformed to this world.” Alkitab mengingatkan bahwa orang percaya tidak boleh menyamakan diri dengan standar hidup anak dunia. Dalam terjemahan Today’s English Version diterjemahkan: Do not conform yourselves to the standards of this world.

Mengubah pola berpikir seseorang bukan sesuatu yang mudah, tetapi sangat sulit, membutuhkan waktu, kerja keras. Tuhan tidak menyulap dalam sekejap pola berpikir seseorang sehingga dapat memiliki pola pikir yang baru. Pembaharuan pikiran di sini sama artinya dengan pembaharuan pengertian (understanding) yang terjadi secara berkesinambungan; terus-menerus. Pembaharuan pikiran ini bukanlah momentum atau peristiwa yang terjadi sesaat tetapi sebuah proses yang terus berjalan. Kata pikiran dalam Roma 12:2 adalah nous yaitu yang bertalian dengan kesadaran (consciousness) terhadap kebenaran yang membangun pemahaman makna hidup yang benar. Transformasi adalah pembaharuan pikiran yang membuka kesadaran, memberi pengertian dan melahirkan persepsi-persepsi Ilahi. Sebenarnya pada dasarnya transformasi adalah pembaharuan mindset.



February 13, 2019, 05:26:40 AM
Reply #2388
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17936/0/13-FEBRUARI-2019-MENGASIHI-TUHAN-DENGAN-PIKIRAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17936/1/13-FEBRUARI-2019-MENGASIHI-TUHAN-DENGAN-PIKIRAN.amr

13. MENGASIHI TUHAN DENGAN PIKIRAN
 

Pikiran bisa menjadi tempat di mana Iblis dapat memiliki akses atau jalan untuk menguasai kehidupan seseorang dan melaksanakan kehendaknya. Bila hal ini terjadi maka kehendak Allah dijauhkan dan rencana-Nya dihambat, bahkan digagalkan. Itulah sebabnya Paulus menasihati orang percaya agar tidak memberi “kesempatan” kepada Iblis (Ef. 4:27). Kata kesempatan dalam teks aslinya adalah topon (τόπον), yang bisa berarti tempat (Ing. place). Kata topon juga berarti tempat berpijak (Ing. foothold). Tempat berpijak di sini sama dengan pangkalan. Tidak memberi kesempatan kepada Iblis artinya agar tidak mengisi pikiran dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan.

Sebagai contoh kasus, seperti yang diungkapkan Tuhan Yesus dalam Matius 16:21-23. Tuhan Yesus memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus ke Yerusalem, sengsara, mati dan dibangkitkan. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur dengan nama Allah. Petrus mengira ide atau pikiran tersebut berasal dari Allah, sedangkan pernyataan Tuhan Yesus dianggap bukan dari Allah. Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Tuhan Yesus mengusir Iblis dari diri Petrus, yaitu di dalam ide atau pikirannya. Pikiran Petrus menjadi batu sandungan atau halangan terhadap rencana Tuhan. Banyak orang beranggapan bahwa apa yang dipikirkan asal wajar-wajar saja -tidak melanggar hukum- maka hal tersebut bukan dari Iblis. Tetapi dari pernyataan Tuhan tersebut jelas bahwa semua pikiran yang bukan berasal dari Allah berarti dari Iblis.

Dalam hal ini bukan tanpa alasan apabila Paulus takut kalau-kalau pikiran jemaat disesatkan oleh Iblis. Dalam tulisannya ia berkata: “Tetapi aku takut, kalau- kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya” (2Kor. 11:2). Dari pernyataan ini diperoleh pelajaran bahwa dosa masuk melalui penyesatan dalam pikiran, demikian juga penyesatan dalam gereja terjadi melalui pikiran. Penyesatan tersebut bisa melalui pengajaran yang tidak berlandaskan pada kebenaran Firman Tuhan. Pengajaran seperti itu disebarkan melalui khotbah yang tidak diangkat dari penafsiran yang benar. Pengajaran-pengajaran tersebut dikemas menjadi doktrin, dan tanpa disadari oleh anggota jemaat doktrin-doktrin tersebut diakui sebagai Firman Tuhan atau sejajar dengan Firman Tuhan.

Pengajaran hasil pikiran manusia yang bercampur dengan pemikiran dari roh-roh jahat memang melahirkan pengajaran yang logis dan mudah diterima, seolah-olah adalah Firman Tuhan. Pengajar atau penafsirnya berpikir bahwa simpulan dari idenya adalah suara ROH KUDUS atau sebuah penemuan yang lahir dari hikmat Tuhan, padahal bukan dari Tuhan. Hal ini sangat mengerikan. Orang percaya harus waspada bahwa pikiran manusia dapat disesatkan oleh Iblis (2Kor. 11:2-3). Pikiran manusia atau idenya dapat menjadi kendaraan pikiran atau rencana Iblis. Dalam hal ini dapat ditemukan bahwa seorang pengajar atau pembicara di mimbar memiliki tanggung jawab dan pergumulan yang berat. Pertumbuhan rohani dan kualitas iman jemaat tergantung oleh isi pengajaran pembicara atau pengkhotbah dalam gereja. Itulah sebabnya Alkitab berkata bahwa seorang guru atau pengajar dihakimi dengan ukuran yang lebih berat (Yak. 3:1).

Tuhan memanggil orang percaya supaya dapat menggunakan akal budi semaksimal mungkin untuk menggali kekayaan Firman Tuhan dan mengerti dengan benar. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menunjukkan bahwa seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi tergantung pada hukum mengasihi Tuhan dengan segenap “akal budi” juga. Kata akal budi di sini dianoia, yang berarti pikiran atau pengertian (understanding). Menggunakan rasio semaksimal mungkin untuk memahami kebenaran Alkitab adalah sesuatu yang mutlak. Pikiran harus diaktifkan untuk menggumuli kebenaran Tuhan secara terus menerus. Berhenti menggunakan pikiran untuk menggumuli kebenaran Firman Tuhan berarti sebuah kemunduran yang mengarah kepada kehancuran.

...



February 13, 2019, 05:27:04 AM
Reply #2389
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 21583
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


...

Banyak orang Kristen yang cerdas dalam banyak bidang, tetapi tidak cerdas memahami kebenaran Alkitab. Mereka bersikap demikian karena merasa, bahwa untuk mengerti kebenaran Firman Tuhan dibutuhkan karunia khusus. Tidak sedikit mereka yang merasa untuk memahami kebenaran Tuhan bukanlah bagian hidup mereka. Seharusnya setiap orang percaya menggunakan akal budi (ratio) untuk memahami kebenaran Firman Tuhan (teologi). Hal ini merupakan sarana untuk bersekutu atau berinteraksi secara harmonis dengan Tuhan. Manusia yang tidak berteologi adalah manusia yang tidak bisa berinteraksi dengan Tuhan dengan harmonis. Jadi berteologi haruslah menjadi irama hidup setiap manusia. Masalahnya adalah bahwa teologi yang diajarkan haruslah Alkitabiah.



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)