Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 117424 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

February 14, 2019, 06:25:17 AM
Reply #2390
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22887
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17938/0/14-FEBRUARI-2019-PIKIRAN-YANG-MENGENALI-KEBENARAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17938/1/14-FEBRUARI-2019-PIKIRAN-YANG-MENGENALI-KEBENARAN.amr

14. PIKIRAN YANG MENGENALI KEBENARAN
 

Tuhan Yesus menebus manusia supaya menjadi umat pilihan-Nya yang meninggalkan cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang mereka (1Ptr. 1:18-19). Cara hidup nenek moyang adalah cara hidup yang tidak sesuai dengan cara hidup bangsawan surgawi. Dalam tulisannya, Petrus menegaskan agar orang percaya “menyiapkan akal budi” (1Ptr. 1:13). Menyiapkan berasal dari kata gird up (Yun. Anazonnumi; ἀναζώννυμι), artinya bersiap-siap untuk bertindak atau menggunakan akal budi dengan seksama. Tentu ada relasi antara menyiapkan akal budi di 1 Petrus 1:13 dengan cara hidup nenek moyang yang harus ditinggalkan di ayat 18. Dari hal ini dapatlah diperoleh kesimpulan bahwa langkah meninggalkan cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang adalah menggunakan pikiran untuk mengenali kebenaran. Dengan mengenali kebenaran inilah seseorang dapat meninggalkan cara hidup orang yang tidak mengenal Tuhan.

Dalam dialog antara Tuhan Yesus dengan orang-orang Yahudi, Ia berkata: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh. 8:31-32). Jalan memperoleh kemerdekaan adalah: Tetap dalam Firman, sehingga benar-benar menjadi murid Tuhan, mengerti kebenaran dan kebenaran itulah yang memerdekakan. Kemerdekaan di sini maksudnya adalah terlepas dari cara hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, yang diwarisi dari nenek moyang.

Dalam suratnya, Petrus menjelaskan bahwa pengenalan akan Tuhan ini menentukan kesucian hidup orang percaya. Ia menulis: “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia” (2Ptr. 1:3-4).

Ada beberapa pokok pikiran yang harus diperhatikan: Pertama, kuasa Ilahi menganugerahkan kuasa untuk hidup saleh. Hendaknya kuasa Tuhan bukan hanya dikaitkan dengan mukjizat dalam pelayanan. Dalam ayat ini maksud kuasa Ilahi Tuhan diberikan adalah untuk “hidup yang saleh” yaitu mengambil bagian dalam kodrat Ilahi. Kedua, kuasa Ilahi tersebut tersalur melalui “pengenalan akan Tuhan.” Perhatikan kalimat “oleh pengenalan kita akan Dia.” Dalam teks aslinya “dia tes epignoseos tou kaleosantos hemas” (διὰ τῆς ἐπιγνώσεως τοῦ καλέσαντος ἡμᾶ) (through the full knowledge of the One calling us). Ibarat pipa, menjadi saluran untuk mendayagunakan kuasa Ilahi yang berguna untuk hidup yang saleh adalah pengenalan akan Tuhan. Pengenalan akan Tuhan terletak pada pikiran yang telah dibaharui atau ditransformasi.

Tuhan Yesus mengemukakan: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3). Hidup kekal dalam hal ini hendaknya tidak diartikan sekadar hidup terus menerus nanti di surga karena terpancang pada kata “kekal.” Kata hidup kekal dalam ayat ini (Yun. zoen aionion) bukan hanya menunjuk kehidupan nanti di surga, tetapi hidup kekal sudah dimulai hari ini, ketika seorang percaya kepada Tuhan Yesus (Yoh. 3:16). Kata “hidup” (zoe) dalam ayat ini lebih menunjuk hidup yang sudah diperbaharui, tentu hidup yang “berkualitas.” Jadi, pengenalan akan Tuhan menentukan kualitas hidup seseorang. Kata hidup kekal bukan hanya berbicara mengenai “panjangnya hidup” sebab bukan hanya di surga ada kekekalan, di neraka pun juga ada kekal. Tetapi hidup kekal juga berbicara mengenai “dalamnya hidup,” mutu atau kualitas hidup. Dengan demikian jelaslah bahwa pengenalan akan Tuhan -yaitu pikiran yang dipenuhi dengan kebenaran- menentukan kualitas hidup manusia.

...





February 14, 2019, 06:25:35 AM
Reply #2391
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22887
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Dalam transformasi terdapat sarana yang mengubah hidup seseorang. Sarana tersebut adalah Firman Tuhan, baik Firman dalam arti logos maupun rhema. Firman Tuhan adalah sarana transformasi yang tidak dapat digantikan dengan apa pun. Proses ini berlangsung oleh pekerjaan ROH KUDUS yang mengilhami orang percaya agar dapat mengerti Firman Tuhan. Untuk itu, pihak orang percaya harus juga berusaha untuk menggali dan menemukan Firman Tuhan yang benar dengan hati haus dan lapar. Proses ini melibatkan kerja keras hamba-hamba Tuhan yang memberitakan dan mengajar Firman Tuhan untuk membantu menggali dan menemukan kebenaran Firman Tuhan yang murni bagi jemaat Tuhan. Tanpa Firman Tuhan yang murni tidak akan pernah terjadi transformasi yang sesungguhnya. Dalam hal ini transformasi bisa berlangsung tidak cukup dengan berdoa, tetapi dengan mendengar, mengerti dan menerima Firman Tuhan yang murni.





February 15, 2019, 06:37:25 AM
Reply #2392
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22887
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
 http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17941/0/15-FEBRUARI-2019-PEMBAHARUAN-PIKIRAN-OLEH-FIRMAN-TUHAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17941/1/15-FEBRUARI-2019-PEMBAHARUAN-PIKIRAN-OLEH-FIRMAN-TUHAN.amr

15. PEMBARUAN PIKIRAN OLEH Firman Tuhan
 

Dalam doa Tuhan Yesus kepada Allah Bapa: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran” (Yoh. 17:17). Doa ini memiliki isi yang pasti sangat penting, memuat kebenaran yang harus orang percaya pahami. Dari doa Yesus ini kita dapat menemukan nafas kebenaran yang sangat luar biasa, yang dapat membuka wawasan pikiran mengenali realitas hidup Kekristenan menurut standar Tuhan. Yesus mengucapkan kata-kata dengan emosi dan perasaan yang sangat mendalam, sebab dialog dalam doa tersebut dilakukan dengan Bapa di surga. Oleh sebab itu, mestinya setiap butir kalimat yang diucapkan Yesus, kita pahami maknanya.

Dalam doa-Nya, Yesus menyinggung mengenai pengudusan. Selama ini, orang hanya mengenali pengudusan oleh darah Yesus. Pengudusan memang terjadi oleh darah Yesus yang menempatkan seseorang menjadi milik Tuhan atau menjadi anak-anak Bapa di surga. Dengan pengudusan darah-Nya, Tuhan Yesus membawa orang percaya di hadapan Bapa di surga sebagai anak-anak-Nya, walaupun keadaan orang percaya masih jauh dari sempurna. Bapa memberikan ROH KUDUS agar orang percaya dituntun kepada seluruh kebenaran melalui pembaharuan pikiran setiap hari. Tanpa ROH KUDUS, seseorang tidak akan bisa mengalami pembaharuan pikiran sampai pada kesempurnaan. Jadi, pengudusan oleh darah Yesus harus ditindaklanjuti dengan pengudusan oleh Firman.

Pengudusan oleh darah Yesus menghapus dosa, tetapi pengudusan dengan Firman Tuhan adalah pembaharuan pikiran. Ketika Yesus berkata dalam doa-Nya: “…kuduskanlah mereka dalam kebenaran” (Yoh. 17:17). Kata kebenaran dalam teks ini adalah alitheia, yaitu kebenaran yang bertalian dengan pengertian akan Allah dan kehidupan ini menurut pandangan yang benar. Sebagai catatan penting bahwa Injil Yohanes ditulis ketika Kekristenan menghadapi pengajaran sesat gnostik pada abad pertama, dimana Injil dicampur dengan filsafat Yunani. Ajaran gnostik merusak bangunan berpikir iman Kristen yang tentu saja tidak akan dapat membangun manusia batiniah seperti yang dimiliki oleh Yesus.

Kata “kuduskanlah” dalam teks aslinya adalah hagiason (sanctify), dari kata hagiazo yang berarti bukan saja to make holy (membuat kudus) tetapi juga to venerate (mentally), menghargai nilai-nilai kesucian atau moral. Untuk dapat menghargai nilai-nilai kesucian atau moral, maka seseorang harus mengenal apa yang suci dan yang bermoral sempurna. Di sini Firman Tuhan memberikan pencerahan dalam pikiran, sehingga kita dapat menemukan atau menangkap kebenaran-kebenaran yang murni dari Alkitab. Bila dapat diilustrasikan, hidup orang percaya dapat digambarkan seperti hardware komputer. Pemulihan dengan Allah berarti komputer tersebut dihubungkan dengan sumber arus listrik. Tetapi apa artinya komputer dengan arus listrik tanpa software atau program aplikasi? Tuhan Yesus adalah kebenaran (alitheia), yaitu software-nya. Dalam hal ini ROH KUDUS berperan sebagai yang mengunduh atau memasang aplikasinya. Sebab Roh Kuduslah yang memberi pengertian untuk memahami Firman-Nya. Pengudusan pikiran pada dasarnya sama seperti proses tersebut.

Kata hagiozo memiliki kata benda dan sekaligus sifat -yaitu hagios- yang berarti berbeda dari yang lain. Jadi menguduskan berarti juga “membuat berbeda dari yang lain.” Doa Tuhan Yesus mengarah agar orang percaya “terlindungi daripada yang jahat” dengan cara “menguduskan mereka dengan Firman Tuhan.” Di sini peran Firman Tuhan yang original atau murni sangatlah besar, sebab hanya Firman yang dapat mengubah pola hidup seseorang. Software yang salah yang telah di-install ke pikiran banyak orang harus digantikan dengan software baru. Hamba-hamba Tuhan berperan dalam meneruskan apa yang Tuhan telah ajarkan kepada murid-murid-Nya.

Di dalam Roma 12:2 tertulis: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Kata “sehingga” (εἰς) dalam ayat ini menunjukkan bahwa perubahan dalam hidup seseorang terjadi akibat proses. Jadi, seseorang tidak akan mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna tanpa mengalami pembaharuan pikiran setiap hari. Dalam hal ini, pembaharuan pikiran harus berlangsung dalam perjalanan waktu oleh kerja keras. Dengan demikian, bisa dimengerti betapa berharganya waktu atau kesempatan yang Tuhan berikan.




February 16, 2019, 05:40:48 AM
Reply #2393
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22887
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
 http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17945/0/16-FEBRUARI-2019-MENEMUKAN-TEMPAT-YANG-BENAR.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17945/1/16-FEBRUARI-2019-MENEMUKAN-TEMPAT-YANG-BENAR.amr

16. MENEMUKAN TEMPAT YANG BENAR

Sebelum bertobat, pada dasarnya seseorang adalah manusia yang tidak bertuhan. Manusia sesat yang memilih jalannya sendiri. Walaupun baik dan bermoral di mata manusia lain, tetapi ia tidak menemukan siapa dirinya di hadapan Sang Khalik. Sebagai akibatnya, ia tidak menemukan tempatnya secara benar di hadapan Tuhan dan tidak menempatkan Tuhan di tempat yang benar dalam hidup ini. Setelah mengenal Tuhan, seseorang harus terus menerus belajar mengenal kebenaran-Nya, agar dapat menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya dan menempatkan Tuhan di tempat yang benar dalam hidup ini.

Untuk dapat menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya, seseorang harus mengenal rancangan dan jalan-Nya. Mengenal rancangan dan jalan-Nya sama dengan mengerti kehendak Allah apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Inilah inti seluruh kegiatan dalam gereja. Mencari Tuhan bukanlah usaha untuk menempatkan Tuhan demi keuntungan dan kesenangan bagi diri sendiri, tetapi usaha menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya untuk kepentingan-Nya. Dalam hal ini tanpa sadar banyak orang telah memperlakukan Tuhan dengan tidak hormat. Sebab yang diupayakan adalah bagaimana Tuhan memperlakukan mereka sesuai kemauan manusia, bukan bagaimana menyenangkan hati-Nya. Di sini terjadi pembalikkan. Bukan Tuhan mensubordinasi (menguasai dan mengatur) manusia, tetapi manusia mau mensubordinasi Tuhan. Bukan Tuhan yang mendominasi manusia, tetapi manusia berusaha mendominasi Tuhan.

Untuk menempatkan diri secara benar di hadapan Tuhan seseorang membutuhkan waktu panjang dan kerja keras. Karena untuk menemukan kehendak dan rencana-Nya bukan sesuatu yang mudah. Dalam Alkitab dapat ditemukan bahwa setinggi langit dari bumi itulah rancangan-rancangan Tuhan (Yes. 55:8-9). Kata rancangan dalam teks aslinya adalah machashabah (מַחֲשָׁבָה) yang dapat diterjemahkan though, purpose, means. Dalam Alkitab Bahasa Inggris versi King James diterjemahkan: For my thoughts are not your thoughts, neither are your ways my ways, saith the LORD. Kata jalan (ways) dari teks asli derek. Kata ini bisa berarti jurusan. Manusia yang berdosa memiliki jurusan yang salah. Jurusan hidup yang salah inilah yang harus diubah. Kalau seseorang menjadikan Kekristenan hanya payung sementara menghadapi kesulitan hidup, maka ia belum menemukan jalan atau jurusan yang benar.

Hal di atas ini bertalian dengan pertobatan. Berbalik arah atau berubah haluan artinya kalau dulu pikiran hanya ditujukan (bertendensi) kepada perkara dunia, sekarang harus ditujukan ke Kerajaan-Nya. Kalau dulu orientasi berpikirnya adalah dunia, sekarang orientasi berpikirnya adalah surga. Setinggi langit dari bumi menunjuk jarak yang sangat jauh, nyaris tak terjembatani. Namun dalam hal ini bukan berarti Tuhan menutup pintu pengenalan akan rancangan-Nya, Tuhan berkenan menyatakan rancangan dan jalan-Nya. Tuhan memanggil semua suku bangsa termasuk bangsa non-Yahudi untuk menjadi umat-Nya dan diperkenan mengenal jalan-Nya (Yes. 55:5-7).

Untuk mengenal rancangan dan jalan Tuhan harus dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan. Jadi benar bahwa Kekristenan tidak boleh menjadi sambilan. Kekristenan haruslah menjadi petualangan di mana seseorang memburu kehendak-Nya agar dapat menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya. Hendaknya orang percaya tidak menjadi seperti umat Israel yang berjalan dengan rancangannya sendiri (Yes. 65:2). Jadi kalau sudah menjadi orang Kristen, tetapi masih hidup dalam rancangan sendiri, hal ini berarti suatu kegagalan. Kalau menjadi orang Kristen hanya karena mau menikmati hidup di dunia lebih mudah dan nyaman, berarti orang tersebut belum mengerti atau belum menemukan rancangan Tuhan di dalam dirinya. Rancangan Tuhan adalah mengenai segala sesuatu akan Kerajaan-Nya yang akan datang.

Sejujurnya, ternyata hari ini banyak orang yang masih belum menemukan rancangan dan jalan Tuhan. Rancangan dan jalan Tuhan lebih dari sekadar rumah, mobil, pendidikan, jodoh dan apa pun yang orang percaya kejar. Kalau dulu fokus utama orang percaya adalah hal-hal tersebut, sekarang fokus orang percaya harus mulai berubah. Tentu orang percaya itu sendiri yang harus mengubah haluan tersebut. Bukan orang lain, bahkan bukan Tuhan, sebab Tuhan memberi kebebasan kepada masing-masing individu. Orang percaya sendiri yang dengan kesadaran dan kemauan harus mengubah arah hidup ini. Itulah pengertian bertobat yang benar, yaitu mengubah haluan.







February 17, 2019, 05:07:52 AM
Reply #2394
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22887
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17945/0/16-FEBRUARI-2019-MENEMUKAN-TEMPAT-YANG-BENAR.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17945/1/16-FEBRUARI-2019-MENEMUKAN-TEMPAT-YANG-BENAR.amr
16. MENEMUKAN TEMPAT YANG BENAR
 
Sebelum bertobat, pada dasarnya seseorang adalah manusia yang tidak bertuhan. Manusia sesat yang memilih jalannya sendiri. Walaupun baik dan bermoral di mata manusia lain, tetapi ia tidak menemukan siapa dirinya di hadapan Sang Khalik. Sebagai akibatnya, ia tidak menemukan tempatnya secara benar di hadapan Tuhan dan tidak menempatkan Tuhan di tempat yang benar dalam hidup ini. Setelah mengenal Tuhan, seseorang harus terus menerus belajar mengenal kebenaran-Nya, agar dapat menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya dan menempatkan Tuhan di tempat yang benar dalam hidup ini.

Untuk dapat menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya, seseorang harus mengenal rancangan dan jalan-Nya. Mengenal rancangan dan jalan-Nya sama dengan mengerti kehendak Allah apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Inilah inti seluruh kegiatan dalam gereja. Mencari Tuhan bukanlah usaha untuk menempatkan Tuhan demi keuntungan dan kesenangan bagi diri sendiri, tetapi usaha menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya untuk kepentingan-Nya. Dalam hal ini tanpa sadar banyak orang telah memperlakukan Tuhan dengan tidak hormat. Sebab yang diupayakan adalah bagaimana Tuhan memperlakukan mereka sesuai kemauan manusia, bukan bagaimana menyenangkan hati-Nya. Di sini terjadi pembalikkan. Bukan Tuhan mensubordinasi (menguasai dan mengatur) manusia, tetapi manusia mau mensubordinasi Tuhan. Bukan Tuhan yang mendominasi manusia, tetapi manusia berusaha mendominasi Tuhan.

Untuk menempatkan diri secara benar di hadapan Tuhan seseorang membutuhkan waktu panjang dan kerja keras. Karena untuk menemukan kehendak dan rencana-Nya bukan sesuatu yang mudah. Dalam Alkitab dapat ditemukan bahwa setinggi langit dari bumi itulah rancangan-rancangan Tuhan (Yes. 55:8-9). Kata rancangan dalam teks aslinya adalah machashabah (מַחֲשָׁבָה) yang dapat diterjemahkan though, purpose, means. Dalam Alkitab Bahasa Inggris versi King James diterjemahkan: For my thoughts are not your thoughts, neither are your ways my ways, saith the LORD. Kata jalan (ways) dari teks asli derek. Kata ini bisa berarti jurusan. Manusia yang berdosa memiliki jurusan yang salah. Jurusan hidup yang salah inilah yang harus diubah. Kalau seseorang menjadikan Kekristenan hanya payung sementara menghadapi kesulitan hidup, maka ia belum menemukan jalan atau jurusan yang benar.

Hal di atas ini bertalian dengan pertobatan. Berbalik arah atau berubah haluan artinya kalau dulu pikiran hanya ditujukan (bertendensi) kepada perkara dunia, sekarang harus ditujukan ke Kerajaan-Nya. Kalau dulu orientasi berpikirnya adalah dunia, sekarang orientasi berpikirnya adalah surga. Setinggi langit dari bumi menunjuk jarak yang sangat jauh, nyaris tak terjembatani. Namun dalam hal ini bukan berarti Tuhan menutup pintu pengenalan akan rancangan-Nya, Tuhan berkenan menyatakan rancangan dan jalan-Nya. Tuhan memanggil semua suku bangsa termasuk bangsa non-Yahudi untuk menjadi umat-Nya dan diperkenan mengenal jalan-Nya (Yes. 55:5-7).

Untuk mengenal rancangan dan jalan Tuhan harus dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan. Jadi benar bahwa Kekristenan tidak boleh menjadi sambilan. Kekristenan haruslah menjadi petualangan di mana seseorang memburu kehendak-Nya agar dapat menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya. Hendaknya orang percaya tidak menjadi seperti umat Israel yang berjalan dengan rancangannya sendiri (Yes. 65:2). Jadi kalau sudah menjadi orang Kristen, tetapi masih hidup dalam rancangan sendiri, hal ini berarti suatu kegagalan. Kalau menjadi orang Kristen hanya karena mau menikmati hidup di dunia lebih mudah dan nyaman, berarti orang tersebut belum mengerti atau belum menemukan rancangan Tuhan di dalam dirinya. Rancangan Tuhan adalah mengenai segala sesuatu akan Kerajaan-Nya yang akan datang.

Sejujurnya, ternyata hari ini banyak orang yang masih belum menemukan rancangan dan jalan Tuhan. Rancangan dan jalan Tuhan lebih dari sekadar rumah, mobil, pendidikan, jodoh dan apa pun yang orang percaya kejar. Kalau dulu fokus utama orang percaya adalah hal-hal tersebut, sekarang fokus orang percaya harus mulai berubah. Tentu orang percaya itu sendiri yang harus mengubah haluan tersebut. Bukan orang lain, bahkan bukan Tuhan, sebab Tuhan memberi kebebasan kepada masing-masing individu. Orang percaya sendiri yang dengan kesadaran dan kemauan harus mengubah arah hidup ini. Itulah pengertian bertobat yang benar, yaitu mengubah haluan.



February 18, 2019, 05:41:46 AM
Reply #2395
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22887
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17947/0/18-FEBRUARI-2019-SEBUAH-KEMUTLAKKAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17947/1/18-FEBRUARI-2019-SEBUAH-KEMUTLAKKAN.amr

18. SEBUAH KEMUTLAKKAN
 

Menjadi kehendak Tuhan agar orang percaya memiliki cara berpikir seperti cara berpikir Tuhan Yesus. Itulah yang dimaksud dengan memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Hal ini harus diterima sebagai kemutlakan, artinya semua orang yang mengaku percaya kepada Yesus harus memiliki pikiran dan perasaan-Nya. Jadi, tidak boleh ada seorang Kristen yang menghindar dari panggilan untuk serupa dengan Yesus. Memiliki cara berpikir seperti cara berpikir Tuhan Yesus adalah suatu keniscayaan, artinya orang percaya dapat mencapai kehidupan yang sepikiran dan seperasaan dengan Yesus. Oleh sebab itu, orang percaya harus optimis untuk mencapai level tersebut. Tuhan menyediakan fasilitas supaya orang percaya dapat mencapainya. Dalam hal ini Tuhan tidak mungkin memberikan perintah yang orang percaya tidak bisa memenuhinya.

Terkait dengan hal di atas, orang percaya harus dapat membedakan antara transformasi dengan konversi agama. Berpindahnya suatu kelompok atau seseorang masuk agama Kristen adalah konversi, hal ini tidaklah identik dengan transformasi. Transformasi adalah perubahan pola pikir (mind-set) oleh pembaharuan pikiran yang dikerjakan oleh ROH KUDUS menggunakan sarana Firman Tuhan. Orang yang melakukan konversi agama belum tentu mengalami transformasi sesuai dengan standar Alkitab. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak berpuas diri kalau hanya melihat orang non-Kristen menjadi orang Kristen, kemudian merasa telah memenangkan jiwa.

Betapa dangkalnya pengertian banyak agama yang merasa sudah membuat seseorang bertobat hanya karena masuk agamanya. Menjadi orang Kristen bukan berarti sudah bertobat dan menjadi manusia baru. Menjadi manusia baru sesungguhnya harus melalui proses panjang di mana seseorang mengalami perubahan kodrat, dari kodrat manusia ke kodrat Ilahi. Jadi, percuma menjadi Kristen kalau ternyata tidak mengalami proses transformasi untuk menjadi “man of God.” Menjadi manusia Allah (man of God) adalah kemutlakan yang sama dengan memiliki pikiran dan perasan Kristus.

Proses transformasi ini akan membangun manusia batiniah yang unggul seperti yang dikemukakan Paulus (2Kor. 4:16). Orang percaya bukan saja mengalami perubahan secara moral atau perilaku menjadi baik, tetapi juga perubahan filosofi hidup secara menyeluruh, yaitu perubahan dari logika duniawi ke logika rohani. Logika di sini maksudnya adalah pola dan landasan berpikir, sedangkan rohani artinya sesuatu yang memiliki nilai lebih dari hal-hal yang bersifat fana dari bumi ini. Logika rohani adalah pola pikir yang berbasis atau berlandaskan pada dunia yang akan datang.

Logika rohani ini dikemukakan Paulus dalam suratnya yang tertulis: “Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.” Kata “memperhatikan” dalam teks aslinya adalah skopounton (σκοπούντων), dari akar kata skopeo (σκοπέω) yang artinya: to heed (memperhatikan secara serius); consider (memikirkan dengan hati-hati dan respek); to take aim at (mengambil arah atau tujuan). Paulus menyaksikan bahwa ia memberi perhatian serius dan mengarahkan tujuan kepada apa yang tidak kelihatan (unseen). Mengapa? Sebab yang kelihatan adalah sementara sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal. Sangatlah bodoh kalau seseorang tidak memperhatikan dan menghargai (consider) perkara-perkara yang bernilai kekal. Dalam Injil Matius Tuhan Yesus berkata: “Di bumi ngengat dan karat bisa merusak dan pencuri bisa membongkar serta mencurinya” (Mat. 6:19).

Landasan pola berpikir manusia hari ini pada umumnya bukan Kerajaan Tuhan, tetapi pada dunia. Inilah orang-orang yang telah termakan bujukan kuasa dunia dan terjerat di dalamnya. Tuhan Yesus sendiri mengalami bujukan tersebut, tetapi Tuhan dapat menepis dan menolaknya dengan tegas (Luk. 4:6-7). Ciri dari orang yang terkena bujukan Iblis adalah mengutamakan dan menghargai segala sesuatu yang ada dalam hidup hari ini lebih dari menghargai Tuhan. Inilah logika duniawi. Logika duniawi adalah pola pikir yang berbasis pada dunia hari ini, yaitu hal-hal yang kelihatan (blepomena: which are seen), yang bernilai sementara (pros kaira: temporal, for a season, for the occasion only; hanya semusim, sesaat). Tentu saja orang-orang seperti ini, tidak pernah menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.

...





February 18, 2019, 05:42:06 AM
Reply #2396
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22887
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Seorang yang menolak logika duniawi adalah seorang yang memiliki kualitas batiniah yang baik. Berbicara mengenai batiniah itu berarti berbicara mengenai kualitas keimanan seseorang dalam relasinya dengan Tuhan. Orang percaya haruslah seorang yang rohani. Dalam hal ini, setiap orang percaya seharusnya menyandang status “rohaniwan,” sebab kalau tidak menjadi rohaniwan berarti “duniawan.”





February 19, 2019, 05:41:09 AM
Reply #2397
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22887
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17953/0/19-FEBRUARI-2019-BUKAN-PROMOSI-KUASA-NYA.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17953/1/19-FEBRUARI-2019-BUKAN-PROMOSI-KUASA-NYA.amr

19. BUKAN PROMOSI KUASA-NYA
 

Sangatlah logis kalau di dalam dunia yang semakin sulit -karena berbagai krisis kehidupan- membuat banyak orang berbondong-bondong ke gereja untuk menemukan jalan keluar dari segala persoalan hidup “fana”. Persoalan hidup fana tersebut antara lain problem kesehatan, ekonomi, karir, rumah tangga, jodoh dan lain sebagainya. Jika dunia mengalami banyak kesulitan, biasanya orang mencari agama sebagai solusinya. Hal ini harus dipandang sebagai peluang yang sangat baik untuk memberitakan Injil dan menangkap jiwa-jiwa masuk ke dalam Kerajaan Tuhan. Tetapi jangan sampai gereja terjebak -seperti kebiasaan banyak gereja- yang hanya mempromosikan kuasa Tuhan sebagai solusi kehidupan yang sukar tersebut.

Banyak orang pergi ke gereja untuk menemukan jalan keluar dari persoalan hidup. Gereja menyambut dan mendoakan mereka. Tidak sedikit yang menemukan jalan keluar dari berbagai masalah hidup tersebut. Dari pihak gereja tentu menyediakan pelayanan holistik yang melibatkan berbagai bentuk bantuan untuk melicinkan jalannya misi, seperti pelayanan kesehatan, pendidikan umum, penyuluhan pertanian, perikanan dan lain sebagainya. Tetapi apakah sampai di sini keselamatan itu? Apakah ini Injil sepenuh? Hanya untuk inikah pelayanan gereja? Mereka yang menerima solusi dari persoalan hidup fana tersebut masih dalam pola pikir yang belum diperbaharui atau belum ditransformasi, sebab pada umumnya mereka adalah orang-orang yang salah asuh (dunia yang sesat telah mengasuh mereka).

Setelah ditebus oleh darah Yesus, seseorang harus mulai memperkarakan: Untuk apa semua sukses yang diperoleh ini? Dan untuk siapa? Tentu tidaklah salah dapat menjadi dokter, pengusaha kaya, insinyur dan lain sebagainya. Tetapi persoalannya adalah untuk siapa semua kesuksesan hidup yang didapat tersebut? Sebab Tuhan telah membeli orang percaya dengan darah yang mahal. Sekarang hidupnya bukan miliknya lagi, tetapi milik Tuhan. Seharusnya seluruh hidup orang percaya yang sudah ditebus diabdikan sepenuhnya bagi Tuhan. Untuk mengerti tujuan hidup ini, pikiran seseorang harus mengalami pendewasaan untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus atau menjadi manusia Allah agar dapat menjadi anggota keluarga Kerajaan.

Bagaimanapun, dunia bukanlah tempat hunian yang ideal. Sekalipun semua kebutuhan jasmani terpenuhi dan seseorang bisa hidup dalam ketenangan tanpa masalah apa pun, sesungguhnya ia pun juga tidak menikmati kebahagiaan yang sejati. Keadaan nyaman tersebut justru sangat berbahaya karena menempatkan seseorang di tempat yang rawan untuk menjadi mangsa kuasa kegelapan dan tergiring dalam kegelapan abadi. Faktanya, tidak mungkin hidup di bumi ini tanpa persoalan yang menyakitkan. Harus diingat bahwa dunia ini adalah produk yang gagal atau rusak karena kejatuhan manusia dalam dosa. Dunia akan selalu diwarnai kemiskinan, sakit penyakit, pertikaian, perang, krisis ekonomi, bencana alam, dan lain sebagainya. Sebenarnya, orang percaya dipanggil Tuhan untuk mewarisi langit baru bumi baru di mana tidak ada persoalan yang menyakitkan. Oleh sebab itu, pelayanan gereja tidak boleh menekankan pemenuhan kebutuhan jasmani.

Pelayanan gereja harus menekankan pembaharuan pikiran, sehingga jemaat diajar untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus supaya layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Dalam hal ini betapa penting pembaharuan pikiran setiap hari. Oleh sebab itu pelayanan pastoral menjadi fasilitas tuntunan proses pembaharuan pikiran. Karenanya, pemberitaan Firman Tuhan dalam kebaktian haruslah meningkat makin keras dalam kualitas atau bobotnya. Hal ini disesuaikan dengan perjalanan umur rohani atau kedewasaan jemaat. Akhirnya jemaat membutuhkan Tuhan bukan karena masalah pemenuhan jasmani, tetapi karena mau menjadi anak-anak Allah yang layak masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan-Nya.

...


February 19, 2019, 05:41:30 AM
Reply #2398
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22887
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

...

Proses pembaharuan pikiran jemaat menjadi tugas gereja yang harus diselenggarakan secara terus menerus, tidak boleh digantikan dengan promosi kuasa Tuhan dan berkat jasmani untuk menarik perhatian jemaat supaya datang ke gereja. Apabila pikiran jemaat sudah terkontaminasi dengan menitikberatkan kepada pemenuhan kebutuhan jasmani, maka proses pembaharuan pikiran tidak akan dapat berlangsung dengan baik. Sungguh sangat menyedihkan banyak gereja yang orientasi pelayanannya tertuju kepada kehidupan di bumi ini. Tetapi mereka tidak menyadari, sebab mereka tidak mengenal kebenaran dan menganggap bahwa gaya hidup yang mereka miliki selama ini sudah wajar. Jemaat harus dapat berprinsip: asal ada makanan dan pakaian cukup. Hidup di bumi ini hanya untuk persiapan kekekalan. Jika seseorang tidak bersedia berprinsip dengan prinsip ini, maka ia tidak pernah mengenal Kekristenan yang benar.


February 20, 2019, 05:48:53 AM
Reply #2399
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22887
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17955/0/20-FEBRUARI-2019-MENOLAK-KEBAIKAN-TUHAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/17955/1/20-FEBRUARI-2019-MENOLAK-KEBAIKAN-TUHAN.amr

20. MENOLAK KEBAIKAN TUHAN
 
MENOLAK-KEBAIKAN-TUHAN Download (19)

Satu hal yang harus selalu disadari orang percaya dan mencengkeram jiwanya adalah tanggung jawab untuk menjalani hidup Kekristenannya dengan tujuan yang jelas. Tujuan tersebut adalah bagaimana menjadi anak-anak Allah yang dilayakkan masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Hal ini menjadi isi dan panggilan hidup orang percaya yang tidak boleh digantikan dengan yang lain. Untuk menjadi hal ini seseorang harus berjuang dengan mengerahkan seluruh potensi di dalam dirinya. Keadaan kekekalan seseorang ditentukan bagaimana ia mengisi hari hidupnya.

Ada sekelompok orang Kristen yang meyakini bahwa kalau Allah memilih seseorang untuk diselamatkan, maka orang tersebut tidak bisa menolak pemilihan atau anugerah yang Tuhan berikan (irresistible grace). Apakah benar kalau Allah memilih seseorang, maka orang itu tidak bisa menolak? Seakan-akan manusia itu terkunci oleh suatu dekrit atau ketetapan Tuhan. Menemukan jawaban dari pertanyaan ini, marilah kita memeriksa dengan teliti dan jujur isi Alkitab. Dalam menggali isi Alkitab berkenaan dengan pokok ini hendaknya pikiran bersikap netral, tidak terwarnai oleh warna teologi yang sudah ada. Jika pikiran sudah terwarnai sampai tersandera oleh suatu pandangan teologi -sehingga sampai tidak bisa berpikir obyektif- maka dalam hal ini ROH KUDUS tidak akan bisa menuntun dan memperbaharui pikiran seseorang tersebut secara proporsional.

Kalau Tuhan membuat orang tidak bisa menolak anugerah-Nya, maka berarti pula Tuhan menentukan orang-orang tertentu yang tidak bisa menerima anugerah-Nya, yaitu mereka yang ditentukan pasti binasa. Sebab berbicara mengenai kedaulatan Alah yang membuat orang tidak bisa menolak anugerah-Nya, maka pasti ada orang yang berkeadaan sebaliknya. Pandangan ini menciderai Pribadi Allah, sebab Allah dituduh bersikap diskriminatif, tidak adil dan menginginkan kebinasaan sebagian manusia. Dan kalau diperhatikan keadaan manusia hari ini, bagian manusia yang akan binasa adalah bagian terbesar. Bagian terbanyak manusia yang hidup adalah orang-orang yang terkunci dalam dekrit atau ketetapan untuk binasa masuk neraka. Betapa jahatnya allah seperti itu. Tentu sebenarnya tidak demikian. Itu pandangan yang sangat keliru.

Dalam kedaulatan manusia yang memiliki independensi, manusia memiliki hak dan kemampuan untuk menolak kasih karunia. Diawali tindakan Adam menolak nasihat atau tuntunan Tuhan untuk tidak makan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat di taman Eden (Kej. 3). Tentu Adam tidak dirancang untuk makan buah yang terlarang tersebut. Adam dalam independensinya bertindak sesuai dengan kehendak bebasnya, ia makan buah yang sebenarnya bisa dihindari untuk dimakan. Akibat kesalahan Adam dan Hawa mereka membuat bumi terkutuk, mereka menjadi orang terhukum sampai pada kematian dan diusir dari taman Eden. Mereka tidak lagi menikmati keindahan ciptaan Tuhan secara proporsional. Tentu semua ini bukan dalam skenario Allah.

Demikian pula dengan kisah Kain. Kain menolak untuk tidak membunuh adiknya Habel, walaupun Allah sudah memberi peringatan kepadanya (Kej. 4). Sebenarnya Kain bisa menolak dosa yang menguasainya, tetapi ia lebih memilih dikuasai dosa dan menuruti hasratnya. Kain tidak dirancang untuk melakukan pembunuhan tersebut. Dengan kehendak bebasnya, Kain membiarkan hatinya menjadi panas sehingga pembunuhan tersebut terjadi. Akibat perbuatannya tersebut Kain menjadi seorang yang terhukum. Tuhan Berfirman: “…terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi” (Kej. 4:11-12). Tragis sekali. Tuhan tidak merancang keadaan tragis tersebut atas hidup Kain. Kain menolak apa yang baik yang disediakan baginya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia bisa menolak kebaikan Tuhan.

...


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)