Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 115437 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

June 16, 2019, 04:49:59 AM
Reply #2610
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22625
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Iman atau percaya berarti menyerahkan diri kepada obyek yg dipercayai, jadi kalau kita percaya kepada Tuhan Yesus kita menyerahkan diri kepada segala sesuatu yang diajarkan-Nya untuk dikenakan dalam kehidupan ini. Untuk ini orang percaya harus mengenal dengan benar pribadi-Nya, memiliki hubungan yang riil dengan Dia, mengerti kehendak-Nya dalam segala hal, dan melakukan kehendak-Nya tersebut. Inilah yang menentukan kualitas iman kita. Kualitas iman tersebut menentukan kualitas hidup kita yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan pengadilan Tuhan nanti. Menjadi kemutlakan agar orang percaya sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Orang percaya dihakimi dengan ukuran yang berbeda dengan mereka yang tidak percaya. Orang percaya harus sampai tingkat kehidupan sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48), berkenan kepada Allah (2Kor. 5:9-10), serupa dengan Yesus (Flp. 2:5-7), hidup tidak bercacat dan tidak bercela (Flp. 1:10), berkeadaan kudus seperti Bapa kudus (1Ptr. 1:16), mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10), mengenakan kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4).


June 17, 2019, 05:31:28 AM
Reply #2611
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22625
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18346/0/17-JUNI-2019-PENGHAKIMAN-ATAS-ANAK-ANAK-ALLAH.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18346/1/17-JUNI-2019-PENGHAKIMAN-ATAS-ANAK-ANAK-ALLAH.amr

17. PENGHAKIMAN ATAS ANAK-ANAK ALLAH
  16 June 2019 | Renungan Harian
PENGHAKIMAN-ATAS-ANAK-ANAK-ALLAH Download (23)
PENGHAKIMAN-ATAS-ANAK-ANAK-ALLAH Download (16)

Setiap orang Kristen pasti mengaku sebagai anak-anak Allah. Benarkah setiap orang Kristen adalah anak-anak Allah? Dan biasanya mereka berpikir kalau menjadi anak-anak Allah dalam penghakiman atau pengadilan, pasti masuk surga. Bagaimana sebenarnya seseorang pantas disebut sebagai anak-anak Allah? Dalam Roma 8:14 Alkitab mencatat bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak-anak Allah. Jadi, orang yang tidak dipimpin oleh Roh Allah berarti bukan anak-anak Allah. Kata “dipimpin” dalam teks aslinya adalah agontai (ἄγονται) dari akar kata ago (ἄγω), selain berarti memimpin (to lead) juga berarti “dibawa” (to bring; to carry) atau dimotori (to drive). Istilah “anak Allah” ini (Ibr. ben ELOHIM) muncul pertama dalam Kejadian 6:1-3. Siapa sebenarnya anak-anak Allah di Kejadian 6:1-3 tersebut dan apa dasarnya mereka disebut anak-anak Allah?

Dalam Ibrani 12:8 terdapat kata “anak gampang”. Apa sebenarnya maksudnya? Dalam teks asli Alkitab, kata “anak gampang” di sini adalah “nothos” (νόθος) yang artinya anak yang tidak resmi (Ing. illegitimate son). Kata ini juga bisa berarti anak haram (Ing. bastard). Dalam Yunani, selain ada kata nothos, juga ada kata huios (υἱός) yang artinya anak dalam arti anak yang resmi atau anak yang sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah (Ing. kinship). Kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Allah. Jadi, ada anak yang berstatus sebagai anak sah yang akan mewarisi kekayaan dan keagungan orang tua, atau seperti pangeran; tetapi ada anak gampang, anak yang tidak sah yang tidak akan mewarisi kekayaan orang tua. Dalam kehidupan orang Kristen juga terdapat orang-orang yang tergolong sebagai nothos dan sebagai huios. Kalau jujur, Saudara termasuk yang mana?

Berbicara mengenai anak-anak Allah, perlu kita meninjau Yohanes 1:12. Bagi mereka yang percaya, diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. “Kuasa” itu dari teks aslinya exousia (ἐξουσία), yang artinya hak istimewa yang membuat seseorang memiliki fasilitas untuk bisa menjadi anak-anak Allah. Fasilitas itu adalah pemeliharaan Tuhan, ROH KUDUS, Firman, dan penggarapan intensif Allah atas orang yang mengasihi Dia.Jadi kuasa itu tidak otomatis membuat seorang Kristen menjadi anak Allah. Tetapi kuasa itu diberikan supaya kita menjadi anak-anak Allah. Jadi kalau seseorang tidak memanfaatkan kuasa itu, maka seseorang tidak pernah menjadi anak Allah. Menjadi anak Allah berarti berkarakter seperti Allah atau sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Panggilan sebagai orang percaya hanya ini: Menjadi serupa dengan Bapa.

Pada waktu seseorang dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ia diberi kuasa atau hak supaya menjadi anak-anak Allah. Ini belum tentu membuat dia sudah sah sebagai anak-anak Allah (Yun. huios). Ia masih berstatus nothos, yang artinya anak yang belum atau tidak sah. Jika kemudian ia memanfaatkan kuasa atau hak itu, maka ia akan bertumbuh menjadi anak-anak Allah yang sah. Jika tidak, maka ia tidak akan bertumbuh. Ciri dari nothos adalah tidak mau dihajar dan diajar Bapa.

Pada zaman penggenapan ini, Allah hendak melahirkan orang yang menerima Tuhan Yesus supaya menjadi anak-anak Allah, inilah tujuan penyelamatan. Tujuan keselamatan pada intinya adalah menjadikan anak manusia berubah sehingga berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Dengan berkeadaan sebagai anak-anak Allah, maka seseorang barulah mendapat legalitas atau pengesahan status sebagai anak-anak Allah. Dengan demikian, seseorang dikatakan berstatus sebagai anak-anak Allah kalau berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Berkeadaan sebagai anak-anak Allah maksudnya memiliki tanda atau ciri, yaitu seperti Yesus yang melakukan kehendak Bapa.

.......




June 17, 2019, 05:31:46 AM
Reply #2612
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22625
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Fakta yang kita saksikan dalam kehidupan banyak orang Kristen, mereka sudah merasa nyaman karena merasa sudah menjadi anak-anak Allah yang sah. Mereka yakin kalau mati pasti diterima masuk surga. Padahal mereka belum pantas menyandang status sebagai anak-anak Allah, karena keberadaan mereka belum sebagai anak-anak Allah. Kebodohan yang ada dalam kehidupan banyak orang Kristen hari ini sesungguhnya membinasakan mereka tanpa mereka sadari. Betapa celaka kalau gereja tidak memberi peringatan yang tegas. Bisa dimengerti kalau Paulus mengatakan terkutuklah orang yang mengajarkan Injil yang berbeda dengan Injil yang diberitakannya. Banyak orang Kristen merasa sudah menjadi anak-anak Allah, padahal belum sah sebagai anak-anak Allah, jadi masih berstatus tidak sah (nothos), sementara mereka merasa sudah menjadi anak Allah yang sah (huios). Di pengadilan Kristus nanti mereka pasti ditolak oleh Allah sebab mereka belum berkeberadaan sebagai anak-anak Allah, yaitu belum melakukan kehendak Allah yang standarnya adalah Yesus.




June 18, 2019, 05:18:29 AM
Reply #2613
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22625
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.truth-media.com/2019/

18. KELAHIRAN BARU DALAM PENGHAKIMAN
  17 June 2019 | Renungan Harian
KELAHIRAN-BARU-DALAM-PENGHAKIMAN Download (17)
KELAHIRAN-BARU-DALAM-PENGHAKIMAN Download (15)

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18348/0/18-JUNI-2019-KELAHIRAN-BARU-DALAM-PENGHAKIMAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18348/1/18-JUNI-2019-KELAHIRAN-BARU-DALAM-PENGHAKIMAN.amr

Proses kelahiran baru hanya terjadi atas umat pilihan Allah yang hidup di zaman Perjanjian Baru. Mereka yang menerima Yesus, artinya mengakui bahwa Logos (Tuhan Yesus) adalah Pencipta langit dan bumi bersama Theos (Bapa) adalah Sang Majikan (Kurios). Ia datang untuk menyelamatkan manusia, yaitu mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Orang yang menerima-Nya diberi kuasasupaya menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:10-13). Kuasa itu adalah fasilitas keselamatan, yaitu penebusan, ROH KUDUS, Injil, dan penggarapan Allah melalui segala kejadian hidup. Kelahiran baru bisa terjadi dan berlangsung hanya atas orang-orang yang dipimpin oleh ROH KUDUS secara permanen, pada zaman penggenapan atau zaman anugerah dimana fasilitas keselamatan disediakan Allah.

Memandang kelahiran baru, ada beberapa hal penting yang harus dipahami.Pertama, kelahiran baru tidak boleh dipahami sebagai fenomena mistis atau ajaib yang tidak bisa dipahami secara nalar.Kedua,kelahiran baru adalah proses natural yang membutuhkan perjalanan waktu. Ini berarti bukan sesuatu yang mendadak terjadi atau berlangsung (instant). Ketiga, bahwa kelahiran baru hanya bisa dikerjakan oleh Allah atas respon manusia, bukan tindakan Allah sepihak. Dalam proses kelahiran baru, mengisyaratkan jelas bahwa masing-masing individu anak-anak Allah ikut terlibat di dalamnya atau meresponi tindakan Allah melalui ROH KUDUS, yang menggarap setiap individu untuk mengalami kelahiran baru.

Kalau Tuhan Yesus menggunakan istilah “kelahiran” untuk proses keselamatan, berarti proses kelahiran baru juga memiliki kesejajaran dengan proses kelahiran manusia. Tidak mungkin Tuhan menggunakan istilah “kelahiran” untuk keselamatan orang percaya, tanpa memiliki keterkaitan dalam kesejajaran (paralel) dengan proses kelahiran secara umum. Proses kelahiran baru memiliki kesejajaran dengan proses kelahiran manusia. Dari penjelasan ini, dapat dimengerti bahwa kelahiran baru terjadi dalam hidup seseorang melalui sebuah proses. Proses ini adalah prinsip penting. Dalam Alkitab, hampir selalu Tuhan bekerja dengan prinsip ini, termasuk ketika Tuhan menciptakan alam semesta. Untuk menciptakan alam semesta, Tuhan dapat menciptakan sekejap dalam hitungan detik, tetapi Tuhan menyusun kerja-Nya secara sistematis dalam proses selama enam hari.

Banyak orang Kristen memiliki pemahaman mengenai kelahiran baru sebagai sebuah peristiwa sekejap secara ajaib, tanpa proses sama sekali. Mereka memandang bahwa kelahiran baru adalah pekerjaan Allah sepihak tanpa respon manusia sama sekali. Dengan demikian ada orang yang dipilih dan ditentukan oleh Allah dapat mengalami kelahiran baru dan yang lain tidak. Dalam hal ini manusia dipandang tidak memiliki hak untuk memilih sama sekali. Allah mengerjakannya secara transenden (di luar pikiran manusia), secara sepihak. Manusia hanya menerima saja apa yang dikerjakan oleh Allah di dalam diri mereka yang dipilih untuk dilahirkan baru. Mereka memandang kelahiran baru terjadi di luar kesadaran manusia, hanya dikerjakan oleh Allah sendiri dengan kekuatan Allah yang supranatural. Jika hal ini benar, maka tidak diperlukan penghakiman atau pengadilan Allah.

Yang benar adalah bahwa kelahiran baru bukan kejadian sekejap atau terjadi dalam sekejap, tetapi kelahiran baru adalah proses yang dikerjakan oleh ROH KUDUS secara luar biasa dalam perjalanan waktu. Hal ini terjadi atau berlangsung atas manusia yang memberi respon terhadap anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus, serta menanggapi penggarapan Tuhan untuk keselamatannya atau dikembalikan dirinya ke rancangan Allah semula. Dari proses kelahiran baru yang benar ini, maka seseorang akan mengalami perubahan yang signifikan atau sebuah proses tranformasi. Sehingga seseorang semakin berkeadaan sebagai anak Allah, bukan saja memiliki status sebagai anak-anak Allah dimata manusia tetapi berkeadaan sebagai anak-anak Allah, yaitu sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.

.......


June 18, 2019, 05:18:53 AM
Reply #2614
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22625
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


.......

Kalau seseorang beranggapan bahwa menjadi baik dan mulai bergereja berarti sudah mengalami kelahiran baru, kemudian percaya bahwa di penghakiman atau pengadilan Tuhan nanti ia pasti lolos masuk surga, maka orang-orang Kristen seperti ini bermodalkan status anak-anak Allah yang diyakininya sudah dimilikinya secara sah,maka ia juga meyakini bahwa dirinya pasti lolos masuk surga dalam pengadilan Tuhan nanti. Hal ini menyesatkan, tetapi faktanya banyak sekali orang Kristen yang berkeadaan demikian. Mereka mengklaim dirinya sudah lahir baru, sudah menjadi anak-anak Allah, dan memiliki kepastian masuk surga. Padahal kelahiran baru adalah proses perjuangan dimana seseorang menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Orang-orang Kristen yang tidak mengenal kebenaran tersebut suatu kali akan ditolak oleh Tuhan.


June 19, 2019, 05:45:09 AM
Reply #2615
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22625
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

 http://www.truth-media.com/2019/

19. KONSEP KEPASTIAN MASUK SURGA DALAM PENGHAKIMAN
  18 June 2019 | Renungan Harian
KONSEP-KEPASTIAN-MASUK-SURGA-DALAM-PENGHAKIMAN Download (26)
KONSEP-KEPASTIAN-MASUK-SURGA-DALAM-PENGHAKIMAN Download (36)

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18350/0/19-JUNI-2019-KONSEP-KEPASTIAN-MASUK-SURGA-DALAM-PENGHAKIMAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18350/1/19-JUNI-2019-KONSEP-KEPASTIAN-MASUK-SURGA-DALAM-PENGHAKIMAN.amr

Banyak teolog berpendapat bahwa Allah memilih dan menentukanorang yang pasti menerima anugerah untuk diselamatkan. Sejatinya pandangan ini tidak tepat. Untuk menemukan makna orisinil dari ayat-ayat Alkitab yang berbicara mengenai hal tersebut, seorang penafsir tidak boleh terbelenggu atau tersandera oleh suatu premis, sehingga pengertian terhadap ayat-ayat tersebut sudah didasarkan pada premis di dalam pikirannya. Hendaknya kita tidak dengan gegabah menyatakan bahwa Tuhan memilih dan menentukan orang-orang tertentu pasti selamat masuk surga berdasarkan kedaulatan-Nya secara sepihak. Bila demikian, berarti kita sudah mulai menilai Tuhan dengan pikiran manusia yang sangat terbatas. Sebagai akibatnya, timbul dugaan dan tuduhan bahwa ada orang-orang tertentu yang oleh kedaulatan Tuhan juga dipilih dan ditentukan untuk binasa. Ini suatu hal yang tidak mungkin, sebab Allah yang adalah kasih adanya, tidak menghendaki seorang pun binasa (1Ptr. 3:9-11).

Pemilihan dan penentuan tidak boleh diartikan sebagai langkah Allah Bapa tanpa pertimbangan apa pun, menunjuk siapa yang selamat masuk surga dan yang lain berarti masuk neraka.Dalam hal ini Tuhan tidak akan memilih dan menentukan tanpa “sistem” atau tatanan dalam diri Allah yang sempurna. Harus diingat bahwa “yang dipilih” adalah orang-orang yang mendapat kesempatan untuk hidup di zaman Perjanjian Baru, mendengar Injil, dan memiliki kapasitas untuk merespon anugerah. Adapun “yang ditentukan” adalah standarnya, yaituuntuk serupa dengan Yesus, hidup kudus, dan berkeberadaan sebagai anak-anak Allah (Rm.8:28-29; Ef. 1:4-5).

Mereka bersikeras berpendapat bahwa Allah menentukan keselamatan individu atas pilihan dan penentuan-Nya. Argumentasi-argumentasi tersebut menciptakan pemikiran yang tidak logis dan menggambarkan Allah sebagai “Sosok” yang memiliki pemikiran yang tidak logis dan berkepribadian tidak adil, tidak sehat, dan aneh. Seharusnya orang percayamenyadari bahwa dirinya tidak berhak mengemukakan pernyataan tersebut. Dengan hormat, orang percaya harus mengakui bahwa Allah adalah “Allah yang transenden dan transempiris” (melampaui akal dan pengalaman manusia). Manusia tidak boleh masuk atau berintervensi ke wilayah Tuhan, karena wilayah tersebut tidak akan bisa dimasuki oleh pikiran manusia.

Hendaknya kita tidak mempersempit pandangan kita mengenai pemilihan dan penentuan tersebut dengan merumuskan bahwa tindakan Tuhan hanya berdasarkan kedaulatan-Nya. Kalau manusia memiliki kedaulatan bisa berlaku sewenang-wenang (walau terbatas), tetapi Tuhan dalam kedaulatan-Nya tidak mungkin bertindak di luar kesucian, keadilan, dan keagungan pribadi-Nya. Tuhan bisa saja merancang orang-orang untuk diselamatkan, tetapi Tuhan tidak mungkin merancang seseorang untuk binasa, sebab jelas sekali Firman Tuhan menyatakan bahwa Ia tidak menghendaki seorang pun binasa (2Ptr. 3:9). Hakikat Tuhan yang kasih adanya itu tidak mungkin merancang seseorang binasa dalam siksaan lautan api kekal. Adapun apakah seseorang menolak atau menerima rancangan-Nya tergantung kehendak bebas masing-masing individu.

Jika seseorang mengakui kedaulatan Allah atas segala sesuatu, berarti juga harus mengakui bahwa kenyataan manusia binasa juga dalam wilayah kedaulatan-Nya.Kedaulatan seperti ini adalah kedaulatan “sewenang-sewenang” yang menyalahi prinsip kasih dan keadilan. Di sini Tuhan direpresentasikan sebagai Pribadi yang kejam, suka-suka sendiri tanpa kebijaksanaan. Ini pandangan yang salah. Tuhan pasti bertindak berdasarkan kebijaksanaan, kasih, dan kecerdasan yang sempurna. Kebinasaan menunjuk kepada siksaan yang kengeriannya digambarkan Tuhan Yesus sebagai tempat di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api yang tidak pernah padam. Ulat-ulat bangkai menunjuk tempat yang tidak menyenangkan. Semua itu adalah kengerian dahsyat wujud hukuman Allah (Mat. 5:22; Mrk. 9:43,48), ratap dan kertak gigi (Mat. 8:12), dan kegelapan dalam waktu yang tidak terbatas (Mat. 8:12; Why. 14:11). Dan ditegaskan bahwa Tuhan tidak merancang manusia ciptaan-Nya untuk berada di tempat ini.

.......
 



June 19, 2019, 05:45:27 AM
Reply #2616
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22625
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

 .......

Tuhan tidak mungkin membiarkan orang binasa atau sengaja membinasakan manusia. Tuhan memberikehendak bebas manusia memilih dan menentukan keadaannya, baik di bumi maupun di kekekalan; selamat atau binasa. Kalau seseorang berpandangan bahwa secara sepihak Allah menentukan keselamatan manusia, maka ia tidak boleh berbicara dan meyakini adanya penghakiman. Kalau Allah menentukan seseorang selamat atau binasa maka tidak perlu adanya penghakiman atau pengadilan. Penentuan atau penetapan Allah membuat pengadilan atau penghakiman tidak dapat tampil secara proporsional.
 



June 20, 2019, 07:28:37 AM
Reply #2617
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22625
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.truth-media.com/2019/

20. PENGHAKIMAN ATAS PENOLAKAN ANUGERAH
  19 June 2019 | Renungan Harian
PENGHAKIMAN-ATAS-PENOLAKAN-ANUGERAH Download (49)
PENGHAKIMAN-ATAS-PENOLAKAN-ANUGERAH Download (22)

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18353/0/20-JUNI-2019-PENGHAKIMAN-ATAS-PENOLAKAN-ANUGERAH.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18353/1/20-JUNI-2019-PENGHAKIMAN-ATAS-PENOLAKAN-ANUGERAH.amr


Ada orang-orang Kristen yang berpendirian bahwa kalau Allah menyediakan anugerah kepada orang-orang tertentu untuk menerimanya, maka mereka tidak dapat menolak. Ini pandangan yang salah. Sebenarnya Tuhan menghendaki semua bangsa Israel selamat, tetapi hal itu tidak terwujud sebab mereka menolaknya.Dengan demikian, kalau bangsa itu menolak Allah, bukan karena Allah yang menentukan tetapi mereka sendiri yang menghendaki demikian. Kebenaran Alkitab menunjukkan fakta bahwa terdapat potensi dalam diri umat pilihan untuk menolak kasih karunia. Hal ini diteguhkan oleh Firman Tuhan dalam Roma 11:17-24.

Dalam tulisannya, Paulus menunjukkan bahwa kalau cabang asli -yaitu Bangsa Israel (umat pilihan Perjanjian Lama)-bisa dipotong, demikian pula dengan batang cangkokkan, yaitu orang Kristen (umat pilihan Perjanjian Baru) dari berbagai suku bangsa. Di ayat 22 tertulis: Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga.Ayat-ayat ini jelas menunjukkan bahwa kehidupan Bangsa Israel paralel (tipologi) dengan kehidupan orang percaya di zaman anugerah atau Bangsa Israel menjadi gambaran kehidupan orang percaya.Sebagaimana Tuhan mengerat Bangsa Israel yang tidak dengar-dengaran, maka Tuhan juga mengerat orang Kristen yang tidak dengar-dengaran. Dalam tulisan Paulus itu ia juga menyatakan: Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu (Roma 11:21).

Dalam hal ini jelaslah bahwa intervensi Allah terbatas, sebab Allah memberi independensi kepada manusia untuk menentukan “takdirnya.” Bangsa Israel harus menggunakan independensinya dengan benar. Tetapi kalau mereka mengarahkan hatinya kepada yang lain, maka mereka tidak dapat selamat. Tuhan Yesus memberitakan Injil kepada umat Israel agar mereka bertobat. Tetapi mereka menolak. Ini menunjukkan bahwa dalam pertimbangan nalar tersebut seseorang memiliki kehendak bebas, sehingga harus memilih atau memutuskan apakah mau menerima Tuhan Yesus sebagai jalan keselamatan atau menolak-Nya.

Memberitakan Injil berarti mengajarkan kebenaran, bukan sekadar memberitahu bahwa Yesus adalah Juruselamat, tetapi mengajarkan kebenaran. Kalau Tuhan yang menentukan keselamatan seseorang dan menolak yang lain, maka pengajaran dalam Injil yang begitu luar biasa tidak berperan sebagaimana mestinya, sebab Injil tidak lagi menjadi penentu orang selamat atau binasa. Padahal sikap terhadap Injil-lah yang menentukan apakah seseorang menerima Tuhan Yesus atau tidak. Di dalam Injil memuat berita mengenai Tuhan Yesus dan apa yang harus dilakukan kalau seseorang mengaku percaya.

Kalau Tuhan menetapkan ada orang-orang yang tidak bisa menolak anugerah, sedangkan sisi lain ada yang tidak bisa menerima anugerah, maka dengan demikian Injil menjadi tidak berkuasa menyelamatkan, sebab yang diyakini dapat menyelamatkan seseorang adalah penentuan Tuhan. Dengan demikian muncul konsep yang absurd bahwa iman bisa diberikan secara mistik atau ajaib di dalam diri seseorang. Padahal mestinya iman datang dari pendengaran oleh Firman. Yang mana tentu melalui proses mendengarkan Injil dan pertimbangan nalar.Ini juga berarti tidak lagi ada pengadilan atau penghakiman.

Dengan hal di atas ini, hendaknya kita tidak sembarangan mengatakan bahwa Paulus memercayai adanya predestinasi, yaitu ada manusia ditentukan untuk selamat dan manusia lain ditentukan untuk binasa. Kalau Paulus yakin bahwa dirinya orang terpilih yang pasti selamat, maka Paulus tidak mengatakan bahwa ia melatih tubuhnya agar dirinya tidak terhilang (1Kor. 9:27). Lagi pula Paulus tidak mengatakan bahwa karena dirinya sudah terpilih maka dirinya memiliki ketekunan. Ketekunan itu harus berangkat dari dirinya sendiri, yaitu ketika sadar bahwa Tuhan memberi kehendak bebas kepada manusia. Paulus berusaha agar dirinya didapati berkenan (2Kor. 5:9-10).

.......


June 20, 2019, 07:28:59 AM
Reply #2618
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22625
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


.......

Fakta yang tidak bisa dibantah dalam kehidupan ini, bahwa Tuhan bisa mengerat atau memotong orang-orang atau bangsa yang telah dipilih oleh Tuhan. Dalam hal ini harus diperhatikan bahwa orang yang terpilih sebagai “umat pilihan” belum tentu pasti masuk ke dalam anggota keluarga Kerajaan Surga atau sebagai pemenang. Penolakan Israel terhadap kasih karunia Allah dinyatakan jelas dalam Kisah Rasul 3:14, tertulis: Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu. Kalau Allah menentukan orang yang tidak bisamenolak anugerah, maka penghakiman tidak dapat tampil secara proporsional, sebab ada orang yang dibuat dapat menerima anugerah, dan yang lain tidak bisa menerimanya.


June 21, 2019, 05:14:41 AM
Reply #2619
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22625
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18355/0/21-JUNI-2019-KEHENDAK-BEBAS-DALAM-PENGHAKIMAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18355/1/21-JUNI-2019-KEHENDAK-BEBAS-DALAM-PENGHAKIMAN.amr

21. KEHENDAK BEBAS DALAM PENGHAKIMAN
  20 June 2019 | Renungan Harian
KEHENDAK-BEBAS-DALAM-PENGHAKIMAN Download (18)
KEHENDAK-BEBAS-DALAM-PENGHAKIMAN Download (11)

Membahas mengenai penghakiman tidak dapat dipisahkan dari kehendak bebas, sebab kalau manusia tidak memiliki kehendak bebas, maka tidak perlu ada penghakiman. Manusia diciptakan dengan kehendaknya bersifat bebas. Kehendak bebas artinya manusia dapat memilih taat kepada Allah atau memberontak kepada-Nya. Dengan demikian kehendak bebas berarti manusia menentukan nasib dan keadaan diri sendiri. Sebenarnya, kehendak bebas bisa didefinisikan sebagai konsep yang menyatakan bahwa keadaan perilaku manusia tidak mutlak ditentukan oleh kausalitas di luar dirinya, tetapi merupakan akibat atau hasil dari keputusan dan pilihan yang dibuat melalui sebuah aksi dan reaksi dari diri sendiri. Keputusan dan pilihan tersebut ditentukan oleh komponen dalam diri manusia, yaitu pikiran dan perasaannya.Allah memberi manusia komponen untuk dapat membuat pilihan yang pasti akan menentukan atau paling tidak memengaruhi keadaan dirinya. Komponen itu adalah pikiran dan perasaan. Dari pikiran dan perasaan ini, seseorang memiliki kemampuan mempertimbangkan sesuatu. Dari hasil pertimbangannya tersebut seseorang dapat mengambil keputusan atau memilih. Inilah kehendak bebas.

Bila hendak menemukan pengertian kebebasan yang sejati, kita harus melandaskannya kepada Alkitab secara jujur dan obyektif.Dalam hal ini, kitab Kejadian telah meletakkan landasan pengertian kebebasan kehendak yang benar. Kitab Kejadian mengungkapkan hal ini dengan sederhana, jujur, jelas, dan cerdas. Tuhan menaruh dua pohon di tengah Taman Eden, menunjukkan dengan sangat jelas bahwa manusia diberi kehendak bebas. Dalam kehendak bebasnya, manusia harus memilih antara kehidupan atau kematian dari kerelaan kehendaknya, apakah manusia mau taat atau tidak taat. Dalam pengertian bebas, Allah harus membiarkan manusia menentukan sendiri pilihannya, tanpa intervensi dari pihak manapun. Dalam pengertian bebas yang benar, Allah juga membiarkan ular yang adalah personifikasi Iblis masuk ke dalam taman dan mencobai serta membujuk manusia untuk berbuat sesuatu, yaitu melanggar apa yang seharusnya tidak dilakukan oleh Adam (Kej. 2:16-17, 3:1-24). Allah tidak berusaha menghindarkan manusia dari pencobaan tersebut, karena Allah memberi kehendak bebas kepada manusia. Inilah konsekuensi menjadi makhluk yang bebas.

Dalam pengertian kebebasan yang proporsional, termuat makna dimana manusia harus mempertimbangkan sendiri segala sesuatu yang hendak dilakukan dan dirinyalah yang menjadi pengambil keputusan akhir. Dalam Kejadian 3:6 tertulis: Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. Sebelum makan buah yang dilarang tersebut, mereka sudah mempertimbangkannya. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan makan buah tersebut adalah keputusan yang lahir dari pertimbangan mereka sendiri. Allah memberi nasihat, peringatan, dan bila perlu teguran, tetapi keputusan akhir tetap pada manusia. Keputusan tersebut menentukan keadaan manusia di kemudian hari, tanpa bisa dibatalkan.

Pengertian kebebasan manusia adalah kebebasan yang proporsional, natural atau benar, bukan kebebasan yang tidak dikenal dalam kehidupan secara wajar. Kalau kebebasan tidak dipahami secara benar, maka manusia tidak menempatkan dirinya sebagai makhluk yang harus bertanggung jawab. Tuhan tidak pernah menjadi kausalitas atau penyebab kejahatan atau dosa. Allah tidak pernah menetapkan manusia untuk jatuh dalam dosa dan melakukan kejahatan. Dalam hal ini sangat jelas tak terbantahkan, bahwa Allah tidak mengendalikan manusia. Manusia mengendalikan dirinya sendiri. Memang Allah yang menciptakan kemungkinan ciptaan-Nya bisa melakukan kesalahan, tetapi bukan dirancang untuk (harus) melakukan kesalahan. Jadi, apakah manusia melakukan kesalahan atau tidak ditentukan oleh dirinya sendiri. Dengan demikian manusia harus mempertanggungjawabkan semua tindakannya.

.......


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)