Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 133103 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

June 21, 2019, 05:15:11 AM
Reply #2620
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Manusia berinisiatif melakukan tindakan dari diri sendiri. Dengan demikian manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan. Allah tidak ikut mengambil bagian dalam kesalahan yang dilakukan manusia atau kebaikan yang dilakukan manusia. Allah berdiri di luar sebagai Hakim, Allah bukan pelakunya. Kalau Allah ikut terlibat dalam tindakan manusia, maka Allah tidak bisa berdiri sebagai hakim. Hakim harus berada di luar tindakan yang dihakimi. Kalau Allah ikut terlibat dalam kejatuhan manusia, maka Allah tidak seharusnya menghalau atau mengusir manusia dari Eden. Kalau Allah ikut terlibat dalam pengambilan keputusan, maka Allah harus ikut memikul akibatnya bersama dengan manusia. Betapa jahatnya sosok allah yang menetapkan suatu kejadian atau perbuatan seseorang, kemudian menghakimi dan menghukum manusia tersebut. Allah yang benar tidaklah demikian.


June 22, 2019, 05:33:29 AM
Reply #2621
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.truth-media.com/2019/

22. RESPON TERHADAP PENGGARAPAN ALLAH
  21 June 2019 | Renungan Harian
RESPON-TERHADAP-PENGGARAPAN-ALLAH Download (17)
RESPON-TERHADAP-PENGGARAPAN-ALLAH Download (11)

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18357/0/22-JUNI-2019-RESPON-TERHADAP-PENGGARAPAN-ALLAH.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18357/1/22-JUNI-2019-RESPON-TERHADAP-PENGGARAPAN-ALLAH.amr

Penghakiman dapat berlangsung atas individu jika Tuhan tidak intervensi di dalam kehidupan, sehingga manusia masih memiliki kedaulatannya sendiri bertindak mengambil keputusan dalam kehendak bebasnya. Kalaupun Tuhan berintervensi, intervensi Tuhan tidak menghilangkan kehendak bebas manusia. Untuk mengubah karakter seseorang, Tuhan mengizinkan banyak kejadian yang berlangsung dalam hidupnya. Tuhan tidak berintervensi mengubah kehendak seseorang secara ajaib oleh kuasa-Nya, tetapi mengarahkan orang tersebut melalui setiap kejadian hidup yang dialaminya. Jika Tuhan berintervensi sampai pada kehendak seseorang, maka Tuhan tidak perlu menggunakan sarana peristiwa-peristiwa dalam kehidupan untuk mengubahnya. Dalam hal ini masing-masing individu bisa menerima pembentukan Tuhan atau menolaknya. Oleh sebab itu keadaan akhir seseorang tergantung dari responnya terhadap penggarapan Allah.

Adalah sangat keliru kalau orang berpikir bahwa respon seseorang terhadap penggarapan Tuhan melalui segala peristiwa yang terjadi dalam hidupnya digerakkan oleh Tuhan sendiri. Jadi, seseorang memberi respon terhadap penggarapan Tuhan atau tidak, tergantung manusia itu sendiri. Dalam hal ini, berarti ada orang yang digerakkan Tuhan merespon dengan baik terhadap penggarapan Tuhan, tetapi yang lain tidak dibuat merespon dengan baik. Jika Tuhan berbuat demikian maka semua menjadi seperti sandiwara. Dengan mekanisme demikian berarti mutlak tidak perlu ada penghakiman. Tuhan harus menghakimi diri-Nya sendiri, sebab Ia menjadikan diri-Nya sebagai kausalitas prima segala sesuatu yang terjadi atas kehidupan setiap individu.

Terkait dengan hal di atas ini, hendaknya kita tidak memandang bahwa oleh karena Allah adalah Allah yang berdaulat secara mutlak, maka Allah bertindak dalam kebijaksanaan yang tidak dimengerti oleh manusia. Manusia harus hanya menerima saja semua keputusan dan tindakan-Nya. Allah tidak mungkin bertindak atas seseorang tanpa orang itu mengetahui mengapa ia diperlakukan demikian. Penghakiman tidak bisa dilangsungkan kalau manusia tidak berdaya menolak apa yang dikerjakan Allah di dalam dirinya, baik perbuatan yang baik atau perbuatan yang tidak baik. Jika demikian, maka juga tidak perlu ada porsi yang berbeda yang diberikan kepada masing-masing individu. Padahal Alkitab menyatakan bahwa setiap orang dituntut sesuai dengan porsi yang diterimanya.

Tentu yang diberi banyak akan dituntut banyak, sedangkan mereka yang diberi sedikit akan dituntut sedikit. Firman Tuhan mengatakan: “Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.”(Luk. 12:48). Di sini kita menemukan keadilan Tuhan yang sempurna. Tuhan tidak akan menuntut seseorang melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Allah yang benar adalah Allah seperti itu, bukan allah yang sembarangan menuntut orang sesukanya sendiri. Allah tidak mungkin dalam kedaulatan-Nya berintervensi dalam diri seseorang, memberi porsi yang berbeda, kemudian menuntut seseorang melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh orang itu dan kemudian menghukum orang itu karena kesalahannya atau ketidaksanggupannya melakukan yang dikehendaki oleh Allah.

Masing-masing individu bertanggung jawab atas dirinya sendiri di hadapan Tuhan yang memberi kendaraan, yaitu hidup ini. Masing-masing orang memiliki jenis kendaraan yang berbeda. Tuhan menciptakan manusia dan melengkapinya dengan pikiran, perasaan, dan kehendak. Semua itu merupakan sarana atau perlengkapan untuk dapat mengemudikan kehidupan masing-masing individu. Kalau seseorang bermaksud menyerahkan kemudi hidupnya kepada Tuhan, berarti sama dengan meminta Tuhan menyangkali sifat dan hakikat-Nya yang telah memberikan kedaulatan kepada manusia untuk menentukan takdirnya sendiri. Ini adalah sikap yang tidak bertanggung jawab. Dalam hal ini yang ditentukan adalah porsinya, bukan keselamatan individu.

.......




June 22, 2019, 05:33:53 AM
Reply #2622
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Untuk dapat mengendarai hidup ini dengan benar dan mengarahkannya ke arah yang Tuhan kehendaki, bukan sesuatu yang sederhana dan mudah. Kita harus bergumul dengan segenap hidup. Inilah perjuangan yang tiada berakhir sampai kita menutup mata.Dalam hal ini orang percaya diajar untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Mengerjakan keselamatan itu adalah menaruh pikiran dan perasaan Kristus di dalam diri kita.Kalau kita bersedia mengerjakan keselamatan (Yun. katergazeste; κατεργάζεσθε), maka Allah akan memberikan kuasa atau kemampuan (Yun. energon; ἐνεργῶν).Selanjutnya yang dibutuhkan adalah ketekunan, yaitu bagaimana fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya dan tidak bergeser. Dari perjuangan ini, setiap orang dapat diperhadapkan kepada penghakiman atau pengadilan Tuhan secara fair.




June 23, 2019, 04:59:40 AM
Reply #2623
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18359/0/23-JUNI-2019-KONSEP-TAKDIR-DALAM-PENGHAKIMAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18359/1/23-JUNI-2019-KONSEP-TAKDIR-DALAM-PENGHAKIMAN.amr


23. KONSEP TAKDIR DALAM PENGHAKIMAN
  22 June 2019 | Renungan Harian
KONSEP-TAKDIR-DALAM-PENGHAKIMAN Download (14)
KONSEP-TAKDIR-DALAM-PENGHAKIMAN Download (10)

Berbicara mengenai penghakiman, tidak dapat dipisahkan dari masalah takdir. Kata “takdir” dalam pemahaman umum biasanya mendapat isi atau dimengerti sebagai penentuan Ilahi. Kata “takdir” biasanya disejajarkan maknanya dengan kata “nasib”, dalam Bahasa Inggris diterjemahkan fate atau destiny. Di balik kata “takdir” diisyaratkan jelas adanya penentuan Ilahi dalam setiap kejadian atau peristiwa, sebuah divine decree. Jadi “takdir” dimengerti sebagai penentuan suatu peristiwa atau kejadian yang berlangsung dalam hidup manusia berdasarkan kedaulatan, kebebasan kehendak, dan kebijaksanaan Tuhan yang mutlak atau absolut. Sebelum suatu peristiwa terjadi, segala sesuatunya sudah ditentukan oleh Tuhan untuk berlangsung. Ini tidak tepat. Sebenarnya konsep ini sangat kuat dianut oleh agama non-Kristen yang ada di sekitar kita.

Jika dipandang bahwa segala sesuatu sudah ditentukan sebelumnya, maka dengan demikian nampak gambar dalam bingkai bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini adalah skenario dari Sutradara Agung, yaitu Tuhan. Dalam hal ini, Tuhan selain Pencipta sekaligus juga berperan sebagai penulis cerita dan Sang Dalang yang mengatur setiap peran kehidupan dalam pentas panggung sandiwara. Lebih tegas lagi, bila kita obyektif memandang hidup dengan kacamata ini, maka itu berarti Tuhan berlaku sebagai pengatur remote control dan manusia menjadi robot yang hanya bisa dikendalikan oleh remote tersebut tanpa kebebasan kesempatan memilih suatu pilihan. Dalam hal ini Tuhan dipandang sebagai penyusun takdir atas segala sesuatu, baik yang hidup apa lagi bagi benda mati. Tidak ada yang luput dari penentuan-Nya.

Dalam memahami pengertian takdir, pada umumnya orang berasumsi bahwa manusia tidak memiliki kedaulatan sama sekali dalam menentukan keadaan hidupnya, sebab Tuhan telah mempersiapkan segala kejadian yang akan dialami atau dilaluinya dalam hidup. Manusia hanya menerima saja yang disediakan baginya. Demikianlah kita dapat temukan bila seseorang mengalami musibah -misalnya suatu kecelakaan, kematian orang yang dikasihinya, jatuh miskin, sakit yang tak tersembuhkan sampai kematian, dan lain-lain- maka mereka menerimanya sebagai takdir. Di dalamnya, Tuhan dianggap sebagai kausalitas prima (penyebab utama), kasarnya: biang masalah. Menjadi berkembang lagi dalam kasus lain, ketika disimpulkan bahwa jodoh ada di tangan Tuhan, sehat/sakit, kaya/miskin, gemuk atau kurus, surga atau neraka, hanya Tuhan yang menentukan.

Pemahaman di atas ini pada akhirnya bisa membangun pandangan bahwa pertimbangan rasio manusia untuk mengambil keputusan menjadi sia-sia atau tidak diperlukan. Semua sudah diatur dalam fragmen yang tidak keluar atau terlepas dari alur cerita yang ditentukan atau telah ditetapkan. Akhirnya, anjuran untuk menemukan peran dan tempat di hadapan Tuhan menjadi panggilan untuk percaya dan menerima saja setiap peran yang ditemukan secara otomatis. Semua sudah diatur oleh Allahyang mengerjakan-Nya sendiri tanpa bantuan dan peran manusia sama sekali. Kalau jujur, maka dapat dikatakan peran pikiran dan perasaan manusia menjadi sia-sia atau tidak maksimal. Dengan demikian manusia juga tidak perlu memiliki integritas dan personality-nya sendiri. Ini pandangan yang sangat keliru, sebab sesungguhnya manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab, artinya manusia harus menuai apa yang ditaburnya (Rm. 14:12; Gal. 6:7; 2Kor. 5:9-10).

Gagasan “takdir” meyakinkan adanya campur tangan langsung dari Allah yang mengendalikan nasib manusia di luar kesadaran manusia, sebab segala sesuatu ditentukan sejak semula. Ini adalah konsep agama non-Kristen yang tidak banyak membicarakan tentang kebebasan, sebab mereka hanya mengakui perbuatan-perbuatan yang dirancang oleh Allah di dalamnya. Konsep takdir ini mengingkari adanya kebebasan yang sungguh-sungguh, selanjutnya peranan etika disia-siakan. Hal ini menempatkan manusia tidak memiliki independensi. Independensi berarti seseorang tidak terikat oleh siapa pun dalam mengambil keputusan, karena tidak ada pihak lain yang mengendalikannya. Sehingga seseorang dapat menentukan takdir atau keadaan dirinya sendiri. Dalam independensi ini, baik Allah maupun manusia, dapat membangun atau menciptakan keinginan dari diri sendiri.

.......




June 23, 2019, 05:00:08 AM
Reply #2624
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
.......

Konsep takdir sebenarnya secara langsung menghilangkan pertanggungjawaban manusia kepada Tuhan. Hal ini jelas tidak memberi ruangan atau tempat bagi penghakiman dilangsungkan dalam kehidupan manusia. Konsep takdir menghindarkan manusia dari tanggung jawab. Oleh sebab itu kalau seseorang meyakini adanya takdir, maka sejatinya ia juga tidak meyakini adanya tanggung jawab individu. Dengan demikian tidak ada penghakiman dan tidak ada upah di dalam Kerajaan Surga atau kehidupan yang akan datang. Oleh sebab itu kita harus menolak konsep takdir yang salah ini.




June 24, 2019, 05:26:55 AM
Reply #2625
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18361/0/24-JUNI-2019-TUNTUTAN-YANG-TINGGI.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18361/1/24-JUNI-2019-TUNTUTAN-YANG-TINGGI.amr

24. TUNTUTAN YANG TINGGI
  23 June 2019 | Renungan Harian
TUNTUTAN-YANG-TINGGI Download (23)
TUNTUTAN-YANG-TINGGI Download (11)

Dalam penghakiman bagi orang percaya yang sungguh-sungguh sedang berusaha untuk menjadi semakin seperti Yesus, maka penghakiman bagi mereka adalah perhitungan seberapa banyak orang percaya tersebut telah mengumpulkan harta di surga (Mat. 6:19-20). Mengumpulkan harta di surga adalah perjuangan untuk semakin serupa dengan Yesus. Ini berbicara mengenai kesucian hidup. Kesucian di sini bukan hanya berarti tidak berbuat dosa, tetapi “tidak bisa” berbuat dosa lagi. Mereka adalah yang dilayakkan menjadi mempelai Tuhan. Hanya orang Kristen yang menjadi mempelai atau kekasih Tuhan yang dikategorikan telah menemukan Tuhan. Tuhan sudah dimiliki sebagai harta. Dengan demikian mengumpulkan harta di surga berarti mengembangkan diri untuk menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Orang-orang seperti ini pasti memberi waktu untuk mengambil bagian dalam pelayanan gerejani dan mendukung pekerjaan Tuhan dengan hartanya tanpa batas. Inilah sesungguhnya perjalanan musafir Kristen.

Untuk panggilan mewarisi langit baru dan bumi yang baru, orang percaya harus belajar melepaskan diri dari segala ikatan. Pertama, ikatan dosa. Hal ini menyangkut karakter orang percaya yang belum seperti yang Tuhan kehendaki. Dalam hal ini orang percaya harus sempurna seperti Bapa, dan yang kedua adalah belenggu keindahan dunia. Belenggu keindahan dunia sama dengan percintaan dunia. Inilah yang disebut oleh Yohanes sebagai keinginan daging, keinginan mata, serta keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17).Semua ini bukan berasal dari Bapa, tetapi berasal dari kuasa jahat. Menanggalkan semua beban ini membuat seseorang berjiwa musafir atau sebaliknya, semakin seseorang menyadari bahwa dirinya musafir maka akan lebih mudah melepaskan ikatan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Hal ini bukan sesuatu yang mudah. Itulah sebabnya orang percaya harus mengalami pembaharuan pikiran setiap hari (Rm. 12:2). Usaha ini adalah usaha sebagai “mendahulukan Kerajaan Allah” (Mat. 6:33). Kata “dahulu” dalam teks aslinya adalah proton (πρωτον).

Kata proton menunjuk kepada keutamaan. Anak-anak Allah yang berhasil melewati tahap-tahap pertumbuhan yang normal akan dapat melepaskan dirinya dari belenggu tersebut. Setelah terlepas dari belenggu tersebut, seseorang akan menjadi peka terhadap kehendak Allah. Lebih dari segala kegiatan, inilah yang harus diutamakan. Sebab hal ini merupakan sesuatu yang bersifat wajib atau sebuah kemutlakan. Segala sesuatu bisa relatif, tetapi hal menjadi orang percaya yang beriman dengan benar -yaitu mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya- adalah wajib atau mutlak. Akhirnya kehidupan seperti ini akan memenuhi rencana Allah seperti yang Tuhan Yesus lakukan. Sebelum memenuhi rencana Allah dalam kehidupan ini, berarti kita belum lulus sebagai musafir. Dengan hal ini, maka nampaklah betapa tinggi tuntutan yang dikenakan kepada semua orang percaya. Jadi, kita mengerti betapa sulitnya menjadi orang Kristen yang sejati, sebab mereka harus sempurna seperti Bapa di surga (Mat. 5:48).

Untuk menjadikan rencana Tuhan digenapi dalam hidup ini sebagai keutamaan, menuntut kesungguhan dalam pengiringan kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah komitmen yang kuat, permanen, dan murni. Ini berarti setiap hari dalam kehidupan ini, kita harus berkerinduan dengan hasrat yang kuat untuk bertumbuh dengan memindahkan hati kita di Kerajaan Bapa di surga, sebab di mana ada hartamu, di situ hatimu berada (Mat. 6:21). Ini bukan berarti kita harus menjadi orang yang tidak berharta di bumi ini atau menjadi orang miskin. Yang penting adalah “hati yang harus dipindahkan”. Jadi, hati dapat dipindahkan kalau seseorang sungguh-sungguh telah mendahulukan Kerajaan Surga. Sehingga hidupnya tidak dapat dibahagiakan lagi oleh materi dunia dan hiburannya. Inilah tujuan pelayanan dan seluruh kegiatan dalam gereja.

.......





June 24, 2019, 05:27:26 AM
Reply #2626
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Banyak orang hidup hanya untuk memiliki sebuah kehidupan seperti yang dikehendaki atau yang diinginkannya. Sedangkan ukuran hidup yang diinginkan adalah gaya hidup manusia di sekitarnya. Sebuah gaya hidup yang jauh dari standar yang Tuhan inginkan. Pola pikir yang salah tersebut makin tertanam di hati dan pikiran banyak orang Kristen hari ini. Mereka hidup dalam keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Keinginan daging artinya kepuasan diri dalam dagingnya, keinginan mata artinya hasrat memiliki pemenuhan kebutuhan jasmani seperti yang orang lain miliki, dan keangkuhan hidup adalah kehormatan yang diharapkan diberikan orang kepada dirinya. Kehormatan ini bisa dibeli dengan kekuasaan, pangkat, gelar, uang, penampilan, perhiasan, dan lain sebagainya. Banyak orang Kristen yang tidak memiliki sasaran yang jelas dalam hidup Kekristenannya. Ini berarti dalam kehidupan ini ia tidak memiliki arah yang jelas. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang sangat rentan terhadap pencobaan, sangat rawan terhadap serangan musuh.





June 25, 2019, 05:42:33 AM
Reply #2627
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18363/0/25-JUNI-2019-PENGHAKIMAN-DAN-SURGA.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18363/1/25-JUNI-2019-PENGHAKIMAN-DAN-SURGA.amr

25. PENGHAKIMAN DAN SURGA
  24 June 2019 | Renungan Harian
PENGHAKIMAN-DAN-SURGA Download (27)
PENGHAKIMAN-DAN-SURGA Download (15)

Berbicara mengenai penghakiman ternyata terkait dengan masalah surga. Oleh sebab itu kita harus memahami sekilas mengenai apa surga itu. Kita harus berhati-hati dalam membahas pokok masalah surga, sebab Alkitab memang terkesan tidak banyak mengungkap rahasia mengenai surga. Alkitab juga mengesankan tidak perlu menjelaskan secara terperinci mengenai realitas surga, mengapa demikian? Sebab Alkitab memandang bahwa keberadaan surga sudah sangat jelas. Seperti rancangan Allah semula bahwa bumi ini diciptakan dalam keadaan “sungguh amat baik”. Tentu dunia yang akan datang juga seperti bumi ini. Oleh karena itu tidak perlu lagi ada penjelasan.

Untuk menjelaskan hal surga harus memiliki landasan yang kokoh berdasarkan Alkitab, bukan berdasarkan perkiraan atau praduga. Sejatinya, surga bukanlah alam roh dunia maya, tetapi alam fisik yang merupakan kelanjutan dari perjalanan alam semesta yang telah diciptakan Tuhan, yang ditulis oleh Musa dalam kitab Kejadian. Surga bukanlah alam lain, tetapi alam semesta ini.Logikanya, Tuhan hanya memiliki satu alam semesta di mana surga bagi manusia termasuk ada di dalamnya. Sebagaimana Tuhan adalah Esa (Mono), maka alam semesta (jagat raya) juga mono.

Tuhan Yesus menunjukkan tubuh kebangkitan adalah fisik seperti manusia yang hidup, bukan berbentuk roh atau semacam tubuh roh. Tuhan Yesus menunjukkan kepada murid-murid-Nya keberadaan tubuh fisik dalam Lukas 24:39 “…karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Kata“hantu” dalamteks aslinya adalah pneuma (πνεῦμα), yang artinya roh. Tuhan menegaskan bahwa Ia tidak mengenakan tubuh roh, tetapi fisik. Tuhan Yesus berjanji pergi untuk menyediakan tempat bagi kita (Yoh. 14:1-3). Cara Tuhan Yesus pergi dengan terangkat secara fisik memberi pesan bahwa Ia ada di semesta kita ini. Tuhan Yesus tidak berpindah ke alam lain dengan cara “menghilang”. Cara kenaikan Tuhan Yesus ke surga lebih menunjukkan bahwa Tuhan Yesus menuju semesta yang sama, bukan semesta yang lain. Di dunia yang akan datang tersebut, kita makan dan minum bersama-sama dengan Tuhan.

Surga terdiri dari bermacam-macam tingkatan masyarakat atau jenjang. Mengapa ada bermacam-macam tingkatan? Dalam Injil, Tuhan Yesus sering menyebut mengenai upah yang besar. Bicara mengenai kuantitas upah berarti juga kualitasnya, dan jelas sekali Tuhan membedakan upah (Mat. 5:12, 6:1). Dalam Kerajaan Surgajuga terdapat kedudukan yang berbeda (Mat. 20:23; Mrk. 10:40). Dalam Kerajaan Surga juga Tuhan memercayakan kepada masing-masing hamba-Nya jumlah kota yang berbeda-beda (Luk. 19:12-19). Jumlah kota-kota ini bisa menunjuk posisi dalam Kerajaan-Nya nanti. Tetapi secara garis besar, pada dasarnya pembagiannya bisa dibagi dua, yaitu pertama keluarga Kerajaan yang disebut sebagai memiliki karunia sulung Roh (Rm. 8:23), yaitu mereka yang mengalami keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan semula Allah. Kedua, adalah anggota masyarakat yang diperintah. Mereka adalah orang-orang yang diperkenan masuk dunia yang akan datang.

Yerusalem adalah Ibukota Kerajaan yanghanya dihuni oleh orang-orang terkemuka, yaitu anggota keluarga Kerajaan. Yerusalem Baru hanya dihuni oleh mereka yang namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan Anak Domba (Why. 21:1-27). Orang-orang yang namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan Anak Domba adalah orang-orang yang sudah sempurna. Mereka adalah orang-orang yang tidak bercacat dan tidak bercela. Hal ini juga menunjuk sebagai Rumah Bapa. Rumah Bapa berbicara mengenai tempat khusus di mana hanya orang-orang pilihan yang boleh masuk. Hanya orang-orang tertentu yang sampai kepada Bapa (Yoh.14:6). Sedangkan Kisah Rasul 4:12, bisa menunjuk korban Kristus untuk semua orang. Bahwa hanya karena korban Kristus, maka ada penebusan dosa semua manusia. Penebusan itu memungkinkan adanya penghakiman.

.......


June 25, 2019, 05:42:52 AM
Reply #2628
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Penghakiman membuka kemungkinan orang-orang di luar orang Kristen yang tidak mendengar Injil bisa masuk dunia yang akan datang. Mereka pasti dihakimi menurut perbuatannya. Dalam hal ini perbuatan baik mereka terhadap sesama memungkinkan mereka mendapat kesempatan hidup di dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat saja. Sedangkan orang-orang yang mengalami dan memiliki keselamatan di dalam Yesus Kristus, artinyadikembalikan kepada rancangan-Nya, adalah orang-orang yang menjadi anggota keluarga Kerajaan; dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17). Mereka bisa menempati Yerusalem Baru, tetapi mereka yang dihakimi menurut perbuatannya menjadi anggota masyarakat yang mendiami banyak wilayah yang tidak terbatas dalam dunia yang akan datang. Mereka adalah anggota masyarakat yang diperintah atau dibawahi oleh suatu pemerintahan.


June 26, 2019, 05:44:50 AM
Reply #2629
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24063
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.truth-media.com/2019/

26. PROSES DAN WAKTU PENGHAKIMAN
  25 June 2019 | Renungan Harian
PROSES-DAN-WAKTU-PENGHAKIMAN Download (20)
PROSES-DAN-WAKTU-PENGHAKIMAN Download (15).

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18365/0/26-JUNI-2019-PROSES-DAN-WAKTU-PENGHAKIMAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18365/1/26-JUNI-2019-PROSES-DAN-WAKTU-PENGHAKIMAN.amr

Menjadi pertanyaan yang bisa muncul dan menggelitik: Bagaimana proses atau mekanisme penghakiman Tuhan nanti? Dalam Wahyu 20:11-15 terdapat perikop yang membicarakan mengenai penghakiman. Dikalangan beberapa gereja dikenal sebagai “Penghakiman Takhta Putih”, sebagai berikut: “Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya.Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api.Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”.

Memahami perikop dalam Wahyu 20:11-15, harus dengan cerdas. Seperti yang kita tahu bahwa Kitab Wahyu memuat pernyataan-pernyataan yang bersifat figuratif. Jika Wahyu 20:11-15 dipahami secara harafiah maka bisa berbenturan dengan penghakiman yang dikemukakan oleh Yesus dalam Matius 25:31-46, yaitu penghakiman terakhir atas dua kelompok manusia yang digambarkan kambing dan domba. Kepada kelompok yang ada di sebelah kanan-Nya, yang diidentifikasi sebagai domba diperkenan masuk ke dalam Kerajaan Surga; dan sebelah kiri-Nya yang diidentifikasi kambing yaitu kelompok yang tidak diperkenan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Dalam Wahyu 20:11-15 dikemukakan adanya banyak kitab yang menjadi ukuran atau standar penghakiman, dimana orang-orang mati dihakimi berdasarkan kitab-kitab tersebut. Di dalam Wahyu 20:11-15 tidak menyinggung sama sekali adanya dua kelompok, yaitu domba dan kambing. Sedangkan di dalam Matius 25:31-46, ketika Yesus berbicara mengenai penghakiman terakhir, Yesus tidak menyinggung mengenai banyaknya kitab-kitab seperti yang dikemukakan dalam Wahyu 20:11-15. Perbedaan proses atau mekanisme penghakiman Tuhan dari dua perikop tersebut bisa membingungkan. Bisa muncul tuduhan bahwa Alkitab tidak konsisten. Oleh sebab itu kita harus sangat ketat memerhatikan konteks dalam menganalisa konteks ayat dan pasal.

Kita harus mengakui bahwa Alkitab tidak mengungkapkan secara jelas dan detil proses atau mekanisme mengenai penghakiman atas orang-orang mati. Hal ini pasti dipandang tidak perlu karena tidak prinsip. Tetapi yang pasti sangat perlu dan dipandang mutlak untuk dikemukakan adalah bahwa setiap manusia harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dilakukan di dunia ini selama hidupnya. Jadi, proses atau mekanisme penghakiman dipandang relatif, tetapi yang mutlak atau tidak relatif adalah pertanggungjawaban setiap individu di hadapan takhta pengadilan Kristus. Hal yang bersifat relatif tidak boleh dimutlakkan, tetapi yang mutlak tidak boleh direlatifkan. Mengenai proses dan mekanisme penghakiman bukan sesuatu yang mutlak, melainkan relatif, adapun mengenai pertanggungjawaban yang menjadi isi penghakiman adalah hal yang mutlak.

Kalau dipersoalkan, kapan penghakiman atas setiap individu dilangsungkan, pertanyaan ini sulit dijawab atau lebih tepatnya tidak perlu dijawab, sebab setelah seseorang mengalami kematian maka tidak ada perjalanan waktu. Jadi pertanyaan “kapan” itu tidak bisa dijawab dalam suatu keadaan atau kondisi dimana tidak ada perjalanan waktu. Selama hidup di dunia sebenarnya seseorang sudah menetapkan keadaannya sehingga tidak perlu ada pembuktian, begitu seseorang meninggal dunia, sudah jelas penempatannya (surga atau neraka).Atau kalau di surga, sudah jelas porsi upah yang akan diterima masing-masing individu.

.......

 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)