Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 117676 times)

0 Members and 4 Guests are viewing this topic.

July 01, 2019, 05:38:19 AM
Reply #2640
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Perjalanan hidup setiap hari adalah perjalanan hidup untuk mengoreksi diri dan mengalami perubahan, sehingga kita semakin mencapai standar kekudusan yang dikehendaki oleh Tuhan. Kekudusan yang dikehendaki Tuhan bukan sesuatu yang mudah dicapai, harus dipergumulkan sepanjang umur hidup kita, dan memang untuk itulah kita dipanggil dan dipilih (Ef. 1:4-5). Tidak semua orang memiliki panggilan menjadi orang terpilih untuk mendengar Injil yang benar. Bagi kita yang terpilih mendengar Injil, harus mencapai standar yang “ditentukan” yaitu menjadi anak-anak Allah, artinya berkeberadaan sebagai anak-anak Allah yang sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.


July 03, 2019, 06:27:38 AM
Reply #2641
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18411/0/03-JULI-2019-PENGHORMATAN-BAGI-ALLAH.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18411/1/03-JULI-2019-PENGHORMATAN-BAGI-ALLAH.amr

03. PENGHORMATAN BAGI ALLAH
  2 July 2019 | Renungan Harian
PENGHORMATAN-BAGI-ALLAH Download (36)
PENGHORMATAN-BAGI-ALLAH Download (17)

Seperti yang kita ketahui bahwa pada umumnya manusia hidup membutuhkan pengakuan dari manusia lain atau dari dunia sekitarnya; dari pengakuan kelas sederhana sampai pada sanjungan dan pujian, bahkan pemujaan. Pada umumnya, setiap orang menuntut bahwa ia pantas mendapat tempat sekecil apa pun dalam ruangan kehidupan ini. Dengan istilah lain, setiap insan menuntut untuk dimanusiakan. Betapa abstraknya hal ini, sebab pengertian “dimanusiakan” itu sangat relatif. Seseorang akan sangat terluka dan sakit hati -bahkan terbangkitkan amarahnya- bila merasa harkatnya diinjak-injak. Harkat di sini maksudnya adalah derajat (kemuliaan); nilai diri, harga diri yang sama dengan martabat. Harkat hidup seseorang sangat relatif, tergantung bagaimana seseorang memberi nilai terhadap dirinya.

Semakin memberi nilai tinggi terhadap dirinya, maka semakin menuntut harkat dirinya untuk dihargai. Hal ini juga berkaitan dengan status yang dimiliki seseorang; status keturunan; status sosial, tingkat pendidikan, status pergaulan, dan lain sebagainya. Orang yang mulai biasa bergaul dengan pejabat tinggi atau orang-orang dari kalangan tertentu yang terhormat akan mengeskalasi harkatnya, seakan-akan pergaulannya dengan mereka mengangkat harkatnya. Demikian pula dengan soal pendidikan, seseorang yang menaikkan tingkat pendidikan dan keahlian -bukan sekadar supaya memiliki suatu keahlian guna mengabdi kepada masyarakat- maka gelar yang disandangnya diharapkan mampu menaikkan harkatnya. Seseorang yang jumlah kekayaannya bertambah banyak akan merasa bahwa hal tersebut dapat menaikkan harkat dirinya. Itulah sebabnya orang mau menjadi kaya, karena selain rasa aman dan bahagia, juga oleh karena “harkat” ini. Jika hal ini menjadi tujuan hidup, maka seseorang tidak akan pernah menjadi orang percaya yang benar.

Tuhan Yesus menyatakan bahwa selama seseorang masih mencari dan menuntut penghormatan dari manusia, ia tidak akan pernah menjadi orang percaya yang benar atau tidak akan pernah dapat mengenakan Kekristenan yang sejati (Yoh. 5:44). Ini bukan berarti ia tidak akan menjadi orang terhormat. Sebaliknya, orang yang tidak mencari penghormatan dari manusia akan menjadi orang terhormat di hadapan Allah dan akan menerima kehormatan dalam keabadian bersama Tuhan Yesus. Di dunia pun Tuhan bisa memberikan kehormatan demi kepentingan pekerjaan-Nya atau kemuliaan nama-Nya. Jadi, kalau kita studi, berkarir, bisnis, dan lain sebagainya, semuanya harus dilakukan untuk kemuliaan Allah, bukan untuk kehormatan diri sendiri.

Kalau Tuhan menjadikan atau mengizinkan orang percaya menjadi terhormat di mata manusia -baik disebabkan oleh karena prestasi pendidikan, ekonomi, kekuasaan, dan lain sebagainya- itu harus digunakan untuk kepentingan-Nya. Hal ini sejajar dengan Tuhan Yesus Kristus yang menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa (Flp. 2:11). Yesus menjadi Tuhan bukan untuk kemuliaan diri-Nya sendiri, tetapi bagi kemuliaan Bapa. Dalam hal ini orang percaya wajib mengembangkan semua potensi yang dimiliki demi memperoleh kehormatan yang kemudian digunakan untuk kepentingan Allah. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah banyak usaha yang dilakukan hanya tertuju kepada kepentingan kehormatan, prestise, dan harga diri sendiri. Secara natural ini terjadi dalam kehidupan setiap individu, seakan-akan sudah menjadi kodrat yang tidak bisa dilepaskan.

Bersyukur atas keselamatan yang Bapa berikan. Keselamatan dalam Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk menanggalkan hasrat untuk dihormati manusia dan beralih untuk mencari penghormatan dari Allah dengan cara melakukan segala sesuatu untuk kepentingan-Nya. Inilah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Ia melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah Bapa, dengan melakukan kehendak dan menyelesaikan pekerjaan yang Bapa percayakan kepada-Nya. Walau untuk itu Ia harus dihina dan disiksa. Inilah harga mahal yang harus dibayar oleh Yesus untuk menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Dengan hal ini maka nama Yesus ditinggikan, setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa.

.......


July 03, 2019, 06:27:57 AM
Reply #2642
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Oleh sebab itu harus dipahami, memberi kemuliaan bagi Bapa dan Tuhan Yesus bukan hanya memuji nama-Nya dengan nyanyian, tetapi mengusahakan agar rencana Allah dalam kehidupan ini digenapi. Ini berarti setiap orang percaya harus menjadi seseorang yang memiliki karakter seperti Kristus, yang sama dengan menjadi corpus delicti dan mengusahakan orang lain juga menjadi seperti Kristus. Inilah pelayanan yang sesungguhnya. Firman Tuhan mengatakan bahwa barangsiapa melayani Tuhan Yesus, ia harus mengikut Dia dan di mana Tuhan Yesus berada, di situ pun pelayan-Nya akan berada. Barangsiapa melayani Dia, ia akan dihormati oleh Bapa (Yoh. 12:26). Dengan hal ini, maka segala sesuatu yang dilakukan ditujukan untuk kepentingan Tuhan Yesus, yaitu menggenapi rencana Bapa tersebut. Berkenaan dengan ini, Paulus mengatakan bahwa baik kita makan atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain harus dilakukan untuk kemuliaan Tuhan. Itulah pelayanan yang sesungguhnya bagi Tuhan Yesus. Hal ini tidak bisa digantikan dengan sekadar menjadi orang Kristen yang pergi ke gereja.


July 04, 2019, 05:56:57 AM
Reply #2643
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18413/0/04-JULI-2019-PUJIAN-DARI-TUHAN_L.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18413/1/04-JULI-2019-PUJIAN-DARI-TUHAN.amr

04. PUJIAN DARI TUHAN
  3 July 2019 | Renungan Harian
PUJIAN-DARI-TUHAN Download (27)
PUJIAN-DARI-TUHAN Download (54)

Sudah menjadi fakta yang tidak dapat dibantah bahwa pengakuan, pujian, sanjungan, dan pemujaan akan dituntut dan diharapkan oleh orang-orang yang merasa memiliki nilai lebih di mata manusia lain; seperti seorang artis yang terkenal, berprestasi dalam ilmu pengetahuan yang dikagumi manusia, penguasaha yang berhasil mengumpulkan banyak kekayaan, seseorang yang berhasil di gelanggang politik dan menjadi penguasa dalam pemerintahan. Secara otomatis pada umumnya mereka merasa bahwa harkatnya telah naik, maka ia menaikkan harga harkatnya. Itulah sebabnya banyak orang berjuang keras untuk berhasil dalam berbagai bidang. Untuk itu mereka dapat melakukan segala hal, bahkan menghalalkan segala cara. Mereka mencintai dunia dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Dengan cara demikian mereka telah meletakkan “sesuatu” sebagai alah atau berhala.

Hal tersebut di atas memang menjadi kodrat manusia pada umumnya, yaitu hidup untuk memperoleh harkat martabat yang dibangun di atas penghormatan dan penilaian manusia lainnya. Hal ini sama artinya bahwa pada umumnya setiap orang memasang tarif dan menjual dirinya terhadap dunia ini. Menjual diri maksudnya berusaha agar dirinya mendapat penghormatan atau penilaian yang sesuai dengan apa yang diingininya, biasanya seiring dengan atribut-atribut lahiriah yang dimiliki, yaitu: pangkat, gelar, penampilan, kekayaan, dan lain-lain. Segala sesuatu yang diusahakan adalah usaha untuk menaikkan nilai diri di mata manusia, bukan di mata Alah. Kalau hal ini berlangsung berlarut-larut, maka mereka tidak sanggup memercayai ada Allah yang hidup, sehingga mereka hanya sekadar menjadi orang beragama yang tidak ber-Tuhan.

Hal di atas tersebut bukan hanya terjadi di kalangan orang-orang di luar gereja, tetapi juga orang-orang di dalam gereja. Tetapi pada umumnya banyak orang Kristen tidak menyadari hal tersebut, bahkan mereka menganggapnya wajar. Tentu dengan demikian mereka tidak berusaha untuk mencari penghormatan dan penilaian dari Allah, sebab kalau seseorang sudah mencari penghormatan dan penilaian dari manusia untuk kehormatannya, ia tidak akan lagi mencari kehormatan dari Allah. Orang yang tidak mencari penghormatan bagi Allah tidak dapat menjadi orang percaya yang benar, sebab percaya kepada Tuhan berarti menyerahkan segala kehormatan bagi Tuhan, sehingga segala sesuatu yang dilakukan hanya untuk kemuliaan Bapa dan Tuhan Yesus semata-mata (1Kor. 10:31).

Banyak orang sibuk dan tenggelam dengan pencarian kehormatan manusia sampai mereka tidak menyadari bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya hanyalah persiapan untuk memasuki kehidupan di balik kubur. Mereka hanya memikirkan hal-hal sekarang di bumi ini. Dengan kondisi ini manusia digiring menuju kegelapan abadi. Dan banyak orang Kristen juga ikut tergiring tanpa mereka sadari. Sebagai anak-anak Bapa, pujian yang harus kita cari dan gumuli adalah “pujian dari Tuhan” (1Kor. 4:5; 1Ptr. 1:7). Hal ini tidak mudah, sebab manusia biasanya mau merasakan pujian dari yang kelihatan sekarang di bumi, tetapi Tuhan tidak kelihatan dan pujian yang diberikan barulah nanti di langit baru dan bumi yang baru.

Berkenaan dengan hal tersebut Tuhan Yesus berkata: “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?” (Yoh. 5:44). Dari pernyataan Tuhan ini, Tuhan menunjukkan bahwa orang percaya harus berusaha mencari hormat yang datang dari Allah, bukan dari manusia. Hal itu merupakan ekspresi dari percayanya kepada Tuhan. Jadi, kalau orang masih mencari hormat dari manusia berarti ia belumlah menjadi orang percaya yang benar.

.......

July 04, 2019, 05:57:24 AM
Reply #2644
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Tuhan Yesus sebagai teladan hidup kita menyatakan bahwa diri-Nya tidak mencari hormat dari manusia (Yoh. 5:41). Anak Tunggal Bapa mengosongkan diri menjadi manusia, yang dalam segala hal disamakan dengan manusia biasa. Bahkan Ia mati di kayu salib dengan sangat terhina (Flp. 2:5-7), dengan cara inilah Ia memuliakan Allah Bapa di surga. Karena ia memuliakan Allah Bapa, maka Ia pun juga dimuliakan (Yoh. 8:54). Menjadi orang percaya berarti menjadi pribadi yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Dengan demikian standar hidup yang harus dimiliki oleh orang percaya adalah standar hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus, yaitu mencari kehormatan hanya bagi Bapa. Sungguh sangat menyedihkan, kalau perjalanan hidup yang dijalani banyak orang hanya untuk mencari kehormatan bagi dirinya sendiri dari dunia. Kemiskinan cara berpikir dan gaya hidup ini juga berjangkit dalam kehidupan para pelayan jemaat, bahkan pendeta-pendeta yang berebut kursi pimpinan dalam lingkungan sinode gereja. Sehingga di gereja terdapat praktik-praktik seperti kegiatan politik sekuler. Semua itu disebabkan karena ambisi menjadi orang terhormat di antara pendeta lain. Kalau pemimpin gereja sendiri terjebak dalam kubangan tersebut, lalu bagaimana dengan jemaat?

July 05, 2019, 07:44:33 AM
Reply #2645
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18415/0/05-JULI-2019-PERCABULAN-ROHANI.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18415/1/05-JULI-2019-PERCABULAN-ROHANI.amr

05. PERCABULAN ROHANI
  4 July 2019 | Renungan Harian
PERCABULAN-ROHANI Download (64)
PERCABULAN-ROHANI Download (32)

Sesuai dengan Firman Tuhan bahwa orang-orang benar yang sudah meninggal -yaitu mereka yang dikatakan sebagai jemaat anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di surga, dan roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna- akan mendapat istirahat dari kelelahan mereka mengiring Yesus (Ibr. 12:23). Kelelahan tersebut menunjukkan bahwa mereka telah berjuang untuk pekerjaan Tuhan dengan berat. Hanya orang-orang yang telah berjuang dengan berat sampai kelelahan yang akan menerima perhentian di dalam Tuhan. Dengan demikian maka tidak semua orang Kristen memperoleh perhentian di dalam Tuhan. Hal ini sejajar dengan yang dikatakan Firman Tuhan dalam Roma 8:17 – “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.”

Keindahan perhentian di dalam Tuhan itu harus menjadi kerinduan yang menyengat dan selalu membakar hati jiwa kita. Kalau seseorang tidak menjadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang bernilai tinggi berarti orang tersebut menjauhkan diri dari kasih karunia Allah (Ibr. 12:15). Hal ini akan memicu seseorang bersikap tidak setia kepada Tuhan. Tidak setia berarti percabulan di hadapan Tuhan. Bukan cabul seks, tetapi menukar keselamatan yang sangat berharga dengan kesenangan dunia (Ibr. 12:16). Kata “cabul” dalam teks ini adalah pornos (πόρνος). Kata ini menunjuk suatu perselingkuhan yang sampai pada titik merusak hakikat persekutuan dengan pasangannya. Berbeda dengan moikos (μοιχός), suatu perselingkuhan yang belum sampai pada tingkat kerusakan total, sehingga masih ada peluang atau posibilitas untuk diperbaiki. Kalau sudah sampai tingkat pornos, maka tidak ada kesempatan lagi untuk orang tersebut dapat menerima kasih karunia, sekalipun dengan mencucurkan air mata (Ibr. 12:17). Ini berarti ada penyesalan yang sangat dalam yang hanya bisa digambarkan dengan ratap tangis dan kertak gigi (Luk. 13:28).

Banyak orang Kristen yang kelelahan hidupnya bukan untuk kepentingan pekerjaan Tuhan, tetapi oleh karena memburu kekayaan, kehormatan, dan segala perkara dunia lainnya. Mereka menganggap hal itu wajar, bahkan mereka melibatkan Tuhan untuk membantu mereka meraih dunia ini dengan menggunakan kuasa-Nya. Malangnya, tidak sedikit gereja yang mencoba membantu orang-orang Kristen seperti ini, sehingga mereka menjadi semakin tersesat. Dari hal ini muncullah Teologi Kemakmuran yang menjanjikan berkat-berkat jasmani untuk jemaat, seakan-akan menjadi orang Kristen berhak menikmati kelimpahan jasmani semata. Jika hal ini tidak dihentikan dan jemaat tidak disadarkan, maka banyak orang Kristen yang akan terbuang dari hadirat Allah dan masuk ke dalam kegelapan abadi.

Sekarang ini, ada kesempatan yang sangat lebar untuk menghampiri Tuhan dan berdamai dengan Dia (Ibr. 12:18-21). Kemudian mengarahkan pandangan kepada perkara-perkara yang di atas. Mengarahkan pandangan kepada perkara-perkara yang di atas sama dengan mengumpulkan harta di surga, bukan yang di bumi (Mat. 6:19-20; Kol. 3:1-4). Sejak menjadi orang Kristen yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, fokus hidup haruslah hanya ditujukan kepada perkara-perkara yang di atas. Hal ini sebagai suatu kemutlakan yang tidak dapat ditawar sama sekali. Dalam hal ini Tuhan Yesus menegaskan bahwa orang percaya tidak boleh mengabdi kepada dua tuan.

Tuhan memberi kesempatan untuk menghampiri Dia yang tidak menakutkan, yang berkehendak membawa kita kepada kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi, dan kepada beribu-ribu malaikat suatu kumpulan yang meriah, jemaat anak-anak sulung dan roh-roh orang benar yang telah sempurna (Ibr. 12:22-23). Kita diperkenan datang kepada Tuhan Yesus yang telah menumpahkan darah-Nya agar kita beroleh persekutuan dengan Allah Bapa. Oleh sebab itu kita tidak boleh menolak Firman (Ibr. 12:25). Menolak Firman artinya menolak mengenakan gaya hidup-Nya, sebab Firman yang disampaikan adalah hidup-Nya sendiri yang diajarkan kepada orang percaya. Ia datang memberi hidup (Yoh. 10:10).

.......

July 05, 2019, 07:45:01 AM
Reply #2646
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Orang yang tidak belajar mengenakan gaya hidup-Nya berarti berpaling dari Allah. Ini adalah orang-orang yang pada dasarnya murtad. Karena saat kita menerima Kerajaan Allah, maka kita harus menghargai-Nya dengan mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Satu kali Tuhan Yesus akan datang menggoncangkan dunia, dan berbahagialah mereka yang berdamai dengan Dia. Orang-orang yang beribadah kepada Tuhan di bumi ini, juga akan beribadah kepada-Nya di surga.

July 06, 2019, 05:12:56 AM
Reply #2647
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18417/0/06-JULI-2019-BERSAHABAT-DENGAN-DUNIA.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18417/1/06-JULI-2019-BERSAHABAT-DENGAN-DUNIA.amr

06. BERSAHABAT DENGAN DUNIA
  5 July 2019 | Renungan Harian
BERSAHABAT-DENGAN-DUNIA Download (18)
BERSAHABAT-DENGAN-DUNIA Download (15)

Suatu hari nanti setiap orang pasti menghadap Tuhan yang memberikan kehidupan ini, dan harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dikerjakannya selama hidup di dalam dunia (2Kor. 5:10). Ini adalah fakta yang tidak bisa dihindari. Perjalanan waktu membawa manusia kepada realitas ini. Setiap detik yang bergema mengisyaratkan bahwa saat itu semakin dekat, bagai arus air yang sangat kuat yang tidak bisa dibendung. Harus diingat terus bahwa panggilan menghadap Tuhan bisa terjadi setiap saat. Hampir tidak pernah Tuhan memberi tahu terlebih dahulu saatnya. Sehingga seseorang tidak tahu kapan gilirannya. Hal ini sudah pasti diketahui oleh setiap orang, tetapi ironinya masih saja tidak bersikap berjaga-jaga. Hal ini menunjukkan bahwa memang mereka tidak berhasrat berdamai dengan Allah, serta berlindung kepada-Nya dari kedahsyatan kekekalan. Biasanya mereka berlindung kepada Tuhan hanya karena masalah duniawi atau pemenuhan kebutuhan jasmani semata.

Oleh karena saat kematian tidak kunjung tiba, maka banyak orang menganggap remeh realitas tersebut, sampai tidak memiliki kesadaran atau penghayatan bahwa waktu itu pasti akan tiba. Bahkan ketika sudah berumur suntuk pun masih berpikir ia bisa memperpanjangnya. Memang kadang-kadang tindakan medis dan peralatannya bisa memperpanjang usia, tetapi tidak bisa membatalkan kematian. Usaha memperpanjang usia kadang juga malah menyiksa. Hidup tidak terasa hidup, sebab penyakit dan penuaan tidak bisa diajak bersahabat. Tuhan sendiri yang telah mengatakan bahwa masa hidup manusia tujuh puluh tahun dan jika kuat, delapan puluh tahun, dan “kebanggaannya” adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan manusia melayang lenyap (Mzm. 90:10). Kata “kebanggaan” di sini terkesan aneh. Mengapa dikatakan kebanggaan? Dalam teks aslinya adalah rohab (רֹהַב). Yang bisa diterjemahkan kekuatan (strength), keangkuhan dan kesombongan (arrogant and pride, object of pride).

Ternyata kata rohab bisa mengandung semacam kata sindiran (satire). Seakan-akan Pemazmur mau mengatakan, setelah melewati perjalanan panjang, apa yang dapat dibanggakan? Beberapa konglomerat tinggal di rumah mewah, hari tuanya hanya tergeletak antara hidup dan mati ditemani oleh suster dan alat medis. Dalam kemiskinan di hadapan Tuhan seperti yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus di Lukas 12:19-20, orang-orang seperti ini sebenarnya telah ditangisi oleh Tuhan dengan ucapan-Nya: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu” (Luk. 19:42). Suatu keadaan yang sangat tragis. Betapa malangnya orang-orang seperti ini. Orang-orang seperti ini pasti gentar terhadap kematian. Tetapi karena mereka tenggelam dengan kekayaan dunia, seakan-akan mereka terkondisi tidak gentar terhadap kematian. Tetapi suatu saat ketika menghadapi realitas ini, mereka pasti akan gemetar dan sangat menyesal karena tidak belajar takut akan Allah.

Seharusnya realitas kematian yang bisa menjemput orang setiap saat, menjadi sesuatu yang menggetarkan jiwa. Kalau seseorang sudah tidak pernah tergetarkan oleh realitas ini, maka ia tidak pernah takut akan Allah. Manusia lebih digetarkan oleh banyak hal (masalah dunia fana), tetapi tidak takut akan Allah. Seharusnya seseorang tergetarkan oleh karena realitas ini, sehingga sungguh-sungguh menjadi takut akan Allah dan berdamai dengan Allah secara benar pula. Harus diperhatikan, bahwa seseorang yang datang ke gereja belum berarti bahwa orang tersebut telah berdamai dengan Allah. Perdamaian dengan Allah ditandai dengan kesediaan hidup menuruti segala keinginan-Nya. Oleh sebab itu kita harus berpikir seakan-akan kematian sudah di depan mata, atau hari ini adalah hari terakhir kita. Dengan demikian kita akan sungguh-sungguh mempersiapkan diri dengan benar. Kalau kematian benar-benar menjemput dan kita diperhadapkan kepada penghakiman Tuhan, kita sudah siap, bahkan bersukacita.

.......


July 06, 2019, 05:13:16 AM
Reply #2648
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Penyesatan yang terjadi dewasa ini kepada jemaat adalah dikesankan bahwa kalau sudah percaya kepada Tuhan Yesus dan pergi ke gereja berarti sudah berdamai dengan Allah. Padahal mereka tidak tahu bagaimana percaya itu. Mereka telah tertipu oleh ajaran gereja tertentu dan rezimnya yang mendevaluasi kebenaran. Mereka merasa sudah nyaman dan merasa telah memiliki jaminan keselamatan. Padahal keselamatan harus dikerjakan sejak masih hidup di dunia. Perpindahan ke surga bukan nanti setelah mati, tetapi sejak hidup di dunia ini kita harus melakukan perpindahan. Tuhan Yesus berkata: “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21). Orang yang masih mencintai dunia ini artinya bersahabat dengan dunia, dan menjadikan dirinya musuh Allah. Bersahabat dengan dunia artinya memiliki pengertian bahwa dunia dan segala hiburannya dapat membahagiakan hidupnya.


July 07, 2019, 04:18:21 PM
Reply #2649
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22907
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18419/0/07-JULI-2019-BUAH-KEHIDUPAN-SEPERTI-YESUS.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18419/1/07-JULI-2019-BUAH-KEHIDUPAN-SEPERTI-YESUS.amr

07. BUAH KEHIDUPAN SEPERTI YESUS
  6 July 2019 | Renungan Harian
BUAH-KEHIDUPAN-SEPERTI-YESUS Download (55)
BUAH-KEHIDUPAN-SEPERTI-YESUS Download (48)

Tuhan Yesus mengatakan agar manusia takut akan Allah yang berkuasa bukan saja membunuh tubuh, tetapi juga yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka (Mat. 10:28). Takut akan Allah pasti diwujudkan secara konkret dalam kehidupan ini dengan melakukan kehendak-Nya. Kenyataan yang kita temukan dalam kehidupan orang Kristen, jangankan melakukan kehendak-Nya, mengerti kehendak-Nya saja tidak. Bagaimana bisa mengerti kehendak-Nya kalau tidak memiliki kecerdasan roh atau kepekaan? Bagaimana memiliki kepekaan kalau tidak belajar Injil dengan benar? Belajar Injil dengan benar artinya tekun dan sungguh-sungguh berani mengorbankan yang lain, lebih dari mengasihi dunia ini.

Orang yang mengasihi dunia pikirannya menjadi gelap, ia tidak akan bisa mengerti kebenaran (Luk. 16:11). Dengan pikiran gelap, maka gaya hidupnya pun tidak sesuai dengan standar Allah. Orang-orang yang berada di bawah standar Allah ini, tidak akan bisa berjalan dengan Tuhan (hubungannya dengan Allah tidak harmonis). Mereka belum bisa bersekutu dengan Allah Bapa. Inilah yang dimaksud dengan belum berdamai dengan Allah. Dalam hal ini perdamaian dengan Allah bukan saja pengakuan atau status, tetapi sebuah keberadaan konkret di mana seseorang bersekutu dengan Tuhan secara harmoni. Itulah sebabnya kalimat “diperdamaikan dengan Allah” menuntut respons dari kedua belah pihak. Allah menyediakan fasilitas pendamaian, dan manusia merespons dengan tanggung jawab.

Persoalan paling penting dalam kehidupan orang percaya adalah apakah ketika menghadap Tuhan ada buah yang dapat dipersembahkan kepada-Nya? Buah itu adalah melakukan dengan baik segala sesuatu yang Tuhan inginkan. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak harus dipenuhi, sebab memang manusia diciptakan untuk melakukan kehendak-Nya. Jadi, buah di sini adalah perbuatan, perilaku, dan sikap hati yang memberi kepuasan di hati Tuhan, sampai seseorang memiliki “hati melakukan kehendak-Nya,” memiliki natur melakukan kehendak Tuhan tanpa dipaksa atau ditekan oleh hukum. Inilah ciri dari anak Allah yang telah diperagakan oleh Tuhan Yesus. Selanjutnya, Tuhan memberikan kemampuan untuk seseorang bisa berbuah, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa beralasan mengapa tidak berbuah.

Dalam perumpamaan mengenai penabur benih, dikisahkan bahwa tidak semua orang yang mendengar Firman Tuhan bisa bertumbuh dan berbuah (Luk. 8:5-15). Kelompok pertama, adalah orang yang walaupun mendengar Injil tetapi tidak pernah menjadi orang percaya (Luk. 8:12). Kuasa antikris -yaitu ajaran atau agama yang menolak Yesus adalah Tuhan- telah mengunci pikiran mereka atau membutakan pengertian mereka sehingga mereka tidak pernah bisa menerima Tuhan Yesus Kristus. Kelompok kedua, adalah mereka yang mendengar Injil, menjadi orang Kristen tetapi tidak berani membayar harga percayanya karena telah terikat dengan percintaan dunia, sehingga tidak berani mengalami aniaya. Perlu dipahami bahwa pada zaman itu kalau orang berani percaya kepada Tuhan Yesus, maka mereka akan mengalami aniaya (Luk. 8:13). Banyak orang lebih memilih untuk menyelamatkan nyawanya daripada kehilangan nyawanya.

Kelompok ketiga, adalah orang-orang yang tidak mengalami aniaya, tidak menolak Tuhan Yesus, tetapi masih mencintai dunia. Mereka memang berbuah, tetapi buahnya tidak matang (Luk. 8:14). Kata “matang” dalam teks aslinya adalah telesphoreo (τελεσφορέω), yang artinya dewasa. Jadi buah yang dihasilkan tidak dewasa. Tuhan menghendaki kedewasaan. Kehendak Tuhan harus dituruti secara mutlak. Ini adalah kelompok orang-orang Kristen yang masih membagi hatinya terhadap dunia ini, sehingga kebenaran Firman Tuhan tidak bisa sepenuhnya bertumbuh.

Kelompok keempat, adalah orang-orang yang mendengar Firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati yang baik; mengeluarkan buah dalam ketekunan (Luk. 8:15). Mengeluarkan buah dalam ketekunan menunjukkan bahwa untuk berbuah, seseorang harus berjuang keras. Kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang dituntut untuk berbuah (Yoh. 15:1-7). Jika tidak berbuah akan dipotongnya, tetapi yang berbuah akan dibuat semakin lebat buahnya. Inilah orang-orang yang rela meninggalkan segala sesuatu untuk mengiring Yesus, orang-orang yang tidak memperhitungkan dunia dengan segala hiburannya dapat membahagiakan dirinya.

.......

 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)