Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 117706 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

July 17, 2019, 05:39:27 AM
Reply #2670
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Jika seseorang sudah merasakan damai sejahtera Allah yang sejati yang melampaui segala akal tersebut, maka ia tidak akan mengingini yang lain. Tujuan hidupnya adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Tentu saja untuk mencapai level ini seseorang harus terus menerus mengalami pembaharuan pikiran dan pergaulan pribadi dengan Tuhan. Orang percaya yang menjadikan Tuhan dan Kerajaan-Nya sebagai tujuan, akan berusaha untuk mengikuti gaya hidup Tuhan Yesus guna menyukakan hati Bapa. Tidak mungkin seseorang yang menikmati damai sejatera Tuhan tidak memiliki kerinduan untuk serupa dengan Tuhan Yesus. Damai sejahtera itu tidak dapat dinikmati tanpa karakter seperti Tuhan Yesus.

July 18, 2019, 05:39:53 AM
Reply #2671
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18446/0/18-JULI-2019-SESUAI-DENGAN-PORSINYA.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18446/1/18-JULI-2019-SESUAI-DENGAN-PORSINYA.amr

18. SESUAI DENGAN PORSINYA
  17 July 2019 | Renungan Harian
SESUAI-DENGAN-PORSINYA Download (32)
SESUAI-DENGAN-PORSINYA Download (28)

Kualitas hidup Kekristenan yang baik, ditandai dengan kesibukan hidup bersama dengan Tuhan. Tuhan begitu nyata dalam hidup mereka, dan pengaruh dari pergaulannya dengan Tuhan begitu kelihatan dan dirasakan oleh orang di sekitarnya. Tuhan tidak akan berurusan dengan orang yang tidak mau berurusan secara benar dengan Tuhan. Banyak orang Kristen yang tidak berurusan secara benar dengan Tuhan, mereka adalah orang-orang yang memandang hidup ini secara keliru. Hal ini disebabkan oleh karena miskinnya pemahaman mengenai kebenaran. Mereka tidak mengerti arti menjadi anak tebusan yang harus dimiliki Tuhan dan hidup sepenuhnya bagi rencana keselamatan. Mereka sibuk bagaimana memiliki dunia ini dan menikmatinya. Bagi mereka cara hidup seperti itu wajar, padahal itu bukan cara hidup anak-anak Allah. Mereka pasti tidak menghormati Tuhan secara pantas. Kalaupun mereka berurusan dengan Tuhan, itu karena mereka hendak menggunakan Tuhan untuk kepentingan pribadinya.

Orang-orang Kristen seperti itu diajar bahwa Tuhan Yesus datang untuk memutuskan berbagai kutuk untuk menyingkirkan segala rintangan hidup agar orang Kristen hidup makmur. Pembicara-pembicara seperti itu membangun sosok Tuhan yang tidak diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam Injil-Nya. Hal ini sudah terjadi pada abad mula-mula Kekristenan muncul (2Kor. 11:2-4; Gal. 1:9-10). Inilah nabi-nabi palsu yang sekarang sangat “sukses” dalam pelayanan gereja. Kalau pemberitaan Firmannya salah, maka dibangunnyalah pengalaman-pengalaman “fiktif” yang sangat subyektif dan cirinya adalah tidak logis dan mistis. Tentu ajaran mereka tidak bisa dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah. Karena jemaat tidak mengerti kebenaran, mereka tidak tahu kalau ternyata telah dibohongi dan diperdaya. Tidak heran kalau gereja-gereja seperti ini penuh dengan kesaksian-kesaksian mengenai pengalaman dengan Tuhan yang “mengagumkan.”

Orang-orang Kristen seperti di atas begitu mudah mengatakan Tuhan memberikan visi-visi, Tuhan berbicara, Tuhan menyatakan diri sehingga bisa bertemu langsung dengan Tuhan, dan lain sebagainya. Ironisnya mereka tidak memfokuskan diri kepada langit baru dan bumi yang baru. Mereka pasti berusaha mengesankan diri mereka sangat dekat dengan Tuhan dan istimewa di hadapan-Nya dengan bukti secara materi diberkati atau memiliki banyak, atau dengan demonstrasi mukjizat kuasa Allah. Akhirnya kental nuansa munculnya sosok yang dikultuskan dan usaha untuk menunjukkan bahwa gerejanya adalah gereja paling hebat, lebih suci dan benar dibanding dengan gereja lain. Sampai pada taraf seakan-akan hanya dirinya dan gerejanya yang paling benar.

Kalau kita berjalan dengan Tuhan, maka akan sangat mudah mengenali kalau ada orang yang mengaku memiliki pengalaman dengan Tuhan secara fiktif. Semakin spektakuler pengalaman dengan Tuhan yang disaksikan, maka semakin harus dicurigai, sebab Tuhan lebih banyak berurusan dengan anak-anak-Nya secara wajar dan natural dalam kehidupan setiap hari dalam pengalaman konkret. Semakin seseorang dewasa rohani dan mengenal kebenaran yang murni dari Alkitab, akan semakin mengalami Tuhan secara riil setiap hari melalui pengalaman biasa setiap hari. Kalau orang-orang percaya berkumpul bersama dalam pertemuan-pertemuan di gereja, maka yang terpenting harus diadakan adalah pemberitaan Firman yang benar, sebab dari hal ini mereka belajar bagaimana memandang hidup dengan benar. Sebab inilah panduannya. Panduan yang benar akan membawa seseorang pada pengalaman yang benar dengan Tuhan. Pengalaman yang benar ini seperti “menghidupkan Tuhan” dalam kehidupannya. Ini bukan berarti Tuhan mati.

Tuhan adalah Allah yang hidup, tetapi seberapa banyak pengalaman dengan Dia tergantung masing-masing individu. Ini bukan karunia, tetapi tergantung pilihan dan keputusan masing-masing individu. Tuhan tidak diskriminatif. Banyak orang berpikir bahwa nyata tidaknya Tuhan dalam kehidupan seseorang tergantung karunia dan kerelaan hati Tuhan. Kesalahan ini juga dipicu oleh para pembicara yang mengesankan bahwa untuk menjadi istimewa harus memiliki karunia khusus. Memang setiap orang memiliki porsi yang berbeda, tetapi hal itu tidaklah berarti kalau tidak disertai dengan respon yang bertanggung jawab dari masing-masing individu. Mereka yang diberi banyak akan dituntut banyak.

.......

July 18, 2019, 05:40:19 AM
Reply #2672
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


.......


Kita tidak boleh menuntut Tuhan untuk kita memiliki pengalaman yang sama dengan orang lain, tetapi kita harus menemukan sendiri bagian kita secara maksimal, sebab setiap kita memiliki porsi sendiri. Porsi ideal itu adalah pertama, pembentukan Tuhan sesuai dengan keadaan masing-masing. Ini sama dengan hajaran Tuhan (Ibr. 12:4-10). Porsi ideal yang kedua, adalah tugas pelayanan yang dipercayakan kepada masing-masing individu. Porsi pelayanan sama dengan salib yang diberikan kepada setiap orang yang telah memiliki sikap official, karena inilah rancangan Tuhan menjadikan orang percaya sebagai kawan sekerja Allah. Masing-masing memiliki salib yang berbeda (Mat. 10:38). Tuhan memberikan salib sesuai dengan kapasitas masing-masing, dan kapasitas tersebut berdasarkan kedewasaannya, hasil dari pembentukan atau hajaran Tuhan.
July 19, 2019, 05:22:35 AM
Reply #2673
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18448/0/19-JULI-2019-BUKAN-KELEMAHAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18448/1/19-JULI-2019-BUKAN-KELEMAHAN.amr

19. BUKAN KELEMAHAN
  18 July 2019 | Renungan Harian
BUKAN-KELEMAHAN Download (23)
BUKAN-KELEMAHAN Download (34)

Murid-murid Yesus dan orang-orang yang selama ini mengikut Tuhan Yesus dan berharap dapat mengubah nasib mereka, melihat bahwa Tuhan Yesus tunduk kepada kekuatan Roma, maka semangat mereka menjadi patah. Selama ini mereka mengikut Tuhan Yesus dengan mempertaruhkan segenap hidup mereka, meninggalkan segala sesuatu adalah karena mereka hendak mengubah nasib atau keadaan hidup mereka. Mereka mau menjadi orang terhormat di mata manusia. Dengan ditangkapnya Tuhan Yesus, disiksa, dan dihukum mati, maka mereka menjadi tawar hati dan meninggalkan Tuhan Yesus. Murid-murid yang terutama -yang selama itu ada di samping Tuhan Yesus- begitu kecewa sampai mereka bermaksud kembali ke profesi semula, di antaranya sebagai penjala ikan. Bisa dibayangkan bagaimana dengan profesi Matius sebagai pemungut cukai, tidak mudah ia dapat menduduki kembali jabatan yang pernah didudukinya. Langit hidup mereka menjadi runtuh. Kebersamaan dengan Tuhan Yesus selama tiga setengah tahun yang penuh harapan, sirna sekejap. Mereka memandangnya seperti sebuah mimpi sangat buruk. Sulit bagi mereka menerima kenyataan itu.

Hal itu terjadi sebab mereka tidak tahu rencana Allah dan kebenaran-Nya. Mereka memaksakan rencana mereka sendiri dan membangun kebenaran mereka sendiri pula. Pada dasarnya mereka tidak mengikut Tuhan Yesus, tetapi mereka bermaksud agar Tuhan Yesus mengikut mereka. Kejayaan yang mereka maksudkan dan harapkan adalah kejayaan dan kemuliaan yang berbeda dengan konsep Tuhan. Hal ini memberi pelajaran yang mahal bagi kita orang percaya sekarang ini. Inti Kekristenan adalah mengenakan cara berpikir Tuhan. Ketidakberdayaan-Nya menghadapi kekuatan agama Yahudi dan Roma bukanlah sebuah kekalahan atau kelemahan, justru itulah kekuatan.

Tuhan Yesus bukan tidak sanggup membela diri dengan menurunkan malaikat dari surga, tetapi Ia memilih menderita sampai mati di salib. Dengan cara itulah Ia memuliakan Allah Bapa. Itulah kekuatan. Sesuatu disebut sebagai kekuatan kalau melakukan apa yang Allah Bapa kehendaki, walau di mata manusia dianggap sebagai kelemahan dan ketidakberdayaan. Dalam kehidupan orang percaya yang benar, kita diajar untuk memberi diri mengikuti jejak Tuhan Yesus dengan menaati kehendak-Nya. Walaupun untuk itu kita dianggap lemah, tidak berdaya, dan bodoh. Dengan mengikuti kehendak Bapa, kita bisa dianggap tidak beruntung dibanding mereka yang berani berlaku curang. Demi kebenaran kita harus berani tidak memiliki kelimpahan materi seperti mereka yang ada di jalan orang fasik. Bahkan kita harus berani tidak memiliki apa-apa demi kehidupan yang akan datang. Untuk ini, cara berpikir kita harus sesuai dengan cara berpikir Tuhan.

Dengan berpikir menggunakan cara berpikir Tuhan, maka prinsip-prinsip hidup kita akan bertolak belakang dengan cara berpikir dunia. Bagi mereka yang dianggap kemegahan adalah kekayaan dunia dan segala kehormatannya. Tetapi bagi orang percaya yang bernilai tinggi adalah ketaatan kepada kehendak Allah, apa pun keadaannya. Dalam hal ini kemegahan hidup bukanlah diukur dari penampilan lahiriah dan duniawi. Betapa kontrasnya prinsip Kekristenan yang berbeda dengan prinsip manusia pada umumnya. Padahal setiap hari –begitu seseorang membuka mata- yang dikejar orang dunia adalah kemegahan fisik atau materi. Mereka tidak mengerti bagaimana melakukan kehendak Tuhan. Mereka tidak akan mengerti kalau ada orang-orang yang tekun belajar kebenaran Firman Tuhan, menyediakan diri bertemu dengan Tuhan setiap hari dan berusaha menjaga kesucian hidupnya.

Tidak sedikit orang-orang yang tidak mengerti kebenaran memandang orang-orang Kristen yang berbuat demikian adalah orang-orang fanatik yang picik atau dianggap sebagai korban indoktrinasi hamba-hamba Tuhan tertentu. Mereka adalah juga orang Kristen, tetapi tidak fanatik seperti itu. Mereka memandang bahwa diri mereka sudah menjadi Kristen yang proporsional. Bila berbeda dengan pandangan Kekristenan mereka, akan dianggap sebagai “fanatik dan keterlaluan.” Itulah yang di mata mereka sebagai kebodohan, yang sama nadanya dengan “kelemahan.”

.......

July 19, 2019, 05:22:55 AM
Reply #2674
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Memang menjadi orang percaya harus fanatik yang sehat. Fanatik yang sehat artinya memang bersikap berlebihan, tetapi tidak membabi buta sebab membela Tuhan dan meyakini-Nya dengan pengertian. Hal ini telah dilakukan oleh Tuhan Yesus, dalam keyakinan-Nya kepada Allah Bapa dan pembelaan serta ketaatan-Nya kepada Allah Bapa sangat luar biasa; Tuhan Yesus taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Satu sisi, di mata orang Kristen kebanyakan fanatisme seperti itu adalah kebodohan yang senada dengan kelemahan, tetapi di mata Allah adalah proporsional. Dan itulah kekuatan. Tentu saja fanatisme orang percaya yang benar tidak melukai siapa pun. Fanatisme yang sehat akan melahirkan kesucian hidup, kehidupan yang bertanggung jawab terhadap keluarga, masyarakat, bangsa, dan gereja Tuhan. Untuk memiliki fanatisme yang sehat seperti Tuhan Yesus kepada Allah Bapa, kita harus berani menyangkal diri dan memikul salib. Inilah yang harus menjadi pergumulan utama hidup ini, menjadi seperti Tuhan Yesus.

July 20, 2019, 05:32:39 AM
Reply #2675
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18451/0/20-JULI-2019-KEKHAWATIRAN-YANG-POSITIF.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18451/1/20-JULI-2019-KEKHAWATIRAN-YANG-POSITIF.amr

20. KEKHAWATIRAN YANG POSITIF
  19 July 2019 | Renungan Harian
KEKHAWATIRAN-YANG-POSITIF Download (14)
KEKHAWATIRAN-YANG-POSITIF Download (14)

Dalam khotbah di bukit, Tuhan Yesus menyinggung mengenai hal kekhawatiran (Mat. 6:25-34). Dari teks-teks tersebut disimpulkan agar kita tidak khawatir. Kekhawatiran menjadi kata yang selalu berkonotasi negatif. Mengapa demikian? Sebab hal ini terjadi karena banyak orang tidak memperhatikan konteks ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai kekhawatiran tersebut. Konteks percakapan pada waktu itu adalah agar orang percaya tidak mengumpulkan harta di bumi, dan memindahkan hati mereka di Kerajaan Surga. Nasihat bahwa kekayaan bisa menggelapkan pengertian dan puncaknya adalah agar setiap orang mengabdi hanya kepada Tuhan; kepada Tuhan saja atau tidak sama sekali. Bila direlasikan dengan konteks tersebut, maka segala kepentingan kita harus ditiadakan, selain untuk mempersiapkan diri memasuki kehidupan yang sesungguhnya nanti di surga, dengan mempertajam pengertian untuk mengenal kebenaran dan kepentingan untuk mengabdi kepada Tuhan. Tentu saja Tuhan sendiri akan mendukung penuh kehendak-Nya ini terwujud dalam kehidupan orang percaya.

Apa sebenarnya kekhawatiran itu? Kekhawatiran adalah perasaan terancam oleh suatu hal atau oleh sesuatu yang bisa atau akan terjadi menimpa dirinya sehingga menimbulkan ketidaktenangan dalam hati. Bisa terjadi artinya bisa benar-benar terjadi atau tidak. Jika demikian berarti kekhawatiran bisa membuat seseorang bereaksi menghindarkan diri dari ancaman tersebut. Jadi, kalau tidak ada kekhawatiran sama sekali, maka hal tersebut akan membuat seseorang menjadi tidak waspada terhadap suatu keadaan yang bisa terjadi menimpa dirinya. Tuhan Yesus berkata: “Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Mat. 6:25). Ini bukan berarti kekhawatiran selalu negatif, harus diingat bahwa kekhawatiran membangkitkan kewaspadaan dan sikap berjaga-jaga.

Kalau dilihat dari konteksnya, maksud ayat tersebut adalah agar orang percaya mencari nafkah, makanan, dan pakaian bukan demi makanan dan pakaian itu sendiri. Tetapi demi agar maksud Tuhan menempatkan manusia sebagai orang percaya, diwujudkan. Sehingga dalam hal ini seseorang tidak boleh memiliki target duniawi atau jasmani. Targetnya adalah mengumpulkan harta di surga, membangun pengertian untuk mengenal kebenaran, dan mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan (Mat. 6:19-24). Kekhawatiran yang salah adalah perasaan terancam terhadap sesuatu lebih dari kekhawatirannya tidak memiliki harta surgawi dan terbuang dari hadirat Allah. Orang-orang yang memiliki kekhawatiran yang salah tidak akan menghargai nilai-nilai kekekalan atau nilai-nilai rohani.

Adalah suatu kesalahan kalau dikesankan secara terselubung atau terang-terangan kepada jemaat bahwa Tuhan pasti memelihara hidup orang percaya, tetapi di lain pihak mengabaikan tanggung jawab untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan. Seakan-akan dengan pernyataan Tuhan Yesus agar tidak khawatir merupakan janji bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan secara otomatis. Dalam hal ini pengertian agar orang percaya tidak khawatir harus dipahami dengan benar. Dalam Matius 6:25-34 Tuhan Yesus sama sekali tidak mengajarkan bahwa orang percaya boleh “percaya saja” (aktivitas pikiran), maka Bapa akan memelihara tanpa syarat. Hal ini akan merusak kinerja dan mental orang percaya.

Tuhan Yesus menunjuk burung di langit dan bunga bakung di ladang sebagai contoh. Burung di langit adalah burung yang pergi mencari nafkah dan bunga bakung di ladang adalah bunga hidup yang terus menyerap makanan, tak berhenti bekerja. Tuhan hendak mengajarkan bahwa ada wilayah yang harus dipenuhi oleh manusia, seperti burung terbang di langit mencari makanan dan seperti bunga bakung yang menyerap makanan. Tetapi ada wilayah Tuhan yang tidak bisa dikontrol dan dikendalikan oleh manusia. Berkenaan dengan hal ini Tuhan Yesus berkata: “Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya” (Mat. 6:27).

.......


July 20, 2019, 05:33:02 AM
Reply #2676
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Orang percaya harus memenuhi bagiannya dengan tekun, adapun hal yang tidak bisa ditanggulangi oleh manusia -sebab di luar kemampuannya- itu menjadi bagian Tuhan. Hendaknya kita menghindarkan jemaat dari salah pengertian, bahwa seakan-akan nasihat “jangan khawatir” melegalkan orang percaya untuk tidak perlu giat bekerja. Hal ini mengesankan bahwa Tuhan akan menopang segala sesuatu, walaupun anak Bapa tersebut tidak giat dan tekun bekerja. Tidak semua kekhawatiran adalah sebuah pelecehan terhadap Tuhan, seakan-akan karena dengan khawatir seseorang mengatakan bahwa Allah tidak sanggup mengurus hidupnya. Allah sanggup mengurus hidup umat-Nya, tetapi kalau umat-Nya tidak mengurus hidupnya dengan benar maka pasti akan hidup dalam kekurangan. Perlu ada kekhawatiran yang positif, yaitu kekhawatiran yang menggerakkan seseorang berjaga-jaga, bekerja keras dan bertanggung jawab. Kekhawatiran yang paling prinsip adalah kekhawatiran terbuang dari hadirat Allah.


July 21, 2019, 04:35:39 AM
Reply #2677
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.truth-media.com/2019/

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18453/0/21-JULI-2019-HIDUP-LEBIH-PENTING-DARI-MAKANAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18453/1/21-JULI-2019-HIDUP-LEBIH-PENTING-DARI-MAKANAN.amr

21. HIDUP LEBIH PENTING DARI MAKANAN
  20 July 2019 | Renungan Harian
HIDUP-LEBIH-PENTING-DARI-MAKANAN Download (16)
HIDUP-LEBIH-PENTING-DARI-MAKANAN Download (12)

Dalam Matius 6:25 Tuhan Yesus berkata: “Janganlah khawatir akan hidupmu, …Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Apa maksud Tuhan Yesus mengatakan bahwa “hidup lebih penting dari makanan dan tubuh lebih penting dari pakaian?” Kata “hidup” dalam teks ini adalah psuke (ψυχῇ), yang artinya jiwa. Dalam jiwa ada pikiran, perasaan, dan kehendak. Tuhan hendak menunjukkan bahwa pemeliharan pikiran, perasaan, dan kehendak -yaitu manusia batiniah- lebih penting dari makanan jasmani untuk pertumbuhan fisik (nourishment; Yun. trophes τροφῆς). Dengan pernyataan ini Tuhan Yesus hendak menunjukkan bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti saja. Maksud Tuhan Yesus dengan pernyataan-Nya tersebut adalah jangan karena makanan jasmani (roti), seseorang mengabaikan pemeliharaan manusia batiniah yang lebih penting, sebab membawa dampak abadi.

Pada umumnya manusia mengusahakan segala sesuatu demi kepuasan jasmaninya. Hal ini seperti orang-orang Roma yang gelojoh (serakah atau rakus). Mereka makan sekenyang-kenyangnya, kemudian dimuntahkan dan makan lagi. Tuhan hendak menunjukkan bahwa orang percaya tidak boleh khawatir, karena tidak berkelebihan atau karena kurang puas dengan makanan yang tersedia. Bapa pasti memelihara lebih dari burung di udara. Kekhawatiran di sini adalah kekhawatiran yang sama seperti orang kaya dalam Lukas 12:16-21. Apa yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus sinkron dengan yang dikemukakan Paulus, asal ada makanan dan pakaian cukup. Hidup bukan untuk makan, tetapi makan untuk hidup.

Tuhan Yesus mengatakan bahwa tubuh lebih penting dari pakaian. Kata “tubuh” di sini adalah soma (σῶμα) dan “pakaian” dalam teks aslinya adalah endumatos (ἐνδύματος) yang artinya jubah luar (outer robe). Dalam hal ini Tuhan mengingatkan kepada manusia yang tidak menggunakan tubuhnya dengan benar. Yang lebih mendandani dirinya dengan jubah luar yang megah dalam pemandangan mata manusia, tetapi tidak menggunakan tubuhnya untuk kemuliaan Allah. Inilah yang dilakukan oleh manusia sejak zaman dahulu; demi penampilan, mereka mengusahakan segala sesuatu bukan bertujuan untuk mengabdi kepada Allah, tetapi demi dirinya sendiri. Jadi “kekhawatiran” di sini adalah kekhawatiran “kurang terhormat,” khawatir kurang berpenampilan menarik. Padahal Tuhan pasti memelihara tubuh yang adalah milik-Nya demi kemuliaan nama-Nya dan kepentingan Kerajaan Allah. Tuhan Yesus menunjukkan bahwa bunga di padang didandani lebih dari Salomo, maka orang percaya pasti dipelihara lebih dari semua itu. Kalau kekhawatiran orang percaya karena tidak bisa bermegah dengan penampilan, maka berarti ia tidak mengumpulkan harta di surga.

Selanjutnya dalam Matius 6:30 tertulis: “Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?” Apa maksud pernyataan Tuhan ini? Kalau rumput fana yang tidak bernilai tinggi dipelihara oleh Allah (seperti juga burung), maka orang percaya akan dipelihara lebih dari semua itu. Tentu pemeliharaan Allah bukan hanya menyangkut kehidupan jasmani yang sementara, sebab manusia adalah makhluk kekal. Pemeliharaan Allah memiliki jangkauan yang lebih luas atau lebih mulia. Sayang sekali, banyak orang Kristen yang berpikir dangkal, mereka memandang Matius 6:30 sekadar janji bahwa Tuhan akan memelihara kehidupan mereka di bumi dengan sempurna (makan dan minum serta pemenuhan kebutuhan jasmani), tetapi mereka tidak melihat rencana Allah di balik pemeliharaan jasmani tersebut.

Pemeliharaan Allah atas kehidupan jasmani anak-Anak Bapa dimaksudkan agar mereka bisa menyelenggarakan maksud dan tujuan hidup sebagai orang percaya, yaitu mengumpulkan harta di surga dan mendahulukan Kerajaan Allah tanpa gangguan atau tanpa hambatan (Mat. 6:19-21,33). Dengan demikian pemenuhan kebutuhan jasmani bukanlah tujuan atau goalnya. Dalam hal ini orang percaya harus bisa diajak sepikiran atau sevisi dengan Allah, yaitu untuk tidak fokus pada hal-hal duniawi. Itulah sebabnya Tuhan Yesus tegas berkata agar orang percaya tidak mengumpulkan harta di bumi, tetapi agar orang percaya harus mengumpulkan harta di surga.

........

July 21, 2019, 04:36:01 AM
Reply #2678
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

.......

Allah tidak menghendaki manusia dibuang ke dalam lautan api (Why. 20:15). Itulah sebabnya Tuhan Yesus dalam pernyataan-Nya menganalogikan manusia dengan rumput. Rumput didandani dengan bunga indah yang mekar pada pagi hari, tetapi sorenya dibuang ke dalam api. Manusia dikehendaki oleh Allah setelah 70–80 tahun umur hidupnya bisa mendiami Kerajaan-Nya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata agar orang percaya mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Kalau pengertian seseorang tumpul atau pengertiannya gelap (Mat. 6:22), maka mereka tidak akan bisa menangkap maksud Tuhan di balik kalimat dalam Matius 6:30 tersebut. Mereka hanya menganggap Tuhan berurusan dengan makan dan minum serta pakaian jasmani. Padahal perspektif Tuhan memandang hidup adalah kekekalan.

July 22, 2019, 06:21:58 AM
Reply #2679
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22917
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://www.truth-media.com/2019/

22. TUHAN SATU-SATUNYA KEBAHAGIAAN
  21 July 2019 | Renungan Harian
TUHAN-SATU-SATUNYA-KEBAHAGIAAN Download (35)
TUHAN-SATU-SATUNYA-KEBAHAGIAAN Download (15)

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18455/0/22-JULI-2019-TUHAN-SATU-SATUNYA-KEBAHAGIAAN.mp3

http://www.truth-media.com/podpress_trac/web/18455/1/22-JULI-2019-TUHAN-SATU-SATUNYA-KEBAHAGIAAN.amr


Kekristenan adalah jalan hidup yang hanya bisa dikenakan oleh segelintir orang yang tidak berharap kebahagiaan hidup di dunia. Dan memang kebahagiaan dunia sangat terbatas. Untuk hal yang bersifat temporal atau bernilai sementara tetapi harus mengorbankan yang abadi adalah suatu kebodohan. Tidak berharap kebahagiaan hidup di dunia bukan berarti tidak bahagia, justru Tuhan akan menggirangkan kita dengan segala hal yang ada pada kita. Memang pada dasarnya kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang. Ketika seorang penduduk desa bisa memiliki sebuah sepeda yang dapat membawa kayu bakar dari rumah ke pasar untuk bisa dijualnya, hal tersebut sudah sangat membahagiakan. Sebaliknya, ketika seorang pengusaha di kota besar bisa membeli mobil mewah -tetapi ia tidak merasa puas- maka mobil mewahnya tidak membahagiakan hatinya.

Seseorang merasakan kebahagiaan atau tidak itu tergantung dari cara orang tersebut memandang hidup. Kalau cara pandang hidupnya sudah salah, menganggap yang dapat membahagiakan hatinya adalah sesuatu yang menjadi target, maka ia akan diperbudak oleh sesuatu itu. Penduduk desa tersebut sebenarnya juga diperbudak oleh sepeda, karena sepeda itulah yang dapat membahagiakan hatinya. Untung hanya sepeda yang kekuatan sosial ekonominya rendah. Kalaupun ada korban, kecil korbannya. Bagaimana kalau targetnya adalah pesawat pribadi, kapal pesiar, rumah mewah seharga di atas 100 milyar, dan lain sebagainya yang memiliki kekuatan sosial ekonomi besar? Maka akan makan korban dalam jumlah yang lebih besar juga. Manusia yang sudah terbelenggu oleh filosofi hidup yang salah akan terus terbelit oleh filosofinya tersebut sampai membunuh dirinya dan membunuh banyak orang. Orang seperti ini tidak dapat mengikut Tuhan Yesus.

Selama orang masih berharap bahwa dunia bisa memberikan hidup yang lengkap, utuh, bahagia, aman, dan nyaman, maka ia tidak akan pernah dapat mengenakan Kekristenan yang sejati. Kekristenan yang dikenakan pasti palsu. Tetapi inilah kodrat manusia pada umumnya. Hal ini diwariskan oleh orang tua kepada kita dan yang dapat diserap dari lingkungan dunia di sekitar. Korban Tuhan Yesus di kayu salib hendak menebus kita dari cara hidup yang salah ini (1Ptr. 1:18). Cara hidup yang benar adalah menyiapkan akal budi, tetap waspada (tidak mengikut jalan dunia) dan meletakkan pengharapan seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepada orang percaya pada waktu penyataan Yesus Kristus (1Ptr. 1:13). Itu berarti, lebih dari menggumuli pencapaian dari segala hal yang diharapkan dapat membahagiakan diri, seorang anak Bapa harus hidup dalam ketaatan kepada Allah Bapa dan menjadi kudus dalam seluruh kehidupannya (1Ptr. 1:14-16).

Hampir tidak ada orang yang berani hidup tanpa memperoleh kebahagiaan dari dunia ini. Bagaimanapun dan dengan cara apa pun, pada umumnya orang akan berusaha memeroleh sesuatu yang bisa dinikmati dalam hidup ini dari dunia dan manusia sekitarnya. Itulah sebabnya semua orang pasti pernah terjerat percintaan dunia; keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1Yoh. 2:15-17). Hal ini sudah menjadi kodrat yang tidak bisa disangkal dan tidak bisa dihindari, yang sudah melekat dalam kehidupan setiap insan. Fakta ini terjadi didorong oleh suatu pemikiran (sadar atau tidak) bahwa hidup hanya satu kali di dunia ini. Seakan-akan tidak ada lagi kehidupan yang sama seperti di dunia ini setelah kematian. Itulah sebabnya semua orang tidak mau kehilangan kesempatan untuk “hidup” di bumi dengan cara dan keadaan yang sama yang dimiliki orang lain.

.......



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)