Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 130632 times)

0 Members and 5 Guests are viewing this topic.

November 04, 2019, 05:58:36 AM
Reply #2830
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Berasal Dari Allah Sendiri
04 November 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/10/04-NOVEMBER-2019-BERASAL-DARI-ALLAH-SENDIRI.mp3

Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Maksudnya, manusia tidak memiliki kehidupan tepat persis seperti yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Keadaan manusia seperti ini adalah keadaan manusia yang pasti tidak dapat memiliki fellowship dengan Allah sebagai Bapa. Ini berarti sebuah kehidupan yang meleset atau tidak sesuai dengan rancangan Allah semula dalam menciptakan manusia. Allah tidak menghendaki kehidupan seperti ini, sebaik apa pun keadaan orang tersebut di mata manusia. Dalam hal ini, orang percaya harus memahami bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat secara mutlak dan absolut. Kehendak-Nya harus dituruti secara penuh atau sempurna, mutlak, dan absolut. Dengan keadaan manusia yang benar, kedua belah pihak—antara Allah dan manusia—dapat saling mengisi. Allah berkehendak untuk menikmati manusia sebagai anak-anak-Nya dengan standar “kenikmatan” yang dikehendaki oleh Dia.

Ketika manusia pertama tidak mencapai standar yang Allah inginkan, Allah mengusir Adam dari Taman Eden. Sekilas, hal ini mengesankan bahwa Allah adalah pribadi yang kejam dan sewenang-wenang. Namun, sebenarnya tidak demikian sebab Allah menghendaki persekutuan yang eksklusif. Akan tetapi, Adam tidak memenuhi standar sehingga ia harus undur dari hadapan Allah. Allah berhak bertindak demikian. Namun sebelum hal itu terjadi, Allah sudah memberi peringatan. Ini seperti sebuah perjanjian antara Allah dengan Adam, bahwa ketidaktaatan Adam membuat Adam kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Di sini manusia diperlakukan sebagai pribadi yang terhormat yang dipandang dapat dipercayai atau diberi tanggung jawab. Ketika manusia mengingkari tanggung jawabnya, manusia pun harus menuai akibatnya. Tatanan keadilan Allah menuntut hal tersebut ditegakkan.

Manusia adalah makhluk yang sangat berharga di mata Allah Bapa, tetapi bukan berarti manusia secara otomatis atau dengan sendirinya bisa hidup dalam persekutuan dengan Bapa. Manusia diberi tanggung jawab untuk memilih: apakah mau menjadi anak-anak Allah atau anak-anak Iblis. Menjadi anak-anak Allah berarti hidup dalam persekutuan dengan Dia. Sebaliknya, jika tidak demikian berarti manusia memosisikan diri sebagai pemberontak. Dalam hal ini, apakah seseorang mau menjadi agung atau tidak, itu tergantung pada dirinya sendiri. Hidup di dalam dunia yang singkat ini merupakan satu-satunya kesempatan untuk membangun keagungan pribadi sebagai anak- anak Allah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus datang memberi kuasa atau hak supaya orang percaya menjadi anak-anak Allah. Adapun apakah seseorang menggunakan kuasa atau hak (Yun. exousia) tersebut atau tidak, itu tergantung masing-masing individu dan hal tersebut menentukan kualitas hidupnya.

Sebenarnya, peta hidup manusia sudah jelas, bahwa di ujung perjalanan hidup di bumi ini adalah kematian, dan sesudah itu manusia diperhadapkan kepada penghakiman. Jika seseorang meninggal dunia, tidak ada satu pun benda dan kehormatan yang ia telah diperjuangkan selama hidup akan dibawa. Sebagaimana seseorang datang sendiri, ia pun akan pulang sendiri. Sebagaimana seseorang tanpa membawa apa-apa datang ke dunia ini, ia pun akan kembali tanpa membawa apa-apa juga. Ini adalah sesuatu yang pasti dan merupakan hukum kehidupan yang tidak dapat ditolak. Seharusnya, setiap orang memikirkan apa yang bisa dibawa sebagai bekal dalam kehidupan yang akan datang nanti.

Dalam Ayub 1: 21 tertulis, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya …!” Pengertian kata “kandungan ibu” di sini bisa menunjuk kepada Allah Bapa sebagai pemberi roh. Itulah sebabnya dapat dikatakan bahwa manusia berasal dari Allah (Kej. 2:7; Pkb. 12:7). Kata “mengaruniakan” dalam Pengkhotbah 12:7 adalah natan (ןתנ), yang lebih tepat diterjemahkan: memberikan atau menempatkan atau ditempatkan (be laid). Makhluk manusia bukan tidak jelas asal muasalnya. Manusia berasal dari Allah sendiri sehingga orang percaya yang telah dilahirkan oleh Allah boleh memanggil Dia sebagai Bapa.

Harus disadari betapa berharganya manusia sebab di dalam dirinya ada roh dari Allah. Inilah yang diperjuangkan oleh Allah Bapa, sehingga Bapa mengutus Putra Tunggal-Nya untuk menebus manusia. Dalam hal ini, manusia seakan-akan seharga dengan diri Anak Tunggal-Nya yang paling dikasihi-Nya. Bapa menghendaki agar roh yang berasal dari Dia—yang diberi daging—melakukan kehendak-Nya; bukan melakukan kehendak dan keinginannya sendiri. Jika manusia melakukan keinginannya sendiri, ia menjadikan dirinya sebagai musuh Allah, Bapanya (Yak. 4:1-5). Orang yang hidup hanya melakukan keinginan dirinya sendiri tidak akan dapat memiliki persekutuan yang benar dengan Allah sebagai Bapa.




November 05, 2019, 05:42:25 AM
Reply #2831
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Keberhargaan Manusia
05 November 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/11/05-NOVEMBER-2019-KEBERHARGAAN-MANUSIA.mp3

Tidak banyak orang yang menyadari betapa berharganya manusia. Keberhargaan manusia bukan karena ia memiliki metabolisme tubuh dan seluruh keberadaan fisiknya yang luar biasa sehingga bisa berinteraksi dengan alam secara sempurna dan bisa menikmatinya secara berlimpah di dalam atau dengan tubuh fisiknya. Berharganya hidup manusia adalah karena adanya potensi dan kesempatan untuk berinteraksi dengan Dia yang Mahaagung, Bapa di surga dan Anak Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Seharusnya, setiap insan menyadari, mengakui, dan menerima bahwa salah satu maksud atau tujuan penciptaan manusia yang terutama adalah agar manusia dapat memiliki relasi atau hubungan yang benar dengan Bapa-Nya. Dengan relasi itu, Allah sebagai Bapa dan manusia sebagai anak bisa saling mengisi dalam relasi yang saling membahagiakan. Relasi seperti ini telah dimiliki oleh Bapa dengan Anak Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus, di kekekalan. Jadi, di kekekalan, Allah Bapa telah memadu kasih dengan Anak Tunggal- Nya itu. Relasi seperti ini adalah relasi yang dikehendaki oleh Allah Bapa dengan anak- anak-Nya yang lain, yaitu manusia. Sejak semula, memang Yesus adalah Anak Sulung Allah Bapa dari banyak anak-anak Allah lainnya.

Relasi manusia dengan Allah sebagai Bapa adalah relasi yang khas dan unik yang tidak bisa disejajarkan dengan relasi dengan siapa pun dan apa pun. Relasi ini lebih dari sekadar “istimewa,” karena begitu “sangat istimewa” dan luar biasa. Demi terbangunnya relasi ini, orang percaya harus mengerti dan menerima bahwa manusia adalah benar- benar anak-anak Allah. Keberadaan manusia sangat luar biasa. Hal ini memberi potensi manusia dapat berinteraksi dengan Allah, Bapanya. Relasi yang dibangun antara Allah sebagai Bapa dan manusia sebagai anak adalah relasi yang dirancang sebagai relasi kekal. Itulah sebabnya manusia diciptakan sebagai makhluk kekal. Dengan demikian, manusia sebenarnya tidak dirancang untuk mengalami kematian. Manusia dirancang untuk memiliki kekekalan seperti Bapa juga kekal. Seandainya manusia tidak memberontak kepada Allah, Bapanya, manusia dapat memiliki kehidupan yang tidak berakhir, sebuah kehidupan yang berlangsung dalam keabadian. Allah yang besar, agung dan mulia, serta cerdas adalah Allah yang merancang kehidupan sempurna bagi manusia dalam keabadian agar dapat berinteraksi dengan diri-Nya. Namun dalam perjalanan sejarah kehidupan, manusia sendiri merusak rancangan Allah yang sangat baik dalam dirinya tersebut.

Kehidupan yang dimiliki manusia hari ini bukanlah kehidupan ideal yang dirancang Allah. Ini adalah kehidupan yang sudah merosot nilainya, jauh dari rancangan semula Allah. Kehidupan di bumi menjadi produk kehidupan yang gagal atau rusak karena manusia yang diberi kehidupan itu sendiri merusaknya dengan pemberontakannya terhadap Allah. Keadaan ini tentu saja bukan kesalahan pihak Allah. Namun dalam kasih- Nya, Allah sebagai Bapa, berkenan menyelamatkan manusia, anak-anak-Nya.

Untuk penyelamatan ini Allah harus mengurbankan milik kesayangan-Nya, yaitu Anak Tunggal- Nya yang ada “di pangkuan Allah Bapa” dan yang menjadi kesukaan Bapa sebelum dunia diciptakan. Allah Bapa memberi keselamatan kepada manusia melalui dan di dalam Anak Tunggal-Nya, supaya manusia dapat dikembalikan kepada rancangan semula Allah, yaitu memiliki relasi yang istimewa dengan diri Allah, Bapanya.

Allah memiliki segala sesuatu, tetapi apa pun dan siapa pun yang Allah Bapa miliki tidak akan melebihi milik kesayangan-Nya, yaitu Putra Tunggal-Nya. Namun demi kecintaan Allah Bapa kepada manusia, ia memberikan Anak Tunggal-Nya tersebut. Terkait dengan hal ini, Firman Tuhan menyatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Kalau orang Kristen tidak memiliki relasi yang dikehendaki oleh Allah Bapa seperti rancangan semula, orang Kristen tersebut belum mengenal dan memiliki keselamatan yang Allah berikan. Hidup kekal dalam ayat ini bukan hanya mengenai kehidupan nanti di surga, melainkan juga kehidupan sekarang di bumi. Kualitas kehidupan sekarang di bumi justru menunjukan kehidupan yang akan datang nanti di kekekalan. Jadi, peta kehidupan seseorang hari ini menunjukkan peta kehidupannya di kekekalan nanti. Oleh sebab itu, setiap orang percaya harus berjuang untuk menemukan relasi istimewa dengan Allah, Bapanya, selama hidup di bumi.
November 06, 2019, 05:24:21 AM
Reply #2832
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Pengertian Sempurna
06 November 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/11/06-NOVEMBER-2019-PENGERTIAN-SEMPURNA.mp3

Dalam membahas tema buku ini, mau tidak mau kita harus memahami apa yang dimaksud dengan “sempurna” itu. Kesempurnaan artinya keadaan atau sesuatu yang bersifat sempurna. Kata “sempurna” sebenarnya bisa memiliki banyak pengertian, antara lain: utuh, lengkap atau tidak kurang, berkeadaan tidak bercacat dan tidak bercela, telah selesai, tuntas, teratur, bekerja secara benar, sampai tujuan atau mencapai yang ditargetkan, dan baik sekali. “Kesempurnaan mutlak” hanya ada pada Allah. Kesempurnaan mutlak adalah sempurna dalam arti tidak terbatas, tidak terhingga, tidak pernah dan tidak akan pernah bercacat serta tidak bercela sama sekali, tidak pernah dan tidak akan pernah tidak lengkap, selalu utuh dan segala sesuatunya selalu teratur. Kesempurnaan yang dibicarakan dalam buku ini bukanlah kesempurnaan Allah, sebab kesempurnaan Allah sudah selesai, tidak perlu diragukan lagi. Banyak orang selalu menghubungkan kesempurnaannya dengan keberadaan Allah. Ini adalah pemikiran yang salah sehingga mereka menolak ketika ada yang membahas kesempurnaan terkait dengan manusia.

Mereka yang menolak fakta manusia bisa sempurna atau berkenan di hadapan Allah pasti tidak berjuang maksimal atau secara proporsional untuk bertumbuh di dalam Tuhan. Dengan pemikiran yang salah mengenai hal tersebut, mereka ber-mental block, artinya sudah merasa tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai kapan pun. Pikiran mereka telah terpasung oleh pemikiran tersebut, sehingga mereka sudah gagal sebelum mencoba atau berusaha. Kesempurnaan yang dibicarakan dalam buku ini adalah keberadaan manusia yang harus menjadi lengkap, utuh, tidak bercacat, dan tidak bercela di hadapan Allah. Memang tidak salah kalau ada pemikiran bahwa manusia adalah makhluk lemah dalam kaitannya dengan perilakunya untuk menjadi sempurna. Sangatlah benar bahwa manusia tidak akan pernah bisa menjadi sempurna dengan kekuatannya sendiri. Dosa telah mengunci manusia dalam ketidakberdayaan untuk melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Namun, keselamatan dalam Yesus Kristus menyediakan fasilitas untuk sempurna seperti Bapa, artinya dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah (Mat. 5:48). Bagi manusia, hal menjadi sempurna memang mustahil, tetapi tidak bagi Allah (Mat. 19:26).

Seharusnya, setiap orang percaya memahami dengan benar kata “sempurna” sesuai dengan konteks Alkitab. Penolakan terhadap kebenaran ini sangat merugikan. Orang percaya tidak boleh bersikap skeptis. Skeptis artinya kurang percaya atau tidak yakin bisa melakukan jika hal ini berkaitan dengan pengajaran sehingga ragu-ragu untuk memercayainya. Skeptis terkait dengan kemungkinan dapat sempurna artinya tidak yakin, ragu-ragu, dan memandang terlalu sulit untuk dapat mencapai kesempurnaan. Firman Tuhan menyatakan bahwa orang percaya harus sempurna. Ini berarti bahwa orang percaya bisa mencapai kesempurnaan. Sikap skeptis adalah sikap tidak memercayai pribadi Allah. Kesempurnaan masing-masing individu itu berbeda. Sikap skeptis menunjukkan ketidakpahamannya mengenai kesempurnaan orang percaya di dalam Tuhan. Orang-orang tersebut pasti tidak pernah menggumulinya dengan benar. Sikap curiga dan skeptis ini akhirnya berujung pada penolakan. Penolakan terhadap panggilan untuk sempurna sama dengan penolakan untuk mengerjakan keselamatan, penolakan untuk menjadi seperti Yesus dan lulus sebagai corpus delicti.

Setiap orang percaya mendapat panggilan untuk mencapai kesempurnaan tersebut. Untuk itu, perhatian orang percaya tidak boleh terbelah sehingga dapat mengganggu

pertumbuhan untuk menjadi sempurna seperti Bapa. Dalam kesaksiannya, Paulus menyatakan, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (Flp. 3:12). Orang percaya yang benar dan mengerti panggilannya pasti berjuang untuk mencapai kesempurnaan; sehingga suatu hari nanti, ketika menutup mata, mereka dijumpai Tuhan berkeadaan berkenan di hadapan-Nya.

==========



November 06, 2019, 05:24:43 AM
Reply #2833
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
==========

Dalam hal ini, kesempurnaan berpijak dan berangkat dari keinginan dan kehendak Allah. Hal ini sama dengan bahwa kesempurnaan itu berorientasi pada diri Allah sendiri, yaitu pada pikiran dan perasaan Allah, yang merupakan segala sesuatu yang menyenangkan hati-Nya. Dari hal ini sangat dapat dimengerti mengapa Paulus mengatakan bahwa yang diusahakan adalah mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Rm. 12:2). Selanjutnya, Paulus berusaha untuk berkenan kepada Allah, sebab kehidupan setiap orang akan diperhadapkan kepada penghakiman-Nya (2Kor. 5:9- 10). Suatu sikap atau tindakan yang tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak Allah itu bukanlah kesempurnaan, walaupun hal tersebut tampaknya baik dan tidak melanggar norma umum manusia. Untuk mencapai kesempurnaan ini, orang percaya harus menyelesaikan panggilannya dengan sempurna.



November 07, 2019, 07:09:29 AM
Reply #2834
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Sempurna Dalam Kesucian
07 November 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/11/07-NOVEMBER-2019-SEMPURNA-DALAM-KESUCIAN.mp3

Pembahasan tentang kesempurnaan tidak dapat lepas dari kesucian. Apakah sebenarnya “kesucian” itu? “Kesucian,” dari akar kata “suci,” dalam bahasa Indonesia bisa berarti: bersih, bebas dari dosa, tidak bersalah, tidak bernoda, tidak bercela, dan murni. Sinonim dari kata “suci” adalah “kudus.” Memahami kesucian dari perspektif Kekristenan harus didasarkan pada apa yang dikemukakan Alkitab. Dalam Kekristenan, “kesucian” menunjuk pada keadaan di mana seseorang dapat bersekutu dengan Allah karena berkeadaan sesuai dengan kesucian Allah. Ini bukan hanya keadaan tidak melakukan pelanggaran terhadap hukum, tetapi memiliki keadaan diri di mana seseorang bisa sepikiran dan seperasaan dengan Allah. Kesucian di sini bukanlah hanya kesucian lahiriah, melainkan juga kesucian batiniah. Kesucian ini bukan sekadar keadaan tidak berdosa karena tidak melakukan suatu perbuatan amoral yang kelihatan, melainkan juga suatu sikap hati yang tidak mengandung unsur-unsur kejahatan terhadap sesama (Mat. 15:17-20).

Kesempurnaan dalam kesucian bukanlah fantasi sebab kesempurnaan dalam konteks kehidupan orang percaya memiliki ukuran Tuhan sendiri. Kalau Tuhan adalah pribadi yang hidup dan benar-benar nyata, ukuran kesempurnaan juga benar-benar nyata, bukan sebuah fantasi atau halusinasi. Orang yang tidak mengakui adanya kesempurnaan yang berdasarkan perspektif Allah bisa mendekati keadaan ateis, artinya ia tidak mengakui keberadaan Allah. Orang Kristen seperti ini tidak berusaha untuk berinteraksi dengan Allah untuk mengerti kehendak Allah dan melakukannya. Mereka dapat membuat rumusan, definisi, kajian dan doktrin-doktrin teologi, tetapi tidak bersentuhan dengan Allah secara pribadi. Ironisnya, justru kelompok ini adalah mereka yang belajar teologi dan menjadi pengajar di sekolah-sekolah teologi dan bahkan menjadi pejabat sinode di dalam gereja.

Banyak orang Kristen tidak mau mengerti bahwa orang percaya dipanggil untuk sempurna dalam kesucian. Sempurna dalam kesucian di sini adalah kehidupan yang bersih dalam ukuran manusia sesuai dengan yang ditargetkan atau dikehendaki Allah untuk dicapai seseorang. Kesempurnaan dalam kesucian masing-masing individu tentu saja sesuai dengan kapasitas yang dapat dicapai oleh masing-masing individu tersebut. Dalam hal ini, setiap komunitas dan individu memiliki tuntutan yang berbeda. Bagi umat pilihan Perjanjian Lama, mereka hanya dituntut untuk melakukan Hukum Taurat dengan sebaik-baiknya atau sesempurna mungkin. Namun untuk umat pilihan Perjanjian Baru, mereka dituntut untuk serupa dengan Tuhan Yesus. Standar kesucian umat Perjanjian Baru bukan Hukum, melainkan Tuhan sendiri. Itulah sebabnya orang percaya harus berprinsip, “Tuhan adalah hukumku.”

Oleh sebab itu, orang percaya harus berurusan dengan Allah secara pribadi. Orang percaya harus memiliki kepekaan terhadap kehendak Allah dan menemukan penilaian Allah terhadap dirinya. Orang percaya yang benar selalu “menggelar perkara” di hadapan Allah. Perkara yang digelar adalah dirinya sendiri, yaitu apakah keadaan dirinya sudah berkenan di hadapan Allah atau belum. Orang percaya yang menggelar perkara di hadapan Allah selalu mempersoalkan, “Apakah ada hal-hal yang Tuhan kehendaki yang masih belum dilakukan atau apakah keberadaan orang percaya tersebut sudah memuaskan hati Allah atau belum?” Dalam hal ini, orang percaya harus belajar dari pemazmur yang meminta kepada Tuhan agar Tuhan menyelidiki dirinya. Maksud hal tersebut adalah untuk menemukan apakah jalannya serong atau menyimpang (Mzm. 139:23-24). Koreksi diri ini harus menjadi irama hidup dan kebiasaan setiap hari.

Dalam pergumulan hidup orang percaya untuk mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak-Nya, pusat hidupnya bukanlah hukum yang tertulis, tetapi Allah sendiri. Dengan demikian, orang percaya, tidak bisa tidak, harus menjadi teosentris, bukan antroposentris. Teosentris di sini berarti menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan, dimana orang percaya hidup hanya untuk melakukan kehendak Allah, bukan kehendaknya sendiri. Yesus adalah model atau prototipe atau purwarupa manusia yang memiliki kesempurnaan dalam kesucian Sebagai umat pilihan yang ditentukan untuk serupa dengan Dia, orang percaya memiliki panggilan untuk berjuang menjadi serupa dengan Yesus. Perjuangan untuk serupa dengan Yesus sebenarnya sama artinya

dengan perjuangan untuk sempurna dalam kesucian. Orang percaya harus menghabiskan sisa umur hidupnya hanya untuk menyelesaikan dengan sempurna kesucian hidupnya yang berstandar Yesus. Bagi mereka yang sisa umur hidupnya tinggal beberapa tahun, ia sejatinya harus lebih memiliki perasaan krisis, yaitu bagaimana memanfaatkan waktu yang ada untuk mencapai kesempurnaan dalam kesucian.




November 08, 2019, 05:52:49 AM
Reply #2835
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Dinamika Relasional
08 November 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/11/08-NOVEMBER-2019-DINAMIKA-RELASIONAL.mp3

Dalam Amsal 30:18-19 tertulis sebagai berikut, “Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal yang tidak kumengerti: jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.” Kata “yang mengherankan” berasal dari kata bahasa Ibrani, pawlaw ( ָּפ א ל ), yang bisa berarti sesuatu “yang menakjubkan” atau “memukau” karena luar biasa (to be marvellous, be wonderful). Penulis Amsal menunjukkan kekagumannya terhadap karya Allah yang luar biasa tersebut. Salah satunya adalah “jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.” Frasa ini dalam bahasa Inggris diterjemahkan “the way of a man with a virgin.” Hal ini menunjuk relasi yang menakjubkan kalau seorang pria dan wanita saling jatuh cinta. Relasi yang terbangun antara kedua insan tersebut adalah keajaiban yang Allah ciptakan.

Kecakapan Allah bukan hanya ditunjukkan dengan menciptakan alam semesta beserta hukum-hukumnya, melainkan juga hubungan antar pribadi yang merupakan bukti atau ekspresi dari keahlian Tuhan semesta alam. Allah juga menciptakan segala tatanan atau hukum alam, seperti: jalannya kapal di atas air yang sesuai dengan Hukum Archimedes, salah satu hukum dari sekian banyak hukum yang mengatur kehidupan. Allah juga menciptakan relasi istimewa antara diri-Nya dengan orang percaya. Dalam Efesus 5:31- 32, Paulus menjelaskan hubungan istimewa antara pria dan wanita yang terikat dalam hubungan suami istri, yang dinilai mengandung misteri, dan ternyata dapat menjadi lambang hubungan Kristus dengan jemaat-Nya. Paulus menulis, “This is a great mystery: but I speak concerning Christ and the church” (Alkitab terjemahan King James Version dari Ef. 5:32). Dalam tulisan yang lain Paulus menunjukkan bahwa hubungan jemaat dengan Tuhan Yesus itu sebagai hubungan mempelai pria dengan mempelai wanita (2Kor. 11:2- 3). Perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan menemukan hubungan yang luar biasa antara orang percaya sebagai mempelai wanita dengan Yesus sebagai mempelai pria, dan juga hubungan antara orang percaya sebagai anak dengan Allah sebagai Bapa.

Agar manusia sebagai anak bisa berinteraksi dengan Allah sebagai Bapanya, manusia harus memiliki komponen-komponen yang ada pada Allah dan juga memiliki kualitas yang baik atas komponen-komponen tersebut. Itulah sebabnya manusia diciptakan menurut gambar Allah dan juga dikehendaki untuk memiliki rupa atau kualitas seperti yang dikehendaki Allah. Komponen-komponen yang ada pada diri manusia yang juga ada pada diri Allah adalah pikiran dan perasaan. Dengan pikiran dan perasaan tersebut, manusia dapat membangun kehendak atau keinginan. Dengan keinginan atau kehendak, manusia bisa memilih untuk hidup dalam pemberontakan atau penurutan terhadap Allah. Ini berarti manusia dapat memilih untuk mengasihi dan menghormati Allah, atau tidak mengasihi dan tidak menghormati Dia. Dengan keberadaan manusia seperti ini, terbuka peluang terjadinya sebuah dinamika yang tulus, jujur, dan natural antara Allah dan manusia.

Kalau manusia didesain untuk harus mengasihi dan menghormati Allah—sehingga manusia secara otomatis melakukannya—tidak ada dinamika yang tulus, jujur, dan natural antara Allah dan manusia. Dalam hal ini, arah dan nasib manusia seakan-akan sudah ditentukan oleh Allah. Jelas, ini tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Kebenaran adanya kehendak bebas supaya manusia bisa ber-“fellowship” dengan Allah sebagai Bapa dengan tulus, jujur ,dan natural ditunjukkan dengan fragmen Allah menempatkan dua buah pohon di Taman. Allah memberi nasihat dan peringatan kepada Adam dan Hawa yang mewakili manusia yang akan dihadirkan di bumi. Kemudian faktanya, Allah tidak mencegah ketika mereka memetik buah yang dilarang untuk dikonsumsi tersebut. Tentu sebagai akibat dan konsekuensinya adalah manusia gagal memiliki kehidupan yang berkualitas untuk dapat membangun relasi dengan Allah sebagai Bapa.

==========




November 08, 2019, 05:53:14 AM
Reply #2836
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
==========

Dinamika relasi yang indah yang seharusnya terbangun antara manusia sebagai anak dan Allah sebagai Bapa telah gagal karena manusia tidak mencapai standar kualitas manusia yang serupa dengan Allah. Manusia memang masih memiliki pikiran dan perasaan, dan manusia masih bisa memiliki kehendak atau keinginan, tetapi kehendak atau keinginan manusia terkunci dalam keadaan tidak akan pernah mampu mencapai standar kesucian Allah. Dalam hal ini, manusia telah kehilangan kemuliaan Allah seperti yang dikemukakan Paulus di dalam Roma 3:23. Dalam teks aslinya kata “kehilangan” adalah yustereo, yang lebih tepat diterjemahkan kekurangan atau tidak mencapai standar. Karena manusia tidak mencapai standar kesucian Allah, manusia tidak bisa membangun hubungan yang sepatutnya dengan Allah sebagai Bapa. Kesempatan hidup di bumi sebagai orang percaya harus dipergunakan hanya untuk menyelesaikan dengan sempurna panggilan agar memiliki relasi dengan Allah tersebut.




November 09, 2019, 05:24:27 AM
Reply #2837
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Dinamika Relasional
08 November 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/11/08-NOVEMBER-2019-DINAMIKA-RELASIONAL.mp3

Dalam Amsal 30:18-19 tertulis sebagai berikut, “Ada tiga hal yang mengherankan aku, bahkan, ada empat hal yang tidak kumengerti: jalan rajawali di udara, jalan ular di atas cadas, jalan kapal di tengah-tengah laut, dan jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.” Kata “yang mengherankan” berasal dari kata bahasa Ibrani, pawlaw ( ָּפ א ל ), yang bisa berarti sesuatu “yang menakjubkan” atau “memukau” karena luar biasa (to be marvellous, be wonderful). Penulis Amsal menunjukkan kekagumannya terhadap karya Allah yang luar biasa tersebut. Salah satunya adalah “jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis.” Frasa ini dalam bahasa Inggris diterjemahkan “the way of a man with a virgin.” Hal ini menunjuk relasi yang menakjubkan kalau seorang pria dan wanita saling jatuh cinta. Relasi yang terbangun antara kedua insan tersebut adalah keajaiban yang Allah ciptakan.

Kecakapan Allah bukan hanya ditunjukkan dengan menciptakan alam semesta beserta hukum-hukumnya, melainkan juga hubungan antar pribadi yang merupakan bukti atau ekspresi dari keahlian Tuhan semesta alam. Allah juga menciptakan segala tatanan atau hukum alam, seperti: jalannya kapal di atas air yang sesuai dengan Hukum Archimedes, salah satu hukum dari sekian banyak hukum yang mengatur kehidupan. Allah juga menciptakan relasi istimewa antara diri-Nya dengan orang percaya. Dalam Efesus 5:31- 32, Paulus menjelaskan hubungan istimewa antara pria dan wanita yang terikat dalam hubungan suami istri, yang dinilai mengandung misteri, dan ternyata dapat menjadi lambang hubungan Kristus dengan jemaat-Nya. Paulus menulis, “This is a great mystery: but I speak concerning Christ and the church” (Alkitab terjemahan King James Version dari Ef. 5:32). Dalam tulisan yang lain Paulus menunjukkan bahwa hubungan jemaat dengan Tuhan Yesus itu sebagai hubungan mempelai pria dengan mempelai wanita (2Kor. 11:2- 3). Perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan menemukan hubungan yang luar biasa antara orang percaya sebagai mempelai wanita dengan Yesus sebagai mempelai pria, dan juga hubungan antara orang percaya sebagai anak dengan Allah sebagai Bapa.

Agar manusia sebagai anak bisa berinteraksi dengan Allah sebagai Bapanya, manusia harus memiliki komponen-komponen yang ada pada Allah dan juga memiliki kualitas yang baik atas komponen-komponen tersebut. Itulah sebabnya manusia diciptakan menurut gambar Allah dan juga dikehendaki untuk memiliki rupa atau kualitas seperti yang dikehendaki Allah. Komponen-komponen yang ada pada diri manusia yang juga ada pada diri Allah adalah pikiran dan perasaan. Dengan pikiran dan perasaan tersebut, manusia dapat membangun kehendak atau keinginan. Dengan keinginan atau kehendak, manusia bisa memilih untuk hidup dalam pemberontakan atau penurutan terhadap Allah. Ini berarti manusia dapat memilih untuk mengasihi dan menghormati Allah, atau tidak mengasihi dan tidak menghormati Dia. Dengan keberadaan manusia seperti ini, terbuka peluang terjadinya sebuah dinamika yang tulus, jujur, dan natural antara Allah dan manusia.

Kalau manusia didesain untuk harus mengasihi dan menghormati Allah—sehingga manusia secara otomatis melakukannya—tidak ada dinamika yang tulus, jujur, dan natural antara Allah dan manusia. Dalam hal ini, arah dan nasib manusia seakan-akan sudah ditentukan oleh Allah. Jelas, ini tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Kebenaran adanya kehendak bebas supaya manusia bisa ber-“fellowship” dengan Allah sebagai Bapa dengan tulus, jujur ,dan natural ditunjukkan dengan fragmen Allah menempatkan dua buah pohon di Taman. Allah memberi nasihat dan peringatan kepada Adam dan Hawa yang mewakili manusia yang akan dihadirkan di bumi. Kemudian faktanya, Allah tidak mencegah ketika mereka memetik buah yang dilarang untuk dikonsumsi tersebut. Tentu sebagai akibat dan konsekuensinya adalah manusia gagal memiliki kehidupan yang berkualitas untuk dapat membangun relasi dengan Allah sebagai Bapa.

==========




November 09, 2019, 05:24:48 AM
Reply #2838
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

===========

Dinamika relasi yang indah yang seharusnya terbangun antara manusia sebagai anak dan Allah sebagai Bapa telah gagal karena manusia tidak mencapai standar kualitas manusia yang serupa dengan Allah. Manusia memang masih memiliki pikiran dan perasaan, dan manusia masih bisa memiliki kehendak atau keinginan, tetapi kehendak atau keinginan manusia terkunci dalam keadaan tidak akan pernah mampu mencapai standar kesucian Allah. Dalam hal ini, manusia telah kehilangan kemuliaan Allah seperti yang dikemukakan Paulus di dalam Roma 3:23. Dalam teks aslinya kata “kehilangan” adalah yustereo, yang lebih tepat diterjemahkan kekurangan atau tidak mencapai standar. Karena manusia tidak mencapai standar kesucian Allah, manusia tidak bisa membangun hubungan yang sepatutnya dengan Allah sebagai Bapa. Kesempatan hidup di bumi sebagai orang percaya harus dipergunakan hanya untuk menyelesaikan dengan sempurna panggilan agar memiliki relasi dengan Allah tersebut.




November 10, 2019, 04:35:42 AM
Reply #2839
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23801
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Terkunci Oleh Bapa
10 November 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/11/10-NOVEMBER-2019-TERKUNCI-OLEH-BAPA.mp3

Oleh karena kasih-Nya, Allah mengunci manusia dengan keadaan di mana ia tidak akan pernah dapat dipuaskan tanpa Allah sebagai Bapanya dalam atau melalui relasi yang ideal. Hal ini dimaksudkan agar manusia hidup hanya untuk mencari dan bergantung kepada Allah sebagai Bapanya. Mencari dan bergantung kepada Allah bukan karena pemenuhan kebutuhan jasmani atau karena hal apa pun, melainkan karena kebutuhan untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah guna memuaskan dahaga jiwa. Dengan demikian, manusia tidak akan pernah dapat hidup terpisah dari Allah sebagai Bapa. Allah mengunci manusia dengan cara menaruh keadaan unik dan istimewa dalam dirinya tersebut. Keadaan unik yang ada pada manusia ini tidak ada dalam makhluk lain. Keadaan unik itu ialah seperti adanya rongga kosong dalam jiwa manusia yang tidak bisa diisi oleh siapa pun dan apa pun selain oleh Allah sendiri.

Allah sebagai Bapa yang menciptakan langit dan bumi juga menciptakan manusia dengan keadaan memiliki rongga kosong di dalam diri manusia yang hanya bisa diisi oleh Allah sebagai Bapa. Dalam hal ini, Allah mengunci manusia dengan kehausan yang tidak dapat dipuaskan oleh siapa pun dan apa pun selain oleh Allah sendiri. Tuhan Yesus menyatakan bahwa jika manusia minum air dari dunia ini, ia akan menjadi haus lagi; tetapi kalau ia minum air yang diberikan oleh Tuhan Yesus, ia akan menjadi puas (Yoh. 4:13-14). Air yang dimaksud adalah persekutuan dengan Allah sebagi Bapa. Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa diri-Nya adalah Air Kehidupan. Tentu maksudnya adalah dengan menemukan Yesus, manusia dipertemukan dengan Allah sebagai Bapanya sebab Yesus adalah satu-satunya jalan, kebenaran, dan hidup untuk dapat sampai kepada Bapa.

Sebenarnya, kehausan jiwa terhadap Allah sudah disadari oleh umat Perjanjian Lama, sehingga mereka bisa mengatakan, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” (Mzm. 42:2-3). Di bagian lain, terdapat pengakuan ini, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Mzm. 73:25-26). Hal ini bisa dialami oleh mereka yang memiliki persekutuan dengan Allah. Mereka menyadari kehausan jiwa seperti itu. Namun faktanya, memang sangat sedikit umat Perjanjian Lama yang menyadari akan kehausan ini.

Dengan demikian, rongga kosong yang membuat manusia bisa merasakan kehausan tersebut menjadi ikatan yang kudus bagi manusia dengan Allah Bapa. Ini bukan ikatan yang membinasakan, melainkan ikatan yang menghidupkan. Manusia justru seharusnya bersyukur dengan adanya ikatan tersebut sebab tanpa ikatan ini manusia menjadi liar dan terhilang. Inilah belenggu yang memerdekakan. Sebaliknya, kalau manusia terpisah atau merdeka dari Allah, manusia justru memosisikan dirinya dalam belenggu kebinasaan.

Oleh kasih-Nya, Bapa menempatkan kehausan akan diri-Nya dalam kehidupan manusia yang adalah anak-anak-Nya, agar manusia tidak dapat terpisah dari diri- Nya sebagai Bapanya. Sesungguhnya, inilah yang membatasi manusia. Manusia bisa tidak dibatasi dalam daya nalar dan intelektual atau rasionya. Bahkan kemungkinan besar, manusia bisa menciptakan segala sesuatu yang tidak terbatas, meskipun tentu tidak akan pernah bisa menyamai Allah. Namun bagaimana pun, manusia tidak pernah akan dapat dibebaskan dari kehausan yang kudus, yaitu kehausan untuk memiliki persekutuan dengan Allah, Bapanya. Kalau orang tidak memiliki kehausan yang kudus, yaitu kehausan akan Allah, Bapanya, ia akan terjebak dengan kehausan terhadap perkara-perkara dunia fana ini.

Dalam keadaan manusia yang sudah rusak, manusia bisa tidak merasa terikat dengan Allah, malahan semakin memberontak. Manusia akan semakin menjauh dari Allah dengan mengingini banyak hal dalam dunia ini. Banyak orang Kristen yang belum menyadari keadaan mereka yang masih terbelenggu dengan percintaan dunia, sehingga jika hal itu tidak diakhiri orang Kristen itu akan binasa. Pada dasarnya, setiap orang harus memilih, apakah terikat dengan Alah sebagai Bapanya atau terikat dengan dunia di mana Iblis yang menjadi bapanya. Sejak hidup di dunia ini seseorang harus benar-benar memutuskan siapakah yang akan menjadi Bapanya. Kalau orang percaya menjadikan Allah sebagai Bapanya, ketika menutup mata, Bapa akan mengutus malaikat-Nya untuk menjemputnya pulang ke rumah Bapa.




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)