Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 132146 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

November 27, 2019, 05:22:23 AM
Reply #2860
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
==========

Tuhan Yesus telah naik ke surga, sehingga kehadiran-Nya tidak dapat dilihat dengan mata jasmani manusia. Namun, Ia mau tampil dalam gelanggang dunia ini melalui dan di dalam kehidupan orang percaya. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan bahwa orang percaya memancarkan kemuliaan Tuhan (2Kor. 3:3, 18). Dalam hal ini, orang percaya mencerminkan kemuliaan Tuhan. Melalui kehidupan orang percaya, orang akan menemukan terang Allah dan pribadi Tuhan Yesus Kristus. Diharapkan sebelum menutup mata, seseorang sudah menyelesaikan dengan sempurna pendandanan manusia batiniahnya sehingga memiliki kecantikan rohani yang menyukakan hati Allah.





November 28, 2019, 05:39:57 AM
Reply #2861
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://www.rehobot.org/beranda_renungan/

Meninggalkan Dunia Ini
28 November 2019
00:00

http://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/11/28-NOVEMBER-2019-MENINGGALKAN-DUNIA-INI.mp3

Semua orang yang mengikut Yesus harus meninggalkan dunia ini. Meninggalkan dunia ini bukan berarti tidak lagi ada di dunia. Ia masih tetap di dunia, tetapi dengan cara hidup yang baru. Dengan kata lain, meninggalkan dunia berarti melepaskan segala sesuatu, mengosongkan diri, “biarlah orang mati menguburkan orang mati,” “tidak menoleh ke belakang,” “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan,” dan banyak lagi. Salah satu ciri dari orang yang sudah meninggalkan dunia adalah: Pertama, ia tidak lagi mengharapkan kebahagiaan dunia ini. Hal ini dimaksudkan agar orang percaya tidak terikat lagi dengan dunia ini. Untuk hal ini, yang dilawan ada dua hal, yaitu: pengaruh dunia yang sudah mengikat jiwa dan keinginan dosa dalam daging. Kalau seseorang masih terikat dengan dosa-dosa dalam daging, itu berarti ia masih memiliki diri sendiri. Hal ini sama dengan tidak dapat dimiliki oleh Tuhan. Kalau orang masih terikat dengan barang-barang dunia, ia berarti masih dimiliki dunia ini. Bisa dipahami mengapa mengingini dunia sama dengan menyembah Iblis.

Mungkin ada pertanyaan, “Apa salahnya kalau seseorang memiliki barang ini dan itu?” Tentu, tidak salah! Pertanyaannya adalah “Apakah orang percaya memiliki sesuatu untuk kepuasan diri dan prestise?” Banyak orang telah terikat oleh dunia dengan cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang. Anak-anak meneruskan bisnis orangtua dan segala cara hidupnya. Banyak orang Kristen yang tidak mengerti hal ini. Mereka merasa nyaman berada di tempat-tempat di mana diajarkan mereka tidak perlu meninggalkan dunia ini. Mereka diajar untuk hidup dalam kewajaran seperti manusia lain. Itulah sebabnya mereka tetap melestarikan cara hidup yang mereka warisi dari nenek moyang.

Keterikatan dengan materi membuat seseorang tidak dapat memenuhi firman yang mengatakan, “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan” (Mat. 6:24). Harus diingat, kalau orang percaya menjadi anak tebusan Tuhan Yesus berarti segenap hidupnya diambil alih oleh Tuhan. Kalau seseorang tidak bersedia, ia tidak dapat dimiliki oleh Tuhan. Tidak apa-apa bagi yang lain, tetapi menjadi masalah besar bagi hidupnya sendiri. Kalau dalam Perjanjian Lama, berhala mereka adalah dewa-dewa yang mereka sembah. Namun dalam Perjanjian Baru, berhala kita adalah materi. Terkait dalam hal ini, Yohanes mengingatkan bahwa keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup bukan berasal dari Bapa (Yoh. 2:15-17). Yakobus lebih tegas mengatakan bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak. 4:4).

Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang terbelenggu oleh Tuhan. Namun sebenarnya, inilah justru kemerdekaan itu. Banyak orang merasa dirinya merdeka ketika ia boleh berbuat apa saja yang diingininya. Padahal, justru itulah perhambaan. Ketika seseorang diperhamba atau dibelenggu oleh Tuhan, ia memperoleh kemerdekaan. Namun semakin seseorang mau bebas sendiri, hidup dalam kesenangan dirinya sendiri, ia justru ada dalam perhambaan. Dalam hal tersebut, seseorang harus mengalami perubahan jiwa. Perubahan itu bisa terjadi hanya dengan Firman. Dalam level tertentu, seseorang yang tekun belajar Firman dan mengenakannya akan merasakan selera baru dalam jiwanya. Keterikatan dengan Tuhan bukanlah suatu belenggu, tetapi kesukaan. Kapan itu terjadi? Itu akan terjadi kalau seseorang dapat mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi.

Kalau seseorang jatuh cinta, ia rela diperhamba oleh orang yang dicintai. Keadaannya sangat dipengaruhi oleh hubungan dengan orang yang dicintainya tersebut. Demikian pula hubungan orang percaya dengan Tuhan. Jadi, kalau orang percaya membeli barang atau memakai barang dunia ini, hal tersebut dilakukan dengan maksud agar dapat dipakai untuk kepentingan hidup yang sedang dijalani dalam pelayanannya kepada Tuhan. Uang yang dicari pun semata-mata dipergunakan untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Hal ini tidak berarti semuanya harus diberikan ke gereja, tetapi juga untuk kehidupan keluarga, yang semuanya juga untuk kemuliaan Tuhan.

==========





November 28, 2019, 05:40:44 AM
Reply #2862
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
==========

Kedua, orang percaya menjadi saksi di tengah-tengah masyarakat dan mengawal pekerjaan Tuhan di gereja yang benar. Ketiga, orang percaya harus menyadari bahwa dunia ini bukan rumahnya. Tuhan Yesus mengatakan berulang- ulang mengenai hal ini (Yoh. 17:16), bahwa orang percaya bukan dari dunia ini, yang juga berarti tidak dimiliki dunia ini. Kalau seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, ia harus menerima hal ini dan mengenakannya dalam hidup. Dalam Filipi 3:20-21 tertulis, “Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” Hal ini harus terus ditanamkan di dalam diri masing-masing orang percaya agar tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, kemudian berjuang untuk menjadi seperti Yesus. Orang percaya harus hidup dengan cara hidup Tuhan Yesus. Sebelum menutup mata, seharusnya orang percaya sudah selesai dengan sempurna melepaskan diri dari ikatan dunia ini.





November 29, 2019, 06:31:44 AM
Reply #2863
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Mempersiapkan Kehidupan Hari Esok
29 November 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/11/29-NOVEMBER-2019-MEMPERSIAPKAN-KEHIDUPAN-HARI-ESOK.mp3


Sekarang ini, banyak orang Kristen yang tidak memikirkan masa depannya di dunia yang akan datang. Mereka tidak peduli sama sekali adanya Kerajaan Tuhan Yesus yang akan datang. Mereka hanya hidup untuk kesenangan hari ini, seakan-akan tidak ada dunia atau kehidupan lain yang akan mereka jalani dan nikmati selain dunia hari ini. Mereka berpikir bahwa Tuhan dan segala berkat-Nya diadakan hanya untuk kehidupan hari ini. Pada dasarnya ini adalah gaya hidup seperti hewan. Hewan adalah makhluk yang hidup hanya untuk hari ini. Paulus menggambarkan gaya hidup ini dan mengatakan, “Mari kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (1Kor. 15:32). Mereka hidup dalam kewajaran anak dunia, dan tidak tahu atau tidak mau tahu bagaimana mengikut Tuhan Yesus. Mereka menganggap bahwa cara atau gaya hidup mereka sudah wajar, tidak menyalahi kehendak Allah. Padahal kehidupan orang percaya harus seperti Tuhan Yesus, yang bersedia tidak menikmati kesenangan dunia, bahkan meninggalkan kemuliaan bersama dengan Bapa. Firman Tuhan mengatakan, “Barangsiapa tidak meninggalkan segala sesuatu yang dimilikinya, maka ia tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk. 14:33). Memang ini adalah bagian tersulit yang sering kurang atau tidak diajarkan dengan benar kepada umat dewasa ini.

Banyak umat Kristen hanya mengenal ajaran bahwa Tuhan memberkati kalau mereka datang ke gereja dan memberi persembahan. Jemaat hanya diajar untuk menjadi orang baik, memiliki keluarga bahagia, mendapatkan menantu yang baik dan cucu yang sehat dan sukses, tubuh sehat, bisnis maju, dan terhormat di mata manusia. Mereka memiliki ukuran kebahagiaan yang sama dengan anak dunia. Pola pikir tersebut adalah pola pikir anak-anak dunia yang tidak mengenal kebenaran Injil yang murni. Mereka adalah orang-orang yang masih membangun kerajaannya di muka bumi ini. Sebenarnya, mereka tidak menginginkan dengan sungguh-sungguh Kerajaan Surga. Kehidupan mereka di bumi sudah menjadi kerajaan yang nyaman dan membahagiakan. Padahal yang terpenting dan satu-satunya gaya hidup yang benar adalah belajar kehidupan Tuhan Yesus dan mengenakannya dalam hidup ini agar layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.

Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan manusia. Artinya, oleh kematian-Nya di kayu salib, Ia mengangkat akibat dosa yang dilakukan manusia dan memuridkan orang percaya untuk mengalami perubahan agar berkeadaan layak sebagai anak-anak Allah. Penyelesaian dosa manusia terjadi pada waktu Yesus mati di kayu salib dan bangkit. Selanjutnya, orang yang dipilih menjadi umat Allah harus belajar mengenakan karakter dan cara hidup Tuhan Yesus. Seperti Tuhan Yesus meninggalkan segala sesuatu, orang percaya juga harus berani berbuat demikian. Untuk hal ini, ada dua tahapan yang harus dilalui. Tahapan pertama dikerjakan oleh Tuhan Yesus di kayu salib; tahapan kedua dikerjakan oleh ROH KUDUS dalam diri orang percaya. Namun kalau orang percaya tidak bersedia belajar untuk memiliki kehidupan seperti Tuhan Yesus, ia menolak untuk diselamatkan. Ini berarti ia tidak memiliki hari esok. Orang seperti ini tidak mempersiapkan hari esoknya. Biasanya mereka hidup dalam kewajaran seperti anak-anak dunia yang tidak memiliki keselamatan guna menjadi anak- anak Allah.

Kalau bukan demi masa depan manusia atau hari esok manusia di kekekalan, Tuhan Yesus tidak perlu mengurbankan diri dengan pengurbanan yang sangat mahal. Kalau tidak perlu kehidupan hari esok, cukuplah manusia dapat menikmati hidup di bumi dengan segala kesenangannya yang rata-rata 70 tahun, setelah itu dibuang ke dalam api kekal. Jadi sesungguhnya, kedatangan Tuhan Yesus adalah demi kehidupan yang akan datang, bukan kehidupan hari ini. Oleh sebab itu, keselamatan harus dilihat dari dimensi atau perspektif atau sudut pandang yang benar. Keselamatan diberikan untuk menggarap manusia hari ini di bumi demi persiapan kehidupan hari esok di langit baru dan bumi yang baru.

==========




November 29, 2019, 06:32:18 AM
Reply #2864
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
==========

Gereja diadakan agar jemaat belajar kebenaran, yaitu mengenal siapa Bapa dan siapa Anak dan mengajarkan jalan Tuhan, serta memberi teladan. Hal ini dimaksudkan agar jemaat bisa berubah, menjadi anak-anak Allah yang hidup tidak bercacat dan tidak bercela, tidak terikat dengan dunia, di mana dunia tidak dapat menentukan kebahagiaannya. Dunia tidak lagi dapat membahagiakan sebab hanya Tuhan dan Kerajaan-Nyalah yang menjadi kebahagiaan satu-satunya. Akhirnya, jemaat dapat menghayati bahwa dunia ini bukan rumah orang percaya. Kerinduannya adalah langit baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kehidupan yang ideal yang disediakan Allah bagi ciptaan-Nya. Bagi orang-orang seperti itu, kematian tidak lagi menjadi hantu yang menakutkan, tetapi kesukaan,sebab kematian menjadi jembatan emas bertemu dengan Tuhan yang dicintainya di Kerajaan Bapa yang sangat indah, mulia, dan menakjubkan




November 30, 2019, 07:06:50 AM
Reply #2865
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Pasti Berakhir
30 November 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/11/30-NOVEMBER-2019-PASTI-BERAKHIR.mp3


Banyak orang berpikir seakan-akan perjalanan hidup ini tidak ada ujungnya atau tidak ada akhirnya. Hal ini menyebabkan sebagian besar orang Kristen tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi pengadilan Tuhan. Bila hal ini terjadi, itu berarti ia tidak mengerti kebenaran. Ini adalah sebuah penyesatan Iblis yang sukses. Bila jujur, kita dapat menemukan banyak manusia yang memberontak atau menolak kenyataan bahwa jalan ini akan berakhir. Ia tidak mau berpikir atau menerima kenyataan bahwa jalan ini akan berakhir. Dan akhir perjalanan hidup manusia ini merupakan sebuah misteri yang pada umumnya tidak seorang pun tahu (Yak. 4:13-17). Iblis akan berusaha menenangkan banyak jiwa manusia seakan-akan hidup ini tidak ada bahayanya. Tanpa disadari, mereka sedang dibawa ke dalam siksaan kekal.

Perjalanan waktu juga mengisyaratkan adanya batas waktu yang disediakan untuk suatu tugas tertentu. Harus diingat bahwa Sabat telah diciptakan Tuhan sebelum manusia jatuh dalam dosa. Ini berarti Adam dan Hawa harus tertib dan ketat memerhatikan perjalanan hari sebab pada hari ketujuh mereka harus berhenti bekerja atau beristirahat. Jadi, Allah juga dengan tertib bergaul dengan manusia dalam perjalanan waktu yang bergulir. Hal ini dikemukakan oleh Pengkhotbah dengan kalimat “Untuk segala sesuatu ada masanya” (Pkh. 3:1). Kuasa gelap akan menggiring seseorang berpikir bahwa nanti selalu ada waktu untuk mencari dan menemukan Tuhan sehingga hidup hari ini harus diisi dengan segala kegiatan tanpa mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Sementara hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Iblis mewarnai hidupnya dengan segala warna kehidupan yang membuat kebenaran Tuhan tidak memiliki tempat dalam hidupnya. Seseorang merasa telah memberi tempat bagi Tuhan sebab ia tidak merasa berencana mengkhianati Tuhan. Padahal, tanpa mengisi jiwanya dengan kebenaran Tuhan dan pengalaman pribadi yang konkret dengan Tuhan, seseorang sama dengan tidak memberi tempat bagi Tuhan.

Tidak menyadari perjalanan waktu—sehingga tidak mengisi hidup ini guna mencari dan menemukan Tuhan secara benar—juga terjadi atas orang-orang yang merasa bahwa dirinya sudah bijaksana, cukup umur, dan memiliki banyak pengalaman serta prestasi kehidupan; apalagi kalau ditambah banyak uang. Mereka makin menjadi buta terhadap kebenaran yang murni. Padahal dalam Tuhan atau kedewasaan iman, mereka sebenarnya miskin. Inilah kebodohan “orang-orang bijaksana.” Bagi orang-orang seperti itu, Tuhan menyembunyikan hikmat-Nya (Mat. 11:25). Untuk orang-orang seperti ini, Tuhan Yesus menuntut agar melepaskan segala sesuatu dan mengikut Dia (Mat. 19:21; Luk. 14:33). Kalau mereka tidak merendahkan diri, mereka akan binasa dalam keangkuhan yang sering sangat terselubung. Nilai diri yang mereka miliki akan menjebak mereka menjadi orang-orang yang tidak bertumbuh dalam Tuhan dan kedewasaan iman yang Tuhan kehendaki. Mereka tidak bertumbuh dalam karakter Kristus yang seharusnya makin melekat dan muncul dalam kehidupan mereka.

Momentum-momentum yang berharga yang Tuhan sediakan bagi orang yang dikasihi-Nya berlalu dengan sia-sia. Momentum-momentum itu bisa saja berupa pengajaran-pengajaran Firman Tuhan yang dapat menjadi kunci pembuka pengertian dalam pengalaman hidup untuk menemukan Tuhan. Karena kuncinya tidak dimiliki, pengalaman hidup yang di dalamnya memuat pembentukan Tuhan untuk menyempurnakan hidup, tidak berdampak sama sekali dalam hidupnya. Momentum- momentum ini adalah anugerah bertahap yang harus diterima secara berkesinambungan seperti tali yang harus bersambung terus dan dijaga agar tidak putus. Ironis, banyak hal yang dianggap lebih menarik dari Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Dengan sikap ini, mereka melecehkan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Melalui penjelasan ini, Saudara diingatkan untuk bertobat. Jika tidak, Saudara akan binasa.

==========




November 30, 2019, 07:07:18 AM
Reply #2866
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
==========

Setiap orang terseret oleh waktu itu. Karenanya, sementara terseret oleh waktu, hidup harus diarahkan ke tujuan yang benar (1Kor. 9:26). Waktu ini sangat ketat. Artinya, kendaraan yang membawa kepada kebenaran ini terbatas waktu penggunaannya (Yak. 4:4; 1Ptr. 1:24). Jika orang percaya menyadari hal ini, ia akan memiliki hati yang bijaksana (Mzm. 90:10). Banyak waktu yang digunakan sekadar untuk mengumpulkan harta dan meraih cita-cita duniawi, seperti: pangkat, prestasi, gelar dan lain sebagainya. Waktu juga digunakan untuk memuaskan hasrat daging dan berbagai kesenangan, seolah-olah hidup ini adalah kesempatan sekali-kalinya manusia memiliki kesadaran. Ia lupa bahwa hidup sekarang ini barulah permulaan dari sebuah kesadaran abadi (1Kor. 15:32; Luk. 16:19-31). Di balik kehidupan hari ini, masih ada kehidupan panjang yang Allah sediakan, yaitu kehidupan di keabadian. Inilah yang dinanti-nantikan oleh tokoh- tokoh iman (Flp. 3:10-11). Gereja Tuhan harus menggiring jemaat kepada kehidupan yang penuh harapan di sini (1Ptr. 1:3-4). Oleh sebab itu, waktu yang sisa ini hendaknya jangan digunakan untuk hal-hal yang Tuhan tidak kehendaki, tetapi kita gunakan secara bijaksana (1Ptr. 4:2-3), sehingga dapat menyelesaikan tugas kehidupan dengan sempurna.




December 01, 2019, 04:41:41 AM
Reply #2867
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

Adanya “Yesus Yang Lain”
01 December 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/11/01-DESEMBER-2019-ADANYA-YESUS-YANG-LAIN.mp3

Semua gereja pasti mengajarkan tentang Yesus, dan biasanya semua orang Kristen berpikir bahwa “semua” Yesus yang diajarkan oleh gereja-gereja tersebut, sama. Namun, sesungguhnya tidaklah demikian. Nama Yesus memang sama-sama diakui dan dimiliki oleh semua orang Kristen, tetapi apa yang mereka ajarkan mengenai Dia tidaklah sama. Dengan demikian, sosok Yesus yang diajarkan sangat besar kemungkinan juga tidak sama. Jika yang diajarkan tidak sesuai dengan Yesus yang diajarkan dalam Alkitab, itu berarti “Yesus yang lain.” Ternyata dari dahulu sudah ada orang-orang yang memberitakan “Yesus yang lain” kepada jemaat. Namanya sama, yaitu Yesus, tetapi Yesus yang diajarkan bukanlah pribadi yang dimaksud oleh Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru. Dengan demikian, Yesus yang diajarkan adalah palsu. Mengenai hal ini, Paulus juga mengemukakannya dalam 2 Korintus 11:3-4.

Dalam 2 Korintus 11:3-4 tertulis, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.”.” Frasa “Yesus yang lain” dalam ayat ini menunjukkan adanya pemberitaan Firman yang tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Mereka mengajarkan Yesus yang sebenarnya bukan Yesus yang diajarkan oleh Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru.

Frasa “Yesus yang lain” dalam teks aslinya adalah allon Iesoun (ἄλλον Ἰησοῦν). Kata allonberasal dari akar kata allos yang artinya “berbeda, tetapi masih sejenis.” Kata yang sejajar dengan kata allos adalah heteros (ἕτερος) yang artinya “yang lain” dengan keberadaan berbeda jenis dan bentuknya. Penggunaan kata allos di sini hendak menunjukkan bahwa “Yesus yang lain” bukanlah Yesus yang diperkenalkan oleh agama-agama lain, melainkan Yesus yang dibaca dalam Alkitab dan diperkenalkan “seakan-akan” sejenis atau sama bentuknya, padahal sebenarnya berbeda. Hal ini bisa terjadi karena pemahaman yang salah terhadap Alkitab.Walaupun Yesus yang diajarkan seakan-akan sejenis, sebenarnya itu bukanlah Yesus yang asli. Hal ini sama dengan barang palsu yang seakan-akan sejenis dan sangat mirip dengan barang asli, padahal sebenarnya palsu. Kata allos mengindikasikan kemiripan antara “Yesus yang lain” dan Yesus yang asli.Namun, semirip apa pun, “Yesus yang lain” itu tetaplah palsu.

“Yesus yang lain” bisa merupakan konklusi dari berbagai doktrin yang dibangun sejak ratusan tahun. Doktrin-doktrin tersebut dirumuskan oleh para teolog yang membangun perpustakaan yang memuat tulisan mengenai Yesus. Mereka memiliki jawaban dari apa saja yang dipertanyakan mengenai Yesus. Mereka selalu memiliki argumentasi terhadap semua hal mengenai Yesus dan yang berkenaan dengan teologi Kristen. Para akademisi yang belajar teologi secara formal dalam sekolah tinggi teologi beranggapan bahwa tulisan para teolog dalam buku-buku di perpustakaan itu sudah cukup melukiskan wajah Yesus dan segala hal yang terkait dengan teologi Kristen. Dengan demikian, mereka merasa sudah menemukan Yesus dan pemahaman mereka mengenai Yesus sudah final.

Mereka merasa sudah menemukan Yesus secara lengkap dan mencatatnya dalam buku-buku di perpustakaan dan dalam pemahaman pikiran mereka. Faktanya, Yesus yang mereka ajarkan adalah Yesus yang tidak mengembalikan manusia untuk berkodrat ilahi, dan tidak membuat orang percaya menemukan kemuliaan Allah yang hilang. Hal ini terbukti dengan kenyataan banyak orang Kristen meninggalkan gereja dan berperilaku seakan-akan tidak pernah mendengar Injil. Ini berarti Yesus yang mereka ajarkan tidak sama dengan Yesus yang ada di Alkitab.

Pikiran mereka telah terpenjara oleh doktrin-doktrin yang mereka pahami sebagai kebenaran mutlak. Mereka berpikir bahwa buku-buku di perpustakaan sudah cukup mewakili siapa dan bagaimana Allah dan Tuhan Yesus itu. Itulah sebabnya semua karya ilmiah harus memiliki referensi buku-buku tersebut. Jika tidak, karya itu dianggap tidak valid. Dengan cara ini mereka telah memagari diri mereka sendiri di bawah tempurung pikiran manusia yang terbatas. Biasanya, mereka terkurung oleh pandangan teolog-teolog masa lalu, dan mereka memandang bahwa doktrin yang diajarkan oleh teolog-teolog masa lalu sudah merupakan kebenaran mutlak. Dengan demikian, mereka menyejajarkan pandangan teologi manusia dengan Alkitab. Hal ini bisa menjadi kausal kemerosotan gereja.




December 02, 2019, 06:27:16 AM
Reply #2868
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Kuasa Allah Dalam Injil
02 December 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/11/02-DESEMBER-2019-KUASA-ALLAH-DALAM-INJIL.mp3

“Yesus yang lain” dimuat dan diberitakan dari Injil yang sebenarnya bukan Injil. Terkait dengan hal ini, Paulus mengemukakan pemikirannya dalam Galatia 1:16-8.Paulus menyatakan, “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain,yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” Kalau Injil yang diberitakan bukanlah Injil yang benar, Yesus yang diajarkan juga pasti “Yesus yang lain.” Hal ini tidak boleh dipandang sepele, sebab kalau seseorang tidak memahami Injil yang benar, hal ini dapat mengakibatkan kegagalan memahami Yesus yang benar, sehingga orang tersebut pun tidak mengalami dan memiliki keselamatan yang benar.

Jadi, bisa dimengerti kalau Paulus begitu marah terhadap pemberita Injil yang sebenarnya bukan Injil. Dalam Galatia 1:8-9 Paulus mengemukakan pernyataan ini, “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.”Pemberitaan Injil yang sebenarnya bukan Injil atau tidak sesuai dengan Injil mengakibatkan seseorang tidak mengalami dan memiliki keselamatan. Terkait dengan hal ini Yesus menyatakan, “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut”(Mat. 18:6). Penyesatan bukan saja memperbodoh seseorang, melainkan juga membinasakannya di kekekalan.

Sedemikian pentingkah pemberitaan Injil yang benar itu? Dalam Roma 1:16-17 tertulis, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman.’” Injil adalah kuasa Allah.Ini berarti bahwa di dalam Injil terdapat kebenaran yang membuka pikiran seseorang untuk mengenali siapa dan bagaimana Yesus sebagai Juruselamat. Selanjutnya, iaakan dituntun untuk mengetahui segala sesuatu yang Yesus ajarkan dan diperagakan dalam hidup-Nya untuk diteladani. Keselamatan adalah proses dikembalikannya manusia kepada rancangan semula Allah. Yesus adalah profil dari manusia yang dikembalikan ke rancangan Allah semula. Kalau seseorang tidak mengenal segala sesuatu yang diajarkan Yesus dan tidak memahami gaya hidup-Nya untuk diteladani, berarti ia tidak akan mengenal keselamatan.

Terkait dengan hal ini, sangat penting untuk memeriksa kata “disesatkan” dalam 2 Korintus 11:3-4. Dalam ayat tersebut tertulis, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.”

Dampak negatif akibat pemberitaan ajaran “Yesus yang lain” sangatlah fatal, yaitu pikiran orang Kristen dapat disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus. Kata “disesatkan” dalam teks aslinya adalah phthare (φθαρῇ), dari akar kata phtheiro (φθείρω) yang juga berarti menghancurkan atau merusak (to ruin, to spoil, to corrupt). Sedangkan, kata “kesetiaan” berasal dari kata haplotetos (ἁπλότητος) dari akar kata haplotes (ἁπλότης), yang berarti kesederhanaan, ketulusan, kejujuran (simplicity, sincerity, frankness). Kata haplotes menunjukkan sikap hati yang semestinya dimiliki orang percaya yang benar karena meneladani Tuhan Yesus. Jika Yesus yang diajarkan adalah Yesus yang dimaksud oleh Injil, hal tersebut dapat terbukti dari perilaku orang yang menerima Yesus tersebut. Pemberitaan Yesus yang sesuai dengan kebenaran Alkitab dapat membuahkan kehidupan seperti Yesus.




December 03, 2019, 06:10:09 AM
Reply #2869
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://www.rehobot.org/beranda_renungan

Mengajarkan Keselamatan Yang Salah
03 December 2019
00:00

https://www.rehobot.org/wp-content/uploads/2019/11/03-DESEMBER-2019-MENGAJARKAN-KESELAMATAN-YANG-SALAH.mp3


Hal yang paling prinsip untuk mengenal Yesus adalah bahwa Dia mengajarkan keselamatan yang benar. Pengajaran mengenai keselamatan ini sangatlah penting dalam kehidupan iman Kristen. Pengertian mengenai keselamatan merupakan jantung dari pengajaran iman Kristen. Kegagalan memahami doktrin ini berarti kegagalan memahami banyak kebenaran lain dalam Alkitab. Hal ini juga pasti berdampak pada sikap hidup orang percaya tersebut. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa kualitas hidup Kekristenan seseorang sangat dipengaruhi oleh pengertiannya terhadap doktrin keselamatan. Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh salah dalam memahami doktrin ini. Yesus menunjukkan bahwa keselamatan bukan hanya terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga bukanlah keselamatan itu sendiri, melainkan sebenarnya adalah buah atau akibat dari keselamatan, yaitu jika seseorang mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar.

Banyak pembicara Kristen yang mengajarkan bahwa Yesus dalam pemberitaan Injil-Nya menekankan bahwa kalau seseorang percaya kepada diri-Nya sebagai Juruselamat dan Tuhan, ia pasti akan terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Yesus seakan-akan hanya memberitakan status-Nya, dan orang yang percaya terhadap status-Nya dijamin masuk surga. Itu tentu saja bukan Yesus yang orisinal, melainkan “Yesus yang lain.” Kalau keselamatan hanya terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga, kekristenannya pasti hanya kulit, tidak menyentuh inti Kekristenan yang benar. Pengertian keselamatan yang salah tidak membangun iman yang benar terhadap Yesus, sehingga tidak mengerti keselamatan yang disediakan oleh Tuhan Yesus Kristus melalui karya salib-Nya. Kalau pengertian mengenai iman sudah salah, pengiringannya kepada Yesus juga pasti salah. Orang-orang yang tidak memahami keselamatan yang benar, mereka sejatinya mengikut “Yesus yang lain.”

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa keselamatan adalah proses dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah yang semula atau tujuan awal manusia diciptakan. Rancangan semula Allah adalah menciptakan manusia yang memiliki keserupaan dengan diri-Nya. Ini berarti fokus keselamatan haruslah bagaimana “menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah.” Jika demikian, orang yang berkehendak untuk selamat haruslah memberi diri digarap oleh Tuhan melalui ROH KUDUS untuk menjadi manusia sesuai rancangan Allah. Dengan demikian, inti keselamatan adalah perubahan karakter menuju kesempurnaan. Dalam Matius 5:48 Tuhan Yesus mengatakan dengan tegas bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa. Dalam Matius 5:20 dikatakan bahwa orang percaya harus memiliki kebenaran yang bertalian dengan tingkah laku (Yun. dikaiosune) melebihi tokoh-tokoh agama manapun. Kesempurnaan dalam Matius 5:48 menunjuk pada kualitas moral seperti yang dimiliki oleh Allah Bapa. Allah berfirman agar umat pilihan menjadi kudus seperti Dia kudus (1Ptr. 1:16). Hal ini sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:10) dan sama dengan mengenakan kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4).

Setiap orang percaya mendapat panggilan untuk mencapai kesempurnaan. Untuk itu, perhatian orang percaya tidak boleh terbelah oleh segala sesuatu yang dapat mengganggu pertumbuhan untuk menjadi sempurna seperti Bapa. Paulus menyatakan bahwa orang percaya harus serupa dengan Yesus (Rm. 8:28-29), sebab Yesus adalah model manusia yang dikehendaki oleh Allah. Paulus juga menasihati orang percaya untuk mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna (Rm. 12:1-2). Dalam hal ini, kesempurnaan berorientasi pada diri Allah sendiri, yaitu pada pikiran dan perasaan Allah, yaitu segala sesuatu yang orang percaya lakukan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Oleh sebab itu orang percaya harus mengalami transformasi—yaitu perubahan pikiran—sehingga dapat mengerti kehendak Allah, yaitu apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Itulah sebabnya Paulus mengatakan bahwa dirinya berusaha untuk berkenan kepada Allah, sebab setiap orang akan diperhadapkan kepada takhta pengadilan Kristus (2Kor. 5:9-10). Jika suatu sikap atau tindakan tidak sesuai dengan keinginan atau kehendak Allah, itu bukanlah kesempurnaan, walaupun hal tersebut tampakbaik dan tidak melanggar norma umum manusia. “Yesus yang lain” mengajarkan bahwa yang penting seseorang percaya kepada status-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat.Hal itu dianggap sudah cukup menyelamatkan diri orang tersebut.Padahal, Yesus mengajarkan dan menghendaki agar orang percaya mengikuti jejak-Nya, yaitu menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan diri-Nya.




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)