Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 99810 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 17, 2013, 04:06:19 AM
Reply #30
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/his-own-governance

His Own Governance

kamis, January 17

Bible in a year: Genesis 25-26

Quote
Without realizing, many of us may feel pressured to live according to the lifestyle of people around us. First is our parents’ lifestyle inherited from family, second is the lifestyle of people in our surrounding from socializing. This has become a norm that we cannot escape. It has automatically been conditioned that way. Life is a process of following, adopting (to take as one’s own) and adapting (to adjust oneself to different situations). Who and how a person will be, is a map or face from his surroundings. Basically, this kind of life is like a mold that creates a form, which can be said that each individual is a victim of his environment. This environment or world becomes a powerful tool for the devil to color our souls and lead us to eternal condemnation. If believers are not careful, they may be dragged as well.

This lifestyle is not only about actions and habits, but also about a mindset that drives all decisions and one’s actions. Someone who is raised in an underdeveloped and remote village will not have the same lifestyle as someone who is raised in a big city. It is the same as people who are raised in a wicked environment—it is impossible to have a lifestyle as God’s children. This world has fallen, and people are rebellious and resisting God. Humans build their own kingdoms, never wanting to obey God’s rules as they have their own governance. This is also the fault done by Lucifer. He can never defeat or surpass God, but he can build his own kingdom. A kingdom that is not dominated by God never knows the content of Our Father’s Prayer: Your kingdom come. With this, we know that Jesus wants to teach us to live in sovereign government of God. This is why God emphasized: First find the kingdom of God and its righteousness. Jesus has come to rescue us from the useless way of life, inherited from our ancestors (1Peter 1:18). This is a very important principle of life that should be experienced by everyone who has accepted Jesus Christ as his savior. A useless way of life is equals to perishable way of life. The word useless is originally phthartos, which means something perishable or mortal. The Gospel or righteousness that God has taught us should transform our wrong lifestyles. If we followed our surroundings in the past, let us follow Jesus now.

Humans do not want to submit to the government of God because they have their own governance. This is the fault of fallen Lucifer.
January 17, 2013, 04:14:47 AM
Reply #31
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/pemerintahannya-sendiri

Pemerintahannya Sendiri

kamis, January 17th, 2013

Alkitab dalam setahun: Kejadian 25-26

Quote
Tanpa disadari banyak orang merasa tertuntut untuk memiliki dan mengenakan gaya hidup yang dimiliki manusia di sekitarnya. Pertama gaya hidup yang orang tua wariskan melalui keluarga, kedua gaya hidup manusia di sekitarnya melalui pergaulan. Hal ini sudah seperti sebuah hukum atau kodrat yang tidak bisa dihindari. Secara otomatis hal tersebut terkondisi demikian. Memang hidup adalah proses meniru, mengadopsi
(mengambil untuk dirinya) dan beradaptasi (menyesuaikan diri dengan keadaan).
Siapa dan bagaimana diri seseorang adalah peta atau wajah dari lingkungannya. Pada dasarnya lingkungan hidup seperti ini sebuah pola bentuk cetakan yang membentuk sebuah hasil cetakan. Sehingga bisa
dikatakan bahwa setiap individu adalah korban dari lingkungannya. Lingkungan atau dunia ini menjadi alat iblis yang ampuh mewarnai jiwa guna digiring menuju kegelapan abadi. Kalau orang percaya tidak waspada,
 maka bisa terseret pula.
Gaya hidup ini bukan saja menyangkut tindakan dan kebiasaan hidup yang kelihatan, tetapi cara berpikir (mindset) yang memotori segala keputusan dan tindakan seseorang. Seorang yang dibesarkan oleh sebuah keluarga di desa terpencil yang terbelakang dan tertutup tidak mungkin bergaya hidup seperti orang yang dibesarkan di kota.
Hal ini sama dengan gaya hidup seorang yang dibesarkan dalam lingkungan fasik, tidak mungkin bisa bergaya hidup anak-anak Allah. Pada hal dunia ini sudah jatuh, gaya hidup manusia bernuansa memberontak dan melawan Allah. Manusia membangun kerajaannya sendiri, tidak mau tunduk pada pemerintahan Allah karena memiliki pemerintahan sendiri. Inilah kesalahan Lusifer yang jatuh. Ia tidak akan pernah bisa mengalahkan dan mengungguli Allah Bapa. Tetapi ia bisa membangun kerajaannya sendiri.

Kerajaan yang tidak didominasi oleh Allah, sebuah kerajaan yang tidak mengenal isi Doa Bapa Kami: Datanglah Kerajaan-Mu.

Dengan ini kita tahu, bahwa Tuhan Yesus bermaksud mengajarkan kepada kita agar kita hidup dalam kedaulatan pemerintahan Allah. Itulah sebabnya dengan tegas Tuhan Yesus berkata: Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Tuhan Yesus datang untuk menebus manusia dari cara hidup yang sia-sia yang
diwariskan dari nenek moyang (1 Ptr. 1:18).
Ini prinsip penting yang harus dialami setiap orang yang menerima Tuhan Yesus sebagai Penebusnya.
 Cara hidup yang sia-sia, artinya cara hidup yang akan binasa.
Kata sia-sia adalah phthartos yang artinya sesuatu yang akan binasa atau fana (perishable, mortal).
Injil atau kebenaran yang Tuhan Yesus ajarkan harus dapat mengubah gaya hidup yang sudah salah tersebut. Kalau dulu kita meniru lingkungan kita, sekarang meniru Tuhan Yesus.

Manusia tidak mau tunduk pada pemerintahan Allah karena
memiliki pemerintahan sendiri. Inilah kesalahan Lusifer yang jatuh.
January 18, 2013, 04:37:23 AM
Reply #32
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/after-calling-god-as-father

After Calling God as Father

jumat, January 18

Bible in a year: Genesis 27-29

Quote
An important question that needs to be discussed is, “Why should we live in fear while staying on earth after we call God as Father (1Peter 1:17)?” First, it is a reminder that after becoming a believer, we are a family member of God. This world is no longer our home. God has mentioned several times that we do not come from this world. It is just a place of transit. A believer is a nomad. A wise man that realizes that life is very short once had a rich guest visiting. The guest was surprised to find only a carpet in the living room. When his guest asked where the furniture was, he answered back with the same question: where the furniture for the guests are. Then of course the guest replied he came as a guest, a visitor to the house. The house owner also answered he is also visiting the house. As a visitor we should focus on our destination, which is the home of our Heavenly Father. While we are on earth we should learn to have the lifestyle as God’s children in order to be worthy to enter the Father’s home. We should start trying to begin conducting a lifestyle as God’s children from now on.

Secondly, after calling God as our Father, then we should live like the children of God. Being children of God is not only a status, but also a state. That is why we cannot assume that after being a Christian, you automatically become the child of God or placed as the family member of God. We need to work hard to have a lifestyle like the children of God. This is why God states we have to be perfect like the Father in heaven. To be like the Father means being as holy as Him (1Peter 1:16). When Peter said we should live in fear, he meant responding to the call of being children of God with high respect. God’s sacrifice in being crucified is to rescue us from the useless way of life (1Peter 1:18). The Christianity we have cannot automatically and mystically transform us. The transformation is something each of us has to keenly strive for (1Peter 1:13-16). The Holy Spirit will definitely help us change into what God desires us to be. In this case, church is responsible for teaching the way of life Jesus Christ taught us. As God’s servants, church activists or anyone who takes part in God’s work have to be a role model of people with Christ’s lifestyle. Otherwise, a church is conducting fraud or misguidance.

After calling God our Father, we must strive to have the lifestyle of God’s children

and realize that the world is not our home.
January 18, 2013, 04:42:53 AM
Reply #33
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/smasb

Setelah Memanggil Allah Sebagai Bapa

jumat, January 18th, 2013

Alkitab dalam setahun: Kejadian 27-29

Quote
Satu pertanyaan penting yang harus dipersoalkan adalah mengapa setelah memanggil Allah sebagai Bapa, kita harus hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia (1 Ptr. 1:17)?
Pertama, harus diingatkan bahwa
 setelah menjadi orang percaya, maka kita menjadi anggota keluarga Allah. Dunia ini bukan lagi menjadi rumah kita. Tuhan Yesus menyatakan beberapa kali bahwa kita bukan berasal dari dunia ini. Dunia hanyalah
tempat menumpang. Orang percaya adalah musafir. Seorang bijaksana yang menyadari betapa singkatnya hidup ini pada suatu hari kedatangan tamu orang kaya. Betapa tekejutnya tamu itu ketika melihat ruang tamu rumah tersebut, hanya berisi tikar. Ketika tamu bertanya dimana perabotnya, ia malah menjawab dengan pertanyaan dimana perabot tamunya. Tentu saja tamunya mengatakan bahwa ia datang sebagai tamu, pendatang yang hanya mampir di rumahnya. Tuan rumah itu juga berkata, bahwa dirinya juga
hanya mampir di rumah itu. Sebagai orang yang menumpang, kita harus fokus pada tujuan perjalanan. Tujuan perjalanan adalah Rumah Bapa. Sementara ada di dunia ini belajar memiliki gaya hidup anak-anak Allah.
Agar kita layak masuk rumah Bapa. Usaha untuk memiliki gaya hidup anak Allah ini harus dimulai sekarang.

Kedua, setelah memanggil Allah sebagai Bapa, maka harus menjadi keluarga Allah yang bergaya hidup sebagai anak-anak Allah. Sebagai anak Allah bukan sekedar status, tetapi sebuah keberadaan. Jangan berpikir bahwa setelah menjadi orang Kristen anda otomatis menjadi anak Allah yang terhisap sebagai anggota keluarga Allah.Kita harus berjuang untuk memiliki gaya hidup sebagai anak-anak Allah. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita harus sempurna seperti Bapa di Sorga. Seperti Bapa artinya memiliki kekudusan seperti kekudusan Allah Bapa (1 Ptr. 1:16).

Petrus dalam suratnya menyatakan bahwa kita harus hidup dalam ketakutan artinya kita menjunjung tinggi panggilan untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib dimaksudkan agar kita dapat ditebus dari cara hidup yang sia-sia (1 Ptr. 1:18).

Kekristenan yang kita miliki tidak secara otomatis dan mistis mengubah hidup kita. Perubahan itu harus dilakukan dengan sengaja dan giat oleh setiap individu (1 Ptr. 1:13-16). Tentu saja ROH KUDUS akan menolong kita berubah seperti yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Dalam hal ini gereja bertanggung jawab mengajarkan cara hidup yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Di sini seorang pelayan Tuhan, aktivis gereja dan setiap orang
yang mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan harus menunjukkan teladan atau contoh kehidupan seorang yang bergaya hidup Kristus. Jika tidak, maka berarti gereja melakukan penipuan dan penyesatan.

Setelah memanggil Allah Bapa, kita harus berusaha memiliki  gaya hidup anak Allah
dan menyadari bahwa dunia bukan rumah kita.
January 19, 2013, 04:11:32 AM
Reply #34
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/not-aware-of-the-danger

Quote
Not Aware of the Danger

sabtu, January 19

Bible in a year: Genesis 30-31

How contrasting it is from visiting a severely ill person with no hope to watching people eating carelessly without considering whether the food can cause illness or eventually death. This scenario pictures how humans live today. While many are walking closer toward the dreadful eternal flame, many are also partying and collecting more sins without being aware of the big danger ahead. Therefore, Jesus Christ reminds us: “Control yourself, so your heart is not loaded with parties, drunkenness and other worldly matters and so the final day will not suddenly catch you like a trap” (Luke 21:34). The word party is originally baruno, which means excessive. Drunkenness does not only talk about alcohol but everything that makes someone think unhealthily. Indeed, the healthy stage here is measured as healthy according to God’s words. A mind that is not filled with God’s righteous Word is not a healthy mind. Worldly matter in its original text is perimanis biotikais (μερίμναις βιωτικαῖς). This phrase refers to negative worldly concerns, which causes people to be trapped in daily activities that is concerned only about fulfilling their physical needs. Through this way the power of darkness can snatch and drag you into hell. As a result, the final day becomes like a trap.

The final day refers to God’s arrival or when a person dies. A similar scenario is someone who comes to a doctor and reports a small pain in his chest. Turns out his lung is filled with malignant cancer cells. In a few months his body drops and eventually passes away. Supposedly, he should already know his condition when the cancer cells are spreading in his chest and should start looking for preventative drugs. As he does not know it, he eats everything without limitation. When the doctor’s verdict that his life only has a few more months, he just understands he has fallen into a trap. He is the one who made the net and fell into the trap himself.  When he was enjoying his food and drink and someone reminded him, he became upset or showed an unhappy attitude. He was not aware that he was at the edge of the cliff. The same goes to the life of many today, who spiritually do not care if they are on the edge of eternal suffering. They live however they want.

While many are going toward the eternal fire, they are partying in sins without realizing the danger ahead.
January 19, 2013, 04:18:55 AM
Reply #35
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/tidak-menyadari-dalam-bahaya

Quote
Tidak Menyadari Dalam Bahaya

sabtu, January 19th, 2013

Alkitab dalam setahun: Kejadian 30-31

Betapa kontrasnya, ketika pulang dari menjenguk orang yang sakit tanpa harapan dan sedang bergelut dengan maut, kemudian menyaksikan orang sedang bersukacita menikmati makanan tanpa mempertimbangkan bahwa yang disantapnya bisa menjadi penyebab penderitaan bahkan kematian.
Pemandangan ini bisa menjadi gambaran kehidupan manusia hari ini.
Sementara banyak orang sedang bergulir menuju api kekal dengan ratapan memilukan serta kertak gigi, banyak orang yang sedang berpesta pora dalam dosa tanpa menyadari bahaya yang ada di depannya.
Oleh karena hal ini Tuhan Yesus mengingatkan: Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat (Luk. 21:34).
Kata pesta pora dalam teks aslinya adalah baruno (βαρύνω) yang artinya berlebihan. Kemabukan bukan hanya berbicara mengenai minum yang beralkohol tetapi segala sesuatu yang membuat seseorang tidak berpikir sehat. Tentu sehat di sini ukurannya adalah sehat sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Pikiran yang tidak diisi dengan kebenaran Firman Tuhan adalah pikiran yang tidak sehat.
Kepentingan duniawi dalam teks aslinya adalah perimanis biotikais (μερίμναις βιωτικαῖς). Kata ini menunjuk kepada kekuatiran dunia yang negatif, sehingga seseorang terjebak dalam kesibukan kepentingan-kepentingan yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani semata-mata. Dengan cara ini kuasa kegelapan dapat membelenggu seseorang sehingga tergiring ke lautan api. Akhirnya hari kedatangan Tuhan seperti suatu jerat.

Hari Tuhan bisa menunjuk hari kedatangan-Nya tetapi juga bisa menunjuk hari kematian seseorang. Seperti ketika seseorang datang ke dokter berobat karena ada sedikit rasa nyeri di bagian dada, ternyata
paru-parunya telah dipenuhi oleh sel kanker ganas. Dalam waktu beberapa bulan saja badannya telah menyusut dan akhirnya meninggal dunia. Seharusnya ketika sel-sel kanker sudah mulai merayap di dadanya, ia sudah tahu dan berusaha mencari pengobatan. Karena tidak tahu, ia makan apa saja tanpa pantang. Ia merasa dirinya sehat. Ketika dokter memvonis bahwa usianya tinggal beberapa bulan, ia baru mengerti artinya bahwa ia jatuh dalam jerat. Ia sendiri yang merajutnya dan dirinya sendiri jatuh di jerat tersebut. Pada waktu orang ini sedang menikmati makan minum, kalau ada orang menegornya ia bisa marah atau menunjukkan sikap tidak senang. Pada hal tegoran tersebut untuk menyelamatkannya. Ia tidak sadar
 bahwa ia ada di tepi jurang. Demikian pula dengan kehidupan banyak orang hari ini secara rohani, tidak sadar kalau ia di pinggir jurang kebinasaan. Ia hidup sesuka hatinya sendiri.

Sementara banyak orang sedang menuju api kekal, banyak orang
sedang berpesta pora dalam dosa tanpa menyadari bahaya di depannya.
January 20, 2013, 04:27:42 AM
Reply #36
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/everything-or-none

Quote
January 20

Bible in a year: Genesis 32-34

Jesus does not speak His words recklessly. When He said, “If you are not on my side, you’re against me. If you don’t gather in the harvest with me, you scatter it,” His words contain some demands and challenges that should never be considered as negligible (Matthew 12:30). With that statement, God challenges us:  Whose side do we stand on? And whose interest do we live for? Someone should not be floating between the masses. Floating masses are those who do not want to choose or decide. Even Christians and activists are not necessarily active decision makers in taking sides. Many Christians feel they have chosen God although they have not stood on God’s side. If a church servant or an activist makes the church his personal business, he will not be blunt to the people because it may affect his bread and butter. He easily gives the impression that everyone who goes to church, moreover who support church activities, are already on God’s side. To him anything will work as long as it brings more profit to church services. He will also not seriously lead the people to live as true followers of Jesus, as he himself has not become a true follower of Christ. He will not dare to say: follow me just like I am following Christ. Such behavior is actually a deadly fraud.

Together with that statement, Jesus also said: “So then, anyone of you who do not give away everything you own, cannot be my disciple (Luke 14:33).” God demands his believers to let go of all their lives to serve God. In Christianity, it does not matter how much you give, but whether you give everything or nothing at all. The act of cutting ourselves off from everything we own is shown by a principle that we do not have any other interest in this world except for God’s interests. We do not have any needs unless those needs are useful for the service of God’s work. This way of living is not something easy to do, as the common standard way of living is to live for one’s own interest. To live for the benefit of oneself is considered as a common value that does not do any wrong to life morality. It does not violate the life morality in humans’ eyes but it does not reach the standard way of how a redeemed soul should live. As a redeemed child, one should live fully for the master who has redeemed it. Truthfully, it is an honor to live fully for the King of Majesty, Jesus Christ.

In Christianity, it does not matter how much you give,

but whether you give everything or nothing at all.
January 20, 2013, 04:33:25 AM
Reply #37
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/atau-tidak-sama-sekali

Quote
Semuanya Atau Tidak Sama Sekali

January 20th, 2013

Alkitab dalam setahun: Kejadian 32-34

TuhanYesus tidak sembrono dalam ucapan-Nya. Ketika Ia berkata bahwa barang siapa tidak bersama Dia, ia melawan Dia dan siapa tidak mengumpulkan bersama Dia, ia mencerai-beraikan, mengandung tuntutan dan
tantangan yang tidak boleh dianggap sepele (Mat. 12:30). Dalam pernyataan ini Tuhan Yesus menantang kita untuk berdiri di pihak siapa dan hidup untuk kepentingan siapa? Seseorang tidak boleh ada dalam
kelompok massa yang mengambang. Massa yang mengambang adalah mereka yang tidak memiliki niat untuk memilih atau mengambil keputusan. Kalau hanya menjadi Kristen dan menjadi aktivis belum tentu termasuk kelompok pemilih aktif. Banyak orang Kristen yang merasa sudah memilih Tuhan pada hal mereka belum berdiri di pihak Tuhan. Kalau seorang pelayan jemaat atau aktivis menjadikan gereja sebagai bisnisnya pribadi, maka ia tidak akan bisa berkata tegas kepada umat, sebab hal itu bisa mengganggu mata
pencahariannya. Dengan gampangnya ia mengesankan bahwa semua yang sudah ke gereja apalagi yang mendukung kegiatan gereja berarti sudah di pihak Tuhan. Baginya yang penting menguntungkan pelayanan gerejani. Ia juga tidak akan mengarahkan jemaat sungguh-sungguh untuk hidup sebagai
pengikut Kristus yang sejati, sebab dirinya sendiri juga belum menjadi pengikut Kristus yang sejati. Ia tidak akan berani berkata: Ikutilah teladanku, seperti aku juga mengikuti teladan Kristus. Sikap ini
sebenarnya sebuah penipuan yang membinasakan.
Seirama dengan pernyataan ini, Tuhan Yesus juga berkata : Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku (Luk. 14:33). Tuhan menuntut orang percaya untuk melepaskan segenap hidupnya untuk mengabdi kepada Tuhan. Dalam Kekristenan sebenarnya tidak dipersoalkan berapa banyak seseorang memberi, tetapi apakah seseorang memberi semuanya atau tidak sama sekali. Melepaskan diri dari segala milik ditandai dengan
prinsip bahwa dalam hidup ini tidak lagi memiliki kepentingan kecuali kepentingan Tuhan. Tidak ada suatu kebutuhan kecuali kebutuhan tersebut berguna bagi pelayanan pekerjaan Tuhan. Cara hidup seperti ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan, sebab standar hidup yang dimiliki manusia pada umumnya adalah hidup untuk kepentingannya sendiri. Hidup untuk diri sendiri dianggap sebagai nilai umum yang tidak menyalahi kesantunan hidup. Memang tidak menyalahi kesantunan hidup di mata manusia tetapi
tidak memenuhi standar sebagai anak tebusan. Sebagai anak tebusan seseorang harus hidup sepenuhnya bagi majikan yang menebusnya. Sebenarnya merupakan suatu kehormatan kalau kita hidup sepenuhnya bagi
Sang Maha Raja, Tuhan Yesus.

Dalam Kekristenan tidak dipersoalkan berapa banyak seseorang memberi,
tetapi apakah seseorang memberi semuanya atau tidak sama sekali.
January 21, 2013, 04:27:31 AM
Reply #38
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/ndbbd

Quote
Not Demanding But Being Demanded

senin, January 21

Bible in a year: Genesis 35-37

Many believe as long as we do not incur losses to others or hurt them, it is fine. People with such principles have not realized humans are wounded and live in danger. It is true that we are not setting fire to our neighbor’s house, but letting our neighbor’s house burn down is an act of guilt. Jesus came to the world not for His own interest, but rather for the sake of others. He could stay peacefully with the Father, but He would be guilty if He let humans perish. It is definitely a tough choice but it is unavoidable. Avoiding it means not loving and not respecting God. The standard way of living for believers is not only to prevent incurring losses or hurting others, but also to save others’ souls, as desired by God, so they are rescued from being dragged into eternal darkness. People who have this wisdom will surely occupy their lives by trying to save more souls into heaven. This kind of life is not something extraordinary, but a standard, which in Paul’s language is stated as “To me life is Christ” (Philippians 1:21).

As redeemed souls, our entire life belongs to God. The character shown for that kind of life is to stop asking God to do us favors, but rather to give ourselves to be directed by God into fulfilling His desires. Even when we are doing God’s work and He does not seem to help us, we should still put faith in Him. Just as Stephen was stoned to death, he was never upset toward God when God did nothing to help him. On the contrary, Stephen was proud, for his God only stood still on the right side of the Father (Acts 7: 55-60). That was also what Jesus Christ had done when He was up on the cross, feeling abandoned by God. After saying, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” which means: My God, my God, why have You forsaken Me?” He surrendered His life to God (Matthew 27:46-50). There were no feelings of grumble and blame toward God. What God has done is followed by His disciple. He lived only for God’s interests. In His statement God said, “I came down from heaven not to accomplish My desire, but to fulfill God’s will, who sent me here.” Strong courage is needed to embrace this kind of lifestyle. Courage produces an endless fight. It starts from small counts to unlimited efforts. People who serve God this way will reap the rewards when the time comes.

We must not demand God to do something for us; instead we must give ourselves to be directed into fulfilling His will.
January 21, 2013, 04:36:48 AM
Reply #39
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/bukan-menuntut-tetapi-dituntut

Quote
Bukan Menuntut Tetapi Dituntut

senin, January 21st, 2013

Alkitab dalam setahun: Kejadian 35-37

Banyak orang berpikir bahwa yang penting tidak merugikan dan melukai sesama. Orang yang berpikir demikian tidak mengetahui bahwa sebenarnya manusia telah luka dan hidup dalam bahaya. Memang kita tidak menyebabkan kebakaran sebuah rumah tetangga tetapi membiarkan api membakar rumah tetangga adalah tindakan yang salah. Tuhan Yesus datang ke dunia bukan untuk kepentingan-Nya sendiri, tetapi kepentingan orang lain. Ia bisa berdiam diri di keindahan pangkuan Allah Bapa.
Tetapi Ia bisa bersalah kalau membiarkan manusia binasa. Ini sebuah pilihan yang sulit, tetapi tidak bisa dihindari. Menghindari berarti tidak mengasihi dan tidak menghormati Allah Bapa. Standar hidup orang percaya bukan hanya tidak merugikan dan melukai sesama, tetapi berusaha menyelamatkan mereka seperti kehendak Tuhan untuk menyelamatkan mereka yang digiring menuju kegelapan abadi.Tentu saja seseorang yang memiliki kesadaran ini akan mengisi hidupnya dengan usaha menyelamatkan jiwa-jiwa masuk Kerajaan Sorga. Hidup seperti ini sebenarnya bukan hidup yang luar biasa tetapi standar. Kehidupan seperti ini dibahasakan oleh Paulus dengan pernyataan "bagiku hidup adalah Kristus" (Flp. 1:21).
Sebagai umat yang ditebus, segenap hidup kita menjadi milik Tuhan. Ciri dari kehidupan seperti ini, diantaranya tidak lagi menuntut Tuhan untuk melakukan sesuatu tetapi memberi diri dituntut Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya. Bahkan ketika kita melakukan pekerjaan-Nya, tetapi Tuhan seakan-akan tidak membantu, kita tetap menaruh percaya kepada-Nya. Seperti Stefanus yang dilempari batu. Ia tidak
bersungut-sungut tatkala Tuhan tidak bertindak untuk menolong dirinya. Malahan ia bangga karena Tuhannya hanya berdiri di sebelah kanan Allah Bapa (Kis. 7:55-60).
Hal ini seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus ketika Ia ada di atas Salib merasa Bapa meninggalkan diri-Nya. Setelah berkata : "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Tuhan menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah Bapa (Mat. 27:46-50). Tidak ada persungutan atau keluhan dan sikap menyalahkan Allah Bapa di dalamnya. Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus dicontoh oleh hamba-Nya. Ia hidup hanya untuk kepentingan Allah Bapa.
Dalam satu pernyataan-Nya Tuhan Yesus berkata "Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku". Untuk memiliki kehidupan seperti ini dibutuhkan keberanian yang sangat tinggi, suatu keberanian untuk memberi pertaruhan tanpa batas. Hal ini dimulai dari jumlah kecil sampai tanpa batas. Orang-orang yang berani melayani Tuhan dengan cara ini akan menuai pada waktunya di kerajaan-Nya.
Kita harus bersedia tidak menuntut Tuhan melakukan sesuatu tetapi
memberi diri dituntut oleh Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)