Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 148050 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

April 27, 2020, 05:51:05 AM
Reply #3130
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/selera-jiwa/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/04/27-APRIL-2020-SELERA-JIWA.mp3

Selera Jiwa
27 April 2020

Play Audio Version

Selama tiga setengah tahun, Tuhan Yesus mendidik murid-murid, namun selera jiwa mereka belum berubah secara total. Setelah kebangkitan Tuhan Yesus, murid-murid masih menuntut agar Tuhan Yesus memulihkan Kerajaan Israel duniawi. Mereka masih berpikir duniawi. Mereka belum memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga. Mereka masih ingin membangun kerajaan mereka sendiri. Mereka masih memiliki cita rasa atau selera bumi ini, bukan langit baru dan bumi yang baru. Itulah sebabnya, mereka harus menerima ROH KUDUS yang menuntun mereka kepada segala kebenaran. Perubahan secara signifikan terjadi ketika mereka dipenuhi ROH KUDUS. ROH KUDUS membawa perubahan yang sangat luar biasa. Bapa menghendaki agar orang percaya memiliki selera atau cita rasa rohani atau surgawi.

Selera atau cita rasa rohani tersebut adalah gairah untuk menikmati kehidupan yang melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan Allah Bapa, bukan menikmati yang lain (Yoh. 4:34). Dengan melakukan itu, Tuhan Yesus menikmati hidup-Nya sebagai Anak Allah yang dapat memuaskan hati Bapa (Mat. 3:17). Tuhan Yesus memuaskan diri-Nya secara benar. Diri-Nya merasa puas ketika hidup-Nya memuaskan atau menyenangkan Bapa-Nya. Seperti Tuhan Yesus, demikian pula seharusnya kita. Kepuasan diri anak-anak Allah adalah melakukan kehendak Bapa. Ini adalah kepuasan yang kudus.

Sebagai orang percaya yang sudah mengerti kebenaran, kita harus bersungguh-sungguh mengubah cita rasa jiwa atau selera duniawi kita dengan selera yang baru, yang juga dimiliki oleh Tuhan Yesus, yaitu melakukan kehendak Bapa. Dalam hal ini, kita harus benar-benar memperkarakan: “Apakah kita sudah sungguh-sungguh melakukan kehendak Bapa?” Hal tersebut merupakan kepuasan jiwa kita dan menjadi selera jiwa yang permanen. Dengan selera atau cita rasa jiwa ini, kita dapat menolak setiap tawaran yang diajukan oleh kuasa gelap, yaitu keindahan dunia ini. Seperti Tuhan Yesus dengan tegas menolaknya, kita pun juga harus dengan tegas menolaknya. Memang kita menjadi manusia yang “aneh” di mata manusia di sekitar kita, tetapi dengan cara ini, kita menantang zaman.

Dalam suratnya, Paulus menunjuk adanya ilah zaman ini: Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa, yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah (2Kor. 4:3-4). Ilah zaman ini menunjuk kepada semangat atau gairah zaman yang menguasai sebagian besar manusia pada zaman itu. Ilah di sini sama dengan allah atau berhala. Pada dasarnya, berhala sama artinya dengan allah, yang arti sempitnya adalah objek yang disembah dan dipuja. Jadi, siapakah allah bagi seseorang, dialah berhalanya; atau siapakah berhala seseorang, dialah allahnya. Dalam hal ini, berhala adalah sesuatu yang menggerakkan seseorang melakukan pengabdian atau pelayanan.

Dalam arti luas, berhala adalah sesuatu atau satu pribadi yang dianggap paling berharga, sebab mendatangkan kesenangan atau kebahagiaan, keuntungan dan keamanan. Tentu saja berhala bagi seseorang adalah pusat kehidupan dimana seseorang bergantung dan jiwanya melekat. Seseorang tidak akan merasa lengkap tanpanya. Kehidupan ini akan menjadi sepi dan kosong tanpanya. Dengan demikian, seseorang tidak bisa hidup tanpanya. Dalam hal ini, berhala atau allah adalah kelengkapan hidup yang mutlak harus ada. Allah atau berhala adalah pasangan hidup setiap individu orang beragama. Orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri adalah orang yang masih memberhalakan sesuatu. Dirinya sendiri bisa menjadi berhala tersebut. Orang-orang seperti ini biasanya suka memanjakan perasaannya sendiri. Selera jiwanya adalah membahagiakan diri sendiri. Tentu saja materi dunia dengan segala hiburannya sebagai sarana untuk kebahagiaannya. Orang seperti ini akan semakin terbelenggu oleh percintaan dunia, selalu memburu kekayaan dunia, dan tidak pernah selesai dengan dirinya sendiri.

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>




April 27, 2020, 05:51:34 AM
Reply #3131
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<

Sebagai umat pilihan, kita harus hanya berfokus pada proses keselamatan yang Tuhan sedang kerjakan, yaitu mengalami perubahan selera jiwa. Selera jiwa kita harus selera jiwa yang dimiliki Yesus, yaitu selalu menyukakan hati Bapa. Kalau kita masuk proyek ini, apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini pasti mendatangkan kebaikan bagi kita. Kebaikan itu adalah menjadi serupa dengan Yesus, yang sama artinya berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Jadi bukan hanya berstatus sebagai anak-anak Allah, melainkan benar-benar berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Hanya orang yang berkeadaan sebagai anak-anak Allah dalam karakternya, yang dapat memiliki selera jiwa yang benar di hadapan Allah. Orang yang hidup dengan selera jiwa seperti yang ada pada Yesus adalah orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri di hadapan Allah.




April 28, 2020, 06:26:59 AM
Reply #3132
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/bukan-rumah-di-bumi/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/04/28-APRIL-2020-BUKAN-RUMAH-DI-BUMI-1.mp3


Bukan Rumah Di Bumi
28 April 2020

Play Audio Version

Orang yang dapat menghayati dengan benar bahwa dirinya bukan dari dunia ini dan benar-benar bisa menghayati bahwa rumahnya ada di surga adalah orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Kenyataannya, banyak orang Kristen yang tidak dapat menghayati bahwa dunia ini bukan rumah kita. Tuhan menyatakan berulang kali bahwa kita bukan berasal dari dunia ini. Paulus pun menyatakan bahwa kewarganegaraan kita bukan di bumi. Tetapi faktanya, tidak sedikit orang Kristen yang berusaha keras bagaimana memiliki rumah pribadi sebesar-besarnya dan semewah-mewahnya. Mereka berpikir bahwa kesempatan memiliki rumah hanya sekali di bumi ini. Cara berpikir demikian membuat mereka memandang kematian sebagai hilangnya kesempatan memiliki kenyamanan untuk menikmati kehidupan ini. Bagi mereka, rumah atau tempat tinggal adalah kenikmatan satu-satunya dalam kehidupan yang tidak pernah terulang. Dengan menyatakan hal ini, bukan berarti mereka yang memiliki rumah mewah berkeadaan berdosa. Kita harus cerdas dan jujur serta berhati-hati menyikapi hal ini. Dalam hal ini, dituntut kejujuran untuk mengoreksi diri sendiri.

Banyak orang Kristen memiliki cara berpikir yang salah tersebut, sehingga mereka bergaya hidup seperti orang-orang yang tidak memiliki janji bahwa Tuhan Yesus akan membawa kita ke Rumah Bapa. Malangnya, orang-orang Kristen tersebut merasa bahwa mereka telah memiliki hidup yang wajar. Mereka merasa tidak berdosa, sebab hal itu dipandang tidak menyalahi Firman Tuhan. Gereja pun tidak mengingatkan mereka dengan tegas. Ini adalah kesalahan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, dimana orang Kristen hidup dalam kewajaran anak-anak dunia dan mereka merasa tidak bersalah.

Sesungguhnya, orang percaya terhisab bukan berasal dari bumi ini, melainkan dari atas, dan pengharapannya hanya ditujukan pada penyataan kedatangan Tuhan Yesus nanti (1Ptr. 1:13-14). Dengan kesadaran ini, mestinya apa yang dipandang sebagai kebutuhan primer hanya satu, yaitu Tuhan saja. Orang percaya harus memiliki hidup dalam penantian yang kuat untuk dipindahkan ke rumah yang sesungguhnya di langit baru dan bumi yang baru. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi kita. Kalau Ia sudah menyediakan tempat bagi kita, Ia akan datang untuk menjemput kita, supaya di mana Ia berada, kita juga berada (Yoh. 14:1-3).

Kehidupan orang percaya yang benar adalah hidup dalam penantian yang penuh kerinduan terhadap penjemputan-Nya. Hal ini juga berarti kita lebih memfokuskan diri pada rumah abadi kita, bukan rumah sementara di bumi ini. Kalau tidak demikian, berarti pengkhianatan atau ketidaksetiaan kepada Tuhan Yesus. Kita harus melewati hari ini dengan berprinsip bahwa kehidupan di bumi yang sementara ini hanya persiapan untuk memperoleh rumah atau kehidupan yang sesungguhnya nanti di surga. Rumah memang kebutuhan primer menurut pikiran dan konsep manusia pada umumnya, tetapi rumah harus diadakan demi memenuhi kebutuhan keluarga guna mengabdi kepada Tuhan, bukan untuk citra diri, harga diri, dan kehormatan.

Orang percaya adalah orang yang menumpang di bumi. Untuk itu, kita sebagai orang percaya yang benar harus rela berstatus sebagai orang yang menumpang di bumi. Orang yang menumpang tetapi merasa berhak berdomisili secara permanen di suatu tempat atau rumah orang lain dan bertindak sebagai tuan rumah, adalah perampok. Tanpa disadari, banyak orang Kristen berkeadaan demikian. Harus diingat bahwa harta kita sendiri baru nanti di Kerajaan Surga, sedangkan segala sesuatu yang kita miliki sekarang adalah harta orang lain, yaitu harta-Nya Tuhan (Luk. 16:12).

>>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>




April 28, 2020, 06:27:32 AM
Reply #3133
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<

Tuhan mengajarkan bagaimana diri-Nya tidak memiliki kenyamanan seperti kenyamanan yang dimiliki manusia lain. Ia memberi pernyataan bahwa diri-Nya tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya, bahkan Ia mati di kayu salib dalam kemiskinan jasmani yang ekstrem. Oleh sebab itu, fokus hidup orang percaya harus diarahkan kepada proses kesempurnaan menjadi seperti Tuhan Yesus, guna persiapan tinggal di negeri atau rumah sendiri di dunia yang akan datang, yaitu di langit baru dan bumi yang baru. Sebagai orang yang terpanggil menjadi umat pilihan yang berpotensi mewarisi Kerajaan Surga, seharusnya kita memiliki cara hidup yang berbeda dengan mereka yang bukan umat pilihan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita bukan berasal dari dunia ini, sama seperti Dia bukan berasal dari dunia ini (Yoh. 17:16). Betapa luar biasa kedudukan orang percaya, sebab disamakan dengan Tuhan Yesus sendiri yang bukan berasal dari dunia ini. Orang yang dapat sepenuhnya menghayati hal ini adalah orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri.




April 29, 2020, 07:01:14 AM
Reply #3134
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/kehormatan-dari-manusia/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/04/29-APRIL-2020-KEHORMATAN-DARI-MANUSIA.mp3

Kehormatan Dari Manusia
29 April 2020

Play Audio Version

Orang yang berani hidup dalam kesederhanaan adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Apa yang dimaksud dengan kesederhanaan itu? Hidup dalam kesederhanaan bukan berarti tidak memakai perhiasan, pakaian, dan fasilitas lain yang baik. Dalam hal ini, kita harus bisa memahami pengertian kepatutan. Kepatutan—dalam berpakaian, berkendaraan, memiliki rumah, menggunakan perhiasan, dan lain sebagainya—harus didasarkan pada kesediaan diri untuk menjadi berkat agar hidup kita memancarkan Pribadi Kristus. Sesungguhnya, kesederhanaan dimulai dari sikap hati, yaitu sikap hati yang tidak mencari hormat atau penilaian manusia.

Orang yang memiliki sikap hati yang sederhana tidak pernah merasa dirinya berharga dengan fasilitas yang menempel di tubuhnya, kendaraan, rumah, mobil, dan segala hal yang ada padanya. Walaupun manusia di sekitarnya menghormati dirinya, tetapi ia tidak merasa bahwa hal itu merupakan nilai lebih dalam hidupnya. Jadi, satu hal yang sangat prinsip, bahwa kita tidak boleh mencari dan mengharapkan hormat dari manusia. Model satu-satunya mengenai kesederhanaan adalah Tuhan Yesus Kristus. Ketika Ia meninggalkan kemuliaan-Nya, tidak ada yang disisakan untuk memperoleh kehormatan. Ia mengosongkan diri, termasuk hak untuk diperlakukan wajar. Ia bukan saja tidak diperlakukan sebagai Penguasa Tinggi, bahkan Ia tidak diperlakukan sebagai manusia biasa. Kesederhanaan Tuhan Yesus itulah kemuliaan-Nya.

Banyak orang berusaha membangun nilai diri dengan pendidikan tinggi, pangkat, penampilan, fasilitas yang dimilikinya, seperti rumah, mobil, perhiasan dan lain sebagainya, teman hidup atau jodoh, keturunan, dan lain sebagainya. Kuasa kegelapan berusaha membutakan mata pengertian mereka, sehingga mereka semakin buta terhadap kebenaran dan menjadi bodoh. Ciri dari orang yang dibutakan tersebut adalah membanggakan perkara materi yang dimilikinya, sebab baginya, itulah yang menentukan nilai diri dan mendatangkan kehormatan. Ia akan memanfaatkan apa pun—termasuk Tuhan—untuk kepentingan dirinya. Keadaan orang seperti ini bukan semakin sederhana, melainkan semakin gila hormat.

Nilai diri yang dikejar orang-orang seperti itu sebenarnya bukanlah nilai diri yang benar. Nilai diri yang benar adalah “berkenan di hadapan Alah.” Kebutaan pengertian atau kebodohan manusia mengakibatkan manusia tidak menyadari kemiskinannya tersebut, sehingga tidak berusaha menemukan kembali nilai diri yang telah jauh dari standar rancangan Allah semula. Manusia mengalihkan perhatiannya kepada banyak hal yang tidak mengembalikan dirinya kepada nilai diri yang sesungguhnya. Dengan demikian, sikap tidak sederhana adalah kausalitas dari kebinasaan seseorang. Sebab, mereka yang tidak mau hidup sederhana akan berusaha hidup hanya untuk mencari nilai diri di mata manusia. Keinginan mereka tidak pernah berhenti, selalu meletup untuk dipuaskan demi memperoleh kehormatan bagi dirinya sendiri.

Segala keinginan manusia yang bertujuan mendapat kehormatan bagi manusia akan berakhir sia-sia. Keinginan seperti ini bukan berasal dari Allah, dan akan dibinasakan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh dikuasai oleh suatu keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Biasanya, keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah adalah keinginan manusia itu sendiri. Hal ini membuat manusia menjadi “tuhan bagi diri sendiri” dan juga menjadi “tuhan bagi sesamanya.” Tetapi mereka tidak menyadari hal ini, sebab mereka berpikir bahwa memiliki keinginan adalah suatu kewajaran hidup. Keinginan-keinginan yang berasal dari diri manusia itu sendiri pasti menggeser keinginan untuk mencari hormat di hadapan Allah.

Singkatnya hidup di dunia ini adalah kesempatan untuk memperoleh kehormatan dari Allah sehingga layak dimuliakan bersama-sama dengan Yesus (Rm. 8:28-29). Di sinilah sebenarnya letak nilai diri kita sebagai anak-anak Allah. Manusia adalah satu-satunya makhluk di bumi yang memiliki kesadaran mengenai nilai diri. Manusia adalah makhluk yang diciptakan Tuhan dengan nilai diri yang sangat luar biasa, sebab manusia diciptakan dengan rancangan dapat segambar dan serupa dengan Allah. Di sinilah letak kemuliaannya. Dengan demikian, inti nilai diri manusia terletak pada keberadaannya yang serupa dengan Allah, bukan pada pakaian, perhiasan, mobil, rumah, dan lain sebagainya, seperti yang ada di pikiran banyak orang.

<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<





April 29, 2020, 07:01:48 AM
Reply #3135
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>

Orang yang membangun nilai diri berdasarkan barang yang dikenakan dan dimiliki, membawa dirinya kepada kebinasaan. Seperti yang dikemukakan, bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kesadaran terhadap nilai diri. Secara naluri manusia bergerak, menjalankan kehidupannya untuk menemukan dan memiliki nilai diri. Tetapi, oleh karena tidak mengenal kebenaran, manusia menjadi sesat. Jadi, orang yang masih mencari kehormatan adalah orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri. Ini berarti hidup dalam kesombongan. Allah menentang orang sombong, tetapi memberi karunia kepada orang yang rendah hati. Dengan demikian, orang sombong atau angkuh—yaitu mereka yang masih mengharapkan kehormatan dari manusia—adalah orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri.





April 30, 2020, 06:26:14 AM
Reply #3136
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/mengekspresikan-kehidupan-yesus/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/04/30-APRIL-2020-MENGEKSPRESIKAN-KEHIDUPAN-YESUS.mp3

Mengekspresikan Kehidupan Yesus
30 April 2020

Play Audio Version

Menjadi orang percaya berarti masuk proses perubahan cara berpikir dalam hati nuraninya. Untuk merubah cara berpikir seseorang, dalam hati nuraninya dibutuhkan format ulang yang tidak mudah. Hal ini membutuhkan waktu panjang, tergantung seberapa sesat cara berpikirnya dan seberapa lama telah digunakannya. Kalau selama ini bangunan cara berpikirnya dibangun di atas berbagai filosofi dunia yang tidak sesuai dengan kebenaran Allah, sekarang harus mulai diformat ulang dengan memberikan kebenaran-kebenaran Alkitab. Filosofi-filosofi dunia yang sesat adalah konsep-konsep kafir yang harus digantikan dengan konsep-konsep kebenaran Alkitab. Dari hal ini, orang percaya membutuhkan pembaharuan berpikir setiap hari. Pembaharuan berpikir ini adalah pembaharuan konsep-konsep yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan dan kebenaran-kebenaran Alkitab (Rm. 12:2). Proses pembaharuan berpikir untuk membangun hati nurani sama artinya dengan proses mencerdaskan hati nurani atau mendewasakannya. Hal ini juga sama dengan menformat ulang kehidupan individu.

Karena segenap hidup kita ditebus oleh darah Yesus sehingga dimiliki oleh Tuhan, maka Tuhan menginginkan agar bejana jiwa kita dapat menjadi bejana Tuhan untuk mengekspresikan diri Tuhan, bukan diri manusia. Tubuh seseorang yang sudah ditebus oleh darah Yesus dan menjadi milik Tuhan harus menjadi alat peraga Tuhan guna menampilkan diri Tuhan. Hal ini akan membuat seseorang bukan hanya menjadi “seperti” dalam arti mirip dengan Yesus, melainkan dapat memperagakan kehidupan Yesus yang pernah dijalani di bumi. Inilah yang dimaksud dengan menerima Yesus. Menerima Yesus berarti menerjemahkan atau mengenakan hidup-Nya dalam hidup kita.

Salah satu ciri dari karakter Yesus adalah sikap mengampuni dan mengasihi musuh dengan hati yang tulus kepada mereka yang memusuhi dan menyakiti-Nya. Peragaan kasih-Nya yang sempurna terhadap mereka yang memusuhi dan menyakiti-Nya, nyata sekali ketika Ia tergantung antara langit dan bumi, yaitu ketika ada di salib. Di atas salib, dari bibir-Nya meluncur doa yang pasti mengalir dari hati-Nya yang tulus: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk. 23:34). Dalam kehidupan sehari-hari, orang percaya juga akan menghadapi berbagai perlakuan tidak adil, fitnah, hinaan, sikap menyakiti, dan lain sebagainya dari orang-orang yang memusuhi atau berniat jahat. Dalam hal ini, orang percaya diajar dan harus belajar untuk mengasihi musuh dan mengampuni mereka. Dengan cara ini, orang percaya telah selesai dengan dirinya sendiri.

Bila orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri marah, hal itu bukan karena ia mau memuaskan egonya. Kemarahan tidak selalu salah. Sesuatu yang mendorong mengapa seseorang marah itulah yang menentukan kualitas kemarahan tersebut. Pada umumnya, kemarahan seseorang didorong oleh emosinya yang hendak diledakkan, berhubung atau terhadap sesuatu yang dipandang merugikan dan menyusahkan dirinya atau ketidaksukaan terhadap suatu tindakan atau keadaan. Marah kudus terjadi karena melihat bahaya dalam diri seseorang yang diakibatkan oleh tindakannya. Kemarahan ini harus merupakan ekspresi dari perasaan Tuhan. Marah yang tidak kudus mendorong seseorang merusak (destruktif), cenderung menghukum dan membinasakan, atau melukai sebagai balas dendam. Marah kudus mendorong seseorang memperbaiki suatu kesalahan. Kalaupun ada sanksi, tujuannya demi kebaikan orang yang dimarahi.

Orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri memiliki belas kasihan terhadap sesama, bukan belas kasihan kepada dirinya sendiri. Belas kasihan adalah perhatian yang tulus kepada mereka yang membutuhkan pertolongan. Kebenaran mengenai belas kasihan ini diajarkan Tuhan Yesus melalui perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Luk. 10). Belas kasihan tidak memandang perbedaan suku bangsa dan golongan. Belas kasihan ditujukan kepada sesama manusia, yaitu setiap orang yang kita jumpai yang membutuhkan pertolongan. Dalam perjalanan hidup sebagai anak-anak Allah yang harus memperagakan kehidupan Tuhan Yesus, kita diperhadapkan kepada orang-orang yang dapat menggerakkan belas kasihan kita terhadap mereka, sehingga kita harus berbuat sesuatu kepada mereka.

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>




April 30, 2020, 06:29:40 AM
Reply #3137
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<<


Orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri adalah orang yang memiliki kelemahlembutan yang benar. Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa diri-Nya lemah lembut (Mat. 11:29). Kelemahlembutan Tuhan tampak jelas dalam hal penerimaan-Nya terhadap orang lain. Tuhan Yesus menerima semua orang dengan tulus sebagaimana adanya orang itu. Paulus menasihati orang percaya untuk saling menerima satu dengan yang lain, seperti Kristus telah menerima kita (Rm. 15:7; Ef. 4:2). Dengan demikian, kita tidak lagi saling menghakimi dan tidak saling menghukum, yang akhirnya saling membinasakan. Sebagai pelayan-pelayan Tuhan, kita harus membimbing orang dengan segala kesabaran; maksudnya dengan kelemahlembutan Kristus, kita menerima orang. Sebagaimana Tuhan Yesus berbuat demikian, demikian pula kita menerima orang lain sebagaimana adanya mereka (Gal. 6:1; 2Tim. 2:25; Kol. 3:12).
May 01, 2020, 03:34:29 PM
Reply #3138
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/rancangan-yang-gagal/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/04/01-MEI-2020-RANCANGAN-YANG-GAGAL.mp3

Rancangan Yang Gagal
01 May 2020

Play Audio Version

Manusia bukanlah hasil proses evolusi, yaitu suatu proses perubahan yang tidak disengaja pada makhluk hidup secara bertahap dalam kurun waktu yang panjang, dari bentuk yang sederhana menjadi bentuk yang lebih kompleks, atau dari binatang tingkat rendah kepada bentuk binatang tingkat tinggi. Teori Evolusi Ilmiah (Naturalis Evolution) adalah teori yang menyesatkan dan memicu orang menjadi ateis atau tidak percaya terhadap eksistensi Allah. Sejatinya, manusia adalah hasil karya—dengan sengaja dan terencana—tangan Allah yang luar biasa, yaitu ELOHIM Yahweh. Manusia diciptakan dengan cara yang sangat unik dan istimewa, tidak seperti ciptaan-Nya yang lain. Ini adalah sebuah penciptaan teistis yang bertentangan dengan konsep teori evolusi ateis.

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kata-kata yang digunakan untuk “gambar” dan “rupa” di dalam teks Ibrani adalah tselem demuth (צַלְמֵ֖ דְמוּתֵּ֑). Tselem berarti gambar, sedangkan demuth menunjuk kepada keserupaan. Dalam Kejadian 1:26 tertulis: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Penciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah barulah sebuah rancangan.

Kata tselem menunjuk kepada “gambar,” maksudnya bahwa manusia diciptakan dengan keadaan memiliki komponen-komponen yang juga dimiliki oleh Allah, yaitu pikiran dan perasaan. Dari pikiran dan perasaan tersebut, dapat dilahirkan kehendak. Adapun demuth menunjuk kualitas dari pikiran dan perasaan tersebut. Kalau pikiran dan perasaan manusia berkualitas sesuai kehendak Allah, maka kehendaknya juga sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini menunjuk keserupaannya. Allah merancang agar manusia dapat mengembangkan diri sehingga dapat memiliki kehendak yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Keserupaan dengan Allah yang dimiliki manusia bukan sesuatu yang sifatnya statis, melainkan progresif. Manusia pertama, Adam, harus mengembangkan keserupaan itu dalam pimpinan Roh Allah. Keserupaan mengalami proses perkembangan. Jadi, yang diciptakan Allah pada mulanya atas manusia adalah kesegambaran-Nya (tselem) saja, yaitu komponen-komponen yang ada pada Allah, yang juga dimiliki manusia, yaitu pikiran dan perasaan (Kej. 1:27). Adapun kualitas komponen-komponen tersebut atau keserupaannya (demuth), menjadi tanggung jawab manusia untuk mengembangkannya. Kalau manusia mengembangkannya dengan baik, pikiran dan perasaannya selalu dapat melahirkan kehendak yang sesuai dengan Allah. Dalam hal ini, manusia bisa mencapai keserupaan dengan Allah.

Ketika manusia dinyatakan jatuh dalam dosa, keberadaannya tidak tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah, berarti kemuliaan Allah hilang atau berkurang atas diri manusia. Dalam teks bahasa Yunani, kata “kehilangan” adalah yustereo (ὑστερέω; Rm. 3:23). Kata yustereo sebenarnya berarti “kurang” atau “tidak mencapai.” Dengan demikian, yang kurang atau hilang—tepatnya yang tidak “tercapai”—adalah keserupaannya, bukan gambar-Nya. Sampai kapan pun, gambar Allah (tselem) atas manusia tidak hilang, tetapi keserupaannya (demuth) yang gagal dicapai. Komponen-komponen itu—yaitu pikiran dan perasaan—tidak hilang, tetapi komponen-komponen tersebut tidak pernah dapat mencapai kualitas seperti rupa (demuth) Allah. Manusia tidak mampu memiliki kehendak yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ini berarti, Adam gagal menemukan gambar diri yang ideal menurut Allah.

Manusia sudah jatuh dalam dosa, artinya gagal mencapai rancangan Allah. Tidak dinyatakan bahwa gambar Allah (tselem) telah hilang sama sekali, tetapi kualitasnya berkeadaan tidak seperti yang Allah kehendaki. Keselamatan dalam Yesus Kristus bertujuan untuk menemukan kemuliaan Allah dalam kehidupan umat pilihan. Di sini, dapatlah kita pahami bahwa Kekristenan adalah perjuangan menemukan kemuliaan Allah yang hilang. Kemuliaan Allah tersebut terdapat pada moralnya, di mana manusia bukan hanya mampu melakukan hukum secara umum, melainkan juga memiliki cara berpikir seperti Allah. Kegagalan Adam mencapai keserupaan dengan Allah mengakibatkan semua keturunannya mewarisi keadaan seperti Adam, yaitu tidak mampu mencapai standar yang Allah kehendaki. Inilah yang dikatakan dalam Efesus 2:1 sebagai berkeadaan “mati.”

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>




May 01, 2020, 03:35:01 PM
Reply #3139
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<

Kejatuhan Adam ke dalam dosa, menyebabkan semua keturunan Adam tidak pernah menjumpai contoh dari gambar diri manusia yang benar atau ideal, karena Adam yang diharapkan menjadi model, gagal menemukan gambar diri yang sesuai rancangan Allah. Oleh sebab itu, dibutuhkan satu sosok yang dapat menjadi role model gambar diri yang benar. Yesuslah jawabannya. Untuk itulah Bapa mengutus Putra-Nya tersebut. Selain menebus dosa manusia, Yesus juga menjadi “role model” manusia sesuai rancangan Allah. Keselamatan berarti proses manusia menjadi manusia seutuhnya, sesuai dengan model yang dikehendaki oleh Allah, yaitu Yesus. Dengan demikian, orang percaya yang masuk proses keselamatan harus menjadi seperti Yesus.




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)