Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 148049 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 02, 2020, 05:10:32 AM
Reply #3140
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/isi-keselamatan-yang-benar/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/04/02-MEI-2020-ISI-KESELAMATAN-YANG-BENAR.mp3

Isi Keselamatan Yang Benar
02 May 2020

Play Audio Version

Keselamatan adalah usaha Allah mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Keselamatan dapat dialami dan dimiliki seseorang karena Allah menyediakan jalan keselamatan, dan manusia meresponsnya dengan benar, sesuai dengan standar respons yang dikehendaki oleh Allah. Respons yang benar bukan hanya menjadi orang Kristen dan mengaku percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Percaya adalah tindakan konkret, bukan hanya aktivitas nalar yang mengakui status Yesus bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Percaya atau imannya umat pilihan harus mengacu pada iman Abraham sebagai bapa orang percaya. Percaya Abraham kepada Allah bukan hanya di nalar, melainkan dalam tindakan konkret, yaitu melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah. Firman Allah menegaskan bahwa iman adalah tindakan, bukan sekadar aktivitas nalar atau pikiran semata-mata. Iman tanpa perbuatan, seperti tubuh tanpa roh.

Keselamatan adalah sebuah proses menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Proses ini yang tidak pernah berhenti, sampai seseorang menutup mata. Rancangan Allah semula adalah menjadi manusia sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Adam di Eden gagal mencapai target ini sehingga semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Manusia gagal menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah, sehingga tidak bisa bersekutu dengan Allah secara ideal. Manusia harus dibuang dari hadirat Allah, dan terancam kematian kekal, yaitu terpisah dari hadapan Allah selamanya, masuk ke dalam api kekal. Kalau tidak ada penyelesaian—yaitu keselamatan oleh Yesus—maka semua manusia terhilang dan binasa di kekekalan.

Manusia pertama yang mencapai standar manusia sesuai dengan gambar dan rupa Allah adalah Yesus. Dia adalah manusia sempurna (The only perfect man). Adam pertama telah gagal, tetapi Adam kedua—atau yang disebut juga sebagai Adam terakhir, yaitu Yesus—berhasil menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah. Oleh kedatangan dan kematian Yesus di kayu salib serta kebangkitan-Nya, manusia memperoleh penyelesaian yang sempurna. Yesus memikul dosa dunia, membenarkan, dan membawa orang percaya kepada Bapa untuk menerima ROH KUDUS, guna dikembalikan ke rancangan Allah semula. Yesus menjadi model manusia yang dikehendaki oleh Allah. Ini berarti, keselamatan adalah usaha Allah yang direspons dengan benar oleh manusia sehingga manusia dapat menjadi seperti Yesus. Sebenarnya, menjadi seperti Yesus adalah sesuatu yang mustahil dicapai, tetapi Allah menuntun orang percaya di dalam atau melalui ROH KUDUS sehingga dapat mencapainya (Mat. 19:26).

Kalau seseorang berpandangan bahwa Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang di luar kesadaran orang tersebut, hal itu akan mengarahkan pengertian keselamatan hanya berorientasi pada terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Ini sebuah pengertian yang kurang tepat. Namun faktanya, demikianlah definisi keselamatan yang dimiliki banyak orang Kristen hari ini. Hal ini mencenderungkan orang-orang Kristen tidak menyadari tuntutan keselamatan yang dikehendaki oleh Allah bahwa kita harus dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Ketidaktepatan pengertian tersebut mengunci pikiran orang Kristen sehingga membangun asumsi bahwa tidak perlu ada perjuangan dalam keselamatan.

Kalau Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang, berarti manusia tidak perlu memiliki respons secara memadai terhadap keselamatan yang Allah sediakan. Manusia hanya menerima saja “takdir” dirinya yang ditentukan secara sepihak oleh Allah berdasarkan kedaulatan-Nya yang mutlak. Dengan demikian, sulit menempatkan tanggung jawab manusia secara proporsional. Mereka lebih cenderung hanya mensyukuri keselamatan cuma-cuma dan otomatis yang mereka terima, daripada berjuang untuk mencapai maksud tujuan keselamatan itu diadakan, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula. Kekristenan seperti ini menjenuhkan. Akibatnya, ditinggalkan oleh masyarakat Kristen seperti yang nyata telah terjadi dalam kehidupan masyarakat Eropa.

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>




May 02, 2020, 05:11:12 AM
Reply #3141
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<

Kalau seseorang berpandangan bahwa Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang di luar kesadaran orang tersebut, maka bisa menciptakan suasana hidup orang Kristen yang hanya menunggu kematian, yang sesudahnya diyakini pasti masuk surga. Hidup Kekristenan seperti ini tidak akan diisi dengan perjuangan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Hari-hari hidup orang Kristen seperti itu hanya diisi dengan segala kesibukan hidup seperti wajarnya manusia lain. Hari Minggu ke gereja sebagai bentuk “kebaktian” kepada Allah. Setelah pergi ke gereja, mereka sudah merasa memenuhi tanggung jawabnya sebagai umat pilihan, yaitu “beribadah” kepada Allah. Mereka merasa sudah memenuhi standar hidup orang percaya yang berkenan kepada Allah. Bagi mereka, tidak pergi ke dukun, tidak berbuat jahat, dan tetap setia menjadi orang Kristen adalah standar hidup orang percaya yang benar. Padahal, inti Kekristenan sebenarnya adalah mencapai kehidupan seperti Yesus.




May 03, 2020, 05:19:37 AM
Reply #3142
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/pemulihan-hubungan-dengan-allah/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/04/03-MEI-2020-PEMULIHAN-HUBUNGAN-DENGAN-ALLAH.mp3

Pemulihan Hubungan Dengan Allah
03 May 2020

Play Audio Version

Kesalahan memahami pengajaran mengenai kasih karunia membuat banyak orang Kristen menganggap bahwa masuk surga atau memperoleh keselamatan adalah sesuatu yang mudah. Ini pandangan yang salah. Sesungguhnya, untuk memiliki keselamatan, harus ada perjuangan. Orang percaya harus memiliki perjuangan untuk dapat memiliki anugerah yang Allah sediakan dengan cuma-cuma. Dalam mewujudkan keselamatan dalam hidup ini, harus ada perjuangan. Setelah Allah menyediakan keselamatan melalui karya Kristus di kayu salib, selanjutnya Allah tidak bertindak sendiri secara sepihak untuk mewujudkan keselamatan tersebut. Umat pilihan dituntut untuk memberi respons yang proporsional sebagai usaha menanggapi kasih karunia yang Allah sediakan.

Sejatinya, kasih karunia tidak meniadakan tanggung jawab manusia. Allah memiliki bagian yang hanya Dia saja yang bisa memenuhinya, dan manusia memiliki bagian yang harus dipenuhi. Bagian Allah menyediakan keselamatan, bagian manusia merespons keselamatan tersebut. Melalui segala hal, ROH KUDUS bekerja menawarkan keselamatan, dengan memerhatikan kehendak bebas manusia dalam merespons kasih karunia Allah. Kesalahan memahami pengertian kasih karunia bisa mengakibatkan orang percaya tidak menggunakan tanggung jawabnya sebagai umat pilihan, sehingga mereka tidak merespons kasih karunia secara proporsional. Hal ini bisa berakibat keselamatan tidak terwujud dalam kehidupannya.

Pada intinya, berbicara mengenai kasih karunia, orientasinya adalah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu manusia yang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang jatuh dalam dosa telah menjadi manusia yang tidak sesuai dengan rancangan Allah semula. Keadaan ini adalah keadaan dimana manusia tidak memiliki kemuliaan Allah, atau keagungan pribadi sebagai anak-anak Allah. Keselamatan adalah usaha Allah mengembalikan manusia kepada rancangan semula, sehingga manusia dapat kembali bersekutu dengan Penciptanya, yaitu menemukan tempatnya di hadapan-Nya dan dapat menempatkan Allah secara benar di dalam hidupnya.

Keselamatan menciptakan pemulihan hubungan manusia dengan Allah yang telah putus. Dalam hal ini, manusia yang terhilang dapat ditemukan kembali untuk bersekutu dengan Dia. Untuk itu, harus ada pemulihan gambar Allah yang rusak, sehingga manusia dapat mengimbangi keagungan Pribadi Allah. Pemulihan gambar Allah ini sama dengan “mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar” (Flp. 2:12), sehingga dapat mengenakan kehidupan Yesus (Gal. 2:19-20; Kol. 3:1-4). Tentu saja nanti di balik kubur, buahnya adalah manusia terhindar dari api kekal dan diperkenan masuk surga. Bagi umat pilihan, mereka akan dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus atau memerintah bersama dengan Dia dalam Kerajaan-Nya (Mat. 20:23; Luk. 22:29; Rm. 8:17, 30).

Dengan dikembalikannya manusia serupa dengan gambar-Nya, berarti manusia bisa berdamai dengan Allah. Berdamai bukan hanya dalam arti statusnya atau secara hukum (de jure), melainkan juga secara de facto, artinya manusia bisa bersekutu dengan Dia. Hanya manusia yang bermoral Allah—yaitu yang menanggalkan kodrat dosanya (sinful nature) dan mengenakan kodrat ilahi (divine nature)—yang bisa berjalan atau bersekutu (fellowship) dengan Allah. Inilah sebenarnya yang dikehendaki dan dirancang oleh Allah ketika manusia diciptakan, yaitu manusia diciptakan untuk menjadi sekutu Allah di keabadian, karena Allah adalah Allah yang kekal. Hanya manusia yang berkeadaan seperti rancangan Allah semula yang dapat bersekutu dengan Allah secara benar.

Dengan demikian, sebutan “anak-anak Allah” bukan hanya status yang diyakini, melainkan benar-benar merupakan keberadaan karakter atau moral seseorang. Dengan memiliki keberadaan karakter sebagai anak-anak Allah yang agung seperti Yesus, umat pilihan dapat bersekutu dalam hubungan yang harmonis dengan Allah, yang adalah Bapanya. Ini adalah sebuah pengalaman riil yang harus dialami orang Kristen yang normal setiap hari. Selanjutnya, hubungan harmonis ini membangun keyakinan kepastian masuk surga. Jadi, keyakinan kepastian masuk surga bukan oleh olah nalar terhadap sistematika teologi yang dipelajari dari buku dan bangku seminari atau sekolah teologi.

>>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>




May 03, 2020, 05:20:11 AM
Reply #3143
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<

Persekutuan dengan Allah adalah persekutuan yang sangat istimewa. Dalam doa Yesus di Injil Yohanes 17:20-21 berbunyi: Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dalam doa ini, termuat berkat dan hak istimewa orang percaya untuk dapat bersekutu dengan Allah sebagai Bapanya dalam persekutuan yang benar-benar eksklusif. Sampai pada taraf persekutuan yang eksklusif ini, seseorang memiliki damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal. Tidak ada yang ditakuti, bahkan kematian pun tidak.




May 04, 2020, 06:06:58 AM
Reply #3144
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/keselamatan-secara-individu/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/04/04-MEI-2020-KESELAMATAN-SECARA-INDIVIDU.mp3

Keselamatan Secara Individu
04 May 2020

Play Audio Version

Bangsa Israel dipilih Allah menjadi umat pilihan, bukan berdasarkan kebaikan atau jasa, melainkan berdasarkan pemilihan atas kedaulatan Allah. Berkenaan dengan hal ini, kita harus teliti memerhatikan bahwa hal tersebut tidak bertalian dengan pemilihan individu sebagai yang pasti ditentukan untuk selamat masuk surga. Hal ini sama dengan tidak semua orang Israel yang keluar dari Mesir pasti masuk tanah Kanaan, demikian pula tidak semua orang Kristen masuk surga. Menjadi orang Kristen atau umat pilihan adalah pilihan Allah berdasarkan kedaulatan-Nya, artinya Allah yang menentukan. Adapun apakah orang Kristen tersebut masuk surga atau tidak, tergantung responsnya terhadap keselamatan atau anugerah yang Allah sediakan.

Pemilihan bangsa Israel adalah pemilihan tanpa syarat (unconditional election), tetapi keselamatan abadi secara individu masing-masing orang—yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula—bukanlah tanpa syarat. Sangatlah keliru, kalau pemilihan, penetapan, dan penunjukan bangsa Israel sebagai umat pilihan yang berdasarkan keputusan kedaulatan Allah, diparalelkan, disejajarkan, atau disamakan dengan pemilihan individu manusia perorangan pada zaman Perjanjian Baru untuk selamat masuk surga. Kasih karunia dalam Perjanjian Baru berorientasi pada keselamatan, yaitu usaha Allah mengembalikan manusia kepada rancangan semula-Nya. Fokus hidup orang percaya adalah menjadi sempurna seperti Bapa dan mengarahkan diri pada langit baru dan bumi yang baru; “Kanaan Surgawi,” bukan kehidupan di bumi ini. Yesus mengajarkan murid-murid-Nya untuk tidak mempersoalkan roti dunia yang akan binasa, tetapi roti kehidupan. Adapun bangsa Israel masih memiliki orientasi berpikir pada berkat jasmani atau pemenuhan kebutuhan fisik, yaitu susu dan madu dari Kanaan di bumi ini. Itulah sebabnya, mereka tidak mengerti keselamatan dalam Yesus yang mengembalikan manusia ke rancangan semula Allah.

Kita tidak boleh menghubungkan “kasih karunia” dengan hal-hal yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani, seperti misalnya mendapat pekerjaan, mendapat jodoh, mendapat keberuntungan dalam bisnis, dan lain sebagainya, yaitu hal-hal yang tidak bertalian dengan keselamatan. Jika hal ini terjadi, kita tidak dapat merespons kasih karunia yang Allah sediakan dengan benar. Harus ditegaskan bahwa proses keselamatan tidak menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan pembentukan karakter untuk menjadi serupa dengan Yesus (Rm. 14:17). Oleh sebab itu, pelayanan gereja yang menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan jasmani akan sangat menyesatkan dan pasti menghambat usaha Allah mengembalikan umat pilihan pada rancangan-Nya yang semula (Mat. 6:24; 1Tim. 6:6-10).

Keselamatan secara individu bersyarat, yaitu harus percaya atau memiliki iman. “Percaya” atau “iman” di sini bukan hanya aktivitas nalar atau persetujuan pikiran, yaitu pengaminan akali dalam bentuk pengakuan terhadap status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, melainkan tindakan penurutan terhadap kehendak Allah seperti yang dilakukan oleh Abraham. Percaya kepada Tuhan Yesus berarti memiliki kesediaan untuk tunduk pada kedaulatan Allah secara mutlak. Tunduk kepada kedaulatan Allah berarti mengikuti jejak hidup Yesus, yaitu mengenakan cara hidup-Nya ketika Ia mengenakan tubuh daging seperti kita, di bumi, dua ribu tahun yang lalu di Palestina. Dalam kasih karunia yang Allah berikan, terdapat fasilitas keselamatan, yaitu penebusan, ROH KUDUS, Injil, dan penggarapan Allah melalui segala peristiwa. Inilah fasilitas keselamatan yang harus dimanfaatkan agar dapat memiliki kasih karunia dari Allah yang memuat keselamatan. Jika fasilitas keselamatan tersebut tidak direspons dengan baik atau tidak digunakan secara maksimal, berarti menyia-nyiakan keselamatan, yang sama artinya menolak keselamatan (Ibr. 2:3).

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>






May 04, 2020, 06:07:31 AM
Reply #3145
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<

Itulah sebabnya, penulis surat Ibrani mengingatkan agar kita tidak menyia-nyiakan keselamatan yang besar (Ibr. 2:3). Penulis surat Ibrani juga menasihati orang percaya agar tidak seperti Esau yang menukar hak kesulungan dengan semangkuk makanan (Ibr. 12:16-17). Di dalam kasih karunia, kita diperhadapkan kepada pilihan, apakah kita memilih untuk sempurna yaitu mengenakan pola dan gaya hidup Yesus atau tidak. Orang Kristen yang tidak bersedia mengikuti jejak Yesus, dan bahkan berbuat jahat, pasti akan binasa walaupun mereka mengaku percaya kepada Tuhan Yesus. Sebenarnya, tidak sedikit orang-orang Kristen yang berkeadaan seperti ini. Malangnya, mereka sudah merasa sebagai umat pilihan yang yakin bahwa dirinya memiliki Kerajaan Surga, padahal suatu hari nanti mereka akan ditolak oleh Tuhan sebab tidak melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23). Oleh kasih karunia dari Allah di dalam karya salib-Nya, manusia dimungkinkan untuk memilih apa yang sempurna yaitu kalau kita menyambut karya keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus, dan mengerjakan keselamatan secara benar. Jika seseorang berjuang dengan mengerjakan keselamatannya, ia bisa menjadi sempurna seperti Bapa. Kasih karunia tidak otomatis mengubah kita menjadi sempurna, tetapi oleh kehendak bebas, kita memperjuangkan kesempurnaan itu.






May 05, 2020, 05:20:22 AM
Reply #3146
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/menentukan-keadaannya-sendiri/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/04/05-MEI-2020-MENENTUKAN-KEADAAN-DIRINYA.mp3

Menentukan Keadaannya Sendiri
05 May 2020

Play Audio Version

Dalam kehendak bebasnya, manusia dapat memilih taat kepada Allah atau memberontak kepada-Nya. Kalau seseorang tidak mengakui fakta ini, berarti berpandangan bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas, maka ia menjadi mistis, seakan-akan tindakan manusia selalu ditentukan oleh faktor yang bersifat adikodrati di luar dirinya. Mereka yang tidak mengakui adanya kehendak bebas manusia, berarti mereka meyakini bahwa di balik semua tindakan manusia, ada tangan Allah yang supranatural yang menetapkan segala sesuatu yang terjadi, termasuk di dalamnya keselamatan individu. Tetapi ironinya, mereka masih juga mengakui bahwa manusia harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukan. Mereka masih meyakini adanya “semacam kehendak bebas” dalam diri manusia yang membuat manusia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Kehendak bebas yang mereka pahami adalah kehendak bebas yang aneh. Mereka menyatakan demikian hanya untuk membela doktrinnya yang absurd (tidak masuk akal dan kacau).

Tidak ada makhluk hidup yang diberi kehendak seperti yang dimiliki oleh manusia. Ini adalah bagian dalam diri manusia yang tidak bisa diintervensi oleh siapa pun, bahkan oleh Allah sendiri. Kalau dinyatakan bahwa Allah sendiri tidak mengintervensi kebebasan yang manusia terima dari pada-Nya, bukan bermaksud mengurangi hormat terhadap supremasi Allah dalam kedaulatan-Nya. Justru Allah sendiri dalam kedaulatan-Nya memberikan “kedaulatan yang terbatas” kepada manusia untuk menentukan keadaan kekalnya. Dengan menghargai kedaulatan manusia, berarti Allah menghargai kedaulatan-Nya sendiri. Dalam hal ini, Allah menunjukkan konsekuensi-Nya dalam menciptakan manusia dengan keberadaan manusia tersebut. Itulah sebabnya, pada akhirnya Allah tidak mencegah manusia pertama ketika ia memang berniat memetik buah terlarang di Eden, dan sebagai konsekuensinya Allah mengusir Adam dan Hawa dari Eden.

Kehendak bebas harus dipahami sebagai kepercayaan dari Allah dimana manusia diberi pikiran dan perasaan, yaitu kemampuan mempertimbangkan sesuatu yang dapat melahirkan kehendak. Kehendak bebas menempatkan manusia menjadi makhluk yang beresiko sangat tinggi. Dengan keberadaan ini manusia yang segambar dengan Allah, diberi tanggung jawab untuk memilih antara mengabdi kepada Allah atau memberontak. Pengajaran yang menyatakan bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas berarti menempatkan Allah sebagai penanggung jawab semua peristiwa kehidupan, sehingga manusia tidak perlu bertanggung jawab atas apa pun dan tidak perlu ada pengadilan Allah. Keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus adalah berkat besar yang mengandung dan menuntut tanggung jawab. Kasih karunia tanpa tanggung jawab membuat kasih karunia itu menjadi tidak berharga. Manusia diperhadapkan kepada pilihan: apakah mau menyambut kasih karunia Allah atau menolaknya. Bagi yang mau menerima, mereka harus mengarahkan seluruh hidupnya kepada fokus menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Ini adalah ketaatan untuk memenuhi panggilan Allah, yaitu mendahulukan Kerajaan Surga dan kebenaran-Nya, yang sama dengan berjuang untuk menjadi warga anggota keluarga Kerajaan Allah (Mat. 6:33).

Kalau seseorang tidak memahami kebenaran mengenai kehendak bebas, maka konsepnya mengenai kasih karunia menjadi kacau. Kalau konsepnya mengenai kasih karunia kacau, mereka tidak akan dapat merespons kasih karunia dengan benar. Sebagai akibatnya, mereka tidak pernah mengenal keselamatan secara benar pula. Dengan demikian, mereka akan gagal menjadi manusia yang dikembalikan ke rancangan semula. Dalam Kekristenan, pemahaman mengenai kehendak bebas mempunyai tempat yang penting, yang harus dipahami. Pengajaran mengenai penentuan keselamatan atas individu oleh Allah secara sepihak adalah pengajaran yang mengesampingkan nilai manusia, sebab kebebasan memberi nilai atas manusia. Itulah sebabnya, penghakiman dan upah merupakan realitas ilahi, juga realitas surga dan neraka. Dengan memahami kebenaran ini, kita akan menjadi berhati-hati dalam hidup, tidak ceroboh. Bila manusia tidak memiliki kehendak bebas sehingga keselamatannya ditentukan oleh Allah dalam kedaulatan-Nya secara mutlak, maka Yesus tidak akan memberikan seruannya agar manusia bertobat, mengumpulkan harta di surga, dan lain sebagainya.

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>



May 05, 2020, 05:20:52 AM
Reply #3147
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<

Dari satu sisi, manusia adalah mahluk yang memikul resiko dan tanggung jawab yang berat, sebab manusia diperhadapkan berkat atau kutuk, rahmat atau laknat. Tetapi sisi lain, manusia adalah mahluk yang sangat luar biasa, sebab manusia adalah mahluk yang berdaulat atas dirinya sendiri. Dalam hal ini, manusia diperhadapkan kepada realita untuk menundukkan diri kepada Allah, yaitu hidup di bawah kedaulatan Allah atau hidup dalam kedaulatannya sendiri sehingga me njadi budak dosa. Dengan hal ini, manusia dalam kebesarannya dapat menentukan takdir atau keadaan kekal dirinya sendiri. Oleh karenanya, dibutuhkan perjuangan untuk memilih yang mendatangkan kehidupan, bukan kebinasaan. Jadi, di hadapan pengadilan Tuhan yang dihakimi adalah perbuatan manusia berdasarkan keputusan dan pilihannya sendiri, bukan karena faktor di luar dirinya yang mengendalikannya.



May 06, 2020, 04:14:50 AM
Reply #3148
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/tanggung-jawab-untuk-berjuang/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/04/06-MEI-2020-TANGGUNG-JAWAB-UNTUK-BERJUANG.mp3

Tanggung Jawab Untuk Berjuang
06 May 2020

Play Audio Version

Manusia adalah makhluk yang harus bertanggung jawab. Tanggung jawab artinya manusia harus melakukan tugas atau memenuhi suatu kewajiban, serta memikul akibat suatu tindakan dari keputusan dan pilihannya sendiri. Tidak ada manusia yang tidak memiliki tanggung jawab. Adanya tanggung jawab ini harus membuka mata kita terhadap realitas hidup yang riil dan faktual. Tanpa mengerti arti tanggung jawab, manusia tidak menjadi manusia seperti yang Allah rancang dan kehendaki. Tanggung jawab inilah yang membuat manusia menjadi makhluk yang bermartabat tinggi. Allah tidak akan memercayakan pelayanan pekerjaan-Nya yang besar dan kudus kepada manusia yang tidak memiliki tanggung jawab. Orang yang tidak bertanggung jawab tidak mungkin dapat masuk surga, sebab orang yang tidak bertanggung jawab menyangkali kemanusiaannya, dan orang yang menyangkali kemanusiaannya pasti menyangkali keberadaan Allah sebagai sesembahan.

Kesalahan orang Kristen dalam berteologi adalah ketika mereka merelasikan kasih karunia dengan kehendak bebas secara keliru. Pada umumnya, mereka membenturkan kasih karunia dengan kehendak bebas dari perspektif yang salah. Kekeliruan tersebut disebabkan pengertian yang salah mengenai kasih karunia itu sendiri, dan pengertiannya mengenai kedaulatan Allah atas keadaan manusia. Mereka memandang kasih karunia adalah tindakan sepihak Allah secara absolut dan mutlak dalam menentukan manusia yang dipilih untuk menerima keselamatan. Hal ini mereka yakini, sebab mereka mengakui kedaulatan Allah yang mutlak, sehingga mereka yang ditentukan selamat tidak dapat menolak kasih karunia. Dan sebaliknya, yang tidak ditentukan selamat dikondisikan tidak dapat menerima kasih karunia. Ini berarti pemberian kasih karunia dari Allah dipaksakan di luar kemampuan dan kehendak manusia untuk menolak atau menerimanya.

Dengan pemahaman tersebut, berarti manusia tidak memiliki kehendak bebas sama sekali. Sejatinya, jika mereka konsekuen dan konsisten dengan pemahaman tersebut, seharusnya tanggung jawab manusia tidak perlu dibicarakan lagi. Tetapi ironinya, mereka masih menempatkan manusia sebagai manusia yang harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Ini adalah kebebasan yang aneh, kalau manusia yang ditentukan keselamatannya namun masih harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Pandangan ini adalah pikiran yang tidak sehat, tidak konsekuen, dan tidak konsisten, sebab kalau kehendak bebas tidak ada berarti juga tidak ada tanggung jawab. Untuk mengklarifikasi masalah ini, kita harus memahami pengertian keselamatan secara benar. Kalau keselamatan hanya dipahami sekadar terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga, maka memang kehendak bebas tidak perlu tampil sama sekali.

Kasih karunia dapat dimiliki bukan karena ditentukan oleh Allah atas orang-orang yang ditetapkan dapat menerima keselamatan, melainkan karena kehendak bebas yang digunakan untuk menerimanya. Kasih karunia menempatkan manusia sebagai pribadi yang memiliki pikiran dan perasaan untuk mempertimbangkan dan mengambil keputusan. Itulah fungsi pikiran dan perasaan yang Allah berikan. Kalau kasih karunia diberikan tanpa melibatkan respons dari pertimbangan manusia, berarti sia-sia Allah memberi pikiran dan perasaan pada manusia. Pikiran dan perasaan inilah yang memberi kemampuan kepada manusia untuk mempertimbangkan sesuatu. Dengan pertimbangan tersebut, manusia dapat menerima atau menolak kasih karunia. Dalam hal ini, manusia harus bertanggung jawab. Itulah sebabnya Yesus mengatakan: Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah (Yoh. 3:18).

Keselamatan adalah proses dimana seseorang dikembalikan ke rancangan semula Allah. Mereka yang merasa sudah ditentukan oleh Allah untuk selamat dan yakin sudah selamat, maka tidak ada usaha yang proporsional untuk bertumbuh guna mencapai kehidupan seperti Yesus. Perjuangan mengerjakan keselamatan akan membawa orang percaya sampai pada penghayatan yang kuat bahwa keselamatan mereka sudah menjadi milik yang pasti (Ibr. 6:11), atau sampai pada level di mana seseorang memiliki hak penuh masuk Kerajaan Surga (2Ptr. 1:11). Itulah sebabnya, keselamatan harus dikerjakan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12).

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>



May 06, 2020, 04:16:20 AM
Reply #3149
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Kalau orang berpandangan bahwa keselamatan ditentukan secara sepihak oleh Allah, tidak perlu ada proses yang panjang dan sukar untuk mewujudkan keselamatan. Hal ini bertentangan dengan pernyataan Yesus bahwa untuk selamat, seseorang harus berjuang. Yesus menggunakan unta dan lubang jarum sebagai ilustrasi dalam memperoleh keselamatan untuk menunjukkan betapa sulitnya mengalami dan memiliki keselamatan. Menanggapi pertanyaan: “sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Yesus menjawab: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” (Luk. 13:23-24). Pernyataan Yesus ini, jelas sekali menunjukkan bahwa masuk Kerajaan Surga atau untuk selamat itu sangat sulit. Harus ada perjuangan untuk memilikinya.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)