Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 148048 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 15, 2020, 09:13:27 AM
Reply #3160
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/target-yang-tinggi/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/15-MEI-2020-TARGET-YANG-TINGGI.mp3

Target Yang Tinggi
15 May 2020

Play Audio Version

Kalau seseorang berpandangan bahwa Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang di luar kesadaran orang tersebut, hal tersebut bisa membuahkan pengertian bahwa target yang Allah kehendaki untuk dicapai orang percaya adalah rendah, padahal yang dikehendaki Allah untuk dicapai adalah hidup sebagai anak-anak Allah. Ini adalah target yang sangat tinggi. Hidup sebagai anak-anak Allah bukan hanya mengakui dan menghayati bahwa diri kita adalah anak-anak Allah, melainkan benar-benar berperilaku atau berkeberadaan sebagai anak-anak Allah yang memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Paulus menyinggung mengenai manusia rohani dalam tulisannya kepada jemaat Korintus, bahwa manusia rohani adalah manusia yang memiliki pikiran Tuhan (1Kor. 2:15). Memiliki pikiran Tuhan maksudnya adalah memahami kehendak Allah apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna (Rm. 12:2). Inilah manusia rohani. Kebalikan dari manusia rohani adalah manusia duniawi (1Kor. 3:1-4). Manusia duniawi tidak akan mendapat bagian sebagai anggota keluarga Kerajaan.

Kehidupan anak-anak Allah adalah kehidupan manusia yang hidup dipimpin oleh Roh, sama dengan menjadi orang Kristen yang benar-benar rohani. Untuk bisa berubah dari orang Kristen duniawi atau hidup dalam daging kepada kehidupan orang Kristen rohani yang dipimpin oleh Roh, membutuhkan perjuangan yang sangat berat. ROH KUDUS bekerja aktif, tetapi umat pilihan juga harus aktif untuk mengimbangi pekerjaan ROH KUDUS. Oleh sebab itu, seseorang yang sungguh-sungguh mau diubahkan harus berani mempertaruhkan seluruh kehidupannya untuk proses perubahan tersebut. Di sini kita menemukan letak mahalnya harga keselamatan itu dan sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Surga (Luk. 13:23-24). Orang yang disebut rohani adalah orang yang tidak bisa berbuat dosa lagi atau nyaris tidak bisa berbuat dosa lagi. Hatinya tertuju kepada perwujudan Kerajaan Allah pada hari kedatangan Tuhan Yesus. Mereka dapat merasakan dan menghayati bahwa bumi ini bukanlah rumah dan tanah airnya, sehingga mereka hanya merindukan langit baru dan bumi yang baru. Jiwanya tidak dapat dibahagiakan oleh dunia ini dengan segala keindahannya. Orang percaya yang rohani tidak memberi kesempatan kodrat dosanya hidup, sebaliknya mematikan kodrat dosa agar digantikan dengan kodrat ilahi.

Sejatinya, Kekristenan bukanlah agama yang hanya melakukan perbaikan-perbaikan atas moral, melainkan membuat seseorang mengalami hidup baru (Ef. 4:24; Kol. 3:10). Hidup baru yang dimiliki orang percaya akan membawanya kepada klimaks, yaitu pengakuan “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20). Jadi, yang penting adalah bagaimana mematikan “kodrat dosa” supaya dapat membangun hidup baru di dalam Tuhan. Mematikan kodrat dosa masing-masing individu sangat ditentukan atau diperankan oleh diri sendiri. Mematikan kodrat dosa hendaknya tidak dipahami sebagai proses mistis, tetapi sebuah tindakan natural dan konkret yang disebut langkah pertobatan. Langkah pertobatan bukan hanya satu kali tindakan seperti sebuah titik, melainkan seperti garis panjang, artinya terus-menerus. Seiring dengan terjadinya pembaharuan pikiran oleh kesadaran pengertian terhadap kebenaran-kebenaran yang ROH KUDUS singkapkan, kita bertobat artinya kita menerima kebenaran tersebut, dan membuang semua konsep yang salah.

Pertobatan dalam Kekristenan adalah perubahan cara berpikir dan seluruh gaya hidup, yang didorong oleh kesadaran terhadap kebenaran. Kebenaran di sini bukan hanya menyangkut kesadaran moral, melainkan juga meliputi pemahaman hidup secara menyeluruh berdasarkan kebenaran Firman. Ukuran perbuatan yang dinilai benar bagi orang di luar umat pilihan adalah perbuatan baik berdasarkan hukum tertulis. Tetapi, bagi umat pilihan adalah berkenan kepada Allah atau sempurna. Tentu pertobatan yang sejati akan mengubah bukan saja perilaku seseorang, melainkan juga seluruh filosofi hidupnya. Pertobatan harus dimulai dari kesadaran pengertian terhadap kebenaran, bukan hanya terhadap pelanggaran moral atau pola hidup yang tidak sesuai dengan hukum. Ini adalah kesadaran terhadap tujuan hidup manusia, yaitu maksud Allah menciptakan manusia, dan lain sebagainya. Di sini, peran pengertian terhadap kebenaran sangat penting.

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>




May 15, 2020, 09:13:57 AM
Reply #3161
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<

Kesadaran yang lahir dari pemahaman terhadap kebenaran atau pembaruan pikiran sangat penting, sebab membangkitkan pertobatan yang sejati. Proses pertobatan yang terus-menerus inilah yang dapat memerdekakan seseorang dari dosa. Sebab, dengan pembaruan pikiran, seseorang mengenal kebenaran, dan dengan mengenal kebenaran itu, seseorang dibebaskan dari perhambaan dosa (Yoh. 8:31-32). Perhambaan dosa bukan hanya berarti hidup dalam kebejatan moral, melainkan juga keadaan moral yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Dari proses inilah seseorang diubah sehingga memiliki pola hidup yang baru, yaitu pola hidup anak-anak Allah yang mengenakan kodrat ilahi. Kekudusan inilah yang menjadi tujuan pertobatan. Tentu kekudusan orang percaya menggunakan ukuran Allah sendiri. Itulah sebabnya, Ia berkata: Kuduslah kamu sebab Aku kudus (1Ptr. 1:16). Ini berarti, Allah menghendaki orang percaya memiliki kekudusan standar Allah.




May 16, 2020, 09:39:16 AM
Reply #3162
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/kepastian-keselamatan/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/16-MEI-2020-KEPASTIAN-KESELAMATAN.mp3

Kepastian Keselamatan
16 May 2020

Play Audio Version

Kalau seseorang berpandangan bahwa Allah secara sepihak menentukan keselamatan seseorang di luar kesadaran orang tersebut, maka keselamatan sering hanya dipahami sekadar terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Pandangan ini biasanya juga disertai dengan asumsi bahwa keselamatan atas individu didasarkan pada pilihan Allah secara sepihak berdasarkan kedaulatan Allah yang mutlak. Dalam hal ini, respons manusia tidak dibutuhkan atau tidak bisa berperan secara proporsional, bahkan tidak berperan sama sekali. Manusia menjadi objek yang hanya menerima takdir atau penentuan Allah di luar kemampuan diri manusia itu untuk menolak atau menerima.

Kompensasi dari pengertian keselamatan yang tidak tepat tersebut adalah kepastian keselamatan hanya didasarkan pada pengertian dalam nalar, bukan pada pengalaman pergaulan pribadi dengan Allah. Mestinya, kepastian keselamatan dibangun dari penghayatan terhadap kehadiran Allah, dan kehidupan yang diubahkan menjadi semakin seperti Yesus. Untuk membela definisi keselamatan yang tidak tepat di atas, para penganutnya harus menyusun sistematika dogmatika yang selogis-logisnya untuk dapat mengurai dan memberi landasan premis keselamatan tersebut. Sebagai hasilnya, tersusun dogmatika yang kelihatannya sistematis dan kokoh, namun sebenarnya rapuh, serta implikasi konkretnya miskin dan dangkal. Doktrin seperti ini tidak mampu menyelamatkan orang Kristen dari pengaruh dunia. Masyarakat Eropa sebagai contohnya.

Biasanya, komunitas orang Kristen yang menganut pandangan ini lebih menggunakan nalar dan membangun sistematika teologi yang diusahakan selengkap-lengkapnya, untuk membuat pandangan mereka tampak Alkitabiah. Tetapi di lain pihak, kehidupan orang-orang Kristen seperti ini kurang bergairah untuk menjangkau kesucian hidup yang berstandar kesempurnaan Bapa atau keserupaan dengan Yesus. Tidak sedikit di antara mereka yang sangat cakap berdebat, berapologetika, dan memaparkan penjelasan-penjelasannya dengan istilah-istilah yang sesuai dengan pandangan mereka, guna mendukung doktrin mereka. Fakta di lapangan, komunitas mereka cenderung menjadi arogan dan merasa sebagai orang Kristen yang paling benar dalam pemahaman mengenai Alkitab.

Komunitas tersebut juga memiliki kecenderungan kurang menekankan hal-hal yang bersifat subjektif, sehingga mereka miskin dalam pengalaman pribadi dengan Allah. Bagi mereka, subjektivitas tidak dapat dipercayai sama sekali. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa keadaan manusia yang telah jatuh dalam dosa tidak bisa dipercayai sama sekali, karena keberdosaan manusia tidak membuka peluang sama sekali untuk mengenal kebenaran. Padahal, orang percaya yang menerima pembenaran memiliki meterai ROH KUDUS yang menuntunnya kepada seluruh kebenaran. Mestinya, orang percaya membuka ruang hidupnya untuk bergaul dengan Allah melalui ROH KUDUS, guna memperoleh pengalaman pribadi dengan Allah, sebab Allah hidup dan riil. Subjektivitas tidak selalu berarti negatif dan sesat. Hal ini tergantung pada kedalaman seseorang bergaul dengan Allah.

Manusia harus merespons kasih karunia dengan tindakan konkret. Tindakan itu adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk mencapai target yang dikehendaki Allah, yaitu menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Yesus adalah model manusia yang dikehendaki oleh Allah. Dengan demikian, kehidupan orang Kristen memiliki satu-satunya agenda, yaitu menjadi seperti Yesus. Inilah Kekristenan yang sejati. Ini berarti menjadi Kristen, artinya dikuburkan bersama-sama dengan Yesus (Rm. 6:4).

Kekristenan yang sejati menempatkan orang percaya untuk meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya, dan berusaha menanggalkan manusia lama atau mematikan kodrat dosa, guna mengalami proses pembaruan. Pembaruan tersebut seperti sebuah proses “format ulang” atas kehidupan orang percaya dari kodrat dosa menjadi seorang yang berkodrat ilahi. Dalam hal ini, yang dibutuhkan bukan hanya sistematika teologi yang memenuhi pikiran, melainkan juga pergaulan riil dengan Allah dalam kehidupan doa, dan kehidupan setiap hari melalui segala peristiwa. Tujuan hidup orang percaya hanyalah bagaimana dilayakkan menjadi anak-anak Allah yang nantinya masuk ke dalam anggota keluarga Kerajaan Surga dan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.

>>>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>>





May 16, 2020, 09:39:59 AM
Reply #3163
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

<<<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<<

Kepastian keselamatan harus dibangun dari pengalaman berjalan dengan Tuhan dan penghayatan terhadap kehadiran Allah. Sehingga, kepastian keselamatan bukanlah dibangun dari keyakinan di dalam nalar, melainkan pengalaman riil dengan Allah. Pengalaman riil dengan Allah ini bukan hanya membangun keyakinan di dalam nalar, melainkan juga perasaan yang telah bersentuhan dengan Pribadi Allah. Memang, seharusnya orang percaya tidak membiasakan diri “merasakan apa yang diyakini” tetapi “merasakan apa yang dialami.” Dengan demikian, perjalanan hidup Kekristenan bukanlah fantasi yang dirumuskan di atas kertas dalam sistematika teologi, melainkan realita yang dialami langsung. Kualitas hidup seorang yang sungguh-sungguh mengalami Tuhan akan tampak dalam seluruh perilakunya. Hal ini merupakan fenomena yang tidak terbantahkan. Sesungguhnya, kelakuan seseorang menunjukkan teologinya.





May 17, 2020, 05:35:49 AM
Reply #3164
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/tempurung-doktrin/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/17-MEI-2020-TEMPURUNG-DOKTRIN.mp3

Tempurung Doktrin
17 May 2020

Play Audio Version

Banyak orang Kristen yang meyakini bahwa mereka telah memiliki kepastian masuk surga hanya karena merasa sudah percaya kepada Yesus. Inilah yang mereka pahami sebagai kepastian keselamatan. Mereka memiliki keyakinan kepastian masuk surga hanya dibangun dari nalar teologi, atau pemahaman mengenai suatu pengajaran. Sebenarnya, keyakinan tersebut hanya sebuah fantasi. Secara tidak langsung, menggiring kehidupan pada fantasi dalam relasinya dengan Allah. Dalam hal ini, seakan-akan persoalan kehidupan cukup diselesaikan dengan moral yang baik dan pengertian-pengertian terhadap doktrin atau pengajaran Alkitab. Kelompok ini biasanya berasumsi kuat bahwa pengajaran yang dipandang benar oleh mereka merupakan ciri dari Kekristenan yang benar.

Orang-orang demikian akan mudah menghakimi dan memandang orang yang tidak sealiran dengan mereka sebagai sesat dan bidat. Biasanya, mereka juga memandang bahwa mereka adalah pewaris kebenaran yang sah dari gereja masa lalu, dan sekarang mereka merasa sebagai “penjaga kebenaran.” Tidak heran kalau mereka begitu percaya diri, bahwa mereka di pihak Tuhan dan merasa sedang membela Tuhan dengan melawan “musuh Tuhan,” yaitu orang Kristen yang tidak sepaham dengan mereka. Tentu saja hal ini membuat mereka menjadi arogan, padahal mereka hanya mensakralkan pandangan para teolog masa lalu dan berbagai keputusan konsili yang seharusnya tidak boleh disejajarkan dengan otoritas Alkitab. Mereka telah terpenjara dalam ruang tempurung doktrin yang mestinya pengajaran-pengajaran atau doktrin-doktrin tersebut harus terus direvisi dan dibaharui, seiring dengan perjalanan sejarah kehidupan manusia dan sejarah gereja Tuhan di dunia yang selalu berubah dan belum selesai.

Biasanya, mereka juga dengan ganas dan bengis menyerang orang-orang Kristen lain. Mereka menganggap orang yang tidak memiliki pemahaman yang sama dengan mereka adalah orang sesat yang membahayakan keselamatan orang lain, padahal mereka sendiri belum tentu juga selamat. Mereka hanya merasa sudah selamat berdasarkan keyakinan dalam nalar yang dibangun dari sistematika doktrin yang mereka miliki. Tidak sedikit dari antara mereka yang setelah menyerang ajaran orang lain kemudian menyerang pribadi orang yang mereka pandang sebagai sesat atau bidat, yang mereka samakan sebagai “anak-anak setan.” Itulah sebabnya, mereka merasa sedang membela Tuhan. Secara tidak langsung atau secara langsung, terjadi praktik ad hominem; sesuatu yang benar-benar melanggar ajaran Yesus. Tetapi, mereka merasa bahwa hal itu bukan suatu dosa.

Dengan gaya hidup seperti itu, mereka mengarahkan jemaat kepada Kekristenan yang didominasi atau bernuansa “olah nalar” mengurai teologi. Tentu ini bukan salah sama sekali, melainkan menjadi tidak lengkap kalau mereka hanya terfokus pada teologi secara eksplisit, yaitu apa yang diperoleh dan diperkarakan secara akademis atau olah nalar. Seharusnya, orang percaya juga memiliki pengalaman dengan Allah secara riil, sebab Allah adalah realitas. Sehingga orang percaya dapat memiliki pemahaman mengenai Allah dari pengalaman dalam perjalanan hidup secara konkret. Maka, setiap orang percaya dapat mengenal Allah juga secara implisit, dan membangun kehidupan moralnya dalam standar anak-anak Allah seperti Yesus.

Orang-orang yang merasa diri sudah benar tersebut di atas, memandang bahwa teologi yang mereka pahami adalah paling objektif Alkitabiah. Padahal, mereka hanya meneruskan apa yang diajarkan oleh para teolog dan pengajar sekolah tinggi teologi atau seminari, yang adalah warisan dari pengajaran masa lalu. Kadang-kadang, pandangan teologi para teolog mereka dibuat terus menjadi up to date, tetapi Allah secara riil tidak dialami. Ironisnya, Allah tidak “di-update.” Ini berarti Allah diperlakukan seperti barang di dalam museum. Allah yang mereka sebut-sebut dan menjadi objek pujian, penyembahan, serta doa adalah Allah di dalam fantasi dan di dalam doktrin; bukan Allah yang riil yang dialami secara konkret. Biasanya, mereka miskin dalam kesaksian hidup setiap harinya berjalan dengan Allah. Bagi mereka, kesaksian pengalaman riil dengan Allah selalu dipandang sebagai subjektivitas yang membahayakan iman Kristen, padahal justru itu jantung implementasinya.

<<<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<<





May 17, 2020, 05:37:13 AM
Reply #3165
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


>>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>>

Mereka tidak mau mengerti dan tidak mau menerima bahwa Allah yang hidup, Mahaagung dan Mahabesar, di zaman ini juga memberi Diri bergaul dengan orang percaya yang mengasihi Dia dari berbagai denominasi lain. Allah juga memberi kecerdasan rohani (spiritual quotient) kepada orang-orang yang belajar dan terus-menerus menumbuhkan pengalaman rohaninya dengan Allah, untuk memiliki pengertian yang benar mengenai Allah guna memahami kehidupan secara komprehensif. Sesungguhnya, banyak orang percaya di luar denominasi mereka—bukan saja juga mampu berteologi dari perspektifnya yang benar—melainkan juga hidup tidak bercacat dan tidak bercela dan selalu belajar untuk sungguh-sungguh dapat sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Hidup mereka juga berdampak nyata bagi banyak orang, serta terus-menerus memikirkan bukan saja masa depan gereja Tuhan, melainkan juga bangsa dan negaranya, serta masyarakat.





May 18, 2020, 04:39:43 AM
Reply #3166
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/menanggulangi-kekurangan-dan-kelemahan/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/18-MEI-2020-MENANGGULANGI-KEKURANGAN-DAN-KELEMAHAN.mp3

Menanggulangi Kekurangan Dan Kelemahan
18 May 2020

Play Audio Version

Pergumulan hidup yang Allah izinkan terjadi dalam hidup kita, pasti sesuai dengan usia rohani dan porsi yang mampu kita tanggung. Allah tidak akan mengizinkan pencobaan melampaui kekuatan kita. Itulah sebabnya, setiap orang pasti memiliki pergumulan masing-masing yang tidak sama. Hendaknya, kita tidak meratapi keadaan ketika membandingkan bahwa pencobaan yang kita alami terasa sangat berat, sementara pencobaan dan pergumulan yang dialami orang lain kelihatannya lebih ringan. Mestinya, kita tidak boleh membandingkan keadaan kita dengan orang lain. Kita tidak tahu, bisa saja pencobaan yang dialami orang lain jauh lebih berat dari yang kita alami. Kita percaya dalam kebijaksanaan-Nya, Allah menuntun kita kepada keadaan dimana kita dapat mengerti kesalahan yang kita lakukan dan segala kekurangan-kekurangan kita.

Setiap kita mengalami pembentukan yang khusus, yang tidak sama dengan yang dialami oleh siapa pun di muka bumi ini. Hal ini sesuai dengan keberadaan kepribadian, watak, atau karakter kita. Ibarat sebuah kurikulum seperti yang dikenal dalam dunia pendidikan, setiap orang memiliki kurikulumnya sendiri yang dirancang oleh Allah. Allah sebagai Arsitek jiwa yang sempurna, mengerti bagaimana menggarap kita melalui setiap kejadian agar kita menjadi manusia seperti yang Dia kehendaki. Penggarapan tersebut untuk menanggulangi kekurangan dan kelemahan-kelemahan dalam watak atau karakter kita. Penanggulangan tersebut dapat menghasilkan suatu pribadi yang mulia dan agung, sehingga kita layak disebut sebagai anak-anak Allah. Oleh sebab itu, kita harus memperkarakan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan kita.

Kalau kita memperkarakan kekurangan dan kelemahan kita di hadapan Allah, maka Allah pasti memberi tahu kekurangan dan kelemahan kita tersebut. Allah tidak mungkin tidak memberi tahu kepada kita kebiasaan, sikap, kelakuan kita yang tidak berkenan di hadapan-Nya. Masalahnya adalah apakah kita serius memperkarakan kekurangan dan kelemahan kita, guna mengalami pembaruan? Banyak orang Kristen tidak pernah mempersoalkan dengan serius kekurangan dan kelemahannya di hadapan Allah. Mereka tidak memperkarakan hal bagaimana seharusnya hidup sebagai anak-anak Allah. Ini adalah orang-orang yang tidak haus dan lapar akan kebenaran. Tentu saja Allah tidak akan memuaskan mereka, sebab hanya orang yang haus dan lapar akan kebenaran yang akan dipuaskan oleh Allah (Mat. 5:6). Orang-orang Kristen yang tidak haus dan lapar akan kebenaran—seperti sebagian masyarakat Barat yang tadinya Kristen tetapi sekarang meninggalkan gereja—adalah orang-orang yang tidak mengerti keselamatan, sehingga mereka tidak mengalami dan memiliki keselamatan.

Biasanya, orang-orang Kristen seperti di atas ini berpikir bahwa yang penting secara nalar sudah merasa percaya kepada Yesus, maka mereka dapat terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga, ini berarti sudah selamat. Ditambah lagi, pemahaman yang salah mengenai pengertian bahwa keselamatan dapat diperoleh seseorang bukan karena perbuatan baik. Mereka merasa sudah memiliki kepastian masuk surga tanpa berusaha untuk menjadi manusia seperti yang dikehendaki oleh Allah. Sehingga, mereka tidak merasa perlu memperkarakan keadaan mereka di hadapan Allah. Mereka tidak mengerti apa yang dimaksud dengan “selamat” atau “keselamatan” itu. Sebenarnya, keselamatan bukan sekadar terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Keselamatan adalah usaha Allah yang direspons dengan benar oleh manusia agar atau sehingga manusia dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula. Untuk ini, dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh dalam kehidupan setiap orang percaya.

<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<





May 18, 2020, 04:40:16 AM
Reply #3167
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

>>>>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>>>

Perbuatan sebaik apa pun, tidak akan membuat manusia mengalami dan memiliki keselamatan. Hanya oleh kurban Yesus di kayu salib tersedia keselamatan. Tetapi selanjutnya, justru karena seseorang menerima keselamatan, ia harus menjadi murid Yesus (Mat. 28:18-20), ia juga harus mengikuti perlombaan yang diwajibkan yaitu menjadi anak-anak Allah yang sah (Yun. Huios) agar mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:1-10) atau dapat mengenakan kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4). Pada dasarnya, keselamatan adalah proses dimana seseorang mengalami perubahan kodrat. Bukan hanya menjadi baik, melainkan juga mengalami perubahan yang sangat mendasar, yaitu naturnya. Dari hal ini, seseorang bisa memiliki kesempurnaan seperti Bapa (Mat. 5:48) atau keserupaan dengan Yesus (Rm. 8:28-29). Dengan mengerti kebenaran ini, seseorang akan mengisi tahun-tahun umur hidupnya untuk memperoleh pembentukan Allah, guna menjadi pribadi yang layak disebut sebagai anak-anak Allah yang sah (huios). Orang percaya yang memberi diri hidup dalam proses ini sama dengan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12-13), yaitu memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Jika proses pembentukan tersebut berlangsung dan kita meresponsnya dengan baik, keselamatan dapat berlangsung dan dapat kita milikinya.





May 21, 2020, 07:07:04 AM
Reply #3168
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/perjuangan-sebagai-umat-pilihan/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/21-MEI-2020-PERJUANGAN-SEBAGAI-UMAT-PILIHAN.mp3

Perjuangan Sebagai Umat Pilihan
21 May 2020

Play Audio Version

Salah satu penyebab banyak orang Kristen tidak berjuang dalam hidup iman atau keselamatannya adalah karena merasa sudah menjadi umat pilihan. Dalam persepsi mereka, menjadi umat pilihan berarti sudah terpilih untuk diselamatkan dan pasti masuk surga. Itulah sebabnya dalam kebaktian di gereja-gereja tertentu, jemaat hanya diarahkan untuk “merayakan” keselamatan yang sudah mereka miliki dalam suasana euphoria sebagai orang-orang yang sudah selamat. Mereka mengisi hidup kekristenannya tidak dengan berjuang untuk bagaimana melakukan kehendak Bapa seperti Yesus, tetapi mensyukuri keselamatan yang sudah mereka miliki. Sementara hidup di bumi ini, mereka merasa berhak meminta dan memiliki berkat-berkat jasmani Tuhan untuk bisa menikmati dunia, dan meraih segala keberhasilan seperti konsep keberhasilan pada umumnya. Setelah menikmati dunia sama seperti anak-anak dunia menikmati dunia ini, kemudian mereka yakin kalau mati, boleh masuk surga.

Sebenarnya pengertian umat pilihan adalah mereka yang diberi kesempatan oleh Allah untuk mendengar Injil, sehingga berpotensi untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu agar dapat berkeberadaan sebagai anak-anak Allah. Umat pilihan adalah orang-orang yang hidup di zaman anugerah, dimana mereka mendapat kesempatan mendengar Injil. Orang yang menjadi umat pilihan adalah mereka yang hidup di zaman Perjanjian Baru. Ini berarti, umat pilihan Kerajaan Allah adalah mereka yang hidup sejak abad pertama atau abad 1 Masehi. Mereka adalah orang-orang memiliki keberadaan fisik dan psikis yang baik, sehingga memungkinkan dapat menerima Injil dengan maksimal. Potensi menjadi anak-anak Allah ini mencapai puncaknya pada level dilayakkannya seseorang menjadi anggota Kerajaan Surga.

Bagi mereka yang menerima kesempatan mendengar Injil, hendaknya tidak menyia-nyiakan anugerah yang Tuhan berikan. Mereka harus merespons kasih karunia yang ditawarkan oleh Allah agar layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Kalau mereka benar-benar merespons dengan benar, mereka bukan saja disebut sebagai umat pilihan melainkan juga “umat pilihan yang terpilih.” Terpilihnya seseorang juga tergantung respons individu terhadap anugerah keselamatan. Orang Kristen disebut sebagai umat pilihan bukan berarti sudah pasti dipilih dan ditentukan untuk masuk surga. Firman Allah mengatakan: Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang terpilih (Mat. 22:1-14). Banyak orang ditunjuk sebagai umat pilihan, tetapi karena tidak merespons kasih karunia yang Allah sediakan, maka sedikit yang benar-benar mencapai maksud tujuan keselamatan itu diberikan.

Banyak orang Kristen karena merasa dan meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, maka secara otomatis sudah menjadi umat pilihan yang diperkenan masuk surga. Mereka berpikir, asalkan sudah dipilih dan ditentukan untuk selamat, bagaimana pun pasti tergiring masuk surga. Ini pandangan picik yang menyimpang dari kebenaran Injil. Kenyataan yang tidak terbantahkan, tidak semua yang telah mendengar Injil sungguh-sungguh mau mengikut Yesus. Mereka yang bersedia mengikut Yesus pun ternyata tidak semuanya setia sampai akhir.

Tanpa disadari, banyak gereja yang menyesatkan umat. Mereka menyatakan bahwa jemaat yang sudah mengaku percaya kepada Tuhan Yesus dan pergi ke gereja, berarti sudah menjadi umat pilihan Allah yang sudah diselamatkan dan pasti masuk surga. Di sini, Kekristenan menjadi murahan, seakan-akan menjadi jalan mudah masuk surga. Dengan keadaan ini, banyak orang Kristen tidak memiliki perjuangan untuk mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar. Tentu saja mereka tidak mengalami proses pendewasaan yang proporsional. Sejatinya, menjadi umat pilihan yang terpilih dan pasti selamat masuk surga bukan karena “pengesahan dari gereja,” melainkan pengakuan dari Tuhan bahwa seseorang telah melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23).

<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<




May 21, 2020, 07:07:36 AM
Reply #3169
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

>>>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>>>

Orang Kristen yang menjadi umat pilihan yang benar-benar terpilih adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa. Oleh sebab itu, keselamatan harus benar-benar direspons dengan tindakan, bukan hanya dengan keyakinan di dalam pikiran. Tentu saja, kehidupan orang percaya yang memiliki iman yang sejati pasti melakukan perjuangan yang membuatnya dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula. Mereka akan menjadi semakin seperti Yesus, memiliki keagungan moral yang menakjubkan. Kehidupan orang percaya seperti ini tentu saja sangat berbeda dengan mereka yang tidak percaya. Kualitas hidup orang percaya menunjukkan kebenaran imannya. Oleh sebab itu, para pembicara di mimbar harus berani berbicara tegas bahwa untuk menjadi umat pilihan yang terpilih, dituntut perjuangan segenap hidup tanpa batas. Kalau seseorang percaya kepada Tuhan Yesus, berarti orang tersebut harus melakukan kehendak Bapa. Tentu saja kehendak Bapa pada intinya adalah mengenakan hidup seperti yang telah dikenakan oleh Yesus. Kehidupan Yesus yang merupakan contoh dari seseorang yang sesuai dengan rancangan Allah semula.




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)