Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 153404 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 22, 2020, 06:58:26 AM
Reply #3170
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27632
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/dimensi-yang-berbeda/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/22-MEI-2020-DIMENSI-YANG-BERBEDA.mp3

Dimensi Yang Berbeda
22 May 2020

Play Audio Version

Persoalan penting yang harus dikemukakan dalam bahasan buku ini adalah mengenai kedaulatan dan kemahatahuan Allah. Betapa berbahayanya ajaran yang mengatakan bahwa Allah sudah menentukan segala sesuatu secara sepihak dalam kedaulatan-Nya yang tidak terbatas. Sebagai manusia, kita tidak boleh dan memang tidak bisa memahami keberadaan Allah yang ada di luar waktu dan di luar semua dimensi kita. Sebagai manusia, kita tidak mungkin dapat memahami Allah sepenuhnya. Dalam etika “ber-Tuhan,” seharusnya kita tidak mencoba memasuki wilayah Allah yang tidak akan dapat kita mengerti. Kita tidak boleh menyentuh bagian Allah yang tidak terselami oleh ciptaan, karena memang Dia berdimensi berbeda dengan ciptaan. Kita harus menempatkan diri sebagai ciptaan yang terikat pada dimensi ruang dan waktu. Kita hanya di wilayah yang menjadi bagian kita.

Dalam sejarah gereja, banyak teolog sudah mempersoalkan pernyataan Alkitab mengenai pemilihan dan penentuan Allah berkenaan dengan keselamatan. Ayat-ayat tersebut antara lain Efesus 1:4-5,11; Yohanes 6:37, 39; 15:16; Kisah Para Rasul 13:48; 2 Tesalonika 2:13; Roma 8:29-30; 9:6-26; dan lain-lain. Ada teolog-teolog yang mengajarkan bahwa Allah sudah memilih dan menentukan orang yang pasti menerima anugerah untuk diselamatkan. Sejatinya, pandangan ini tidak tepat. Untuk menemukan makna orisinal dari ayat-ayat tersebut, kita tidak boleh tersandera oleh suatu premis yang sudah ada, sehingga pengertian terhadap ayat-ayat tersebut sudah didasarkan pada premis tersebut. Untuk mendapatkan makna orisinal dari ayat-ayat di atas, kita harus sungguh-sungguh melihat konteks ayat itu, direlasikan dengan ayat, pasal, karakter atau sifat kitab, latar belakang, bahasa asli, dan lain sebagainya. Jika dalam menganalisa ayat-ayat tersebut seseorang tidak disandera oleh suatu premis tertentu, ia akan memperoleh kebenaran yang Alkitabiah, yaitu makna orisinal dari ayat-ayat Alkitab, dan menemukan bahwa ajaran yang mengatakan bahwa Allah sudah memilih dan menentukan orang yang pasti menerima anugerah untuk diselamatkan, adalah ajaran yang salah.

Pemilihan dan penentuan orang yang selamat, tidak boleh diartikan sebagai langkah Allah Bapa tanpa pertimbangan apa pun dan tanpa respons manusia; menunjuk siapa yang selamat masuk surga dan yang lain berarti masuk neraka. Dalam hal ini, Allah tidak akan memilih dan menentukan tanpa tatanan dalam diri Allah yang sempurna. Kita dapat mengetahui, memang Allah menentukan orang-orang yang diberi kesempatan mendengar Injil, tapi bukan berarti pasti selamat. Adapun yang ditentukan adalah standar atau target yang harus dicapai orang-orang tersebut. Kalau Paulus menyatakan bahwa Tuhan sudah memilih dan menentukan orang yang akan selamat sejak semula bahkan sebelum dunia dijadikan, karena sebagai orang-orang yang telah merespons anugerah Allah dan telah menjadi anak-anak-Nya, orang percaya harus yakin dan mengerti dari penghayatan hidup bahwa kitalah yang dipilih dan ditentukan sebelum dunia dijadikan untuk memiliki kesempatan menerima anugerah keselamatan, yaitu menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.

Pengajaran yang mengatakan bahwa Allah sudah memilih dan menentukan orang yang pasti menerima anugerah untuk diselamatkan, menempatkan diri seakan-akan bisa menjangkau “keberadaan Allah yang melampaui segala sesuatu.” Pengajaran tersebut menciptakan pemikiran yang tidak logis, dan menggambarkan Allah sebagai “Pribadi” misterius yang aneh. Apakah Allah memang menentukan seseorang selamat atau tidak? Tentu hal ini ada di luar wilayah pengertian kita. Kapasitas keberadaan Allah yang tidak terbatas, tidak akan dapat dimengerti oleh pikiran manusia.

Kalimat “yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm. 8:28-29) bukan berarti ada yang ditentukan untuk pasti selamat masuk surga, melainkan menunjuk kepada sekelompok manusia yang diberi kesempatan mendengar Injil. Hal ini tergantung prerogative Allah. Adapun apakah seseorang digarap oleh Allah untuk mengalami keselamatan, tergantung respons masing-masing individu. Respons tersebut ditunjukkan dengan “mengasihi Allah” (Rm. 8:28-29). Berbicara mengenai “mengasihi,” menunjuk sikap hati. Sikap hati adalah bagian terdalam dalam diri manusia yang ada di wilayah kedaulatan manusia itu sendiri. Orang yang tidak mengasihi Allah, tidak akan digarap Allah untuk menerima kebaikan, yaitu untuk menjadi serupa dengan Yesus. Dalam hal ini, kehendak bebas manusia bermain.

<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<




May 22, 2020, 06:58:58 AM
Reply #3171
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27632
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<

Pengajaran yang mencoba merumuskan bahwa Allah menentukan orang-orang tertentu selamat masuk surga, menunjukkan seolah-olah manusia bisa berpikir setara dengan Allah. Kita harus menghindarkan diri dari usaha untuk berada di posisi setara dengan Allah. Kalau manusia mencoba berdiri di posisi Allah, maka akan berasumsi bahwa Allah dalam kedaulatan-Nya telah memilih dan menentukan siapa yang selamat dan yang tidak. Kita harus berdiri di posisi di mana kita harus berada, sebagai ciptaan (manusia). Berdiri pada “posisi” manusia, akan membuat kita lebih menyadari tanggung jawab kita sebagai ciptaan secara patut, sehingga sebagai manusia, kita dapat menunaikan bagian yang harus kita penuhi dengan rela dan sukacita atau secara proporsional. Dengan demikian, kita dapat memiliki perjuangan dan tanggung jawab dalam keselamatan.




May 23, 2020, 05:43:53 AM
Reply #3172
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27632
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/perjuangan-sebagai-anak-anak-allah/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/23-MEI-2020-PERJUANGAN-SEBAGAI-ANAK-ALLAH.mp3

Perjuangan Sebagai Anak-Anak Allah
23 May 2020

Play Audio Version

Di dalam Roma 8:28-29, terdapat penjelasan penting untuk membuktikan dan menunjukkan bahwa Allah tidak secara sepihak memilih dan menentukan orang-orang tertentu masuk surga dan yang lain masuk neraka. Roma 8:28-29 menuliskan: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Kesalahan memahami ayat ini bisa membangun teologi yang menyimpang dari kebenaran.

Dari tulisan Paulus ini, diperoleh pelajaran rohani bahwa melalui setiap peristiwa atau kejadian, Allah bekerja menggunakan semua hal untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Dalam hal ini, Allah membutuhkan sarana untuk mendewasakan orang percaya. Secara tidak langsung, hal ini mengisyaratkan bahwa perubahan hidup orang percaya haruslah menuju kedewasaan agar layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Perubahan ini tidak dapat berlangsung dengan mudah atau secara otomatis. Ada sarana yang Allah gunakan dalam proses perubahan tersebut. Di pihak lain juga ada perjuangan, baik dari pihak Allah melalui ROH KUDUS, dan orang percaya yang menerima penggarapan Allah tersebut. Hal ini memberi petunjuk pentingnya respons manusia dalam menyambut anugerah keselamatan yang Tuhan berikan. Karena hal “mengasihi Allah” merupakan hal yang bersifat pribadi, maka Allah tidak berintervensi di dalam hati manusia sehingga manusia kehilangan kebebasannya.

Dalam Roma 8:29 tertulis: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Kalimat “orang yang dipilih-Nya dari semula” menunjuk kepada orang yang hidup di zaman Perjanjian Baru, mendengar Injil dengan benar, dan memiliki potensi jasmani dan rohani untuk bisa merespons Injil dengan benar. Orang-orang yang memiliki kesempatan untuk mendengar Injil yang benar, diharapkan merespons dengan benar sehingga benar-benar terpilih agar mengalami dan memiliki keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula, yang berkeadaan sebagai anak-anak Allah seperti Yesus.

Betapa hebat status orang percaya dalam bingkai keselamatan, karena orang percaya disebut sebagai saudara bagi Yesus (Rm. 8:28-29). Dengan status dan sebutan ini, secara tidak langsung dikemukakan bahwa sejak semula, memang Adam adalah anak Allah dan diharapkan semua manusia menjadi anak-anak Allah yang memiliki kodrat ilahi atau mengenakan kekudusan Allah (1Ptr. 1:3-4; Ibr. 12:9-10). Dengan hal ini, orang percaya dipanggil untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela atau memiliki kekudusan seperti Allah (1Ptr. 1:16). Untuk mencapai standar kehidupan ini, bukanlah suatu hal yang mudah, dibutuhkan perjuangan yang sungguh-sungguh, sebab banyak yang berusaha diselamatkan tetapi sedikit yang mencapainya atau memperolehnya (Luk. 13:23-24).

Dalam Roma 8:29, terdapat kalimat “menjadi yang sulung di antara banyak saudara,” kalimat ini menunjukkan bahwa Yesus telah memulai dan berhasil menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Hal ini berimplikasi kepada semua orang yang percaya kepada Yesus, harus juga mengikuti jejak-Nya, atau mencapai apa yang Yesus capai. Semua orang yang berkesempatan mendengar Injil dan berjuang sungguh-sungguh merespons kasih karunia dengan benar, dapat mencapai standar kehidupan seperti yang dicapai oleh Yesus. Itulah sebabnya, orang percaya ditentukan untuk memiliki standar serupa dengan Yesus. Standar ini tidak boleh diturunkan. Memang sejak semula, Allah menghendaki manusia berkeadaan seperti yang Dia kehendaki. Untuk itu, orang percaya harus taat kepada-Nya. Panggilan untuk taat kepada Allah menunjukkan syarat yang harus dipenuhi untuk mengalami dan memiliki keselamatan. Orang yang mengaku percaya kepada-Nya harus mengikuti jejak Yesus, yaitu hidup seperti Dia sebagai Pokok Keselamatan (Ibr. 5:7-9). Dalam hal ini orang percaya dipanggil untuk tidak serupa dengan dunia ini, tetapi harus hanya serupa dengan Yesus.

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>>





May 23, 2020, 05:44:25 AM
Reply #3173
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27632
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


<<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<<<

Dalam Efesus 1:4, Firman Tuhan tertulis: “supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang mendengar Injil harus memiliki respons yang memadai atau yang benar untuk bisa kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam hal ini, orang percaya harus memiliki perjuangan yang sungguh-sungguh agar dapat mencapai maksud keselamatan diberikan, yaitu segambar dan serupa dengan Yesus, yang sama artinya dengan hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Itulah sebabnya, Firman Tuhan di dalam 1 Tesalonika 4:7 tertulis: “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.” Orang Kristen yang tidak berjuang untuk hidup kudus berarti menolak keselamatan yang Tuhan berikan.





May 24, 2020, 09:45:14 AM
Reply #3174
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27632
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/allah-yang-memiliki-tatanan/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/24-MEI-2020-ALLAH-YANG-MEMILIKI-TATANAN.mp3


Allah Yang Memiliki Tatanan
24 May 2020

Play Audio Version

Hendaknya kita tidak berpikir bahwa Allah “diskriminatif,” Allah mengasihi orang yang Dia kasihi dan membenci siapa yang Allah mau benci. Kemudian juga berpikir bahwa hal itu merupakan rahasia Allah. Jika Allah digambarkan sebagai Pribadi yang secara sepihak menentukan orang untuk dikasihi dan dibenci-Nya, yang sama dengan menentukan masuk surga atau masuk neraka, betapa mengerikan sosok Pribadi Allah yang seperti ini. Hidup di semesta dengan “Penguasa” berkarakter demikian, serba tidak tentu, tidak ada kepastian, dan sungguh sangat mengerikan. Allah yang digambarkan demikian adalah “pribadi yang jiwanya sakit”. Manusia pun tidak akan memiliki implikasi yang jelas bagaimana mengisi hari hidup ini berhadapan dengan “pribadi allah” model itu.

Dalam 1 Petrus 1:17, tertulis bahwa Allah menghakimi orang berdasarkan perbuatan tanpa memandang muka. Ini berarti Allah memiliki tatanan dalam mengasihi atau membenci. Berbicara mengenai Allah yang membenci Esau dan mengasihi Yakub, sebenarnya konteksnya bukan masalah individu, tetapi pemilihan suatu bangsa. Lagipula, Allah membenci Esau karena Esau tidak menghormati orangtua. Hal ini dikatakan Allah ketika bangsa Israel tidak menghormati Allah (Mal. 1). Esau tidak pernah menjadi hamba bagi Yakub, tetapi secara komunitas, keturunan Esau—yaitu bangsa Edom—tidak menjadi bangsa yang diberkati oleh Allah. Dengan demikian, sangatlah keliru kalau pemilihan Yakub sebagai ahli waris, dan penolakan Allah atas Esau disejajarkan atau menjadi tipologi dari pemilihan keselamatan atas individu. Allah bukanlah Allah yang kejam yang menyukai penderitaan manusia, melainkan manusia sendirilah yang telah memilih jalannya sesuai dengan kehendak bebas yang dimilikinya. Manusialah yang mengambil keputusan untuk memberontak dan sebagai akibatnya, manusia itu harus menerima dan memikul hasil dari keputusannya.

Jika respons seseorang terhadap karya salib salah—seperti bangsa Israel yang tewas di padang gurun—maka banyak orang Kristen yang juga akan tewas dalam perjalanan hidupnya sehingga tidak akan sampai di Rumah Bapa. Itulah sebabnya harus dipahami bahwa untuk diselamatkan harus ada perjuangan untuk masuk jalan sempit (Luk. 13:23-24). Jadi, bukan tanpa alasan kalau suatu hari Tuhan menolak orang-orang tertentu sehingga masuk neraka, karena memang mereka tidak melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23). Kebenaran ini membangun logika yang sehat, waras, adil, jujur, cerdas, dan memiliki implikasi yang jelas bagi umat pilihan, bagaimana harus mengisi hari hidupnya.

Di dalam Roma 9:1-3 Paulus mengungkapkan isi hatinya: “Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam ROH KUDUS, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.” Pernyataan Paulus ini memperingatkan kita bahwa kebinasaan bangsa Israel disebabkan karena kehendak mereka sendiri yang menolak Mesias. Hal ini tentu bukan karena penentuan dari Allah secara sepihak. Bukan karena Allah yang membuat mereka tidak bisa menerima anugerah. Kalau keselamatan atau kebinasaan saudara-saudara sebangsanya ditentukan oleh Allah secara sepihak, pernyataan Paulus bahwa ia rela menggantikan saudara sebangsanya atau rela terkutuk itu merupakan sikap melawan Allah. Ini juga sama artinya bahwa Paulus bersikap tidak menghormati Allah.

Tidak terbantahkan fakta dalam Alkitab, bahwa setiap tindakan Allah selalu diimbangi oleh respons manusia. Allah selalu menghendaki agar manusia merespons tindakan-Nya. Pengajaran yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia ditentukan oleh perasaan Tuhan yang tidak pernah bisa dimengerti manusia—apakah Tuhan mau mengasihi atau membenci, suka-suka Tuhan—membuat hidup menjadi fatalistik. Hidup menjadi tidak menarik karena tidak ada tantangan. Tidak ada pergumulan dalam arti yang riil, sebab manusia hanya menerima saja apa yang ditentukan oleh Allah baginya. Dengan demikian, realita hidup manusia adalah susunan cerita yang telah dikarang oleh seorang penyusun skenario. Tuhan dianggap sebagai sutradara yang menentukan alur cerita kehidupan manusia dari awal hingga akhir, dan Allah menjadi penyebab segala sesuatu terjadi dalam hidup manusia, sehingga manusia tidak perlu bertanggung jawab.

>>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>






May 24, 2020, 09:46:23 AM
Reply #3175
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27632
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Alkitab berulang-ulang menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab. Manusia harus bertanggung jawab atas setiap tindakannya, dari ucapan, perilaku yang kelihatan, sampai sikap batinnya yang tidak terlihat. Firman Allah yang mengatakan agar kita mengoreksi diri dengan serius, “kalau-kalau jalan kita serong” adalah petunjuk yang sangat jelas bahwa manusia harus memberi respons terhadap panggilan Allah untuk hidup dalam kebenaran-Nya (Mzm. 139). Jika manusia hanya menerima nasib atau takdir yang telah dipersiapkan dan ditentukan baginya, adilkah ini? Apakah dengan cara yang sama kita diajar menyelenggarakan keadilan seperti itu? Tentu tidak. Manusia adalah gambar Allah, manusia diajar untuk memiliki keadilan seperti keadilan-Nya.
May 25, 2020, 11:25:49 AM
Reply #3176
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27632
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/perjuangan-yang-tidak-mudah/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/25-MEI-2020-PERJUANGAN-YANG-TIDAK-MUDAH.mp3

Perjuangan Yang Tidak Mudah
25 May 2020

Play Audio Version

Dalam Roma 8:29, tertulis bahwa Allah tidak menentukan individu atau manusianya untuk selamat, tetapi yang ditentukan adalah standarnya atau target yang harus dicapai, yaitu serupa dengan Yesus. Kalau yang ditentukan adalah manusianya—bukan target yang harus dicapai—maka hal keserupaan dengan Yesus bukanlah sesuatu yang unggul atau luar biasa, yang menjadi tujuan perjalanan hidup Kekristenan. Juga berarti bukan sesuatu yang patut diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, sehingga hal ini bisa dianggap tidak penting. Bagaimana bisa dianggap penting dan berharga secara proporsional kalau keselamatan dapat diperoleh dengan mudah dan secara otomatis, sebab memang sudah ditentukan untuk memilikinya dari Allah tanpa perjuangan? Tidak heran, orang-orang Kristen seperti ini tidak memiliki perjuangan untuk hidup berkenan kepada Allah. Tidak sedikit mereka hanya menjadi orang yang beragama Kristen dan mudah berpindah agama.

Sejatinya, penentuan atau penetapan standar untuk menjadi serupa dengan Yesus merupakan sesuatu yang sangat luar biasa. Dengan penentuan atau penetapan tersebut, secara tidak langsung juga hendak dikemukakan betapa hebat kekuatan kasih karunia yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu kuasa (Yun. Exousia) supaya menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12-13). Biasanya, mereka yang berpikir salah mengenai “keselamatan bukan karena perbuatan baik,” memiliki prinsip bahwa menjadi sempurna bagaimana pun tidak membuat seseorang bisa masuk surga. Pandangan salah ini membuat pikiran mereka menjadi sempit. Keselamatan memang bukan karena perbuatan baik, melainkan untuk mengisi maksud keselamatan, umat pilihan harus menjadi sempurna.

Pandangan salah tersebut membuat banyak orang Kristen tidak memiliki perjuangan yang patut untuk memenuhi maksud keselamatan diberikan. Mereka sudah merasa puas dengan hidup keberagamaannya yang dangkal dan miskin, sehingga mereka hidup dalam kewajaran seperti anak dunia lainnya. Pengertian yang salah tersebut menghancurkan hidup Kekristenan mereka, sehingga mereka gagal memiliki keselamatan yang disediakan oleh Allah, yaitu untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula. Mereka tidak mengerti tanggung jawabnya untuk bertumbuh dalam proses dimuridkan oleh Tuhan Yesus agar menjadi serupa dengan Dia atau sempurna seperti Bapa. Dengan cara ini, orang-orang Kristen tersebut bukan saja dikondisi tidak aktif (walau kelihatannya aktif dalam kegiatan gereja), melainkan juga mereka tergiring ke dalam kegelapan abadi.

Dalam proses keselamatan, dari pihak Allah, Ia menyediakan fasilitas yaitu penebusan, ROH KUDUS, Injil, dan penggarapan Allah melalui segala kejadian. Fasilitas keselamatan ini memberi “kuasa” supaya umat pilihan dikembalikan ke rancangan semula. Tetapi dari pihak manusia, harus melakukan perjuangan dengan memberi diri digarap oleh Allah, guna mencapai keadaan sesuai dengan rancangan Allah semula. Dengan pencapaian ini, seseorang mengalami kelahiran baru, dan dapat dikatakan sebagai mengenakan kodrat ilahi. Perjuangan ini ditulis dalam Ibrani 12:1-4 sebagai “perjuangan melawan dosa.” Ini adalah perjuangan yang berat, dimana orang percaya harus mengerahkan segenap hidup. Dalam Ibrani 12:4, tertulis bahwa dalam perjuangan tersebut, orang percaya harus sampai mencucurkan darah.

Umat pilihan yang mau benar-benar terpilih, harus mengalami perjuangan berat dengan harga seluruh kehidupan ini. Seseorang yang bertekad menjadi umat pilihan yang terpilih, harus berani mempertaruhkan segenap hidupnya. Kegagalan pemuda kaya untuk memiliki keselamatan atau hidup yang berkualitas, karena ia tidak rela kehilangan segala sesuatu (Mat. 19:16-26). Persoalan ini juga diperbincangkan murid-murid ketika pemuda kaya tersebut tidak berani membayar harga pengiringannya. Ia pergi dengan sedih sebab banyak hartanya. Orang kaya tersebut tidak mau kehilangan hartanya, sehingga tidak bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Dengan demikian, tidak bisa disangkali bahwa untuk menerima dan memiliki keselamatan, seseorang harus berani melepaskan segala sesuatu agar bisa menerima Yesus dalam hidupnya. Menerima Yesus berarti mengenakan gaya hidup-Nya. Orang Kristen yang masih duniawi berarti tidak memiliki keselamatan.

>>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>






May 25, 2020, 11:26:26 AM
Reply #3177
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27632
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


<<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<<

Selama belum mencapai goal yang Tuhan targetkan, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula atau menjadi seperti Yesus, orang percaya harus terus berusaha untuk mengerti apa artinya kerja keras dalam merespons keselamatan yang Allah kehendaki. Untuk ini, respons kita harus cukup atau memadai. Orang muda kaya dalam Matius 19:16-26, pada dasarnya memang tidak bersedia membayar harga untuk mencapai standar hidup berkualitas tinggi. Ia tidak masuk dalam proyek kemustahilan sebab ia tidak berani melakukan terobosan. Berbeda dengan Zakheus (Luk. 19). Ia juga mempunyai jabatan sebagai kepala pemungut cukai, ia kaya dan hartanya banyak. Tetapi ketika ia menyambut Tuhan Yesus, tanpa diperintah Yesus, ia membagikan separuh hartanya kepada orang miskin. Dan kalau ada orang yang pernah ia peras, ia kembalikan empat kali lipat. Respons Zakheus ini memadai untuk menerima keselamatan. Ini sebuah perjuangan yang tidak mudah.






May 26, 2020, 10:54:37 AM
Reply #3178
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27632
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/dimensi-kehidupan-orang-percaya/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/26-MEI-2020-DIMENSI-KEHIDUPAN-ORANG-PERCAYA.mp3


Dimensi Kehidupan Orang Percaya
26 May 2020

Play Audio Version

Jika cara pandang seseorang mengenai keselamatan hanya dalam satu dimensi, pasti tidak ada perjuangan yang proporsional untuk mengalami dan memiliki keselamatan. Banyak orang Kristen yang memandang keselamatan hanya dalam satu dimensi, bahwa Yesus telah mati di kayu salib bagi manusia dua ribu tahun yang lalu, menebus dosa umat pilihan. Mereka memandang bahwa pengurbanan Yesus sudah menjadi jaminan bagi orang Kristen, kalau mereka pasti selamat masuk surga, yaitu bagi mereka yang memercayai fakta sejarah itu dan mengakui status Yesus sebagai Juruselamat. Mereka merasa sudah menjadi anak-anak Allah yang sah dengan segala hak-haknya, yaitu berkat-berkat jasmani dan pemeliharaan Allah, kemudian nanti kalau mati, boleh meyakini pasti masuk surga. Inilah yang dipandang sebagai kasih karunia. Cara berpikir ini salah.

Pengertian pembenaran yang mereka pahami tidak lengkap dan kurang akurat. Mereka berkeyakinan bahwa Yesus telah mati di kayu salib sebagai usaha membenarkan orang percaya, sekali untuk selamanya, dan sudah tuntas sempurna. Pembenaran telah menempatkan manusia sebagai orang yang benar di hadapan Allah Bapa, dimana orang Kristen sudah diakui sebagai anak-anak Allah yang sah oleh pembenaran tersebut. Orang percaya tidak perlu lagi melakukan perjuangan untuk mengalami dan memiliki keselamatan, sebab mereka meyakini telah memiliki keselamatan. Bila ada usaha-usaha seperti perjuangan untuk mengalami dan memiliki keselamatan, dianggap sebagai kebodohan atau dipandang penyimpangan dari prinsip sola gratia (hanya oleh anugerah). Cara berpikir ini sudah mengakar selama bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, sehingga mereka tidak menemukan kemurnian kebenaran yang Yesus dan para rasul ajarkan. Kekristenan seperti ini hanya menciptakan keberagamaan seperti agama-agama pada umumnya, bukan jalan hidup yang Allah kehendaki, yaitu kehidupan Yesus yang harus dikenakan.

Menurut mereka, dosa-dosa telah diampuni sekali untuk selamanya, sehingga tidak perlu lagi terlalu mempersoalkan masalah dosa. Darah Yesus sudah menghapus dosa, berarti masalah dosa sudah selesai. Kalaupun mereka meminta ampun atas kesalahan-kesalahan, kesalahan yang mereka pahami hanyalah pelanggaran terhadap hukum atau moral secara umum. Mereka tidak memerhatikan masalah kodrat dosa yang harus diganti dengan kodrat ilahi. Hal ini menyebabkan mereka tidak memiliki perjuangan “masuk jalan sempit,” atau mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar, guna mengalami perubahan kodrat. Kekristenan seperti ini adalah Kekristenan yang tidak benar, itu bukan jalan keselamatan yang diajarkan oleh Injil.

Sebenarnya, keselamatan juga harus dilihat dari dimensi sekarang, dimana orang percaya yang memercayai fakta sejarah pengurbanan Yesus dan mengaku Yesus sebagai Juruselamat harus mengalami proses perubahan, guna mencapai maksud keselamatan itu diberikan. Keselamatan diberikan agar manusia berdosa bukan saja menerima pengampunan dosa, melainkan juga mengalami proses perubahan, bukan hanya tidak lagi melakukan pelanggaran terhadap hukum moral umum, melainkan juga menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Perubahan seperti ini tidak ada dalam agama mana pun. Kematian Yesus di kayu salib memikul dosa-dosa kita sekali untuk selamanya, tetapi kodrat dosa yang melekat dalam diri kita tidak hilang dengan sendirinya. Kodrat dosa di dalam diri kita harus diselesaikan melalui proses pemuridan atau pendewasaan sepanjang umur hidup ini. Proses perubahan ini terjadi melalui didikan Bapa di dalam kehidupan orang percaya (Ibr. 12), agar orang Kristen tidak hanya menjadi anak-anak gampang (Yun. Nothos) atau anak yang tidak sah, tetapi menjadi anak-anak yang sah atau pangeran (Yun. Huios). Dalam hal ini, pengesahan sebagai anak-anak Allah menuntut peran individu orang percaya.

Pembenaran oleh darah Yesus membuat kita dibenarkan di hadapan Allah Bapa. Allah tidak melihat dosa atau kesalahan yang telah, sedang, dan bisa kita lakukan lagi. Kita dianggap benar oleh darah Yesus yang menghapus dosa kita atau salib yang memikul dosa kita. Bapa memberikan ROH KUDUS sebagai meterai yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Tetapi, orang percaya bukan hanya diharapkan berkeadaan “dianggap benar” (dibenarkan), melainkan orang percaya harus sungguh-sungguh bisa berkeadaan benar sesuai dengan standar yang Allah kehendaki. Standar yang Allah kehendaki adalah sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48) atau serupa dengan Yesus (Rm. 8:28-29). Sehingga, orang percaya bisa berkeadaan berkodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:7-10).

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>





May 26, 2020, 10:55:11 AM
Reply #3179
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 27632
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


<<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<

Dengan demikian, menjadi orang percaya berarti membawa diri kepada perjuangan yang sangat berat, lebih berat dari perjuangan orang yang tidak menjadi umat pilihan. Menjadi orang Kristen bukan berarti memiliki kemudahan hidup, baik di bumi ini dengan jaminan berkat-berkat jasmani dan nanti kalau mati pasti diterima masuk ke dalam surga. Cara pandang yang salah ini menciptakan kehidupan Kristen yang lumpuh, tanpa perjuangan untuk memenuhi panggilan sebagai orang percaya menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus.





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)