Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 148047 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 27, 2020, 11:44:09 AM
Reply #3180
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/perjuangan-mencapai-kesucian/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/27-MEI-2020-PERJUANGAN-MENCAPAI-KESUCIAN.mp3


Perjuangan Mencapai Kesucian
27 May 2020

Play Audio Version

Di dalam Injil Matius 5:20, Yesus berkata: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Kata “hidup keagamaan” dalam ayat ini terjemahan dari kata dikaiosune yang artinya kebenaran yang terkait dengan perilaku, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, yaitu sikap hati dan pola berpikir. Dari ayat ini diketahui bahwa Yesus menghendaki agar orang percaya memiliki kesalehan atau kesucian hidup yang luar biasa, melebihi tokoh-tokoh agama. Secara implisit, Yesus mengemukakan bahwa pengikut-pengikut-Nya harus memiliki kehidupan moral yang unggul melebihi standar moral agama mana pun. Orang Kristen yang tidak mengerti hal ini pasti tidak memiliki perjuangan yang proporsional sehingga mereka tidak pernah mencapai target yang dikehendaki oleh Allah. Itulah sebabnya, orang kaya yang saleh dalam Matius 19 dikatakan oleh Yesus harus meninggalkan standar keberagamaannya, dan mengikut Yesus dengan standar baru. Paulus sendiri yang menyatakan bahwa dirinya dipandang dari sudut hukum Taurat tidak bercacat, tetapi ketika ia membandingkan dirinya dengan kesucian Allah, ia merasa sebagai manusia celaka, karena ada suatu yang “jahat” di dalam dirinya (Rm. 7:21-24).

Menjadi persoalan bagi orang percaya, kesalehan atau kesucian apa yang sebenarnya Allah kehendaki? Kesucian hidup orang percaya memiliki ukuran atau standar kesucian Allah sendiri. Dalam Alkitab tertulis: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini” (1Ptr. 1:16-17). Allah Bapa menghendaki agar orang percaya yang adalah anak-anak-Nya memiliki kekudusan seperti kekudusan-Nya. Itulah sebabnya, kita harus hidup dalam takut dan gentar, artinya berhati-hati dalam seluruh sikap hidup, sebab sesungguhnya inilah maksud penebusan oleh darah Yesus itu (1Ptr. 1:18). Dengan demikian, menjadi kemutlakan bagi orang percaya untuk berkapasitas kudus seperti Allah. Kapasitas kekudusan-Nya artinya bisa melakukan segala sesuatu yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kesucian bukan hanya sebuah keberadaan (being atau state) melainkan kemampuan untuk bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Yesus adalah ukuran kesucian satu-satunya. Tetapi, kesucian Yesus pun sebenarnya juga masih abstrak; tidak jelas. Itulah sebabnya, setiap orang percaya harus memiliki pergaulan pribadi dengan Tuhan untuk mengalami proses pemuridan secara pribadi oleh Tuhan Yesus, tentu melalui ROH KUDUS. Hal ini sesuai dengan Amanat Agung Tuhan Yesus yang menyatakan agar semua bangsa dimuridkan oleh Tuhan Yesus. Pemuridan tersebut bukan hanya membuat orang tahu bagaimana hidup sebagai orang yang beragama Kristen dengan standar orang beragama pada umumnya, melainkan juga menjadi anak-anak Allah yang memiliki kemampuan bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Hal ini membuat orang percaya dapat disebut sebagai orang suci.

Menjadi orang suci bukan bermaksud supaya kita selamat. Keselamatan bukan karena kesucian kita, melainkan oleh karena anugerah Tuhan Yesus Kristus. Ini harga mati yang tidak dapat diubah sama sekali. Tetapi setelah kita memiliki kesempatan diperdamaikan dengan Allah, kita harus bertumbuh menjadi manusia yang suci, seperti kesucian yang diperagakan oleh Yesus. Hanya dengan memiliki kesucian seperti Yesus, seseorang dapat memiliki persekutuan yang harmoni dengan Allah dan Tuhan Yesus. Itulah sebabnya, Tuhan berfirman: “Kuduslah kamu sebab Aku kudus” (1Ptr. 6:14-16). Di bagian lain, Firman Tuhan mengatakan: “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, Firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu” (2Kor. 6:17).

<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<







May 27, 2020, 11:44:45 AM
Reply #3181
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<

Oleh sebab itu, setiap orang percaya seharusnya melakukan perjuangan untuk memiliki kekudusan seperti Bapa. Kekudusan seperti Bapa artinya memiliki karakter seperti Bapa, yaitu kemampuan untuk melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan hal ini, seseorang dapat mengenakan kodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Hal ini haruslah merupakan perjuangan yang melebihi semua perjuangan apa pun. Mestinya, hal ini merupakan satu-satunya perjuangan yang orang percaya miliki sebagai orang yang terpilih. Kalau ada perjuangan lain dalam hidup ini yang dianggap lebih penting dari perjuangan tersebut, berarti ketidaksetiaan kepada Allah. Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang diproyeksikan hanya untuk memiliki kekudusan seperti Bapa, yang sama dengan sempurna seperti Bapa. Itulah sebabnya, keselamatan dalam Yesus Kristus—yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan semula—adalah hal yang sangat luar biasa. Di dalam anugerah ini, terdapat potensi dan kemungkinan manusia bisa menjadi saleh seperti Yesus atau berkodrat ilahi seperti Bapa. Alkitab menyebutnya sebagai man of God. Keberadaan manusia batiniah seperti ini pasti melebihi tokoh-tokoh agama.







May 28, 2020, 05:16:39 AM
Reply #3182
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/tugas-penting/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/28-MEI-2020-TUGAS-PENTING.mp3


Tugas Penting
28 May 2020

Play Audio Version

Menjadi orang percaya adalah perjuangan berat, sebab harus menjadi bagian dalam rencana Allah untuk dapat mempercepat kedatangan Tuhan Yesus. Dalam 2 Petrus 3:11-14, terdapat pernyataan bahwa orang percaya dapat mempercepat kedatangan hari Tuhan. Hari Tuhan maksudnya adalah hari dimana Allah mengakhiri sejarah dunia. Ini berarti, Iblis atau Lusifer beserta pengikutnya, dibuang ke dalam kegelapan abadi. Kedatangan Tuhan Yesus untuk mengakhiri sejarah dunia bisa dipercepat oleh orang-orang percaya. Ini berarti, orang percaya dilibatkan dalam penentuan waktu diakhirinya sejarah dunia. Dalam Wahyu 6:11, tertulis: “Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka.” Dari ayat ini, jelas sekali petunjuk mengenai peran orang percaya yang sungguh-sungguh yang dikatakan sebagai “tidak menyayangkan nyawa.” Kedatangan Tuhan Yesus menunggu genapnya jumlah orang yang rela kehilangan nyawa karena dibunuh. Kata “dibunuh” dalam teks aslinya adalah apokteino (ἀποκτείνω). Kata ini secara metafora juga berarti memadamkan (to extinguish) atau menghapuskan (abolish) kehidupan atau nyawa.

Dalam teks aslinya, kata “nyawa” terjemahan dari psukhe (ψυχή) yang menunjuk pada pikiran, perasaan, dan keinginan atau kehendak. Kata “dibunuh” bisa secara fisik, tetapi juga bisa secara psikis. Kalau hanya secara fisik, berarti yang bisa mengalahkan Iblis hanya mereka yang mengalami aniaya fisik. Padahal, Firman Allah mengatakan bahwa yang bisa mengalahkan Iblis adalah ‘darah Anak Domba Allah’ dan ‘oleh perkataan kesaksian mereka, karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut’ (Why. 12:11). Kata “perkataan kesaksian” orang percaya adalah kehidupan yang tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut (Why. 12:11). Hal ini penting untuk dipelajari sebab yang bisa mengalahkan Iblis bukan hanya darah Yesus, melainkan juga “perkataan kesaksian mereka” karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut. Orang-orang yang “tidak mengasihi nyawa” di sini bukan hanya mereka yang mengalami aniaya fisik dan dibunuh secara fisik, melainkan mereka yang rela tidak menikmati dunia sama seperti anak-anak dunia. Betapa sulitnya memiliki sikap hidup tidak menyayangkan nyawa pada zaman ini (Mat. 10:39; 16:25). Dalam hal ini, dibutuhkan perjuangan yang berat.

Yang dimaksud dengan “perkataan kesaksian mereka yang tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut” adalah kehidupan yang diperagakan oleh Yesus, dimana Yesus rela melepaskan segala sesuatu demi kepentingan Kerajaan Bapa. Tidak menyayangkan nyawa juga berarti tidak memiliki kesenangan atau keinginan, kecuali melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Hal ini sama dengan berusaha menjadi corpus delicti. Sejatinya, inilah isi dan kualitas kehidupan Yesus (Yoh. 4:34). Perjuangan seperti ini juga telah dialami oleh Paulus, bahwa darahnya siap dicurahkan demi pelayanan bagi jemaat Tuhan (2Tim. 4:6-8). Inilah standar anak-anak Allah, yaitu rela melepaskan nyawa bagi saudara-saudara yang lain (1Yoh. 3:16). Yesus memberi syarat untuk tidak menyayangkan nyawa kalau mau menjadi pengikut-Nya (Mat. 10:39; 16:25).

Seorang yang bisa menjadi corpus delicti adalah orang yang benar-benar rela menjadi seperti Yesus dengan kerelaan mempertaruhkan apa pun yang ada padanya. Merekalah orang yang tidak menyayangkan nyawa seperti Yesus. Orang percaya seperti ini meneladani sikap hidup Yesus yang “tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Mereka adalah orang-orang yang layak disebut Kristen. Seperti yang dilakukan oleh Yesus, bahwa hidup di dunia bukan untuk menikmati isi keindahan dunia dengan segala hiburannya, melainkan untuk bekerja mengenapi rencana Bapa. Bagi kita orang percaya, kita meneruskan tugas penyelamatan yang telah diselesaikan oleh Tuhan Yesus di kayu salib.

>>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>>






May 28, 2020, 05:17:16 AM
Reply #3183
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


<<<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<<<

Tulisan Petrus dalam 2 Petrus 3:12 menunjukkan bahwa orang percaya dapat mempercepat kedatangan Tuhan Yesus. Kata “mempercepat” menunjukkan bahwa waktu kedatangan Tuhan Yesus yang ditentukan oleh Allah Bapa bersifat fleksibel atau relatif. Tuhan Yesus mengatakan bahwa masa dan waktu pemulihan “Kerajaan Israel” ditetapkan oleh Bapa menurut kuasa-Nya (Kis. 1:6-8). Kata “kuasa” di sini adalah exousia (ἐξουσία) yang lebih tepat dipahami sebagai hak. Hal ini berhubungan dengan pernyataan Yesus bahwa diri-Nya tidak berhak memberikan posisi atau kedudukan bagi orang percaya. Hal duduk di sebelah kanan atau di sebelah kiri Tuhan Yesus, Bapa yang berhak menyediakannya atau menentukan. Hal ini bisa menunjukkan bahwa Bapa menentukan orang-orangnya, tetapi juga bisa menunjuk jumlah orang-orang yang mempercepat kedatangan Tuhan Yesus. Semakin banyak orang percaya diproses untuk semakin seperti Yesus, berarti semakin tercukupi jumlah orang percaya yang menjadi corpus delicti. Ini berarti semakin cepat sejarah dunia berakhir dan Iblis dihukum.






May 29, 2020, 10:12:40 AM
Reply #3184
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/injil-yang-sejati/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/29-MEI-2020-INJIL-YANG-SEJATI.mp3


Injil Yang Sejati
29 May 2020

Play Audio Version

Banyak orang hanya memahami Injil sekadar “kabar baik” tanpa memahami isi dan maksud kabar baik tersebut. Tentu pengertian “baik” harus dilihat dari perspektif atau sudut pandang Allah, bukan perspektif mana pun. Untuk memahami yang baik menurut Allah, kita harus mengerti rencana Allah dalam proses keselamatan dalam Yesus Kristus. Kalau seseorang membangun pengertian “baik” sesuai dengan pikirannya sendiri, maka keselamatan dalam Yesus Kristus tidak akan pernah dialami dan tidak pernah dimiliki. Ini berarti gagal menerima kasih karunia. Dalam hal ini, bisa dimengerti betapa pentingnya pengertian Injil yang benar. Menurut Allah, yang baik adalah keselamatan. Keselamatan bukan hanya terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Keselamatan adalah usaha Allah untuk memulihkan manusia agar segambar dengan diri-Nya atau sesuai dengan rancangan-Nya semula. Injil adalah sarananya, sebab Injil adalah kekuatan Allah (Rm. 1:16-17).

Kalau pengertian “baik” diukur dengan ukuran berkat jasmani, yaitu dimana kebutuhan jasmani terpenuhi, itu berarti orang tersebut tidak mengerti Injil yang benar. Kalau pikiran disesatkan, maka seluruh kehidupannya juga sesat, sebab pikiran memainkan peranan yang penting dalam kehidupan seseorang, termasuk sikap hatinya. Pikiran yang salah membentuk sikap hati yang salah juga. Kalau seseorang tidak mengenal Injil yang benar, berarti ia tidak akan dapat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara benar. Menerima Yesus sebagai Juruselamat berarti setelah mengakui kurban-Nya di kayu salib, ia juga harus memberi diri untuk diubah. Menerima Dia sebagai Tuhan artinya bersedia tunduk kepada kehendak-Nya atau jalan pikiran-Nya, dan rencana-Nya. Untuk tunduk kepada Tuhan Yesus, kita harus mengerti kehendak-Nya dengan tepat.

Dalam Matius 11:5, Yesus menyampaikan pernyataan-Nya bahwa orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dari pernyataan Yesus ini, secara logis dapat dikatakan bahwa orang buta membutuhkan mata, orang lumpuh membutuhkan kaki yang kuat untuk dapat berjalan, orang kusta membutuhkan pentahiran atas kulitnya yang teridap kusta, orang tuli membutuhkan pendengaran, dan orang mati membutuhkan jantung yang berdetak dan nadi yang berdenyut. Tetapi bagaimana dengan orang miskin? Jawaban logisnya adalah uang atau kekayaan. Dan inilah yang dipromosikan besar-besaran dewasa ini, sehingga hal ini memicu jemaat menjadikan Yesus sebagai Juruselamat duniawi. Benarkah bahwa isi kabar baik itu adalah kekayaan di dunia ini? Ternyata bukan. Dalam perspektif Allah, kebutuhan utama orang miskin bukanlah harta.

Tidak sedikit orang Kristen yang mencari Tuhan hanya untuk pemulihan ekonomi, tubuh sehat, keluarga bahagia, pekerjaan baik dan lancar, jodoh sesuai idaman, memiliki keturunan yang baik, dan perkara fana lain. Sudah tentu, Tuhan bisa memberikan pemulihan atas hal-hal tersebut karena Ia terlalu sanggup, dan Tuhan juga sebenarnya berkenan memulihkan keadaan kehidupan jasmani umat-Nya, asal dipersembahkan bagi kemuliaan-Nya. Tuhan menghendaki agar kita memberi perhatian kepada apa yang menjadi maksud keselamatan diberikan. Bila Injil yang diberitakan hanya bermaksud mengangkat manusia dari masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, pada dasarnya itu adalah penyesatan. Akhirnya, bisa memunculkan pemikiran bahwa filsafat atau agama lain pun juga dapat menjawab kebutuhan inti manusia. Padahal, hanya Yesus yang dapat menjawab kebutuhan inti manusia.

Dalam 2 Korintus 11:2-4, ditunjukkan kenyataan adanya pikiran jemaat yang disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus oleh “injil yang lain.” Inilah cara kerja Iblis yang menyesatkan. Kuasa kegelapan langsung menyerang ke jantung gereja. Ternyata Iblis bisa menyelenggarakan pemberitaan Firman Allah yang palsu yang dilegalisir sebagai “suara Tuhan.” Kenyataan seperti ini selalu ada dalam sejarah kehidupan umat Allah, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Paulus mengingatkan bahwa Iblis bisa menyamar sebagai malaikat terang.

>>>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>>>






May 29, 2020, 10:13:17 AM
Reply #3185
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

<<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<

Allah tidak menjanjikan kemakmuran dunia atau kejayaan lahiriah. Ia mengajak umat pilihan untuk hidup seperti Yesus hidup. Inilah kabar baik itu, bahwa Allah merebut kita dari cengkeraman Iblis dan mengajarkan kepada kita cara hidup yang baru, yaitu cara hidup anak-anak Allah seperti Yesus. Tidak ada kabar baik yang sesungguhnya selain dari yang Yesus tawarkan. Kabar baik atau Injil inilah yang mengajarkan bagaimana setiap orang percaya bertingkah laku sebagai umat pilihan yang sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Kekristenan tidak sama dengan agama-agama lain. Hendaknya, kita tidak berpikir bahwa Kekristenan akan memberi kontribusi atas hidup sehingga kita dapat menjalaninya dengan lebih mudah. Sebenarnya, hidup seseorang yang menerima Injil menjadi lebih sukar dan berat karena harus berjuang agar menjadi serupa dengan Yesus. Kalau Injil dipahami hanya sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah kebutuhan jasmani, maka orang Kristen tidak melakukan perjuangan dalam keselamatan, sehingga gagal menerima dan memiliki keselamatan.






May 30, 2020, 04:32:41 AM
Reply #3186
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/menjadi-utusan-kristus/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/30-MEI-2020-MENJADI-UTUSAN-KRISTUS.mp3


Menjadi Utusan Kristus
30 May 2020

Play Audio Version

Orang Kristen yang tidak menyadari bahwa setiap orang percaya harus menjadi utusan Kristus, pasti tidak memiliki perjuangan yang proporsional. Setelah orang percaya berjuang dalam keselamatan—yaitu mengenakan kodrat ilahi, sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus—maka ia harus menolong orang lain juga mengalami proses dan perjuangan yang sama. Dalam Yohanes 20:21, Tuhan Yesus berkata: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Orang percaya harus meneruskan tugas Yesus yang sebelumnya diberikan Bapa kepada-Nya. Tentu saja, orang yang menjadi utusan Kristus harus memiliki kualifikasi seperti Yesus sendiri. Seorang utusan mewakili yang mengutusnya, karenanya seorang utusan harus seperti pengutusnya. Menjadi utusan Kristus berarti orang percaya menerima dan meneruskan mandat yang pernah diterima oleh Yesus dari Bapa. Mandat itu adalah menyelamatkan dunia. Menyelamatkan dunia artinya mengubah manusia agar sesuai dengan rancangan Allah semula. Setiap orang percaya harus menjadi sarana atau alat dalam tangan Allah untuk menyelamatkan dunia ini.

Setelah Tuhan Yesus menyampaikan pesan-pesan terakhir-Nya, Tuhan Yesus terangkat ke surga. Yesus pernah berkata bahwa lebih berguna bagi orang percaya jika diri-Nya pergi. Sebab jikalau Dia tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepada orang percaya, tetapi jikalau Ia pergi, Dia akan mengutus Penghibur bagi orang percaya (Yoh. 16:7). Penghibur itu adalah ROH KUDUS. ROH KUDUS inilah yang mengajarkan segala kebenaran kepada orang percaya (Yoh. 16:7-8). Orang percaya dibawa kepada segala kebenaran (Yoh. 16:13). Selanjutnya, ROH KUDUS memberikan kepada orang percaya kuasa untuk menjadi saksi guna meneruskan karya keselamatan yang telah dikerjakan Yesus di Bukit Golgota (Kis. 1:8; Yoh. 20:21). Dengan demikian, tidak ada orang percaya yang boleh tidak menjadi saksi Kristus. Mestinya, kehidupan sebagai saksi pasti sudah secara otomatis melekat di dalam hidup orang percaya, ke mana pun orang percaya berada, kehidupannya adalah kehidupan seperti garam yang di mana pun tetap asin dan memberi rasa atau mengawetkan. Orang percaya juga menjadi pelita yang menyala, di mana orang percaya berada, selalu pasti menerangi sekitarnya.

Dengan kenaikan Tuhan Yesus ke surga, orang percaya dipanggil untuk bekerja keras, yaitu bertumbuh dewasa dan menjadi saksi meneruskan karya salib Yesus. Hidup sebagai utusan Kristus adalah sarana orang percaya memperoleh mahkota kehidupan. Dalam Yohanes 20:21, Yesus berkata: “Seperti Bapa mengutus Aku demikian pula aku mengutus kamu.” Tuhan Yesus telah naik ke surga, tetapi perkerjaan-Nya tidak berhenti. ROH KUDUS datang meneruskan pekerjaan-Nya di dalam dan melalui kehidupan orang percaya sebagai utusan-utusan Kristus. Dengan demikian, setiap orang percaya harus menjadi saksi (Kis. 1:8). Ini suatu kehormatan besar, kalau Allah melayakkan orang percaya menjadi saksi Kristus, dan memberikan kesempatan untuk menjadi kawan sekerja Allah. Menjadi kawan sekerja Allah berarti melalui hidup orang percaya, Allah menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang, yaitu dengan mengubah mereka dari manusia berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi.

Seorang utusan Kristus harus memiliki beban terhadap keselamatan orang lain sehingga memahami nilai jiwa manusia. Penghargaan terhadap nilai jiwa manusia ini dinyatakan dalam Firman Allah: “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2Ptr. 3:9). Demi keselamatan jiwa manusia, Yesus rela mengorbankan apa pun yang ada pada-Nya. Demikian pula orang percaya harus memikul gaya hidup ini. Menjadi utusan Kristus bukan hanya berarti berbicara mengenai Kristus, melainkan juga menampilkan kehidupan Yesus. Menjadi kehendak Bapa, suatu saat Bapa dapat menemukan orang-orang yang memiliki karakter seperti Putra Tunggal-Nya yang telah menjadi utusan Bapa. Orang-orang yang melanjutkan tugas yang Bapa berikan kepada Anak Tunggal-Nya, adalah hamba-hamba Allah.

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>






May 30, 2020, 04:33:25 AM
Reply #3187
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<<

Orang-orang percaya pada mulanya disebut Kristen karena mereka memiliki gaya hidup seperti Kristus. Tuhan Yesus telah naik ke surga, tetapi kehadiran-Nya nyata diwakili oleh orang-orang yang menampilkan perilaku seperti Yesus, artinya mengenakan karakter Yesus. Dengan demikian, kehidupan Yesus di bumi dengan tubuh daging dua ribu tahun yang lalu dapat diperagakan kembali secara utuh di abad 21 ini. Orang percaya yang memperagakan kehidupan Yesus dapat merasakan nafas atau jiwa dari kehidupan Yesus di dalam dirinya. Adapun inti nafas atau jiwa dari kehidupan Yesus adalah dalam segala hal yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Bapa. Kita harus berusaha agar karakter Yesus mengambil alih atau menggantikan kebiasaan hidup kita yang digerakkan oleh karakter buruk kita yang terbangun sejak kecil. Inilah perjuangan orang percaya yang mendatangkan mahkota.






May 31, 2020, 05:25:09 AM
Reply #3188
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/proses-bertahap-2/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/31-MEI-2020-PROSES-BERTAHAP.mp3


Proses Bertahap
31 May 2020

Play Audio Version

Konsep keliru mengenai kelahiran baru menyebabkan tidak adanya perjuangan secara individu dalam mengerjakan keselamatannya. Hal ini sangat berpotensi mengakibatkan seseorang tidak mengalami kelahiran baru. Konsep yang salah mengenai kelahiran baru tersebut adalah bahwa kelahiran baru dapat terjadi atau berlangsung pada orang-orang yang memang telah ditentukan oleh Allah secara sepihak untuk selamat. Mereka adalah orang-orang yang dibuat oleh Allah berkeadaan “tidak dapat menolak” anugerah keselamatan. Ini berarti mereka tidak bisa tidak, pasti mengalami kelahiran baru secara otomatis, walaupun tanpa respons sama sekali dari mereka secara individu. Dengan pemahaman yang tidak benar ini, banyak orang Kristen dikondisi dalam kehidupan wajar anak dunia yang tidak mengalami proses keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula.

Konsep kelahiran baru di atas mengajarkan bahwa kelahiran baru bisa terjadi tanpa peran manusia sama sekali. Peran manusia diabaikan atau tidak diperhitungkan sama sekali. Biasanya, konsep kelahiran baru tersebut juga dipahami sebagai suatu peristiwa yang bersifat mistik dan adikodrati atau yang bersifat supranatural. Ini berarti mengabaikan tanggung jawab manusia. Tidak sedikit pembicara yang menyatakan bahwa kelahiran baru adalah mukjizat terbesar. Hal ini mengesankan adanya unsur supranatural dalam proses kelahiran baru. Kata “mukjizat” yang dikenakan pada fenomena kelahiran baru tersebut dimengerti oleh mereka sebagai peristiwa yang bersifat mistik dan adikodrati atau yang bersifat supranatural.

Menurut mereka, kelahiran baru terjadi di luar kesadaran manusia. Dengan demikian, mereka juga meyakini bahwa kelahiran baru terjadi hanya atas tindakan Tuhan yang menentukan segala hal. Mereka meyakini bahwa hanya sebagian orang yang ditentukan oleh Allah untuk selamat yang dapat mengalami kelahiran baru, sedangkan yang lain tidak. Ini pandangan yang sangat keliru. Doktrin yang tidak benar ini tidak memiliki implikasi yang sewajarnya atau secara proporsional dalam kehidupan Kristen. Doktrin ini membunuh penerapan konkret kehidupan iman Kristen yang murni. Itulah sebabnya, dalam Kebaktian-Kebaktian Kebangunan Rohani, orang-orang yang merespons “altar call” dan menyatakan menerima Yesus dengan mudah, secara sembarangan dinyatakan sudah mengalami kelahiran baru.

Selanjutnya, terbangun kesan bahwa semua orang Kristen yang pergi ke gereja, pada umumnya telah terpilih sebagai orang-orang yang pasti selamat masuk surga. Hal ini menyebabkan banyak orang Kristen tidak lagi memiliki perjuangan dalam keselamatan. Pada umumnya, gereja-gereja di Eropa menganut doktrin tersebut dan sebagai akibatnya, banyak gereja-gereja di Eropa mati; masyarakat Eropa hari ini seperti tidak pernah mengenal Injil. Ironisnya, banyak gereja di semua belahan dunia masih saja mewarisi ajaran yang tidak memiliki kuasa mengubah manusia sesuai dengan rancangan Allah tersebut, bahkan merasa bangga dengan melestarikan ajaran atau doktrin warisan tersebut, yang sebenarnya sudah tidak bisa menjawab kebutuhan zaman; ajaran atau doktrin yang tidak berkuasa.

Alkitab menunjukkan bahwa Allah tidak akan mengendalikan kehidupan manusia di luar kesadaran manusia, hal ini sama artinya bahwa ROH KUDUS tidak mengambil alih kehendak seseorang, sehingga orang tersebut tidak memiliki kesadaran atas dirinya sendiri. Kesadaran atas diri adalah hakikat kehidupan yang Allah berikan. Di sini letak keagungan manusia. Dalam hal tersebut, tampak fungsi pikiran dan perasaan yang membangun atau menciptakan kehendak yang dapat melahirkan kesadaran dalam diri manusia. Manusia tidak pernah menjadi robot yang tindakannya diatur dan dikendalikan oleh kekuatan di luar dirinya. Dengan demikian, dapatlah disimpulkan dengan tegas bahwa pengalaman kelahiran baru bukanlah hasil tindakan Allah sepihak, melainkan juga tergantung respons individu. Allah menyediakan kasih karunia, menawarkan, dan menggarapnya melalui ROH KUDUS dan manusia harus meresponsnya dengan respons yang benar.

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>






May 31, 2020, 05:25:39 AM
Reply #3189
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<

Oleh karena seseorang tidak bisa mengalami perubahan dalam kelahiran baru dalam hidupnya secara mendadak, maka untuk mengalami kelahiran baru harus ada perjuangan yang serius secara terus-menerus demi terjadinya kelahiran baru tersebut. Hal ini tidak bisa berlangsung dalam sekejap atau seketika, tetapi membutuhkan waktu yang panjang. Tahapan-tahapan untuk mengalami kelahiran baru merupakan proses yang sangat natural setiap hari. Banyak orang Kristen yang tidak mengerti sehingga mereka tidak melakukan perjuangan untuk terus-menerus mendengar Firman, menyiapkan jam doa secara teratur, bersekutu dengan orang-orang percaya, dan memerhatikan setiap peristiwa kehidupan yang dapat menyempurnakannya. Dari penjelasan di atas ini, dapat disimpulkan bahwa seseorang bisa mengalami kelahiran baru bukan hanya karena tindakan Allah sepihak, melainkan juga karena responsnya, dimana ia memberi diri hidup dalam tuntunan ROH KUDUS dalam memanfaatkan fasilitas keselamatan yang Allah berikan. Dengan demikian, manusia bisa bertanggung jawab atas keputusan dan pilihannya.






 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)