Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 148046 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

June 01, 2020, 05:53:11 AM
Reply #3190
June 02, 2020, 05:23:56 AM
Reply #3191
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/hanya-ilmu-tentang-allah/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/02-JUNI-2020-HANYA-ILMU-TENTANG-ALLAH.mp3


Hanya Ilmu Tentang Allah
02 June 2020

Play Audio Version

Allah dalam fantasi membuat orang masih bisa beragama dan mengadakan ibadahnya, tetapi sebenarnya semua itu palsu. Banyak teolog, para pemimpin gereja, dan jemaat Kristen dengan khidmat menyelenggarakan liturgi. Di dalamnya mereka berdoa, menyanyi sebagai pujian dan penyembahan kepada Allah, serta mengucapkan kredo (pengakuan). Tetapi sebenarnya mereka hanya berfantasi, sebab Allah yang dijadikan objek ibadah adalah Allah dalam fantasi. Mereka tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan tidak hidup dalam perjalanan dengan Dia secara konkret. Mereka merasa puas hanya dengan pengalaman keberagamaan dalam semua liturgi dan seremonialnya, tetapi mereka tidak haus dan lapar untuk mengalami Allah secara riil. Sehingga, pada dasarnya mereka adalah orang-orang yang tidak pernah mengalami perjumpaan dengan Allah; mereka hanya berfantasi. Allah yang mereka puji, sembah, dan mereka percakapkan adalah Allah dalam fantasi semata-mata.

Dalam kemerosotan Kekristenan yang sudah berlangsung berabad-abad, Allah hanya menjadi isi pengetahuan yang disebut teologi. Teolog-teolog, pemimpin-pemimpin gereja, dan jemaat Kristen seperti ini menjadi cakap berbicara mengenai Allah. Mereka memiliki banyak buku yang memenuhi rak perpustakaan. Mereka juga cakap berdebat dan berapologetika—yaitu menjelaskan, meluruskan, atau mendebat mengenai iman Kristen dengan agama lain. Biasanya, mereka merasa sebagai orang-orang yang lebih mengenal Allah dibanding orang lain. Mereka merasa bahwa perjuangan studi teologi yang mereka lakukan adalah perjuangan untuk menemukan Allah. Padahal, yang mereka temukan hanyalah ilmu dalam nalar mengenai Allah atau teologi, bukan mengalami perjumpaan secara konkret dengan Allah. Ini berarti mereka belum menemukan Allah.

Mengemukakan hal ini bukan berarti keliru mempelajari Allah dalam konteks berteologi, mendiskusikan, mengkhotbahkan, dan menuliskannya menjadi buku-buku, serta menyusunnya dalam berbagai format sistematika teologi. Tentu hal ini tidak salah, bahkan menjadi panggilan semua orang percaya untuk melakukannya dengan maksimal. Hendaknya, perjumpaan dengan Allah secara riil tidak kita anggap sepele, tetapi harus kita pandang sebagai sesuatu yang mutlak dilakukan. Ini adalah suatu perjuangan konkret, sebab Dia adalah Allah yang hidup. Allah yang nyata, realitas di atas segala realitas. Hendaknya, kita tidak menganggap bahwa menguasai teologi berarti sudah mengenal Allah. Mempelajari pengetahuan atau ilmu tentang Allah melalui berbagai media bukan sesuatu yang sulit, semua orang dapat melakukannya dengan mudah dengan mempertaruhkan sebagian hidupnya. Tetapi, yang lebih berat adalah perjuangan untuk mengalami perjumpaan dengan Allah dan berjalan dengan Dia secara nyata, sebab harga pertaruhannya adalah seluruh kehidupan.

Allah dalam fantasi adalah allah yang tidak memiliki kuasa sama sekali—sebab hanya fantasi—dimana tentu tidak membawa dampak yang sesuai dengan maksud keselamatan diberikan atau tidak mengubah hidup secara proporsional. Allah dalam fantasi tidak membuat seorang Kristen mengalami perubahan kodrat guna mencapai maksud keselamatan diberikan. Tidak heran kalau banyak teolog, para pemimpin gereja, sampai jemaat tidak mengalami perubahan kodrat. Memang secara usia, melalui perjalanan waktu, seseorang bisa lebih bertambah tenang, bijaksana, dan baik—yang disebut sebagai dewasa mental—tetapi belum tentu itu merupakan sebuah perubahan kodrat menjadi seperti Yesus. Itulah sebabnya, di dunia hari ini nyaris tidak kita temukan manusia yang semakin serupa dengan Yesus. Pada umumnya, para teolog, pemimpin gereja, dan jemaat Kristen masih hidup dalam kewajaran seperti manusia lain yang bukan umat pilihan.

Kalau seseorang benar-benar berjumpa dengan Allah, ia bukan hanya memiliki pengetahuan teologi, melainkan juga mengalami perubahan hidup yang secara ekstrem, yaitu menjadi serupa dengan Yesus. Sekarang ini, ajakan menggunakan ukuran sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus hampir lenyap sama sekali. Memang secara teori banyak orang bisa berbicara mengenai hal ini, tetapi dalam fakta, mereka tidak memperagakannya. Seorang yang mengalami proses dikembalikan ke rancangan Allah semula—yaitu menjadi seperti Yesus atau mengalami perubahan kodrat—akan sangat tampak dalam seluruh perilakunya. Orang seperti ini sukar ditemukan cacat dan celanya. Mereka mempertaruhkan hidup tanpa batas untuk kepentingan pekerjaan Allah dan merindukan Kerajaan Surga. Hidupnya akan “menyengat” orang-orang di sekitarnya sehingga mereka juga mengalami perubahan.

>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>>






June 02, 2020, 05:24:36 AM
Reply #3192
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

<<<<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<<<<

Idealnya, lulusan seminari atau sekolah tinggi teologi memenuhi kualifikasi tersebut. Kalau mereka hanya berbekal ijazah dengan segenggam ilmu tentang Allah atau teologi, berarti mereka melayani pekerjaan Allah yang hanya membuat orang bisa beragama seperti mereka. Seluruh pelayanannya—dari khotbah di mimbar, konseling, dan lain sebagainya—hanya merupakan transfer teologi kepada jemaat. Pelayanan pastoral atau diakonia juga sama sekali tidak menggiring jemaat kepada keselamatan yang sejati. Sesungguhnya, mereka tidak menjadi pelayan Tuhan, tetapi hanya menjadi pegawai gereja, pegawai sinode, dan pegawai seminari atau sekolah tinggi teologi.






June 03, 2020, 06:13:11 AM
Reply #3193
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/kudeta-terhadap-allah/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/03-JUNI-2020-KUDETA-TERHADAP-ALLAH.mp3


Kudeta Terhadap Allah
03 June 2020

Play Audio Version

Karena Allah tidak kelihatan dan seakan-akan diam, maka hal ini berpotensi atau memberi peluang bagi seseorang untuk bisa memberikan pandangan mengenai Dia sesuka-sukanya dan sebebas-bebasnya. Teologi dimanipulasi menjadi komoditas dalam berbagai aspek, termasuk untuk kepentingan politik. Dalam sejarah gereja—khususnya sejak kaisar Roma memberi maklumat yang disebut sebagai maklumat Milan (edict of Milan), dimana orang Kristen diberi keleluasaan untuk menjalankan keimanannya pada tahun 313—pada dekade itu, Kekristenan mulai diterima oleh negara dan masyarakat luas, kaisar-kaisar Roma mulai memeluk agama Kristen, teologi menjadi alat politik kaisar demi mempersatukan masyarakat. Tetapi, para teolog dan pemimpin gereja tidak sadar kalau mereka diperalat oleh kaisar, sehingga terjadi pertikaian teologi yang menyakitkan antara mereka.

Sampai hari ini, kebiasaan melakukan perdebatan teologi yang membuahkan percideraan diwarisi oleh orang-orang Kristen yang tidak mengalami perjumpaan dengan Allah secara benar. Perdebatan yang membuahkan percideraan bukanlah perilaku yang diajarkan oleh Yesus. Perdebatan-perdebatan tersebut hanya membangkitkan dan memuaskan kesombongan atau arogansi diri yang pasti membawa korban. Perbedaan selalu ada, tetapi tidak harus dibawa ke ranah perdebatan yang membuahkan percideraan. Kalau seorang Kristen benar-benar mengalami perjumpaan dengan Allah, ia tidak akan terjebak dalam perdebatan teologi yang melahirkan percideraan. Orang Kristen yang benar-benar mengalami perjumpaan dengan Allah dan “telah selesai dengan dirinya sendiri” pasti memiliki “roh yang lemah lembut dan tenteram” dalam seluruh perilakunya.

Konsili Nicea (tahun 325) adalah bagian dari manuver pemerintah yang masih kafir untuk menghindari perpecahan di dalam wilayah kekaisaran, pada waktu mana Kekristenan telah memiliki pengaruh luas di masyarakat. Mau tidak mau, kaisar sebagai kepala pemerintahan harus berpihak kepada kelompok yang diperkirakan memiliki kekuatan yang lebih besar. Seperti kaisar Konstantinus, ia lebih berpihak kepada Athanasius, sedangkan dirinya sendiri, sebelum meninggal dunia dibaptis oleh Eusebius, rohaniwan yang pandangan teologinya sama dengan Arius, lawan Athanasius. Baik Eusebius maupun Arius memiliki pandangan sama mengakar pada seorang teolog Origenes yang mengajarkan bahwa Bapa lebih besar dari Anak (subordinasionisme). Hal itu bertentangan dengan pandangan Athanasius yang dibela kaisar pada konsili Nicea.

Kaisar Konstantinus memang sebenarnya tidak peduli teologi, ia hanya memedulikan kepentingan kekaisarannya. Ia menggunakan teologi hanya untuk kepentingan politik. Memang, ketika kaisar memprakarsai adanya konsili—yaitu pertemuan para teolog dan pemimpin gereja—pada waktu itu, dia sendiri belum dibaptis dan menurut catatan, ia masih memiliki hubungan dengan agama kafir dan masih duduk sebagai salah seorang imam tingginya (pontifex maximus). Sangat ironis, seorang imam agama kafir menjadi pemrakarsa sebuah pertemuan para hamba Tuhan yang mestinya bermartabat lebih dari siapa pun, bahkan lebih dari seorang kaisar. Pertemuan tersebut tidak membuahkan buah kehidupan yang baik yang menjadi kesaksian bagi masyarakat luas yang sebagian masih kafir. Pertikaian teologi merusak persaudaraan di dalam Tuhan yang diajarkan oleh Yesus dalam Yohanes 17:20-21, yaitu Ut omnes unum sint (supaya mereka semua menjadi satu).

Kalau kita memerhatikan gereja mula-mula yang dikisahkan dalam Kisah Rasul, sama sekali tidak ada praktik pertikaian dari perdebatan teologi, apalagi sampai membuahkan percideraan. Sangat besar kemungkinan ada perbedaan pendapat antara para rasul atau orang Kristen mula-mula, sebab mereka baru menjadi orang Kristen. Selain faktor ROH KUDUS yang menuntun mereka (sebagai faktor dominannya), mereka hidup dalam persekutuan yang benar dalam kasih Kristus yang mereka peragakan, sehingga tidak terjadi pertikaian seperti sejak maklumat Milan. Kalaupun sebelum maklumat Milan sudah ada perbedaan-perbedaan pandangan dari para teolog, tetapi tidak setajam pertemuan (konsili) di Nicea tahun 325 dan konsili-konsili berikutnya, karena perdebatan dalam konsili sudah seperti melembaga dan menjadi keputusan yang dianggap resmi mewakili Allah. Hal mana sebenarnya tidak pernah diajarkan oleh Yesus.

<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<




June 03, 2020, 06:13:50 AM
Reply #3194
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


>>>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>

Sejak konsili Nicea, diselenggarakan pula konsili-konsili yang lain dimana seakan-akan menghadirkan “palu Tuhan” untuk menetapkan seseorang salah atau benar, sesat atau tidak sesat atas nama Allah. Mereka yang dianggap salah atau sesat, dijatuhi “hukuman.” Sebagai konsekuensinya adalah dalam bentuk pengucilan, yang bisa berarti juga menghentikan atau mempersempit gerak pelayanannya. Di abad-abad berikutnya, mereka yang dianggap sesat bisa dihukum mati. Akibat dari hal ini, terbangunlah asumsi bahwa Allah memercayakan kursi pengadilan-Nya kepada manusia. Praktik seperti ini adalah tindakan kudeta terhadap Allah. Seiring dengan hal ini, tidak bisa tidak, terbangunnya pemerintahan di dalam gereja yang sarat dengan intrik politik. Gereja mengalami kemerosotan selama berabad-abad. Martin Luther dan tokoh-tokoh lain membangunkan gerejanya untuk sementara waktu agar kembali ke rel yang benar, tetapi kemudian gereja kembali mengalami kemerosotan sampai sekarang. Perdebatan-perdebatan menunjukkan bahwa mereka telah terjebak dalam kehidupan Kristiani Allah dalam fantasi. Allah hanya di dalam nalar, bukan dijumpai dan dialami secara riil.




June 04, 2020, 05:15:35 AM
Reply #3195
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/peta-buruk-komunitas-Kristen/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/04-JUNI-2020-PETA-BURUK-KOMUNITAS-Kristen.mp3


Peta Buruk Komunitas Kristen
04 June 2020

Play Audio Version

Sejak konsili Nicea (tahun 325), para teolog menjadikan isi Alkitab sebagai bahan perdebatan yang melahirkan pertikaian dan percideraan. Hal ini bukan saja menyakiti sesama, tetapi juga menyakiti hati Tuhan. Ironisnya, hal tersebut terjadi justru ketika masa aniaya terhadap orang Kristen sudah mulai surut, ketika penguasa-penguasa dunia bersikap ramah terhadap Kekristenan, yaitu dari awal abad ke-3. Kualitas kehidupan iman orang Kristen malah merosot. Kehidupan iman yang meneladani kehidupan Yesus dan pemberitaan Injil yang berani digantikan dengan perdebatan-perdebatan teologi, sampai hari ini diwarisi oleh orang-orang Kristen yang tidak mengalami Allah, yaitu orang-orang Kristen yang berurusan dengan Allah dalam fantasi. Sejak Kekristenan menaklukkan Eropa—dimana kaisar-kaisarnya menjadi orang Kristen, dari Konstantinus sampai Theodosius Agung, yang menjadikan Kekristenan sebagai agama negara (tahun 380)—Roma malah menjadi ambruk, dan gereja mengalami masa kegelapan.

Ketika suatu lembaga seperti gereja atau individu memiliki wewenang untuk menentukan seseorang sesat atau tidak dan kemudian memberikan hukuman, itu berarti ia mengambil alih wewenang Tuhan. Jika hal menyatakan seseorang salah atau sesat dilakukan oleh rasul-rasul—seperti Paulus—kita bisa menerimanya. Sebab, kita percaya mereka adalah orang-orang yang dipercayai Allah untuk menerima “tongkat estafet” dari Allah, guna meneruskan dan melegalkan ajaran Yesus. Merekapun melakukannya tidak disertai dengan hukuman secara fisik atau hukuman lain yang menyiratkan suatu kebencian. Hal ini sangat berbeda dengan gereja-gereja setelah abad ke-3, dimana teologi menjadi bahan perdebatan untuk memuaskan ambisi dan arogansi.

Hari ini, teologi juga menjadi komoditas untuk menjadikan seseorang memiliki prestise di kalangan orang beragama, khususnya pada kalangan akademisi di seminari atau sekolah tinggi teologi. Dengan hal ini, tidak heran kalau teologi juga menjadi komoditas guna memperoleh uang semata-mata. Panggilan sebagai teolog sebenarnya sangat luar biasa, dimana seorang teolog bisa menjadi jurubicara Allah untuk memberi keterangan tentang Allah, dan bagaimana membangun hubungan dengan Dia. Tetapi, kalau hanya menjadi sarana untuk memperoleh uang, harga diri, dan jabatan di lingkungan komunitas Kristen—baik di gereja, yayasan Kristen, lembaga Kristen, dan seminari atau sekolah tinggi teologi—berarti sebuah pengkhianatan terhadap Allah. Tidaklah salah kalau seseorang yang dipanggil Tuhan untuk menjadi pengajar atau pengkhotbah dengan pengetahuan teologi mendapatkan nafkah dari panggilannya, tetapi bukan karena nafkah tersebut ia berteologi.

Orang-orang yang menjadikan teologi sebagai alat untuk “mengangkat diri” dan memperoleh uang, didorong oleh ketidakmatangan mental dan spiritualnya, dan menggunakan media sosial sebagai sarananya. Mereka mengisi media sosial dengan perkataan-perkataan tajam untuk menyerang gereja lain dan individu, dan sebisanya yang diserang adalah mereka yang sudah memiliki popularitas, demi memperoleh perhatian netizen dan sekaligus memperoleh uang. Tentu alasan mereka melakukan hal itu adalah untuk “meluruskan” ajaran. Untuk itu, mereka menilai pandangan orang lain dan tidak segan-segan mengomentarinya dengan tuduhan sesat. Perilaku mereka menunjukkan bahwa mereka tidak bermartabat sebagai teolog yang santun, yang kemudian memancing dan memicu orang lain melakukan hal sama. Sebagai akibatnya, kepercayaan jemaat kepada gereja dan jabatan pendeta menjadi rusak.

Akibat dari hal ini, pasti ada yang menjadi korban. Satu aspek, munculnya orang-orang yang suka menyerang ajaran orang lain bisa bernada positif—yaitu ketika pendeta-pendeta yang tidak mengajarkan kebenaran ditelanjangi—tetapi aspek yang lain, bisa juga terjadi penghakiman dan tuduhan yang menyesatkan terhadap pendeta-pendeta yang mengajarkan kebenaran. Orang-orang yang suka menghakimi orang lain di media sosial terkait dengan pengajaran menjadi lepas kendali, mereka membabi buta menyerang siapa saja yang bisa diserangnya. Biasanya, mereka mencari celah untuk menyerang siapa pun tanpa sikap teliti dan selektif. Mereka tidak memperkarakan hal tersebut di hadapan Allah, sehingga sangat bisa terjadi, mereka malah menyerang dan melawan orang-orang benar yang sedang dipakai Allah pada zaman ini sebagai hamba Tuhan yang benar.

>>>>>>>>>>> >>>>>>>>>>







June 04, 2020, 05:16:11 AM
Reply #3196
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

<<<<<<<<<<< <<<<<<<<<<<

Sementara itu, mereka yang suka menyerang orang lain, hampir semua adalah orang-orang yang tidak atau kurang berprestasi dalam pelayanan. Mereka adalah orang-orang yang pada umumnya memiliki pendidikan teologi, tetapi tidak menemukan perjumpaan dengan Allah. Mereka yang suka menyerang adalah “haters” yang biasanya tidak memiliki karya-karya nyata, kecuali dengan berani menilai dan menghakimi orang lain secara semena-mena untuk berbagai keuntungan pribadi, minimal untuk kepuasan diri. Dari tulisan dan perkataan mereka, tampak bahwa mereka belum dewasa mental dan spiritual. Hal ini menunjukkan bahwa mereka terjebak dalam kehidupan Kristiani Allah dalam fantasi. Allah hanya dinalar, bukan dialami. Jika dibandingkan dengan agama lain, jarang kita temukan—walaupun tentu saja ada—teolog-teolog agama lain melakukan perdebatan seperti yang ada di kalangan Kristen. Hampir tidak kita temukan mereka saling menuduh dengan tuduhan sesat terhadap sesama teolog mereka. Hal ini sungguh-sungguh menjadi peta yang buruk dalam komunitas Kristen.







June 05, 2020, 06:07:51 AM
Reply #3197
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/mawas-diri/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/05-JUNI-2020-MAWAS-DIRI.mp3


Mawas Diri
05 June 2020

Play Audio Version

Memang ada kitab suci yang diakui sebagai wahyu yang memuat penjelasan mengenai Allah, yang dari kitab suci tersebut, manusia bisa mempelajari dan mengenal Dia. Tetapi, kitab suci tidak bisa berbicara sendiri. Kitab suci juga berpotensi dan membuka peluang tanpa batas untuk melahirkan berbagai interpretasi yang terkristal dalam doktrin dan berbagai ajaran. Sejarah gereja mencatat adanya perdebatan-perdebatan teologi yang membuahkan percideraan yang membangun pemikiran seakan-akan pengetahuan mengenai Allah atau teologi menentukan secara absolut kualitas kerohanian seseorang. Itulah sebabnya, kalau ada gereja atau seseorang memiliki doktrin atau ajaran yang tidak sesuai dengan doktrin atau ajarannya, dengan sangat mudah ditunjuk sebagai sesat. Biasanya, penilaian sesat tersebut juga didasarkan pada apakah teologi seseorang sesuai dengan teologi para tokoh teolog masa lalu atau tidak. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan teolog masa lalu menjadi tolok ukur atau parameter kebenaran.

Secara tidak langsung, ini adalah tindakan subversif terhadap Alkitab, yang seharusnya menjadi tolok ukur atau parameter kebenaran yang mutlak atau absolut. Setiap orang dari perspektifnya bisa mengklaim doktrin atau ajarannya paling benar. Siapa sebenarnya yang ajarannya paling benar? Kalau ada satu-satunya Allah yang benar, berarti ada banyak agama atau kepercayaan yang salah. Mengapa Allah yang benar tidak bertindak menghukum atau menghapuskan agama atau kepercayaan yang salah? Allah yang benar tersebut seakan-akan berdiam diri, sehingga banyak orang masih terkungkung dalam agama atau ajaran yang salah. Dalam lingkungan Kristen yang memiliki satu Alkitab, satu Juruselamat, dan satu Sesembahan—yaitu Allah atau ELOHIM Yahweh—ternyata terdapat banyak aliran gereja atau denominasi; dalam hal ini, berarti ada yang paling benar, agak benar, dan yang salah atau sesat. Tetapi faktanya, Allah juga berdiam diri, tidak secara terang-terangan dan terbuka menunjuk siapa yang benar dan yang sesat. Sehingga, terjadi perdebatan-perdebatan, saling menyalahkan dan menuduh, bahkan dengan mudah menuduh yang lain sesat.

Terkait dengan hal adanya ajaran yang sesat, Yesus mengemukakan bahwa Allah membiarkan “gandum dan lalang tumbuh bersama,” ini artinya Allah membiarkan di dalam gereja ada ajaran sesat yang tumbuh bersama-sama dengan kebenaran sampai pada akhir zaman (Mat. 13:24-30). Nanti pada akhir zaman, baru dibuktikan mana yang gandum dan mana yang ilalang. Jadi, penyesatan pasti ada seperti yang juga dikemukakan oleh Yesus di dalam Matius 18:6-7, “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.”

Pernyataan Yesus di atas mestinya membuat kita mawas diri dan mengoreksi diri dengan sungguh-sungguh, sebab besar kemungkinan, kita sendirilah penyesat itu. Orang-orang yang menganggap teologi adalah ancaman, bisa terjebak pada mistisisme yang sangat subjektif, sehingga tidak menemukan kebenaran yang objektif dari Alkitab. Dewasa ini, banyak pendeta dari aliran gereja tertentu—dengan dalih bahwa mereka dipimpin ROH KUDUS—mengajarkan berbagai ajaran yang tidak sesuai dengan nafas kebenaran Alkitab yang sejati. Subjektivitas yang tidak didasarkan pada penggunaan logika secara maksimal dalam mengeksplorasi Alkitab melahirkan doktrin dan ajaran yang menyimpang dari kebenaran.

Dari pihak lain, terdapat komunitas orang-orang yang sangat tekun berteologi, tetapi mereka kurang atau bahkan tidak sungguh-sungguh berusaha menjumpai Allah. Bagi mereka, semua materi pandangan teologi dalam dunia akademis sudah cukup membuat mereka mengalami perjumpaan dengan Allah. Bagi mereka, ruang-ruang kuliah, auditorium seminar, dan perpustakaan adalah ajang pertemuan dengan Allah. Di sini, mereka sebenarnya belum menjumpai Allah secara benar. Mereka hanya menjumpai Allah dalam fantasi. Tentu saja mereka bisa berbicara tentang isi Alkitab dengan sangat piawai, tetapi kalau sudah berbicara mengenai pengalaman dengan Allah dalam kehidupan riil, mereka menjadi bungkam. Tidak heran, biasanya mereka tidak mau mengusir kuasa gelap, kurang yakin terhadap mukjizat kuasa Allah, dan hal-hal yang bersifat kurang rasionil. Hal ini menunjukkan bahwa mereka terjebak dalam kehidupan Kristiani Allah dalam fantasi. Allah hanya dinalar, bukan dialami.

..............................................................





June 05, 2020, 06:08:27 AM
Reply #3198
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



.................................... ....................................

Kelompok ini biasanya memandang bahwa buah pikiran para teolog masa lalu—khususnya yang mereka kultuskan—adalah kebenaran yang mewakili Alkitab. Tulisan para teolog masa lalu dan keputusan konsili-konsili menjadi landasan dan anchor dari format-format sistematika teologi yang mereka bangun. Biasanya, mereka membela pandangan para teolog yang mereka kultuskan seakan-akan membela kebenaran itu sendiri. Kalaupun mereka menggali Alkitab, pandangan para teolog masa lalu dan keputusan konsili-konsili menjadi acuan mutlak yang tidak boleh ditinggalkan. Dengan sikap ini, mereka sebenarnya mengkhianati Alkitab dan membelenggu diri terhadap suatu doktrin atau ajaran manusia. Hal ini menutup kemungkinan terbukanya penyingkapan-penyingkapan baru rahasia Firman.





June 06, 2020, 06:39:22 AM
Reply #3199
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26139
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/bukan-sudah-final-mutlak/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/05/06-JUNI-2020-BUKAN-SUDAH-FINAL-MUTLAK.mp3


Bukan Sudah Final Mutlak
06 June 2020

Play Audio Version

Fenomena yang tidak dapat dihindari dalam lingkungan dunia teologi Kristen hari ini adalah sikap dalam memandang doktrin atau ajaran, dimana banyak para teolog yang hanya mengikuti pandangan para teolog terdahulu, serta hasil keputusan konsili-konsili yang usianya sudah lebih dari seribu lima ratus tahun. Sehingga, pandangan mereka mengenai doktrin atau ajaran adalah teologi Origenes, teologi Tertulianus, teologi hasil konsili, teologi Athanasius, teologi Arius, teologi Martin Luther, teologi Calvin, teologi Bulman, dan lain sebagainya; bukan teologi biblika atau teologi Alkitab. Padahal, seharusnya pandangan mengenai suatu doktrin atau teologi dilandaskan pada Alkitab secara murni, tidak tergantung dan ditentukan oleh pandangan siapa pun dan apa pun.

Pandangan para teolog masa lalu tentu memberi kontribusi yang sangat berharga, tetapi bukan sesuatu yang final atau dipandang sebagai segalanya atau standar penentu dan ukuran kebenaran. Sebagian teolog dan gereja hari ini menganggap bahwa semua pandangan yang sudah ada dari para teolog masa lalu, termasuk semua keputusan konsili, adalah kebenaran mutlak atau final yang sejajar dengan kebenaran Alkitab. Hal ini mengisyaratkan seakan-akan pandangan manusia secara individu dan komunitas seperti konsili (tidak semua yang hadir dalam konsili setuju) serta gereja adalah sejajar dengan kewibawaan Alkitab. Seharusnya, standar penentu dan ukuran kebenaran adalah Alkitab sendiri, yang tidak tergantikan oleh apa pun. Oleh karena usaha mengeksplorasi Alkitab tidak berhenti, maka tidak boleh ada pandangan teologi atau doktrin yang secara ajeg sudah dianggap final mutlak. Kalau ada pandangan teologi yang dianggap sudah benar secara final mutlak, itu adalah sikap yang tidak menghargai Alkitab.

Hal di atas dikemukakan bukan bermaksud meremehkan para teolog masa lalu dan keputusan konsili-konsili yang telah diakui gereja lebih dari seribu lima ratus tahun. Hasil karya mereka bisa sangat efektif bagi Kekristenan pada zamannya, tetapi di zaman ini, dibutuhkan penyingkapan kebenaran dalam mengarungi dunia yang telah sangat berbeda dalam banyak aspek dan sudah sangat lebih jahat. Pemikiran para teolog masa lalu dan keputusan konsili-konsili bisa menjadi landasan atau titik tolak dan pijakan dari penyingkapan-penyingkapan kebenaran yang Tuhan anugerahkan bagi generasi pada zamannya; tetapi untuk hari ini, tidak selalu demikian. Namun paling tidak, bisa menjadi bahan pertimbangan. Itulah sebabnya, orang percaya bersyukur, Tuhan telah memakai mereka pada zamannya. Tidak sedikit pandangan para teolog yang sampai hari ini menjadi pilar kebenaran yang tidak perlu diubah atau dikoreksi sama sekali. Tetapi, tidak menutup kemungkinan, ada pandangan-pandangan para teolog dan hasil keputusan konsili yang harus dan memang perlu dikoreksi, demi kebenaran baru yang Tuhan singkapkan untuk zaman sekarang.

Di zaman yang berbeda, apalagi zaman kita sekarang—dimana kejahatan semakin memuncak, yang tidak pernah terjadi pada zaman sebelum kita hari ini—dibutuhkan kebenaran-kebenaran yang kuat yang dapat membekali jemaat guna mengantisipasinya. Allah masih hadir di tengah-tengah umat dan akan selalu hadir memberikan bimbingan-Nya di dalam dan melalui ROH KUDUS. Alkitab yang memuat kebenaran-kebenaran yang tidak terbatas, seperti sumur yang tidak pernah kering, yang dapat ditimba kebenarannya guna kebutuhan orang percaya pada zaman ini. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak merasa cukup puas dengan pandangan para teolog masa lalu dan keputusan-keputusan konsili. Alkitab memiliki kekayaan yang jauh lebih hebat dari padangan para teolog tersebut dan semua keputusan konsili.

Di satu pihak, kita memang harus menghargai dan terus mempertimbangkan doktrin atau ajaran teolog-teolog masa lalu dan buah pikiran dari keputusan-keputusan konsili, tetapi di pihak lain, kita harus memburu kebenaran dari dalam isi Alkitab, guna kebutuhan umat hari ini. Kalau seandainya teolog-teolog Barat terus mengembangkan teologi mereka dalam pimpinan ROH KUDUS dan dalam perjumpaan dengan Allah, besar kemungkinan negara-negara Barat masih bisa diselamatkan. Hari ini, kita melihat fakta banyak gereja di negara-negara Barat bangkrut, artinya sedikit dikunjungi jemaat, bahkan ada yang sampai kosong sama sekali. Sehingga ada gereja-gereja yang beralih fungsi menjadi gudang, kafe, dan lain sebagainya. Dan yang lebih menyedihkan, beralih fungsi sebagai rumah ibadah agama lain. Sementara itu, jumlah populasi masyarakat Barat yang beragama non-Kristen bertambah lebih banyak.

........... ...........







 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)