Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 156218 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

December 24, 2020, 06:09:12 AM
Reply #3560
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


------------------------------------------------------

Ucapan syukur ini bukan sekadar sebuah “lips-service” atau ucapan di bibir saja sebagaimana kebiasaan orang pada umumnya, melainkan ucapan syukur yang keluar dari kesadaran yang sungguh-sungguh bahwa seseorang ada sebagaimana ia ada, hanya karena anugerah dan kemurahan Tuhan semata-mata. Di balik apa yang dapat dilihat, ternyata ada tangan yang tidak kelihatan yang menjaga dan melindungi orang percaya, mengawal mereka dengan para malaikat-Nya. Tangan Bapa surgawi yang penuh tanggung jawab menjaga anak-anak-Nya dengan keperkasaan dan kasih sayang-Nya yang hebat. Orang percaya harus sungguh-sungguh bersyukur kepada Bapa dan Tuhan Yesus Kristus yang telah menunjukkan rahmat-Nya yang besar, sehingga selamanya selalu dalam penyertaan Allah, yaitu hidup di hadirat Allah.









December 25, 2020, 04:53:48 AM
Reply #3561
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/berbasis-kehidupan-yang-akan-datang/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/11/25-DESEMBER-2020-BERBASIS-KEHIDUPAN-YANG-AKAN-DATANG.mp3


Berbasis Kehidupan yang Akan Datang
25 December 2020

Play Audio Version

Setiap orang berpikir dan bertindak berdasarkan filosofi hidupnya. Bagi orang beragama, berdasarkan ajaran yang diyakininya sebagai kebenaran. Kebenaran yang diyakini melahirkan berbagai model atau gaya hidup, sebab kebenaran yang diyakini tersebut membangun suatu basis berpikir. Basis artinya asas, dasar. Kalau dalam dunia militer, basis menunjuk pangkalan tempat pasukan atau tentara mulai melakukan operasi menggempur musuh, atau bertahan menghadapi serangan musuh. Basis biasanya merupakan tempat di mana ada gudang persenjataan dan persediaan logistik serta tentara dikumpulkan. Adapun “berbasis,” artinya menjadikan sesuatu sebagai basis. Artinya sebagai pijakan dalam berpikir. Hal ini yang membentuk gaya hidup dan dasar dalam melakukan segala tindakan. Dengan demikian, basis berpikir ini menentukan kualitas hidup seseorang di hadapan Allah dan menentukan kekekalannya. Ada 2 basis berpikir dalam kehidupan manusia. Pertama, basis berpikir pada kehidupan di dunia hari ini di bumi. Kedua, basis berpikir pada kehidupan yang akan yang datang di langit baru dan bumi baru nanti.

Bagi orang percaya atau umat pilihan, harus menentukan atau memilih hanya satu basis, tidak boleh dan memang tidak bisa berpijak pada kedua-duanya. Umat pilihan diproyeksikan oleh Allah untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan, anak-anak Allah yang akan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus dan memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus di dalam Kerajaan-Nya. Itulah sebabnya, orang percaya harus berbasis pada dunia yang akan datang seperti Yesus. Ketika Yesus dibawa ke atas gunung dan ditawari keindahan dunia, Yesus dibujuk untuk memiliki basis berpikir dunia hari ini. Yesus memiliki dunia yang akan datang, Kerajaan Bapa, di mana diri-Nya akan menjadi Raja dalam ketertundukan kepada Allah Bapa. Yesus menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa.

Dunia di mana penghuninya tidak hidup dalam ketertundukan mutlak kepada Allah, bukanlah surga. Surga memiliki dua pengertian. Pertama, lokasi dan sarana. Kedua, suasana atau atmosfer, dimana ada ketertundukan mutlak atau hidup dalam pemerintahan Allah. Kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu,” bukanlah dalam arti pertama, melainkan kedua, yaitu menghadirkan pemerintahan Allah atau hidup dalam ketertundukan mutlak. Keindahan yang diciptakan sempurna menjadi rusak ketika pemerintahan Allah tidak diselenggarakan. Nanti di langit baru dan bumi baru, keindahan dunia ini diulang dalam suasana pemerintahan Allah. Menjadi anak-anak Allah yang tinggal di Kerajaan di mana setiap insan ada dalam ketertundukan kepada Allah Bapa adalah rencana kekal dan besar Allah sejak dunia diciptakan. Oleh karenanya, Allah memberi keselamatan di dalam atau melalui Yesus Kristus. Dari hal ini, bisa dimengerti mengapa dalam Efesus 1:4-5 Firman Tuhan mengatakan: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.”

Pada umumnya, agama-agama dan kepercayaan masih berbasis pada kehidupan hari ini, walaupun tentu saja kehidupan di surga menjadi pengharapan setelah mati atau di balik kuburnya. Tetapi, pada dasarnya tidak menjadi basis berpikir satu-satunya. Paling tidak, mereka berjejak pada dua basis berpikir tersebut. Tentu saja ada sebagian mereka yang berbasis di dunia yang akan datang, tetapi tidak memiliki kejelasan seperti yang Alkitab Perjanjian Baru ajarkan. Seperti misalnya agama Yahudi yang berbasis pada dunia hari ini. Orientasi kehidupan mereka masih terletak di dunia. Kehidupan keberagamaan bangsa Israel masih berbasis pada dunia ini, di bumi. Itulah sebabnya, yang mereka persoalkan adalah tanah yang berlimpah susu dan madu, kejayaan kerajaan Israel, kelimpahan materi, dan segala sesuatu yang masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani.

------------------------------------------------------------------








December 26, 2020, 05:41:48 AM
Reply #3562
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/beban-terhadap-orang-lain/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/11/26-DESEMBER-2020-BEBAN-TERHADAP-ORANG-LAIN.mp3



Beban terhadap Orang lain
26 December 2020

Play Audio Version

Kita harus menghayati betapa tragisnya hidup ini. Pada umumnya, kita juga sudah tahu bahwa hidup ini tragis, tetapi hanya sedikit orang yang benar-benar menghayati tragisnya hidup ini, sehingga mereka tidak mempersiapkan diri untuk menetap di langit baru dan bumi baru. Mereka tidak menyeberangkan hatinya ke langit baru dan bumi baru sejak di bumi ini. Sehingga, mereka tidak pernah memiliki basis berpikir dunia yang akan datang. Sampai kapan pun, orang-orang seperti ini tidak pernah menjadi rohani. Mereka adalah orang-orang yang tidak akan pernah menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Biasanya, orang-orang seperti ini memang bisa mengambil bagian dalam pelayanan. Seandainya ia melayani, hal itu dikarenakan keuntungan yang bisa ia peroleh.

Beban yang tulus terhadap orang lain membuat kita membuka tangan untuk berbagi apa yang kita miliki demi kepentingan kehidupan jasmani. Namun, selanjutnya kita juga memperjuangkan kepentingan yang lebih besar dan merupakan inti masalah kehidupan, yaitu kekekalan di langit baru bumi baru. Menjadi manusia pemberi bukan manusia penerima, tidaklah mudah. Karena irama hidup manusia pada umumnya adalah menerima. Pada umumnya, manusia adalah manusia yang berkarakter penerima, bukan pemberi. Keadaan ini bukan hanya ada dalam kehidupan orang-orang di luar gereja, melainkan juga orang-orang Kristen di dalam gereja, bahkan para pelayan-pelayannya, aktivis gereja, maupun pendeta. Kalaupun seseorang bisa memberikan sesuatu bagi pelayanan, dasarnya bukan karena sudah menjadi “manusia pemberi” melainkan karena kesantunan hidup dan perasaan keterbebanan yang terbatas. Ini berarti belum memiliki hati seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus.

Demi pengabdian kepada Tuhan, kita berusaha menjadi manusia pemberi. Oleh karena itu, kita harus menjadi orang-orang yang benar-benar berpotensi. Untuk memiliki kehidupan yang berpotensi, kita harus bekerja keras mengembangkan semua bakat dan kemampuan yang kita miliki. Pengharapan terhadap langit baru dan bumi baru tidak membuat kita menjadi manusia yang antisosial, tidak membuat kita menjadi orang yang tidak bertanggung jawab dalam kehidupan di dalam keluarga, gereja, masyarakat, bangsa, dan negara. Orang yang berbicara mengenai surga lalu menjadi antisosial dan tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, dan anak bangsa, pasti telah sesat di dalam pengertiannya. Orang yang berpikir bahwa mereka yang menaruh harapannya pada dunia akan datang menjadi orang yang antisosial yang tidak memenuhi tanggung jawabnya dalam hidup adalah orang-orang yang tidak mengerti kebenaran.

Harus dipahami bahwa pengabdian kita kepada Tuhan terletak pada saat kita memaksimalkan potensi dan bertanggung jawab dalam kehidupan ini, terkait dengan hubungan kita dengan keluarga, gereja, masyarakat, bangsa, dan negara. Seseorang tidak bisa dikatakan mengasihi Allah ia kalau tidak memaksimalkan potensi bagi sesamanya di bumi ini. Sesungguhnya, inilah ibadah yang sejati itu, seperti yang dikatakan Paulus dalam Roma 12:1, juga yang dimaksud Yesus dalam Lukas 4:8 sebagai kebaktian kepada Allah. Justru orang yang menaruh pengharapannya di langit baru dan bumi yang baru, dimana ia berusaha untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela agar berkenan di hadapan Tuhan, pasti mengisi hari hidupnya untuk menjadi saksi Tuhan dengan memikul beban sesama dalam tindakan konkret, bukan hanya dalam warna dan pernyataan-pernyataan kata dan kalimat. Orang yang benar-benar berkarya bagi Tuhan dengan memikul beban sesama tidak akan banyak bicara. Suatu hari, semua orang akan diperhadapkan kepada pengadilan, dan segala sesuatu yang kita lakukan akan dibawa ke pengadilan.

--------------------------------------------------------------------









December 26, 2020, 05:42:15 AM
Reply #3563
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

-------------------------------------------------------------------------------

Justru inilah ciri dari orang-orang yang benar-benar telah menyeberangkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga atau berbasis pikir dunia yang akan datang. Mereka akan sungguh-sungguh berusaha hidup tidak bercacat dan tidak bercela, memaksimalkan semua potensi untuk kepentingan Kerajaan Allah, menjadi manusia pemberi, dan pasti efektif dalam pekerjaan Tuhan, serta hidupnya pasti mengubah orang lain. Hatinya sangat sensitif terhadap penderitaan dan kebutuhan orang lain. Orang-orang seperti ini akan dipercayai Tuhan menerima banyak Lazarus. Semakin banyak lazarus yang disambut dan dilayaninya, hidupnya semakin menyenangkan hati Allah. Ini berarti semakin memikat hati Allah, menjadi penghiburan bagi hati Allah yang berduka di tengah-tengah dunia yang semakin fasik. Dengan demikian pula, semakin banyak harta kekayaannya di dalam Kerajaan Surga. Inilah bagian dari mengumpulkan harta di surga, sebab selain karakter kita yang harus menjadi semakin seperti Yesus, juga ada salib yang harus kita pikul. Salib adalah penderitaan yang kita alami demi berkat bagi sesama. Orang yang memedulikan sesama dapat menemukan hadirat Allah dan hidup di dalamnya.









December 27, 2020, 06:28:23 AM
Reply #3564
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/berdampak-pada-kekekalan/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/11/27-DESEMBER-2020-BERDAMPAK-PADA-KEKEKALAN.mp3


Berdampak pada Kekekalan
27 December 2020

Play Audio Version

Kekristenan kita belum lengkap sampai tujuan, sebelum kita sampai pada pengalaman hidup “tinggal di dalam Dia.” Ini doa Tuhan Yesus dalam Yohanes 15:4; 17:21. Kekristenan bukanlah sekadar agama yang melengkapi kehidupan manusia di bumi, melainkan jalan hidup yang mengubah manusia dari kodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi agar hidup di hadirat Allah. Dalam Injil Yohanes 14:6, Yesus menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya jalan sampai kepada Bapa. Bukan saja masuk surga melainkan hidup di hadirat Allah. Banyak orang bertahun-tahun beragama Kristen dengan pergi ke gereja, menjadi majelis, bahkan menjadi pejabat sinode seperti pendeta, tetapi ternyata tidak bertumbuh mengalami perubahan kodrat sehingga tidak pernah mengerti hidup di hadirat Allah. Hadirat Allah lebih penting dari segala sesuatu. Jika seseorang tidak berani menjadikan ini sebagai satu-satunya agenda hidup, berarti ia gagal sebagai orang percaya. Orang-orang seperti ini pasti tidak berani melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33). Inilah satu-satunya isi perjuangan orang yang dipanggil sebagai umat pilihan, sebagai perlombaan yang wajib, yaitu mengambil bagian dalam kekudusan Allah agar dapat hidup di hadirat-Nya (Ibr. 12:9-10).

Jadi, maksud menjadikan tubuh kita bait ROH KUDUS, bukan hanya tubuh didiami oleh ROH KUDUS. Kalau bait suci Salomo didiami Roh Allah, artinya Roh Allah hadir di bait Allah tersebut, tetapi di sana tidak ada hubungan interaksi antara Allah dengan bait suci, sebab bait suci bukan pribadi. Bait suci adalah benda. Tetapi kalau Roh Allah diam di dalam kita, berarti ada satu kegiatan percakapan yang berlangsung terus-menerus, yaitu hubungan interaksi dengan Tuhan di dalam diri kita. Bapa menghendaki hubungan yang mendalam dengan kita. Hubungan yang mendalam, yang di dalamnya terdapat dialog dengan Tuhan ini, tidak ada batasnya, sampai nanti kita bertemu muka dengan muka dengan Tuhan. Orang-orang seperti ini tentu senantiasa menghayati kehadiran Tuhan dalam hidupnya, dan bisa hidup di hadirat Allah.

Karena Tuhan tinggal di dalam kita, melalui Roh-Nya, maka percakapan dengan Tuhan tidak dibatasi ruang dan waktu. Di mana kita ada, Tuhan juga berada. Ia selalu beserta di dalam kita. Sebuah perjumpaan tiada henti, sebuah hubungan interaksi tiada putus. Di sinilah letak nafas kehidupan. Kalau kita pernah mendengar bahwa doa adalah nafas rohani, doa di sini bukan hanya kegiatan pada waktu kita berlutut dan melipat tangan mengucapkan kalimat doa, melainkan doa adalah percakapan setiap waktu di mana pun kita berada dan kapan saja. Orang percaya harus menjadi satu dengan Tuhan dalam ikatan yang bersifat permanen. Inilah yang dikatakan di dalam 1 Korintus 12:17, menjadi satu roh dengan Tuhan. Orang percaya harus sungguh-sungguh dalam perjuangan mencapai level “menyatu dengan Tuhan.” Ini adalah kebutuhan yang tidak bisa digantikan dengan apa pun juga. Dengan demikian, seseorang baru bisa hidup di hadirat Allah.

Banyak orang beragama yang memercayai Allah, tetapi tidak sungguh-sungguh mengalami Tuhan, apalagi hidup di hadirat Allah. Sebenarnya, ada dua jenis pengalaman dengan Tuhan. Pertama, pengalaman dengan Tuhan yang berkualitas tinggi. Kedua, pengalaman dengan Allah yang berkualitas rendah. Mengemukakan hal ini bukan berarti ada pengalaman dengan Allah yang bisa dianggap remeh atau tidak berkualitas, sehingga kita memandang rendah. Mengalami Allah dengan kualitas tinggi adalah kehidupan orang percaya di hadirat Allah dalam proses pendewasaan agar orang percaya semakin dapat memiliki hubungan yang ideal dengan Allah. Semakin seseorang dewasa rohani, semakin ideal hubungannya dengan Allah. Tidak banyak orang yang sungguh-sungguh telah mengalami Allah dengan kualitas tinggi. Hal ini hanya terjadi atas orang-orang yang dengan sepenuh hati mengasihi Allah dan berusaha untuk melakukan kehendak Allah. Pengalaman-pengalaman dengan Allah yang berkualitas tinggi ini menyempurnakan hidup seseorang untuk dapat mencapai kehidupan yang sesuai dengan rancangan Allah semula.

---------------------------------------------------------------------------






December 27, 2020, 06:28:47 AM
Reply #3565
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


------------------------------------------------------------------------

Semua pengalaman hidup merupakan sarana Allah Bapa mendewasakan atau menyempurnakan anak-anak-Nya. Pengalaman yang berkualitas tinggi dengan Allah Bapa ini, termasuk di dalamnya peristiwa-peristiwa yang Dia izinkan terjadi dalam kehidupan, yang melaluinya Allah Bapa mendidik. Adapun pengalaman dengan Tuhan yang berkualitas rendah biasanya berkenaan dengan hal-hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani; seperti mengalami mukjizat kesembuhan, jalan keluar dari persoalan ekonomi, terhindar dari malapetaka, dan lain sebagainya. Dikatakan ‘rendah’ bukan berarti boleh diremehkan, melainkan pengalaman tersebut tidak terkait langsung dengan kekekalan, atau bisa tidak berdampak pada kekekalan, yaitu membawa ke langit baru dan bumi baru sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah.






December 28, 2020, 05:49:22 AM
Reply #3566
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/menemui-tuhan/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/11/28-DESEMBER-2020-MENEMUI-TUHAN.mp3


Menemui Tuhan
28 December 2020

Play Audio Version

Suatu hari nanti di kekekalan, ketika seseorang menyaksikan kedahsyatan kemuliaan Allah, barulah ia menyadari dengan benar betapa besar anugerah Allah yang memberi kesempatan makhluk ciptaan—yaitu manusia—untuk bisa berinteraksi dengan Dia. Hari ini, banyak orang yang menganggap remeh kesempatan untuk bisa berinteraksi dengan Allah, yaitu hidup di hadirat Allah, sebab mereka tidak menyadari kedahsyatan kemuliaan Allah. Tentu saja orang-orang seperti ini juga tidak menghormati Allah secara patut dan tidak mengasihi Allah secara benar. Pada umumnya, manusia berkeadaan demikian. Pada waktu itu, barulah terjadi penyesalan yang sangat dalam, menyakitkan, dan tidak terbayangkan. Penyesalan tersebut bisa lebih menyakitkan dari penderitaan itu sendiri. Alkitab menggambarkan keadaan tersebut sebagai “ratap tangis dan kertak gigi.”

Seseorang yang menolak hidup di hadirat Allah adalah orang yang mengalami kerugian yang tidak ternilai, yaitu kebinasaan—artinya keadaan terpisah dari Allah. Orang yang menolak Allah berarti tidak menerima kehidupan di dalam Tuhan. Tidak mungkin orang yang pada saat hidup di bumi tidak hidup di hadirat Allah, kemudian nanti waktu meninggal bisa hidup di hadirat Allah. Hanya orang yang sejak di bumi ini sudah hidup di hadirat Allah, nanti di kekekalan juga diperkenankan untuk berada di hadirat Allah. Dengan demikian, sejatinya, peta hari esok seseorang di kekekalan—apakah ia masuk surga atau neraka—dapat dilihat sejak hidup di bumi ini. Untuk itu, kita harus mengoreksi diri kita dengan benar, apakah kita akan diperkenankan ada di hadirat Allah atau tidak. Untuk bisa mengenali diri dengan benar, seseorang harus mengalami perjumpaan langsung setiap hari dengan Allah.

Untuk menemui Tuhan secara khusus, seseorang harus menyediakan waktu yang dipandang istimewa. Setiap hari kita harus menyediakan waktu untuk bertemu Tuhan. Waktu ini harus dipandang sebagai waktu yang lebih bernilai dari waktu kita untuk hal-hal lain. Ini adalah “prime time.” Waktu tersebut tidak digunakan untuk apa pun selain bertemu dengan Tuhan. Kita harus membiasakan diri bertemu dengan Tuhan secara rutin sehingga menjadi kebiasaan yang tidak terhapus selama hidup, sampai bertemu Tuhan Yesus nanti. Pada waktu bertemu dengan Tuhan, kita tidak boleh membuka akses dengan apa pun, dan kepada siapa pun. Waktu bertemu dengan Tuhan adalah waktu yang mulia, agung, dan berharga.

Karena pertemuan ini mahapenting, maka kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik: ruangan, sarana doa, dan kondisi fisik. Kadang-kadang kita sengaja memakai pakaian resmi dalam pertemuan tersebut dan memandangnya sebagai pertemuan formal. Berkenaan dengan hal ini—bila mungkin—kita menyediakan ruangan yang khusus. Ruangan yang dilengkapi dengan bantal untuk berlutut, kursi untuk meletakkan siku, gitar untuk menyanyi atau menyembah. Kita harus menyediakan tempat khusus ini untuk menutup semua hubungan dengan apa pun dan siapa pun. Ruangan tersebut bisa menjadi ruang istimewa di mana kita bertemu dengan Tuhan, sebab di tempat itu kita menemukan kehadiran Tuhan.

Membiasakan diri untuk hal ini tidak mudah. Dibutuhkan perjuangan dalam ketekunan yang tinggi, sebab pada waktu belajar berdoa akan terjadi kejenuhan. Apalagi pada waktu sudah ada di ruang doa selama berbulan-bulan dan tidak merasakan Tuhan hadir, bahkan seakan-akan Tuhan tidak ada. Dalam kondisi seperti itu, kita bisa putus asa dan kehilangan gairah berdoa. Kita harus tetap tekun. Pada waktu kita tidak ingin berdoa, justru pada waktu itulah kita harus berusaha bertemu dengan Tuhan dan masuk ruang doa. Kita harus belajar untuk bisa bersabar menanti Tuhan dan mencari wajah-Nya. Kita harus tetap setia di ruang doa untuk belajar merasakan hadirat Tuhan, dan tetap merasakan kehadiran-Nya yang semakin kuat.

----------------------------------------------------------










December 28, 2020, 05:49:48 AM
Reply #3567
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
--------------------------------------------

Semakin hari kita akan mengalami perasaan semakin menyukai ruang doa tersebut, sampai menjadi ikatan, seperti sebuah ikatan yang adikodrati. Dalam berdoa, Tuhan akan memberi pengalaman-pengalaman yang luar biasa yang tidak bisa disaksikan kepada orang lain, atau memang tidak boleh disaksikan kepada orang lain, sebab perjumpaan dengan Tuhan sangat mulia dan pribadi. Tuhan menghendaki perjumpaan dengan Dia dipandang sebagai sesuatu yang eksklusif yang tidak boleh diumbar untuk orang lain. Kita tidak boleh sembarangan menyaksikannya kepada orang lain. Semua harus dalam pimpinan ROH KUDUS. Dari perjumpaan dan percakapan dengan Tuhan di ruang doa tersebut, kita mengembangkan sebuah dialog dan fellowship yang tidak pernah berhenti di sepanjang waktu hidup kita. Kalau tidak ada perjumpaan khusus dengan Tuhan, tidak mungkin dapat memiliki kehidupan di hadirat Allah setiap saat. Orang yang menemui Tuhan setiap hari akan dikenal di Kerajaan Surga.










December 29, 2020, 06:37:06 AM
Reply #3568
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/meninggalkan-dunia-3/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/11/29-DESEMBER-2020-MENINGGALKAN-DUNIA.mp3


Meninggalkan Dunia
29 December 2020

Play Audio Version

Orang yang mau hidup di hadirat Allah harus meninggalkan dunia ini. Meninggalkan dunia adalah proses yang sangat berat, sebab kita telah terbiasa hidup dalam keterikatan dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Meninggalkan dunia adalah kemutlakan yang tidak boleh dihindari oleh orang percaya, karena inilah harga yang harus dibayar oleh mereka yang mau memperoleh Kristus di dalam hidupnya. Terkait dengan hal ini, Rasul Paulus menyaksikan kehidupan imannya demikian: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp. 3:7-8). Inilah langkah barter yang harus dilakukan setiap orang percaya, sebab seseorang tidak akan dapat memiliki Kristus—artinya memiliki berkat keselamatan—tanpa “melepaskan segala sesuatu” atau meninggalkan dunia. Sesungguhnya, inilah Kekristenan yang sejati yang diajarkan oleh Yesus bagi umat pilihan Perjanjian Baru. Pelepasan atau kehilangan “semuanya itu” merupakan sikap yang benar untuk dapat hidup di hadirat Allah. Ciri yang paling nyata dari orang yang meninggalkan dunia adalah “tidak memiliki keinginan kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya.” Orang-orang seperti ini bukan berarti tidak memiliki keinginan atau kehendak sama sekali selain menyukakan hati Bapa. Manusia diciptakan dengan keinginan atau kehendak, dan Tuhan menghendaki agar manusia memainkan kehendak tersebut. Manusia bukan robot yang tidak memiliki keinginan sendiri. Tentu saja orang percaya juga harus memainkan kehendak-Nya, tetapi keinginan yang ada di dalam hatinya haruslah keinginan melakukan kehendak Bapa. Orang percaya harus membuka hatinya hanya untuk menerima perintah atau komando dari Bapa di surga, dan tidak membuka akses untuk pihak mana pun kecuali untuk Tuhan. Kalau keinginan seseorang hanya Tuhan dan Kerajaan-Nya, maka hatinya lebih terbuka terhadap kebenaran Tuhan. Ruangan yang disediakan bagi kebenaran Tuhan dalam jiwanya lebih luas, dan memang seharusnya orang percaya tidak memberi ruangan sekecil apa pun terhadap percintaan dunia. Sesungguhnya, tujuan hidup orang percaya sebagai anak-anak Allah hanyalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidup berarti harus meninggalkan dunia ini. Untuk ini, kebebasan masing-masing individu memegang peranan penting. Apakah seseorang memberi ruangan bagi dunia atau bagi Tuhan, sepenuhnya tergantung kepada individu. Dalam hal ini, Tuhan tidak memaksa seseorang membuka ruangan hidupnya bagi Dia. Sebaliknya, kuasa gelap juga tidak bisa memaksa seseorang membuka ruangan hidupnya baginya. Hal ini merupakan tatanan yang bisa menempatkan setiap individu pada pengadilan Tuhan nanti. Jadi, kesediaan meninggalkan dunia adalah persiapan terbaik atau satu-satunya untuk menghadap pengadilan Tuhan nanti. Sebenarnya, banyak orang Kristen tidak memedulikan hal-hal rohani, walaupun rajin ke gereja. Mereka lebih mempersoalkan perkara-perkara duniawi. Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang bersikap tidak pantas terhadap Tuhan; memandang rendah Tuhan dan tidak menghormati-Nya. Walaupun mereka aktivis gereja, bahkan rohaniwan, tetapi mereka tidak bersikap secara benar di hadapan Allah dalam hidup sehari-hari. Sebenarnya, percuma mereka memuji dan menyembah Allah di gereja. Mereka hanya ingin hidup seperti orang lain hidup, yaitu menikmati dunia seakan-akan dunia ini hanya satu-satunya kesempatan menikmati hidup. Mereka tidak bersedia meninggalkan dunia, sebab mereka telah nyaman dengan dunia yang menjadi kerajaannya. Tidak sedikit orang-orang baik dalam gereja—bahkan bisa dianggap sebagai rohani—belum meninggalkan dunia ini. Mereka bisa melakukan pekerjaan pelayanan gereja, tetapi mereka masih hidup dalam percintaan dunia. Tuhan akan memperkarakan spirit atau gairah apa yang ada pada setiap individu. Setiap orang akan dibawa kepada dua kemungkinan, apakah gairahnya makin kuat ke arah Tuhan atau ke dunia. --------------------------------






December 29, 2020, 06:38:54 AM
Reply #3569
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

----------------------------------- Spirit atau gairah dunia membawa seseorang kepada kebinasaan. Spirit hidup seseorang tidak bisa dibangun dalam satu hari, tetapi harus dibangun dalam perjalanan hidup yang panjang sejak kanak-kanak. Kalau seseorang selalu mendapat masukan dari dunia ini, maka warna jiwanya sama seperti dunia ini. Tetapi kalau seseorang selalu mendengar kebenaran Firman Allah, maka warna jiwanya akan sesuai dengan yang Allah kehendaki. Dari gairah tersebut akan terbukti, seseorang mengarahkan hidupnya kepada siapa. Orang-orang yang memiliki banyak keinginan untuk memuaskan hawa nafsu adalah orang-orang yang mengarahkan hidupnya kepada dunia. Ini berarti menjadikan diri mereka sebagai musuh Allah (Yak. 4:4). Orang seperti ini tidak hidup di hadirat Allah.








 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)