Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 156217 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

December 30, 2020, 05:37:55 AM
Reply #3570
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/logika-rohani/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/11/30-DESEMBER-2020-LOGIKA-ROHANI.mp3


Logika Rohani
30 December 2020

Play Audio Version

Dalam kehidupan ini, Allah memberi tanggung jawab setiap individu atas dirinya sendiri di hadapan Tuhan yang memberi kendaraan hidup ini. Tuhan menciptakan manusia dan melengkapinya dengan pikiran, perasaan, dan kehendak. Semua itu merupakan sarana atau perlengkapan untuk dapat mengemudikan kehidupan masing-masing individu. Manusia harus belajar bagaimana mengemudikan hidupnya secara benar, sesuai dengan kehendak yang menciptakan kehidupan itu, dan mengarahkannya ke arah yang benar. Paulus dalam suratnya mengatakan: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1Kor. 9:26-27). Kalimat ini dalam teks Yunaninya adalah alla hupopiazo mou to soma kai doulagogo mepos, allois kheruksas autos adokimos genomai (ἀλλ᾽ ὑπωπιάζω μου τὸ σῶμα καὶ δουλαγωγῶ, μήπως ἄλλοις κηρύξας αὐτὸς ἀδόκιμος γένωμαι). Kata adokimos artinya bukan saja berarti “ditolak,” melainkan juga “tidak disetujui (disapprove), dibuang (cast away)” atau “tidak diperhitungkan karena dianggap tidak memenuhi syarat (be disqualified).” Pernyataan Paulus ini jelas menunjukkan bahwa kita harus menguasai atau mengendalikan hidup sedemikian rupa, supaya kita diterima di Kemah Abadi.

Untuk dapat mengendarai hidup ini dengan benar dan mengarahkannya ke arah yang Tuhan kehendaki, bukan sesuatu yang sederhana dan mudah. Kita harus bergumul dengan segenap hidup. Inilah perjuangan yang tiada berakhir sampai kita menutup mata. Dalam hal ini, orang percaya diajar untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Manusia harus mengarahkan kehendaknya sendiri. Untuk itu, kita harus mengisi pikiran kita dengan sesuatu yang baik. Kalau kebenaran diisikan dalam pikiran, maka pikiran akan terarah ke surga dan Kerajaan-Nya. Hadirat Tuhan yang dirasakan setiap hari akan mengarahkan selera jiwa kita kepada Tuhan, sampai kita merasakan bahwa kebutuhan kita hanyalah Tuhan saja. Kita harus memiliki ketekunan fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, dan tidak bergeser. Ke arah inilah kita menemukan tujuan hidup kita. Untuk itu, kita harus memiliki logika rohani. Logika seseorang mengarahkan kemudi hidupnya.

Untuk mengubah logika duniawi ke logika rohani, memang membutuhkan waktu yang panjang. Kita harus terus-menerus memenuhi pikiran dengan Firman Tuhan, serta mengalami hadirat Tuhan setiap hari. Ini adalah perjuangan yang harus kita lakukan tiada henti sebagai satu-satunya agenda hidup ini. Hal ini tidak bisa muncul dengan sendirinya. Kitalah yang harus berjuang dalam ketekunan maksimal, artinya tidak ada yang kita perjuangkan lebih dari hal ini. Selama kita masih sibuk menikmati kepuasan materi hari ini, maka tidak ada pergumulan perjuangan untuk mengubah logika kita. Kita yang harus mengisi pikiran dengan kebenaran-kebenaran murni dalam Alkitab dan menyadari bahwa masih banyak unsur “duniawi” di dalam logika kita.

Orang percaya yang bergumul dalam perjuangan mengubah logika ini, akan merasa bahwa kehidupannya sedang meluncur ke arah yang tidak jelas, artinya suatu arah yang asing yang tidak pernah dipahami sebelumnya. Ia merasa seperti menjadi manusia asing di bumi, dibanding dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kadang-kadang juga merasa seperti orang yang “tidak menginjak tanah.” Merasa tidak berpikir secara realistis. Namun, kalau perjuangan ini dilakukan terus-menerus dengan tekun dalam pimpinan ROH KUDUS, maka ia menyadari bahwa dirinyalah yang realitis, sedangkan manusia yang lain seperti mimpi. Ini adalah kehidupan yang “mencari perkara-perkara yang di atas.” Orang-orang seperti ini dapat hidup di hadirat Allah. Orang yang masih berlogika duniawi tidak bisa hidup di hadirat Allah.

----------------------------------------------------









December 30, 2020, 05:38:19 AM
Reply #3571
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

-------------------------------------------------------------------------

Tidak sedikit orang Kristen yang aktif dalam kegiatan pelayanan, bahkan menjadi pendeta, mengerjakan pekerjaan gerejani, tetapi belum sepenuh hidup mengarahkan dirinya kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, sebab logika mereka masih duniawi. Hal ini disebabkan oleh karena pengaruh dunia yang sudah meracuni diri mereka, dan mereka tidak mengasup kebenaran yang murni dari Alkitab. Mereka berpikir kalau mereka sudah mempercakapkan hal-hal rohani, mereka merasa sudah hidup di dalamnya. Padahal, yang mereka percakapkan bukanlah kebenaran yang murni. Kalau sudah mempercakapkan mengenai Tuhan, mereka merasa sudah memfokuskan hidupnya pada Tuhan. Padahal, mempercakapkan hal Tuhan dengan mengarahkan kemudi hidup kepada Tuhan adalah hal yang sangat berbeda. Mengarahkan kehendak tidak cukup mengarahkan paham teologi ke arah tertentu. Mengarahkan kehendak artinya mengembangkan minat hanya bertemu dengan Tuhan Yesus, dan kerinduannya hanyalah Kerajaan-Nya. Kebahagiaan hidup orang percaya seperti ini tidak lagi ditopang oleh kekayaan materi dunia, tetapi kehadiran Tuhan atau hadirat-Nya. Dalam semua ini, logika memiliki pengaruh dan peran yang sangat besar.









December 31, 2020, 05:35:12 AM
Reply #3572
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/menjadi-ciptaan-baru/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/11/31-DESEMBER-2020-MENJADI-CIPTAAN-BARU.mp3


Menjadi Ciptaan Baru
31 December 2020

Play Audio Version

Hanya orang percaya yang benar-benar mengalami kelahiran baru yang dapat menemukan hadirat Allah dan hidup di dalamnya. Proses kelahiran baru hanya terjadi atas umat pilihan Allah yang hidup di zaman Perjanjian Baru. Kelahiran kembali yang disebut berulang-ulang dalam Yohanes 3 adalah terjemahan dari gennethe anothen (γεννηθῇ ἄνωθεν). Dua kata ini dari akar kata genao dan anothen. Genao (to procreate; to regenerate) artinya “dilahirkan,” sedangkan anothen bisa berarti “dari atas” (from above), sering diterjemahkan sebagai “kelahiran baru.” Dalam 2 Korintus 5:17, Paulus menulis: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Petrus juga menyinggung mengenai fenomena kelahiran baru dalam 1 Petrus 1:3, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” Kata “kelahiran baru” dalam ayat ini dalam teks aslinya adalah anagennosas, dari akar kata anagennao. Dalam teks bahasa Inggris diterjemahkan new birth, born again (kelahiran baru, dilahirkan kembali). Kata ini sebenarnya lebih tepat diterjemahkan “dilahirkan dari atas.” Dalam 1 Petrus 1:23 tertulis: “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.” Petrus menyatakan dengan sangat terang bahwa oleh Firman Tuhan, seseorang mengalami “dilahirkan dari atas atau dilahirkan kembali.”

Dalam 1 Yohanes 2:29 tertulis: “Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.” Dalam tulisan Yohanes ini, terdapat kalimat “dilahirkan dari pada-Nya.” Kata ini dalam teks aslinya adalah eks autou gegennetai (ἐξ αὐτοῦ γεγέννηται). Dalam teks aslinya, terdapat kata eks (ἐξ), yang artinya “keluar.” Jadi, sebenarnya kalimat l”ahir dari pada-Nya” juga bisa dipahami sebagai “lahir keluar dari Dia.”

Dalam Yohanes 3:9 tertulis: “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” Kalimat “lahir dari Allah” dalam teks aslinya adalah hog gegennomenos ek tou theou (ὁ γεγεννημένος ἐκ τοῦ θεοῦ), yang lebih tepat diterjemahkan sebagai “dilahirkan keluar dari Allah (Theos).” Kalimat yang sama juga terdapat dalam 1 Yohanes 5:1 “Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga dia yang lahir dari pada-Nya,” dan dalam 1 Yohanes 5:4 “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita,” dan 1 Yohanes 5:18 “Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya.”

Dari uraian di atas ini, harus ditegaskan bahwa penggunaan kata “dilahirkan” itu penting. Dalam Yohanes 1:13 tertulis: “orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” Kata “diperanakkan” di ayat ini adalah gennao (γεννάω) yang sama artinya dengan dilahirkan. Hal ini menunjukkan proses sebuah “kejadian” hadirnya seorang anak manusia. Kita bisa memahami bahwa proses kelahiran bukan dalam satu hari, satu minggu, bahkan tidak cukup satu bulan.

Proses kelahiran baru sesungguhnya cukup rumit, tetapi bisa dipahami secara nalar. Apalagi sekarang, ketika ilmu pengetahuan sudah sangat maju, proses reproduksi atau pembuahan adalah proses natural yang dapat dijelaskan. Orang percaya yang masuk proses kelahiran baru adalah orang-orang yang dikategorikan sebagai orang-orang yang hidup baru dalam Tuhan dan diproses untuk menjadi seperti Kristus. Mereka baru bisa dikategorikan sebagai “telah menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara benar.” Mereka adalah pengikut Tuhan Yesus yang sejati, artinya mengikuti jejak kehidupan Tuhan Yesus, yaitu mengenakan pikiran dan perasaan Kristus serta gaya hidup-Nya.

-------------------------------------------------------------------










December 31, 2020, 05:35:38 AM
Reply #3573
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

---------------------------------------------------------------------

Seiring dengan pembaharuan pikiran dimana ROH KUDUS memberikan pengertian-pengertian mengenai kebenaran, maka bertumbuh juga pemahamannya mengenai Kerajaan Allah. Seorang yang dilahirkan baru adalah seorang yang mendapatkan pencerahan untuk dapat memahami rahasia Kerajaan Allah. Jadi, seseorang yang tidak mengalami kelahiran baru, tidak akan memahami rahasia Kerajaan Allah secara mendalam. Orang yang tidak memiliki pencerahan untuk memahami rahasia Kerajaan Allah, tidak bisa mengalami hidup di hadirat Allah, dan ia tidak pernah menjadi anggota keluarga Kerajaan.










January 01, 2021, 05:35:53 AM
Reply #3574
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/catatan-sejarah/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/12/01-JANUARI-2021.mp3


Catatan Sejarah
01 January 2021

Play Audio

Kita bersyukur menjadi orang Kristen atau menjadi orang percaya yang memiliki Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Yang telah melewati proses panjang, yang dapat dibuktikan kebenarannya dari berbagi aspek dan perspektif. Kita percaya bahwa pengetahuan yang benar tentang Allah dan penciptaan alam semesta ini, mula-mula diberikan oleh Allah kepada Musa pada sekitar tahun 1500 SM. Ini sama dengan 1500 tahun sebelum adanya agama Kristen; atau sekitar 2100–2200 tahun sebelum ada agama Islam.

Dari kitab Perjanjian Lama yang kita miliki hari ini—yang sebenarnya merupakan kitab sucinya orang Yahudi—bisa dikenali siapa Allah yang benar. Dalam Alkitab Perjanjian Lama, kita menemukan bagaimana Allah menyatakan diri dengan tindakan-tindakan-Nya yang spektakuler, yang luar biasa untuk bangsa Israel yang peradabannya belum maju. Karena mereka telah hidup sebagai budak selama 320 tahun di Mesir. Kalau ditinjau dari sudut rohani, bangsa Israel adalah bangsa yang belum matang atau belum dewasa. Sebab, mereka hanya mengenal Allah dari tindakan-tindakan Allah secara lahiriah yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Dari apa yang dikemukakan dalam Alkitab Perjanjian Lama, kita bisa mengenal siapa Allah yang benar. Allah yang benar adalah Allah Israel.

Di dalam kitab Perjanjian Lama, Allah yang benar tersebut menyatakan diri-Nya dengan pernyataan: “Aku Allah Israel, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.” Allah atau ELOHIM yang proper name-nya adalah Yahweh adalah satu-satunya Allah yang benar. Bangsa Israel adalah saksi di bumi ini untuk menunjukkan siapa Allah yang benar dari banyak ilah yang ditawarkan oleh banyak agama. Itulah sebabnya, bangsa Israel—yang termasuk bangsa kuno di antara bangsa-bangsa di Kanaan—tetap eksis sampai hari ini. Sementara bangsa-bangsa kuno lainnya nyaris punah, atau bahkan punah. Bangsa Israel yang selama sekitar 2500 tahun tidak memiliki kerajaan dan tanah air—yaitu sejak Yehuda runtuh di tangan bangsa Babel tahun 586 SM—mereka bisa kembali ke Israel dan membangun sebuah negara. Ini adalah perbuatan tangan Allah yang besar. Kalau bukan Allah yang besar dan kuat, tidak mungkin bangsa itu bisa membangun kembali negara mereka.

Kalau kita membaca Alkitab, kita harus percaya dan menerima bahwa semua yang ditulis di dalam Alkitab bukan fiksi dan bukan dongeng. Semua yang ditulis itu adalah kejadian yang nyata, catatan sejarah dari fakta empiris yang benar-benar terjadi atau pernah berlangsung. Bukti-bukti arkeologinya pun dapat ditemukan dengan jelas. Seperti misalnya, ditemukannya alat-alat perang, senjata, kereta kuda di bawah Laut Kolsom. Ini menunjukkan bahwa pernah terjadi suatu peristiwa tenggelamnya pasukan atau tentara. Dan Alkitab mencatat peristiwa tersebut, yaitu Firaun dan tentaranya yang ditenggelamkan di Laut Kolsom sekitar tahun 1500 SM. Setelah 3500 tahun terhitung dari saat ini, masih ada sisa-sisanya, yang membuktikan bahwa kisah perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan itu bukanlah dongeng. Demikian pula dengan tulah-tulah yang Allah berikan kepada bangsa Israel, bukan dongeng. Tentu saja Laut Kolsom yang terbelah, Manna yang diturunkan dari langit, Tembok Yerikho yang roboh, semua itu merupakan fakta historis, fakta sejarah, atau fakta empiris. Dan kita harus percaya dan menerima fakta tersebut. Betapa hebat kisah-kisah tersebut.

---------------------------------------------------------------








January 01, 2021, 05:36:18 AM
Reply #3575
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

----------------------------------------------------------

Kita bersyukur karena Tuhan memiliki jejak-jejak yang dari dalamnya kita dapat menemukan kebesaran Allah, keagungan Allah untuk membuktikan siapa Allah yang benar itu. Dengan demikian, kita dapat mengerti betapa berharganya Alkitab, betapa bergunanya Alkitab bagi kita. Oleh sebab itu, jangan kita tidak membacanya. Ketika kita membaca Alkitab, kita seperti masuk sebuah pergumulan, pergulatan hebat orang-orang yang bersentuhan dengan Allah. Dari hal itu, kita dapat membangun kehidupan bagaimana bersentuhan dengan Allah secara benar.








January 02, 2021, 05:21:39 AM
Reply #3576
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/dua-saksi/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/12/02-JANUARI-2021.mp3


Dua Saksi
02 January 2021

Play Audio

Di dalam Kitab Wahyu, kita menemukan adanya dua saksi. Siapakah sebenarnya dua saksi tersebut? Ada beragam pandangan mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa saksi itu adalah Musa dan Yesus. Ada pula yang mengatakan bahwa saksi itu seseorang yang dipakai Tuhan di zaman sekarang ini, artinya menunjuk nama seorang pendeta atau hamba Tuhan yang dipakai Tuhan—yang menurut mereka—luar biasa. Dan lain sebagainya. Ini adalah pandangan yang salah. Adapun yang dimaksud oleh Kitab Wahyu tentang “dua saksi” itu sesungguhnya adalah bangsa Israel dan orang percaya, yang digambarkan sebagai nyanyian Musa—itu menunjuk bangsa Israel—dan nyanyian Anak Domba—itu menunjuk orang percaya. Jadi, “saksi” itu bukan Musa secara langsung atau Yesus, melainkan bangsa Israel dan orang percaya.

Bangsa Israel adalah bangsa yang dipilih oleh Allah. Menjadi umat pilihan, yang dari sejarah bangsa itu kita dapat menemukan jejak-jejak dari Allah yang benar, tindakan-tindakan-Nya, serta karakter Allah dalam memperlakukan umat pilihan-Nya secara darah daging atau keturunan Abraham secara keturunan harfiah. Dengan demikian, bangsa Israel dapat menjadi saksi untuk menunjukkan atau membuktikan siapa Allah yang benar itu. Sebab banyak ilah, allah, atau dewa yang diperkenalkan, ditawarkan, dan dipromosikan oleh banyak agama. Kalau seseorang mau mengenal siapa Allah yang benar, lihatlah sejarah bangsa Israel. Maka ia akan mengenal dan menemukan Allah yang benar. Itu saksi yang pertama.

Saksi yang kedua adalah orang percaya. Dalam Perjanjian Baru, dinyatakan bagaimana Allah yang benar itu. Pertama, dinyatakan dalam diri Putra-Nya, yaitu Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menunjukkan karakter dari keagungan Allah yang benar. Dari kehidupan Yesus, kita dapat menemukan bagaimana seharusnya manusia—yang adalah gambar Allah—dapat menampilkan diri. Yesus adalah model atau sosok manusia yang benar-benar segambar dan serupa dengan Allah. Itulah sebabnya, Yesus disebut “Saksi yang setia,” untuk menunjukkan bagaimana Allah yang benar itu. Orang percaya, yaitu kita yang mengikut Yesus, harus juga menjadi saksi seperti Yesus. Saksi, artinya kita dapat menunjukkan atau membuktikan bukan saja siapa Allah yang benar, melainkan juga bagaimana Allah yang benar melalui kualitas perbuatan baik kita.

Yesus adalah Saksi yang setia. Maksudnya, sampai mati Ia setia kepada Allah Bapa. Ia tidak menyangkali Allah Bapa walaupun Ia mengalami penderitaan yang sangat hebat, bahkan ditinggalkan oleh Allah Bapa. Yesus tidak menjadi curiga kepada Allah, tetapi tetap memercayai-Nya. Dan di tengah-tengah keadaan dimana Ia merasa ditinggalkan, Ia tetap menyerahkan nyawa-Nya ke dalam tangan Bapa-Nya. Jadi, “Saksi yang setia” artinya sampai akhir atau sampai mati dapat tetap menunjukkan atau membuktikan bagaimana Allah yang benar. Orang percaya harus memiliki kehidupan seperti kehidupan yang dijalani oleh Yesus. Kita menjadi saksi, artinya kita mau membuktikan dan menunjukkan bukan saja siapa Allah yang benar, melainkan bagaimana Allah yang benar melalui perbuatan kita. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan, “mereka melihat perbuatanmu dan memuliakan Bapa di surga,” bukan melalui perdebatan-perdebatan yang berbuntut pada kebencian, perpecahan, pertikaian, permusuhan, dan hal-hal negatif lainnya.

--------------------------------------------------------------









January 02, 2021, 05:22:02 AM
Reply #3577
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

------------------------------------------------------------------

Tetapi, melalui perbuatan, mulut manusia dikatupkan (ditutup), dan mereka bisa berkata kepada orang percaya yang hidupnya mulia dan agung seperti Yesus, “orang sebaik ini, tidak mungkin Tuhannya salah. Orang sebaik ini tidak mungkin agamanya keliru.” Jadi, kita bukan mau berdebat, bersitegang secara dogma, atau berbantah-bantahan secara teologis. Tetapi kita menunjukkan bagaimana kehidupan seorang anak Allah dari Allah yang benar. Kita membuktikan keagungan, kemuliaan Allah kita dengan dan melalui perbuatan. Jadi kalau kita mengatakan: “aku memuliakan Engkau ya, Allah,” itu bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan, dengan perbuatan nyata. Demikianlah panggilan kita sebagai saksi.









January 03, 2021, 05:45:39 AM
Reply #3578
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/menjumpai-allah-dalam-kehidupan/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/12/03-JANUARI-2021.mp3


Menjumpai Allah dalam Kehidupan
03 January 2021

Play Audio

Di dalam Ibrani 11:6 tertulis, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Maka, jangan kita sembarangan berkata: “saya percaya Allah itu ada.” Sebab, faktanya banyak orang mengatakan demikian tetapi kelakuannya tidak menunjukkan bahwa Allah itu ada. Pertanyaan bagi kita: “Seberapa kita sungguh-sungguh mencari Dia? Seberapa kita sungguh-sungguh menginvestasikan waktu dan tenaga untuk mencari Dia?” Tentu ini bukan sesuatu yang sederhana. Yang menjadi persoalan yang benar-benar harus kita perkarakan adalah bagaimana kita bisa sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Allah yang kita yakini Dia ada.

Banyak orang dari kecil sudah beragama Kristen, ketika remaja mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan, ketika masa muda juga aktif di gereja, bahkan masuk Sekolah Tinggi Teologi, menjadi pelayan jemaat atau menjadi pendeta, tetapi hanya memiliki pengetahuan tentang Tuhan (teologi) walaupun STT di mana dia kuliah adalah STT atau Sekolah Tinggi Teologi yang baik. Kemudian melanjutkan kuliah lagi mencapai gelar magister teologi atau bahkan doktor teologi. Namun demikian, hanya memiliki pengetahuan tentang Tuhan saja. Bayangkan, kalau orang seperti ini menjadi seorang pembicara lalu mengajar jemaat, melayani jemaat, dan menggembalakannya. Dibawa ke mana jemaat yang dilayani itu?

Jadi, secara keilmuan bisa saja orang tersebut sudah belajar dan mengerti banyak hal tentang Tuhan atau cakap berteologi. Tetapi kalau seseorang belum menjumpai Allah secara konkret, tidak mungkin ia bisa menyampaikan kebenaran yang mengubah orang lain. Bahkan, mungkin ada orang-orang yang sudah mendemonstrasikan mukjizat, memiliki pengalaman-pengalaman spektakuler dalam alam roh misalnya, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah setiap hari sehingga tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai Allah, guna menjadi bekal pengertian dalam menjalani hidup ini. Ini juga percuma, atau tidak terlalu berarti bagi pendewasaan jemaat. Kalau seorang teolog hanya membuat format, merumuskan pengetahuan tentang Tuhan di dalam pikiran, tentu saja hanya akan menjadi pengetahuan di dalam rasio atau nalar, tetapi tidak akan membuat jemaat benar-benar bisa menjumpai Allah. Ironisnya, justru pengetahuan teologi yang diajarkan tidak memicu jemaat atau tidak memicu orang untuk berjuang menemukan Allah. Sebaliknya, malah menjadi stagnan; jadi mentok, jadi berhenti, tidak mau belajar menjumpai Allah secara konkret karena merasa sudah belajar mengenal Allah di dalam pikiran mereka.

Kita harus benar-benar memiliki kerinduan untuk menjumpai Allah. Bukan saja belajar mengenai Allah melalui buku, khotbah, ceramah, seminar, dan lain sebagainya, melainkan menjumpai Allah dalam kehidupan secara konkret. Baik melalui doa setiap hari, paling tidak 30 menit, juga melalui pengalaman-pengalaman yang kita peroleh setiap hari yang di dalamnya juga pasti Allah mau berbicara kepada kita. Kepada para pendeta, jangan merasa puas kalau sudah mengantongi gelar, bahkan sudah menulis banyak buku atau melewati tahun-tahun panjang dalam kegiatan pelayanan gereja. Menjumpai Allah adalah kehidupan setiap hari adalah hal yang tida pernah bisa digantikan oleh apa pun. Hal itu harus menjadi kebutuhan, bukan lagi kewajiban.

---------------------------------------------------










January 03, 2021, 05:46:09 AM
Reply #3579
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
----------------------------------------------------

Kalau kita setiap hari menjumpai Tuhan, maka barulah mengalami pertumbuhan rohani yang benar. Sebab, melalui perjumpaan dengan Allah baik melalui doa maupun kejadian-kejadian hidup yang kita alami, kita diajar langsung oleh Tuhan. Bagaimana kita memiliki kerendahan hati, kelemahlembutan, sikap mengalah, menjaga perkataan, menguasai lidah, tidak mengumbar nafsu, tidak terikat dengan dunia, dan lain sebagainya. Itulah kuliah kehidupan yang harus kita jalani, dan itu signifikan akan mengubah kita. Justru inilah inti dari hidup Kekristenan. Bukan sekadar pengetahuan tentang Tuhan atau teologi, melainkan bagaimana kita memiliki karakter Allah; memiliki pikiran dan perasaan Allah. Itulah sebabnya dalam Ibrani 11:6 dikatakan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Orang yang sungguh-sungguh mencari Dia akan menjumpai Dia, dan hidupnya akan diubah oleh Tuhan.










 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)