Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 156272 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 04, 2021, 05:23:57 AM
Reply #3580
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28441
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/kemelesetan/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/12/04-JANUARI-2021.mp3



Kemelesetan
04 January 2021

Play Audio

Ada sesuatu yang perlu kita pahami—karena ini penting untuk dipahami oleh banyak orang Kristen—bahwa belajar teologi tidak menjamin seseorang bisa menjadi rohani, saleh, dan baik menurut ukuran Tuhan. Tentu ini bukan berdasarkan dugaan atau pertimbangan pribadi karena melihat seseorang, melainkan berdasarkan pengalaman dari kehidupan pribadi seorang hamba Tuhan yang telah sejak kecil Kristen, yang menjalani sekolah teologi menjadi pendeta, menjadi guru di Sekolah Tinggi Teologi, menulis lebih dari 100 buku, menjadi ketua sinode, dan bahkan menjadi pemimpin dari beberapa kegiatan dan lembaga Kristen. Ia menyaksikan bahwa belajar teologi itu tidak menjamin seseorang menjadi saleh. Kalau kita melihat, mereka yang bersekolah di Sekolah Tinggi Teologi, ternyata semakin tinggi tingkatan pendidikannya, ada yang makin tidak suka berdoa, makin tidak rendah hati, makin tidak mau mengerti orang lain. Tetapi sebaliknya, ia makin cakap berdebat, makin berani melawan. Yang tadinya ketika baru masuk kuliah, ia begitu taat kepada dosen bahkan kepada seniornya (senior sesama mahasiswa), tetapi setelah semakin tinggi tingkat pendidikannya, makin tidak taat kepada dosen atau guru, dan makin tidak menghormati senior.

Hal ini memberikan pesan kepada kita bahwa gelar akademisi tidak menjamin seseorang menjadi hamba Tuhan yang baik. Tentu maksud menyatakan hal ini bukan mau melecehkan Sekolah Tinggi Teologi. Melainkan supaya jemaat jangan sampai tersesat, jangan sampai terkesima kalau seseorang memiliki gelar, apakah itu sarjana teologi, magister teologi, bahkan doktor teologi. Itu tidak menjamin kesalehannya, tidak menjamin kehidupannya yang baik. Tidak menjamin kualitas hidupnya dapat membimbing umat untuk mengenal Allah. Gereja telah mengalami kemerosotan berabad-abad, dan itu dimulai dari Eropa. Mereka memiliki Sekolah Tinggi Teologi yang sangat baik, yang memiliki kualifikasi akademis yang sangat baik. Dosen-dosen yang bergelar bukan saja doktor, melainkan profesor. Tetapi kenyataannya, mereka tidak dapat menyelamatkan masyarakat. Kekristenan mengalami kemerosotan, dan bisa dikatakan ‘ambruk.’ Gereja-gereja sepi ditinggalkan jemaat. Penduniawian, sekulerisme, humanisme, dan berbagai -isme lainnya telah menggantikan Kekristenan dalam kehidupan masyarakat Kristen di dunia Barat.

Hal ini membuktikan bahwa pendidikan teologi ternyata tidak menjamin seseorang menjadi hamba Tuhan yang efektif menyelamatkan jiwa-jiwa sesuai dengan nafas Amanat Agung Tuhan Yesus. Kalau seandainya Tuhan Yesus hadir di bumi hari ini, kira-kira apakah Ia membuka Sekolah Tinggi Teologi? Barangkali karena kebutuhan dan tatanan dalam kehidupan di masyarakat, Yesus harus membuka Sekolah Tinggi Teologi. Masalahnya, macam apa Sekolah Tinggi Teologi yang dibangun-Nya? Apa yang diajarkan oleh Yesus? Apakah hanya menalar Allah sehingga membuat orang pintar berdebat? Kalau hanya belajar doktrin, belajar sistematika teologi, dan berbagai mata kuliah seperti yang diajarkan di Sekolah Tinggi Teologi, dikhawatirkan tidak dilahirkan hamba-hamba Tuhan yang benar-benar menjadi utusan Kristus. Seperti contohnya adanya perdebatan di media sosial dari para pendeta, notabene para teolog. Hal tersebut tidak menunjukkan bahwa mereka memiliki manner atau perilaku sebagai hamba Tuhan Yesus. Dengan perkataan atau pernyataan mereka di media sosial tersebut, justru menunjukkan mereka tidak memiliki moral Kristiani yang agung dan itu benar-benar memalukan.

---------------------------------------------------------












January 04, 2021, 05:24:23 AM
Reply #3581
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28441
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
----------------------------------------------------

Tetapi begitulah “model” teolog zaman sekarang, dimana kalau ia sudah bersekolah di Sekolah Tinggi Teologi, tidak sedikit yang tata kramanya justru menjadi rusak, kesantunannya jadi hilang. Ironis, lebih santun orang-orang muda yang tidak pernah belajar teologi, tetapi yang dengan rendah hati menerima tuntunan hamba Tuhan untuk belajar duduk diam di kaki Tuhan. Tidak akademis, tetapi memiliki hati seperti Yesus. Kalau Yesus memiliki Sekolah Tinggi Teologi, yang pasti menjadi mata kuliah utama adalah diri-Nya, hidup-Nya yang menjadi contoh yang harus diteladani. Jika tidak demikian, itu adalah sebuah kemelesetan. Mengatakan ini bukan berarti kita tidak perlu Sekolah Tinggi Teologi. Tapi hendaknya, Sekolah Tinggi Teologi tidak menjadi segalanya. Kalaupun ada Sekolah Tinggi Teologi, yang mestinya diutamakan dalam pendidikan itu adalah perubahan karakter. Maka di Sekolah Tinggi Teologi harus ada contoh-contoh kehidupan manusia seperti Yesus. Kalau bukan ketua dan dosen-dosennya, siapa? Tentu ketua dan dosen-dosennya yang harus menjadi role model dari pribadi Yesus.












January 05, 2021, 05:48:40 AM
Reply #3582
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28441
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/kemelesetan/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/12/04-JANUARI-2021.mp3


Kemelesetan
04 January 2021

Play Audio

Ada sesuatu yang perlu kita pahami—karena ini penting untuk dipahami oleh banyak orang Kristen—bahwa belajar teologi tidak menjamin seseorang bisa menjadi rohani, saleh, dan baik menurut ukuran Tuhan. Tentu ini bukan berdasarkan dugaan atau pertimbangan pribadi karena melihat seseorang, melainkan berdasarkan pengalaman dari kehidupan pribadi seorang hamba Tuhan yang telah sejak kecil Kristen, yang menjalani sekolah teologi menjadi pendeta, menjadi guru di Sekolah Tinggi Teologi, menulis lebih dari 100 buku, menjadi ketua sinode, dan bahkan menjadi pemimpin dari beberapa kegiatan dan lembaga Kristen. Ia menyaksikan bahwa belajar teologi itu tidak menjamin seseorang menjadi saleh. Kalau kita melihat, mereka yang bersekolah di Sekolah Tinggi Teologi, ternyata semakin tinggi tingkatan pendidikannya, ada yang makin tidak suka berdoa, makin tidak rendah hati, makin tidak mau mengerti orang lain. Tetapi sebaliknya, ia makin cakap berdebat, makin berani melawan. Yang tadinya ketika baru masuk kuliah, ia begitu taat kepada dosen bahkan kepada seniornya (senior sesama mahasiswa), tetapi setelah semakin tinggi tingkat pendidikannya, makin tidak taat kepada dosen atau guru, dan makin tidak menghormati senior.

Hal ini memberikan pesan kepada kita bahwa gelar akademisi tidak menjamin seseorang menjadi hamba Tuhan yang baik. Tentu maksud menyatakan hal ini bukan mau melecehkan Sekolah Tinggi Teologi. Melainkan supaya jemaat jangan sampai tersesat, jangan sampai terkesima kalau seseorang memiliki gelar, apakah itu sarjana teologi, magister teologi, bahkan doktor teologi. Itu tidak menjamin kesalehannya, tidak menjamin kehidupannya yang baik. Tidak menjamin kualitas hidupnya dapat membimbing umat untuk mengenal Allah. Gereja telah mengalami kemerosotan berabad-abad, dan itu dimulai dari Eropa. Mereka memiliki Sekolah Tinggi Teologi yang sangat baik, yang memiliki kualifikasi akademis yang sangat baik. Dosen-dosen yang bergelar bukan saja doktor, melainkan profesor. Tetapi kenyataannya, mereka tidak dapat menyelamatkan masyarakat. Kekristenan mengalami kemerosotan, dan bisa dikatakan ‘ambruk.’ Gereja-gereja sepi ditinggalkan jemaat. Penduniawian, sekulerisme, humanisme, dan berbagai -isme lainnya telah menggantikan Kekristenan dalam kehidupan masyarakat Kristen di dunia Barat.

Hal ini membuktikan bahwa pendidikan teologi ternyata tidak menjamin seseorang menjadi hamba Tuhan yang efektif menyelamatkan jiwa-jiwa sesuai dengan nafas Amanat Agung Tuhan Yesus. Kalau seandainya Tuhan Yesus hadir di bumi hari ini, kira-kira apakah Ia membuka Sekolah Tinggi Teologi? Barangkali karena kebutuhan dan tatanan dalam kehidupan di masyarakat, Yesus harus membuka Sekolah Tinggi Teologi. Masalahnya, macam apa Sekolah Tinggi Teologi yang dibangun-Nya? Apa yang diajarkan oleh Yesus? Apakah hanya menalar Allah sehingga membuat orang pintar berdebat? Kalau hanya belajar doktrin, belajar sistematika teologi, dan berbagai mata kuliah seperti yang diajarkan di Sekolah Tinggi Teologi, dikhawatirkan tidak dilahirkan hamba-hamba Tuhan yang benar-benar menjadi utusan Kristus. Seperti contohnya adanya perdebatan di media sosial dari para pendeta, notabene para teolog. Hal tersebut tidak menunjukkan bahwa mereka memiliki manner atau perilaku sebagai hamba Tuhan Yesus. Dengan perkataan atau pernyataan mereka di media sosial tersebut, justru menunjukkan mereka tidak memiliki moral Kristiani yang agung dan itu benar-benar memalukan.

--------------------------------------------------------------------------







January 05, 2021, 05:49:04 AM
Reply #3583
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28441
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
------------------------------------------------------

Tetapi begitulah “model” teolog zaman sekarang, dimana kalau ia sudah bersekolah di Sekolah Tinggi Teologi, tidak sedikit yang tata kramanya justru menjadi rusak, kesantunannya jadi hilang. Ironis, lebih santun orang-orang muda yang tidak pernah belajar teologi, tetapi yang dengan rendah hati menerima tuntunan hamba Tuhan untuk belajar duduk diam di kaki Tuhan. Tidak akademis, tetapi memiliki hati seperti Yesus. Kalau Yesus memiliki Sekolah Tinggi Teologi, yang pasti menjadi mata kuliah utama adalah diri-Nya, hidup-Nya yang menjadi contoh yang harus diteladani. Jika tidak demikian, itu adalah sebuah kemelesetan. Mengatakan ini bukan berarti kita tidak perlu Sekolah Tinggi Teologi. Tapi hendaknya, Sekolah Tinggi Teologi tidak menjadi segalanya. Kalaupun ada Sekolah Tinggi Teologi, yang mestinya diutamakan dalam pendidikan itu adalah perubahan karakter. Maka di Sekolah Tinggi Teologi harus ada contoh-contoh kehidupan manusia seperti Yesus. Kalau bukan ketua dan dosen-dosennya, siapa? Tentu ketua dan dosen-dosennya yang harus menjadi role model dari pribadi Yesus.







January 06, 2021, 07:25:09 AM
Reply #3584
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28441
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16




https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/allah-seperti-senyap/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/12/06-JANUARI-2021.mp3


Allah seperti Senyap
06 January 2021

Play Audio

Tidak bermaksud melecehkan Sekolah Tinggi Teologi, tetapi memang fakta berbicara bahwa banyak lulusan Sekolah Tinggi Teologi yang menjadi pembicara yang mengaku sebagai “sumber pengetahuan tentang Allah,” tetapi tidak memperlengkapi diri dengan pengalaman perjumpaan dengan Allah. Mereka adalah orang-orang yang bisa mengisi banyak tulisan dan berkhotbah di media sosial. Dari pernyataan-pernyataan mereka dan tulisan-tulisan mereka dalam bentuk perdebatan-perdebatan dan adu argumentasi, tampak betapa tidak patutnya mereka menjadi jurubicara Tuhan. Dan itu menunjukkan kalau memang mereka tidak takut akan Allah. Mereka tidak segan-segan mengucapkan kalimat yang benar-benar tidak etis.

Dalam ukuran kesantunan umum saja sudah sangat rendah, apalagi diucapkan seorang yang mengaku sebagai utusan Kristus atau hamba Tuhan. Semua itu menunjukkan bahwa mereka hanya memiliki pengetahuan tentang Tuhan atau teologi, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah. Ini perlu dikemukakan, sebab pengaruh tulisan dan pernyataan-pernyataan mereka di media sosial cukup signifikan bagi jemaat yang belum bisa membedakan roh. “Membedakan roh” di sini artinya belum bisa membedakan antara kebenaran dan ketidakbenaran. Tidak jarang terjadi, tuduhan-tuduhan terhadap orang lain secara semena-mena, apakah tuduhan itu mengenai ajaran atau mengenai individu.

Perjumpaan dengan Allah yang dialami seorang teolog itu akan tampak. Antara lain, akan nyata sekali dari pernyataan-pernyataan dan tulisannya. Orang yang takut akan Allah itu—hasil dari perjumpaan dengan Allah—akan sangat kelihatan kesantunannya, kesalehannya. Mereka akan mengalah, tidak menyerang orang lain, tidak mengangkat diri, tidak menunjukkan bahwa seakan-akan dialah yang paling benar, penuh belas kasihan terhadap sesama, bahkan bukan hanya terhadap sesama orang Kristen tetapi juga terhadap mereka yang beragama lain pun mereka menunjukkan kesantunan. Faktanya, apa yang telah terjadi dalam dunia media sosial menunjukkan bahwa banyak teolog Kristen yang sebenarnya belum mengalami perjumpaan dengan Allah, dan jemaat harus mengerti. Sejatinya, mereka adalah orang-orang yang tidak patut didengar. Orang-orang yang hanya mau mengangkat diri, dan kalau hidup mereka diperiksa, mereka bukanlah orang-orang yang telah benar-benar memberi pengaruh positif kepada masyarakat di sekitarnya.

Sebaliknya, kita melihat ada hamba-hamba Tuhan yang tidak banyak bicara di media sosial, tetapi mereka adalah orang-orang yang menggarami jemaatnya atau orang-orang di sekitarnya, dan nyata sekali prestasi kehidupan yang mereka capai untuk sesamanya. Jangan sampai kita terbawa suasana fasik itu, suasana fasik di lingkungan Kristen. “Fasik” artinya tidak takut Allah dan tidak peduli perasaan-Nya, tidak peduli hukum-Nya. Jangan kita terbawa dalam suasana seperti itu. Maka, tidak perlu kita mendengar apa yang mereka kemukakan, tidak perlu kita membaca apa yang mereka tulis, karena hal itu akan mengeruhkan pikiran kita dan merusak spirit kita. Kalau kita sudah terlanjur memiliki irama hidup yang salah karena pengaruh media sosial yang fasik itu, kita masih berkesempatan untuk berubah dan mulai menemukan Allah.

Temukan Allah, cari wajah Allah dalam doa pribadi kita. Memang masalahnya Allah itu kadang-kadang seperti senyap, seperti tidak ada, seperti sulit dijangkau. Tetapi kalau kita benar-benar memburu pengenalan akan Allah dengan hati yang haus dan lapar akan Tuhan, kita pasti menemukan-Nya. Kita bisa merasakan hadirat Allah dalam penghayatan yang benar akan kehadiran Allah. Kita tidak akan terjebak dalam kepuasan memiliki pengetahuan tentang Allah tanpa mengalaminya, seperti yang banyak orang alami, memiliki banyak pengetahuan tentang Allah tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Dia. Kalau kita sungguh-sungguh mencari Allah—Allah yang seakan-akan senyap itu—Ia menjadi tidak senyap di dalam hidup kita. Dia berbicara aktif, Allah yang hidup. Sehingga kita bisa menemukan keindahan Tuhan. Dan kalau kita menemukan keindahan Tuhan, maka kita tidak akan lagi menoleh ke belakang, tidak akan berpaling. Dunia menjadi tidak menarik lagi. Kita menjadi takut berbuat dosa. Dan kalau berbuat salah, kita akan merasa kehilangan damai sejahtera.

===============================================







January 06, 2021, 07:25:41 AM
Reply #3585
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28441
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



--------------------------------------------------------------------------------

Dengan diizinkannya COVID-19 ini melanda dunia, juga negeri kita atau masyarakat kita, hal ini mesti memicu kita untuk mencari dan menemukan Allah yang seolah-olah senyap itu. Apalagi kalau setiap saat kita bisa terpapar dan meninggal karena COVID, kita harus benar-benar telah menjumpai Dia, mengalami Dia. Sehingga ketika kita ada di ujung maut, tidak ada ketakutan terhadap kematian karena kita telah menjumpai Dia, mengenal Dia. Perdebatan-perdebatan teologi itu tanpa disadari mengarahkan orang kepada kepuasan diri dalam mengenal Allah di nalar saja, dan ini penyesatan yang benar-benar terselubung. Hal ini bukan berarti kita antiteologi; kita harus belajar teologi. Tetapi kalau hanya belajar teologi tanpa mengalami perjumpaan dengan Allah, itu masih fasik. Dan faktanya, kita melihat orang-orang yang memiliki pengetahuan teologi yang cukup atau bahkan berlimpah, ternyata perilakunya jahat, ternyata perilakunya menyakiti orang, ternyata perilakunya tidak lebih baik dari orang-orang non-Kristen, dan itu tampak dari tulisan dan pernyataannya di media sosial. Kiranya Tuhan memberikan kita kebijaksanaan dan hikmat untuk bisa membedakan roh ini.







January 07, 2021, 05:56:54 AM
Reply #3586
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28441
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16




https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/allah-seperti-senyap/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/12/06-JANUARI-2021.mp3


Allah seperti Senyap
06 January 2021

Play Audio

Tidak bermaksud melecehkan Sekolah Tinggi Teologi, tetapi memang fakta berbicara bahwa banyak lulusan Sekolah Tinggi Teologi yang menjadi pembicara yang mengaku sebagai “sumber pengetahuan tentang Allah,” tetapi tidak memperlengkapi diri dengan pengalaman perjumpaan dengan Allah. Mereka adalah orang-orang yang bisa mengisi banyak tulisan dan berkhotbah di media sosial. Dari pernyataan-pernyataan mereka dan tulisan-tulisan mereka dalam bentuk perdebatan-perdebatan dan adu argumentasi, tampak betapa tidak patutnya mereka menjadi jurubicara Tuhan. Dan itu menunjukkan kalau memang mereka tidak takut akan Allah. Mereka tidak segan-segan mengucapkan kalimat yang benar-benar tidak etis.

Dalam ukuran kesantunan umum saja sudah sangat rendah, apalagi diucapkan seorang yang mengaku sebagai utusan Kristus atau hamba Tuhan. Semua itu menunjukkan bahwa mereka hanya memiliki pengetahuan tentang Tuhan atau teologi, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah. Ini perlu dikemukakan, sebab pengaruh tulisan dan pernyataan-pernyataan mereka di media sosial cukup signifikan bagi jemaat yang belum bisa membedakan roh. “Membedakan roh” di sini artinya belum bisa membedakan antara kebenaran dan ketidakbenaran. Tidak jarang terjadi, tuduhan-tuduhan terhadap orang lain secara semena-mena, apakah tuduhan itu mengenai ajaran atau mengenai individu.

Perjumpaan dengan Allah yang dialami seorang teolog itu akan tampak. Antara lain, akan nyata sekali dari pernyataan-pernyataan dan tulisannya. Orang yang takut akan Allah itu—hasil dari perjumpaan dengan Allah—akan sangat kelihatan kesantunannya, kesalehannya. Mereka akan mengalah, tidak menyerang orang lain, tidak mengangkat diri, tidak menunjukkan bahwa seakan-akan dialah yang paling benar, penuh belas kasihan terhadap sesama, bahkan bukan hanya terhadap sesama orang Kristen tetapi juga terhadap mereka yang beragama lain pun mereka menunjukkan kesantunan. Faktanya, apa yang telah terjadi dalam dunia media sosial menunjukkan bahwa banyak teolog Kristen yang sebenarnya belum mengalami perjumpaan dengan Allah, dan jemaat harus mengerti. Sejatinya, mereka adalah orang-orang yang tidak patut didengar. Orang-orang yang hanya mau mengangkat diri, dan kalau hidup mereka diperiksa, mereka bukanlah orang-orang yang telah benar-benar memberi pengaruh positif kepada masyarakat di sekitarnya.

Sebaliknya, kita melihat ada hamba-hamba Tuhan yang tidak banyak bicara di media sosial, tetapi mereka adalah orang-orang yang menggarami jemaatnya atau orang-orang di sekitarnya, dan nyata sekali prestasi kehidupan yang mereka capai untuk sesamanya. Jangan sampai kita terbawa suasana fasik itu, suasana fasik di lingkungan Kristen. “Fasik” artinya tidak takut Allah dan tidak peduli perasaan-Nya, tidak peduli hukum-Nya. Jangan kita terbawa dalam suasana seperti itu. Maka, tidak perlu kita mendengar apa yang mereka kemukakan, tidak perlu kita membaca apa yang mereka tulis, karena hal itu akan mengeruhkan pikiran kita dan merusak spirit kita. Kalau kita sudah terlanjur memiliki irama hidup yang salah karena pengaruh media sosial yang fasik itu, kita masih berkesempatan untuk berubah dan mulai menemukan Allah.

Temukan Allah, cari wajah Allah dalam doa pribadi kita. Memang masalahnya Allah itu kadang-kadang seperti senyap, seperti tidak ada, seperti sulit dijangkau. Tetapi kalau kita benar-benar memburu pengenalan akan Allah dengan hati yang haus dan lapar akan Tuhan, kita pasti menemukan-Nya. Kita bisa merasakan hadirat Allah dalam penghayatan yang benar akan kehadiran Allah. Kita tidak akan terjebak dalam kepuasan memiliki pengetahuan tentang Allah tanpa mengalaminya, seperti yang banyak orang alami, memiliki banyak pengetahuan tentang Allah tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Dia. Kalau kita sungguh-sungguh mencari Allah—Allah yang seakan-akan senyap itu—Ia menjadi tidak senyap di dalam hidup kita. Dia berbicara aktif, Allah yang hidup. Sehingga kita bisa menemukan keindahan Tuhan. Dan kalau kita menemukan keindahan Tuhan, maka kita tidak akan lagi menoleh ke belakang, tidak akan berpaling. Dunia menjadi tidak menarik lagi. Kita menjadi takut berbuat dosa. Dan kalau berbuat salah, kita akan merasa kehilangan damai sejahtera.

-------------------------------------------------








January 07, 2021, 05:57:19 AM
Reply #3587
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28441
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



-------------------------------------------------------------------

Dengan diizinkannya COVID-19 ini melanda dunia, juga negeri kita atau masyarakat kita, hal ini mesti memicu kita untuk mencari dan menemukan Allah yang seolah-olah senyap itu. Apalagi kalau setiap saat kita bisa terpapar dan meninggal karena COVID, kita harus benar-benar telah menjumpai Dia, mengalami Dia. Sehingga ketika kita ada di ujung maut, tidak ada ketakutan terhadap kematian karena kita telah menjumpai Dia, mengenal Dia. Perdebatan-perdebatan teologi itu tanpa disadari mengarahkan orang kepada kepuasan diri dalam mengenal Allah di nalar saja, dan ini penyesatan yang benar-benar terselubung. Hal ini bukan berarti kita antiteologi; kita harus belajar teologi. Tetapi kalau hanya belajar teologi tanpa mengalami perjumpaan dengan Allah, itu masih fasik. Dan faktanya, kita melihat orang-orang yang memiliki pengetahuan teologi yang cukup atau bahkan berlimpah, ternyata perilakunya jahat, ternyata perilakunya menyakiti orang, ternyata perilakunya tidak lebih baik dari orang-orang non-Kristen, dan itu tampak dari tulisan dan pernyataannya di media sosial. Kiranya Tuhan memberikan kita kebijaksanaan dan hikmat untuk bisa membedakan roh ini.








January 08, 2021, 06:17:59 AM
Reply #3588
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28441
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/aspek-kesucian/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/12/08-JANUARI-2021.mp3


Aspek Kesucian
08 January 2021

Play Audio

Ada banyak tindakan Allah dalam Perjanjian Lama yang kita tidak mengerti. Tentu ada banyak yang kita mengerti, tetapi ada juga yang tidak kita mengerti. Untuk ini, kita tidak memaksa diri untuk mengerti, sehingga kita membuat tafsiran-tafsiran yang sembarangan. Masuk zaman Perjanjian Baru, Allah memeteraikan kita dengan ROH KUDUS, dimana ROH KUDUS menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Itu berarti ada banyak hal yang kita akan ketahui, karena ROH KUDUS yang memimpin kita kepada seluruh kebenaran. Allah akan memberikan kepada kita kecerdasan untuk mengerti tindakan-tindakan-Nya. Tentu selama orang itu mau belajar dengan sungguh-sungguh dan memiliki hati yang haus dan lapar akan kebenaran. Allah menghendaki kita memiliki kecerdasan tersebut karena aspek kesucian itu adalah kecerdasan rohani, dimana seseorang bisa memiliki “frekuensi” seperti Allah atau yang ‘nyambung’ dengan frekuensi Allah. Dalam segala sesuatu yang kita lakukan, bisa cocok dengan apa yang menjadi keinginan Allah, cocok dengan kehendak Allah, atau cocok dengan selera Allah. Dan ini tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. Ini harus digumuli dalam perjalanan hidup yang panjang dan intensif, artinya setiap waktu.

Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata, “tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepada-Nya Anak itu berkenan menyatakannya.” Ini bukan sekadar pengetahuan tentang Allah atau yang sama dengan teologi, tetapi “mengenal” di sini mengenal kehendak-Nya; mengenal karakter-Nya, mengenal selera-Nya. Itulah sebabnya Yesus berkata, “kamu harus sempurna seperti Bapa.” “Sempurna seperti Bapa” itu bukan berarti kita mau menyamai Allah, melainkan dalam segala tindakan yang kita lakukan bisa selalu sesuai dengan keinginan, kehendak, dan selera Allah. Dan setiap kita tentunya memiliki pergumulan masing-masing yang berbeda. Tetapi, apa pun pergumulan yang dialami masing-masing individu, dia harus menjalani pergumulan hidup itu sesuai dengan keinginan, kehendak, dan selera Allah. Ini namanya “sempurna seperti Bapa.”

Jadi kalau Tuhan Yesus berkata, “tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak,” itu bukan hanya pengetahuan teologi mengenai Allah, tetapi apa yang Bapa ingini, kehendaki, dan selera-Nya yang Anak itu tahu. Maka di ayat berikutnya Yesus berkata, “mari datang kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat. Aku beri kamu kelegaan.” Kata “kelegaan” itu artinya perhentian; (Yun.) Anapauso. Mengapa seseorang mengalami letih lesu? Selama seseorang interest-nya masih bukan pada Tuhan saja, ia pasti letih lesu dan berbeban berat. Jadi, kita jangan mengundang orang menjadi Kristen hanya karena supaya dia dapat jodoh, ekonominya baik, supaya dia sembuh dari sakit, dan memperoleh kebutuhan jasmani. Itu menyesatkan. Memang Tuhan dapat membuat mukjizat untuk orang-orang yang memerlukan tanda supaya tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Tuhan. Tetapi sebenarnya tujuan dari Kekristenan adalah agar orang mengenal Bapa, Allah Bapa yang menciptakan segala sesuatu, yang dikatakan dalam Firman Tuhan bahwa segala sesuatu dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia. Yesus sebagai manusia sejati, telah belajar mengenal Bapa-Nya dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan Bapa.

Kita belajar dari Tuhan Yesus. Maka ketika Tuhan Yesus berkata, “Aku menyertai kamu sampai kesudahan zaman,” itu maksudnya bukan hanya menyertai kita supaya kita dapat memperoleh jalan keluar dari segala persoalan hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi maksud pernyataan Yesus itu adalah agar kita bisa mengenal Allah Bapa-Nya, dan melakukan kehendak Allah Bapa-Nya. Dan itulah perhentian. Jadi, perhentian kita bukan karena kita sudah membayar utang, sudah dapat jodoh, sembuh dari sakit. Bukan. Itu hanya tanda. orang-orang Kristen yang sudah mengerti Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, mestinya tidak butuh tanda lagi. Kalau kita sakit, kita harus mengubah pola makan dan pola hidup. Kalau orang Kristen sudah mengerti tanda itu, mestinya sudah tidak mencari tanda lagi. Tetapi, ia harus mengerti bagaimana berjuang untuk mengenal Allah. “Mengenal Allah” di sini bukan hanya belajar teologi, bukan hanya belajar mengenai siapa Allah, melainkan mengenal apa yang Dia ingini, kehendaki, dan selera-Nya, terkait dengan hidup kita.

-----------------------------------------

-----------------------------------------













January 08, 2021, 06:18:48 AM
Reply #3589
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28441
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

------------------------------------------------------------

Penyesatan yang sudah berlangsung lama—walaupun ini tidak bisa dikatakan penyesatan yang major—tetap merupakan penyimpangan. Orang digiring menjadi Kristen oleh karena pemenuhan kebutuhan jasmani, dan ini membuat banyak orang Kristen menjadi bodoh. Orientasi berpikirnya hanya mukjizat, kuasa Allah yang dialami dan seakan-akan kalau mengalaminya dia menjadi orang yang dikasihi Tuhan, diistimewakan Tuhan. Orang Kristen seperti itu adalah Kristen kanak-kanak, sebagaimana anak kecil juga begitu terhadap orangtuanya. Sebagai orang Kristen yang dewasa, kita harus sudah berhenti dari orientasi tersebut. Orientasi kita sudah pada pendewasaan rohani; yaitu mengenal apa yang Bapa ingini, apa yang Bapa kehendaki untuk dilakukan. Ketika anak-anak masih kecil, maunya adalah orangtua memberi kesenangan, kepuasan bagi dirinya. Kadang-kadang orangtua merasa seperti berutang sesuatu kepada anak. Padahal, mestinya tidak demikian. Kalau seorang anak sudah menjadi dewasa, dia tidak menuntut lagi. Justru sebaliknya, dia memberi diri dituntut oleh orangtuanya; memberi diri untuk memenuhi kebutuhan orangtua, memberi diri untuk melindungi orangtua.

Demikian pula kita sebagai anak-anak Allah. Ketika kita mulai akil baligh dan dewasa, maka yang kita persoalkan adalah bagaimana kita bisa berbuat sesuatu bagi Tuhan. Dan itu adalah aspek kesucian. Kesucian bukan hanya tidak berbuat dosa atau tidak melanggar hukum. Kesucian berarti mengerti kehendak, keinginan, dan selera-Nya, dan hidup di dalam kehendak, keinginan, dan selera Allah. Untuk itu, memang dibutuhkan perjuangan hebat.













 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)