Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 156216 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 09, 2021, 05:16:44 AM
Reply #3590
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/perubahan-yang-mutlak/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/12/09-JANUARI-2021.mp3


Perubahan yang Mutlak
09 January 2021

Play Audio

Kita semua tentu tahu bahwa kita harus berubah. Perubahan adalah prinsip, hukum, tatanan yang harus terjadi atau berlangsung dalam kehidupan, bukan hanya pada manusia melainkan juga pada makhluk lain. Kehidupan kerohanian kita yang menyangkut moral, akhlak, kesucian hidup atau pendewasaan rohani harus juga mengalami perubahan. Kita tahu, kita setuju bahwa kita harus mengalami perubahan. Tetapi ironisnya, banyak kita yang tidak sungguh-sungguh memperkarakan hal ini; apakah dirinya benar-benar mengalami perubahan atau tidak. Sehingga, berbulan-bulan, bertahun-tahun tidak mengalami perubahan secara benar, ia tetap merasa sejahtera saja. Ia tidak menganggap itu sebagai bencana atau kerugian. Padahal, waktu yang Tuhan berikan kepada kita itu singkat. Ada titik atau ujung akhir perjalanan hidup ini. Kalau seseorang sudah sampai akhir perjalanan hidupnya, ia tidak akan pernah mengalami perubahan lagi.

Itulah sebabnya, di dalam Kekristenan tidak ada doa untuk orang meninggal supaya orang meninggal yang tadinya masuk neraka bisa pindah masuk surga. Atau sudah masuk surga dengan tingkat rendah, bisa naik lagi ke tingkat tinggi karena didoakan orang yang masih hidup. Tidak ada. Tuhan tidak mengajarkan demikian. Tetapi Tuhan mengajarkan kepada kita untuk menggunakan waktu. Selagi masih “siang,” kita harus bekerja untuk Tuhan atau harus bertumbuh dalam kedewasaan rohani. Firman Tuhan mengatakan: “pergunakanlah waktu yang ada karena hari-hari ini jahat.” Kita harus memperhatikan bagaimana cara kita hidup supaya kita mengerti kehendak Allah dan melakukan kehendak Allah itu. Semua itu berbicara mengenai perubahan yang harus terjadi atau berlangsung dalam hidup kita.

Demikian pula dalam Roma 12:2 dikatakan agar kita tidak sama dengan dunia, tetapi mengalami transformasi atau perubahan cara berpikir sehingga kita mengerti kehendak Allah; apa yang baik, berkenan, dan yang sempurna. Dan tanda atau ciri dari perubahan yang benar adalah tidak serupa dengan dunia ini. Tetapi seperti yang tadi penulis kemukakan, bahwa banyak orang tidak memperkarakan hal perubahan ini di dalam hidupnya. Sehingga ketika keadaan dirinya yang sebenarnya masih serupa dengan dunia ini, dia tidak menyadari keserupaan tersebut. Dia merasa nyaman-nyaman saja. Suatu hari, ketika dia berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus, dia baru tahu bahwa ternyata ia tidak memiliki wajah Tuhan di dalam hidupnya, tetapi wajah dunia. Dan tentu wajah dunia adalah wajah orang-orang yang tidak melakukan kehendak Bapa. Dan kepada orang yang tidak melakukan kehendak Bapa ini, Yesus akan berkata: “Enyahlah kamu dari hadapan-Ku, kamu yang melakukan kejahatan.” “Kejahatan” di sini bukan hanya berarti melanggar hukum, tetapi tidak melakukan kehendak Allah pun sudah merupakan kemelesetan.

Oleh sebab itu, kita harus serius untuk mencari Tuhan. Hanya dengan mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh dan menjumpai Dia, maka kita akan mengalami perubahan. Bukan hanya perubahan secara moral umum, melainkan perubahan sesuai dengan kesempurnaan Allah Bapa; perubahan keserupaan dengan Yesus. Dan ini adalah upah bagi orang yang mencari Dia. Seperti yang dikatakan dalam Ibrani 11:6, “tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah itu ada dan bahwa Allah memberi upah kepada orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Ini hal yang luar biasa. Sering kali yang dipahami orang, “upah” adalah ekonomi membaik, kesehatan, kelimpahan berkat jasmani, dll. Atau apa pun yang dianggap sebagai kebutuhan. Sejatinya, “upah” yang dimaksud di sini adalah pengenalan akan Allah yang benar. Itu yang menjadi harta abadi. Sebab, kalau upah itu hanya menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, itu tidak berkualitas. Sebab Allah itu kekal, maka berkat-Nya juga pasti bernilai atau terkait dengan kekekalan.

----------------------------------------

--------------------------------------------------------------

------------------------------------------------------------




















January 09, 2021, 05:17:14 AM
Reply #3591
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
-----------------------------------------------------------------

Kita harus berjuang untuk mengenal Allah; berjuang mencari Allah. Tentu saja sarananya adalah melalui kebenaran Firman yang kita pelajari, dan melalui doa pribadi setiap hari, perjumpaan dengan Allah, dan melalui peristiwa-peristiwa kehidupan yang kita alami setiap hari yang di dalamnya Allah pasti akan memperkenalkan diri-Nya kepada kita. Kita harus serius menilai diri kita, mengoreksi diri kita, seberapa kita sungguh-sungguh telah mengalami perubahan. Jika tidak, kita harus menggandakan perjuangan kita mencari Allah. Menggandakan waktu kita untuk mendengar Firman, menggandakan waktu kita duduk diam di kaki Tuhan. Juga menggandakan kepekaan kita, kejelian kita untuk melihat setiap peristiwa hidup yang Tuhan izinkan terjadi atau berlangsung dalam hidup kita, yang di dalamnya kita bisa menemukan maksud-maksud Allah di dalam hidup ini. Dan itulah yang membuat kita mengalami perubahan.

Perubahan hidup kita juga akan ditandai dengan kerinduan kita untuk bertemu dengan Tuhan. Kerinduan kita bertemu muka dengan muka, memandang wajah Yesus. Tidak lagi tertarik kepada keindahan dunia. Kematian menjadi sesuatu yang menyenangkan dan peristiwa yang kita nantikan. Jika tidak demikian, berarti hati kita memang masih terpaut kepada dunia ini. Perubahan itu harus bisa kita rasakan. Memang perubahan moral juga bisa dirasakan; seperti lebih sabar, lebih mengerti orang lain, lebih menerima orang lain sebagaimana adanya. Tapi perubahan yang satu ini, dimana seseorang merindukan pulang ke surga, menghayati dunia bukan rumahnya, rindu bertemu muka dengan muka dengan Yesus, itu tidak bisa tidak akan dirasakan. Hal yang dulu tidak pernah kita rasakan, kini kita rasakan. Jadi kalau kita belum merasakan hal ini, berarti ada sesuatu yang salah dalam hidup kita. Belum ada perubahan yang signifikan yang kita alami. Atau berarti kita belum mengalami sebuah pergerakan atau move on, memindahkan hati di dalam Kerajaan Surga.

Perubahan adalah hal yang mutlak, sebab tanpa ada perubahan berarti tidak ada kehidupan. Di dalam Kekristenan, perubahan itu adalah hal yang sangat mutlak, dan perubahan itu pasti bisa dirasakan, bisa dibuktikan dalam hidup. Jadi, kalau seseorang tidak mengalami perubahan, seharusnya dia tahu bahwa dirinya tidak mengalami perubahan. Maka, dia bisa mulai melakukan langkah-langkah konkret untuk bisa mengalami perubahan itu, dan ini tergantung kepada masing-masing individu. Kalau kita mau, bisa. Namun kalau kita tidak mau, maka kita tidak akan pernah bisa. Kehendak bebas kitalah yang akan memegang peranan penting dalam hal ini. Tetapi setelah kita membaca Firman ini, pasti kita ada panggilan. Dan kita diingatkan kembali untuk mencari Tuhan, guna menemukan Dia. Yang akhirnya, kita mengalami perubahan.











January 10, 2021, 05:43:06 AM
Reply #3592
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/tuhan-engkau-kebutuhanku-satu-satunya/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/12/10-JANUARI-2021.mp3



Tuhan, Engkau Kebutuhanku Satu-satunya
10 January 2021

Play Audio

Setiap kita pasti merasa memiliki kebutuhan. Banyak kebutuhan kita, baik kebutuhan yang menyangkut makan, minum, maupun apa yang kita kenakan atau sandang. Selain itu, kebutuhan primer lain adalah papan atau tempat tinggal. Sandang, pangan, dan papan. Itulah yang dipahami manusia pada umumnya, kebutuhan primer. Bagi orang percaya yang belajar kebenaran, ketika kita menghayati bahwa manusia adalah makhluk kekal, maka kebutuhan primer kita menjadi hanya satu, yaitu Tuhan. Tuhan adalah kebutuhan kita satu-satunya. Tentu hal ini tidak bisa dimengerti oleh kebanyakan orang. Hal ini hanya bisa dimengerti dan dihayati oleh orang yang belajar kebenaran Firman, dan mengerti arti hidup, makna hidup. Melihat tragisnya hidup di bumi dan dahsyatnya kekekalan, baru dia bisa berkata: “Tuhan, Engkaulah satu-satunya kebutuhanku.”

Yang merusak kehidupan iman banyak orang Kristen hari ini adalah ketika gereja mengarahkan jemaat untuk menjadikan Tuhan sebagai jawaban atas pemenuhan kebutuhan jasmani. Padahal, pemenuhan kebutuhan jasmani itu sudah ada hukum atau tatanan yang berlaku bagi semua orang, bukan hanya bagi orang Kristen. Dan semua harus tunduk kepada tatanan hukum itu. Apa yang ditabur orang, itu juga akan dituainya. Dan itu tidak boleh diubah, diganti dengan (misalnya) “berdoa, maka berkat melimpah.” Itu menyesatkan. Banyak orang melihat kehidupan bangsa Israel yang diistimewakan oleh Allah, dan orang-orang Kristen ini berpikir mereka juga dapat diistimewakan seperti bangsa Israel. Orang-orang Kristen ini tidak mengerti konteks bagaimana bangsa Israel yang memang dipersiapkan Allah untuk menjadi bangsa yang melahirkan Mesias.

Konteksnya, bangsa Israel adalah bangsa yang dipersiapkan Allah menjadi nenek moyang Mesias. Dari bangsa itu akan dilahirkan Mesias atau Juruselamat. Maka, Allah memberikan perhatian khusus atau istimewa. Sejak mereka ada di Mesir sebagai budak, Tuhan melepaskan mereka dengan keperkasaan-Nya. Memberikan 10 tulah dan menuntun bangsa itu di padang gurun selama 40 tahun dengan perbuatan-perbuatan ajaib Allah, yang mana tujuan utamanya adalah untuk maksud keselamatan yang Allah berikan kepada manusia, bukan kepada bangsa Israel itu sendiri sebenarnya. Di balik tindakan Allah tersebut, ada rencana Allah yang besar.

Banyak orang Kristen berpikir bahwa dirinya berhak memiliki rencana, keinginan, dan kemudian merasa memiliki kebutuhan untuk mencapai keinginan dan cita-citanya tersebut. Seperti Allah menuntun bangsa Israel dengan keperkasaan-Nya, mereka berharap Allah yang sama juga menuntun orang-orang Kristen ini dalam menggapai keinginan dan cita-citanya. Ini tidak sinkron, tidak paralel. Bangsa Israel menerima perlakuan istimewa, karena di balik semua tindakan Allah itu, Allah memiliki rencana, yaitu keselamatan yang akan dihadirkan melalui bangsa itu. Ini berbeda dengan orang-orang Kristen yang mau menerima berkat-berkat jasmani, pemeliharaan, perlindungan Tuhan yang istimewa untuk keinginannya sendiri, hidup dalam kewajaran seperti manusia lain.

Kenyataannya, tidak sedikit gereja yang menawarkan Tuhan sebagai solusi dari persoalan tersebut. Akhirnya, bukan saja membuat orang Kristen tidak tunduk kepada hukum tabur tuai dan tidak mengerti realitas hukum yang Tuhan berikan kepada semua manusia, tapi juga bisa merusak etos kerja. Dan, yang lebih konyol lagi, membuat orang-orang Kristen tidak fokus kepada dunia yang akan datang; tidak fokus kepada langit baru bumi baru. Sehingga mereka—orang-orang Kristen yang pikirannya telah disesatkan ini—hanya membutuhkan Tuhan untuk mengisi kebutuhan jiwa sesuai dengan selera dirinya, selera manusia yang berkodrat dosa; hanya demi supaya memiliki uang, harta, kedudukan, pangkat, kehormatan, dsb. Sampai pada tingkat tertentu, orang-orang Kristen ini akan rusak dan tidak pernah bisa diperbaiki lagi.

----------------------------------------------------------------------

------------------------------------------------------------------------









January 11, 2021, 06:22:13 AM
Reply #3593
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/tuhan-engkau-problemku-satu-satunya/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/12/11-JANUARI-2021.mp3



Tuhan, Engkau Problemku Satu-satunya
11 January 2021

Play Audio

Dalam hidupnya, manusia tidak mungkin lepas dari problem; manusia tidak mungkin lepas dari persoalan. Bahkan, persoalan atau problem yang benar itu akan dialami seseorang bukan hanya selama di dunia. Di kekekalan pun ini menjadi masalah atau menjadi problem; di surga pun menjadi masalah atau problem. Problem apa yang masih ada di surga? Bedanya memang, problem itu kalau di dunia ini diusahakan dengan kesukaran. Tapi kalau di surga, tidak. Problem apa itu? Problem itu adalah Tuhan sendiri. “Tuhan, itulah problem-ku.” Pada umumnya, yang dijadikan problem adalah sakit-penyakit, belum memiliki jodoh, belum memiliki anak, belum memiliki pekerjaan, belum memiliki rumah pribadi, dsb. Tetapi orang percaya yang benar akan berkata: “Tuhan, Engkau satu-satunya problem-ku. Problem-ku adalah bagaimana aku hidup menyenangkan Engkau dan tidak mendukakan hati-Mu.” Itu problem utama yang harus kita perjuangkan selama kita di dunia, dan itu berat. Kenapa berat? Karena kita memiliki kodrat dosa. Sementara kita memiliki kodrat dosa, kita mau hidup seturut dengan kehendak roh. Padahal, kehendak roh bertentangan dengan kehendak daging, sehingga terjadi pergumulan, pergulatan yang luar biasa.

Kita anggap ini problem, karena kita menghadapi diri kita yang egois, yang masih mau dipuaskan atau disenangkan, sementara kita harus menundukkan diri sepenuh kepada Allah. Ini problem-nya. Oleh sebab itu, tidak mungkin kita tidak memiliki perjuangan. Pasti ada perjuangan. Ini yang dikatakan oleh Yesus, “masuklah jalan sempit. Karena banyak orang berusaha tapi tidak bisa masuk.” Dan memang, banyak orang yang dipanggil, sedikit yang dipilih. Jadi, keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita itu bukan sesuatu yang membuat kita mudah masuk surga. Keselamatan membuat pintu surga terbuka, tapi untuk masuk surga itu, kita harus berjuang. Berjuang untuk menjadi manusia yang layak masuk Kerajaan itu. Sama seperti kita dapat mobil. Mobil itu anugerah, kita tidak beli. Mobil itu kasih karunia. Tetapi untuk bisa mengendarai mobil itu, itulah persoalannya. Kita harus belajar mengendarai mobil.

Ini serupa dengan hal keselamatan, sama persis. Keselamatan diberikan gratis, pintu surga dibuka. Tapi untuk masuk dan layak menjadi anak-anak Allah, itu perjuangan atau pergumulan. Oleh sebab itu, kita harus membebaskan diri dari segala problem. Kita tidak boleh menganggap sesuatu sebagai problem, kecuali apakah itu mendukakan hati Allah atau menyukakan-Nya. Kalau kita masih menjadikan segala sesuatu masalah, maka kita akan terbelenggu di situ dan akan terseret masuk neraka. Tapi kalau kita berkata: “Problemku hanya Tuhan, yaitu bagaimana aku bisa menyenangkan hati-Nya,” maka kita akan diarahkan menjadi manusia yang hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Oleh sebab itu, jangan ada belenggu atau ikatan-ikatan yang membuat kita tidak fokus kepada Tuhan.

Kalau kita membaca tulisan Paulus, begitu ekstremnya. Dia berkata begini: “Sebab bagaimanakah engkau mengetahui, hai isteri, apakah kau tidak akan menyelamatkan suamimu? Atau bagaimanakah engkau mengetahui, hai suami, apakah engkau tidak akan menyelamatkan isterimu? Selanjutnya, hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.” “Hidup di dalam keadaan seperti pada waktu dipanggil Allah” bagi Paulus adalah dia tidak menikah. Paulus memiliki prinsip, seorang yang beristri, hidupnya akan tergerus menyukakan istri. Orang yang punya suami, hidupnya tergerus untuk menyukakan suami. Apakah salah? Tentu tidak. Selama kita tidak mengabaikan hal yang utama dalam hidup ini, yaitu menyukakan hati Allah. Karena itu merupakan satu-satunya problem kita.

Oleh sebab itu, kalau seorang pria memilih jodoh salah, atau sebaliknya, seorang wanita memilih jodoh yang salah, dia membuat problem. Problem yang tidak efektif. Kecuali dia bertobat lalu betul-betul Tuhan bisa pakai, masalah rumah tangganya menjadi sarana Tuhan untuk menyempurnakan dia. Bisa. Namun jika seseorang itu malas, korupsi, lalu masuk penjara, ia hidup susah, itu mengganggu. Mestinya, kita tidak perlu mengalami problem itu. Makan sembarangan, pola makan sembarangan, sakit, ini juga membuat problem. Bukan problem ini yang dikehendaki Allah, walaupun Allah bisa juga memakai semua masalah dan problem untuk mendewasakan kita.

---------------------------------------------------------

--------------------------------------------------------------

-----------------------------------------------------






January 11, 2021, 06:22:47 AM
Reply #3594
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

---------------------------------------------------------

Problem kita pada intinya adalah bagaimana kita menyukakan hati Allah. Kalau Paulus begitu ekstremnya sampai ia berkata, “kamu tidak usah menikah, seperti aku tidak menikah.” Mengatakan ini bukan berarti menikah itu salah. Tidak. Bagi orang yang memang dikehendaki Allah untuk menikah, menikahlah dan jadilah berkat sebagai ibu rumah tangga atau bapak rumah tangga. Menikahlah di tempat di mana engkau berada. Tetapi, jangan menikah karena engkau mau mencari kebahagiaan. Itu berarti engkau mendewakan sesuatu, termasuk pernikahan dan pasangan hidupmu. Yang harus kita tetap junjung tinggi adalah Allah, Tuhan, bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Dia.

Dalam 1 Korintus 7:32 dikatakan, “Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya.” Tingkat ekstremnya sampai pada di situ. Jadi, jika orang yang beristri memusatkan perhatiannya kepada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan hati-Nya? Dengan demikian, perhatiannya terbagi-bagi. Secara logika begitu. Tapi dengan membaca ayat ini, bukan berarti kita tidak boleh menikah, atau kalau kita menikah, salah. Tidak. Tentu kita harus gumuli, apakah yang kita lakukan itu benar-benar menyenangkan Tuhan, karena Tuhan berkata, “baik engkau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Demikian pula dikatakan di ayat berikutnya, dan dengan demikian, perhatiannya terbagi-bagi. Kalau punya pasangan hidup, punya anak-anak, perhatiannya akan terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan.

Kemudian, Paulus menulis, “Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya.” Ini yang sebenarnya harus kita perhatikan. Kalau sampai ada di antara kita yang sampai sekarang belum menikah, jangan minder, jangan merasa bahwa kita adalah orang yang kurang diberkati, kena kutuk lajang atau kutuk apa. Jangan berpikir begitu. Justru keadaan tidak menikah ini bisa menjadi kesempatan yang luar biasa untuk seseorang memusatkan diri kepada Allah. Jadi memang jangan bersikeras harus menikah. Di masa lalu, ada seorang hamba Tuhan yang pada waktu muda bersikeras mau menikah. Tapi setelah menyadari betapa pentingnya kekekalan, maka pendeta itu berkata kepada anaknya: “Kalau kamu tidak menikah, tidak apa-apa, Nak. Papa akan temani kamu sampai kita meninggal dunia, pulang ke Rumah Bapa.” Pendeta itu bisa berbicara begitu setelah ia mengerti bahwa Tuhan itu segalanya dalam hidupnya. Tuhan itu satu-satunya kebutuhannya, yaitu bagaimana ia bisa menyenangkan dan atau menyukakan hati Allah. Maka kalau dikatakan “Tuhan adalah problemku,” berarti memang Dia adalah persoalan dimana kita harus sibuk hanya untuk menyenangkan Dia.






January 12, 2021, 10:29:50 AM
Reply #3595
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/tuhan-engkau-kepentinganku-satu-satunya/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/12/12-JANUARI-2021.mp3



Tuhan, Engkau Kepentinganku Satu-satunya
12 January 2021

Play Audio

Orang tidak akan pernah merasakan bahwa Tuhan itu satu-satunya kebutuhan dan kepentingannya kalau ia masih menyimpan banyak keinginan atau masih merasa memiliki sesuatu. Tuhan mengatakan bahwa kita harus melepaskan diri dari segala milik kita, baru dapat menjadi murid atau baru layak bagi Dia. Memang pada akhirnya, orang percaya yang benar itu tidak boleh merasa memiliki sesuatu dan segala keinginannya itu harus ditanggalkan kecuali satu, yaitu bagaimana hidup menyenangkan hati Allah. Ini kedengarannya ekstrem atau aneh, bukan? Tidak. Justru ini yang paling benar. Jangan lagi sibuk dengan masalah-masalah yang lain, tetapi biar fokus kita hanya ini: bagaimana kita dapat benar-benar menyukakan hati Allah. Menjadi manusia yang benar-benar menyukakan hati Allah. Jadi, segala sesuatu yang kita lakukan memang semua semata-mata hanya untuk kemuliaan Allah. Seni untuk tidak merasa memiliki sesuatu dan tidak merasa memiliki kesenangan atau memang tidak memiliki kesenangan, bukan hal yang mudah. Itu berat. Tetapi orang yang merindukan hal ini akan diproses Tuhan. Memang prosesnya juga menyakitkan.

Jadi, kalau kita berkata, “Tuhan, aku mau menjadikan Engkau satu-satunya kebutuhanku, hanya satu-satunya kepentinganku,” Tuhan pasti menggarap kita. Menggarap dengan berbagai pergumulan, persoalan-persoalan hidup, sampai kita tidak merasa memiliki sesuatu lagi. Apakah itu harta kekayaan, harga diri, pangkat, gelar kehormatan manusia, dan kita akan merasa bahwa kita memang tidak punya sesuatu. Rumah, mobil, uang, bahkan keluarga kita pun semua milik Tuhan. Ini membuat kita akan mengalami yang namanya keringanan, dan kalau orang memiliki keringanan seperti ini, maka ia bisa memiliki keriangan. Apakah ini bisa terjadi di dalam hidup kita? Bisa! Dulu saya juga tidak yakin untuk ini. Kita dulu tidak yakin. Sekarang kita yakin bahwa ini sebuah keniscayaan, sebab Tuhan sendiri yang mengajarkan kepada kita bagaimana Dia menjadi segalanya dalam hidup ini.

Kalau kita menjadikan Tuhan segalanya dalam hidup ini, problem kita hanya Dia. Bagaimana kita menyukakan hati Dia, dan tidak mendukakan hati-Nya. Di dunia saja, kalau orang jatuh cinta, maka hal yang lain menjadi tidak berarti kecuali kekasihnya ini. Dia hanya ingin menyenangkan pujaan hatinya, memuaskan dia, bersama dia, dan tidak ingin melukai dia. Sama dengan kehidupan kita dalam pergaulan dengan Tuhan. Kalau kita membaca di dalam Alkitab Perjanjian Lama, misalnya Habakuk 3:17-18, umat Perjanjian Lama itu sudah memiliki prinsip-prinsip yang luar biasa seperti ini: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kkitang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” Bayangkan! Mereka sudah mampu berkata: “walaupun aku dalam keadaan begini, di mata dunia itu bencana, musibah, malapetaka, kesialan, tapi bagi hamba Tuhan ini, bagi anak Allah ini, itu bukan masalah. Yang penting, Tuhan menjadi kebutuhanku satu-satunya. Yang penting Tuhan menjadi bagian hidupku.” Dalam keadaan yang terjepit pun mereka tetap berkata: “Beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” Di dalam teks lain, ditulis: “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batu dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Mzm. 73:26).

-----------------------------------------------










January 12, 2021, 10:30:20 AM
Reply #3596
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


-------------------------------------------------------------

Kalau orang masih tersinggung, merasa tersisih, merasa disingkirkan, merasa didzolimi, berarti ada sesuatu yang salah dalam hidupnya. Itu pasti ada yang salah. Tentu kita juga pernah mengalami hal ini, atau bahkan sampai sekarang juga masih berjuang untuk hal ini. Tetapi, mari kita bersama-sama mengambil satu keputusan bahwa kita mau hidup sesuai dengan kehendak Allah. Tidak merasa memiliki sesuatu. Memang segala sesuatu juga akan kita tinggalkan, dan semua yang ada ini bukan milik kita. “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” Tuhan kebutuhanku satu-satunya, Tuhan kepentinganku satu-satunya. Jika kita benar-benar menjadikan Tuhan satu-satunya kebutuhan kita, kepentingan kita, kita tidak takut menghadapi apa pun. Yang penting bagi kita, kita tidak kehilangan Tuhan Yesus. Tentu saja dengan menjadikan Tuhan sebagai kepentingan kita satu-satunya, kita menjadi takut akan Allah dan hidup kita makin bersih karena kita tidak berani berbuat dosa.










January 13, 2021, 06:52:41 AM
Reply #3597
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/tuhan-engkau-kebahagiaanku-satu-satunya/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/12/13-JANUARI-2021.mp3


Tuhan, Engkau Kebahagiaanku Satu-satunya
13 January 2021

Play Audio

Sejatinya, Tuhan adalah kebahagiaan kita satu-satunya. Tapi masalahnya, Tuhan tidak kelihatan, bagaimana kita bisa menjadikan Tuhan kebahagiaan kita? Ini yang tidak bisa diajarkan dengan kata dan kalimat dengan mudah. Tapi kita harus menggumuli, percaya bahwa Allah itu ada. Ibrani 11:6, yakin bahwa Allah itu ada. Tetapi bukan hanya yakin Allah itu ada, melainkan juga mengalami Allah yang ada tersebut, Allah yang eksis tersebut. Mengalami, dan kita bisa merasakan sukacita dan damai sejahtera dari Allah melalui pengalaman yang kita alami tersebut. Banyak orang yang hanya mengerti secara kognitif atau dalam pikiran, tetapi tidak mengalami. Mereka bisa nyanyi, “Kaulah segalanya bagiku Tuhan, Kaulah hartaku, kemuliaanku.” Tetapi mereka tidak sungguh-sungguh mengalami bagaimana Tuhan menjadi kebahagiaannya.

Itulah sebabnya ketika Yesus berkata: “Datang kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu,” artinya “mengapa kamu letih lesu?” Karena kau banyak keinginan, banyak obsesi, karena kamu memiliki cita-cita yang belum kesampaian, memiliki rumah pribadi atau pasangan hidup, misalnya. Hal-hal seperti ini akan menghambat pertumbuhan rohani kita. Membuat kita tidak bisa menikmati kehadiran Tuhan. Kita harus buang hal-hal seperti itu, dan kita benar-benar mau menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan kita. Dan Tuhan akan tersanjung kalau kita menjadikan Dia benar-benar satu-satunya kebahagiaan kita. Ini yang namanya benar-benar memuliakan Allah. Artinya, menganggap Tuhan itu mulia, menganggap Tuhan itu agung, menganggap Tuhan itu besar, dan memang demikian adanya.

Oleh sebab itu, kita harus selesai dengan diri kita sendiri. Kita harus bisa mengatakan kepada jiwa kita, “Sudah, jangan ingini apa-apa. Ayo, ingini Tuhan dan Kerajaan-Nya saja.” Kita yang berkuasa atas diri kita sendiri. Kalau kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, kita bisa mengendalikan diri kita sendiri dan mengarahkan diri kita sendiri ke arah yang benar, yang Tuhan kehendaki, di mana kita harus melangkah ke sana. Jangan sampai kita terlambat menjadikan Tuhan itu sebagai kebahagiaan kita. Kenapa? Sebab kalau kita terlambat, kita tidak akan pernah mengalami-Nya sampai selama-lamanya. Kalau kita tidak bisa mulai sekarang menikmati Tuhan, selamanya kita akan kehilangan Tuhan.

Orang yang benar-benar menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan, sebagai satu-satunya tujuan hidup, akan terus mengalami pertumbuhan kedewasaan rohani, dan bisa merasakan keindahan Tuhan yang terus bertambah lagi, lebih lagi, lebih lagi. Sangat sedikit orang yang memiliki prinsip dan langkah hidup seperti ini bahwa Tuhan adalah satu-satunya kebahagiaan dan tujuan hidup. Mengapa? Karena dunia sudah begitu rusak. Dan kerusakan ini ada dalam kehidupan orang-orang Kristen, aktivis, majelis, bahkan pendeta sendiri. Tidak sedikit yang telah rusak. Maka kita harus berani mengakhiri jalan hidup jalan dunia, dan menjadikan Tuhan satu-satunya kebahagiaan.

Pada umumnya, orang telah terikat oleh percintaan dunia. Terikat oleh berbagai keinginan dan kesenangannya sendiri. Dan itu membuat orang Kristen tidak mengalami pertumbuhan rohani. Di dalamnya, ia tidak semakin menghayati dan mengalami keindahan Tuhan. Betapa bodohnya manusia yang memilih dunia daripada memilih Tuhan sebagai satu-satunya keindahan. Kekhawatiran manusia bukan hanya terkait dengan adanya ancaman atau sesuatu yang dia rasa sebagai membahayakan hidup, melainkan kekhawatiran juga menyangkut mengenai sikap dan pemikiran, seakan-akan kalau tidak memiliki fasilitas dunia ini, hidupnya tidak merasa indah, tidak merasa bahagia, tidak merasa lengkap, tidak merasa utuh, tidak merasa ada jaminan keamanan. Ini yang merusak. Dengan cara demikian, seseorang terikat dengan dunia. Tidak terikat sebagaimana mestinya dengan Allah. Betapa bodohnya manusia yang memilih dunia daripada memilih Tuhan.

----------------------------------------------------------------












January 13, 2021, 06:53:09 AM
Reply #3598
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
-----------------------------------------

Ketika seseorang masih mengharapkan kebahagiaan dunia ini, tidak mungkin ia bisa bertumbuh dalam iman. Percuma rajin ke gereja, percuma jadi aktivis gereja, percuma jadi pendeta, percuma jadi teolog, percuma jadi ketua sinode. Percuma. Sebab, dia tidak akan mengalami pertumbuhan rohani yang benar. Kalau kita masih materialistis, artinya masih menganggap sumber kebahagiaan adalah kekayaan, kita tidak bisa mengerti Firman. Mau khotbah sebanyak apa pun, tetap ia tidak mengerti kebenaran. Seseorang bisa menalar Firman Tuhan, tetapi ia tidak mengerti nafas dan tidak menangkap jiwa-Nya. Makanya lihat, orang-orang Kristen yang rajin ke gereja namun kelakuannya menyakiti sesama. Lihat aktivis, pendeta, teolog-teolog, mereka yang belajar di Sekolah Tinggi Teologi, mereka jadi sombong secara akademisi. Dan kalau orang masih materialistis, dia tidak akan mengerti kebenaran.












January 14, 2021, 05:34:53 AM
Reply #3599
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28434
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/memberhalakan-masalah/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2020/12/14-JANUARI-2021.mp3



Memberhalakan Masalah
14 January 2021

Play Audio

Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini tidak mungkin lepas dari persoalan, tidak mungkin lepas dari masalah, problem, kesulitan, dan kesukaran hidup. Tetapi yang penting adalah bagaimana kita bereaksi atau merespons masalah-masalah tersebut. Tentu kita tahu bahwa “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Yang itu berarti, persoalan-persoalan hidup kita menjadi sarana Allah untuk mendewasakan kita. Tetapi secara fakta, secara faktual, banyak orang Kristen yang tidak bereaksi atau merespons masalah dengan bijak. Pada umumnya, orang bersungut-sungut, marah, kesal terhadap masalah yang harus dihadapinya. Dan biasanya, dia akan mencari kambing hitam atau mencari penyebab dari persoalan tersebut. Hal inilah yang membuat persoalan, kesulitan, kesukaran, problem tidak membuahkan buah yang baik dalam kehidupan rohani seseorang. Artinya, persoalan-persoalan tersebut tidak membuat dirinya menjadi dewasa, tapi sebaliknya, membuat ia makin terpuruk dalam ketidakdewasaan.

Orang-orang seperti ini yang marah kesal terhadap masalah yang dihadapi dan mencari kambing hitam atau penyebab adanya persoalan itu—yaitu membangkitkan kebencian, dendam terhadap orang lain—ini berarti dia memberhalakan masalah. Bukannya menerima masalah sebagai berkat kekal yang di dalamnya mengandung nasihat kebenaran-kebenaran untuk mendewasakan, tetapi malah bersungut-sungut, dan melahirkan kebencian terhadap orang yang dijadikannya sebagai penyebab dari persoalan tersebut. Ini namanya memberhalakan masalah. Orang yang memberhalakan masalah adalah orang yang tidak mungkin bisa memuliakan Tuhan. Tidak mungkin. Sejatinya, orang seperti itu, dia memuliakan dirinya sendiri. Sebab kalau orang benar-benar memuliakan Tuhan, apa pun yang dialaminya dia jadikan sebagai berkat kekal karena di dalamnya pasti ada hikmah. Dan hikmah atau hikmat atau kebenaran itu mendewasakan rohaninya.

Dan orang yang sungguh-sungguh menganggap masalah itu adalah berkat kekal, dia akan mengucap syukur. Ia tidak lagi berpusat pada dirinya sendiri atau egosentris, tapi teosentris. Jadi, orang yang masih memberhalakan masalah adalah orang yang egosentris, tidak teosentris. Selain dia tidak mengalami perubahan pendewasaan rohani melalui persoalan tersebut, dia juga menambah jumlah orang yang dia benci, dia membangun kepahitan, kemarahan kepada objek tertentu atau orang tertentu, dan tanpa sadar, secara tidak langsung dia juga mempersalahkan Allah, “Mengapa Allah mengizinkan keadaan ini?”

Tapi sebaliknya, kalau orang mengerti bahwa Allah mengasihi dirinya, maka dalam kamus hidup orang Kristen tidak ada kata “kecelakaan, musibah” atau “bencana,” karena semua yang terjadi pasti memuat berkat kekal, maka ia akan mengucap syukur kepada Tuhan. Ia tidak membuat atau menambah jumlah orang yang dia benci karena memang tidak ada orang yang boleh dibenci. Kita harus mengasihi semua orang. Dia tidak membangun kepahitan di dalam dirinya, tapi belajar melepaskan pengampunan. Dan memang mengampuni itu sakit. Tetapi dengan cara begitu, seseorang didewasakan. Dan orang yang tidak memberhalakan masalah, baru benar-benar meninggikan Tuhan dan Tuhan tersanjung kepada orang-orang seperti ini. Dia tidak akan mempersalahkan Tuhan, dia tidak marah kepada Tuhan, dia akan berterima kasih karena kejadian itu pasti memuat atau mengandung kebenaran yang mendewasakan dirinya. Inilah orang-orang yang bisa disebut “telah selesai dengan dirinya sendiri.”

Orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri, orang yang tidak akan menuntut Tuhan membahagiakan dirinya. Bahkan ketika Tuhan membawa dia keadaan-keadaan sulit, bahkan seakan-akan Allah sendiri yang melukai dia, dia tetap mengucap syukur dan memercayai Allah, seperti Yesus yang walaupun—seakan-akan—Bapa tidak membela Dia, Dia mati di kayu salib dengan keadaan begitu mengerikan, begitu miris, begitu keji. Dia tetap menaruh percaya kepada Bapa di surga, tidak menaruh curiga, dan Dia berkata, “ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan Roh-Ku.” Ini tingkat penyerahan yang benar. Mestinya kita belajar untuk bisa sampai tingkat seperti ini.

------------------------------------------------

-----------------------------------------------

-----------------------------------------------










 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)