Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 155069 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 14, 2021, 05:35:23 AM
Reply #3600
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
-----------------------------------------------------

Kita semua belajar untuk tidak memberhalakan masalah, tetapi sebaliknya, kita memuliakan Allah dan mengucap syukur atas masalah yang Tuhan izinkan kita alami. Dengan demikian, kita mengalami pertumbuhan rohani yang baik. Kalau kita memandang semua kejadian, semua peristiwa, semua persoalan, semua kesulitan, semua kesukaran dengan kacamata kekekalan, semua menjadi kecil. Menjadi ringan kita memikulnya. Apalagi kalau kita sadar bahwa persoalan-persoalan tersebut bisa mendatangkan kemuliaan kekal. Kita akan berterima kasih. Oleh sebab itu, kita harus memiliki cara pandang atau perspektif, sudut pandang yang benar, yaitu berbasis kekekalan. Basis pemikiran kita harus basis pemikiran yang terkait dengan kekekalan. Kalau kita memandang persoalan kita dengan kacamata kekekalan, semua menjadi masalah kecil. Sebab, masalah-masalah ini sementara. Pasti ujungnya akan tiba, pasti akan berakhir. Bersyukur kalau persoalan itu berakhir, telah membuahkan pendewasaan rohani di dalam hidup kita. Syukur kalau sampai bisa begitu.

Jangan sampai persoalan itu berlalu tanpa kita menikmati berkat kekal yang Tuhan sediakan. Jangan sampai persoalan berlalu, malah menyisakan kepahitan, kemarahan, kebencian, dan kehidupan yang tidak bertumbuh atau tidak berbuah. Celaka sekali! Tetapi mari dengan membaca kebenaran ini, kita mulai sadar bahwa Tuhan itu bukan saja baik, melainkan sangat baik. Kebaikan Tuhan diberikan kepada kita tidak selalu dalam bentuk hal-hal yang menyenangkan kita, tidak selalu dalam bentuk hal-hal yang memuaskan kita, tidak selalu dalam bentuk hal-hal yang membuat kita nyaman, bahkan sering apa yang Tuhan berikan itu hal-hal yang membuat kita benar-benar tidak nyaman. Hidup kita merasa tidak bahagia, kita merasa terancam, dan lain sebagainya. Namun, kalau kita memandang dengan kacamata kekekalan, kita tahu bahwa itu tidak ada artinya.

Allah yang kekal selalu menyediakan berkat dengan kualitas nilai kekekalan. Allah yang kekal tidak mungkin memberikan kepada kita sesuatu yang bersifat fana, hanya dinikmati oleh fisik tubuh fana kita. Memang Tuhan juga memberikan kita kesenangan-kesenangan, tapi pasti bukan kesenangan yang dimaksudkan untuk menjauhkan kita dari hadirat Allah. Kita jangan memberhalakan persoalan yang membuat kita tidak dewasa, membuat seseorang menjadi memanjakan diri, masochistis; seperti suka menyakiti diri sendiri dan menikmati rasa sakit itu. Orang-orang seperti ini akan bertambah menjadi rusak, egois, hanya melihat kepentingan sendiri, perasaan sendiri, dan tidak memedulikan kepentingan dan perasaan orang lain.










January 15, 2021, 02:00:41 PM
Reply #3601
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/manusia-unggul/


http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/15-JANUARI-2021-Manusia-Unggul-1.mp3


Manusia Unggul
15 January 2021

Play Audio

Di dalam Ibrani 11:6 tertulis, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah, sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Apa sebenarnya yang dimaksud “iman” di sini? Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Kalau kita memperhatikan iman yang dibicarakan dalam Ibrani 11, ini adalah iman dari orang-orang yang hidupnya luar biasa. Sebelum ayat yang ke-6—dari ayat 1—disebutkan mengenai Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub. Mereka adalah orang-orang istimewa; orang-orang yang benar-benar unggul. Tidak sama dengan manusia pada umumnya, mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki keunggulan lebih dari manusia pada umumnya. Dikisahkan satu per satu betapa hebatnya manusia-manusia ini pada zamannya. Dengan demikian, secara tidak langsung hendak dikatakan kepada kita bahwa orang yang memiliki iman yang benar adalah orang yang memiliki keunggulan di dalam hidup. Sehingga mereka menyatatkan sejarah hidup yang luar biasa, yang dapat menjadi pelajaran bagi generasi-generasi berikutnya.

Kita bertanya kepada diri kita sendiri: “Apakah kita memiliki iman seperti yang dimaksudkan dalam Ibrani 11:6 ini?” Pertanyaan itu sama dengan: “Apakah kita memiliki keunggulan yang lebih dari orang-orang di sekitar kita?” Ini masalahnya. Keunggulan apa yang kita miliki yang menandai iman yang kita miliki? Tentu “keunggulan” di sini tidak boleh diartikan sama dengan keunggulan yang dimiliki manusia pada umumnya. Manusia dianggap unggul kalau populer, kaya, berkedudukan tinggi, berkuasa, dan lain sebagainya. Tetapi keunggulan dalam konteks iman adalah orang-orang yang melakukan kehendak Allah, yang oleh karena melakukan kehendak Allah, mereka harus mengorbankan segala sesuatu. Contohnya Nuh, ia harus mempertaruhkan hidupnya demi rencana Allah menghukum dunia ini. Abraham meninggalkan Ur-Kasdim demi menjadi bapak orang percaya yang hidup imannya bisa menjadi teladan dan inspirasi umat pilihan Perjanjian Baru, sekaligus kesetiaannya untuk memiliki kemusafiran, dan itu juga bisa menjadi inspirasi orang percaya Perjanjian Baru untuk hidup sebagai musafir. Ini luar biasa.

Keunggulan manusia-manusia ini adalah mereka hidup sepenuhnya hanya untuk Allah. Orang-orang yang hidup sepenuhnya untuk Allah sama dengan orang yang selalu hidup di hadirat Allah. Orang yang selalu menghayati kehadiran Allah, sehingga dalam segala hal yang dilakukannya selalu disesuaikan, apakah itu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Pada waktu kita bercakap-cakap dengan orang di meja makan sambil ngopi, kita pun menghayati kehadiran Allah di situ; waktu kita sedang rapat, sedang berbicara di ruang tunggu, waktu kita bisnis, waktu kita dagang, pada waktu kita mengajar kalau kita guru, atau pada waktu kita di rumah sakit sebagai tenaga medis, atau kita sedang menjalankan tugas sebagai praktisi hukum, kita selalu melakukan itu di hadirat Allah. Kita tidak melakukan sesuatu supaya kita terhormat, dihargai manusia, atau kita memiliki keuntungan, atau supaya kita menjadi orang yang populer. Tetapi kita melakukan semua itu hanya untuk kesukaan Allah.

Ingat Firman Tuhan mengatakan: “Orang yang berpaling kepada Allah, harus percaya bahwa Allah ada. Sebab tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” Ingat itu! Orang yang berpaling pada Allah harus percaya bahwa Allah itu ada. Ini jangan hanya dipahami secara nalar saja dan setuju bahwa itu Firman Tuhan, tetapi kita harus menghidupi Firman ini dan menjadikan pengalaman hidup konkret kita. Kalau kita membaca tokoh-tokoh iman yang disebut sebagai orang beriman dalam Ibrani 11—Habel—dia memberi yang lebih baik. Ini bicara soal sikap hati. Henokh, bergaul dengan Allah di tengah-tengah masyarakat, di ujung dunia yang mau dihancurkan di zaman Nuh, dimana orang-orang berlaku sangat jahat, tapi Henokh berjalan dengan Allah. Abraham, tentu. Nuh, hebat sekali. Yang dikatakan “dari orang-orang sezamannya, dia mencari Allah, dia mendapat kasih karunia, dia menjauhi kejahatan.” Inilah prestasi-prestasi manusia beriman, yaitu orang-orang yang melakukan kehendak Allah, dan demi melakukan kehendak Allah itu, mereka kehilangan segala sesuatu.

-----------------------------------

------------------------------------






January 15, 2021, 02:01:06 PM
Reply #3602
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

-------------------------------------------------

Hidup mereka hanya untuk melakukan kehendak Allah, dan itu bisa terjadi, itu bisa terwujud kalau seseorang hidup di hadirat Allah. Orang bisa hidup di hadirat Allah kalau percaya bahwa Allah itu ada, seperti Ibrani 11:6 mengatakan: “Allah ada.” Keberadaan Allah bukan hanya diyakini dalam pikiran, melainkan diwujudnyatakan dalam tindakan, dan dihidupi secara konkret. Orang yang sungguh-sungguh meyakini Allah itu ada, hidup di hadirat Allah, tidak mungkin sewenang-wenang terhadap orang lain; tidak mungkin sewenang-wenang terhadap sesamanya. Dari pembantu rumah tangga, sopir, bawahan, sampai kepada teman sejawat, bahkan senior yang harus dihormati, dan bapak rohani yang harus dijagai. Mereka pasti menaruh hormat secara patut dan tidak melukai.

Tetapi kenyataannya, kita lihat banyak orang tidak bermoral, sewenang-sewenang terhadap sesamanya bahkan kepada senior sendiri, menikam bapak rohaninya, berkhianat, dan herannya, kalau orang sudah menjadi orang terhormat—misalnya kalau di lingkungan gereja itu sekolah tinggi, sudah memiliki sekolah tinggi, sudah punya gelar—jadi busuk. Ilmunya banyak, bicara pintar, punya posisi terhormat, dihargai, tapi jadi busuk. Dan ini memang ironis sekali. Tapi inilah faktanya yang terjadi. Mereka pasti tidak hidup di hadirat Allah, tapi berbicara mengenai iman, berkhotbah mengenai iman, namun hidupnya tidak memiliki keunggulan. Dia merasa punya keunggulan dengan gelar dan jabatan itu, padahal keunggulan yang sesungguhnya yang Allah kehendaki adalah kehidupan yang tidak melukai sesama, hidup yang menjadi berkat bagi orang lain, dan semuanya itu menyukai hati Allah.






January 16, 2021, 06:25:36 AM
Reply #3603
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/belajar-beriman-dengan-benar/


http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/16-JANUARI-2021-Belajar-Beriman-dengan-Benar-1.mp3





Belajar Beriman dengan Benar
16 January 2021

Play Audio

Orang yang sungguh-sungguh belajar beriman dengan benar pasti dapat menyadari bahwa ternyata memiliki iman yang benar itu tidak mudah. Sulit. Dikatakan bahwa “iman tanpa perbuatan, seperti tubuh tanpa roh.” Perbuatan apakah yang menunjukkan imannya, atau perbuatan apakah yang berkualitas sebagai ekspresi atau perwujudan iman? Kalau hanya berbuat baik, itu bukan atau belumlah iman standar seperti yang Allah kehendaki. Memang dalam Yakobus 2 dikatakan: “Kamu mengatakan beriman, tetapi kamu lihat saudaramu yang tidak pakai pakaian, kamu tidak memberi pakaian. Kamu lihat saudaramu yang kedinginan, kau biarkan. Kau melihat saudaramu yang lapar, kau diamkan.” Itu bukan iman. Itu iman yang mati. Tetapi bukan berarti kalau ada orang tidak pakai baju, kita berikan baju, berarti kita beriman. Bukan berarti kalau kita melihat orang tidak memiliki makanan, kita beri makanan, berarti kita sudah beriman. Itu hanya contoh.

Jadi, ketika seseorang melihat orang lain di dalam kekurangan, kalau tidak memberi apa-apa juga tidak bisa dikatakan melanggar hukum pada zaman itu. Sebab, tidak melanggar Sepuluh Perintah Allah. Tidak ada keharusan. Orang yang tidak memberi makan orang yang lapar, bukan suatu dosa. Itu kerelaan. Sama seperti kisah mengenai orang Samaria yang baik hati. Ketika ada orang yang dirampok habis-habisan, lalu lewat seorang rohaniwan—tokoh agama Yahudi—ia melihat orang yang dirampok dan sekarat itu, dia menyimpang. Dia mengambil jalan lain. Dia sengaja membiarkan. Berdosakah dia? Tidak salah, karena tidak ada keharusan. Orang tidak memberi makan orang lapar, itu bukan dosa, karena dipandang dari Hukum Taurat, hal tersebut tidak melanggar hukum. Tetapi, dosa di mata Allah.

Bagi umat Perjanjian Baru, iman itu berarti melakukan apa pun yang Allah perintahkan untuk dilakukan, atau memenuhi proyek yang Tuhan berikan. Seperti di Lukas 16, ada orang kaya yang setiap hari berpesta pora. “Setiap hari,” kata Alkitab. Ia memakai jubah ungu, tanda bahwa ia adalah seorang yang kaya. Sementara, ada Lazarus yang tergeletak kelaparan di depan pintu rumahnya. Dia tidak harus memberi roti. Dia kenal Taurat, sebab ketika dia sudah mati, Abram berkata “di bumi ada Taurat,” dan ada hukum, jadi dia tahu Taurat. Tetapi, tidak memberi makan orang lapar, bukan berarti melanggar Taurat. Itu proyek. Dia tidak melakukan proyek itu. Itu berarti tidak beriman.

Jadi, kalau kita diberi proyek—misalnya orang yang tidak punya pakaian, kedinginan—dan kita tidak memberinya pakaian, itu berarti kita tidak beriman. Tetapi bukan hanya satu kali kasus itu, masih banyak kasus lain yang Tuhan akan berikan. Ketika kita lihat orang lapar, kita tidak memberinya makanan—memang secara hukum tidak berdosa, tetapi berarti kita tidak beriman. Memang bukan berarti kalau ada orang lapar dan kita memberinya makanan, berarti kita sudah beriman. Belum tentu. Karena itu baru satu proyek. Beriman itu artinya sampai akhir kita melakukan apa pun yang Tuhan percayakan kepada kita. Satu Lazarus Tuhan kirim, kita selesaikan, kita bantu, kita tolong. Tuhan kirim lagi Lazarus yang lain. Tuhan beri kita satu proyek, kita kerjakan dengan baik, Tuhan beri proyek yang lain.

Dulu ada seorang pendeta yang berpikir, “kalau satu orang saya tolong, lalu muncul lagi orang yang lain, capek nanti hidup saya.” Tapi kemudian Tuhan tegur dia, bahwa Tuhan tidak akan memberikan kepadanya proyek yang dia tidak bisa kerjakan. Jadi, kalau Tuhan memberi kita proyek, berarti Tuhan pun memberi kita kemampuan untuk menyelesaikan proyek tersebut. Jika kita meresponsnya dengan benar, Tuhan pasti akan memberikan kita proyek-proyek yang lebih besar, dan Tuhan pasti melengkapi kebutuhan kita guna menyelesaikan proyek-proyek tersebut. Kita harus mengerti hal ini, bahwa Tuhan akan membawa kita kepada keadaan-keadaan tertentu yang melalui keadaan-keadaan itu kita dilatih beriman. Bukan hanya menghadapi Lazarus-Lazarus yang harus kita tolong, melainkan juga menghadapi orang-orang yang berbuat jahat, seperti orang-orang yang mendzolimi, memfitnah, mengkhianati, mendatangkan kerugian kepada kita. Tetapi kita bisa melewatinya, bisa melakukan sesuai dengan kehendak Allah.

-----------------------------------------------------------------

----------------------------------------------------------------

-------------------------------------------------------------








January 16, 2021, 06:26:03 AM
Reply #3604
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


-------------------------------------------------------

Bertemu dengan orang yang menjahati kita, kita tidak mau membalas kejahatan. Ada kalanya Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang menyakitkan, kita pun bisa melewatinya. Menyakitkan, kita juga bisa melewatinya, kita mengampuni. Sangat menyakitkan, kita juga bisa melewati. Sangat-sangat menyakitkan, kita juga bisa. Iman kita bertumbuh di situ! Kita diberi Lazarus yang membuat 5% milik kita harus kita lepaskan, muncul Lazarus baru yang membuat 10% dari yang kita miliki kita lepaskan, sampai kita ketemu Lazarus yang membuat 100% hidup kita habis. Tetapi hal itulah yang menumbuhkan iman kita. Maka dikatakan “iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh,” artinya bahwa harus ada perbuatan-perbuatan yang kita lakukan yang membuat iman kita sempurna. Dan perbuatan-perbuatan itu kita lakukan berdasarkan kejadian-kejadian yang Tuhan izinkan kita alami, atau proyek-proyek yang Tuhan izinkan kita selesaikan dalam hidup ini. Luar biasa, bukan?

Inilah untungnya menjadi umat pilihan Allah yang dididik untuk memiliki iman yang sempurna. Ternyata Abraham juga mengalami hal itu. Tuhan izinkan dia keluar dari Ur-Kasdim, dia sudah lulus. Sekian puluh tahun dia tidak punya anak, seperempat abad kira-kira, dia tetap percaya. Dia dibawa ke Mesir, istrinya mau diambil. Lalu dia menghadapi masalah Hagar, dan seterusnya sampai dia diperintahkan menyembelih anaknya sendiri sebagai kurban bakaran. Tapi dia lulus. Karenanya, ia disebut bapak orang percaya. Setiap kita memiliki pengalaman yang berbeda-beda, tetapi pada intinya, dalam pengalaman yang berbeda-beda itu kita harus sungguh-sungguh bisa menyelesaikannya, bisa melakukan kehendak Allah. Jadi kita sekarang mengerti apa maksudnya perbuatan itu.

“Iman tanpa perbuatan, seperti tubuh tanpa roh… oleh perbuatannya, imannya menjadi sempurna,” artinya bahwa iman itu harus diekspresikan, dinyatakan dalam perbuatan, dan perbuatan yang kita alami adalah ujian-ujian yang semakin hari semakin berat. Di sinilah sekolah kehidupan yang kita jalani. Dan orang percaya akan memiliki semacam kurikulum yang harus dijalani. Kurikulum yang Allah sendiri sediakan, dan masing-masing orang memiliki pengalaman yang pasti berbeda. Tentu sesuai dengan porsi yang Allah tetapkan, Allah sediakan pada masing-masing kita. Bersyukur kalau kita menghadapi banyak hal yang menurut kita menyakitkan dan merugikan, karena sebenarnya di balik itu ada pelajaran-pelajaran berharga yang Tuhan berikan. Jangan mengeluh dan berkata: “Orang lain tidak mengalami begini, kenapa aku harus mengalami separah ini atau seberat ini?” Justru kalau kita mengalami persoalan makin berat, berarti sekolahnya makin tinggi, hasilnya makin bagus, kekayaan kekalnya makin banyak.








January 17, 2021, 10:17:22 AM
Reply #3605
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/tidak-memiliki-apa-pun-dan-siapa-pun/


http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/17-JANUARI-2021-Tidak-Memiliki-Apa-pun-dan-Siapa-pun-1-1.mp3




Tidak Memiliki Apa pun dan Siapa pun
17 January 2021

Play Audio

Orang-orang beriman adalah orang-orang yang dikondisikan untuk tidak memiliki apa-apa, kecuali Tuhan. Bagi Abraham, mungkin milik yang dipandang paling berharga dan satu-satunya di hari tuanya adalah Ishak. Tapi, Tuhan mau Ishak dipersembahkan untuk Allah. Abraham melakukan tanpa ragu. Mengapa? Sebab ia merasa tidak memiliki apa-apa dan siapa pun kecuali Tuhan, Majikan, Allah Yahweh yang ia cintai. Cinta dan hormatnya kepada ELOHIM Yahweh lebih besar dan dalam dari sayangnya kepada Ishak. Ini merupakan pelajaran yang berharga untuk kita. Jika kita mau menjadi orang yang beriman dengan benar, maka sikap hidup kita harus seperti Abraham yang merasa tidak memiliki apa pun dan siapa pun. Atau pun kalau kita memiliki keluarga, pasangan hidup, orangtua, anak dan lainnya, maka cinta kasih kita terhadap Tuhan harus melebihi cinta kasih kita kepada mereka. Kalau kita harus kehilangan keluarga demi iman kita kepada Yesus Kristus, jangan anggap hal itu merupakan suatu hal yang luar biasa. Itu adalah hal standar.

Jadi, kalau ada anak muda yang berpacaran dengan seseorang yang beragama lain dan kamu tidak memutuskan hubungan itu, maka kamu akan kehilangan Tuhan selamanya. Kamu akan binasa, dan penyesalanmu tidak dapat kamu bayangkan hari ini. Alkitab menyebutnya dengan “ratap tangis dan kertak gigi.” Dan itu sungguh mengerikan. Kalaupun kamu menikah dan bahagia, itu pun tidak lebih dari 50 tahun. Namun, penderitaanmu kekal di api neraka dan terpisah dari Allah. Maka kamu harus tegas mengatakan: “tidak!” Terhadap pacarmu atau calon pasangan hidupmu. Namun kalau kamu merasa keberatan, silahkan. Tuhan saja tidak memaksa. Di sini saya mengingatkan bahwa kamu akan sangat celaka.

Itulah sebabnya Yesus berkata, kalau orang mau ikut Dia, maka kamu harus melepaskan segala sesuatu dan menganggapnya sampah. Sebab orang beriman itu adalah orang yang kepentingannya hanya Tuhan saja. Itulah sebabnya, pada gereja mula-mula, bagaimana Tuhan memurnikan Kekristenan dengan membuat orang Kristen tidak memiliki apa-apa, teraniaya, harta dirampas, keluarga ditawan, harga diri diinjak-injak, diikat di tiang dan dibakar hidup-hidup, dilepas di Colloseum bersama binatang buas dan ditonton ribuan orang sambil menyorakinya. Bayangkan! Tetapi dengan cara inilah orang-orang memiliki iman yang benar.

Banyak orang mengaktualisasi diri dengan mencari kedudukan, pangkat, gelar, harta, penampilan. Bahkan orang-orang yang di lingkungan pelayanan pun mengaktualisasi diri dengan menjadi pendeta yang besar, terhormat, menjadi pimpinan di sebuah lembaga Kristen atau gereja atau sinode; cari panggung. Orang seperti ini adalah orang yang belum meninggalkan dirinya dan belum selesai dengan dirinya sendiri. Dia belum bisa dikatakan sebagai orang merdeka. Sebab, orang merdeka adalah orang yang tidak memiliki apa-apa. Tentu dalam konteks ini, orang merdeka adalah orang yang telah menyerahkan segenap hidupnya untuk Tuhan.

Harus dipahami dengan benar bahwa “tidak punya apa-apa” bukan berarti kita sengaja menjadi orang miskin. Tidak memiliki apa-apa berarti orang yang mau memberikan segalanya untuk kepentingan Tuhan, dan ini pun tidak berarti semuanya diberikan ke gereja. Seseorang harus memiliki kepekaan bagaimana mengelola uang yang Tuhan percayakan ini. Bagaimana menyelenggarakan atau mengolah harta kita yang sejatinya adalah harta Tuhan. Kalau orang beriman yang benar, ia akan berhitung ketika ia mau membelanjakan uangnya. Bukan soal berapa jumlah uang yang dimiliki, apakah seimbang dengan barang yang akan dibeli. Tetapi yang harus dipertimbangkan adalah apakah yang kita beli menyenangkan hati Allah atau tidak. Atau sebaliknya, kita membeli sesautu yang karenanya kita menjadi lebih terpandang, terhormat atau merasa diri puas, seperti pakaian, arloji, mobil, rumah, dan lain sebagainya. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap Tuhan.

-------------------------------------

---------------------------------------

-----------------------------------------

-----------------------------------------------------





January 17, 2021, 10:17:50 AM
Reply #3606
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28072
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

----------------------------------------------

Kalimat ini tidak bermaksud untuk melukai orang kaya, namun orang kaya memang sukar masuk surga karena terkondisi demikian. Maka hal ini disuarakan agar orang kaya sadar dan bertobat, sebab kalau tidak, mereka akan menghadapi api kekal. Ini bukanlah ancaman atau intimidasi agar mereka memberikan uang untuk gereja. Tetapi agar mereka memperhadapkan diri dengan benar di hadapan Allah. Jangan sampai mereka tertolak oleh Allah karena tidak menghormati Dia. Ironis, mereka merasa telah menghormati Tuhan. Namun dengan sikap hidup yang merasa berhak atas dirinya sendiri, berhak atas kekayaannya, sebenarnya mereka sedang meninggikan diri.

Kesulitan yang kita hadapi hari ini adalah pengajaran yang rusak—termasuk kita sebelum mengenal kebenaran yang murni—sejak dahulu. Pengajaran tersebut mengarahkan seakan-akan ikut Yesus itu memperoleh pintu atau pertolongan untuk meraih dunia. Ini sesat! Ikut Yesus berarti kehilangan segala sesuatu dan kita menukarnya dengan hanya memiliki Yesus. Seperti yang dikatakan dalam perumpamaan yang Yesus sampaikan, dimana ada seorang pedagang yang menjual seluruh miliknya demi memperoleh sebuah mutiara yang sangat berharga. Ini adalah tindakan barter. Dalam perumpamaan lain, Tuhan Yesus juga menggambarkan ada seorang yang menjual seluruh miliknya demi sebuah ladang. Bukan karena ladang itu memiliki kesuburan, melainkan karena di ladang itu ada harta terpendam yang tidak ternilai.

Demikian juga kita orang percaya. Ketika kita pergi ke gereja, kita pergi karena di sana ada harta yang terpendam, bukan karena gereja itu sendiri. Dan di gereja, kita dididik dengan kebenaran Firman Tuhan supaya kita melucuti diri, melepaskan diri dari semua ikatan belenggu dunia, percintaan dunia, dan dosa yang mengikat daging dan jiwa kita. Melepaskan semuanya, barulah kita merdeka. Ada orang merasa belum merdeka karena tidak kaya, ia merasa kemiskinan membelenggu dirinya. Kalaupun orang seperti ini lepas dari kemiskinan dan menjadi kaya secara materi, sejatinya kekayaan tidak membuat ia lepas dari kemiskinan. Sebab kemiskinan yang sesungguhnya adalah kemiskinan batin. Kita bisa kaya, tapi pelit, maka kita menjadi miskin karenanya.

Seseorang yang kaya secara materi, namun jika ia tidak memiliki moral seperti yang Allah kehendaki dan ia terancam hukuman kekal, sejatinya ia lebih miskin dari orang miskin. Ada orang yang merasa bernilai karena memakai pakaian bagus atau jam tangan mahal, padahal nilai yang sesungguhnya bukan pada benda materi tapi manusia batiniah yang berharga di mata Allah. Kebenaran murni seperti ini yang sejatinya harus diberikan kepada jemaat agar mata mereka tidak hanya tertuju kepada perkara dunia, tetapi tertuju kepada perkara-perkara rohani yang bernilai kekal.





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)