Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 156209 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 19, 2021, 06:43:22 AM
Reply #3610
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28426
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
-----------------------------------------------

Ini nilai yang tidak bisa dicapai oleh sebagian besar orang. Bagaimana menjadi seorang yang takut akan Allah, yang dalam segala hal menjaga perasaan Allah, hidup berkenan bagi Allah, dan ini tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. Hendaknya kita menjadikan ini sebagai agenda satu-satunya dalam menjalani hidup. Untuk itu, kita hayati kehadiran Allah sampai kita tidak perlu lagi konsentrasi dalam menghayati kehadiran-Nya karena kita sudah dengan sendirinya bisa menghayati kehadiran Allah tersebut. Tidak usah konsentrasi, karena hal menghayati kehadiran Allah sudah merupakan hal biasa, dan dalam segala hal yang kita lakukan, kita selalu mempertimbangkan perasaan Allah. Secara otomatis kita bisa melakukan itu.

Kalau kita bisa hidup dengan cara demikian—yang disebut dengan hidup di hadirat Allah—nama kita pasti dikenal oleh Allah. Tapi bukan hanya diri kita. Anak cucu kita pun akan diingat dan dikenal oleh Allah. Dalam menghadapi dunia yang semakin sulit, semakin sukar, tidak menjanjikan ini, Tuhan tetap akan memprotek kita. Artinya, kesulitan yang kita alami pun menjadi cara Allah mempersiapkan kita untuk masuk ke Kerajaan Surga. Dan puji Tuhan, bukan hanya kita yang dipersiapkan untuk masuk langit baru bumi baru menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, tinggal di istana Tuhan Yesus, dan menikmati kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus, melainkan juga orang-orang yang kita kasihi. Tentu pasangan hidup, anak, cucu, menantu, juga sahabat-sahabat kita yang bersama-sama dengan kita melayani pekerjaan Tuhan.

Orang-orang yang mencintai Suara Kebenaran, yang bersama-sama bertumbuh, berkemas-kemas untuk menyongsong langit baru bumi baru adalah orang-orang yang menjadi masyarakat surgawi yang suatu hari akan bersama-sama dalam Kerajaan Surga. Dunia kita tidak menjanjikan. Kita tidak bisa optimis terhadap dunia. Dunia ini sudah begitu rusak, begitu tidak ideal untuk dihuni. Tetapi puji Tuhan, kita memiliki langit baru bumi baru. Kita optimis menyongsong langit baru bumi baru. Kita tidak optimis menyongsong yang lain. Optimisme kita hanya pada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Dalam menyongsong kehidupan ke depan yang buruk, makin berat, makin sulit–baik yang kita alami, maupun yang dihadapi oleh anak cucu dan orang-orang yang kita kasihi—kita percaya pemeliharaan, perlindungan Tuhan atas kita semua.

Oleh sebab itu, kita harus mengandalkan Tuhan dan bergantung pada-Nya. Lebih dari itu, yang harus kita ketahui adalah bagaimana supaya kita bisa menjadi orang yang layak dilindungi Tuhan, orang yang layak mengandalkan Tuhan. Siapa orang yang layak dilindungi Tuhan dan orang yang layak mengandalkan Tuhan? Mereka yang hidupnya hanya menyenangkan hati Allah, tidak hidup dalam percintaan dunia, dan tidak hidup dalam dosa, merekalah orang-orang yang berharga di hadapan Allah di bumi ini sampai kekekalan.









January 20, 2021, 05:48:37 AM
Reply #3611
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28426
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/pertobatan-sejati/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/20-JANUARI-2021-Pertobatan-Sejati-1.mp3



Pertobatan Sejati
20 January 2021

Play Audio

Suatu hari nanti, ketika seseorang berada di ujung maut dimana ia tinggal memiliki sedikit lagi waktu untuk hidup—biasanya ada di ruang ICU atau ICCU dan dalam keadaan sekarat—barulah ia menghargai betapa berharganya hidup ini. Apalagi kita yang sudah mengenal sebagian kebenaran atau mengenal sedikit kebenaran atau mungkin banyak kebenaran, bahwa setiap kita harus berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita. Pada waktu itu, banyak orang sebenarnya tidak siap menghadap takhta pengadilan Kristus. Mereka mengandalkan apa yang mereka miliki selama masih ada di bumi atau selama masih sehat, sebelum ada di ujung maut. Mereka tidak sungguh-sungguh mencari perkenanan Tuhan, tidak pernah sungguh-sungguh memeriksakan diri di hadapan Tuhan, bagaimana penilaian Tuhan terhadap dirinya. Mereka tidak sungguh-sungguh mempersoalkan itu.

Mestinya kita membuat simulasi setiap hari seakan-akan kita ada di hadapan takhta pengadilan Kristus. Jika ada sesuatu yang tidak patut masih ada pada kita—seperti kebiasaan-kebiasaan yang tidak berkenan di hadapan Allah atau ada percintaan dunia—maka kita dapat segera menyelesaikannya. Jadi, waktu hidup yang diberikan Tuhan kepada kita menjadi kesempatan untuk berbenah guna mempersiapkan diri agar kelak ketika kita berhadapan dengan Tuhan, kita didapati benar-benar tidak bercacat dan tidak bercela. Tetapi sayang sekali, banyak orang menyia-nyiakan waktu yang Tuhan berikan. Fokus hidupnya ditujukan kepada banyak hal yang tidak terkait atau tidak berdampak positif untuk kehidupan rohaninya. Banyak orang yang tenggelam dengan kesenangan-kesenangan jiwa seperti yang dimiliki oleh anak-anak dunia—yaitu keinginan mata, apa yang orang lain miliki, ingin ia miliki, dan juga keangkuhan hidup mengingini sebuah kehormatan, pujian, dan sanjungan manusia. Ini satu hal yang biasa dilakukan oleh semua orang. Tetapi yang mestinya kita lakukan adalah bagaimana kita dengan sungguh-sungguh membenahi diri agar kita benar-benar didapati Tuhan tidak bercacat dan tidak bercela.

Sejatinya, fokus hidup kita hanya untuk hal ini saja, lebih dari segala fokus hidup lainnya—bahkan mestinya ini menjadi agenda kita satu-satunya. Ketika seseorang ada di ujung maut, biasanya orang baru sadar betapa berharganya 1 menit, 1 jam, 1 hari waktu hidupnya. Sebab untuk membenahi diri, seseorang membutuhkan waktu tertentu atau stadium tertentu. Masalahnya, ada orang-orang yang tidak sanggup lagi bukan saja membenahi diri untuk berkenan, melainkan juga untuk memercayai keberadaan Allah. Ia tidak sanggup percaya bahwa Allah itu ada, dan memang barangkali di ujung maut itu Allah juga sudah tidak menyertai dia karena selama hidupnya ia juga tidak menyertai Tuhan, tidak menyertai pekerjaan-Nya, tidak belajar kebenaran—yang dalam pembahasan ini kita istilahkan “tidak menyertai Tuhan.” Orang seperti ini hanya mau disertai Tuhan karena ia mau memanfaatkan Tuhan.

Tuhan Yesus berkata: “Kamu yang bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan, kepadamu aku tetapkan hak-hak bagi Kerajaan-Ku.” Artinya, orang seperti ini yang akan mendapat kemuliaan bersama Yesus, yaitu mereka yang setia. Banyak orang Kristen tidak setia, sama sekali tidak memikirkan perasaan Bapa di surga dan sama sekali tidak memikirkan apa penilaian Tuhan terhadap dirinya. Yang mereka persoalkan adalah bagaimana mereka dapat memiliki uang banyak, memiliki berbagai fasilitas yang juga dimiliki orang lain, menjadi terhormat di mata manusia, dan lebih konyol lagi kalau sampai mereka hidup di dalam dosa, hidup di dalam kejahatan, hidup di dalam pemuasan nafsu. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak takut Tuhan dan tidak menghormati Tuhan dengan pantas. Jangan berpikir kalau di ujung maut baru minta ampun, bertobat, lalu dibawa Tuhan ke surga. Mereka mau mengakal-akali Tuhan, mau menipu Tuhan.

--------------------------------------

---------------------------------------------------








January 20, 2021, 05:49:03 AM
Reply #3612
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28426
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


----------------------------------------------------

Tuhan tidak bisa ditipu! Kalau pada dasarnya seseorang memang tidak mengasihi dan tidak menghormati Tuhan—walaupun di ujung maut ia mengaku bertobat minta ampun—percuma, sebab sudah terlambat. Sejujurnya, ia pun bertobat minta ampun dengan hati yang tidak mengasihi Tuhan, hati yang tidak menghormati Tuhan. Pertobatannya di ujung maut itu hanya main-main, akal-akalan, dan tentu Tuhan tahu isi hati terdalam setiap insan. Tuhan tidak menerima pertobatan pura-pura seperti itu, karena pertobatan sejati atau pertobatan Kristiani yang benar adalah pembaharuan pikiran, bukan ucapan pengakuan dosa semata, lalu minta ampun dan diampuni, bukan itu! Dosa-dosa kita telah selesai dipikul di kayu salib, yang belum selesai adalah kodrat dosa kita. Dan untuk menyelesaikan kodrat dosa, kita harus mengalami pembaharuan pikiran.

Dari pembaharuan pikiran itulah maka kita memiliki gaya hidup, cara hidup yang berubah. Pembaharuan tersebut ada di dalam sikap hati kita, sikap batin kita, yang jika itu bertumbuh dengan baik, maka sikap hati kita menjadi benar di hadapan Tuhan. Tidak ada niat untuk berbuat dosa, takut dan hormat pada Allah secara patut, tidak terikat dengan dunia, tidak ada keinginan untuk dipuji, dihormati orang. Jadi, hati yang menghormati dan takut kepada Allah secara benar itu menjadi irama permanen yang dimiliki sehingga melahirkan kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, dan itu merupakan suatu bangunan hidup yang juga dapat digambarkan sebagai sebuah lukisan yang indah. Kalau di ujung maut seseorang baru minta ampun karena menyadari bahwa lukisan hidupnya buruk dan berharap dalam seketika dia bisa membuat lukisan hidupnya bagus, itu jelas suatu kebohongan. Oleh sebab itu, kita harus dari jauh-jauh hari berkemas-kemas, berbenah untuk menjadi seorang yang berkenan di hadapan Allah.








January 21, 2021, 02:37:03 PM
Reply #3613
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28426
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/proses/


http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/21-JANUARI-2021-Proses-1.mp3



Proses
21 January 2021

Play Audio

Satu hal yang harus kita mengerti, bahwa memahami kebenaran itu tidak bisa dalam waktu singkat, tidak bisa dipadatkan. Karena, kebenaran yang kita pahami itu bertahap. Ini paralel dengan ilmu pengetahuan yang lain seperti matematika, bahasa, dan berbagai bidang ilmu pengetahuan lainnya. Maka, proses merupakan prinsip penting di dalam kehidupan. Yesus sendiri—seperti yang kita baca dalam Alkitab—mengalami proses. Dalam Lukas 2:52 tertulis: “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Jadi, tidak bisa dalam sekejap seseorang itu menjadi dewasa, tidak dalam sekejap seseorang itu mengenal kebenaran; perlu sebuah proses.

Di sini dibutuhkan waktu. Tentu waktu tidak bisa kita ciptakan. itu anugerah, pemberian dari Tuhan, sebab kita tidak bisa menambah sehasta pun umur hidup kita. Jadi, Tuhan yang memberikan waktu. Dari pihak kita, ketekunan. Tekun untuk mendengarkan kebenaran Firman Tuhan. Di balik ketekunan tersebut kita juga harus memiliki kesediaan untuk melepaskan semua hal yang membuat kita tidak fokus akan kebenaran, terutama kesenangan-kesenangan hidup, kesenangan-kesenangan yang membuat kita tidak atau kurang menyukai kebenaran. Kalau jujur, semua manusia akan mengakui bahwa banyak kesenangan yang membuat kita jadi kurang atau tidak menyenangi Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kalau dikatakan “kurang” atau “tidak menyukai Tuhan” mungkin berlebihan, tetapi pada dasarnya begitu, kurang dan tidak menyukai kebenaran. Banyak orang Kristen yang tidak berpikir mengenai Kerajaan Surga, tidak pernah berpikir mengenai langit baru bumi baru, tidak pernah berpikir mengenai Rumah Bapa. Bahkan ketika mendengar kata “Rumah Bapa” juga sudah membuat mereka merinding, merasa takut.

Padahal, semestinya justru itu adalah hal yang menyenangkan, karena itu rumah kita. Dunia ini bukan rumah kita. Demikian pula dengan Kerajaan Surga, banyak orang yang tidak tertarik dengan Kerajaan Surga. Mendengar kalimat “langit baru bumi baru,” mereka jadi resistan, padahal mestinya tidak. Jika kita tidak tertarik dengan hal itu, sama juga kita tidak mengasihi Tuhan, tidak menghormati Tuhan. Kalau kita tidak merindukan langit baru bumi baru namun kita merasa mengasihi Tuhan, berarti kita ditipu oleh diri kita sendiri. Sama dengan orang yang tidak sungguh-sungguh merindukan kebenaran, berarti memang ia tidak menghormati Tuhan, dan tentu orang-orang seperti ini tidak mungkin setia kepada Tuhan.

Waktu yang Tuhan berikan adalah kesempatan untuk menghimpun, menumpuk, mengumpulkan kebenaran yang Tuhan sediakan bagi kita. Oleh sebab itu, waktu yang Tuhan berikan harus kita gunakan dengan sungguh-sungguh. Kalau perlu—dan semestinya—setiap hari kita memiliki jadwal untuk mendengarkan khotbah, membaca buku rohani. Kita tidak boleh berpikir atau tidak boleh membiasakan diri hanya pada waktu “mau atau senang dengar” saja, tapi jika sedang “tidak mau atau tidak senang dengar,” ya, tidak dengar. Tidak boleh begitu! Kita harus mendisiplin diri kita dengan menyediakan waktu secara khusus untuk mendengar khotbah; untuk belajar Firman Tuhan, harus kita alokasikan waktu untuk itu. Jadi bukan pada saat kita mau mendengar khotbah saja kita mendengarkannya, dan pada waktu kita tidak mau, kita tidak mendengarkan khotbah. Dalam berolahraga juga kita tidak boleh menggunakan dasar “mau atau tidak mau.” Kalau ada selera, baru kita olahraga; tidak ada selera, kita tidak olahraga. Ini pasti tidak membuat kita memiliki tubuh yang sehat secara baik. Olahraga juga harus kita alokasikan waktunya, dan itu dijadwalkan. Apalagi hal kebenaran Firman Tuhan yang menyangkut nasib kekal kita, tentu harus kita alokasikan. Jangan berpikir nanti kalau sudah longgar waktunya, kita baru belajar dengan sungguh-sungguh. Tidak boleh kita berprinsip seperti itu.

Tuhan Yesus berkata: “Kumpulkan harta di surga.” Kata “kumpulkan” menunjuk sebuah langkah bertahap, proses akumulasi. “Harta di surga” bisa diartikan sebagai proses pendewasaan; harta di surga juga berarti proses memahami kebenaran. Perhatikan ayat 21—setelah Yesus berkata kumpulkan harta di surga—Yesus berkata: “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Lalu Tuhan berkata di ayat berikutnya: “Mata adalah pelita tubuh. Kalau matamu baik, baiklah seluruh tubuhmu. Kalau matamu gelap, gelaplah seluruh hidupmu.” “Mata” dalam ayat ini berbicara mengenai pengertian. Pengertian kita tidak bisa dibangun dalam waktu 1 hari, tidak cukup dalam waktu 1 tahun. Sepanjang umur hidup kita ini adalah proses belajar untuk menyerap kebenaran sebanyak-banyaknya.

------------------------------------------------------







January 21, 2021, 02:37:30 PM
Reply #3614
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28426
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

----------------------------------------------------------------

Lagipula Firman Tuhan mengatakan: “manusia hidup bukan hanya dari roti, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Sebagaimana kita membutuhkan makanan fisik untuk jasmani kita, demikian pula kita membutuhkan Firman yang menghidupi kehidupan rohani kita, membentuk karakter kita, membentuk watak kita. Dan Firman itu yang menguduskan; sebab kebenaran itu menguduskan (Yoh. 17:17). Jadi Firman ini adalah kebenaran, dan Firman inilah yang menguduskan hidup kita. Pengudusan ini bukan pengudusan oleh darah Yesus. Dosa-dosa kita disucikan oleh darah Yesus. Akibat perbuatan dosa kita telah selesai oleh darah Yesus, tetapi kodrat dosa kita ini dibersihkan, diluruskan, diubahkan oleh kebenaran Firman, dan itu memerlukan proses panjang, seumur hidup kita.







January 22, 2021, 06:02:20 AM
Reply #3615
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28426
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/proses/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/21-JANUARI-2021-Proses-1.mp3


Proses
21 January 2021

Play Audio

Satu hal yang harus kita mengerti, bahwa memahami kebenaran itu tidak bisa dalam waktu singkat, tidak bisa dipadatkan. Karena, kebenaran yang kita pahami itu bertahap. Ini paralel dengan ilmu pengetahuan yang lain seperti matematika, bahasa, dan berbagai bidang ilmu pengetahuan lainnya. Maka, proses merupakan prinsip penting di dalam kehidupan. Yesus sendiri—seperti yang kita baca dalam Alkitab—mengalami proses. Dalam Lukas 2:52 tertulis: “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Jadi, tidak bisa dalam sekejap seseorang itu menjadi dewasa, tidak dalam sekejap seseorang itu mengenal kebenaran; perlu sebuah proses.

Di sini dibutuhkan waktu. Tentu waktu tidak bisa kita ciptakan. itu anugerah, pemberian dari Tuhan, sebab kita tidak bisa menambah sehasta pun umur hidup kita. Jadi, Tuhan yang memberikan waktu. Dari pihak kita, ketekunan. Tekun untuk mendengarkan kebenaran Firman Tuhan. Di balik ketekunan tersebut kita juga harus memiliki kesediaan untuk melepaskan semua hal yang membuat kita tidak fokus akan kebenaran, terutama kesenangan-kesenangan hidup, kesenangan-kesenangan yang membuat kita tidak atau kurang menyukai kebenaran. Kalau jujur, semua manusia akan mengakui bahwa banyak kesenangan yang membuat kita jadi kurang atau tidak menyenangi Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kalau dikatakan “kurang” atau “tidak menyukai Tuhan” mungkin berlebihan, tetapi pada dasarnya begitu, kurang dan tidak menyukai kebenaran. Banyak orang Kristen yang tidak berpikir mengenai Kerajaan Surga, tidak pernah berpikir mengenai langit baru bumi baru, tidak pernah berpikir mengenai Rumah Bapa. Bahkan ketika mendengar kata “Rumah Bapa” juga sudah membuat mereka merinding, merasa takut.

Padahal, semestinya justru itu adalah hal yang menyenangkan, karena itu rumah kita. Dunia ini bukan rumah kita. Demikian pula dengan Kerajaan Surga, banyak orang yang tidak tertarik dengan Kerajaan Surga. Mendengar kalimat “langit baru bumi baru,” mereka jadi resistan, padahal mestinya tidak. Jika kita tidak tertarik dengan hal itu, sama juga kita tidak mengasihi Tuhan, tidak menghormati Tuhan. Kalau kita tidak merindukan langit baru bumi baru namun kita merasa mengasihi Tuhan, berarti kita ditipu oleh diri kita sendiri. Sama dengan orang yang tidak sungguh-sungguh merindukan kebenaran, berarti memang ia tidak menghormati Tuhan, dan tentu orang-orang seperti ini tidak mungkin setia kepada Tuhan.

Waktu yang Tuhan berikan adalah kesempatan untuk menghimpun, menumpuk, mengumpulkan kebenaran yang Tuhan sediakan bagi kita. Oleh sebab itu, waktu yang Tuhan berikan harus kita gunakan dengan sungguh-sungguh. Kalau perlu—dan semestinya—setiap hari kita memiliki jadwal untuk mendengarkan khotbah, membaca buku rohani. Kita tidak boleh berpikir atau tidak boleh membiasakan diri hanya pada waktu “mau atau senang dengar” saja, tapi jika sedang “tidak mau atau tidak senang dengar,” ya, tidak dengar. Tidak boleh begitu! Kita harus mendisiplin diri kita dengan menyediakan waktu secara khusus untuk mendengar khotbah; untuk belajar Firman Tuhan, harus kita alokasikan waktu untuk itu. Jadi bukan pada saat kita mau mendengar khotbah saja kita mendengarkannya, dan pada waktu kita tidak mau, kita tidak mendengarkan khotbah. Dalam berolahraga juga kita tidak boleh menggunakan dasar “mau atau tidak mau.” Kalau ada selera, baru kita olahraga; tidak ada selera, kita tidak olahraga. Ini pasti tidak membuat kita memiliki tubuh yang sehat secara baik. Olahraga juga harus kita alokasikan waktunya, dan itu dijadwalkan. Apalagi hal kebenaran Firman Tuhan yang menyangkut nasib kekal kita, tentu harus kita alokasikan. Jangan berpikir nanti kalau sudah longgar waktunya, kita baru belajar dengan sungguh-sungguh. Tidak boleh kita berprinsip seperti itu.

Tuhan Yesus berkata: “Kumpulkan harta di surga.” Kata “kumpulkan” menunjuk sebuah langkah bertahap, proses akumulasi. “Harta di surga” bisa diartikan sebagai proses pendewasaan; harta di surga juga berarti proses memahami kebenaran. Perhatikan ayat 21—setelah Yesus berkata kumpulkan harta di surga—Yesus berkata: “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Lalu Tuhan berkata di ayat berikutnya: “Mata adalah pelita tubuh. Kalau matamu baik, baiklah seluruh tubuhmu. Kalau matamu gelap, gelaplah seluruh hidupmu.” “Mata” dalam ayat ini berbicara mengenai pengertian. Pengertian kita tidak bisa dibangun dalam waktu 1 hari, tidak cukup dalam waktu 1 tahun. Sepanjang umur hidup kita ini adalah proses belajar untuk menyerap kebenaran sebanyak-banyaknya.

----------------------------------------------








January 22, 2021, 06:02:51 AM
Reply #3616
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28426
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


---------------------------------------------------------------

Lagipula Firman Tuhan mengatakan: “manusia hidup bukan hanya dari roti, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Sebagaimana kita membutuhkan makanan fisik untuk jasmani kita, demikian pula kita membutuhkan Firman yang menghidupi kehidupan rohani kita, membentuk karakter kita, membentuk watak kita. Dan Firman itu yang menguduskan; sebab kebenaran itu menguduskan (Yoh. 17:17). Jadi Firman ini adalah kebenaran, dan Firman inilah yang menguduskan hidup kita. Pengudusan ini bukan pengudusan oleh darah Yesus. Dosa-dosa kita disucikan oleh darah Yesus. Akibat perbuatan dosa kita telah selesai oleh darah Yesus, tetapi kodrat dosa kita ini dibersihkan, diluruskan, diubahkan oleh kebenaran Firman, dan itu memerlukan proses panjang, seumur hidup kita.








January 23, 2021, 05:09:17 AM
Reply #3617
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28426
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/kualitas-iman-abraham/


http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/23-JANUARI-2021-Kualitas-Iman-Abraham-1.mp3



Kualitas Iman Abraham
23 January 2021

Play Audio

Pada umumnya, sebagai orang Kristen pasti kita mengaku sebagai anak-anak Abraham. Bukan berdasarkan darah daging, melainkan berdasarkan iman. Kalau orang Israel adalah keturunan Abraham berdasarkan darah daging, tetapi anak-anak Abraham secara iman adalah orang percaya yang kualitas percayanya seperti Abraham. Jika demikian, sebenarnya banyak orang Kristen yang belum menjadi anak-anak Abraham karena tidak memiliki tindakan iman seperti tindakan iman Abraham. Lagipula, iman yang dimiliki orang-orang Kristen itu belumlah iman yang menyelamatkan, sebab iman yang menyelamatkan adalah tindakan seperti yang Abraham lakukan; bertindak melakukan apa yang Allah kehendaki.

Banyak orang Kristen yang sejatinya masih menjadi anak-anak dunia. Mereka tidak bertindak seperti apa yang Allah kehendaki, tapi bertindak sesuai dengan apa yang mereka ingini—dan yang diingininya adalah hasil “suntikan” dari pengaruh dunia. Apa yang mereka lihat di dunia, diikuti. “Aku mau buat ini, aku mau buat itu; aku mau punya ini, aku mau punya itu; senanglah kalau aku pergi ke sana; senanglah aku kalau mencapai kedudukan itu; senanglah aku kalau dipuji orang,” dan seterusnya. Ini adalah gaya hidup anak-anak dunia. Sebagai anak-anak Abraham, kita harus mengikuti teladan iman Abraham yang taat sepenuhnya pada Allah Bapa, bahkan melakukan hal yang pasti bertentangan dengan keinginannya sendiri; mempersembahkan anaknya, Ishak. Sekarang di dalam kehidupan orang percaya, kita mengenal sosok Tuhan Yesus, yang prinsip-Nya adalah melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Yesus adalah potret atau profil dari Anak Allah. Maka kalau kita mau menjadi anak Allah, profil kita juga harus seperti Yesus.

Jadi, bukan karena kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat lalu kita menjadi anak-anak Allah. Bukan! Itu adalah pembodohan dan sesat. Kita menjadi anak-anak Allah karena kita percaya kepada Yesus, dan percayanya itu seperti percayanya Abraham; menaati apa pun yang Allah perintahkan. Masalahnya, kita sudah menaati apa yang Allah kehendaki, belum? Seperti Yesus melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, maka kalau kita mau menjadi anak-anak Allah, kita pun harus taat seperti Yesus taat. Keselamatan memang bukan hanya karena perbuatan baik. Sebaik apa pun perbuatan seseorang, tidak akan menyelamatkan. Keselamatan terjadi karena kurban Yesus di kayu salib. Kalau kita percaya dengan kurban itu, maka kita harus memiliki kehidupan seperti yang dijalani oleh Yesus. Sebaliknya, kalau kita tidak menjalani hidup seperti yang dijalani oleh Yesus, berarti kita tidak percaya kepada-Nya.

Yang menyesatkan banyak orang Kristen hari ini adalah pengajar, pembicara, teolog, yang mengajarkan: “Pokoknya, asalkan Saudara sudah percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, Saudara sudah menjadi anak-anak Allah.” Itu salah! Kalau Alkitab berkata: “Yang menerima-Nya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah,” yang diterima itu bukan hanya sosok Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, melainkan kebenaran yang diajarkan Yesus. Ingat, pada mulanya adalah Firman. Firman yang berkuasa menciptakan langit dan bumi, Firman itu adalah kebenaran. Jadi kalau kita menerima Yesus, berarti kita juga menerima logos, menerima kebenaran. Kalau kita tidak menerima kebenaran, maka kita tidak memiliki hak sebagai anak-anak Allah. Ingat, kuasa itu hak. Jadi, kalau kita menerima kebenaran dan hidup kita diubah oleh kebenaran itu, barulah kita memiliki hak sebagai anak-anak Allah.

Jadi, masuk surga itu bukan tidak bersyarat. Syarat yang utama—yang tidak bisa dibayar oleh siapa pun—adalah kurban Yesus di kayu salib yang membenarkan orang percaya. Itu anugerah. Kalau orang menerima anugerah itu—yaitu dengan mengikuti jejak Yesus—maka barulah dia bisa masuk surga. Maka, tidak heran kalau Yesus berkata “orang yang tidak melakukan kehendak Bapa, tidak dikenal-Nya dan dibuang.” Maksud Tuhan Yesus berkata: “Aku tidak kenal kamu, kamu yang tidak melakukan kehendak Bapa, kamu yang berbuat jahat,” artinya orang yang tidak hidup seperti hidup yang Tuhan Yesus jalani. Prinsip hidup-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

------------------------------------

-----------------------------------------------

-------------------------------------------------------







January 23, 2021, 05:09:43 AM
Reply #3618
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28426
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

-------------------------------------------------------------------

Dalam Matius 7:21-23, kalau kita menyebut Yesus adalah Tuhan, berarti kita harus melakukan kehendak Bapa. Karena bukan setiap orang yang berseru kepada Yesus, “Tuhan” dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa. Maka pertanyaan untuk kita adalah apakah kita sudah melakukan kehendak Bapa? Itu masalah yang harus selalu kita pertanyakan. Kalau kita tidak melakukan kehendak Bapa, berarti kita belum selamat. “Selamat” artinya dikembalikan ke rancangan sempurna, dan profil atau model rancangan sempurna adalah Yesus sendiri. Oleh sebab itu, jangan kita anggap remeh hal keselamatan ini. Harus jelas kita pahami bahwa orang yang tidak melakukan kehendak Bapa, tidak selamat. Melakukan kehendak Bapa sama dengan melakukan kehendak Yesus, maka dikatakan “selamat” kalau seseorang makin seperti Yesus. “Seperti Yesus” di sini maksudnya bukan kita mau menyamai diri dengan Yesus. Karena standar kita berbeda dengan Yesus yang mulia, Tuhan kita.

Maksudnya “seperti Yesus” adalah dalam segala hal yang kita lakukan, kita selalu hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Apa pun yang kita putuskan, apa pun yang kita lakukan, selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Persoalan hidup masing-masing kita berbeda, pergumulan yang kita alami masing-masing berbeda, pergumulan yang dialami Yesus pada waktu Ia mengenakan tubuh manusia seperti kita pun berbeda dengan kita hari ini. Tentu lebih berat Yesus. Tetapi, Dia bisa menuruti kehendak Bapa dalam pergumulan-Nya tersebut. Kita juga harus bisa mengerti dan melakukan kehendak Bapa dalam pergumulan hidup kita hari ini. Walau masing-masing kita memiliki pergumulan yang berbeda, tetapi kita memiliki satu kesamaan, yaitu kita melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Allah.

Persoalan hidup kita bisa beda, pergumulan kita pun beda, tetapi kesamaannya adalah kita melakukan sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Di sini dasar hukumnya adalah pikiran dan perasaan Allah. Dasar hukumnya bukan kalimat-kalimat hukum, melainkan pikiran dan perasaan Allah. Jadi kita bisa berkata: “Allah itu hukumku; pikiran dan perasaan Allah itulah hukumku.” Orang-orang yang dalam segala hal melakukan sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah adalah orang-orang yang disebut sebagai anak-anak Allah; merekalah orang yang benar bisa dikatakan sebagai “selamat;” itulah orang-orang yang bisa dikatakan sebagai lahir baru. Jangan kita mendegredasi standar ini, yang akhirnya malah menyesatkan banyak orang.







January 24, 2021, 05:22:38 PM
Reply #3619
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28426
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/akhirnya-ditolak/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/24-JANUARI-2021-Akhirnya-Ditolak-1.mp3


Akhirnya, Ditolak!
24 January 2021

Play Audio

Satu hal yang sungguh-sungguh menyedihkan adalah kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang sebenarnya masih ada di bawah bayang-bayang maut kebinasaan dan tertolak dari hadapan Tuhan, tetapi mereka tidak menyadari keadaan itu. Mereka merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus, sudah merasa sebagai anak-anak Allah, lalu sudah merasa sebagai orang Kristen yang memenuhi standar hak masuk Kerajaan Surga. Mereka memandang surga itu murahan, seakan-akan surga itu bisa dimasuki oleh orang-orang dengan kualitas mental anak-anak dunia. Pada dasarnya, mereka memiliki kualitas hidup yang juga tidak jauh dari anak-anak dunia, bahkan tidak jarang lebih buruk.

Mereka mengandalkan prinsip sola gratia; hanya oleh anugerah. Mereka juga memandang semua orang di luar Kristen dengan mudahnya masuk neraka, sedangkan dirinya pasti masuk surga. Padahal, bukan tidak mungkin kalau orang di luar Kristen—jika berbuat baik karena memang bukan umat pilihan, sehingga tidak dituntut sempurna, dan mereka dihakimi oleh perbuatan serta mengasihi sesama seperti diri sendiri—masuk ke dalam surga sebagai anggota masyarakat. Sedangkan orang-orang Kristen seperti ini, jangankan masuk sebagai anggota keluarga Kerajaan, jadi anggota masyarakat saja tidak. Dalam kehidupan sehari-hari, kita jumpai orang-orang Kristen yang jahat, bengis, duduk di kursi pemerintahan lalu korupsi. Menjadi aparat, tetapi tidak memenuhi tanggung jawabnya dengan baik pada bangsa dan negara. Tetapi yang lebih menyedihkan adalah orang-orang Kristen di lingkungan gereja yang saling menikam, konflik, saling membenci, merusak nama baik orang, memfitnah; mereka ada di lingkungan gereja, di lingkungan pelayanan, bahkan di lingkungan para pendeta, dan teolog yang bergelar.

Berbekal argumentasi dalam nalar, mereka yakin akan masuk surga. Padahal, sebenarnya sederhana saja ukurannya, yaitu apakah kita sudah melakukan kehendak Bapa atau tidak. Kita jangan merasa yakin masuk surga hanya karena kita adalah orang baik, sudah mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Jangan kita tertipu oleh diri kita sendiri karena kita sudah mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan, menjadi aktivis gereja, majelis, atau bahkan pendeta. Jabatan aktivis gereja, majelis, dan pendeta itu tidak otomatis membuat orang masuk surga. Sama sekali tidak menjamin seseorang masuk surga. Tetapi yang menjamin masuk surga adalah kurban Yesus di kayu salib yang direspons dengan benar, yaitu dengan melakukan kehendak Bapa.

Kalau tidak melakukan kehendak Bapa, seesorang tidak akan masuk surga atau masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Firman Tuhan jelas mengatakan: “Keluarlah kamu dari antara mereka, jangan menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu sebagai anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan” (2Kor. 6:17-18). Firman Tuhan tersebut menetapkan bahwa ada syarat. Dalam konteks ayat ini, syarat yang dimaksud adalah respons kita. Artinya, respons kita harus memenuhi standar respons yang benar, yaitu melakukan kehendak Bapa. Firman Tuhan juga mengatakan bahwa kita dipanggil bukan untuk melakukan apa yang cemar, siapa yang menolak ini menolak Allah. Di bagian lain, Firman Tuhan dalam 1 Petrus 1:16 mengatakan: “Kuduslah kamu sebab Aku kudus, sebab kalau kamu memanggil Allah itu Bapa yang menghakimi orang tanpa memkitang muka artinya perbuatanmu, hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia.” Kalimat yang lain mengatakan: “hendaklah kamu hidup dalam kekudusan, hanya orang-orang kudus yang melihat Allah,” itu Firman Tuhan jelas.

Banyak orang Kristen tidak mengerti hal ini atau tidak mau mengerti oleh karena ajaran yang keliru yang mengesankan masuk surga itu mudah. Ini yang menjadi masalah. Mereka berpikir masuk surga itu gampang, sehingga yang terjadi adalah tidak ada usaha untuk menjadi anak-anak Allah yang memenuhi standar hidup sebagai anak-anak Allah, yaitu Yesus sebagai modelnya. Usaha untuk berbuat baik sering ditanggapi atau dinilai sebagai tindakan yang keliru seakan-akan kita mau mencapai keselamatan dengan perbuatan baik, padahal bukan itu maksudnya. Bahkan, kita tidak akan pernah cukup dalam berbuat baik. Kita harus berjuang untuk menjadi sempurna, dan itu bukan usaha untuk mencapai keselamatan. Itu usaha untuk merespons keselamatan, karena tanpa respons itu, kita tidak pernah masuk surga sebagai anggota keluarga Kerajaan.

-----------------------------------------------

-----------------------------------------------------









 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)