Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 156403 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

February 20, 2021, 11:06:54 AM
Reply #3670
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28478
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/mengenali-keadaan-yang-sesungguhnya/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/20-FEBRUARI-2021-MENGENALI-KEADAAN-YANG-SESUNGGUHNYA.mp3



Mengenali Keadaan yang Sesungguhnya
20 February 2021

Play Audio

Satu hal yang harus menjadi pergumulan terbesar kita setiap hari adalah mengenali keadaan kita yang sesungguhnya di hadapan Tuhan. Dalam kalimat lain, orang biasa mengatakan “mengenal diri sendiri.” Seseorang yang memahami keberadaan dirinya akan melakukan tindakan konkret untuk memperbaiki keadaannya. Namun, jika seseorang tidak mengenal keberadaan dirinya dan memandang bahwa ia baik-baik saja, maksud keselamatan dalam Tuhan Yesus tidak dapat tercapai. Untuk itulah penting untuk mengetahui kebenaran tentang mengenali diri sendiri sebagai orang yang hidup dalam pengampunan Tuhan.

Pada Matius 21:31 tertulis, “Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal, akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.’” Kalimat ini merupakan kalimat kontroversial, sebab sangat bertentangan dengan pandangan orang-orang beragama pada masa itu. Dalam konsep mereka, pemungut cukai dan perempuan sundal adalah golongan orang yang tidak akan diterima dalam Kerajaan Allah karena dosa-dosa mereka. Sedangkan para rohaniwan seperti orang Farisi dan ahli Taurat akan terlebih dahulu masuk dalam Kerajaan Allah. Namun, ternyata Tuhan Yesus membalikkan logika ini dengan menyatakan bahwa pemungut cukai dan perempuan sundal yang mewakili kalangan orang berdosa akan terlebih dahulu masuk dalam Kerajaan Allah dibanding dengan orang Farisi dan ahli Taurat. Sesungguhnya, hal ini tidak menunjukkan bahwa orang berdosa lebih mudah masuk surga ketimbang orang yang tidak memiliki label sebagai orang berdosa. Perkataan ini hendak menunjuk pada sikap hati seseorang yang merasa diri perlu berubah di hadapan Allah. Pemungut cukai dan perempuan berdosa merasa dirinya berdosa dan mau menyelesaikannya di hadapan Allah dengan bertobat. Mereka mengenali dosa mereka atau keadaan mereka yang sesungguhnya di hadapan Allah, maka Tuhan bergaul dan menerima mereka. Sedangkan terhadap ahli Taurat dan orang Farisi, Tuhan sering kali mengecam mereka karena kemunafikannya. Diri mereka penuh dengan kejahatan, namun merasa tidak memiliki kejahatan yang harus diselesaikan.

Orang percaya harus mengenali keadaan diri yang sesungguhnya di hadapan Allah. Jabatan gerejawi seperti pendeta, aktivis, majelis, penginjil atau hamba Tuhan sering kali membuat orang percaya menjadi lengah, bahkan lupa dengan keadaan dirinya. Orang percaya yang memiliki jabatan gerejawi sering kali merasa telah memiliki citra atau brand image tertentu yang membuatnya dipandang lebih baik dibanding orang lain. Hal ini sebenarnya dapat membahayakan, sebab kita akan mudah terlena dengan citra tersebut. Padahal, keberadaan dan keadaan diri kita belum sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah. Kita yang seharusnya masih harus berbenah, malah tenggelam dalam brand image yang dilekatkan jemaat atau masyarakat umum kepada kita. Sesungguhnya, hal ini adalah halusinasi atau fantasi yang terjadi dalam diri orang percaya. Keadaan diri mereka masih buruk, namun merasa diri sudah baik karena pandangan orang lain.

-----------------------------------------------------------







February 20, 2021, 11:07:20 AM
Reply #3671
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28478
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

------------------------------------------------------------------

Hal serupa tidak hanya dialami oleh mereka yang memiliki jabatan gerejawi, namun juga setiap jemaat yang sudah merasa diri selamat ketika menjadi orang Kristen. Banyak orang Kristen yang sudah merasa selamat dengan menerima Tuhan Yesus pada saat dibaptis. Mereka berpikir bahwa setiap orang yang menerima Yesus sudah otomatis selamat atau masuk surga. Sesudah menerima Yesus, mereka menjalani hidupnya seperti biasa dan tenggelam dalam percintaan dunia. Sejatinya, mereka tidak mengerti tentang maksud sesungguhnya dari keselamatan. Keselamatan mengembalikan karakter manusia pada rancangan semula. Penerimaan akan Yesus melalui pengakuan dan baptisan adalah langkah awal untuk hidup di dalam Dia. Selanjutnya, seseorang harus mengenali keberadaan dirinya untuk kemudian diperbaiki oleh Allah melalui kebenaran dan peristiwa hidup. Jika seseorang sudah salah berpikir dengan konsep keselamatan yang otomatis, maka hal itu sangat berpotensi menghalangi seseorang masuk dalam keselamatan yang sesungguhnya. Oleh karenanya, setiap kita harus mengenali keberadaan diri kita hari ini di hadapan Tuhan. Apakah aku sudah berkenan? Bagaimana kalau hari ini aku berjumpa dengan Dia? Apakah Dia akan mengenaliku sebagai kekasih-Nya? Mengenal keberadaan diri kita dengan jujur merupakan awal untuk diubahkan oleh Tuhan. Seseorang yang merasa tidak perlu berubah, sesungguhnya orang yang tidak mengenal keberadaan dirinya.







February 21, 2021, 05:27:56 AM
Reply #3672
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28478
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/menyadari-kesalahan/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/21-FEBRUARI-2021-MENYADARI-KESALAHAN.mp3



Menyadari Kesalahan
21 February 2021

Play Audio

Sebagai orang percaya yang terus disempurnakan, kita harus bisa menyadari kesalahan kita. Menyadari kesalahan bukan hal yang sederhana. Menyadari kesalahan bisa menjadi hal sulit bagi sebagian orang karena mereka sudah terbiasa tidak mengakui kesalahannya. Mereka lebih senang merasa sudah baik dan tidak perlu dikoreksi. Hal ini bisa menjadi sangat berbahaya mengingat setiap manusia memiliki kerapuhannya masing-masing. Lantas, bagaimana kita bisa menyadari kesalahan kita?

Pertama, kita memang perlu menyadari betapa besar dosa kita. Dalam kisah seorang hamba yang berutang kepada tuannya, ia berutang sepuluh ribu talenta. Sepuluh ribu talenta di sini menunjuk pada angka yang sangat besar dan tidak mungkin dapat terbayarkan. Tuan tersebut pada akhirnya melepaskan hambanya tersebut dari jeratan utang tersebut. Sesungguhnya, hamba tersebut adalah gambaran setiap kita yang berutang kepada Tuhan dengan dosa-dosa kita. Namun dalam kebesaran hati-Nya, ia menerima dan mengampuni kita. Semua dosa manusia diampuni melalui kurban Yesus di kayu salib. Kita harus selalu mengingat bahwa kesempatan kita ada di hadapan Allah hanya karena kurban Yesus. Dengan mengingat ini, kita akan menyadari betapa besarnya dosa kita yang telah dihapuskan. Ketika seseorang menyadari dosanya yang besar telah dihapuskan, maka ia dapat dengan jujur mengakui dosa yang telah dilakukannya.

Kedua, bercermin kepada Tuhan. Seseorang yang dapat menyadari kesalahannya adalah mereka yang memahami standar yang benar. Standar kita adalah Tuhan sendiri, yakni apakah keberadaan kita saat ini telah seperti yang Tuhan inginkan? Lebih lanjut lagi, jika Tuhan hadir di dunia, apakah Dia seperti diriku? Jika ada bagian dalam hidup kita yang belum seperti yang Tuhan ingini, maka kita harus segera meminta ampun dan bergerak maju. Kesalahan yang kita lakukan semakin hari akan semakin berbeda. Kalau sebelumnya kita melakukan pelanggaran moral dan kesalahan-kesalahan yang seharusnya dapat dihindari orang di luar Tuhan, maka semakin kita melihat Tuhan sebagai standar, kesalahan kita akan berbeda bentuk. Kesalahan kita akan semakin mengerucut pada masalah-masalah batiniah dan permintaan ampun kita bukan hanya permasalahan pelanggaran hukum. Bila hal ini dilakukan secara konsisten dengan usaha yang sungguh, maka kita akan sangat peka terhadap kesalahan kecil sekalipun. Kita dapat menyadari kesalahan kita, mulai dari ucapan yang meleset, pemikiran yang tidak perlu, atau ketidaktepatan dalam hal lainnya yang bertalian dengan sikap batiniah.

Tidak ada seorang pun yang telah benar-benar bersih dari kesalahan. Kita semua adalah orang-orang yang dahulu memiliki masa lalu kelam. Namun hendaknya, setiap kita harus memiliki geliat yang sungguh akan kehidupan yang ideal di mata Tuhan. Kita harus sungguh memperkarakan perasaan Tuhan yang kita lukai setiap hari. Kesalahan sekecil apa pun harus segera kita selesaikan. Jangan terbiasa untuk menunda pertobatan, sehingga menumpuk dosa di hadapan Tuhan. Kita harus peka atau sensitif dengan perasaan Tuhan yang tidak nyaman dengan pikiran, perasaan, dan tingkah laku kita. Kita harus melihat “gunung dosa” yang selama ini hanya tampak permukaannya saja. Pada hati yang paling dalam, sebenarnya banyak kesalahan lain yang bersangkutan dengan kodrat dosa kita.

Untuk itu, kita harus memiliki kesadaran atas dosa kita telah diampuni oleh Tuhan. Kesadaran selanjutnya yang perlu dibangun adalah bagaimana membalas kasih Tuhan yang begitu besar dalam diri kita. Sesungguhnya, tidak ada satu hal apa pun di dunia ini yang dapat membalas kebaikan Tuhan. Namun apabila Tuhan memperkenan kita untuk mengubah kodrat menjadi seperti yang Ia inginkan, ini adalah sebuah kesempatan besar untuk memuaskan hati-Nya. Pengampunan-Nya memberikan peluang bagi kita untuk terus membenahi diri. Oleh sebab itu, jangan menyia-nyiakan kesempatan untuk membenahi diri selagi Tuhan masih bermurah hati kepada kita. Mari segera menyadari kesalahan yang telah kita lakukan dan berbalik pada arah yang dikehendaki-Nya.







February 22, 2021, 09:14:53 AM
Reply #3673
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28478
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/mengampuni-tanpa-syarat/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/22-FERBRUARI-2021-MENGAMPUNI-TANPA-SYARAT.mp3

Mengampuni Tanpa Syarat
22 February 2021

Play Audio

Ketika Tuhan mengatakan “Ampunilah kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami,” hal ini mengindikasikan suatu kemutlakan bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah. Pengampunan tersebut haruslah tanpa syarat. Mengampuni tanpa syarat memiliki beberapa makna. Pertama, tidak perlu menunggu orang meminta maaf kepada kita terlebih dahulu baru kita ampuni. Sering kali seseorang mengampuni dengan syarat orang yang bersalah tersebut harus meminta maaf terlebih dahulu, ditambah dengan cara tertentu. Pengampunan dalam standar Kekristenan tidak memandang apakah orang tersebut telah meminta maaf terlebih dahulu atau tidak. Kita mengampuni karena keberadaan kita sudah diubahkan Tuhan, sehingga sulit untuk tidak mengampuni.

Kedua, pengampunan tanpa syarat juga berarti tidak melihat besar kecilnya kesalahan dalam mengampuni. Banyak orang dapat mengampuni orang yang bersalah padanya dalam ukuran tertentu. Namun ketika sampai di satu level atau stadium, ia merasa sulit untuk mengampuni seseorang. Bahkan pada tahap tertentu, ada orang yang tidak bisa mengampuni kesalahan orang lain karena kesalahan tersebut dirasa sangat fatal dan melukainya. Sesungguhnya, pengampunan yang tanpa syarat merujuk pada kemampuan seseorang untuk melepaskan pengampunan tanpa terhalang besar kecilnya kesalahan yang dilakukan seseorang. Hal ini dapat tumbuh dari kesadaran seseorang ketika ia membandingkan kesalahannya yang banyak telah dihapus oleh Tuhan tanpa syarat.

Setiap kita harus berani mengampuni tanpa syarat. Artinya, sebesar apa pun kesalahan orang kepada kita, kita tidak memperhitungkannya dan tidak berniat untuk menghukumnya. Mengampuni berarti menyerahkan penghakiman, penghukuman, atau pembalasan di tangan Tuhan. Tentu yang tidak kalah penting, kita tidak mengharapkan mereka yang telah melukai kita itu mendapat celaka. Inilah standar orang percaya, yakni mengampuni orang tanpa syarat seperti yang Tuhan Yesus lakukan. Ketika seseorang mengampuni orang yang bersalah kepadanya tanpa syarat, sejatinya ia sedang melakukan perbuatan baik.

---------------------------------------

-----------------------------------------------








February 22, 2021, 09:19:57 AM
Reply #3674
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28478
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


---------------------------------------------------



Perbuatan baik yang dimaksud tidak sama sekali menggantikan keselamatan dalam Tuhan Yesus. Ketika seseorang berbuat baik dengan mengampuni tanpa syarat, hal ini menunjukkan bahwa ia melakukan perbuatan kasih dalam kehidupannya yang telah diperbarui. Keselamatan manusia dimulai dari salib. Salib adalah satu-satunya jalan menyelesaikan dosa. Dengan salib, maka tersedia pengampunan bagi seluruh orang percaya. Allah tidak bisa mengampuni tanpa sarana, maka Ia harus mengurbankan Putra Tunggal-Nya sebagai kurban tebusan bagi penebusan manusia. Tuhan Yesus bisa mengampuni kita pun karena ada tatanan, yaitu ketika Ia mati di kayu salib memikul dosa-dosa kita. Setelah ia mengurbankan nyawa-Nya, barulah Anak Manusia berhak mengampuni. Tetapi sebelum Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia mengatakan “dosamu telah diampuni,” bukan “Kuampuni.” Hal ini menunjukkan bahwa sebelum Yesus disalib, yang mengampuni adalah Allah Bapa, belum Tuhan Yesus. Dengan ini jelas tampak tatanan yang ada dalam diri Allah. Tuhan Yesus dan Bapa sendiri—yaitu Allah Bapa—bisa mengampuni kita pun karena melalui sarana atau mekanisme. Darah binatang tidak bisa menyucikan. Darah binatang hanya merupakan sebuah tindakan profetis; nubuatan mengenai darah sesungguhnya yang bisa menghapus dosa, yaitu darah Tuhan Yesus.

Pengampunan diberikan supaya orang yang diampuni bisa mengampuni. Jika seseorang tidak bersedia mengampuni orang lain, maka ia pun tidak diampuni. Dia menerima kebaikan Allah supaya dia bisa menjadi baik atau agar dia menjadi baik. Kalau dia tidak menjadi baik, maka kebaikan yang Allah berikan dibatalkan. Tuhan Yesus mengatakan berulang-ulang dalam beberapa Injil, “Kalau kamu tidak mengampuni saudaramu atau tidak mengampuni orang lain, Bapamu juga tidak mengampuni kamu.” Pengampunan ini menjadi simbol atau lambang dari karakteristik yang harus dimiliki pula oleh setiap orang percaya. Jika Allah memiliki karakteristik mengasihi dan mengampuni, maka hal itu harus dimiliki oleh orang percaya sebagai anak-anak-Nya.







February 23, 2021, 06:34:40 AM
Reply #3675
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28478
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/

https://www.rehobot.org/beranda_renungan/menderita-bersama-tuhan/

http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/23-FEBRUARI-2021-MENDERITA-BERSAMA-TUHAN.mp3


Menderita Bersama Tuhan
23 February 2021

Play Audio

Setiap orang percaya yang ingin disempurnakan seperti Yesus harus mengalami apa yang Yesus alami. Jika diilustrasikan dengan perlombaan kelas dunia, maka seseorang yang hendak memenangkan perlombaan tersebut harus memiliki kualitas kelas dunia. Jika seseorang ingin menjadi seperti Yesus, ia harus mengalami seperti yang dialami Yesus. Sama halnya dengan Paulus ketika ia berkata, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Paulus menyadari bahwa panggilan hidup seperti Yesus berarti turut serta dalam kematian-Nya. Seseorang yang hendak mengikut Tuhan Yesus harus mengalami apa yang Ia alami, sampai tahap kematian dari seluruh keinginan. Oleh karenanya, jika Tuhan diludahi, dipukul, difitnah, maka tidak heran apabila kita pun harus mempersiapkan diri menghadapi semua itu dari orang lain yang kita temui.

Tuhan mengajarkan kita apa yang Dia sendiri jalani. Di sinilah letak keagungan dari Kekristenan, yakni kita dapat menjalani apa yang Tuhan telah jalani. Firman Tuhan mengatakan begini, “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Mat. 5:38-39). Makna dari teks ini adalah jikalau seseorang berbuat kejahatan, kita tidak boleh membalasnya dengan kejahatan. Sebaliknya, kita dikehendaki untuk mengampuninya. Ketika seseorang mengasihi sesamanya dengan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, maka Tuhan katakan ia memancarkan watak anak Allah. Tuhan berkata, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga,” (Mat. 5:44-45). Jadi, keberadaan sebagai anak Bapa ditunjukkan dengan karakter yang sama dengan Tuhan Yesus, yakni mengasihi sesama dengan mengampuni.

Akan tetapi, suatu hal yang tidak dapat dibantah adalah mengampuni orang bukan saja bisa dilakukan oleh orang Kristen. Orang-orang yang beragama lain (misalnya filosofi suatu agama dari dataran Tiongkok) juga mengajarkan pengampunan, bahkan tidak membalas kejahatan musuh dengan kejahatan. Dalam agama Kejawen juga terdapat filosofi serupa yang mengajarkan penganutnya untuk mengalah. Filosofinya adalah ngalah luhur wekasani, yang artinya mengalah untuk menang. Hal ini menunjukkan bahwa di luar Kristen terdapat banyak pandangan yang luhur. Oleh karenanya, Kekristenan seharusnya memiliki kebenaran yang lebih dari itu karena kita memiliki standar untuk menjadi anak-anak Allah. Namun faktanya, tidak sedikit orang Kristen sulit mengampuni orang, bahkan ada yang sengaja melukai, menyakiti, merusak nama baik orang, dan memfitnah.

Sebab itu Tuhan berkata, “kamu juga harus mengampuni.” Tuhan menujukan ini kepada orang percaya sebagai hal yang harus diperjuangkan dengan sungguh. Tuhan tidak membuat seseorang dapat mengasihi atau mengampuni. Seakan-akan ketika menerima Tuhan Yesus, orang percaya langsung bisa mengasihi orang lain karena diubah hatinya oleh Tuhan. Kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengasihi setiap orang, baik mereka yang berpihak atau berlawanan dengan kita. Bagi mereka yang berlawanan dengan kita, hendaknya setiap kita mampu mengampuni mereka. Hal ini kita lakukan karena kesadaran kita sebagai anak-anak Allah yang harus mencerminkan pribadi Bapa kita. Jika kita tidak mengampuni orang lain, kita akhirnya tidak berkeadaan sebagai anak.

----------------------------------------------------









February 23, 2021, 06:35:09 AM
Reply #3676
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28478
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
---------------------------------------------

Dengan demikian, berkualitas seperti Yesus adalah sebuah kemutlakan. Kita harus bersedia mengalami apa yang telah dialami oleh-Nya. Mengalami apa yang dialami Tuhan berarti bersedia masuk dalam penderitaan untuk menjadi serupa dengan Dia. Paulus berkata, “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm. 8:17). Orang-orang yang telah dibenarkan oleh Tuhan diberi kesempatan untuk menjadi anak Bapa. Mereka yang berkesempatan menjadi anak Bapa ini adalah pewaris janji Allah dalam kekekalan. Namun, teks ini mengindikasikan bahwa hal tersebut tidak terjadi secara otomatis. Mereka yang dipanggil menjadi anak harus mengalami hal yang sama dengan yang dihadapi oleh Yesus, yakni masuk dalam penderitaan. Hanya dengan masuk dalam penderitaanlah setiap orang di dalam Tuhan dapat dimuliakan bersama dengan-Nya. Dalam konteks pengampunan, penderitaan dapat diartikan sebagai perasaan sakit atau tidak nyaman ketika mengampuni seseorang tanpa syarat. Hal ini harus kita gumuli dan hidupi dengan serius agar kita mengambil bagian dalam penderitaan bersama dengan Tuhan.









February 24, 2021, 05:00:56 AM
Reply #3677
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28478
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16



https://www.rehobot.org/beranda_renungan/


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/momentum-tuhan/


http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/24-FEBRUARI-2021-MOMENTUM-TUHAN.mp3



Momentum Tuhan
24 February 2021

Play Audio

Alkitab berkata bahwa setiap orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sebagaimana Paulus pun berkata, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Dalam hal ini, jelas bahwa seseorang dapat dituntut bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang diambil semasa hidupnya. Seseorang tidak bisa menimpakan ganjaran atas pilihan yang ia ambil semasa hidupnya kepada Tuhan. Oleh karenanya, sangat aneh atau absurd apabila ada orang berpikir bahwa ketika seseorang bisa berbuat baik dan berkenan, itu karena Tuhan yang membuatnya dapat demikian. Sesungguhnya, tidak ada satu pun oknum di luar diri manusia yang dapat membuatnya menjadi baik ataupun jahat. Manusia diberi kehendak bebas untuk menentukan nasibnya di bumi ini dan di kekekalan. Setiap pilihan individu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan pada hari penghakiman.

Dengan mengatakan hal ini, bukan berarti Tuhan sama sekali tidak peduli terhadap orang percaya atau Tuhan bersikap acuh terhadap umat-Nya. Tuhan adalah sosok Guru yang senantiasa mendampingi umat-Nya melalui kehidupan ini untuk sampai di rumah-Nya yang abadi. Dalam proses kehidupan kita menjadi berkenan, Tuhan menyediakan kairos atau momentum untuk mengubah orang percaya. Itulah sebabnya, dikatakan bahwa mengikut Yesus berarti belajar. Ada kesempatan atau momentum tertentu yang Tuhan sengaja hadirkan dalam hidup kita. Melalui kesempatan atau momentum tersebut, orang percaya hendak diajar untuk menyesuaikan dan mengubah diri sesuai yang dikehendaki-Nya. Dalam hal ini, orang percaya harus merespons pengalaman atau peristiwa yang Tuhan berikan dengan disiplin. Disiplin adalah sebuah pembiasaan yang ketat. Jadi, Tuhan tidak bisa mengubah kita tanpa proses. Maka dikatakan: “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan” (Rm. 8:28). Allah membutuhkan peristiwa, kejadian, dan momentum untuk bekerja dalam kehidupan manusia. Allah memiliki kairos untuk membentuk orang itu. Di sini respons individu sangat menentukan. Allah pasti memenuhi bagian-Nya, tetapi apakah seseorang merespons apa yang Allah berikan, itu sangat tergantung pada keputusan masing-masing individu.

Jangan dikesankan bahwa apa pun keadaan orang percaya, yang penting percaya saja. Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk kita dan kita sudah dibenarkan secara otomatis. Kepercayaan ini sesungguhnya adalah kepercayaan pada ranah akali yang kelihatannya dogmatis atau teologis, namun menyesatkan. Ajaran seperti ini tidak memiliki implikasi kuat untuk mengubah orang percaya. Keyakinan dalam pikiran tanpa mekanisme yang jelas membutakan mata orang percaya terhadap kebenaran. Sehingga mereka menjadi orang-orang yang merasa tidak bermasalah ketika menjadi wajar di mata dunia. Sesungguhnya, ajaran yang benar harus dapat dipraktikkan dalam kehidupan konkret dan berimplikasi pada perubahan hidup yang radikal.

Kebenarannya adalah setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya masing-masing. Tuhan memberikan momentum bagi setiap orang percaya sesuai dengan pergumulan dan kebutuhan untuk mengubah orang tersebut. Namun momentum tersebut harus direspons dengan benar oleh orang percaya dengan melakukan apa yang dikehendaki Allah. Jika dikaitkan dengan pengampunan, maka setiap kita harus hidup dalam keharmonisan sebagai anak-anak Allah yang telah ditebus dosa-dosanya. Kehadiran orang-orang yang melukai, memfitnah, melukai, merusak nama baik, atau membunuh karakter kita merupakan momentum yang Tuhan izinkan untuk mengubah kita.





February 25, 2021, 09:26:32 AM
Reply #3678
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28478
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/


https://www.rehobot.org/beranda_renungan/kepastian-dilukai/


http://truth.id/voice/wp-content/uploads/2021/01/25-FEBRUARI-2021-KEPASTIAN-DILUKAI.mp3


Kepastian Dilukai
25 February 2021

Play Audio

Dalam kalimat Doa Bapa Kami terdapat kalimat: “ampunilah kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Secara tersirat, terdapat sebuah indikasi bahwa pasti ada orang yang akan bersalah kepada kita. Frasa “seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami” merupakan pertanda jelas bahwa kehadiran orang yang melukai kita tidak dapat terhindarkan. Dengan kalimat yang Tuhan Yesus ajarkan dalam Doa Bapa Kami ini, pastilah kita akan mengalami keadaan dimana orang berbuat sesuatu yang menyakiti kita, merugikan kita, melukai kita, atau paling tidak, melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan. Sebenarnya kalimat ini secara tidak langsung pula hendak menunjukkan bahwa pengampunan bisa diberikan kepada orang yang layak diampuni. Sepintas, hal ini terdengar melanggar prinsip sola gratia; hanya oleh anugerah. Bahwa keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita merupakan anugerah, artinya pemberian tanpa melihat kelayakan kita yang menerima pemberian itu. Hal ini menyiratkan orang percaya tidak harus memenuhi syarat tertentu dan tidak harus membayarnya karena pemberian cuma-cuma. Untuk memahami hal ini, kita harus melihat kebenaran secara utuh.

Pertama, kita harus mengerti apa itu keselamatan. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan semula. Jadi kalau seseorang tidak sampai pada proses pembaharuan atau dikembalikan ke rancangan semula, berarti keselamatan itu gagal. Rancangan semula Allah itu adalah manusia agung yang modelnya adalah Tuhan Yesus. Jadi, ciri atau tanda dari orang yang diselamatkan adalah memiliki kehidupan yang modelnya adalah Tuhan Yesus. Untuk ini, seseorang harus memberi diri untuk diubah. Diubah dalam perjalanan proses pertobatan atau perubahan pikiran. Kalau orang tidak bersedia mengalami proses pembaharuan pikiran, berarti dia menolak untuk selamat; atau sama dengan “ia tidak percaya.” Sebab, percaya adalah tindakan, bukan hanya keyakinan akali semata. Contoh terbaik untuk menjelaskan tentang iman atau percaya adalah Abraham yang disebut bapa orang percaya. Kehidupannya menunjukkan dengan jelas bahwa seorang yang percaya kepada Tuhan adalah seorang yang bertindak.

Jikalau seseorang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, ia harus mau diubahkan. Tuhan berkata, “kalau kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak masuk surga” (Mat. 18:3). “Bertobat” artinya berbalik. Kata “anak” diterjemahkan dengan paidion, yakni usia efektif untuk dididik dan dibentuk. Jelas bahwa seseorang yang bertobat harus mau dididik dan dibentuk ulang oleh Tuhan. Pertobatan bukan sekadar tindakan pemutihan dosa seseorang, melainkan komitmen untuk diubah dan dibentuk. Seolah-olah dengan bertobat seseorang dapat melakukan apa yang dikehendakinya lagi semaunya. Sesungguhnya pertobatan membawa pada perubahan dalam diri orang percaya. Menolak berubah atau dibentuk oleh Tuhan sama dengan menolak untuk diselamatkan.

Percaya atau tidaknya seseorang kepada Tuhan, tidak digerakkan oleh Tuhan. Jika seseorang dapat percaya kepada Tuhan, hal ini berangkat dari kesadaran orang tersebut. Jika seseorang sudah percaya kepada Tuhan, maka apakah percayanya sekadar pada pengaminan akali atau sungguh-sungguh dibuktikan dalam tindakan nyata, juga merupakan pilihan dari orang tersebut. Tuhan tidak menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Sebab, jika ada orang yang Tuhan arahkan untuk percaya dan memiliki iman yang benar sedangkan yang lain tidak, maka Tuhan adalah jahat. Tuhan menjadi baik bagi sebagian orang yang diselamatkan, namun menjadi jahat bagi mereka yang terbuang.

----------------------------------------------------------







February 25, 2021, 09:27:03 AM
Reply #3679
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 28478
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

--------------------------------------------------------

Orang yang merespons keselamatan dengan benar, artinya mereka yang percaya ditandai dengan tindakan. Percaya merupakan sebuah proses panjang sampai dapat benar-benar hidup dalam kehendak-Nya. Jika dikaitkan dengan kepastian dilukai, maka seseorang yang tahu bahwa Tuhan bekerja dalam segala perkara akan menyiapkan dirinya menghadapi apa pun, termasuk kehadiran mereka yang melukainya. Tidak ada seorang pun yang tidak pernah terluka dalam hidup ini. Itulah sebabnya, Tuhan mengingatkan orang percaya: “ampunilah kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Karena setiap orang yang ada di dalam Tuhan tidak terluput dari luka yang dapat ditimbulkan oleh orang lain. Hendaknya dengan mengetahui ini, kita dapat semakin dapat menerima dan menyambut sesama kita. Perlu diingat bahwa tidak pernah ada orang dengan sengaja dan berencana jauh-jauh hari untuk melukai kita. Semua orang memiliki cacat karakter yang membuatnya dapat melukai orang lain.







 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)