Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 103642 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 22, 2013, 04:05:21 AM
Reply #40
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/christian-faith-vulnerability

Quote
Vulnerability of Christian Faith

selasa, January 22

Bible in a year: Genesis 38-40

The situation of  today’s World is described by Jesus in Luke 17: 26-30. People were eating and drinking and marrying and being given into marriage, until the day when Noah entered the ark, and the flood came and destroyed them all. Likewise, this was also life in the days of Lot: they ate and drank, they bought and sold, they planted and built. But on the day Lot went out of Sodom came fire and brimstone from heaven and destroyed them all. Such is the case later in the day, when the Son of Man revealed Himself. What was raised by the Lord Jesus portrays human life today. Today, people are generally stuck in routine activities, as if the course has no end. In reality, the end of the road can be found at any time. One should not only look at the end of time as the end of his life, for he can pick up sickness, accident and death at any time. That’s the end of his time. Many people fall asleep through the routine of life without realizing that the day of the Lord (his death) could come at any time like a noose. Right now we live in the end times. The situation could change at any time. This is what the Lord Jesus mentioned as the day of the Son of Man. As prophesied by Daniel, the history of the world will end when the end times are described as legs made of soil and iron.

The course of history was depicted with the vision as the statue shown by God to Nebuchadnezzar in the 6th century BC. The statue was the head of gold, arms and chest of silver, belly and waist of bronze, thigh of iron, legs and fingers partly of iron and partly of clay. Head of gold symbolized the Babylonian empire (606 sm), chest and arms of silver symbolized the Persian Media kingdom (539 sm), stomach and waist of copper represented the kingdom of Greece (331 sm), thighs of iron symbolized the Western and Eastern Roman Empire (64 sm ), and finally legs and fingers partly of iron and partly of clay symbolize the countries in the world today; some are strong and others are weak. Now is the time of the leg. When the Bible speaks of the end times, the real issue is not just a matter of the momentous coming of the Lord (parousia), but the Bible reminds us that the  world’s situation of the end times is very vulnerable to the Christian faith. The World is lulled by routine activities so that humans are not prepared to enter their eternal homes. Many people are reaped by the powers of darkness. Therefore, we must become sober.

The Bible indicates that the world’s atmosphere of the end times

makes the Christian faith very vulnerable.
January 22, 2013, 04:10:12 AM
Reply #41
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/rawan-bagi-iman-Kristen

Quote
Semakin Rawan Bagi Iman Kristen

selasa, January 22nd, 2013

Alkitab dalam setahun: Kejadian 38-40

Suasana dunia hari ini digambarkan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 17: 26-30 manusia makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan
membinasakan mereka semua. Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot pergi keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua.
Demikianlah halnya kelak pada hari, di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya. Apa yang dikemukan oleh Tuhan Yesus ini gambaran kehidupan manusia hari ini. Hari ini pada umumnya manusia terjebak dalam kegiatan rutinitas, seakan-akan jalannya tiada ujung. Pada hal ujung jalan itu bisa ditemui setiap saat. Hendaknya seseorang tidak hanya melihat akhir jaman sebagai akhir hidupnya, tetapi sakit penyakit, kecelakaan dan kematian bisa menjemput setiap saat. Itulah akhir jamannya.
Banyak orang terlena dengan rutinitas hidup tanpa menyadari bahwa hari Tuhan (hari kematiannya) bisa datang setiap saat seperti jerat. Sekarang ini kita hidup diujung akhir jaman. Keadaan bisa berubah setiap saat. Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus sebagai hari Anak Manusia.
Seperti yang dinubuatkan oleh Daniel bahwa sejarah dunia akan diakhiri ketika akhir jaman digambarkan seperti kaki yang terbuat dari tanah dan besi.
Perjalanan sejarah dunia digambarkan dengan penglihatan sebuah patung yang ditunjukkan Tuhan kepada Nebukadnesar pada abad 6 SM. Patung tersebut kepalanya dari emas, lengan dan dadanya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga, pahanya dari besi, kaki dan jari-jari sebagian dari besi dan sebagian dari tanah liat. Kepala emas melambangkan pemerintahan kerajaan Babel (606 sm), dada dan lengan dari perak
melambangkan kerajaan Media Persia (539 sm), perut dan pinggang dari tembaga melambangkan kerajaan Yunani (331 sm), paha dari besi melambangkan kerajaan Romawi Barat dan Timur (64 sm), akhirnya kaki dan
jari-jari sebagian dari besi dan sebagian dari tanah liat melambangkan negara-negara di dunia hari ini, ada yang kuat dan ada yang lemah.
Sekarang inilah jaman kaki itu. Kalau Alkitab berbicara mengenai akhir jaman, yang dipersoalkan sejatinya bukan hanya masalah momentum kedatangan Tuhan (parousia), tetapi Alkitab hendak mengingatkan kepada kita bahwa suasana dunia akhir jaman sangat rawan terhadap iman Kristen. Dunia dibuat terlena oleh berbagai kegiatan rutin sehingga manusia tidak mempersiapkan diri memasuki rumah abadinya.
Banyak manusia dituai oleh kuasa kegelapan. Oleh sebab itu kita harus siuman.

Alkitab menunjukkan bahwa suasana dunia akhir jaman
membuat iman Kristen menjadi semakin sangat rawan.
January 23, 2013, 04:30:55 AM
Reply #42
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/estuary-of-life

Quote
Estuary of Life

rabu, January 23

Bible in a year: Genesis 41-42

How ignorant it is that a lot of people these days are only busy doing a variety of activities, whereas  they are just waiting for death to come. They do not realize that they are heading toward an estuary of the sea of ​​eternity. Like an object floating in a river, carried by currents toward the sea. That current is a reality that cannot be avoided. People are busy eating and drinking, marrying and being given in marriage without realizing that they are being dragged into an ocean of eternity. In facing a dreadful eternity, there is only one shelter, God of heavens and earth, the God of Israel, the God of Abraham, Isaac and Jacob. The Father provides salvation in Jesus Christ. That is why we deal with God to question what provisions we should take before we get into eternity. Certainly it is not gold and silver, wealth, position, rank and honor. The provision is a life that is acceptable and pleasing to Him. This is about the attitude, every word we speak and every action.

To this date, many people felt they have normal lives with the result that they feel comfortable with their conditions. Whereas in the eyes of God, their lives have not been pleasing to Him. This happens because they do not try to understand God’s judgement towards them. More important is how he is honored and respected in the eyes of men, how to have what others have and how to satisfy all his desires. And they feel entitled to live that way. These are the people who walk in the dark. If they are Christians, they feel they have been good Christians with all the spiritual activities they have been involved in at church. Whereas a spiritual activity is not a measurement of pleasing God. Pleasing God is a very heavy struggle; besides mystery, it is also quite contrary to our human desires. To achieve this level we cannot make this a side business. We have to stake our life without limits. Our life will be confiscated by the struggle in order to please God. All activities should be directed toward this project that has infinite values. Learning how to please God will become a permanent rhythm of life until eternity. This is witnessed by Paul that he made it his aim to please Him whether he was at home in the body or away from it (2 Corinthians 5:9). Days of our life should be filled with earnest efforts to have peace with God.

People are busy eating and drinking, marrying and given in marriage without realizing that they are dragged into the wide ocean of eternity.
January 23, 2013, 04:36:47 AM
Reply #43
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/muara-kehidupan

Quote
Muara Kehidupan

rabu, 23 Januari 2013

Alkitab dalam setahun: Kejadian 35-37

Betapa bodohnya banyak manusia hari ini yang kelihatannya sibuk melakukan berbagai aktifitas, pada hal mereka hanya sedang menunggu kematian yang menjemput. Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang menuju suatu muara yaitu lautan kekekalan. Seperti benda yang mengapung di suatu sungai yang sedang terbawa arus menuju laut. Arus tersebut merupakan realitas yang tidak bisa dihindari. Orang sibuk makan dan minum, kawin dan dikawinkan tanpa sadar bahwa ia sedang diseret kelautan luas kekekalan. Menghadapi kekekalan yang dahsyat itu hanya ada satu perlindungan, yaitu Tuhan semesta alam, Allah Israel, Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Bapa menyediakan fasilitas keselamatan dalam Tuhan
Yesus Kristus. Itulah sebabnya kita berurusan dengan Tuhan untuk mempersoalkan bekal apakah yang harus kita bawa sebelum sampai ke muara itu. Tentu saja bukan emas dan perak, kekayaan dan kedudukan, pangkat dan kehormatan. Bekal itu adalah kehidupan yang diperkenan-Nya. Hal ini menyangkut sikap hati, setiap perkataan yang kita ucapkan dan semua perbuatan.
<p>Selama ini banyak orang merasa sudah hidup wajar sehingga merasa nyaman dengan keadaannya. Pada hal kalau keadaan hidupnya dinilai dengan kacamata perkenanan Tuhan, ia belum berkenan di hadapan Tuhan. Hal ini terjadi sebab mereka tidak berusaha untuk mengerti apa penilaian Tuhan terhadap dirinya. Yang lebih dipersoalkan adalah bagaimana dirinya terpandang dan terhormat di mata manusia, bagaimana memiliki apa yang orang lain miliki dan bagaimana memuaskan segala keinginannya. Dan mereka merasa berhak untuk hidup dengan cara itu. Inilah orang-orang sesat atau berjalan dalam kegelapan. Kalau mereka orang Kristen, mereka merasa sudah cukup baik sebagai orang Kristen dengan segala kegiatan rohani yang telah dilakukan. Pada hal, kegiatan rohani belumlah menentukan ukuran perkenanan di hadapan Tuhan. Berkenan di hadapan Tuhan adalah suatu pergumulan yang sangat berat, sebab selain abstrak juga sangat bertentangan dengan hasrat manusiawi kita. Untuk mencapai level ini seseorang tidak bisa menjadikan usahanya sekedar sambilan. Ia harus mempertaruhkan segenap hidupnya tanpa batas. Hidupnya akan disita oleh pergumulannya untuk menjadi berkenan di hadapan. Seluruh kegiatan seharusnya diarahkan untuk proyek berharga ini yang nilainya tak terhingga. Irama hidup belajar hidup berkenan kepada Allah menjadi irama hidup yang permanen sampai kekekalan. Inilah yang disaksikan oleh Paulus bahwa ia berusaha, baik diam di dalam tubuh ini, maupun diam di luarnya, supaya berkenan kepada-Nya (2 Kor. 5:9). Hari-hari hidup ini
harus sungguh-sungguh diisi dengan usaha berdamai dengan Tuhan.

Orang sibuk makan dan minum, kawin dan dikawinkan
tanpa sadar bahwa ia sedang diseret ke lautan luas kekekalan.
January 24, 2013, 04:59:14 AM
Reply #44
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/god-doesnt-recognize

Quote
Apparently God Doesn’t Recognize

January 24

Bible in a year: Genesis 43-45

Many people live their lives like people who are relaxing, rowing a boat on a river, following the flow of the river as if the situation remains the same and unchanged. They behave as if the river has no end. Until one moment they realize that there are very high rapids in front of them. They try to avoid it and stay away but the flow of the river is too strong, so strong that they are not able to control their boat. Finally, they can only surrender. What a horrible situation to have no more chances to avoid such a circumstance. But actually, the situation is experienced by many people today. When the days become limited because of an illness or accident and old age, the physical health will “drop” at a high speed, while they are not ready to face the Creator who gives life that should be used to please Him. Because there is no rhythm of life pleasing to God, death will be a terrible trap. They are not aware of how terrible it is to be unprepared to face death and die one day.

There are some people facing death with tremendous fear and horror since they are not ready to face the Creator. But some are not too afraid, because they never really understand the standards by which human beings should live for His presence. They proudly welcome death, but they don’t know that when they die they have to give their responsibilities in front of God. How terrible will it be if it turns out that God does not recognize them as people who delight the heart of God? That’s because all their lives, they simply look for their own pleasure. They feel entitled to such a way of life. They do not try hard to be “enjoyed by God”. Therefore, beware that we do not get caught up in such circumstances. We have to start learning and doing what Paul did, as he tried to please God, because he knows that everyone must face the judgment of God (2 Corinthians 5:9-10). If a Man like Paul tried to please God, then we should do the same thing. The flow of the river of life continues to drag us into the estuary or rapids that will surely throw this boat of life. While we are headed into an estuary of life for eternity we have to prepare ourselves to meet our Creator. Therefore, we must learn to fear the Lord because we respect and love God. There should not be anything that makes us lessen our love and respect God, and we should live only for him.

How terrible it is for someone not to be recognized by God as a person who pleased God.
January 24, 2013, 05:03:28 AM
Reply #45
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/ternyata-tidak-dikenal-allah

Quote
Ternyata Tidak Dikenal Allah

January 24th, 2013

Alkitab dalam setahun: Kejadian 43-45

Banyak orang yang berkeadaan seperti orang yang sedang santai bermain perahu dayung di sebuah sungai, mengikuti aliran sungai seakan-akan keadaan tetap sama tidak berubah. Ia bersikap seakan-akan sungai
tersebut tidak ada ujungnya. Sampai suatu saat ia baru sadar bahwa di depannya ada jeram yang sangat tinggi. Ia berusaha untuk menghindarkannya untuk menjauh tetapi aliran sungai menjadi arus yang
semakin kuat, sangat kuat sampai ia tidak sanggup menguasai perahunya. Akhirnya ia hanya bisa pasrah saja. Betapa mengerikan situasi itu. Tidak ada lagi kesempatan untuk dapat menghindarkan diri dari keadaan
tersebut. Sebenarnya keadaan ini dialami oleh banyak orang hari ini. Ketika hari hidupnya semakin sempit oleh karena suatu penyakit atau kecelakaan dan usia, fisik akan semakin "drop" dengan kecepatan yang tinggi. Sementara ia tidak siap menghadap Sang Pencipta yang memberikan hidup yang seharusnya digunakan untuk belajar berkenan kepada-Nya. Karena tidak memiliki irama hidup berkenan kepada Tuhan maka kematian akan menjadi jerat yang mengerikan. Ia tidak akan menduga betapa mengerikan dalam keadaan tidak siap menghadapi kematian tetapi harus mati.

Ada yang menyongsong maut dengan ketakutan dan kengerian yang dahsyat sebab ia merasa tidak siap menghadap Penciptanya. Tetapi ada pula yang tidak terlalu takut, karena tidak pernah mengerti bagaimana standar hidup benar yang seharusnya dimiliki manusia di hadapan-Nya. Dengan gagahnya ia menyongsong maut, pada hal di balik kematian ia harus memberi pertanggung jawaban. Betapa mengerikan kalau ternyata di hadapan Tuhan ia tidak dikenal, artinya tidak diakui sebagai pribadi yang menyukakan hati Tuhan. Hal itu disebabkan karena sepanjang hidupnya ia hanya hanya mencari kesukaan bagi dirinya sendiri. Ia merasa berhak dengan cara hidup demikian itu. Ia tidak bersungguh-sungguh bergumul untuk bisa "dinikmati oleh Tuhan". Oleh sebab itu, diperingatkan, agar kita jangan sampai terjebak dalam keadaan seperti itu. Kita harus mulai belajar seperti yang dilakukan oleh Paulus bahwa ia berusaha berkenan kepada Tuhan, sebab ia tahu bahwa setiap orang harus menghadap tahta pengadilan Allah (2 Kor. 5:9-10). Kalau seorang sekaliber Paulus
berusaha berkenan, betapa kita harus berbuat hal yang sama. Sementara kita menuju muara kehidupan ini yaitu lautan luas kekekalan kita mempersiapkan diri untuk bertemu Sang Pencipta kita. Oleh sebab itu kita harus belajar takut terhadap Tuhan, takut karena menghormati dan mengasihi Tuhan. Tidak boleh ada sesuatu hal yang membuat kita kurang mengasihi dan menghormati Tuhan, yang hanya bagi-Nya kita harus hidup.

Betapa mengerikan kalau ternyata di hadapan Tuhan seseorang tidak dikenal,
artinya tidak diakui sebagai pribadi yang menyukakan hati Tuhan.

January 25, 2013, 04:40:52 AM
Reply #46
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/pleasing-god-only

Quote
January 25

Bible in a year: Genesis 46-47

Life becomes really beautiful, every second and minute is amazing, when we meditate the presence of God around us and live the life through which we are pleasing to God. We are in knowledge that there are no mistakes we did. For that we have been aware of everything that we think, say and do does not grieve the heart of God. Every day the Lord will be more real in life. Every day we feel that we need God and God is the only thing we need in life. Trying to please God and find a place in the presence of God is the highest quality of life. While we do various activities, we appreciate the presence of God and want to serve Him. Glorifying God means that everything we do is pleasing His heart (1 Cor 10:31). Life should be filled with this and that is the purpose that God created human beings. No creature can do this, except humans. Therefore, how great is a man. Entering this way of life we ​​have started to feel the atmosphere of eternity in our souls. We can feel that this world is not our home. Sin will be resented and if we have done something wrong, we will be very disturbed and try to stay away from anything that is contrary to the will of God. God’s love will be burning inside us. The beauty of this world will fade in our eyes. The willingness to sacrifice for the work of the Lord is greater, until we do not put limits on it anymore. Eventually death will be awaited and desired, because death is a bridge for us to be glorified with Jesus. These are the lovers that God is waiting for in His Kingdom.

People who do not grow properly in the Lord will not understand this, because they measure everything by their own experience, which is poor and shallow. If one live according to his own will, and does not care whether he pleases or grieves the heart of God, then he will not understand the presence of God. God does not seem real anymore in his everyday life. He does not feel the need of God, even when on the point of death he does not care anymore. His heart is bound with the world. He does not have the burden to love others properly. He never feel the peace of God. Eventually he is lost and will perish.

Glorifying God means everything we do is pleasing His heart
January 25, 2013, 04:42:14 AM
Reply #47
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/kesukaan-hati-tuhan

Quote
Hanya Untuk Kesukaan Hati Tuhan

January 25th, 2013

Alkitab dalam setahun: Kejadian 46-47

Hidup ini benar-benar menjadi indah, setiap detik dan menit menjadi luar biasa, ketika menghayati kehadiran Tuhan di sekitar kita dan menghayati bahwa kita sedang hidup berkenan kepada-Nya. Kita dalam
kesadaran penuh bahwa tidak ada kesalahan yang kita lakukan. Untuk itu kita harus terus menerus dalam kewaspadaan bahwa semua yang kita renungkan dan pikirkan, semua yang kita ucapkan dan lakukan tidak
mendukakan hati Tuhan. Semakin hari Tuhan akan semakin nyata dalam hidup. Semakin hari semakin merasa membutuhkan Tuhan dan Tuhan menjadi satu-satunya kebutuhan lebih dari segala hal. Usaha untuk berkenan atau menemukan tempat di hadapan Tuhan guna menyukakan hati-Nya adalah kehidupan yang berkualitas paling tinggi dan mulia.Sementara kita melakukan berbagai kegiatan, kita menghayati kehadiran Tuhan dan
kebersamaan dengan Dia untuk melayani perasaan-Nya. Memuliakan Tuhan artinya segala sesuatu yang dilakukan menyukakan hati-Nya (1 Kor.10:31). Sebenarnya inilah maksud tujuan Allah menciptakan makhluk manusia. Tidak ada makhluk yang bisa melakukan hal ini, kecuali manusia, betapa agungnya menjadi manusia itu. Memasuki kehidupan dengan cara ini kita sudah mulai bisa merasakan atmosfir kekekalan dalam jiwa kita. Kita makin bisa merasakan bahwa dunia ini bukan rumah kita. Dosa akan semakin dibenci, apabila berbuat salah maka jiwa akan sangat terganggu sehingga berusaha menjauhi setiap hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kecintaan kepada Tuhan akan semakin membara. Keindahan dunia ini semakin
 pudar dimata kita. Kesediaan berkorban bagi pekerjaan Tuhan semakin besar, sampai kita tidak memberi batas lagi. Akhirnya kematian akan menjadi saat yang ditunggu dan menggairahkan, sebab kematian merupakan jembatan menuju kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. Inilah kekasih-kekasih Tuhan yang dinantikan Tuhan di Kerajaan-Nya.Orang yang tidak bertumbuh dalam Tuhan secara benar tidak akan bisa
mengerti hal ini, sebab ia mengukur segala sesuatu dengan pengalaman dirinya yang miskin dan dangkal. Kalau seseorang hidup sesuka hatinya sendiri, tidak serius mempersoalkan langkah hidupnya setiap saat apakah menyukakan hati Tuhan atau mendukakannya, maka ia tidak akan menghayati kehadiran Tuhan. Semakin hari Tuhan semakin tidak nyata dalam hidupnya. Ia semakin tidak merasa membutuhkan Tuhan, bahkan ketika di ujung maut ia tidak peduli lagi keselamatan jiwanya. Hatinya telah terikat percintaan dunia. Ia tidak memiliki beban untuk mengasihi sesama dengan benar. Ia tidak pernah merasakan damai sejahtera Allah. Akhirnya terhilang. Binasa.

Memuliakan Tuhan artinya segala sesuatu yang dilakukan menyukakan hati-Nya.
January 26, 2013, 04:16:23 AM
Reply #48
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/full-measurement

Quote
Full Measurement

sabtu, January 26

Bible in a year: Genesis 48-50

Ideally, in Christian life, what matters is not whether we give a lot or a little, but whether we give all (full) or not at all. This principle is absolute. This principle should not be ruined or taught by any of the teaching methods who gives to the Lord with percentages and expects to have double returns from God. This false teaching enriches the church, but teaches people to give some and become rebellious. They do not become redeemed sons. It should be noted that there is no partial redemption; redemption is full or whole. This means a person who receives His redemption must accept that he does not have his own self anymore. Those who do not understand this assumes that by giving tithes they have done their obligations to God. Especially if they give more than a tithe, they feel that they have pleased God’s heart. The true obligation that must be met is to break away from all that we own for the Lord, like a prisoner who is not entitled to himself at all. We have been redeemed by God, and must earnestly live in the captivity of His Spirit.

If you have a thousand and you give a hundred for the Lord, that is very little. Even giving nine hundred is still little, or giving everything is not necessarily true. Because it does not mean anything by giving the whole without love, not one bit does any good (1 Cor 13:3). Why is that? It is not measured by the number but with the right heart and attitude that is pleasing to God and done according to God’s attitude. For God is love, so all things that are not according to God’s thought and feeling is not love. So if you want to give to the Lord and still count percentages, especially expecting a return, then certainly it’s not an act of love. With this statement, it does not mean we are free from putting aside our money for the use of His work. We must glorify God with our possessions, but with guidance of the Holy Spirit, so that everything we do is according to God’s will. Remember we are the cashier; the cashier is not the owner. The cashier just manages the money that belongs to the employer in accordance with the discretion of the employer or the employer’s wishes. How ridiculous it is if a cashier hands over money to the employer as if he gives it away, and expects the money to multiply. Remember, all our lives belong to God, even the smallest particles that exists in us.

Whole is not measured by the number but by the right hearts according to God’s thoughts and feelings.
January 26, 2013, 04:20:59 AM
Reply #49
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20198
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/ukuran-sepenuhnya

Quote
Ukuran Sepenuhnya

sabtu, January 26th, 2013

Alkitab dalam setahun: Kejadian 48-50

Idealnya dalam hidup Kekristenan yang dipersoalkan bukan apakah kita memberi banyak atau sedikit, tetapi apakah kita memberi semuanya (sepenuhnya) atau tidak sama sekali. Prinsip ini mutlak sekali.
Hendaknya prinsip ini tidak dirusak atau dipahami salah oleh ajaran memberi bagi Tuhan dengan prosentase apalagi iming-iming dikembalikan lipat ganda oleh Tuhan. Ajaran yang salah ini memang memperkaya gereja,
tetapi mendidik umat memberi sebagian dan menjadi pemberontak. Mereka menempatkan diri bukan sebagai anak tebusan. Harus dicatat, bahwa tidak ada penebusan sebagian, tetapi penebusan sepenuhnya atau seluruhnya. Ini berarti seorang yang menerima penebusan-Nya harus menerima bahwa ia
tidak memiliki dirinya sendiri lagi. Mereka yang tidak mengerti kebenaran ini menganggap kalau sudah memberi persepuluhan berarti sudah membayar kewajibannya kepada Tuhan. Apalagi kalau memberi lebih dari persepuluhan, maka menganggap bahwa dirinya sudah memuaskan hati Allah. Kewajiban yang harus dipenuhi adalah melepaskan diri dari segala miliknya bagi Tuhan. Seperti seorang tawanan yang tidak berhak sama sekali atas dirinya. Kita telah ditebus oleh Tuhan, maka kita harus benar-benar hidup dalam tawanan Roh-Nya.

Kalau anda memiliki seribu, memberi seratus bagi Tuhan itu sangat kecil, bahkan sekalipun memberi sembilan ratus juga masih kecil, atau memberi semuanya belum tentu benar. Sebab apa artinya memberi seluruh
harta bila tanpa kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya (1 Kor. 13:3).Mengapa demikian? Sepenuhnya tidaklah diukur dengan jumlah tetapi dengan sikap hati yang berkenan di hadapan-Nya, dan yang berkenan adalah
 yang melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Allah adalah kasih, segala tindakan yang tidak sepikiran dan seperasaan dengan Allah bukanlah kasih. Jadi kalau berurusan dengan Tuhan, yaitu hendak memberi persembahan masih berhitung prosentase, apalagi karena mau mendapat pengembalian lipat ganda, itu bukan tindakan kasih. Dengan pernyataan ini bukan berarti kita merasa terbebas dari menyisihkan harta yang ada pada kita bagi pekerjaan-Nya. Kita harus memuliakan Allah
dengan harta kita, tetapi dalam pimpinan ROH KUDUS, sehingga sesuai dengan kehendak Tuhan. Ingat kita adalah kasir, kasir bukanlah pemilik. Kasir hanya mengelola uang milik majikan sesuai dengan kebijaksanaan
atau keinginan sang majikan. Betapa konyolnya kalau seorang kasir menyerahkan uang kepada majikannya seakan-akan dia memberi, apalagi mengharapkan pengembalian lipat kali ganda. Ingat, segenap hidup kita
milik Tuhan bahkan partikel paling kecil yang ada pada kita.

Sepenuhnya tidaklah diukur dengan jumlah tetapi dengan
sikap hati yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)