Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 99804 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 27, 2013, 04:18:13 AM
Reply #50
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/the-appropriate-appreciation

Quote
The Appropriate Appreciation

minggu, January 27

Bible in a year: Matthew 1-4

One’s lifestyle is influenced by the way they reward or value things, because how much value is given to things determines a person’s lifestyle. Since a child opens his eyes, the world around him has shown and taught how to reward or value all things. All things include honor, wealth, rank, title, jewelry, feeling, appearance, and so forth. Thus, since childhood the person has been trained to have such a lifestyle like his surrounding. Nowadays we live in an economic order that stimulates and encourages people to shop or have what others have. Almost all men are misled by this philosophy of life. The appreciation or the value given in general to everything is as if we must give the same value as well. Whereas humans have fallen, lost the glory of God and do not know Him. This causes many people to value everything disproportionately. As it can be seen, in general, humans give high value for worldly things, but for spiritual things or God Himself and His Kingdom are ranked very low. Without realizing, many Christians are still under the influence of this world. The way they value or appreciate things follows the standard reference of the value set by the wicked world around them. This causes believers to be shackled with the result that they cannot grow in spiritual maturity like Christ.
The values set by the world requires a person to have the rhythm of life as worldly children. How difficult it must be to lower these standards or values because they are ingrained; it seems impossible to be able to change. In this case we understand why Lot’s wife looked back because she still gave value to goods left in Sodom.  Similarly most of the Israelites in the wilderness still remembered the comfort of living in Egypt, so they murmured. Another example is the rich man who wanted eternal life, but did not dare sell his entire wealth to be distributed to the poor because he loved his possession (Matt. 19:21-23). Believers must put all things in proportion; God is supreme and the others only support services for the Lord. If not, they have no intention of earnestly obtaining Christ. In this case, the salvation that God has provided has to be responded with responsibility.

Believers must put all things in proportion; God is supreme and the others are to support His ministry.
January 27, 2013, 04:23:32 AM
Reply #51
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/penghargaan-yang-pantas

Quote
Penghargaan yang Pantas

minggu, January 27th, 2013

Alkitab dalam setahun: Matius 1-4

Gaya hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh cara memberi penghargaan atau nilai terhadap segala sesuatu, sebab berapa nilai yang diberikan kepada sesuatu, menentukan gaya hidup seseorang. Sejak seorang anak manusia melek, dunia sekitarnya telah menunjukkan dan mengajarkan bagaimana memberi penghargaan atau nilai terhadap segala hal. Segala hal tersebut antara lain meliputi kehormatan, kekayaan, pangkat, gelar, perhiasan, perasaan, penampilan dan lain sebagainya. Dengan demikian sejak kecil eseorang telah dididik memiliki gaya hidup seperti lingkungannya. Sekarang ini kita hidup di sebuah tatanan ekonomi yang merangsang dan mendorong orang untuk berbelanja atau memiliki apa yang orang lain miliki. Hampir semua manusia disesatkan oleh filosofi hidup ini. Penghargaan atau nilai yang diberikan orang pada umumnya terhadap segala hal, seakan-akan menjadi nilai yang kita harus berikan juga. Padahal manusia yang sudah jatuh, kehilangan kemuliaan Allah dan tidak mengenal-Nya. Hal ini menyebabkan banyak orang memberi nilai secara tidak proporsional terhadap segala sesuatu. Seperti yang dapat dilihat pada umumnya, kalau untuk hal-hal dunia manusia memberi nilai yang tinggi, tetapi untuk hal-hal rohani atau Tuhan sendiri dan Kerajaan-Nya memberi nilai yang sangat rendah. Tanpa disadari banyak orang Kristen yang masih terbawa arus dunia ini. Cara mereka memberi nilai atau penghargaan terhadap sesuatu mengacu atau mengikuti standar pada nilai yang telah ditetapkan oleh dunia sekitarnya yang fasik. Hal inilah yang membelenggu orang percaya sehingga tidak bisa bertumbuh dalam kedewasaan rohani seperti Kristus.
Dengan nilai yang ditetapkan oleh dunia tersebut seseorang dituntut memiliki irama hidup seperti anak-anak dunia. Betapa sulitnya menurunkan harga atau nilai tersebut karena sudah mendarah daging. Rasanya
mustahil untuk bisa berubah. Dalam hal ini kita mengerti mengapa istri Lot menoleh ke belakang sebab ia masih memberikan nilai terhadap barang-barang yang ditinggalkan di Sodom. Demikian pula sebagian
orang-orang Israel di padang gurun masih mengingat kenikmati hidup di Mesir, sehingga mereka bersungut-sungut. Contoh lain adalah orang kaya yang menginginkan hidup yang kekal tetapi tidak berani menjual seluruh hartanya untuk di bagikan kepada orang miskin sebab ia mencintai hartanya (Mat. 19:21-23). Orang percaya harus meletakkan segala sesuatu pada proporsinya, Tuhan adalah tempat tertinggi dan yang lain hanya menunjang pelayanan bagi Tuhan. Jika tidak, berarti mereka tidak berniat sungguh-sungguh hendak memperoleh Kristus. Dalam hal ini keselamatan yang Tuhan sediakan harus diresponi dengan tanggung jawab.

Orang percaya harus meletakkan segala sesuatu pada proporsinya,
Tuhan adalah tempat tertinggi dan yang lain guna menunjang pelayanan-Nya.
January 28, 2013, 04:40:02 AM
Reply #52
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/changing-the-taste-of-the-soul
Quote

Changing the Taste of the Soul

senin, January 28

Bible in a year: Matthew 5-6

The important issue we have to know is how to put everything in place. The key lies in the price or value given to God. Most times, many people seem to respect God or appreciate Him properly, actually they haven’t yet or at all. Religion and religious activities do not necessarily mean that we have appreciated God properly. Why do so many people find it difficult to cut down the value of this world in order to appreciate God properly? Because giving value to everything in this world is not just about understanding (although this is crucial), but it also includes “taste” of the soul. Just as someone likes one type of food since childhood, it is very difficult to change the taste of his tongue. Changing the habit of liking one type of food takes time and is a struggle. This is the reason why people find it difficult to lose weight. A person, who is affected by diabetes Mellitus, has to change his diet. If the food is high in sugar, the person should consider that as toxic food to him.  The same as high-cholesterol food—a person who has high cholesterol should consider high cholesterol food as dangerous food for him. The mindset must change first, and then he will also change the taste of his tongue.

Many people do not want to change their mindset, for they want to indulge themselves. One says that he cannot eat vegetables. Others state that they cannot drink if it is not sweet. They do not care if it is dangerous for them or not. Eventually the taste of their tongue becomes a bond that is not easily removed. Changing the taste of the tongue alone is not easy, changing the taste of the soul is even harder, of course much more difficult. The lust of the flesh, the lust of the eyes and the pride of life is the flavor of the soul that must be replaced with a right taste of life which is to do the will of the Father or please Him (1 John 2:15-17). This is what it means by loving the Father. Besides eating and drinking, the lust of the flesh also includes sex. The lust of the eyes includes the desire to have what others have, while the pride of life refers to the enjoyment of being flattered and respected by others. We must look at the lust of the flesh, lust of the eyes and the pride of life as something dangerous. More specifically, they are considered poison. We cannot change the taste of this soul automatically. It can only happen through serious efforts and at all costs.

The lust of the flesh, the lust of the eyes and the pride of life must be replaced with the taste of the soul by doing the will of the Father.
January 28, 2013, 04:44:56 AM
Reply #53
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/mengubah-cita-rasa-jiwa

Quote
Mengubah Cita Rasa Jiwa

senin, 28 Januari 2013

Alkitab dalam setahun: Matius 5-6

Masalah penting yang harus kita tahu adalah bagaimana menempatkan segala hal pada tempatnya. Kuncinya terletak pada berapa harga atau nilai yang diberikan kepada Tuhan. Selama ini banyak orang seakan-akan sudah menghargai Tuhan atau memberi nilai yang pantas, pada hal belum atau tidak sama sekali. Kalau hanya beragama dan melakukan kegiatan agama belum tentu sudah menghargai Tuhan secara pantas. Mengapa banyak orang sulit menurunkan harga terhadap dunia ini agar dapat menghargai Tuhan secara pantas? Sebab hal memberi nilai terhadap segala hal didunia ini bukan hanya menyangkut pengertian (walau ini sangat penting dan menentukan), tetapi juga menyangkut taste atau cita rasa jiwa. Sama seperti kalau seseorang sudah menyukai satu jenis makanan sejak kecil, sulitlah merubah cita rasa lidahnya. Mengubah kebiasaan menyukai satu jenis makanan membutuhkan waktu dan perjuangan yang berat. Inilah yang menjadi penyebab mengapa orang sulit menurunkan berat badannya. Seorang yang terkena penyakit diabetes melitus, harus mengubah pola makannya. Kalau tertumbuk pada jenis makanan yang berkadar
 manis tinggi, harus memandang bahwa itu racun bagi dirinya Ini sama dengan seorang yang kadar kolestrolnya tinggi, setiap kali bertemu dengan makanan yang berkadar kolesterol tinggi harus memandang sebagai makanan yang berbahaya bagi dirinya. Pola pikirnya yang diubah dulu, maka citarasa lidahnya juga akan diubah.
Banyak orang yang tidak mau merubah pola berpikirnya karena memanjakan diri. Ia berkata bahwa dirinya tidak bisa makan sayuran. Yang lain menyatakan bahwa ia tidak bisa minum kalau tidak manis. Mereka
tidak peduli apakah itu membahayakan dirinya atau tidak. Akhirnya hal cita rasa lidah ini menjadi ikatan yang tidak mudah dilepaskan. Mengubah cita rasa lidah saja tidak mudah, apalagi kalau cita rasa jiwa, tentu
saja jauh lebih sulit. Keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup adalah cita rasa jiwa yang harus digantikan dengan cita rasa jiwa yang benar yaitu melakukan kehendak Bapa atau memuaskan hati-Nya (1 Yoh. 2:15-17). Ini yang dimaksud dengan kasih akan Bapa. Keinginan daging selain soal makan minum juga soal seks. Keinginan mata menyangkut hasrat memiliki apa yang orang lain miliki. Sedangkan keangkuhan hidup menunjuk pada kenikmatan dipuji dan dihormati orang lain. Kita harus memandang keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup sebagai sesuatu yang membahayakan. Lebih tegasnya dipandang sebagai racun. Kita tidak bisa mengalami perubahan cita rasa jiwa ini secara otomatis.
Perubahan ini bisa terjadi hanya melalui usaha yang benar-benar serius dan dengan segala pengorbanan.

Keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup
harus digantikan dengan cita rasa jiwa melakukan kehendak Bapa.


January 29, 2013, 04:29:44 AM
Reply #54
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/expressed-clearly

Quote
selasa,January 29
Bible in a year: Matthew 7-8

Christians who do not give proper value to God and the world cannot worship God. Whereas worshiping God are the contentedness and the meaning of life that every human being must have. Salvation is God’s attempt to restore man to His design; it involves having the appropriate attitude of honoring God by giving high value to the Lord. This is consistent with the meaning of the word “worship,” which in the Greek is proskuneo and means “submission,” while the broader understanding is to give high value (Luke 4:8). Therefore, if someone gives high marks to something, it means he is worshiping something. In this case, we can understand that the desire of this world means worshipping the devil. If the Lord Jesus coveted this world, it means that he worshiped the devil (Luke 4:5-8). Jesus explicitly says that we are to worship God the Father and that means respecting the Father more than anything and anyone.

The fall of Lucifer was when he wanted a respectable position as God. He did not accept the fact that he was created to honor God, the Father. That’s why he could be declared guilty if there is a person who honors and worships God the Father correctly. Jesus proved that he was to glorify and worship God the Father and could prove Lucifer’s fault (corpus delicty). We must also do the same thing: that in all the things we do, we do to glorify God the Father (1 Cor 10:31; 6:19-20). That is what makes a person worthy of being called a Christian and His follower, as well as a corpus delicty like Jesus. This is a quality of life that is meant by the Lord Jesus (John 10:10). He came to give life, so that people have it in all its fullness. Worshiping God is an attitude expressed evidently in every action. It cannot be replaced with the worshipping techniques that are used in the praise and worship movement. This does not imply that praise and worship is wrong. Praise and worship is only the wrapper, the attitude of the heart is the content. It is not enough to worship the true God at a meeting held with the liturgy. They exploit feelings but do not work on their mind to experience a renewal of the mind and change the taste of their souls. They feel that they have worshiped God the Father but actually they have not, because they still love the world, which means worshipping the devil. This misconception is already widespread among the churches throughout the world. It is getting worse when many churches teach the wrong prosperity theology, as they have lately.

Worshipping God is an attitude that honors God clearly and is expressed in every action.
January 29, 2013, 04:39:11 AM
Reply #55
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/diekspresikan-secara-nyata

Quote
Diekspresikan Secara Nyata

selasa, 29 Januari 2013

Alkitab dalam setahun: Matius 7-8

Orang Kristen yang belum memberikan nilai yang pantas untuk Tuhan dan dunia ini, belum bisa menyembah Tuhan. Pada hal menyembah Tuhan adalah isi dan makna hidup yang harus dimiliki setiap insan manusia. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya, di dalamnya termasuk memiliki sikap menghormati Tuhan secara pantas dengan memberi nilai tinggi terhadap Tuhan. Hal ini sesuai
 dengan arti kata menyembah dalam bahasa Yunaninya adalah proskuneo yang arti sempitnya adalah tunduk sedangkan pengertian luasnya adalah memberi nilai tinggi (Luk. 4:8). Jadi, kalau seseorang memberi nilai
tinggi terhadap sesuatu, berarti ia menyembah sesuatu itu. Dalam hal ini kita bisa memahami bahwa mengingini dunia ini berarti menyembah iblis. Kalau Tuhan Yesus mengingini dunia ini, maka berarti ia menyembah iblis (Luk. 4:5-8). Tuhan Yesus tegas berkata bahwa kita harus menyembah Allah Bapa, artinya menghargai Bapa lebih dari penghargaan terhadap apapun dan siapapun.
Kejatuhan Lusifer adalah ketika menghendaki suatu jabatan yang terhormat setara dengan Allah. Ia tidak menerima bahwa ia diciptakan untuk kehormatan Allah Bapa. Itulah sebabnya ia bisa dinyatakan bersalah
 kalau ada pribadi yang menghormati Allah Bapa (menyembah) dengan benar. Tuhan Yesus membuktikan bahwa dirinya memuliakan Allah Bapa (menyembah) dan dapat membuktikan kesalahan Lusifer (corpus delicty). Hal yang sama harus juga kita lakukan bahwa dalam segala hal memuliakan Allah Bapa (1 Kor. 10:31; 6:19-20). Itulah yang membuat seseorang pantas disebut sebagai Kristen dan pengikut-Nya serta menjadi
corpus delicty, seperti Tuhan Yesus.
Inilah hidup yang berkualitas yang dimaksud oleh Tuhan Yesus (Yoh 10:10). Ia datang untuk memberi hidup, supaya orang memilikinya dalam segala kelimpahan. Menyembah Tuhan adalah sikap hati yang diekspresikan secara nyata dalam setiap tindakan. Hal ini tidak boleh digantikan dengan tekhnik-tekhnik menyembah seperti yang sudah biasa dilakukan dalam gerakan praise and worship. Hal ini bukan bermaksud menyatakan bahwa praise and worship salah.
Praise and worship hanya bungkusnya, isinya adalah sikap hati. Menyembah Tuhan yang benar tidaklah cukup digelar dengan liturgi suatu kebaktian. Mereka mengeksploitasi perasaan tetapi tidak menggarap pikiran guna mengalami pembaharuan pikiran dan perubahan citarasa jiwa. Mereka merasa bahwa mereka sudah menyembah Allah Bapa pada hal belum sama sekali, sebab mereka masih mencintai dunia berarti menyembah iblis. Penyesatan ini sudah meluas melanda gereja Tuhan di seluruh dunia. Terlebih lagi akhir-akhir ini ketika theologia kemakmuran yang salah diajarkan banyak gereja.

Menyembah Tuhan adalah sikap hati yang menghormati
Tuhan yang diekspresikan secara nyata dalam setiap tindakan
January 30, 2013, 04:55:25 AM
Reply #56
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/everyone-can-be-empowered

Quote
Everyone Can Be Empowered

rabu, January 30

Bible in a year: Matthew 9-10

The courage that disciples have to spread the Gospel to the ends of the earth certainly has basis or reason. By looking at the quality of their life before the resurrection of the Lord Jesus, it is considered that they did not have sufficient capacity to carry out the great work of God. Most of them were simple people and cowards. Under these conditions, how were they able to pass the baton that God the Father gave to the Lord Jesus? However, it turned out after the ascension of Jesus to heaven they were so enthusiastic and courageous to fulfill the great commission of Jesus (Matthew 28:18-20). Eventually they were able to be witnesses who changed the world and follow their teacher’s footsteps. The Lord Jesus knew that someday they could continue the task God the Father gave to Him (John 20:21). As the Father sent Jesus, then Jesus sent them out. It is good to know that whoever we are, we can be used to become the future messengers of the great King. This is a precious opportunity. We can all be enabled or empowered.

An issue to which we will find the answer: Why were they so eager and brave to risk their lives for the Lord Jesus Christ? What is the basis or reason? To find common ground or reason is actually not difficult. The foundation or reason is by knowing and experiencing the Lord Jesus Christ. This is stated by John with the statement: … we have seen his glory, glory as of the only Son from the Father, full of grace and truth (John 1:14). These disciples have known and have a personal experience with God so that they are willing to do anything for the sake of God and the King. That is why the pursuit of knowing and having a personal experience with God should be a priority, a need that is always considered vital and urgent. It is remarkable, from looking at the Lord Jesus as a strong man expected to be a worldly hero, then looking at the Lord Jesus as the Son of God who fulfilled the will of the Father. Their concept could change, even though the Jewish people had never known God has a Son or as a person at the same level with the God Yahweh. Along with the changes in the concept of the person of the Lord Jesus, they changed their attitude toward God. It turned out the way one understands the person of the Lord Jesus determines the quality of an accompaniment to Him.

Pursuing to know and have a personal experience with God should be the priority, the need that is always considered vital and urgent.
January 30, 2013, 05:00:42 AM
Reply #57
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/setiap-orang-bisa-dimampukan

Quote
Setiap Orang Bisa Dimampukan

rabu, January 30th, 2013

Alkitab dalam setahun: Matius 9-10

Keberanian murid-murid meneruskan Injil sampai ke ujung bumi tentu memiliki landasan atau ada alasannya. Sebab kalau dilihat kualitas hidup mereka sebelum kebangkitan Tuhan Yesus, dapat diperhitungkan bahwa mereka tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk mengemban pekerjaan Allah yang besar tersebut. Sebagian besar mereka adalah orang-orang sederhana dan penakut. Dengan kondisi tersebut bagaimana
mereka mampu meneruskan tongkat estafet tugas yang Allah Bapa berikan kepada Tuhan Yesus? Tetapi, ternyata setelah kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga mereka begitu bersemangat dan berani memenuhi amanat agung Tuhan Yesus (Mat. 28:18-20). Akhirnya mereka bisa menjadi saksi-saksi yang mengubah dunia mengikuti jejak gurunya. Tuhan Yesus tahu bahwa suatu saat mereka bisa meneruskan tugas yang Allah Bapa berikan kepada-Nya (Yoh. 20:21). Seperti Bapa mengutus Tuhan Yesus, kemudian Tuhan Yesus
mengutus mereka. Hal ini menjadi penghiburan bagi kita, bahwa siapapun kita dapat diperkenan menjadi utusan Maha Raja yang akan datang. Ini adalah kesempatan yang sangat berharga. Semua kita bisa dimungkinkan atau dimampukan.
Menjadi persoalan yang akan kita temukan jawabannya: Mengapa mereka begitu bersemangat dan berani mempertaruhkan nyawa bagi Tuhan Yesus Kristus? Apa yang menjadi landasan atau alasannya? Untuk menemukan landasan atau alasan tersebut sebenarnya tidak sukar. Landasan atau alasan tersebut adalah pengenalan dan pengalaman dengan Tuhan Yesus Kristus. Hal ini dinyatakan oleh Yohanes dengan pernyataan: "kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya
sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran (Yoh. 1:14). "
Murid-murid ini memiliki pengenalan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan sehingga rela berbuat apa pun demi Tuhan dan Rajanya. Itulah sebabnya mengejar pengenalan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan
haruslah prioritas, suatu kebutuhan yang selalu dipandang penting dan mendesak. Sungguh sangat luar biasa, dari memandang Tuhan Yesus sekedar orang kuat yang diharapkan menjadi pahlawan duniawi, kemudian memandang Tuhan Yesus sebagai Anak Allah yang menggenapi kehendak Bapa. Konsep
mereka bisa berubah, pada hal orang-orang Yahudi tidak pernah mengenal Allah memiliki anak atau ada pribadi yang disejajarkan dengan Allah Yahwe. Seiring dengan perubahan konsep mengenai pribadi Tuhan Yesus, berubah pula sikap hidup mereka terhadap Tuhan. Ternyata cara seseorang memahami pribadi Tuhan Yesus menentukan kualitas pengiringan kepada-Nya.

Mengejar pengenalan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan haruslah
prioritas, kebutuhan yang selalu dipandang penting dan mendesak.
January 31, 2013, 05:44:47 AM
Reply #58
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/personal-experience

Quote
Personal Experience as a Foundation

kamis, January 31

Bible in a year: Matthew 11-12

Knowing and having a personal experience with Jesus is the foundation of Christian life (John 17:3). To know the Lord Jesus, one can learn through studying the truth of God’s Word correctly. In this case, the source is the gospel, the New Testament. Looking at the person of the Lord Jesus written in the Bible must be from the right viewpoint. Do not view Jesus as disciples did before knowing the truth. They considered Jesus as a worldly Savior, thus they did not know the purpose of the coming of the Lord Jesus into this world. This is a misconception; the theological influence of Pharisees and Jewish religious leaders who were anticipating a worldly messiah (economic and political messiah). This is a human thought and what a human thinks is not of God (Matthew 16:21-23).

A personal experience with Jesus indicates a real experience with the Lord where someone actually experiences the presence of Jesus in the real life concretely and proven. These experiences prove that He is the living God who accompanies the believers. An accompaniment of God does not make a person live without any problems. That does not mean the end of a struggle or problem in life as one positive view in the eyes of man. A problem does not necessarily end up as spectacular as Peter and Paul who were miraculously released from prison, but also ends with a pile of stones as Stephen was stoned to death. To be able to capture the presence or accompaniment of God, one must know God truly. Imagine that one’s understanding of the accompaniment and the presence of God always ends spectacularly as Peter and Paul experienced, but ends up turning out like that of Stephen. In the story of Stephen who was stoned, he did not complain at all. This shows that he was in the accompaniment of God, the Father (Acts 7:48-50). Stephen did not doubt the faithfulness of God the Father and the Lord Jesus Christ. He faced his death with boldness. He did it because he knew and had a personal experience with God. In this case, knowing and having a personal experience with the Lord Jesus will build trust in the Lord Jesus unconditionally. Furthermore, knowing and having a personal experience with God will rekindle the love of the Lord Jesus without limits. Remember that true love is love without limits. In this case, we find the figure of Christ’s followers as their mighty Lord.

An accompaniment of God does not make a person live without problems.
January 31, 2013, 05:52:04 AM
Reply #59
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19615
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/pengalaman-pribadi-landasannya

Quote
Pengalaman Pribadi Sebagai Landasannya

kamis, 31 Januari 2013

Alkitab dalam setahun: Matius 7-8

Pengenalan

dan pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus adalah landasan kehidupan Kristen (Yoh. 17:3). Pengenalan mengenai pribadi Tuhan Yesus dapat diperoleh melalui belajar kebenaran Firman Tuhan secara benar. Dalam hal ini sumbernya adalah Injil; kitab Perjanjian Baru. Memandang pribadi Tuhan Yesus yang tertulis di dalam Alkitab harus dari sudut pandang yang benar. Jangan memandang Tuhan Yesus seperti murid-murid sebelum tercelik mengenal kebenaran. Mereka memandang Tuhan Yesus hanya sekedar sebagai Juru Selamat duniawi, sehingga mereka tidak mengenal maksud tujuan kedatangan Tuhan Yesus ke dunia ini. Ini adalah konsep yang salah, pengaruh theologia orang-orang Farisi dan tokoh-tokoh agama Yahudi yang menantikan mesias dunia (mesias ekonomi dan politik). Ini adalah pikiran manusia dan apa yang dipikirkan manusia bukan berasal dari Allah (Mat. 16:21-23).

Adapun pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus menunjuk pengalaman riil dengan Tuhan dimana seseorang benar-benar mengalami kehadiran Tuhan Yesus dalam kehidupan secara nyata, konkrit dan terbukti.

Pengalaman-pengalaman tersebut membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang hidup yang menyertai orang percaya. Penyertaan Tuhan bukan berarti membuat seseorang hidup tanpa masalah. Bukan berarti akhir suatu pergumulan atau persoalan hidup dipandang positif di mata manusia. Tidak selalu masalah berakhir
spektakuler seperti Petrus dan Paulus yang dikeluarkan dari penjara secara ajaib, tetapi juga ketika berakhir dengan tumpukan batu seperti Stefanus yang dilempari batu. Untuk bisa menangkap kehadiran atau
penyertaan Tuhan seseorang harus mengenal Tuhan dengan benar. Bayangkan kalau pengertian seseorang mengenai penyertaan dan kehadiran Tuhan selalu berakhir spektakuler seperti yang dialami Petrus dan Paulus, bagaimana seandainya ternyata berakhir seperti yang dialami Stefanus. Dalam kisah Stefanus yang dirajam batu, tidak ada sedikit pun keluhan Stefanus. Hal ini menunjukkan bahwa diriya ada dalam penyertaan Allah Bapa (Kis. 7:48-50). Stefanus tidak meragukan kesetiaan Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Ia menyongsong kematiannya dengan gagah perkasa. Ia bisa bertindak demikian karena ia memiliki pengenalan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan. Dalam hal ini pengenalan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus membangun kepercayaan kepada Tuhan Yesus tanpa syarat. Selanjutnya pengenalan dan pengalaman pribadi dengan Tuhan akan mengobarkan kecintaan kepada Tuhan Yesus tanpa batas. Ingat cinta sejati adalah cinta tanpa batas. Dalam hal ini kita menemukan sosok pengikut Kristus yang gagah perkasa seperti Tuhannya.

Penyertaan Tuhan bukan berarti membuat seseorang hidup tanpa masalah.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)