Author Topic: Rehobot Literature Ministries  (Read 138091 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

February 11, 2013, 04:57:10 AM
Reply #80
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/mengimbangi-anugerah-allah

Mengimbangi Anugerah Allah

February 11th, 2013

Alkitab dalam setahun: Ayub 8-10


Ada orang tua-orang tua yang pernah berkata, bahwa tidak mudah menjadi orang tua. Kalau ada orang tua yang memiliki anak nakal, ia bisa berpikir kenapa anaknya nakal dan kenapa harus mengasihinya
sedemikian rupa, sehingga hal ini menyusahkan dirinya. Kalau anaknya masuk penjara karena terlibat suatu kejahatan, orang tua ikut terseret-seret dalam berbagai kesulitan. Apalagi kalau kejahatan anaknya
 adalah keterlibatan dengan narkoba. Orang tua seperti ikut terhukum oleh tindakan anak sendiri. Orang tua tidak bisa tinggal diam kalau anaknya dalam suatu keadaan yang membahayakan, sebab keadaan anaknya
mempengaruhi perasaannya. Ada ikatan kasih yang tidak bisa disangkal dalam diri orang tua dengan anaknya. Kasih orang tua kepada anaknya menggerakkannya berbuat apapun demi keselamatan dan perbaikan diri anaknya. Demikian pula dengan Allah sebagai Bapa bagi manusia,anak-anak-Nya. Ia harus mengutus putra Tunggal-Nya, milik kesayangan satu-satunya guna keselamatan anak-anak-Nya di bumi ini. Tidak ada sesuatu yang lebih berharga yang dimiliki Allah Bapa selain Putra tunggal-Nya. Demi kasih-Nya kepada kita Dia rela menjadi manusia menggantikan tempat kita. Kalau Tuhan Yesus gagal menunaikan tugas
penyelamatan karena terhasut oleh Iblis, maka Tuhan Yesus tidak pernahkembali ke Sorga. Ini berarti suatu pertaruhan yang sangat beresiko tinggi. Tetapi demi keselamatan manusia Tuhan Yesus berani mempertaruhkannya.Setelah Allah Bapa menyediakan keselamatan melalui Putra Tunggal-Nya, maka selanjutnya Ia juga turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan perubahan bagi anak-anak-Nya supaya anak-anak-Nya mengambil bagian dalam kekudusan-Nya (Rm. 8:28; Ibr. 12:7-10). Kalau dari pihak
Allah sebagai Bapa, Ia bertindak demikian, yaitu Dia telah memberi yang terbaik yang dimiliki-Nya, Anak Tunggal-Nya Tuhan Yesus Kristus, seharusnya dari pihak manusia juga mengimbangi yaitu berusaha menjadi
anak yang baik bagi Allah Bapa. Inilah panggilan bagi setiap orang Kristen. Tanpa berusaha memenuhi panggilan ini, berarti tidak menghargai kasih dan pengorbanan Allah Bapa. Sejatinya bukan hanya Tuhan Yesus yang memberi pengorbanan yang luar biasa, tetapi Allah Bapa pun juga demikian. Dengan memberi Putra tunggal-Nya, adalah pengorbanan tiada tara. Itu hampir sama dengan memberi diri-Nya sendiri. Oleh sebab itu kalau seseorang tidak mengimbangi berusaha menjadi anak Tuhan yang baik ia melecehkan kasih Allah Bapa dan tidak akan pernah menjadi anak-anak Allah. Faktanya banyak orang Kristen yang masih tidak serius berusaha untuk hidup sebagai anak Tuhan yang baik.
February 12, 2013, 04:53:15 AM
Reply #81
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/imposed-standards

Imposed Standards

February 12

Bible in a year: Job 11-13

Actually, it is not easy to become a child of a family that has a high quality, whether in terms of civility, education, wealth, or degree of social status. The higher the quality of the parents, the higher demands required to their children. If the children do not have a high standard of good manners, they will never delight the hearts of parents who have a high standard of civility. In families whose parents are highly educated, if their child just graduated high school, he would never satisfy his parents. Parents would demand their child to have at least a bachelor degree. Parents who have a multi-national company with sales of hundreds of millions or billions rupiah, will not be satisfied if their child’s business has sales of tens of millions rupiah only. Similarly, it is not easy to be a good child as desired by God the Father because God the Father who has a very high standard of quality, will impose a high standard for His children as well. He wants His children to have holiness as Himself (1Ptr. 1:16; Mat. 5:48). The demand should not be reduced in value. It is an absolute standard. Believers must accept this not as pressure but as a valuable challenge.

It is indeed not easy to be a good child to God the Father in Heaven. There are three difficulties: First, the fact that God the Father is invisible. Dealing with “the invisible” is not easy. We should strive to have a concrete personal relationship. In this case, it takes a long, serious struggle and full of sacrifice. Second, the world around us has already given bad influences. It is easy to become wrong because the world around us is already evil and gives a very strong influence. But to be good is a choice and struggle. If to be good requires struggle, how much more it is to be perfect as God the Father. Third, we were born to parents who inherited sinful nature. The desire of sin already flows within us. This makes human beings not able to reach the standard of God’s holiness without the salvation facilities provided by God the Father in the Lord Jesus Christ. Not easily achieved does not mean that it can not be achieved. If someone fights for it, he will eventually achieve becoming a child of God the Father as He desires. We must seriously ask ourselves whether or not we have become children as desired by the Father.

God the Father has imposed standards for His children, wants them to have holiness as Himself.
February 12, 2013, 04:58:18 AM
Reply #82
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/standar-yang-dikenakan

Standar yang Dikenakan

February 12th, 2013

Alkitab dalam setahun: Ayub 11-13

Sebenarnya tidak mudah menjadi anak dari suatu keluarga yang memiliki kualitas tinggi, baik dari segi kesantunan hidup, pendidikan, kekayaan, derajat dan status sosial. Semakin tinggi kualitas orang tua,
maka semakin tinggi pula tuntutan yang diberikan kepada anak-anak dalam keluarga tersebut. Anak tidak memiliki kesantunan yang tinggi tidak pernah menjadi anak yang menyukakan hati orang tua yang memiliki standar kesantunan yang tinggi. Pada keluarga yang orang tuanya berpendidikan tinggi, maka anak yang hanya lulus sekolah menengah umum belum memuaskan hati orang tua. Orang tua menuntut anaknya menjadi mahasiswa, paling tidak bisa mencapi gelar strata satu. Orang tua yang memiliki perusahaan
 multi nasional dengan omset ratusan milyard rupiah sampai trilyun rupiah, tidak akan merasa puas kalau anaknya bisnis hanya dengan omset belasan juta rupiah. Demikian pula untuk menjadi anak-anak yang baik
seperti yang diinginkan oleh Allah Bapa, sejatinya bukan sesuatu yang mudah sebab Allah Bapa berkualitas sangat tinggi memiliki standar yang tinggi pula yang dikenakan bagi anak-anak-Nya. Ia menghendaki agar anak-anak-Nya memiliki kekudusan seperti diri-Nya (1Ptr. 1:16; Mat. 5:48). Tuntutan tersebut tidak boleh dikurangi nilainya. Tuntutan tersebut adalah sesuatu yang mutlak. Orang percaya harus menerima ini
bukan sebagai tekanan tetapi sebagai tantangan yang berharga.
Sungguh, tidak mudah untuk menjadi anak yang baik bagi Allah Bapa di Sorga. Ada tiga hal kesulitannya: Pertama, pada kenyataan Allah Bapa tidak kelihatan. Berurusan dengan yang tidak kelihatan bukan sesuatu yang mudah. Harus berusaha untuk memiliki pergaulan pribadi yang konkrit. Dalam hal ini dibutuhkan perjuangan yang panjang, serius dan penuh pengorbanan. Kedua, dunia sekitar telah terlanjur memberi pengaruh fasik. Mudah untuk menjadi rusak sebab dunia sekitar memang sudah rusak dan memberi pengaruh yang sangat kuat. Tetapi untuk menjadi baik adalah pilihan dan perjuangan. Untuk menjadi baik saja perjuangan apalagi untuk menjadi sempurna seperti Allah Bapa. Ketiga, kita dilahirkan oleh orang tua yang mewariskan kodrat dosa. Keinginan dosa sudah mengalir dalam diri kita. Inilah yang membuat manusia tidak mampu mencapai standar kesucian Allah tanpa fasilitas keselamatan yang disediakan oleh Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus. Tidak mudah dicapai bukan berarti tidak bisa dicapai. Kalau seseorang memperjuangkannya maka akhirnya akan bisa dicapai juga, yaitu menjadi anak-anak Allah seperti
yang Allah Bapa inginkan. Untuk ini harus sungguh-sungguh mempersoalkan apakah kita sudah menjadi anak-anak seperti yang diinginkan oleh Bapa.

Allah Bapa memiliki standar yang dikenakan bagi anak-anak-Nya,
menghendaki agar anak-anak-Nya memiliki kekudusan seperti diri-Nya.
February 13, 2013, 05:59:17 AM
Reply #83
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/not-status-but-existence

Not Status But Existence

February 13

Bible in a year: Job 14-16

Many Christians do not question how to become a child as desired by God the Father. They do not feel the need to question it, because they think they have become God’s children automatically once embraced in Christianity. For children who were born from a Christian family, the status as a child of God is already attached. This ignorance is inherent in the minds of many people who become Christian by descent. They are very confident that they have been received as a family member of God regardless the quality of their holiness of life. It became worse by the fallacy of the principle of “only by grace”. As if the death of the Lord Jesus on the cross had automatically put Christians as the children of God. They think that being a child of God is just a status they gain from the recognition of God once they claim to be Christians. Of course, they also do not know how to put themselves correctly before God or as His proper children. It is more ridiculous if suggested by the church, as if by being a Christian, someone has automatically become a child of God. No serious efforts to improve the quality of their sanctity of life as desired by God the Father. Christian activities undertaken emphasizes only on the liturgy or ritual ceremony. Not a few churches who take advantage by using God in their service activities only to “build paradise” on earth. Of course, their focus has shifted from the struggle to be a child of God.

Actually, being a child of God is an existence that should be struggled to make someone deserve to be called as the child of God. God would not give recognition to someone as His child, if his existence is not like what He desires. That is why God gives the power to people who confess that Jesus is the owner of the life becoming the children of God. The power (Greek: exousia) does not move or put someone automatically as children of God. The word “exousia” means privilege (John 1:1-13). It is impossible that God gives rights without responsibilities. Only those who are irresponsible and ignorant do not accept that every right should be accompanied by responsibility. It is the same that there is no option without free will to choose. Therefore we must choose to fight.

Being a child of God is an existence that should be struggled for that makes someone deserves to be called and recognized by God as His child.
February 13, 2013, 06:05:30 AM
Reply #84
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/bukan-status-tetapi-keberadaan

Bukan Status Tetapi Keberadaan

13 Februari 2013

Alkitab dalam setahun: Ayub 14 - 16

Banyak orang Kristen tidak mempersoalkan bagaimana menjadi anak-anak seperti yang diinginkan oleh Allah Bapa. Mereka tidak merasa perlu mempersoalkannya, sebab mereka merasa sudah menjadi anak-anak
Tuhan secara otomatis begitu memeluk agama Kristen. Bagi anak yang terlahir dari keluarga Kristen, status sebagai anak Allah sudah melekat begitu ia dilahirkan dalam keluarga tersebut. Kebodohan ini melekat
dalam pikiran banyak orang yang menjadi Kristen karena keturunan. Mereka sangat yakin bahwa mereka telah diterima sebagai keluarga Allah tanpa mempersoalkan bagaimana kualitas kesucian hidup mereka. Di-tambah lagi dengan kekeliruan terhadap prinsip only by grace. Seakan-akan kematian Tuhan Yesus di kayu salib secara otomatis menempatkan orang Kristen sebagai anak-anak Allah. Mereka berpikir bahwa menjadi anak Allah hanya sebuah status yang mereka peroleh dari pengakuan Allah begitu mereka menyatakan diri sebagai orang Kristen. Tentu saja mereka juga tidak tahu bagaimana seharusnya menempatkan diri di hadapan Tuhan dengan benar atau secara proporsional sebagai anak-anak-Nya. Lebih
konyol lagi kalau dikesankan oleh pihak gereja, seakan-akan dengan menjadi Kristen secara otomatis atau dengan sendirinya sudah menjadi anak Allah. Tidak ada usaha yang serius untuk meningkatkan kualitas
kesucian hidup seperti yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Kegiatan Kekristenan yang dilakukan penekanannya hanya pada liturgi atau ceremoni ritual keagamaan. Tidak sedikit gereja yang kegiatan pelayanan hanya usaha memanfaatkan Tuhan guna membangun firdaus di bumi. Tentu saja fokus mereka telah bergeser dari perjuangan menjadi anak Allah.
Sebenarnya, menjadi anak Allah adalah sebuah keberadaan yang harus diperjuangan sehingga seseorang pantas disebut anak-anak Allah. Allah tidak akan memberi pengakuan pada seseorang sebagai anak-Nya, kalau orang tersebut tidak berkeadaan sesuai dengan keinginan-Nya. Itulah sebabnya Allah memberi kuasa supaya orang-orang yang mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah pemilik kehidupan ini menjadi anak-anak Allah. Kuasa (Yun. exousia) tersebut tidak menggerakkan atau menempatkan seseseorang secara otomatis sebagai anak-anak Allah. Kata exousia berarti hak istimewa (privilege) (Yoh. 1:1-13). Tidak mungkin Tuhan memberi hak tanpa tanggung jawab. Hanya orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan bodoh yang tidak menerima bahwa setiap hak harus disertai tanggung jawab. Hal ini sama dengan
tidak ada pilihan tanpa kehendak bebas memilih. Oleh karenanya harus memilih berjuang.

Menjadi anak Allah adalah sebuah keberadaan yang harus diperjuangan
sehingga pantas disebut dan diakui oleh Allah sebagai anak-Nya.
February 14, 2013, 04:32:04 AM
Reply #85
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/seeking-for-decency

Seeking for Decency

February 14

Bible in a year: Job 17-20

As a child of God, we must understand that salvation struggled by the Lord Jesus is the facility to become the children of God. It is not something automatic to put Christians for being the children of God. If the facility is not used to its full potential, then salvation will not happen. The rich young man in Luke 19 never experienced eternal life without the willingness to do what God wanted. The family of Zacchaeus would not otherwise be saved if Zacchaeus did not take real action that was giving his wealth (Luke 19). This is parallel with the exemption of Israel from Egypt which does not automatically make the people of Israel to recieve the land of Canaan. They had to undergo a severe desert. The sacrifice of the Lord Jesus on the cross does not automatically put the man’s status as true children of God. Without struggle to please God the Father, one will be rejected by God because it will never be known or enjoyed (Greek: Ginosko) by God (Matt.7: 21-23). That’s why Paul is trying to dominate the whole of his life in order to please God and not rejected by Him (1 Cor 9:27; 2 Cor. 5:9-10). In this case, acceptable means to be able to be enjoyed by God.

Many texts in the Bible indicate that a child is a process that must be fought (John 1:11-13; 12:36; 13:15; Phil. 2:15, etc.). Many people are trying to have the properness as a human being to others, but do not try how to be a worthy man in the sight of God or becoming God’s children as desired by God the Father as a heavenly royalty in its class. To be a worthy in the sight of men, someone will work hard such as dressing up, primping, adorning, having a birthday party, wedding reception, driving a fancy car, and so forth. But to be a decent human being before God, one does not do it with all his heart, soul and strength. When seeking decorum in the sight of men, someone has a very high passion. But if to gain merit before God as His desired children, the level of their desire is very low. This shows that someone does not truly want to be a child of God as desired by Him. This condition is actually caused by the world misguidance that is rooted in the lives of many people. As if the greatness of this world could be maintained forever. The true greatness is to be a child of God as His will.

Many people are trying more to have the decency as a human being to others, not before God.
February 14, 2013, 04:36:39 AM
Reply #86
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/mencari-kepantasan

Mencari Kepantasan

February 14th, 2013

Alkitab dalam setahun: Ayub 17

Sebagai anak-anak Tuhan harus memahami bahwa keselamatan yang diperjuangkan oleh Tuhan Yesus adalah fasilitas untuk menjadi anak-anak Allah. Bukan sesuatu yang otomatis menempatkan orang Kristen menjadi
anak-anak Allah. Kalau fasilitas itu tidak digunakan secara maksimal, maka keselamatan tidak terjadi. Orang muda yang kaya dalam Lukas 19 tidak pernah mengalami hidup kekal tanpa kesediaan melakukan apa yang
diinginkan oleh Tuhan. Keluarga Zakeus tidak akan dinyatakan selamat kalau Zakeus tidak melakukan tindakan nyata yaitu membagi hartanya (Luk. 19). Hal ini paralel bahwa fasilitas pembebasan bangsa Israel dari Mesir tidak otomatis membuat bangsa Israel sampai tanah Kanaan. Mereka harus menjalani padang gurun yang berat. Korban Tuhan Yesus di kayu salib tidak otomatis menempatkan manusia berstatus sebagai anak-anak Allah dengan benar. Tanpa perjuangan untuk berkenan kepada Allah Bapa, seseorang akan ditolak oleh Allah sebab tidak akan pernah dikenal atau dinikmati (Yun. Ginosko) oleh Allah (Mat. 7:21-23). Itulah
sebabnya Paulus berusaha menguasai seluruh hidupnya agar berkenan kepada Allah dan tidak ditolak oleh-Nya (1Kor. 9:27; 2Kor. 5:9-10). Dalam hal ini berkenan artinya bisa dinikmati oleh Tuhan.
Banyak teks dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa menjadi anak adalah sebuah proses yang harus diperjuangkan (Yoh. 1:11-13; 12:36; 13:15; Flp. 2:15 dan lain sebagainya). Banyak orang lebih berusaha untuk memiliki kepantasan sebagai manusia bagi sesamanya, tetapi tidak berusaha bagaimana menjadi manusia pantas di hadapan Allah atau menjadi anak-anak bagi Allah Bapa di Sorga seperti yang diinginkan sebagai bangsawan sorgawi yang adalah kelasnya. Untuk menjadi seorang yang pantas di hadapan manusia, seseorang berusaha sekuat tenaga seperti misalnya dalam berpakaian, berdandan dan bersolek, berhias, mengadakan pesta ulang tahun, resepsi pernikahan, berkendaraan dan lain sebagainya. Tetapi
untuk menjadi manusia yang pantas di hadapan Tuhan seseorang tidak melakukan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan. Kalau untuk mengusahakan kepantasan di hadapan manusia seseorang memiliki suhu
gairah yang sangat tinggi. Tetapi kalau untuk memperoleh kepantasan di hadapan Allah sebagai anak-anak yang diinginkan-Nya suhu gairahnya sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa ia tidak sungguh-sungguh mau menjadi anak Tuhan seperti yang diinginkan oleh Tuhan. Keadaan ini sebenarnya disebabkan penyesatan dunia yang sudah mengakar dalam kehidupan banyak orang. Kebesaran di dunia ini seakan-akan bisa
dipertahankan kapan pun. Kebesaran yang sejati adalah menjadi anak Allah seperti yang diinginkan-Nya.

Banyak orang lebih berusaha memiliki kepantasan sebagai manusia
bagi sesamanya, tetapi bukan kepantasan di hadapan-Nya.
February 15, 2013, 04:26:23 AM
Reply #87
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/thorough-mind-structure

Thorough Mind-Structure

February 15

Bible in a year: Job 21-23

Many christians do not understand or rather are not willing to realize that being God’s children as He desires is a tough call that needs to be fought for. It is equal to the call to believe. In this case, it should be realized to be able to truly believe is a big effort. In fact, believing is not just a mere activity of our mind (John 6: 26-28). The way of believing that only involves our state of mind, believing in God’s power, comes from only being opportunistic and manipulative. This is the lowest quality standard of believing. A foolish thing to assume this kind of belief is the highest level. Believing is not only an agreement in our mind, which usually is just a talk without actions, a theory without practice. The right way of believing is by obeying God’s will. A note to remember: Believing is not using God for our needs. Having faith is doing anything what the object we trust, namely God, the Father’s desires.

Believing starts from our mind, but not a shallow, simple and incomplete-structured mind. Believing starts from an activity of our deepest, complex and thorough structured- mind based on the Words. The structure of mind is developed from the understandings that are absorbed from God’s words. Therefore, one has to fill up his mind by properly getting to know God and Jesus or righteousness to be able to develop the right structure of faith. This right way of believing can drive someone into making actions. It is clearly stated if one literally fills up his mind with the pure Words then his faith becomes right. This will drive someone into doing significant actions to prove his faith. Those actions are doing what God desires. This is what having faith to God is about. Having faith is not enough by doing a religion’s Shari’a and its ceremony, but by understanding God’s will, what is good and favorable and doing them so we are not in the same condition as this world. This quality of living cannot be compared to other religions. This is why Christianity is not called a religion, rather a way of life. A true believer does not easily confess he believes in God, but his faith proves it through his concrete actions in life.

Believing starts from an activity of our deepest , complex and thorough structured mind based on the Word of God.
February 15, 2013, 04:32:07 AM
Reply #88
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://english.truth-media.com/
http://www.truth-media.com/bangunan-berpikir-yang-lengkap

Bangunan Berpikir yang Lengkap

February 15th, 2013

Alkitab dalam setahun: Ayub 21-23

Banyak orang Kristen yang tidak mengerti atau tidak mau mengerti bahwa menjadi anak-anak Allah seperti yang diinginkan Allah Bapa adalah panggilan yang berat yang harus diperjuangkan. Hal ini sebenarnya sejajar dengan panggilan untuk percaya. Dalam hal ini harus dimengerti bahwa untuk dapat percaya dengan benar adalah sebuah perjuangan. Sejatinya percaya bukan hanya aktifitas pikiran ala kadarnya  (Yoh. 6:26-28). Percaya yang hanya merupakan aktivitas pikiran saja, memuat keyakinan akan kuasa Allah, biasanya hanya lahir dari sikap opportunis dan manipulatif. Ini adalah percaya yang berkualitas paling rendah. Bodoh sekali kalau percaya seperti ini dianggap sebagai percaya level tertinggi. Percaya
juga bukan hanya persetujuan pikiran atau pengaminan akali. Percaya seperti ini biasanya hanya bicara saja tanpa tindakan. Hanya berteori tanpa praktek. Percaya yang benar adalah penurutan terhadap kehendak
Allah. Harus diingat, bahwa percaya bukan berarti dapat menggunakan Tuhan untuk kepentingan kita. Beriman berarti melakukan apa yang diinginkan obyek yang dipercayai, yaitu Allah Bapa.
Memang percaya dimulai dari pikiran. Tetapi bukan pikiran yang dangkal, sederhana dan tidak memiliki bangunan yang lengkap. Percaya dimulai dari aktivitas pikiran yang mendalam, kompleks dan
memiliki bangunan pemikiran yang lengkap berdasarkan Firman. Bangunan pemikiran ini disusun oleh pengertian-pengertian yang diserap dari kebenaran Firman Tuhan. Oleh sebab itu seseorang harus mengisi
pikirannya dengan pengenalan Allah dan Tuhan Yesus atau kebenaran dengan benar sehingga hal itu menyusun bangunan percaya yang benar. Percaya yang benar ini akan mampu menggerakkan seseorang melakukan suatu tindakan. Dengan demikian jelas sekali bahwa kalau seseorang melakukan tindakan nyata yaitu mengisi pikiran dengan Firman yang murni maka percayanya menjadi benar. Hal ini pasti menggerakkan seseorang melakukan tindakan nyata yang signifikan menunjukkan percayanya. Tindakan tersebut adalah melakukan apa yang Allah Bapa kehendaki. Inilah yang disebut sebagai beriman kepada Tuhan. Beriman tidak cukup menjadi orang beragama yang melakukan syariat agama dan ceremonialnya. Tetapi mengerti kehendak Tuhan, apa yang baik, yang berkenan dan melakukannya sehingga berkeadaan tidak sama dengan dunia ini. Kualitas hidup seperti ini tidak bisa disejajarkan dengan agama manapun. Inilah yang dimaksud bahwa
Kekristenan bukanlah agama tetapi jalan hidup. Orang percaya yang benar tidak lagi mudah mengatakan dengan mulutnya bahwa ia percaya kepada Allah, tetapi percayanya telah diterjemahkan dalam tindakan
konkret dalam kehidupan ini.

Percaya dimulai dari aktivitas pikiran yang mendalam, kompleks dan
memiliki bangunan pemikiran yang lengkap berdasarkan Firman Tuhan.
February 16, 2013, 04:53:00 AM
Reply #89
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24781
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
Quote
http://english.truth-media.com/
http://english.truth-media.com/the-meaning-of-idolizing

February 16

Bible in a year: Job 24-28

Basically, an idol is the same as lord, which means an object that is worshipped and glorified. If the object is the almighty God, we call it Lord, but for other objects they are called idols. So whoever is perceived as god to someone then he is his idol, or whoever is perceived as someone’s idol then he is his god. Some of the words for ‘idol’ in Hebrew that is often used is elil( אֱליִל ), which means nought (no result), insufficiency and worthlessness. In greek, the word idol is idolatres (εἰδωλολάτρης), which relates to the word latria (λατρεία). These words relate to dedication or service. In this case, idolizing means something that drives someone to dedicate or serve.

Generally, an idol means an object or an individual that is considered the most valuable as it generates joy, happiness, luck and security. An idol is indeed a person’s center of life, which he depends on and where his soul belongs. One will feel incomplete without it. Life will feel deserted and empty without it. Thus, one cannot live without it. In this case, an idol or god is an absolute necessity of life. God or an idol is the soulmate. A husband or wife is a commensurate soulmate, as both are humans and a human is not good to be alone. The Lord is an incommensurate soulmate, which indicates a different stage but a must to have. The absoluteness of the Lord as a life partner is written by Paul in Ephesians 5:32 regarding the relationship of husband and wife.

Making the almighty God as our Lord means we cannot enjoy anything without a unity with Him or without living harmoniously with Him. He is the individual that can bring joy in humans’ souls. Thus, the Lord is an enjoyable individual. Different from evil power, which can only provide joy or happiness from the wordly facilities, as he himself cannot be enjoyed. The devil is able to indulge humans’ souls through all the facilities so that humans do not feel the need of God, until the soul is not used to enjoy the Lord and can never enjoy Him. Therefore, if one can enjoy this world without the fellowship with the Lord, it means he is not making the Lord as his almighty God. It means worshipping the devil.

So whoever is perceived as god to someone then he is his idol, or whoever is perceived as one’s idol then he is his god.
 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)