Author Topic: Renungan Harian Air Hidup  (Read 203034 times)

0 Members and 4 Guests are viewing this topic.

September 02, 2018, 04:12:00 AM
Reply #1750
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24737
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Sunday, September 2, 2018
SIAPA HARAPAN HIDUPMU
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 September 2018

Baca:  Mazmur 71:1-24

"Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH."  Mazmur 71:5

Kepada siapakah Saudara menggantungkan harapan hidup?  Berharap pada manusiakah?  Ada tertulis:  "Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?"  (Yesaya 2:22).  Ataukah kita merasa diri kaya, lalu kita menjadikan kekayaan sebagai harapan?  "Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati."  (1 Timotius 6:17).

     Mari kita belajar dari Daud!  Sekalipun menjadi raja besar dan berkuasa, memiliki fasilitas mewah dan kekayaan yang melimpah ruah, dan juga angkatan perang handal yang dapat menjaga dan melindunginya, Daud sama sekali tidak menjadikan semuanya itu harapan hidup.  Ia menaruh pengharapan hidup hanya kepada Tuhan, bahkan ia mengakui:  "Kepada-Mulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku; Engkau yang selalu kupuji-puji."  (Mazmur 71:6).  Ia sadar bahwa kekuatan manusia itu sangat terbatas, tak selamanya tetap muda dan kuat, semua pasti akan berubah:  yang tampak kuat dan gagah perkasa sekalipun pada akhirnya akan renta jua.  Karena itu ia pun memohon kepada Tuhan:  "Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis."  (Mazmur 71:9).

     Mengapa kita harus berharap kepada Tuhan saja?  Karena Dia Pribadi yang tidak pernah berubah dan tak pernah mengecewakan.  Tuhan telah berjanji:  "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu."  (Yesaya 46:4).  Karena itu jangan pernah kita menjauhkan diri dari Tuhan dan menaruh harapan pada apa pun yang ada di dunia ini.  Semakin kita menjauh dari Tuhan, semakin mendekatkan kita kepada kegagalan dan kehancuran hidup.  "Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa;"  (Mazmur 73:27).

"TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia."  Ratapan 3:25


September 03, 2018, 05:08:18 AM
Reply #1751
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24737
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Monday, September 3, 2018
PENGUASA KERAJAAN ANGKASA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 September 2018

Baca:  Efesus 2:1-10

"Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka."  Efesus 2:2

Melalui suratnya kepada jemaat di Efesus, rasul Paulus menyebutkan bahwa Iblis adalah si penguasa kerajaan angkasa.  Ia  (Iblis) memiliki kewibawaan atas kekuatan politik yang meliputi kehidupan manusia di alam roh, karena itu ia biasa disebut roh jahat.  Dinyatakan bahwa roh jahat itu sedang  'bekerja'  di dalam diri manusia.  Dengan segala kekuatan dan kemampuannya Iblis berusaha untuk memengaruhi manusia dengan maksud agar ia dapat mengendalikan pikiran, hati dan jalan hidupnya.

     Iblis adalah ilah roh, karena itu ia bekerja di alam roh juga.  Roh jahat ini terus mengamat-amati semua pekerjaan yang Roh Tuhan perbuat di dalam batin manusia.  Dan roh jahat ini juga mempunyai kekuatan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang identik sebagai tandingan.  Yang membedakan adalah roh jahat melakukan pekerjaan dalam batin manusia dengan tujuan jahat yaitu merusak, menghancurkan dan membinasakan.  Karena itu  "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya..."  (Efesus 6:18)  dan  "...janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,"  (Efesus 5:18).  Semakin hidup kita dipenuhi dengan ROH KUDUS, maka roh jahat tak lagi punya celah untuk masuk ke dalam batin kita.

     Dalam perumpamaan tentang seorang penabur, dinyatakan:  "Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan."  (Matius 13:19).  Iblis memanfaatkan celah dalam diri orang yang tak mengerti firman dengan merampas benih firman yang ditabur.  Suatu ketika rasul Petrus menegur Ananias:  "Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai ROH KUDUS dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?"  (Kisah 5:3).  Inilah daya kemampuan Iblis untuk menguasai hati dan pikiran manusia yang diincarnya.

Hidup dalam persekutuan dengan Tuhan dan ROH KUDUS adalah cara untuk mematahkan setiap siasat dan tipu muslihat Iblis!


September 04, 2018, 04:41:45 AM
Reply #1752
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24737
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Tuesday, September 4, 2018
HARI TUHAN: Penuh Sorai-Sorai dan Sukacita
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 September 2018

Baca:  Yoel 2:18-27

"Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu."  Yoel 2:23

Nabi Yoel melayani di tengah kemerosotan dan kemunduran bangsa Yehuda.  Yoel tak pernah berhenti menyerukan pertobatan kembali ke jalan yang benar dan menyembah Tuhan yang benar dan hidup.  Yoel terus menekankan tentang  'hari Tuhan'.  Dalam bacaan dinyatakan Tuhan mencurahkan hujan awal dan hujan akhir.  Hujan awal secara harafiah berarti hujan yang jatuh waktu umat Tuhan menabur benih;  hujan akhir adalah hujan di akhir musim.  Kata  'hujan'  ini memiliki beberapa makna:  1.  Lambang pencurahan berkat-berkat rohani yang menyegarkan dan memulihkan, yang dikaruniakan Tuhan kepada umat-Nya.  2.  Lambang hukuman yang menghancurkan yang diturunkan ke atas dunia.

     Tuhan telah menggenapi janji-Nya dengan mencurahkan  'hujan'  Roh-Nya kepada umat-Nya, yang diawali pada hari Pentakosta, di zaman para rasul:  "Akan terjadi pada hari-hari terakhir--demikianlah firman Allah--bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu. Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan."  (Kisah 2:17-21).

     Bagi orang benar, hari Tuhan adalah hari sukacita, karena janji Tuhan tergenapi.  Sebaliknya, bagi orang fasik, hari Tuhan adalah kengerian dan malapetaka.  "Sebab telah dekat hari TUHAN menimpa segala bangsa. Seperti yang engkau lakukan, demikianlah akan dilakukan kepadamu, perbuatanmu akan kembali menimpa kepalamu sendiri."  (Obaja 1:15).

Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, ada sukacita dan sorak-sorai  (Mazmur 126:1-2).


September 05, 2018, 04:27:46 AM
Reply #1753
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24737
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Wednesday, September 5, 2018
APAKAH HATIMU MASIH DI MESIR? (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 September 2018

Baca:  Matius 6:19-24

"Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada."  Matius 6:21

Setiap langkah yang diambil orang percaya untuk semakin mendekat kepada Tuhan dan bertumbuh secara rohani pasti selalu mengalami banyak kendala dan hambatan.  Demikian pula tidaklah mudah bagi bangsa Israel untuk pergi meninggalkan Mesir, sebab Firaun tak melepaskan mereka begitu saja.  Berbagai upaya dilakukan pemimpin Mesir ini untuk menghalangi umat Israel.  Jurus-jurus bujukan dan rayuan pun dilancarkan oleh Firaun dengan harapan agar mereka tak keluar jauh-jauh dari negeri Mesir.  Walaupun pergi meninggalkan Mesir, mereka masih diharapkan untuk kembali lagi ke Mesir.

     Inilah yang dikatakan Firaun:  "Pergilah, persembahkanlah korban kepada Allahmu di negeri ini."  (Keluaran 8:25).  Karena usaha pertama ini gagal, Firaun berkata lagi,  "Baik, aku akan membiarkan kamu pergi untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di padang gurun; hanya janganlah kamu pergi terlalu jauh..."  (Keluaran 8:28).  Masih saja gagal, ia pun sedikit melunak:  "...kamu boleh pergi, tetapi hanya laki-laki,..."  (Keluaran 10:11), dan untuk keempat kalinya dia berkata,  "Pergilah, beribadahlah kepada TUHAN, hanya kambing dombamu dan lembu sapimu harus ditinggalkan, juga anak-anakmu boleh turut beserta kamu."  (Keluaran 10:24).  Firaun mempunyai taktik seperti Iblis yaitu membujuk umat tebusan Tuhan untuk tetap melayani dan berbakti di Mesir, yang adalah lambang dunia.  Iblis mengerti betul bahwa bila orang percaya melayani Tuhan, tapi ia masih saja mengikatkan diri dengan kehidupan  'dunia', sama artinya ia juga sedang melayani dan menyenangkan Iblis.  Sama seperti umat Israel yang diperbolehkan berbakti kepada Tuhan dengan tetap tinggal di Mesir, agar dalam kurun waktu yang bersamaan mereka juga dapat melayani Firaun.  Karena itu Iblis takkan membiarkan orang percaya pergi jauh-jauh meninggalkan dunia atau kehidupan lama.

     Selama hati masih terpaut pada  'dunia'  tak mungkin kita dapat mempersembahkan hidup secara penuh kepada Tuhan.  Satu-satunya cara untuk kita dapat berkenan kepada Tuhan adalah memisahkan diri dari dunia, yang berarti meninggalkan cara hidup dunia dan segala kenikmatannya.  Sebab sejak kita ditebus oleh darah Kristus, tanah air kita bukan lagi  'Mesir', melainkan Tanah Perjanjian yang telah Tuhan sediakan bagi kita.

"Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan."  Matius 6:24a



September 06, 2018, 05:33:31 AM
Reply #1754
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24737
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Thursday, September 6, 2018
APAKAH HATIMU MASIH DI MESIR? (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 September 2018

Baca:  Yesaya 52:1-12

"Menjauhlah, menjauhlah! Keluarlah dari sana! Janganlah engkau kena kepada yang najis! Keluarlah dari tengah-tengahnya, sucikanlah dirimu,..."  Yesaya 52:11

Nama  'Yesaya'  berarti Tuhan adalah keselamatan.  Melalui hamba-Nya ini Tuhan hendak menegaskan kepada umat-Nya bahwa keselamatan itu hanya datang dari Tuhan, bukan dari yang lain.  Di tengah keadaan yang sepertinya tiada harapan.  Yesaya membawa kabar sukacita dan penuh pengharapan dari Tuhan yaitu pembebasan dari pembuangan di Babel dan membawa mereka kembali ke Yerusalem untuk memulai suatu hidup baru.

     Peristiwa keluarnya umat Tuhan dari Babel, seperti halnya keluarnya umat dari Mesir, menggambarkan kelepasan dari dunia dan segala sesuatu yang najis.  Sebagai umat tebusan Tuhan, kita diperintahkan untuk menahirkan diri dari segala yang najis.  Sekalipun telah ditebus oleh darah Kristus, tapi bila kita sendiri tak mau keluar meninggalkan  'dunia'  maka sulit bagi kita untuk menyucikan diri.  Dengan tegas, Firman Tuhan memerintahkan kita untuk tidak lagi berkompromi dengan dosa.  "Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, Firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan..."  (2 Korintus 6:17-18).  Tuhan tidak begitu saja memerintahkan umat-Nya keluar dan memisahkan diri dari dunia, tapi Dia juga memberikan suatu jaminan yang luar biasa yaitu  "...Aku akan menjadi Bapamu...";  dan  "...jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."  (Matius 7:11).

     Banyak umat Tuhan secara fisik sudah berada di luar Mesir, tetapi sebenarnya hati mereka masih terpaut dan melekat erat di sana.  Mereka tak menghiraukan seruan Tuhan untuk tidak menjamah apa yang najis.  Menjamah yang najis bukan sebatas dosa perzinahan secara fisik atau hal-hal yang cemar, tapi termasuk perzinahan rohani.  Karena itu  "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu."  (1 Yohanes 2:15).

Meninggalkan dunia dengan segala kenikmatannya adalah kehendak Tuhan bagi kita umat tebusan-Nya!


September 07, 2018, 04:56:53 AM
Reply #1755
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24737
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Friday, September 7, 2018
MANDAT SHEMA BAGI ORANGTUA (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 September 2018

Baca:  Ulangan 6:1-25

"Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun."  Ulangan 6:6-7

Mengajar bukan semata-mata tugas guru atau dosen, tapi orangtua pun memiliki tugas yang sama.  Dalam kaitannya dengan pengajaran dalam rumah tangga, orangtua berperan sebagai guru dan anak-anak sebagai murid.  Apa yang orangtua harus ajarkan kepada anak-anaknya?  Orangtua harus mengajarkan Firman Tuhan kepada anak-anaknya untuk didengar, diterima, dimengerti dan dilakukan.  Pengajaran ini bersifat informal.  Meskipun demikian ini merupakan pelajaran yang pertama dan terutama.  Disebut pertama, karena anak-anak untuk pertama kali menerima pengajaran;  dan disebut utama, karena proses pendidikan dalam rumah tangga ini mendasari dan bahkan menentukan keberhasilan pengajaran sesudahnya.  Kualitas hidup si anak sangat bergantung pada kualitas pengajaran dalam rumah tangga masing-masing.

     Inilah yang disebut mandat shema, suatu tugas yang Tuhan percayakan kepada orangtua untuk menjadi pengajar bagi anak-anaknya dalam hal kerohanian.  Shema dapat dikatakan sebagai tugas yang dimiliki oleh orangtua untuk membentuk kepribadian anak-anak sesuai dengan kehendak Tuhan.  Bagi bangsa Israel shema ini merupakan perintah wajib yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.  Inti dari pengajaran ini adalah orangtua harus menanamkan sikap hati yang takut akan Tuhan.  "supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya..."  (Ulangan 6:2).  Takut akan Tuhan ini bukan sekedar sebuah doktrin Alkitabiah, tapi harus menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari.

     Ketika orang memiliki hati yang takut akan Tuhan maka ia akan mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan segenap jiwa dan segenap kekuatan  (Keluaran 6:5)  dan berkomitmen untuk membenci dosa dan menjauhkan diri dari segala kejahatan.  Jika  'takut akan Tuhan'  ini sudah tertanam dan mengakar kuat di dalam diri anak-anak sedari awal, tidak ada yang patut dikuatirkan oleh orangtua, sebab takut akan Tuhan adalah kunci utama untuk mengalami penggenapan janji-janji Tuhan dalam hidup ini.



September 08, 2018, 05:25:00 AM
Reply #1756
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24737
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Saturday, September 8, 2018
MANDAT SHEMA BAGI ORANGTUA (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 September 2018

Baca:  Ulangan 6:1-25

"TUHAN, Allah kita, memerintahkan kepada kita untuk melakukan segala ketetapan itu dan untuk takut akan TUHAN, Allah kita, supaya senantiasa baik keadaan kita dan supaya Ia membiarkan kita hidup, seperti sekarang ini."  Ulangan 6:24

Mengajar dan mendidik anak untuk memiliki hati yang takut akan Tuhan adalah hal yang sangat krusial dan tak boleh dianggap remeh oleh orangtua.  Banyak kasus terjadi:  anak-anak memberontak terlibat dalam pergaulan yang buruk dan sebagainya, sebagai akibat dari kelalaian orangtua dalam hal mengajar dan mendidik anak-anaknya di rumah.  Ada tertulis:  "Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati."  (Amsal 23:13-14).

     Jadi secara garis besar hal yang harus diperhatikan dalam kaitannya dengan pengajaran terhadap anak:  1.  Bahan pengajaran adalah Firman Tuhan  (Alkitab).  Orangtua harus mengajarkan kepada anak-anaknya tentang ketetapan dan peraturan Tuhan:  "Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya,"  (Ulangan 6:1).  Selain itu orangtua harus mengajarkan bagaimana ia harus mengasihi Tuhan.  "Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu."  (Ulangan 6:5).  2.  Tujuan pengajaran adalah supaya anak-anak memiliki hati yang takut akan Tuhan dan berpegang pada ketetapan dan perintah Tuhan, sebab ini adalah kunci hidup.  "supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan TUHAN, Allahmu, dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu."  (Ulangan 6:2).  3.  Cara pengajaran adalah orangtua harus mengajarkan Firman Tuhan secara berulang-ulang di segala situasi dan keadaan  (Ulangan 6:7-9).

     Yang tak kalah penting adalah orangtua harus mempunyai kesaksian hidup untuk disampaikan kepada anak-anaknya, supaya mereka tidak hanya mendengar, tapi juga ikut mengalami dan merasakan Tuhan di dalam hidupnya  (Ulangan 6:20-25)  dan juga memberikan teladan hidup kepada anak-anaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Mengajarkan Firman Tuhan kepada anak adalah hal yang mutlak bagi orangtua! 


September 09, 2018, 04:49:01 AM
Reply #1757
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24737
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Sunday, September 9, 2018
MEREKA PANGGIL AKU... SUAMI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 September 2018

Baca:  Hosea 2:1-22

"Maka pada waktu itu, demikianlah Firman Tuhan, engkau akan memanggil Aku: Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku!"  Hosea 2:15

Nama  'Hosea'  memiliki arti:  keselamatan.  Ia diutus Tuhan untuk menegur bangsa Israel  (umat pilihan Tuhan)  yang sudah tidak lagi setia kepada Tuhan.  Dalam Perjanjian Lama hubungan Tuhan dengan bangsa Israel seringkali digambarkan sebagai hubungan pernikahan atau ikatan pernikahan secara rohani.  Tuhan memosisikan diri-Nya sebagai Suami, sedangkan bangsa Israel sebagai isteri-Nya.  Namun hubungan intim ini telah dirusak oleh bangsa Israel yang telah berlaku tidak setia kepada Tuhan.  Tindakan bangsa Israel  'membelakangi'  Tuhan untuk menyembah kepada dewa-dewa  (berhala)  dianggap Tuhan sebagai ketidaksetiaan atau perzinahan rohani.

     Melalui Hosea ini Tuhan mengungkapkan kekecewaan-Nya yang mendalam, sebab mereka hanya menganggap Tuhan sebagai Baal, bukan lagi sebagai Suami.  Artinya hubungan ini tidak lagi berdasarkan penyerahan hati atau berdasarkan kasih yang mendalam.  Namun sekalipun bangsa Israel tidak setia, Tuhan tetap mengasihi mereka dan rindu untuk memulihkan mereka menjadi umat kesayangan-Nya kembali.  "Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN."  (Hosea 2:18-19).  Tuhan memperlakukan umat Israel dengan begitu sabar agar dapat membawa mereka pulang kembali ke dalam pelukan-Nya.

     Jika memperhatikan seluruh sejarah bangsa Israel bagaimana Tuhan sangat mengasihi mereka dan tetap berlaku sabar, sekalipun mereka telah bercabang hati, hendaknya hal ini menguatkan iman kita selaku Israel-Israel rohani.  Sekalipun kita harus melewati lembah  'Akhor'  (lembah kesusahan), jika kita mau bertahan, tetap setia dan tidak meninggalkan  'Suami', Tuhan berjanji:  "Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN."  (Hosea 2:14);  Lembah kesusahan akan diubah Tuhan menjadi Pintu Pengharapan.

"Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN."  (Hosea 2:19);  kesetiaan Tuhan atas kita tak pernah berubah!


September 10, 2018, 05:10:41 AM
Reply #1758
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24737
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Monday, September 10, 2018
MENYERAH ATAU TERUS MEMBERONTAK
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 September 2018

Baca:  Yeremia 6:1-26

"Ambillah tempatmu di jalan-jalan dan lihatlah, tanyakanlah jalan-jalan yang dahulu kala, di manakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan. Tetapi mereka berkata: Kami tidak mau menempuhnya!"  Yeremia 6:16

Sejak dahulu, jalan dan kehendak manusia selalu berlawanan dengan jalan dan kehendak Tuhan.  Manusia lebih memilih untuk mengikuti jalan dan kehendaknya sendiri daripada harus tunduk kepada kehendak Tuhan dan mengikuti jalan-Nya.

     Tuhan mengutus Yeremia untuk memperingatkan dan menegur bangsa Israel untuk segera bertobat dari pemberontakannya.  Respons umat Israel apa?  Mereka tetap saja mengeraskan hati dan tak mau menempuh jalan yang Tuhan tunjukkan.  "Kami tidak mau menempuhnya!"  (Yeremia 6:16b).  Itulah manusia!  Seharusnya manusia membuka hatinya untuk setiap peringatan dan teguran Tuhan, sebab peringatan dan teguran Tuhan menuntun manusia kepada kehidupan, seperti tertulis:  "Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri,"  (Amsal 15:31-32).  Tetapi, manusia menolak perdamaian yang diberikan Tuhan dan dengan congkaknya mereka mau berjalan menurut kehendaknya sendiri.  Rasul Paulus memaparkan dengan jelas kekerasan hati manusia terhadap Penciptanya.  "...jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu."  (Roma 3:17-18)  dan  "...karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:"  (Roma 1:28).

     Manusia telah memilih jalan permusuhan dengan Tuhan, dan bahkan mereka membenci Tuhan.  "Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua,"  (Roma 1:30).  Dalam pemikiran kita, pastilah Tuhan akan menumpas setiap orang yang terus saja memberontak kepada-Nya.  Namun, karena kasih-Nya yang tak terbatas, Tuhan tetap mau menyambut manusia yang mau datang kepada-Nya dengan tangan yang terbuka.  Tuhan sabar terhadap manusia, karena Ia tidak menghendaki kita binasa!  (2 Petrus 3:9).

Kesempatan telah diberikan Bapa kepada manusia, tapi keputusan tetap ada pada diri kita:  menyerah atau tetap memberontak?


September 11, 2018, 05:15:38 AM
Reply #1759
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24737
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Tuesday, September 11, 2018
LIBATKAN TUHAN DI SETIAP PEKERJAAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 September 2018

Baca:  Keluaran 31:1-11

"Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan,"  Keluaran 31:2-3

Tuhan menghendaki anak-anak-Nya memiliki kualitas hidup yang berbeda dengan dunia!  Karena itu firman-Nya mengajar kita untuk melakukan setiap pekerjaan dengan kualitas yang terbaik, bukan secara asal-asalan, sehingga mencapai hasil yang maksimal.  Alkitab mengajar kita untuk melakukan setiap pekerjaan dengan kualitas yang terbaik.  Jadi,  "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya."  (Kolose 3:23-24).  Kita diperintahkan untuk bekerja dengan sebaik mungkin tanpa memandang jenis pekerjaannya.  Ini Firman Tuhan, bukan perkataan manusia!

     Ada dua orang yang dipilih Tuhan untuk terlibat dalam proses pembangunan Kemah Suci dan segala kelengkapannya, yaitu Bezaleel dan Aholiab.  Bezaleel orang yang ahli dalam hal benda-benda berharga dan perhiasan-perhiasan, termasuk ukiran-ukiran.  Aholiab adalah seorang yang ahli dalam hal pembuatan perkakas-perkakas, pakaian dan juga kelengkapan para imam dan orang Lewi.  Tuhan berkenan memenuhi mereka dengan Roh-Nya.  Pengertian  'dipenuhi dengan Roh Tuhan'  artinya:  diperlengkapi dan diberi kemampuan rohani untuk pelayanan khusus bagi Tuhan:  "...untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga;"  (Keluaran 31:4)  dan  "...untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan."  (Keluaran 31:5).

     Untuk dapat melakukan pekerjaan dengan kualitas yang terbaik kita harus selalu melibatkan Tuhan dan meminta tuntunan-Nya.  Dalam praktek hidup sehari-hari kita sering merasa diri mampu, hebat, pintar dan berpengalaman, sehingga kita merasa tak membutuhkan campur tangan Tuhan.  Namun, begitu kita menuai kegagalan atau hasil yang diraih tak seperti yang diharapkan, kita langsung marah dan menyalahkan Tuhan.

"Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, Firman Tuhan semesta alam."  Zakharia 4:6a



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)