Author Topic: Renungan Harian Air Hidup  (Read 147493 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

October 04, 2018, 05:22:00 AM
Reply #1780
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Thursday, October 4, 2018
PENGALAMAN HIDUP BERSAMA TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Oktober 2018

Baca:  Ayub 19:1-29

"Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu."  Ayub 19:25

Kekristenan bukanlah sekedar liturgi keagamaan, melainkan suatu hubungan karib dengan Tuhan, pengalaman hidup pribadi seseorang bersama Tuhan hari lepas hari.  Hal inilah yang Tuhan tegaskan kepada Nikodemus:  "...sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."  (Yohanes 3:3).  Kelahiran kembali  (lahir baru)  adalah pengalaman bersama Kristus melalui jamahan ROH KUDUS.  "pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh ROH KUDUS,"  (Titus 3:5).  Tanpa kelahiran baru, perkara rohani apa pun yang kita kerjakan takkan lebih dari sekedar kegiatan agamawi atau rutinitas.

     Pernyataan Ayub:  "Tetapi aku tahu: Penebusku hidup,"  (ayat nas)  adalah bukti bahwa ia memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan.  Tak mungkin seseorang dapat berkata Penebusku hidup jika ia sendiri tak mengenal sang Penebus itu dengan benar.  Kalimat  'Penebusku hidup'  adalah ungkapan pengalam seseorang yang telah berjumpa dengan Sang Penebus, merasakan, mengalami dan menikmati kuasa-Nya;  dan seseorang yang telah mengenal Sang Penebus secara benar dan mengalami jamahan kuasa-Nya pasti mengalami perubahan dalam hidup:  beribadah kepada Tuhan dengan roh yang menyala-nyala  (Roma 12:11), ibadah kepada Tuhan menjadi suatu kesukaan.  "Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN."  (Mazmur 122:1).

     Seseorang yang telah mengenal Sang Penebus pasti mengalami titik balik dalam hidupnya, sehingga dapat berkata,  "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku."  (Galatia 2:20).  Orang percaya seharusnya berkata,  "...aku tahu: Penebusku hidup,"  karena ia telah ditebus oleh Kristus, bukan dengan barang yang fana, melainkan dengan darah-Nya yang teramat mahal  (1 Petrus 1:18-19).

Sebagai umat tebusan Tuhan wajib bagi kita untuk memberitakan kabar keselamatan kepada dunia!



October 05, 2018, 05:14:50 AM
Reply #1781
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Friday, October 5, 2018
IBLIS MEMBUAT KITA LALAI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Oktober 2018

Baca:  Yeremia 48:1-10

"Terkutuklah orang yang melaksanakan pekerjaan TUHAN dengan lalai, dan terkutuklah orang yang menghambat pedang-Nya dari penumpahan darah!"  Yeremia 48:10

Alkitab menyatakan secara tegas bahwa Iblis adalah pencuri.  "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;"  (Yohanes 10:10).  Salah satu taktik yang Iblis lakukan adalah menciri setiap kesempatan yang dimiliki orang percaya dengan menanamkan rasa lalai.  Arti kata  'lalai'  adalah kurang hati-hati;  tidak mengindahkan  (kewajiban, pekerjaan, dan sebagainya);  lengah.

     Bukankah di zaman sekarang ini ada banyak orang percaya yang dengan sengaja melalaikan perkara-perkara rohani dan bahkan melalaikan tugas yang telah dipercayakan kepadanya untuk melayani pekerjaan Tuhan, dengan berbagai alasan dan dalih:  tidak punya waktu alias sibuk.  Iblis tahu benar bahwa hari-hari manusia itu terdiri atas kesempatan-kesempatan, karena itu ia berusaha untuk mengalihkan fokus hidup manusia supaya tidak lagi memperhatikan kesempatan yang Tuhan berikan.  Rasul Paulus menasihati:  "Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi."  (Kolose 3:2).  Ingatlah selalu bahwa keberadaan kita di dunia ini dibatasi oleh waktu, maka dari itu jangan pernah lalai untuk mengoptimalkan setiap kesempatan, karunia dan potensi yang Tuhan beri.  "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi."  (Pengkhotbah 9:10).

     Andai saja orang-orang Israel lalai untuk bangun pagi-pagi, mereka tidak akan mendapatkan manna, roti yang turun dari sorga, karena siang sedikit saja manna itu akan mencair dan tidak bisa dimakan  (Keluaran 16:13-21).  Itu artinya kelalaian dapat menghalangi seseorang untuk mendapatkan berkat dari Tuhan!  Jangan pernah anggap sepele hal ini, sebab kelalaian dapat membuat kita kehilangan kesempatan dan kepercayaan dari Tuhan,  "Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya."  (Amsal 1:32).

"Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua."  1 Timotius 4:14



October 06, 2018, 05:39:26 AM
Reply #1782
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Saturday, October 6, 2018
AGAR TERLUPUT DARI KEMISKINAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Oktober 2018

Baca:  Amsal 10:1-16

"TUHAN tidak membiarkan orang benar menderita kelaparan, tetapi keinginan orang fasik ditolak-Nya."  Amsal 10:3

Tak seorang pun mau hidup kekurangan atau miskin secara materi.  Namun perlu diketahui, sesungguhnya kemiskinan itu bukanlah keadaan, nasib atau takdir, melainkan berbicara tentang mentalitas hidup seseorang.  Miskin atau kaya bukan semata-mata bisa diukur dengan materi karena pada dasarnya manusia selalu merasa kurang, sekalipun ia sudah mempunyai banyak uang dan kekayaan.  "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya."  (Pengkhotbah 5:9).  Ada orang yang hidupnya tampak sederhana tapi ia bisa hidup bahagia dan merasa diri cukup.  Firman Tuhan mengajarkan:  "...cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu."  (Ibrani 13:5), dan percayalah bahwa Tuhan  "...sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."  (Ibrani 13:5).

     Salomo memberikan kiat-kiat penting agar kita dapat terluput dari kemiskinan:  yaitu janganlah menempuh jalan yang tidak halal untuk mendapatkan uang atau kekayaan, sebab  "Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna, tetapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut."  (Amsal 10:2).  Di zaman sekarang ini orang berani menempuh cara instan dan menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang atau kekayaan:  korupsi, mencuri, merampok, prostitusi dan sebagainya.  Mungkin untuk sementara waktu mereka tampak berkecukupan secara materi, tapi mereka sama sekali tak memikirkan akibatnya, karena apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai.  Terbukti, tidak sedikit koruptor yang sebelumnya hidup serba wah kini hartanya ludes, disita oleh negara dan hidupnya pun harus berakhir di balik jeruji besi.  "Milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak diberkati."  (Amsal 20:21).

     Selain itu janganlah kita menjadi pemalas, sebab  "Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya."  (Amsal 10:4), dan  "Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah."  (Pengkhotbah 10:18).

Berlakulah hidup benar di hadapan Tuhan, sebab  "Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan,"  (Amsal 10:16a).


October 07, 2018, 04:29:36 AM
Reply #1783
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Sunday, October 7, 2018
TAK ADA YANG PATUT DISOMBONGKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Oktober 2018

Baca:  Amsal 16:18-24

"Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan."  Amsal 16:18

Pada dasarnya semua manusia memiliki kecenderungan menjadi sombong atau berlaku congkak.  Sombong dan congkak adalah dosa yang kurang disadari, tapi seringkali dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.  Berhati-hatilah!  Sebab kesombongan adalah dosa yang sangat serius di hadapan Tuhan, Ia sangat menentang orang sombong.  Orang yang sombong, selain tidak disukai sesama, juga akan berurusan dengan Tuhan.  Demikianlah Firman Tuhan:  "Kepada dunia akan Kubalaskan kejahatannya, dan kepada orang-orang fasik kesalahan mereka; kesombongan orang-orang pemberani akan Kuhentikan, dan kecongkakan orang-orang yang gagah akan Kupatahkan."  (Yesaya 13:11).

     Jika kita menyadari siapa kita ini sesungguhnya, maka tak sepatutnya kita berlaku sombong atau congkak.  Pemazmur menyadari bahwa ia adalah debu,  "Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi."  (Mazmur 103:15-16).  Nabi Yesaya juga menegaskan bahwa manusia itu tak lebih dari pada hembusan nafas  (Yesaya 2:22), dan  "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat."  (Mazmur 144:4).  Ini menunjukkan bahwa kekuatan dan kemampuan manusia itu sangatlah terbatas!  Jika sadar bahwa kekuatan kita ini terbatas tak sepatutnya berlaku sombong, justru seharusnya mendorong kita untuk semakin mendekat kepada Tuhan dan hidup mengandalkan-Nya, sebab di luar Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa dan bukanlah siapa-siapa!

     Manusia adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang di dalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lainnya;  manusia saling membutuhkan satu sama lainnya;  manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa orang lain.  Sehebat, sesukses, sepintar dan sekuat apa pun seseorang tetaplah membutuhkan kehadiran orang lain;  dan melalui orang lain pula karakter kita dibentuk:  "Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya."  (Amsal 27:17).  karena itu jangan pernah menganggap rendah orang lain.

"TUHAN menjaga orang-orang yang setiawan, tetapi orang-orang yang berbuat congkak diganjar-Nya dengan tidak tanggung-tanggung."  Mazmur 31:24b



October 08, 2018, 06:01:18 AM
Reply #1784
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Monday, October 8, 2018
MENJADI UMAT TUHAN YANG PRODUKTIF (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Oktober 2018

Baca:  Yehezkiel 17:1-24

"Namun ia ditanam di ladang yang baik, dekat air yang berlimpah-limpah, supaya ia bercabang-cabang dan berbuah dan supaya menjadi pohon anggur yang bagus."  Yehezkiel 17:8

Melalui nabi Yehezkiel ini Tuhan menyatakan kerinduan dan kehendak-Nya atas kehidupan bangsa Israel yang adalah umat pilihan-Nya.  Tuhan mau mereka menjadi umat yang produktif, yang mengalami pertumbuhan dan berbuah, seperti pohon anggur.  Apa yang diharapkan dari pohon anggur?  Tak lain dan tak bukan adalah buahnya.  Pohon anggur hanya akan bermanfaat apabila dapat berbuah.  "Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu."  (Yohanes 15:16).

     Bertumbuh dan berbuah adalah cara menyenangkan hati Tuhan dan mempermuliakan nama-Nya.  "Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku."  (Yohanes 15:8).  Kunci untuk dapat bertumbuh dan berbuah adalah melekat kepada Tuhan,  "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku."  (Yohanes 15:4), dan menjadikan hati kita sebagai tanah yang baik.  "Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."  (Lukas 8:15)  Tanah hati yang baiklah yang dapat menghasilkan buah yang lebat:  "...ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."  (Matius 13:8).

     Pemazmur menggambarkan kehidupan Kristen yang produktif itu  "...seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil."  (Mazmur 1:3).  Sayang, sampai saat ini masih banyak orang percaya yang kehidupan rohaninya tidak bertumbuh dan berbuah, padahal sudah menjadi pengikut Kristus bertahun-tahun lamanya dan bahkan sudah terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan rohani di gereja.  Kehidupan Kristen yang demikian bisa disebut Kekristenan yang kerdil dan mandul.  Ini mengecewakan Tuhan!



October 09, 2018, 05:12:34 AM
Reply #1785
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Tuesday, October 9, 2018
MENJADI UMAT TUHAN YANG PRODUKTIF (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Oktober 2018

Baca:  Yehezkiel 17:1-24

"...Aku, TUHAN, merendahkan pohon yang tinggi dan meninggikan pohon yang rendah, membuat pohon yang tumbuh menjadi layu kering dan membuat pohon yang layu kering bertaruk kembali. Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan akan membuatnya."  Yehezkiel 17:24

Orang percaya dikatakan  'produktif'  apabila pertumbuhan iman dan buah-buah yang dihasilkannya tampak nyata,  "Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya."  (Lukas 6:44a).  Rasul Paulus menulis:  "'Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya' dan 'Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.' Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia."  (2 Timotius 2:19-21).

     Kunci lain untuk dapat berbuah dan dipandang layak di mata Tuhan adalah jika kita menyucikan diri dari segala kejahatan.  Sama seperti ladang yang harus terlebih dahulu diolah:  dibajak, dicangkul dan digemburkan tanahnya, kita ini adalah ladang Tuhan  (1 Korintus 3:9).  Sebagai ladang kita perlu diawasi, dijaga dan dipagari agar terlindung dari serangan musuh.  Para petani atau pekerja kebun tahu musuh-musuh yang dapat merusak dan menghancurkan tanaman di ladang:  serangga, hama, tikus, belalang atau binatang buas.  Dalam kehidupan Kekristenan pun ada banyak musuh yang berusaha menghambat dan menghalangi pertumbuhan rohani kita.  Musuh utama adalah Iblis, selain itu bisa juga kedagingan dengan segala keinginannya, ajaran-ajaran palsu dan sebagainya.

     Kebutuhan penting dari ladang dan tanaman untuk bertumbuh dan berbuah adalah pupuk untuk menyuburkan tanah dan juga merangsang pertumbuhan agar cepat berbuah.  'Pupuk'  ini berbicara tentang:  doa  (persekutuan pribadi dengan Tuhan dan ROH KUDUS  (Efesus 6:18b), ibadah  (1 Timotius 4:7b-8)  dan Firman Tuhan  (Mazmur 1:2, Yosua 1:8).  Dibutuhkan ketekunan dan kedisiplinan yang tinggi!

Tanpa mau membayar harga kita tidak akan menjadi umat Tuhan yang produktif  (bertumbuh dan berbuah).



October 10, 2018, 05:21:16 AM
Reply #1786
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Wednesday, October 10, 2018
BANYAKLAH MENDENGAR: Jangan Banyak Bicara
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Oktober 2018

Baca:  Mazmur 85:1-14

"Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya,"  Mazmur 85:9

Salah satu faktor yang seringkali menjadi sumber masalah dalam kehidupan ini adalah kebanyakan orang lebih suka berbicara daripada mendengar.  Orang suka berkomentar, suka sekali protes, mengkritik, menghakimi, suka membicarakan keburukan sesamanya  (bergosip), suka saling beradu argumen atau berdebat, dan sebagainya.  Betapa banyak rumah tangga hancur, hubungan suami/isteri tidak lagi harmonis oleh karena mereka sering cekcok, tak bisa menahan bicaranya dan tak ada yang mau mengalah.  Begitu pula dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara, masalah seringkali terjadi karena pemimpinnya banyak bicara  tapi sedikit kerja, sering bertikai dan berselisih paham, dan suka sekali memaksakan kehendak.

     Tuhan menciptakan manusia dengan satu mulut dan dua telinga, dengan tujuan supaya manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara.  Namun dalam praktek hidup sehari-hari manusia lebih banyak berbicara, tapi sedikit mau mendengar.  Ada tertulis:  "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi."  (Amsal 10:19).  'Mendengar'  begitu penting dalam kehidupan ini, karena ketika orang mau mendengar maka ia akan mendapatkan banyak hal yang positif.  Contoh:  seorang siswa yang mau mendengarkan dengan baik materi yang diajarkan gurunya, pengetahuannya semakin bertambah dan ia pasti akan menjadi pandai.  Begitu pula orang yang mau mendengarkan nasihat atau masukan positif dari orang lain pastilah akan mengalami kemajuan demi kemajuan dalam hidupnya.

     Adalah orang yang senantiasa mengarahkan telinganya untuk mendengar Firman Tuhan, yang terlebih akan semakin dituntun kepada jalan kebenaran-Nya, sebab firman-Nya  "...bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."  (2 Timotius 3:16).

"Hai anakku, perhatikanlah hikmatku, arahkanlah telingamu kepada kepandaian yang kuajarkan, supaya engkau berpegang pada kebijaksanaan dan bibirmu memelihara pengetahuan."  Amsal 5:1-2



October 11, 2018, 05:06:06 AM
Reply #1787
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Thursday, October 11, 2018
MELINDUNGI DIRI SAAT TERANCAM
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Oktober 2018

Baca:  Matius 26:69-75

"Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: 'Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.'"  Matius 26:70

Secara alamiah setiap makhluk hidup memiliki mekanisme pertahanan diri dan perlindungan diri ketika dihadapkan pada ancaman atau bahaya.  Bahkan ada beberapa contoh hewan yang memiliki mekanisme pertahanan diri yang tidak biasa alias ekstrem, semisal:  katak yang mematahkan kaki-kakinya sendiri dan mengeluarkan cakar;  ikan yang melingkupi musuhnya dengan casing tebal dari kotoran;  semut yang bisa meletuskan tubuhnya.  Ini semua dilakukan untuk mempertahankan diri atau melindungi diri dari ancaman para predator.  Ini adalah contoh dari sedikit cara yang tidak biasa dari binatang untuk mempertahankan dirinya ketika dalam bahaya dan ancaman.

     Tak terkecuali manusia, ketika sedang berada dalam ancaman atau bahaya ada mekanisme pertahanan diri yang biasa dilakukan yaitu melawan atau melarikan diri.  Ketika Kristus ditangkap dan dibawa ke Mahkamah Agama, murid-murid-Nya diliputi oleh rasa takut yang luar biasa, sehingga mereka pun lari untuk menyelamatkan diri.  Perikop dari pembacaan firman kita hari ini adalah Petrus menyangkal Kristus.  Ini adalah bentuk mekanisme pertahanan dan perlindungan diri yang dilakukan Petrus ketika dirinya sedang terancam, karena orang-orang telah mengenalinya sebagai salah satu murid Kristus.  Bahkan Petrus berusaha melindungi diri dengan menyangkal bahwa ia bukanlah murid Kristus dan berani membohongi diri sendiri dengan mengatakan bahwa ia tidak mengenal Kristus.  "Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: 'Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.' Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya."  (Matius 26:75).

     Alkitab tak pernah mencatat bahwa pengikut Kristus akan terbebas dari masalah dan beroleh kenyamanan hidup.  Sebaliknya dengan tegas dinyatakan bahwa  "...kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat."  (Matius 10:22).  Siapkah Saudara menghadapinya?

"...barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya."  Matius 16:25


October 12, 2018, 05:22:58 AM
Reply #1788
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Friday, October 12, 2018
DIKHIANATI ORANG TERDEKAT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Oktober 2018

Baca:  Matius 26:47-56

"'Hai teman, untuk itukah engkau datang?' Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya."  Matius 26:50

Bagaimana perasaan Saudara seandainya orang yang teramat dekat dengan kita, sahabat dan bahkan kita sudah menganggapnya seperti saudara sendiri dan sangat kita kasihi, tiba-tiba berlaku khianat terhadap kita?  Tentunya kita sangat kecewa dan hati ini terasa sakit.  "Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah."  (Amsal 27:6).  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata  'khianat'  memiliki arti:  perbuatan tidak setia, tipu daya, perbuatan yang bertentangan dengan janji.  Sebagian besar orang yang telah dikhianati oleh orang terdekatnya akan melakukan sebuah tindakan, yaitu tidak lagi mau berhubungan dengan orang yang berkhianat tadi, sekalipun mungkin sudah memaafkan.  "Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada kota yang kuat,"  (Amsal 18:19).

     Kristus pun pernah merasakan sebuah pengkhianatan!  Ia dikhianati oleh orang-orang terdekat-Nya dan yang dikasihi-Nya.  Pada malam sebelum ditangkap Ia dan kedua belas murid-Nya berkumpul bersama menikmati jamuan makan malam.  Pada kesempatan itu Kristus menyampaikan tentang apa yang akan terjadi pada diri-Nya dan murid-murid-Nya, di mana mereka akan tercerai berai dan lari ketakutan saat Kristus akan ditangkap.  Mendengar hal itu Petrus langsung reaktif dan berjanji bahwa apa pun yang terjadi ia sekali-kali tidak akan meninggalkan Sang Guru.  Namun bagaimana faktanya?  Sebelum ayam berkokok Petrus sudah menyangkal Kristus di hadapan manusia sebanyak tiga kali.  Juga, Yudas Iskariot, tega menyerahkan Sang Guru kepada imam-imam kepala untuk ditangkap demi mendapatkan uang sebesar tiga pula keping perak.

     Sekalipun Kristus telah dikhianati, dikecewakan, di sakiti dan ditinggalkan oleh murid-murid-Nya, kasih-Nya tak pernah berubah, kasih-Nya tak lekang oleh situasi dan kondisi.  Bahkan Ia tetap berdoa untuk murid-murid-Nya  (Yohanes 17:1-26).  Suatu teladan hidup yang luar biasa!  Tuhan menghendaki kita untuk mengikuti jejak-Nya,  "...sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi."  (Yohanes 13:34), termasuk mengasihi dan mengampuni orang yang menyakiti sekalipun.

Tetap mengasihi walau tersakiti dan dikhianati, itulah kasih yang sejati!


October 13, 2018, 05:08:02 AM
Reply #1789
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20136
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Saturday, October 13, 2018
TAK GONCANG DI TENGAH GONCANGAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Oktober 2018

Baca:  Ibrani 12:18-29

"Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut."  Ibrani 12:28

Seberapa waktu lalu teror bom kembali menggoncang Indonesia.  Surabaya, kota yang dikenal aman dan tenang, tiba-tiba dikejutkan dengan bom bunuh diri yang meledak di 3 gereja, pada Minggu pagi tanggal 13 Mei 2018 lalu.  Akibat ledakan bom ini aada puluhan orang menjadi korban.  Seketika itu suasana di kota Pahlawan menjadi sangat mencekam, membuat orang menjadi  takut dan was-was, aktivitas hidup pun menjadi terganggu.

     Ada pelajaran berharga yang kita dapatkan dari peristiwa ini.  Masalah, penderitaan, ancaman, marabahaya dan sebagainya bisa saja datang dan terjadi sewaktu-waktu tanpa bisa dihindari oleh siapa pun, dan unpredictable.  Dalam situasi seperti itu wajar bila semua orang menjadi tergoncang karena dihinggapi oleh rasa takut dan kuatir.  Namun sebagai orang percaya kita tak perlu larut dalam ketakutan dan kekuatiran yang berkepanjangan, sebab Alkitab menegaskan bahwa orang percaya menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan  (ayat nas), bukti bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan dan membiarkan umat-Nya  (Ibrani 13:5b);  melalui kuasa ROH KUDUS-Nya Tuhan ada untuk kita.  Oleh karena itu agar tidak tergoncang di tengah goncangan, kita harus menjadikan Firman Tuhan sebagai fondasi hidup!  "Jagalah supaya kamu jangan menolak Dia, yang berfirman. Sebab jikalau mereka, yang menolak Dia yang menyampaikan firman Allah di bumi, tidak luput, apa lagi kita, jika kita berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?"  (Ibrani 12:25).  Ini sama seperti seorang bijaksana yang mendirikan rumah di atas batu, ketika goncangan terjadi rumah itu tidak goyah dan tetap tegak berdiri  (Lukas 6:47-48).

     Kita akan mudah tergoncang bila dalam segal hal kita mengandalkan kekuatan sendiri.  Alkitab mengajarkan kita untuk hidup mengandalkan Tuhan dan percaya kepada-Nya.  Karena itu jangan terpaku pada masalah atau situasi!  "...dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi."  (Mazmur 121:1-2).

Biar pun gunung beranjak dan bukit bergoyang, tapi kasih setia Tuhan takkan beranjak dari hidup orang percaya  (Yesaya 54:10).



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)