Author Topic: Renungan Harian Air Hidup  (Read 179551 times)

0 Members and 6 Guests are viewing this topic.

November 15, 2018, 05:13:24 AM
Reply #1820
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Thursday, November 15, 2018
BERSUKACITALAH DI SEGALA KEADAAN!
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 November 2018

Baca:  Filipi 4:4-9

"Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!"  Filipi 4:4

Orang biasanya bersukacita ketika sedang berada dalam situasi yang baik dan menyenangkan.  Tapi begitu keadaan berubah, berada dalam masalah, kesulitan, atau situasi yang gawat dan tak mengenakkan, rasa sukacita itu pun raib seketika.  Yang ada tinggal rasa sedih, muram, kecewa, marah dan frustasi.

     Rasul Paulus menulis kitab ini ketika sedang dalam keadaan tidak baik, berada di dalam penjara.  Ia mengalami perlakuan yang tidak adil karena dijebloskan ke penjara tanpa berbuat kejahatan.  Sesungguhnya ia punya alasan kecewa, sedih, jengkel, protes atau marah, tetapi hal itu tidak dilakukannya, karena ia tahu ini adalah konsekuensi yang harus diterima sebagai pemberita Injil.  Penderitaan tak menghalanginya untuk terus melayani Tuhan,  "Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan."  (Filipi 1:21).  Rasul Paulus mengajarkan umat Tuhan untuk tetap bersukacita sekalipun dalam penderitaan dan berjerih lelah dalam melayani.  Mengapa demikian?  Mengapa demikian?  Menurut penelitian, jika orang gampang marah, cemas, takut, tertekan, maka otaknya segera mengeluarkan noradrenalin, yaitu hormon yang sangat beracun, yang dapat membuatnya mudah sakit dan cepat tua.  Sebaliknya, jika seseorang menghadapi segala sesuatu dengan sikap positif, otaknya akan mengeluarkan hormon betaendorfin, yang memperkuat daya tahan tubuh, menjaga sel otak tetap muda, melawan penuaan, menurunkan agresivitas dalam hubungannya dengan sesama, meningkatkan semangat, daya tahan dan kreativitas diri.  Jadi Tuhan tahu persis bagian mana dari diri manusia yang harus dikembangkan, itulah sebabnya Dia memerintahkan kita untuk selalu bersukacita di segala keadaan.

     Kita bersukacita karena kita punya dasar yang kuat yaitu janji Firman Tuhan, sebab  "TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia."  (Ratapan 3:25).  Jangan fokus pada besarnya masalah atau situasi yang ada di sekeliling kita, melainkan arahkan mata kita kepada Tuhan, yang berjanji takkan membiarkan dan meninggalkan kita.  (Ibrani 13:5b).

Jaminan Tuhan inilah yang memampukan kita untuk tetap bersukacita di segala keadaan!



November 16, 2018, 06:15:22 AM
Reply #1821
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Friday, November 16, 2018
PUJI-PUJIAN MENDATANGKAN KEKUATAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 November 2018

Baca:  Mazmur 34:1-6

"Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku."  Mazmur 34:2

Tak banyak orang Kristen mampu menjaga mulutnya untuk tidak memperkatakan hal-hal yang negatif ketika menghadapi masalah atau kesulitan.  Begitu masalah datang, seketika itu pula terlontar omelan, keluhan dan persungutan.

     Daud bukanlah orang yang hidup tanpa masalah.  Sekalipun menghadapi masalah tak membuatnya larut dalam kepedihan dan mengasihani diri sendiri, melainkan ia bertekad untuk memuji Tuhan pada segala waktu, artinya di segala keadaan, baik atau tidak baik waktunya, susah atau senang, puji-pujian bagi Tuhan adalah hal yang teramat penting bagi orang percaya!  Ketahuilah bahwa ketika kita memuji dan memuliakan Tuhan kita sedang  mengaplikasikan iman kita dalam perbuatan.  Sama seperti tubuh jasmani perlu bergerak atau berolahraga agar menjadi kuat, sehat, dan bugar, begitu pula kita perlu mengaplikasikan iman melalui doa, penyembahan, pujian dan ucapan syukur.

     Inilah yang juga dilakukan Abraham ketika sedang menanti-nantikan janji Tuhan:  "Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan."  (Roma 4:20-21).  Janji Tuhan adalah ya dan amin!  Tuhan tidak pernah ingkar dengan janji-Nya  (Bilangan 23:19).  Jangan sekali-kali merasa bimbang, sebab jika kita bimbang sama artinya kita tidak percaya kepada Tuhan.  Kebimbangan adalah lawan dari iman!  "Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."  (Yakobus 1:7).  Kebimbangan ibarat tembok tebal yang menghalangi kita untuk dapat melihat pekerjaan Tuhan dinyatakan.  Secara akal Abraham punya alasan untuk tidak memercayai janji Tuhan dan menjadi lemah, tapi ia terus melatih  'otot-otot'  imannya melalui pujian dan penyembahan kepada Tuhan.  Akhirnya Abraham pun mengalami penggenapan janji Tuhan sesuai dengan waktunya Tuhan.

Jangan berhenti memuji-muji Tuhan, karena di dalam puji-pujian ada kekuatan iman!



November 17, 2018, 05:19:07 AM
Reply #1822
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Saturday, November 17, 2018
SATU JAM SAJA TAK SANGGUP
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 November 2018

Baca:  Matius 26:36-46

"Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: 'Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?'"  Matius 26:40

Hal berdoa seringkali dianggap remeh dan sepele oleh kebanyakan orang Kristen.  Mereka berkata,  "Ah...berdoa itu mudah dan bisa dilakukan di mana pun!"  Namun dalam prakteknya ternyata berdoa tak mudah untuk dilakukan.  Kalau berdoa dilakukan secara bersama-sama dengan jemaat Tuhan dalam suatu ibadah raya atau persekutuan, sepertinya hal itu tampak mudah dilakukan, namun kalau berdoa secara pribadi  (bersaat teduh), belum tentu semua orang mau dan dapat melakukannya dengan setia.

     Contohnya adalah murid-murid Kristus sendiri.  Di mana pun dan ke mana pun Kristus pergi untuk mengajar dan melayani jiwa-jiwa, murid-murid selalu ada bersama Dia dan turut terlibat.  Intinya di mana ada Sang Guru di situ pula murid-murid-Nya berada.  Perhatikan!  Pada waktu Kristus sedang menghadapi situasi sulit karena waktu-Nya yang sudah dekat, pergilah Ia dengan mengajak murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani untuk berdoa.  Saat itu pula Kristus meminta kepada murid-murid-Nya untuk berjaga-jaga satu jam saja lamanya.  Tetapi apa yang terjadi?  Tuhan mendapati mereka tertidur.  Ternyata murid-murid tidak sanggup untuk berjaga-jaga, sekalipun itu hanya satu jam lamanya.  Padahal Tuhan sudah memperingatkan:  "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."  (Matius 26:41);  dan karena tidak berjaga-jaga, akhirnya ketika pencobaan datang, mereka tak punya kekuatan untuk menghadapinya dan kemudian lari meninggalkan Kristus!

     Banyak orang Kristen tampak aktif dalam pelayanan atau disibukkan dengan aktivitas-aktivitas rohani di gereja sehingga mereka tak punya waktu untuk berdoa.  Berdoa secara pribadi selama satu jam saja tak sanggup dilakukan.  Pikirnya:  "Aku sudah terlibat aktif dalam pelayanan dan waktuku sudah habis untuk kegiatan di gereja...Tuhan pasti tahu kalau aku capai.  Tidak berdoa tidak apa-apa!"  Kita lupa bahwa kunci kekuatan orang percaya itu terletak dalam doa!  Pelayanan tanpa doa takkan berdampak apa-apa.

Tak sanggupkah Saudara berdoa menimal satu jam saja dalam sehari?



November 19, 2018, 06:04:15 AM
Reply #1823
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Monday, November 19, 2018
SEPERTI BURUNG MERPATI (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 November 2018

Baca:  Mazmur 55:1-24

"Sekiranya aku diberi sayap seperti merpati, aku akan terbang dan mencari tempat yang tenang,"  Mazmur 55:7

Burung merpati adalah salah satu jenis burung yang sangat disukai oleh banyak orang.  Tak mengherankan bila jenis burung ini sering ditemukan di lingkungan kita tinggal.  Ada lagu yang cukup populer di era tahun 80'an yang berjudul  'Merpati tak pernah ingkar janji', dilantunkan dengan sangat apik oleh biduanita cantik Paramitha Rusady.  Lagu ini juga sekaligus menjadi soundtrack film dengan judul yang sama, yang juga diperankan oleh Paramitha Rusady dan Adi Bing Slamet.

     Ada beberapa sifat dari burung merpati yang dinyatakan di Alkitab:  melambangkan pendamaian keamanan  (Kejadian 8:11), melambangkan kasih yang murni  (Kidung 1:15), melambangkan ketulusan  (Matius 10:16)  dan melambangkan keelokan  (Mazmur 68:14).  Selain itu Alkitab juga menyatakan bahwa burung merpati adalah salah satu lambang dari ROH KUDUS.  Kita teringat tatkala Kristus menerima baptisan air di sungai Yordan dari Yohanes Pembaptis  (Matius 3:13-17).  Sesudah Ia keluar dari dalam air dan berdoa, ROH KUDUS datang mengurapi-Nya dengan tampak seekor burung merpati yang turun ke atas-Nya.  "lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."  (Mazmur 74:19), yang diharapkan menunjukkan kualitas hidup seperti burung merpati yang mampu membawa damai di mana pun berada, punya kasih yang murni, ketulusan, kesetiaan dan menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa menyatakan cinta kasih.

     Burung merpati pun sangat dikenal dengan kesetiaannya, di mana ia tidak pernah mendua hati.  Bagaimana dengan kita?  Adakah kita memiliki kesetiaan kepada Tuhan?  Di zaman sekarang ini tak mudah menemukan orang yang benar-benar setia!  Sampai-sampai pemazmur menulis:  "...telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia."  (Mazmur 12:2), sebab  "Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;"  (Amsal 19:22).  Ada banyak orang yang berubah tidak lagi setia kepada Tuhan hanya karena terbentur masalah atau kesulitan hidup.  Tuhan tidak lagi menjadi yang utama dalam hidup karena hatinya mendua dengan dunia.




November 20, 2018, 05:18:58 AM
Reply #1824
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Tuesday, November 20, 2018
SEPERTI BURUNG MERPATI (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 November 2018

Baca:  Mazmur 68:1-36

"Maukah kamu berbaring di antara kandang-kandang? Sayap-sayap merpati bersalut dengan perak, bulu kepaknya dengan emas berkilau-kilauan."  Mazmur 68:14

Burung merpati adalah burung yang sangat jinak, mengenali dengan baik siapa yang memeliharanya, dan tak mau tinggal jauh dari rumahnya.  Jinak berarti tidak liar dan tidak gampang memberontak.  Ini berbicara tentang penundukan diri!  Menundukkan diri kepada Tuhan berarti tidak mudah memberontak, mau dibentuk oleh firman-Nya dan mau dipimpin oleh ROH KUDUS.  Sebagaimana merpati dapat mengenali dengan baik siapa yang memeliharanya, kita pun harus semakin mengenal pribadi Tuhan yang benar.  Kata  'mengenal'  disini memiliki makna:  memiliki hubungan yang intim atau persekutuan yang karib dengan Tuhan.  Sejauh apa pun burung itu dibawa pergi, matanya akan tetap tertuju pada tempat atau rumah di mana ia dipelihara oleh pemiliknya.

     Sebagai merpatinya Tuhan, adakah kita memiliki kerinduan yang besar untuk selalu tinggal dekat Tuhan dan berada di rumah Bapa?  "Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah."  (Mazmur 42:2),  "Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik."  (Mazmur 84:11).  Satu hal istimewa dari seekor merpati ia tidak memiliki kantong empedu, yang berarti tak pernah menyimpan kepahitan, sakit hati atau pun dendam.  Itulah sebabnya burung merpati dikenal sebagai burung yang memiliki ketulusan dan kemurnian.  Betapa banyak orang Kristen yang sekalipun sudah aktif melayani Tuhan, hatinya masih dipenuh dengan kotoran:  sakit hati, kepahitan, dendam, benci, tak bisa mengampuni dan masih banyak lagi.  Rasul Paulus memperingatkan:  "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan."  (Efesus 4:31).

     Burung merpati selalu mencari tempat yang tenang.  Dunia ini penuh dengan hiruk-pikuk dan gelora, tak ada ketenangan disana.  Hanya dekat Tuhan saja kita akan merasa tenang  (Mazmur 62:2).  Ingat!  "Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa."  (1 Petrus 4:7).

Miliki kerinduan untuk selalu dekat dengan rumah Bapa, seperti burung merpati!


November 21, 2018, 05:59:17 AM
Reply #1825
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Wednesday, November 21, 2018
PIALA MILIK SANG PEMENANG
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 November 2018

Baca:  Mazmur 116:1-19

"Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN,"  Mazmur 116:13

Berbicara tentang  'piala'  pikiran kita pasti tertuju pada seseorang yang sedang berada di atas podium juara, seseorang yang telah memenangkan sebuah pertandingan.  'Piala'  adalah cawan berkaki dibuat dari emas, perak dan sebagainya, dipakai sebagai tempat minum raja-raja dan orang-orang besar;  atau cawan berkaki dan kadang bertelinga, biasanya diberi tulisan sebagai tanda peringatan, terbuat dari emas, perak dan sebagainya, dipakai sebagai hadiah bagi para pemenang perlombaan.  Dua jenis piala:  1.  Piala bergilir, diperebutkan dalam pertandingan yang diadakan setahun sekali atau lebih, dan diberikan secara bergilir kepada pemenang selama masa pertandingan yang satu ke pertandingan berikutnya  (jika pada pertandingan berikutnya pemenang terdahulu kalah, ia harus melepaskan piala itu).  2.  Piala tetap, menjadi milik pemenang selamanya.

     Memperoleh piala adalah impian semua olahragawan yang berlaga di sebuah pertandingan.  Itulah yang menjadi motivasi, penggerak, pendorong dan penyemangat baginya untuk berjuang all out di lapangan.  Kehidupan Kekristenan pun adalah sebuah arena pertandingan iman.  Oleh karena itu  "...marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita."  (Ibrani 12:1).  Yang tak boleh dilupakan adalah, setiap pertandingan membutuhkan perjuangan dan pengorbanan.  Jadi ada harga yang harus dibayar jika kita ingin mendapatkan piala, karena piala tidak pernah diberikan secara gratis atau cuma-cuma, tapi harus diupayakan, butuh kerja keras, semangat dan pantang menyerah.  Tidak ada istilah santai atau leha-leha!  Dalam pertandingan ada aturan-aturan yang harus ditaati oleh para peserta lomba.  Jika kita melanggar aturan tersebut kita akan terkena diskualifikasi.

     Dalam pertandingan iman kita pun harus taat kepada aturan Tuhan yaitu Firman Tuhan.  "...aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak."  (1 Korintus 9:27).

Piala tersedia bagi orang yang mampu menyelesaikan pertandingan sampai garis akhir dan hidup sesuai aturan Tuhan!



November 22, 2018, 06:35:14 AM
Reply #1826
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Thursday, November 22, 2018
JANGAN LAGI TERIKAT DOSA (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 November 2018

Baca:  Roma 7:13-26

"Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik."  Roma 7:18

Dalam kehidupan ini Tuhan memberi kehendak bebas  (free will)  kepada manusia.  Kehendak bebas adalah kemampuan untuk memilih di antara berbagai rencana tindakan berbeda yang memungkinkan.  Hal ini terkait erat dengan konsep tanggung jawab, pujian, kesalahan, dosa, dan penilaian-penilaian lain yang hanya berlaku pada tindakan-tindakan yang dipilih secara bebas.  Manusia diberi kebebasan untuk memilih atau membuat keputusan dalam hidupnya:  taat atau tidak taat, beribadah kepada Tuhan atau tidak beribadah kepada Tuhan, namun kebanyakan manusia menyalahgunakan kehendak bebas tersebut dengan memilih untuk tidak taat kepada Tuhan.  Rasul Paulus menulis:  "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,"  (Roma 3:23).

     Dunia sudah terkontaminasi oleh dosa, karena itu selama seseorang hidup di dunia ini kecenderungan untuk berbuat dosa akan tetap ada sekalipun ia telah percaya kepada Kristus.  Persoalannya:  apakah orang yang sudah percaya boleh hidup terus-menerus di dalam dosa yang sama?  Sebagai orang percaya yang telah diselamatkan seharusnya semakin hari kita semakin bertumbuh di dalam Tuhan, semakin dewasa di dalam iman dan semakin serupa dengan Kristus.  Tapi kenyataannya masih banyak orang percaya, yang sekalipun tampak rajin beribadah dan terlibat dalam pelayanan, hidupnya masih saja terikat dengan dosa, sifat dan karakter lamanya belum juga berubah dan kehidupannya tak jauh berbeda dengan dunia.  Alkitab jelas menyatakan bahwa orang yang hidup di dalam Kristus menyandang status sebagai orang yang merdeka, sebab  "Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran."  (Roma 6:18), dan  "...sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal."  (Roma 6:22), dan menjadi ciptaan yang baru  (2 Korintus 5:17).

     Walaupun kita adalah orang percaya yang telah diselamatkan, tidak serta merta kita kebal terhadap dosa.  Kita harus tetap mengerjakan keselamatan tersebut dengan takut dan gentar  (Filipi 2:12).



November 23, 2018, 05:36:20 AM
Reply #1827
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Friday, November 23, 2018
JANGAN LAGI TERIKAT DOSA (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 November 2018

Baca:  Yakobus 1:12-18

"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut."  (Yakobus 1:14-15).

Ada banyak faktor yang seringkali membawa seseorang kepada dosa dan terikat dengan dosa.  Faktor utamanya adalah serangan dari si Iblis.  Segala cara dilakukan oleh Iblis untuk memengaruhi kehidupan manusia.  Rasul Petrus menggambarkan demikian:  "...si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya."  (1 Petrus 5:8).  Iblis selalu mencari kesempatan dan menunggu waktu yang baik untuk menyerang manusia  (Lukas 4:13)  dan waktu yang baik itu adalah ketika manusia sedang lengah dan tidak lagi berjaga-jaga.  Firman Tuhan memperingatkan:  "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah."  (Matius 26:41).

     Faktor lainnya adalah lingkungan di mana kita tinggal dan pergaulan kita.  Lingkungan yang buruk dapat memengaruhi hidup seseorang.  Orang yang awalnya berperilaku baik bisa saja secara perlahan berubah menjadi sangat buruk, oleh karena pengaruh lingkungan di mana ia tinggal.  Begitu pula dengan pergaulan!  "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."  (1 Korintus 15:33).  Karena itu kita perlu memperhatikan dengan sungguh-sungguh dengan siapa kita bergaul, jangan sampai kita salah dalam pergaulan, karena akibatnya sangat fatal.  "Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang."  (Amsal 13:20).  Jelas sekali bahwa lingkungan dan pergaulan yang buruk berpotensi besar mengakibatkan seseorang terjerumus dan terjerat ke dalam dosa yang semakin dalam.  Jangan mencoba untuk melakukan tindakan kompromi atau membuka celah sedikit pun untuk hal itu.  Karena itu berhati-hatilah!

     Keterikatan seseorang terhadap dosa bisa juga terjadi oleh karena keinginan sendiri sehingga hasrat untuk memuaskan keinginan dagingnya begitu kuat.  Semakin kita terikat dengan dosa, semakin jauh kita dari Tuhan;  dan jika hubungan kita dengan Tuhan terputus berarti terputus pula berkat-berkat Tuhan untuk kita.

"Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi;"  1 Yohanes 3:9


November 24, 2018, 06:05:07 AM
Reply #1828
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Saturday, November 24, 2018
KASIH SEBAGAI DASAR HIDUP ORANG PERCAYA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 November 2018

Baca:  1 Korintus 13:1-10

"...tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing."  1 Korintus 13:1

Ada dua ajaran Kristus yang bersifat luhur dan agung yaitu mengasihi dan memuridkan  (Amanat Agung).  Kedua ajaran tersebut bersifat imperatif atau suatu perintah yang wajib dilakukan oleh semua orang percaya, tanpa terkecuali;  bukan bersifat alternatif, suka-suka, atau pilihan yang didasarkan pada kesenangan hati.

     Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus rasul Paulus menegaskan begitu pentingnya kita memiliki kasih.  Kasih yang bagaimana?  Kasih yang dipraktekkan.  Orang percaya dituntut untuk hidup dalam hukum kasih.  Hukum kasih ini menekankan pada motivasi.  Segala sesuatu yang kita lakukan, baik itu dalam hal ibadah, pelayanan, pekerjaan, menolong sesama atau apa pun juga, bila dilakukan tanpa dasar kasih  (motivasi yang benar), maka tidak akan ada faedahnya di mata Tuhan.  "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat,... Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung,... Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar,..."  (1 Korintus 13:1, 2, 3).  Ini menunjukkan bahwa kasih memiliki peranan penting dalam dalam segala aspek hidup pengikut Kristus, bahkan rasul Paulus kembali menekankan bahwa dari semuanya yang paling besar dan utama adalah kasih  (1 Korintus 13:13).

     Di zaman sekarang ini tak mudah menemukan orang yang memiliki kasih.  Kasih serasa menjadi sesuatu yang sangat langka dan sulit untuk ditemukan dalam diri insan manusia karena kebanyakan orang cenderung mementingkan diri sendiri  (bersikap egois), yang dipikirkan hanyalah bagaimana cara mewujudkan keinginan dan ambisi pribadi, sehingga segala sesuatu yang dilakukan didasarkan pada faktor untung-rugi atau tendensi.  Tak mengherankan bila  "...kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin."  (Matius 24:12), alias luntur, sehingga sekalipun sesungguhnya mereka memiliki kemampuan untuk mengasihi tapi sedikit saja yang mau melakukannya dalam wujud tindakan. 

"Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!"  1 Korintus 16:14


November 25, 2018, 04:43:37 AM
Reply #1829
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Sunday, November 25, 2018
MELAYANI TUHAN TAPI TAK PUNYA KASIH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 November 2018

Baca:  Amsal 19:1-29

"Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu."  Amsal 19:17

Sebagai pengikut Kristus kita diperintahkan untuk mengikuti teladan Kristus,  "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."  (1 Yohanes 2:6).  Kristus berkata,  "...sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi."  (1 Yohanes 13:34).  Jadi, memiliki kasih adalah tanda sebagai murid Kristus  (Yohanes 15:8).

     Salah satu teladan hidup Kristus adalah hati-Nya dipenuhi oleh belas kasihan terhadap semua orang  (Matius 9:36;  Matius 14:14).  Rasul Paulus menegaskan pula,  "...dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,"  (Filipi 2:1).  Belas kasihan atau welas asih adalah emosi manusia yang muncul akibat penderitaan orang lain.  Lebih kuat daripada empati, perasaan ini biasanya memunculkan suatu usaha untuk mengurangi penderitaan orang lain.  Berbicara tentang belas kasihan, kita selalu diingatkan dengan kisah seorang Samaria yang murah hati  (Lukas 10:25-37), yang telah menujukkan kasihnya yang tulus kepada orang yang telah dirampok dan dianiaya oleh para penyamun.  Hanya orang Samaria itu yang hatinya tergerak oleh belas kasihan, padahal di kalangan orang Israel orang Samaria disebut orang yang kafir dan najis, tapi justru orang inilah yang menunjukkan kasih.  Sedangkan seorang imam dan juga orang Lewi yang lebih dulu melewati jalan itu malah memilih untuk menghindar.  Imam adalah orang yang mempunyai tugas mulia di rumah Tuhan, ia adalah mediator atau perantara antara manusia dan Tuhan.  Umat yang ingin berhubungan dengan Tuhan harus melalui imam.  Lewi adalah kaum yang dipilih Tuhan untuk melayani di rumah Tuhan.  Sama halnya dengan imam yang lewat sebelumnya, orang Lewi ini pun hanya berjalan melewati korban perampokan tersebut.

     Sangat ironis memang, orang-orang yang menyandang status sebagai pelayan Tuhan dan mengerti kebenaran Firman Tuhan tapi tidak mau melayani orang lain yang sedang membutuhkan pertolongan.

Apalah artinya sibuk melayani pekerjaan Tuhan jika semua itu sebatas teori dan kegiatan agamawi saja!


 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)