Author Topic: Renungan Harian Air Hidup  (Read 170592 times)

0 Members and 3 Guests are viewing this topic.

November 26, 2018, 05:26:22 AM
Reply #1830
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22570
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Monday, November 26, 2018
MENYELESAIKAN MISI BAPA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 November 2018

Baca:  Yohanes 19:28-30

"Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya."  Yohanes 19:30

Pernyataan Kristus di atas kayu salib  'Sudah selesai'  ini, apa maknanya?  Apakah yang Kristus selesaikan di seluruh hidup-Nya?  Kristus telah menyelesaikan misi yang Bapa amanatkan kepada-Nya.  Apa misi Kristus datang ke dunia?  Ada tertulis:  "...Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."  (Matius 20:28).

     Hari-hari Kristus yang singkat saat berada di bumi dipenuhi dengan pelayanan:  melayani jiwa-jiwa, melakukan banyak mujizat, mengajar dan memberitakan Injil dan Kerajaan Sorga.  Puncaknya, Ia taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.  Kristus menyelesaikan tugas-Nya sebagai Juruselamat manusia dan menjadi teladan bagi orang percaya melalui ketaatan, kasih, kerendahan hati, dan kuasa-Nya.  Setelah menyelesaikan semuanya berkatalah Kristus kepada Bapa:  "Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya."  (Yohanes 17:4).

     Selanjutnya, apa yang menjadi pesan Kristus kepada semua orang percaya?  "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."  (Yohanes 20:21).  Kristus mengutus kita untuk melanjutkan misi-Nya yaitu mengerjakan Amanat Agung:  "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan ROH KUDUS, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."  (Matius 28:19-20).  Sudahkah kita melakukan apa yang Tuhan perintahkan ini?  Selama kita masih memiliki waktu hidup di dunia ini mari kita gunakan waktu kita sebaik mungkin untuk melayani Tuhan menggenapi rencana-Nya.  Inilah yang menjadi komitmen rasul Paulus:  "...aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku..."  (Kisah 20:24).

Kristus rela mengorbankan nyawa-Nya untuk keselamatan kita dengan tujuan agar kita meneruskan misi Kristus dalam memenangkan jiwa bagi kerajaan-Nya.



November 27, 2018, 05:41:57 AM
Reply #1831
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22570
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Tuesday, November 27, 2018
TAK HIRAUKAN PERINGATAN TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 November 2018

Baca:  Wahyu 2:18-29

"Dan Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya."  Wahyu 2:21

Tuhan kita adalah Tuhan yang panjang sabar dan penuh kasih setia!  Terhadap orang yang melakukan perbuatan dosa Tuhan tidak segera menghukum, namun Ia selalu memberi kesempatan atau waktu untuk bertobat.  Tuhan telah memberikan waktu kepada Izebel yang menyebut dirinya nabiah, yang mengajar dan menyesatkan hamba-hamba Tuhan agar melakukan zinah dan makan persembahan-persembahan berhala, untuk segera bertobat, tetapi ia tidak mau  (ayat nas).  Sekalipun Tuhan telah memberikan waktu yang cukup untuk bertobat dari perbuatan-perbuatan yang jahat, ia tetap tidak mau bertobat.

     Di zaman sekarang ini banyak sekali orang melakukan perzinahan rohani!  Mereka lebih suka percaya terhadap berhala-berhala daripada percaya kepada Tuhan yang benar dan hidup.  Mereka meremehkan Kristus dan lebih suka menyembah kepada roh-roh jahat atau pergi ke dukun-dukun.  Tuhan telah cukup banyak memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertobat dari jalan-jalannya yang sesat, tapi peringatan Tuhan tersebut tak dihiraukannya, dan dengan sengaja menutup hati dan telinga untuk berita keselamatan.  Hal ini juga terjadi pada zaman nabi Yeremia!  Melalui hamba-Nya ini Tuhan selalu memperingatkan bangsa Yehuda yang menyembah berhala untuk segera bertobat, tapi respons mereka seperti ini:  "Mengenai apa yang kaukatakan demi nama Allah kepada kami itu, kami tidak akan mendengarkan engkau,"  (Yeremia 44:16).

     Demikian sulitnya manusia diajak untuk hidup benar, karena manusia lebih suka untuk hidup menurut kehendak dagingnya daripada tunduk kepada kehendak Tuhan.  Mereka lupa bahwa setiap ketidaktaatan selalu membawa akibat.  Janganlah menyalahkan Tuhan jika suatu saat kita harus menuai dari apa yang kita tabur.  "Seperti mereka tidak mendengarkan pada waktu dipanggil, demikianlah Aku tidak mendengarkan pada waktu mereka memanggil, Firman Tuhan semesta alam."  (Zakharia 7:13).

"Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat."  2 Petrus 3:9



November 28, 2018, 05:14:37 AM
Reply #1832
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22570
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Wednesday, November 28, 2018
MENGALAMI SORGA DI BUMI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 November 2018

Baca:  Ulangan 7:12-26

"Dan akan terjadi, karena kamu mendengarkan peraturan-peraturan itu serta melakukannya dengan setia, maka terhadap engkau TUHAN, Allahmu, akan memegang perjanjian dan kasih setia-Nya yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu."  Ulangan 7:12

Tujuan manusia menjalani kehidupan di bumi bukanlah untuk berfoya-foya, memuaskan hasrat kedagingannya, atau hidup menurut kehendaknya sendiri, melainkan harus hidup menurut kehendak Tuhan Sang Pencipta dan hidup mempermuliakan nama-Nya,  "...semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!"  (Yesaya 43:7).

     Kita diperingatkan untuk memperhatikan sungguh-sungguh bagaimana kita hidup, sebab cara hidup kita di dunia ini akan menentukan tempat kita di alam baka.  Di alam baka nanti, hanya ada dua tempat yaitu istana Raja di atas segala raja, atau penjara;  sorga atau neraka;  hidup kekal atau binasa kekal.  Jalan menuju ke dua tempat itu dirintis saat kita di dunia.  Pilihan hidup ada di tangan kita masing-masing!  Untuk mencapai sorga haruslah melalui satu jalan, yaitu bertobat dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sebab Dialah satu-satunya jalan menuju rumah Bapa  (Yohanes 14:6).  Apabila waktu atau kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita telah berakhir tak ada kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri, sebab waktu tak bisa diputar kembali.  Jika semuanya sudah terlambat, sesal pun tiada guna.

     Selama hidup di bumi ini kita pun dapat mengalami dan menikmati Sorga asalkan kita mau menaati semua perintah Tuhan.  Tuhan menjanjikan kepada umat Israel, apabila mereka taat akan semua perintah-Nya, mereka akan mengalami hidup seperti di sorga, karena tak ada kemandulan, hasil bumi diberkati, dijauhkan dari sakit-penyakit, wabah-wabah ditiadakan dan sebagainya.  Sebaliknya, jika mereka melanggar perintah Tuhan, maka kutuk akan menimpa mereka.  Jadi, berkat atau kutuk, dapat kita pilih!  "...kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu,"  (Ulangan 30:19).

Untuk mengalami sorga di bumi tergantung sikap dan pilihan hidup kita sendiri.  Jika kita taat kepada Tuhan, berkat-Nya berlaku atas kita!



November 29, 2018, 08:36:11 AM
Reply #1833
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22570
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Thursday, November 29, 2018
MENGASIHI TUHAN LEBIH DARI SEGALA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 November 2018

Baca:  Kejadian 22:1-19

"Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."  Kejadian 22:2

Abraham dikenal sebagai bapa orang beriman.  Sebutan ini tidak serta merta disematkan pada Abraham tanpa melalui proses.  Kualitas iman percaya Abraham kepada Tuhan harus melewati ujian demi ujian.  Salah satu ujian terberat adalah ketika Tuhan memintanya mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran.  Ishak adalah anak yang sangat dinanti-nantikan Abraham dan Sara dalam kurun waktu yang cukup lama.  Saat itulah Abraham dihadapkan pada pilihan yang tak mudah:  taat kepada Tuhan dengan mempersembahkan anak semata wayangnya, atau mempertahankan anak demi egonya sendiri.

     Abraham lulus dari ujian terhadap imannya tersebut, di mana ia memilih untuk taat kepada kehendak Tuhan dengan mempersembahkan Ishak, bukti bahwa ia mengasihi Tuhan lebih dari segala-galanya, bukti bahwa ia menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidupnya.  Berkatalah malaikat Tuhan kepada Abraham,  "...sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku."  (Kejadian 22:12).

     Hidup Kekristenan adalah hidup yang tak luput dari proses ujian.  Tak selamanya perahu hidup kita berlayar di lautan yang tenang, tapi adakalanya perahu itu harus melewati ganasnya ombak, gelombang, juga terpaan angin ribut yang dapat menenggelamkan perahu kita.  Juga terkadang kita harus melewati hari-hari serasa di padang gurun.  Saat itulah iman kita sedang diuji.  Bersungut-sungut, mengeluh, mengomelkah kita seperti yang biasa dilakukan bangsa Israel, ataukah kita tetap memantapkan iman dan memilih tetap mengasihi Tuhan lebih dari apa pun?  Proses ujian yang dialami bangsa Israel di padang gurun membawanya kepada pengalaman hidup yang luar biasa, sebab di sanalah mujizat dan pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang dahsyat dinyatakan.  Tanpa ujian, iman seseorang takkan mengalami pertumbuhan.  Ujian terhadap iman akan membuktikan diri kita yang sebenarnya di hadapan Tuhan.

Tuhan memakai setiap proses demi proses untuk mengetahui kadar kasih kita kepada-Nya.



November 30, 2018, 07:19:37 AM
Reply #1834
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22570
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Friday, November 30, 2018
LATIHAN KERAS: Kunci Keberhasilan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 November 2018

Baca:  1 Timotius 4:1-10

"Latihlah dirimu beribadah.  Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."  1 Timotius 4:7b, 8

Lalu Muhammad Zohri, pria kelahiran 1 Juli 2000 di Lombok (NTB), beberapa waktu yang lalu telah menjadi perbincangan di negeri ini dan dunia karena torehan prestasinya, yaitu meraih medali emas lari nomor 100 meter putera pada Kejuaraan Dunia atletik U-20 di Finlandia  (11/7/2018).  Berdasarkan catatan resmi Asosiasi Internasional Federasi Atletik  (IAAF), dalam 32 tahun penyelenggaraan, ini merupan sejarah baru bagi Indonesia.  Sebulan sebelumnya Zohri juga berhasil meraih medali emas di nomor yang sama pada kejuaraan atletik Asia Yunior di Gifu  (Jepang).  Luar biasa!

     Seseorang tidak akan bisa menjadi atlet yang hebat dan berprestasi tanpa berlatih dengan keras!  Demikian juga dalam kehidupan rohani dan pelayanan diperlukan latihan yang keras.  Rasul Paulus mengibaratkan dirinya sebagai seorang pelari dan petinju yang berlatih sedemikian rupa dengan tujuan agar hidup dan pelayanannya berkenan kepada Tuhan.  "Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak."  (1 Korintus 9:26-27).  Latihan keras ini berbicara tentang penyangkalan diri terhadap segala keinginan daging atau kesenangan lahiriah yang dapat menghambat kemajuan rohaninya dan juga pelayanannya.  "...kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus."  (1 Korintus 9:12b).

     Rasul Paulus berharap agar Timotius mengikuti jejak hidupnya, karena itu ia menasihati Timotius untuk melatih diri dalam hal ibadah.  Ibadah yang bukan hanya sebatas rutinitas atau kegiatan agamawi, tapi ibadah yang disertai dengan hati yang takut akan Tuhan, dengan mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Tuhan  (Roma 12:1).

Ibadah yang disertai penyangkalan diri terhadap segala kedagingan perlu latihan keras.  Ada harga yang harus dibayar agar ibadah kita dikenan Tuhan!



December 01, 2018, 06:12:59 AM
Reply #1835
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22570
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
 http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Saturday, December 1, 2018
TUHAN SANGGUP MEMBUKA PINTU
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Desember 2018

Baca:  Yesaya 60:1-22

"Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak akan tertutup, supaya orang dapat membawa kekayaan bangsa-bangsa kepadamu, sedang raja-raja mereka ikut digiring sebagai tawanan."  Yesaya 60:11

Di dalam kehidupan ini pasti ada saat di mana kita dihadapkan pada situasi yang sangat tidak enak.  Apa saja yang kita kerjakan serasa tiada membuahkan hasil alias gagal.  Kita serasa mengalami jalan buntu di segala hal, seperti bangsa Israel yang menghadapi laut Teberau yang serasa seperti jalan buntu.  Pintu-pintu kehidupan seolah-olah tertutup.  'Pintu'  bisa berbicara tentang:  pintu kesempatan, pintu berkat, pintu jawaban doa, pintu kesembuhan, pintu pemulihan, pintu keberhasilan, dan sebagainya.

     Jika sampai hari ini kita menghadapi pintu-pintu yang tertutup, janganlah berkecil hati dan berputus asa.  Ketok pintu hati Tuhan dengan seruan yang tiada berkeputusan, sebab Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang punya kuasa dan otoritas.  Ada tertulis:  "...apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka."  (Wahyu 3:7).  Pintu-pintu kesempatan, pintu berkat, pintu kesembuhan, pintu pemulihan, pintu keberhasilan.... pasti dibukakan bagi kita.  Penulis Amsal menegaskan bahwa selalu ada masa depan dan harapan bagi orang yang takut akan Tuhan:  "...masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang."  (Amsal 23:18).  Bukti orang yang takut akan Tuhan adalah hidup sesuai dengan kehendak-Nya  (taat).  Sekalipun situasi atau keadaan sepertinya tak memungkin pintu itu terbuka, tapi bagi Tuhan tidak ada yang tidak mungkin.  Firman Tuhan mengatakan:  "Pintu-pintu gerbangmu akan terbuka senantiasa, baik siang maupun malam tidak akan tertutup..."  (ayat nas).  Artinya Tuhan sanggup membuka pintu bagi kita di segala keadaan, di segala musim kehidupan kita.  Dengan kata lain berkat Tuhan tidak terpengaruh situasi!

     Jadi, asalkan kita benar-benar hidup melekat kepada Tuhan dan  'tinggal'  di dalam firman-Nya, tak ada yang perlu ditakutkan dan dikuatirkan dengan hidup ini.  Sekalipun dunia penuh dengan gejolak dan berbagai krisis melanda, sekalipun banyak orang merancangkan kejahatan terhadap kita, tapi jika Tuhan membuka pintu-pintu berkat bagi kita, tak ada kuasa mana pun yang mampu menghalanginya.

Andalkan Tuhan selalu dalam hidup ini, maka pintu berkat pasti terbuka bagi kita.




December 02, 2018, 04:36:34 AM
Reply #1836
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22570
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Sunday, December 2, 2018
YOSUA: Pemimpin yang Teruji
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Desember 2018

Baca:  Yosua 1:1-18

"Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka."  Yosua 1:6

Setelah melewati hari-hari perkabungan karena kematian Musa, Tuhan memilih dan menetapkan Yosua untuk menerima tongkat estafet kepemimpinan atas bangsa Israel.  Adapun nama Yosua memiliki arti:  Tuhan adalah keselamatan.  Ayah Yosua adalah Nun dan kakeknya adalah Elisama yang merupakan kepala suku Efraim di padang gurun  (Bilangan 1:10; 1 Tawarikh 7:27).  Ini menunjukkan bahwa Yosua adalah termasuk keturunan Yusuf yang notabene memiliki reputasi besar dalam sejarah bangsa Israel.

     Memimpin suatu bangsa yang dikenal tegar tengkuk adalah hal yang tidak gampang, tetapi Yosua beroleh kekuatan iman karena janji Tuhan ini:  "Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau."  (Yosua 1:5).  Pernyataan bangsa Israel juga semakin meneguhkan panggilannya:  "Segala yang kauperintahkan kepada kami akan kami lakukan dan ke manapun kami akan kausuruh, kami akan pergi; sama seperti kami mendengarkan perintah Musa, demikianlah kami akan mendengarkan perintahmu."  (Yosua 1:16-17).  Jadi, Yosua bukanlah seorang memimpin yang sembarangan, karena ia adalah pemimpin yang dipilih oleh Tuhan sendiri dan juga diakui oleh rakyat.

     Bukan tanpa alasan Tuhan memilih Yosua dan menetapkan dia sebagai pengganti Musa, karena secara kualitas hidup ia sudah teruji:  menjadi asisten pribadi Musa sejak usia muda  (Keluaran 33:11;  Bilangan 11:28);  berhasil memimpin pasukan Israel saat melawan Amalek yang berakhir dengan kemenangan  (Keluaran 17:8-13);  ia seorang yang punya prinsip dan tak mudah terpengaruh oleh keadaan.  Ketika diutus untuk mengintai tanah Kanaan, Yosua dan juga Kaleb tidak memberikan laporan negatif seperti sepuluh pengintai lain, bukti bahwa ia memiliki kualitas iman yang luar biasa.  Karena keteguhan hatinya ini Yosua malah dimusuhi dan hendak dilempari batu  (Bilangan 14:5-10).

Tuhan tidak memakai sembarang orang untuk menggenapi rencana-Nya, hanya orang-orang yang mau berproses dan teruji kualitasnya yang Ia pilih!



December 03, 2018, 09:06:41 AM
Reply #1837
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22570
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Monday, December 3, 2018
HIDUP BENAR DIANGGAP SOK SUCI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Desember 2018

Baca:  Mazmur 73:1-28

"Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi."  Mazmur 73:13-14

Manakala kita menjalani hidup dalam kesalehan, menjaga langkah agar tidak menyimpang dari kehendak Tuhan, apakah dengan sendirinya perjalanan hidup kita akan melenggang mulus?  Ternyata tidak.  Terkadang yang terjadi justru sebaliknya, ketika seseorang tampil  'beda'  dengan hidup menurut kehendak Tuhan  (hidup saleh), justru kerapkali malah menjadi bahan tertawaan atau ejekan, dipandang sebelah mata, dijauhi dan dibilang sok rohani atau sok suci.  Karena tak tahan dengan cibiran orang, tidak tahan dengan tekanan orang-orang sekitar, tidak sedikit dari kita yang menyerah dan akhirnya memilih untuk berkompromi saja dengan cara hidup dunia atau mengikuti arus yang ada.

     Sungguh, hidup saleh menjadi hal yang sulit didapati di dunia saat ini.  "...orang saleh telah habis, telah lenyap orang-orang yang setia dari antara anak-anak manusia."  (Mazmur 12:2), karena kebanyakan orang hidup menurut kehendaknya sendiri dan menyimpang jauh dari kebenaran.  Akibatnya kesalehan hidup mempunyai ruang gerak semakin sempit, yaitu hanya sebatas ruang gedung gereja dan pelayanan, sementara di luar dalam hidup keseharian, orang kembali kepada kehidupan lama.  Pergumulan ini juga dialami pemazmur, sampai-sampai ia berpikir bahwa sia-sia memiliki kesalehan hidup  (ayat nas)  karena ia harus mengalami tekanan setiap hari.  Timbullah rasa cemburu begitu melihat keberadaan orang fasik yang sepertinya hidup mujur.  "Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain."  (Mazmur 73:3-5).

     Benarkah?  "Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan! Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina."  (Mazmur 73:19-20).  Kemujuran orang fasik itu hanya sekejap mata, pada saatnya mereka akan menuai apa yang ditaburnya.

Apa pun situasinya biarlah kita tetap hidup dalam kebenaran, bukan karena kita sok suci, melainkan karena hidup kita telah disucikan melalui pengorbanan Kristus!



December 04, 2018, 05:26:14 AM
Reply #1838
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22570
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Tuesday, December 4, 2018
DI RUMAH TUHAN ADA SUKACITA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Desember 2018

Baca:  Mazmur 122:1-9

"Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: 'Mari kita pergi ke rumah TUHAN.'"  Mazmur 122:1

Setiap orang memiliki alasan berbeda-beda untuk bersukacita.  Ada yang bersukacita karena menjadi pemenang undian berhadiah;  ada yang sampai tak bisa berkata-kata karena mendapatkan uang kaget:  rumahnya  'dibedah'  atau hutangnya dibayar lunas  (seperti di acara salah satu stasiun televisi);  bersukacita karena naik pangkat;  karena lulus kuliah dengan predikat summa cumlaude;  atau bersukacita karena bisa melanglang buana.  Tetapi sukacita karena alasan-alasan tersebut di atas umumnya bersifat tak permanen  (sementara), sebab semua yang ada di dunia ini takkan bisa memberikan sukacita sejati.

     Daud sesungguhnya punya alasan untuk bersukacita karena hal-hal lahiriah karena ia adalah raja yang memiliki semua yang dibutuhkan:  harta, pangkat/kedudukan, popularitas dan sebagainya.  Meski demikian ia tak menggantungkan harapan hidupnya kepada hal-hal lahiriah tersebut.  Bagi Daud sukacita sejati justru ia rasakan saat berada di rumah Tuhan.  Mengapa?  Karena di rumah Tuhan ia mendapatkan segala hal yang diperlukan:  kelepasan, kelegaan, kemenangan, pertolongan dan mujizat.  Tuhan berkata,  "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."  (Matius 11:28).  Mari kita bawa semua beban dan persoalan hidup ke rumah Tuhan, di situlah kita mendapatkan jawaban.  "TUHAN, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam."  (Mazmur 26:8).

Namun yang paling utama, Daud mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan di bait-Nya yang kudus.  Bertemu dengan Tuhan berarti mendapatkan segalanya karena Dia adalah sumber segala-galanya.  Daud bersukacita karena Tuhan telah menyelamatkan hidupnya dan telah merancang hal-hal yang luar biasa sejak ia masih dalam kandungan.  "mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya."  (Mazmur 139:16).  Sukacita Daud makin melimpah-limpah karena di rumah Tuhan ia dikenyangkan dengan makanan rohani, yaitu Firman Tuhan.

Lebih baik satu hari di pelataran rumah Tuhan, daripada seribu hari di tempat lain!  Mazmur 84:11



December 05, 2018, 05:35:37 AM
Reply #1839
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22570
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Wednesday, December 5, 2018
TEKANAN HIDUP MENDATANGKAN KEBAIKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Desember 2018

Baca:  Mazmur 43:1-5

"Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!"  Mazmur 43:5

Semua orang pasti pernah mengalami tekanan dalam hidupnya.  Tekanan hidup dapat terjadi karena banyak faktor, seperti masalah yang datang bertubi-tubi, sakit-penyakit yang tak kunjung sembuh, krisis keuangan dalam keluarga, di PHK dari pekerjaan, studi gagal, ditinggalkan oleh orang yang terkasih, dan masih banyak lagi.  "Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:"  (Pengkhotbah 6:1).  Setiap orang memiliki respons yang berbeda-beda ketika menghadapi tekanan hidup.  Ada yang tak berhenti mengeluh sehingga keadaannya semakin terpuruk dan makin frustasi.  Tetapi tidak sedikit dari mereka yang tetap kuat dan tegar.

     Tekanan adalah salah satu cara yang terkadang Tuhan pakai untuk pendewasaan rohani, agar kita bisa lebih kuat dan tidak manja.  Selama ini mungkin kita terlena dengan zona nyaman, sehingga begitu tekanan datang kita langsung oleng atau kehilangan keseimbangan.  Bersyukurlah jika kita berada dalam tekanan karena hal ini membawa kita kepada pengalaman hidup yang baru.  Jika alur kehidupan kita datar-datar saja, tak ada tantangan, pastilah sangat membosankan.  Jadi, ambillah sisi positif dari setiap tekanan yang kita alami.  Tekanan membuat kita semakin menyadari keterbatasan kita dan mendorong kita untuk semakin mendekat kepada Tuhan.

     Camkan ini!  Pelaut yang handal tidak terbentuk melalui ombak yang tenang, melainkan oleh ganasnya ombak dan gelombang yang dahsyat.  Karakter asli seseorang tidak keluar saat semuanya baik-baik saja.  Saat tekanan datang di situlah akan terlihat kualitas hidup kita yang sesungguhnya.  Namun pemazmur dapat mengambil sisi positif dari tekanan hidup yang dialaminya:  "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu."  (Mazmur 119:71).  Percayalah bahwa tidak ada masalah atau tekanan yang terjadi dalam hidup orang percaya di luar kendali Tuhan, sebab dalam segala perkara Ia turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan  (Roma 8:28).

"Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku."  Filipi 4:13




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)