Author Topic: Renungan Harian Air Hidup  (Read 179548 times)

0 Members and 6 Guests are viewing this topic.

December 16, 2018, 04:30:25 AM
Reply #1850
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Sunday, December 16, 2018
ROHANI TAK BERTUMBUH TIADA GUNA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Desember 2018

Baca:  Ibrani 6:1-8

"tetapi jikalau tanah itu menghasilkan semak duri dan rumput duri, tidaklah ia berguna dan sudah dekat pada kutuk, yang berakhir dengan pembakaran."  Ibrani 6:8

Sasaran hidup orang percaya adalah mencapai kedewasaan rohani secara penuh di dalam Kristus  (Efesus 4:13), sampai kita kedapatan tak bercacat cela saat Dia datang kelak untuk menjemput kita sebagai mempelai-Nya  (2 Petrus 3:14).  Ada banyak orang yang menyebut diri Kristen tapi tak mengalami pertumbuhan sekalipun mereka sudah mengikut Kristus selama bertahun-tahun, atau Kristen kawakan.  "Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras."  (Ibrani 5:11-12).

     Faktor penghambat pertumbuhan rohani:  1.  Tak mau membayar harga.  Banyak orang Kristen memiliki pemahaman keliru tentang pertumbuhan rohani.  Mereka berpikir pertumbuhan rohani akan terjadi otomatis ketika orang mendapatkan penumpangan tangan dari hamba Tuhan, atau menunggu Tuhan bertindak menjamah kita.  Itu pemikiran keliru!  Pertumbuhan rohani takkan pernah terjadi tanpa ada harga yang harus dibayar.  Untuk itu dibutuhkan kemauan, kesungguhan, tekad dan kerelaan diri untuk dibentuk.  Selain itu ada komitmen untuk mematikan segala keinginan daging.  Selama kita masih bersikap acuh dan tak mau bayar harga, kerohanian kita takkan pernah bertumbuh.

     2.  Kemalasan.  Banyak orang ingin rohaninya bertumbuh, ingin berhasil dalam pelayanan, ingin hidupnya menjadi berkat, ingin dipakai Tuhan sebagai alat-Nya secara luar biasa, ingin menikmati berkat-berkat Tuhan, tapi mereka sendiri tak mau berubah, tetap saja bermalas-malasan:  malas untuk berdoa, malas untuk baca Alkitab, malas untuk terlibat dalam pelayanan dan sebagainya.  Itu sama juga bohong!  "Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia,"  (Amsal 13:4).  Keberhasilan takkan pernah menghampiri hidup seorang pemalas.  Dalam perumpamaan tentang talenta Tuhan menyebut hamba yang malas itu sebagai hamba yang jahat!

Selama tak mau membayar harga dan bermalas-malasan, kerohanian kita takkan pernah bertumbuh, apalagi berbuah.


December 17, 2018, 05:25:47 AM
Reply #1851
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Monday, December 17, 2018
TAK MAU DISEBUT ORANG BODOH?
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Desember 2018

Baca:  Efesus 5:1-21

"Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan."  Efesus 5:17

Semua orang pasti tidak akan terima, tersinggung, jengkel dan marah besar bila dirinya dikatai-katai sebagai orang yang bodoh, karena merasa sangat direndahkan.  Menurut pemahaman orang kebanyakan, orang yang disebut bodoh berarti tidak pintar, ber-IQ jongkok, dan tak mengerti apa-apa.  Berbicara tentang kata  'bodoh'  sesungguhnya bukan semata-mata berkaitan dengan tingkat kecerdasan yang rendah, atau kualitas intelektual dan tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang, melainkan berkaitan erat dengan sifat, sikap, perilaku, karakter, keputusan atau pilihan yang diambil oleh seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.  Sadar atau tidak, kita sendiri sering berlaku bodoh!

     Apa yang Firman Tuhan katakan tentang orang yang bodoh?  Seseorang dikatakan bodoh apabila ia hidup menjauh dari Tuhan.  Padahal Tuhan sendiri sudah memperingatkan,  "...di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa."  (Yohanes 15:5b).  Hidup menjauh dari Tuhan berarti hidup mengandalkan kekuatan dan kepintaran sendiri.  Sadarilah bahwa dunia, tempat di mana kita hidup sekarang, adalah dunia yang dipenuhi dengan kejahatan, di mana-mana ada jebakan dan jerat Iblis.  Apa yang bisa dibanggakan dari diri kita ini yang tak lebih dari hembusan nafas?  (Yesaya 2:22).  "...seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi."  (Mazmur 103:15-16).  Begitu pula dengan semua yang ada di dunia ini, dapatkan menolong dan menyelamatkan kita?  Semakin kita hidup menjauh dari Tuhan, semakin mendekatkan kita kepada kehancuran.

     Kita disebut bodoh bila kita tetap saja hidup dalam ketidaktaatan  (dosa).  "Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir."  (Matius 7:26).  Ketika Saul tidak mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan  (tidak taat), berkatalah Samuel kepada Saul,  "Perbuatanmu itu bodoh."  (1 Samuel 13:13).  Alkitab secara tegas menyatakan bahwa jika seorang sudah tahu kebenaran, tetapi dengan sengaja berbuat dosa, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa  (Ibrani 10:26).

Seorang percaya tak seharusnya berlaku bodoh, hiduplah seturut kehendak Tuhan!



December 18, 2018, 04:57:46 AM
Reply #1852
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Tuesday, December 18, 2018
PENGALAMAN MANUSIA TAK MENENTUKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Desember 2018

Baca:  Lukas 5:1-11

"Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."  Lukas 5:5

Bukan hal yang mengejutkan bila manusia terlalu sering membangga-banggakan kepintaran akal dan pengalaman hidupnya, meski tak selamanya kepintaran dan pengalaman dapat menyelesaikan semua permasalahan yang dialami.  Berdasarkan pengalaman, orang yang sudah divonis dokter bahwa penyakitnya tak mungkin disembuhkan, masa hidupnya pasti tak akan lama lagi;  orang yang ekonominya sulit  (miskin), takkan mungkin dapat menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi;  rumah tangga yang hancr, mustahil dapat dipulihkan seperti sediakala;  orang yang tidak punya ranking di sekolah, mustahil menjadi orang yang berhasil.

     Untuk menyatakan pekerjaan-Nya yang dahsyat dalam hidup seseorang Tuhan tak membutuhkan pengalaman manusia, sebab tiada perkara yang terlalu sulit untuk Dia lakukan, sekalipun itu mustahil bagi manusia.  Sara, Hana dan Elisabet, secara ilmu kedokteran mustahil memiliki keturunan karena usia mereka sudah lanjut dan dianggap mandul, tapi Tuhan sanggup membuka rahim mereka sehingga mereka memiliki keturunan;  seorang yang buta sejak lahir, mustahil dapat melihat, tapi Tuhan sanggup mencelikkan matanya;  Lazarus sudah meninggal selama 4 hari, Tuhan sanggup bangkitkan.  Janganlah sekali-kali membatasi kuasa Tuhan berdasarkan pengalaman manusia atau ilmu pengetahuan.

     Petrus dan Andreas memiliki pengalaman menangkap ikan karena profesi mereka nelayan.  Suatu waktu mereka gagal, semalam-malaman melaut tapi tak mendapatkan ikan.  Tuhan memberikan perintah kepada Petrus,  "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."  (Lukas 5:4).  Pikir Petrus:  "Aku sudah berpengalaman, apa tak salah Tuhan menyuruhku menebarkan jala lagi?"  Syukurlah Petrus tak membanggakan pengalaman, tapi ia taat:  "'...karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.' Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak."  (Lukas 5:5-6).

Ketaatan akan firman Tuhanlah yang menjadikan segala perkara terjadi, bukan karena pengalaman manusia.



December 19, 2018, 06:33:17 AM
Reply #1853
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Wednesday, December 19, 2018
PENYERTAAN TUHAN YANG SEMPURNA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Desember 2018

Baca:  Ibrani 13:1-16

"Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."  Ibrani 13:5b

Kita patut bersyukur karena kita memiliki Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita, di mana pun kita berada Dia selalu ada, Dialah Jehovah Shammah, Tuhan yang Mahahadir.  Betapa mengagumkan janji Tuhan ini, selalu hadir dan menyatakan penyertaan-Nya atas kita, anak-anak-Nya.  Tak ada pemimpin agama mana pun yang berjanji dan memberikan jaminan penyertaan kepada umatnya seperti Kristus.  Ayat nas merupakan penegasan apa yang Tuhan sampaikan kepada murid-murid-Nya:  "...pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan ROH KUDUS, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."  (Matius 28:19-20).

     Janji Tuhan menyertai umat-Nya tidak pernah diingkari.  Awal ketika diutus Tuhan membawa Bangsa Israel ke luar dari Mesir, Musa sempat menolak karena merasa tidak mampu dan tidak cakap bicara, namun Tuhan menguatkannya:  "...pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan."  (Keluaran 4:12).  Saat Israel menempuh perjalanan di padang gurun Ia menyatakan penyertaan dan kehadiran-Nya melalui tiang awan dan tiang api  (Keluaran 13:21).  Tatkala Israel mengalami ketakutan karena dikejar pasukan Firaun, sedangkan di hadapan mereka laut Teberau, Tuhan ada di sana.  Berkatalah Musa,  "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya."  (Keluaran 14:13).

     Sampai kesudahan zaman janji Tuhan tak pernah berubah, akan tetap menyertai umat-Nya melalui Roh-Nya yang kudus.  Tak perlu takut menghadapi apa pun,  "...sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan."  (Yesaya 41:10).

Orang percaya tidak pernah ditinggalkan Tuhan!  Karena itu tetaplah kuat di segala situasi.


December 20, 2018, 05:07:47 AM
Reply #1854
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Thursday, December 20, 2018
TUHAN HANYA SEJAUH DOA KITA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Desember 2018

Baca:  Mazmur 119:151-160

"Engkau dekat, ya TUHAN, dan segala perintah-Mu adalah benar."  Mazmur 119:151-160

Hal yang patut menjadi kebanggaan bagi semua orang percaya adalah kita memiliki Tuhan yang begitu mengasihi dan memedulikan kita, bahkan Ia ingin selalu dekat dengan kita.  Adakah agama dan kepercayaan apa pun, di mana umat dapat memanggil Tuhannya dengan sebutan  'Bapa', selain kita orang percaya?  "Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: 'ya Abba, ya Bapa!'"  (Roma 8:15).  Kata  'Abba'  dalam bahasa Aram secara harafiah berarti Bapa, ayah atau papa.  Sebutan  'Bapa'  adalah gambaran suatu hubungan yang begitu dekat dan akrab, hubungan antara bapa dan anak dalam sebuah keluarga.

     Alkitab menyatakan setiap orang yang percaya kepada Kristus diberi kuasa menjadi anak-anak Tuhan  (Yohanes 1:12), karena itulah Kristus mengajarkan Doa Bapa Kami kepada murid-murid-Nya.  Ketika kita berdoa dan memanggil Dia sebagai Bapa itu artinya Tuhan kita bukanlah Tuhan yang jauh, Dia dekat, hanya sejauh doa-doa kita.  Daud memahami benar bahwa Tuhan itu dekat dan Mahatahu:  "TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi."  (Mazmur 139:1-3).  Tuhan tahu apa yang kita perbuat, Dia tahu sekecil apa pun pergumulan kita, Dia tahu kebutuhan kita.  "...jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."  (Matius 7:11).

     Karena Tuhan itu dekat, Dia juga tahu kapan harus menegur, memperingatkan dan jika perlu menghajar kita yang adalah anak-anak-Nya, apabila kita melakukan pelanggaran atau hidup menyimpang dari kehendak-Nya.  Oleh sebab itu  "...janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."  (Ibrani 12:6).

Karena Tuhan itu dekat, carilah Dia selalu selama Ia berkenan kita temui!  Yesaya 55:6



December 21, 2018, 06:19:15 AM
Reply #1855
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Friday, December 21, 2018
PADANG GURUN SEBAGAI SEKOLAH KEHIDUPAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Desember 2018

Baca:  Mazmur 136:1-26

"Kepada Dia yang memimpin umat-Nya melalui padang gurun! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya."  Mazmur 136:16

Sadar atau tidak, hidup yang sedang kita jalani ini adalah ibarat sebuah sekolah, di situlah proses belajar terjadi.  Banyak hal dalam kehidupan ini yang bisa kita jadikan bahan pemelajaran.  Kita bisa belajar melalui perjalanan hidup yang terkadang melewati kerikil-kerikil, batu-batu besar, tikungan-tikungan tajam, dan juga lembah-lembah curam.  Kita bisa belajar dari masalah, kesulitan, tekanan, penderitaan, situasi, kejadian atau peristiwa.

     Terkadang Tuhan ijinkan kita melwati  'padang gurun'  yang gersang dan tandus.  Padang gurun adalah tempat yang udaranya sangat panas di waktu siang dan terasa sangat dingin di kala malam.  Air menjadi sesuatu yang langka dan sangat berharga, dan belum lagi bahaya binatang buas seperti ular dan sebagainya.  Padang gurun adalah gambaran kehidupan yang sungguh tidak enak, tidak nyaman dan penuh kesulitan.  Banyak orang tidak menyukai kehidupan di padang gurun dan berusaha lari menghindar dan memberontak.  Musa yang dibesarkan di istana Firaun dengan segala kenyamanan dan kemewahan justru memilih untuk mengikuti panggilan Tuhan, sekalipun ada harga yang harus dibayarnya, yaitu berada di padang gurun selama 40 tahun bersama umat Israel.  "Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa."  (Ibrani 11:24-25).

      Padang gurun menjadi sekolah kehidupan bagi Musa dan juga bangsa Israel, di sanalah mereka mengalami proses pembentukan dan pendewasaan iman:  "Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak."  (Ulangan 8:2).  Bersyukurlah jika saat ini Tuhan membawa kita kepada situasi  'padang gurun', memang terasa tidak enak dan mungkin sangat menyakitkan secara daging, tapi percayalah bahwa kasih setia-Nya tak berubah.

Padang gurun menjadi  'sekolah'  kehidupan bagi kita, karena di situlah Tuhan memroses kita sampai kita kedapatan siap menerima curahan berkat-Nya!


December 22, 2018, 04:52:59 AM
Reply #1856
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Saturday, December 22, 2018
BANGKITLAH DARI KEGAGALAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Desember 2018

Baca:  Ayub 42:1-6

"Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal."  Ayub 42:2

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya, termasuk orang-orang besar atau tokoh-tokoh hebat yang ada di dunia ini.  Mengalami kegagalan dalam bisnis, pekerjaan, rumah tangga, hubungan asmara, studi dan sebagainya pasti menimbulkan rasa kecewa yang mendalam.  Namun tak perlu kita larut dalam kekecewaan yang berkepanjangan, apalagi sampai berputus asa.  Ini sangat berbahaya!  Saat berada di ambang keputusasaan, hal-hal yang tidak diinginkan seringkali terjadi:  terjerat narkoba, jatuh dalam pergaulan bebas, atau mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidup.  Setiap kegagalan yang kita alami bukanlah suatu hal yang terburuk di dalam kehidupan ini, tapi merupakan hal yang wajar dan biasa!

     Kata  'gagal'  memiliki arti:  tidak berhasil, tidak tercapai  (maksudnya).  Kegagalan bisa saja Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup ini untuk membuka mata rohani kita bahwa tanpa Tuhan kita tidak dapat melakukan hal-hal yang berarti.  Betapa banyak di antara kita yang tak pernah melibatkan Tuhan dalam setiap rancangan dan rencana hidup ini karena kita merasa diri mampu dan pintar.  "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana."  (Amsal 19:21).  Tetapi begitu mengalami kegagalan barulah kita sadar bahwa tanpa Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa.  Saat kita dalam keadaan tiada berdaya dan mengangkat tangan tanda berserah, saat itulah Tuhan akan turun tangan menyatakan kuasa-Nya.  "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."  (2 Korintus 12:9b).

     Sebagai orang percaya janganlah kita cepat putus asa ketika diperhadapkan dengan kegagalan, sebab kita bukanlah satu-satunya orang yang pernah mengalami kegagalan.  Jangan pernah menganggap bahwa kegagalan itu sebagai harga mati.  Percayalah akan selalu ada kesempatan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.  Asalkan mau berusaha, kesempatan untuk berhasil pasti akan terbuka lebar.  Ambil sisi positif dari setiap kegagalan tersebut.  Belajarlah untuk selalu melibatkan Tuhan di segala aspek kehidupan ini, sebab kehendak dan rencana-Nya takkan pernah gagal.

Jadikan kegagalan sebagai batu lompatan untuk kita meraih keberhasilan!



December 23, 2018, 04:43:51 AM
Reply #1857
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Sunday, December 23, 2018
PERTOBATAN MENGHASILKAN PEMULIHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Desember 2018

Baca:  Mazmur 51:1-21

"Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah."  Mazmur 51:19

Saul dan Daud memiliki kesamaan dalam beberapa hal, di antaranya:  sama-sama pernah menjadi raja atas Israel dan sama-sama diurapi Tuhan dari tabung tanduk nabi yang sama yaitu Samuel.  Pengurapan Saul  (1 Samuel 10:1)  dan pengurapan Daud  (1 Samuel 16:13)  sama, sehingga Roh Tuhan berkuasa atas hidup mereka.  Roh Tuhan menyertai kehidupan keduanya.  Kesamaan yang lain:  Saul dan Daud pernah jatuh dalam dosa.  Karena tidak sabar menantikan kedatangan Samuel, Saul melakukan tindakan bodoh yaitu berani mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di Gilgal, padahal tugas mempersembahkan korban adalah tugas seorang imam  (1 Samuel 13:8-12).  Sedangkan Daud melakukan dosa perzinahan dengan Batsyeba  (2 Samuel 11:1-5).  Ini bukti bahwa keduanya adalah manusia biasa yang punya kelemahan.

     Meski memiliki banyak kesamaan, akhir hidup mereka sangatlah berbeda.  Bagaimana bisa?  Pilihan dan keputusan mereka dalam menjalani hidup menentukan masa depan mereka sendiri.  Saul tetap saja mengeraskan hati, berkilah tak mau mengakui kesalahan, dan tidak mau bertobat sekalipun telah ditegur Samuel perihal ketidaktaatannya:  "Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak Firman Tuhan, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."  (1 Samuel 15:22-23).  Akibatnya Roh Tuhan undur dan meninggalkan Saul dan ia pun harus kehilangan takhtanya.

     Berbeda dengan Daud, ketika ditegur Natan perihal dosa perzinahannya, Daud menunjukkan penyesalannya yang mendalam dan hatinya menjadi remuk.  Berserulah Daud kepada Tuhan memohon pengampunan:  "Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!"  (Mazmur 51:11, 13).  Tuhan berkenan kepada pertobatan Daud sehingga Roh-Nya pun tetap menyertai.

Tuhan mengokohkan takhta kerajaan Daud, sedangkan hidup Saul berakhir tragis.




December 24, 2018, 05:12:59 AM
Reply #1858
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Monday, December 24, 2018
JANGAN SAMPAI FRUSTASI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Desember 2018

Baca:  Ayub 10:1-22

"Aku telah bosan hidup, aku hendak melampiaskan keluhanku, aku hendak berbicara dalam kepahitan jiwaku."  Ayub 10:1

Rasa frustasi dan berujung kepada keputusasaan seringkali timbul ketika orang berada dalam situasi sangat sulit serasa tidak ada jalan keluar, ketika masalah datang bertubi-tubi, ketika beban hidup terasa berat.  Puncak frustasi dan putus asa adalah merasa bosan hidup, sehingga timbul niat mengakhiri hidup saja karena merasa diri tidak berarti lagi.

     Kondisi seperti ini pernah dirasakan oleh Ayub!  Penderitaan yang datang secara bertubi-tubi membuatnya nyaris frustasi:  harta bendanya ludes, anak-anaknya mati  (Ayub 1:1-22), bahkan isteri yang dikasihinya pun pergi meninggalkan dia.  Kemalangan Ayub semakin lengkap, sebab sahabat-sahabat terdekatnya juga beranjak menjauh.  Itulah dunia!  Ketika seseorang sedang berada  'di atas'  dan berlimpah harta sangatlah wajar bila banyak orang mengerumuninya, tetapi begitu ia berada  'di bawah'  dan jatuh miskin, tak banyak orang mau berteman dengannya alias ditinggalkan oleh teman-temannya,  "Juga oleh temannya orang miskin itu dibenci, tetapi sahabat orang kaya itu banyak."  (Amsal 14:20).  Karena telah kehilangan segala-galanya Ayub menjadi sangat frustasi dan rasa frustasinya itu sudah sampai di ambang batas, sampai-sampai ia merasa telah bosan hidup.  Bahkan Ayub merasa menyesal telah dilahirkan ke dalam dunia ini:  "Mengapa Engkau menyebabkan aku keluar dari kandungan? Lebih baik aku binasa, sebelum orang melihat aku!"  (Ayub 10:18).

     Di zaman yang serbasulit seperti sekarang ini ada banyak orang merasa frustasi dan berputus asa karena tekanan hidup yang berat.  Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terbersit di hati untuk mengakhiri hidup saja sama seperti Ayub.  Jangan sekali-kali timbul keinginan untuk mengakhiri hidup!  Seberat apa pun penderitaan yang kita alami pasti ada jalan ke luarnya.  Mari datanglah kepada Kristus!  Karena Dia adalah  "...jalan dan kebenaran dan hidup."  (Yohanes 14:6a).  Di dalam Kristus pasti ada jalan ke luar, ada pertolongan, ada kelepasan.  Jadi,  "Masih ada harapan untuk hari depanmu, demikianlah Firman Tuhan:"  (Yeremia 31:17).

"Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara."  Mazmur 9:19



December 25, 2018, 05:15:42 AM
Reply #1859
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2018/

Tuesday, December 25, 2018
KIDUNG PUJIAN DI HARI NATAL
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Desember 2018

Baca:  Lukas 1:46-55

"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,"  Lukas 1:46-47

Ribuan tahun silam, di kota Yerusalem, terdengarlah suara merdu seorang wanita melantunkan kidung pujian bagi Tuhan.  Ialah Maria, yang beroleh kasih karunia Tuhan  (Lukas 1:30).  Suatu anugerah besar bagi Maria karena Tuhan berkenan menjadikannya saluran berkat bagi dunia, karena melalui dirinya lahirlah Sang Juruselamat dunia.  Untuk menggenapi rencana Tuhan ini Maria berani membayar harga yaitu menanggung resiko besar, bisa dihukum mati karena dituduh berzinah.  Karena itulah di tengah-tengah situasi sulit Maria bisa bersyukur dan menyenandungkan pujian-pujian dan memuliakan Tuhan.

     Maria melantunkan kidung pujian bagi Tuhan karena Tuhan telah menyelamatkan umat-Nya.
"Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,"  (ayat nas).  Ia menyadari dirinya adalah orang berdosa yang sesungguhnya patut dihukum dan keadilan Tuhan harus ditegakkan.  Tak seorang manusia pun mampu menyelamatkan diri dari hukuman tersebut, namun karena begitu besar kasih Tuhan kepada manusia,  "Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,...sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita."  (Mazmur 103:10, 12).  Atas dasar inilah Maria memuji-muji Tuhan dengan sepenuh hati.  Ia bernyanyi bukan asal-asalan, tapi melibatkan seluruh keberadaan hidupnya disertai sikap hormat dan ekspresi penuh kebahagiaan karena telah beroleh anugerah keselamatan.

     Maria memuji-muji Tuhan karena Tuhan rela turun dari takhta-Nya yang Mahatinggi datang ke dunia dan bersedia dilahirkan di kandang yang hina.  Ini berbicara tentang kerendahan hati.  Karena itu setiap orang percaya harus mengikuti teladan-Nya, sebab Tuhan sangat mengasihi orang yang rendah hati dan menentang orang yang sombong,  "Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah;"  (Lukas 1:52).  Kehadiran Sang Juruselamat di dunia ini adalah bukti bahwa Tuhan setia pada janji-Nya  (Lukas 1:54-55).

"Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud."  Lukas 2:11



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)