Author Topic: Renungan Harian Air Hidup  (Read 192644 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

January 05, 2019, 05:38:18 AM
Reply #1870
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Saturday, January 5, 2019
TUHAN YANG MENUMBUHKAN BENIH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Januari 2018

Baca:  Markus 4:26-29

"Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba."  Markus 4:29

Adalah anugerah bila kita dipercaya Tuhan melayani di ladang-Nya.  Itu merupakan hak yang sangat istimewa.  Namun ingatlah bahwa kita ini hanyalah alat di tangan Tuhan.

     Berbicara tentang pertumbuhan ada kaitan erat dengan benih yang ditabur.  Artinya takkan ada pertumbuhan tanpa ada benih yang ditabur.  Hal menumbuhkan benih merupakan bagian yang paling sulit dan paling berat, manusia dengan segala akal dan kepintarannya takkan bisa, hanya Tuhan yang dapat.  Adapun proses pertumbuhan ini sifatnya bertahap, tidak ada yang instan:  berakar, tumbuh makin besar, berbunga, berbuah dan akhirnya siap dipanen.  Begitu pula halnya dengan kerohanian kita, adalah penting sekali untuk kita menjalani proses tahap demi tahap dengan belajar Firman Tuhan setiap hari.  Ketika Tuhan mengerjakan pertumbuhan, itu akan diselesaikan-Nya sampai akhir:  "...Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus."  (Filipi 1:6).  Pada waktu menjalankan pekerjaan-Nya di bumi, Kristus menyelesaikan sampai tuntas yaitu mati di kayu salib dan Ia pun berkata,  "'Sudah selesai.' Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya."  (Yohanes 19:30).

     Dari satu benih yang ditaburkan akan menghasilkan buah yang berlipat ganda,  "Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah."  (Yohanes 12:24).  Benih kebenaran yang asalnya dari Tuhan adalah benih yang baik dan pasti akan menghasilkan buah kebenaran yang berlipat ganda, dan sampailah akhirnya pada masa panen atau masa menuai, yang adalah akhir dari seluruh kerja keras yang dilakukan.  Semua jerih lelah, air mata yang mengalir dan keringat yang tercurah selama ini akan terbayar saat masa menuai tiba.  "Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya."  (2 Timotius 2:6).  Saat itulah Tuhan memberikan upah/reward kepada setiap hamba-hamba-Nya yang telah bekerja di ladang-Nya, tanpa mengenal lelah.

Marilah kita kerjakan dengan setia apa pun yang Tuhan percayakan, pada saatnya kita pasti akan menuai dengan sorak sorai  (Mazmur 126:5-6).



January 06, 2019, 04:56:35 AM
Reply #1871
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Sunday, January 6, 2019
DITEGUHKAN, DIKUATKAN DAN DIPERLENGKAPI (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Januari 2019

Baca:  Markus 1:9-15

"Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"  Markus 1:15

Bukan hal yang kebetulan jika Markus menulis tentang tiga peristiwa yang harus Kristus jalani sebelum Ia memulai pelayanan-Nya di bumi ini.  Ketiga peristiwa itu adalah Kristus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis  (Markus 1:9-11), Kristus dicobai di padang gurun  (Markus 1:12-13)  dan Kristus mulai menyatakan diri dalam pelayanan  (Markus 1:14-15).

     Ketiga hal itu menunjukkan bahwa sebelum mengerjakan panggilan-Nya atau menggenapi rencana Bapa, Kristus harus terlebih dahulu melewati proses demi proses.  Kristus diteguhkan melalui baptisan yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis, dan saat Ia keluar dari air,  "...Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: 'Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.'"  (Markus 1:10-11).  Selanjutnya Kristus harus mengalami pencobaan di padang gurun selama empat puluh hari lamanya:  "Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis."  (Markus 1:13a).  Pencobaan yang dialami Kristus ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:  1.  Kristus diuji dalam hal penguasaan diri tentang makanan  (nafsu).  Ketika itu Iblis meminta Dia untuk mengubah batu menjadi roti.  Dalam kondisi Ilahi, itu adalah pekerjaan yang mudah, tetapi pada waktu itu Kristus memosisikan diri-Nya sebagai manusia, dan Ia tidak mau melakukannya, dengan berkata,  "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."  (Matius 4:4).  2.  Kristus diminta untuk menjatuhkan diri dari bubungan Bait Suci.  Secara Ilahi Kristus bisa melakukannya, tetapi Ia berkata,  "Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"  (Matius 4:7).  3.  Iblis menawarkan segala kemegahan dunia kepada Kristus, dengan syarat Ia harus menyembah kepadanya.  "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"  (Matius 4:10).  Kristus telah berhasil melewati proses ujian di padang gurun ini dengan kemenangan!

     Setelah beroleh peneguhan melalui baptisan Yohanes Pembaptis dan lulus ujian di padang gurun selama 40 hari, barulah Kristus memulai pelayanan-Nya dengan tampil untuk pertama kalinya di hadapan orang banyak di Galilea.  Di situ Kristus memberitakan Injil Kerajaan Sorga dan menyerukan pertobatan kepada semua orang!




January 07, 2019, 05:13:22 AM
Reply #1872
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Monday, January 7, 2019
DITEGUHKAN, DIKUATKAN DAN DIPERLENGKAPI (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Januari 2019

Baca:  Markus 1:16-20

"Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."  Markus 1:17

Banyak orang Kristen rindu melayani pekerjaan Tuhan tapi ragu melangkah karena merasa tidak mampu.  Ketahuilah, di hadapan Tuhan pelayanan bukan berbicara tentang  'mampu atau tidak mampu', melainkan mau atau tidak mau, rela atau tidak rela.  Jadi, hati adalah modal dasar untuk dapat turut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan.

     Melayani Tuhan merupakan suatu kehormatan yang diberikan Tuhan kepada kita, namun dalam melayani pekerjaan Tuhan sampai kita terjebak pada hal-hal yang keliru seperti yang rasul Paulus katakan:  "...mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar."  (Roma 10:2).  Bermodalkan semangat saja, tanpa memiliki pengenalan dan pengertian yang benar akan Tuhan, akan membuat pelayanan kita tak lebih dari sekedar kegiatan agamawi yang dilakukan secara rutin dan hal itu takkan berdampak apa-apa.  Karena itu kita harus memiliki sikap hati yang benar dalam melayani Tuhan.  Rasul Paulus menasihati agar kita melayani Tuhan dengan kasih:  "Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!"  (1 Korintus 16:14), dengan segenap hati.  "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."  (Kolose 3:23).

     Ketika Tuhan memanggil seseorang untuk melayani-Nya, Ia tidak akan sembarangan memanggil dan kemudian mengutus dia begitu saja, tapi Ia terlebih dahulu membentuk dan memperlengkapi dengan kuasa ROH KUDUS-Nya, sehingga ia dapat melayani pekerjaan-Nya secara optimal.  "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau ROH KUDUS turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."  (Kisah 1:8).  Kita tahu bahwa ada banyak sekali tantangan dan ujian di setiap pelayanan, tapi percayalah dengan pertolongan ROH KUDUS kita pasti mampu menghadapinya.  Milikilah respons hati yang benar saat kita dipanggil untuk melayani Tuhan, sebab tinggal sedikit waktu lagi Tuhan akan datang dan saat itulah Ia akan menuntut pertanggungjawaban dari kita.

"Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja."  Yohanes 9:4



January 08, 2019, 05:24:51 AM
Reply #1873
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Tuesday, January 8, 2019
KARENA DOSA PENUMPAHAN DARAH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Januari 2019

Baca:  1 Tawarikh 28:1-10

"Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah."  1 Tawarikh 28:3

Pada suatu waktu Daud mengumpulkan seluruh pembesar Israel:  "...para kepala suku, para pemimpin rombongan orang-orang yang melayani raja, para kepala pasukan seribu dan kepala pasukan seratus, serta para kepala harta benda dan ternak kepunyaan raja dan anak-anaknya; bersama-sama mereka juga para pegawai istana dan para perwira dan semua pahlawan yang gagah perkasa."  (1 Tawarikh 28:1).  Apa tujuannya?  Daud ingin memberitahukan kepada mereka semua bahwa sesungguhnya ia berkehendak untuk mendirikan rumah perhentian untuk tabut perjanjian Tuhan dan telah mempersiapkan segala sesuatunya  (1 Tawarikh 28:2), namun di ayat selanjutnya Daud menyatakan bahwa Tuhan tidak memperkenankan dia untuk mendirikan rumah bagi-Nya, sebab tangan Daud telah tercemar dengan dosa, yaitu menumpahkan darah seseorang.

     Adapun peristiwa penumpahan darah tersebut berkenaan dengan Uria, suami Batsyeba  (2 Samuel 11:1-27).  Apa yang diperbuat Daud ini merupakan kejahatan besar di mata Tuhan, dan selalu ada akibat dari setiap perbuatan dosa dan penumpahan darah.  Artinya Daud harus menerima konsekuensi atas pelanggaran yang telah diperbuatnya.  Namun Tuhan adalah pribadi yang berlimpah kasih setia, sehingga Ia pun mengampuni dosa Daud dan tetap melanjutkan penggenapan janji-Nya dalam kehidupan Daud.  Sekalipun Daud tidak diperkenankan untuk membangun Bait Suci-Nya tapi Tuhan tetap memilih dan menetapkan keturunan Daud sendiri, yaitu Salomo, untuk mendirikan rumah bagi-Nya.  Apa alasannya?  Karena Daud mau bertobat dengan sungguh.  Ketika ditegur oleh nabi Natan Daud tidak mengeraskan hati, apalagi berkilah dan menyalahkan orang lain.  Ia mengakui dengan jujur kesalahan yang diperbuat dan menyesalinya.

     Daud datang kepada Tuhan dan memohon pengampunan dengan hati yang hancur:  "Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!"  (Mazmur 51:3-4).  Asal mau bertobat dengan sungguh-sungguh Tuhan pasti akan mengampuni setiap pelanggaran kita.

Pertobatan adalah kunci mengalami pemulihan dari Tuhan!



January 09, 2019, 05:18:15 AM
Reply #1874
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Wednesday, January 9, 2019
UNDUR DAN MENINGGALKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Januari 2019

Baca:  Titus 3:1-11

"pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh ROH KUDUS,"  Titus 3:5

Ketika kita menyerahkan diri dan percaya kepada Kristus, saat itu kita diselamatkan dan dilahirkan kembali oleh pekerjaan ROH KUDUS menjadi ciptaan baru  (2 Korintus 5:17).  Sebagai orang yang telah dilahirkan kembali dan menerima baptisan ROH KUDUS, cara hidup kita haruslah berbeda dengan cara hidup yang lama.  Untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar  'lahir baru'  adalah melalui buah yang dihasilkannya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu buah pertobatan  (Matius 3:8).

     Walaupun dahulu sudah lahir baru dan sudah dibaptis ROH KUDUS, tapi bila kemudian orang kembali kepada kehidupan lamanya dan mempunyai karakter yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, perlu dipertanyakan apakah ROH KUDUS masih tinggal di dalam dirinya.  Bila kita mengabaikan si Pemberi ROH KUDUS dalam diri kita, kuasa-Nya atau urapan-Nya dapat ditarik kembali.  Maka dari itu kita patut memelihara-Nya sebaik mungkin melalui ketaatan kita terhadap Firman Tuhan.  Jangan pernah mendukakan ROH KUDUS  (Efesus 4:30)  dengan perbuatan kita yang menyimpang dari Firman Tuhan, sebab ROH KUDUS bisa undur dan meninggalkan kita.

     Awalnya Saul diurapi Roh Tuhan:  "Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: 'Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel?'"  (1 Samuel 10:1).  Seiring berjalannya waktu sikap Saul berubah, tidak lagi taat perintah Tuhan, hidup menurut kehendaknya sendiri.

     Ketidaktaatannya inilah yang membuat Roh Tuhan undur dan meninggalkan Saul, sampai-sampai Tuhan berkata kepada Samuel,  "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku."  (1 Samuel 15:11).  Saul ditolak Tuhan menjadi raja Israel, kemudian Tuhan memilih dan mengurapi Daud dengan Roh-Nya menggantikan Saul.

Ketidaktaatan membuat ROH KUDUS berduka, lalu Ia akan undur dan meninggalkan hidup seseorang!   



January 10, 2019, 11:34:50 AM
Reply #1875
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Thursday, January 10, 2019
DIPUJI TUHAN...BUKAN MEMUJI DIRI SENDIRI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Januari 2019

Baca:  2 Korintus 10:12-18

"Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan."  2 Korintus 10:18

Salah satu ciri kesombongan adalah suka memuji diri sendiri, segala sesuatu berfokus pada  'aku'.  Sesungguhnya orang yang demikian merupakan orang yang penuh kelemahan, dan untuk menutupi sisi-sisi kelemahan dirinya, orang tersebut selalu bermegah atas dirinya.  Belajarlah dari rasul Paulus, seorang hamba Tuhan besar dan dipakai Tuhan secara luar biasa, yang tak pernah memegahkan diri:  "...kami tidak mau bermegah melampaui batas, melainkan tetap di dalam batas-batas daerah kerja yang dipatok Allah bagi kami, yang meluas sampai kepada kamu juga."  (2 Korintus 10:13).

     Tidak sepatutnya kita memuji diri sendiri, biarlah pujian itu datang dari Tuhan.  Walaupun kita memuji diri tahan uji, tapi yang mengukur kualitas hidup kita ialah Tuhan.  Bila Tuhan yang memuji kita pastilah itu sesuai kebenaran dan kenyataan yang kita alami.  Orang yang sering memuji diri sendiri akan mudah sekali tergelincir.  Pujian dan sanjungan dari manusia seringkali menjadi senjata ampuh bagi Iblis untuk menjerat hidup seseorang.  Karena itu rasul Paulus menasihati demikian:  "Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain."  (Galatia 6:4).  Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa memuji diri sendiri sama dengan sombong, dan kesombongan adalah kebencian Tuhan.

     Melalui Obaja Tuhan menyampaikan firman-Nya tentang Edom yang congkak:  "Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, --demikianlah Firman Tuhan."  (Obaja 1:4).  Sesungguhnya tak satu bagian pun dari kita ini yang dapat kita bangga-banggakan, karena kita ini memang bukanlah siapa-siapa.  "Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."  (2 Korintus 10:17).  Kristus mengajarkan:  "Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."  (Matius 23:11-12).

Tuhan membimbing orang yang rendah hati menurut hukum dan Ia mengajarkan jalan-jalan-Nya  (Mazmur 25:9).



January 11, 2019, 08:54:11 AM
Reply #1876
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Friday, January 11, 2019
JANGAN LAGI SUAM-SUAM KUKU
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Januari 2019

Baca:  Ibrani 12:1-17

"Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan."  Ibrani 12:16

Zaman di mana kita hidup sekarang ini adalah zaman yang sedang mengalami percepatan dari Tuhan, di mana Tuhan menyatakan kehendak dan rencana-Nya semakin nyata dari hari ke sehari.  Langkah kaki kita sedang mendekati garis akhir, karena itu kita harus semakin memacu diri dan berlari sedemikian rupa.  Kita tak dapat menjadi orang Kristen yang mempunyai sifat seperti Esau, yang demi memuaskan kedagingannya, rela menjual hak kesulungannya.  Jangan sampai kita mengalami nasib seperti Esau, di mana penyesalan menjadi tiada guna,  "Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata."  (Ibrani 12:17).

     Rasul Paulus memperingatkan dengan keras:  "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya."  (Galatia 6:7).  Tuhan tak akan berpura-pura tak melihat perbuatan dosa-dosa kecil kita.  Api Tuhan akan membakar kita jika kita tetap bermain-main dengan dosa, sebab kita hidup di zaman akhir, di mana ROH KUDUS akan semakin menyempurnakan hidup kita demi menyongsong kedatangan Kristus.  Inilah saat-saat yang terbaik bagi kita untuk hidup taat kepada Tuhan selagi kita masih diberi kesempatan, selagi pintu kemurahan Tuhan masih terbuka bagi siapa yang mau datang kepada-Nya.

     Suatu ketika nabi Elia menantang umat Israel yang terpengaruh oleh nabi-nabi Baal.  "'Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Kalau TUHAN itu Allah, ikutilah Dia, dan kalau Baal, ikutilah dia.'" Tetapi rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun."  (1 Raja-Raja 18:21).  Artinya jika rakyat percaya kepada Tuhan yang hidup, biarlah mereka mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh, tapi jika mereka menganggap bahwa Baal itu tuhan, biarlah mereka mengikuti Baal.  Sampai saat ini masih banyak orang Kristen yang kehidupan rohaninya suam-suam kuku, tidak panas atau tidak dingin, beribadah kepada Tuhan, tapi juga masih berkompromi dengan dunia. 

Firman Tuhan berkata,  "...karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku."  Wahyu 3:16



January 12, 2019, 05:29:19 AM
Reply #1877
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Saturday, January 12, 2019
TANPA PERTOBATAN TAK BERJUMPA TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Januari 2019

Baca:  Matius 3:7-12

"Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan."  Matius 3:8

Pertobatan adalah bagian terpenting dalam kehidupan Kekristenan.  Kekristenan tanpa disertai dengan pertobatan hidup adalah sia-sia, tak ada arti apa-apa di pemandangan mata Tuhan.  Karena itu Yohanes Pembaptis menegur keras orang-orang Farisi dan Saduki yang datang kepadanya untuk dibaptis.  Mengapa?  Karena ibadah dan pelayanan yang mereka jalankan itu tak lebih dari sekedar kegiatan agamawi semata.  Sekalipun mereka tampak mahir dan fasih tentang Hukum Taurat, tapi mereka sendiri tidak melakukan Taurat tersebut;  dan kalau pun mereka tampak giat beribadah dan melayani, itu dilakukan dengan suatu tendensi atau motivasi yang terselubung, yaitu supaya dilihat orang dan beroleh pujian dan penghormatan dari manusia  (Matius 23:5-7).

     Tuhan menyebut orang-orang seperti itu sebagai orang-orang yang munafik.  Menurut kamus bahasa Indonesia kata munafik memiliki makna:  bermuka dua;  perkataan berbeda dengan isi hati;  berpura-pura percaya atau setia kepada agama, tetapi sebenarnya di hatinya tidak;  suka  (selalu)  mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan perbuatannya.  Tuhan pun mengibaratkan keberadaan mereka  "...seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran."  (Matius 23:27).  Ini menjadi peringatan keras bagi semua orang percaya!  Apakah selama ini ibadah dan pelayanan yang kita lakukan tak lebih dari sekedar rutinitas mingguan saja?  Jika ibadah dan pelayanan kita seperti itu, mustahil kita mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan.

     Tanda bahwa seseorang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan adalah perubahan hidup  (pertobatan)  yaitu dihasilkannya buah Roh:  "...kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu."  (Galatia 5:22-23), sebab dari buahnya saja setiap kita dapat dikenali  (Matius 12:33).  Sehebat apa pun pelayanan seseorang di atas mimbar, atau serajin apa pun ia beribadah di gereja, jika tidak ada buah pertobatan dalam kehidupan sehari-hari, semua akan terlihat palsu di hadapan Tuhan.

Yang Tuhan kehendaki adalah kita menjadi pelaku firman!  Jika tidak, pada saatnya nanti Tuhan akan menolak kita:  "Aku tidak pernah mengenal kamu!"  Matius 7:23


January 13, 2019, 04:46:17 AM
Reply #1878
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Sunday, January 13, 2019
MENGALAMI SORGA: Jadi Seperti Anak Kecil (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Januari 2019

Baca:  Markus 10:13-16

"Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah."  Markus 10:14

Salah satu kalimat dalam Doa Bapa kami yang Kristus ajarkan adalah:  "datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga."  (Matius 6:10).  Apa maksudnya?  Kristus menghendaki agar setiap orang percaya mengalami Kerajaan Sorga bukan hanya pada saat bertemu Kristus di sorga kelak, tetapi kita juga dapat mengalami Kerajaan Sorga saat kita masih hidup di bumi ini.  Ada pun yang menjadi ukuran seseorang dapat dikatakan mengalami Kerajaan Sorga di bumi ini tidak dilihat dari apa yang kasat mata, seperti berlimpahnya materi/kekayaan, rumahnya yang tampak megah, mobilnya yang lebih dari satu, berpangkat atau tingginya status sosial di masyarakat, tetapi kehidupan yang penuh sukacita dan damai sejahtera di segala keadaan, sebab ada tertulis:  "...Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh ROH KUDUS."  (Roma 14:17).

     Bagaimana caranya agar kita bisa mengalami Kerajaan Sorga di bumi?  Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi seperti seorang anak kecil.  Apa maksudnya?  Apakah kita harus berperilaku seperti anak kecil?  Bukan itu maksudnya.  Menjadi seperti anak kecil bukan berarti menjadi kekanak-kanakan:  "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak."  (1 Korintus 13:11a), tetapi kita belajar akan sikap positif yang mereka miliki.

     Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari kehidupan seorang anak kecil, di antaranya adalah:  1.  Kesederhanaan.  Anak kecil itu sederhana, polos, belum tercemar oleh pikiran-pikiran negatif, apa adanya, tidak ada yang dibuat-buat alias tidak munafik.  Lawan dari kesederhanaan adalah banyak akal, atau berlaku licik.  Tuhan menginginkan kepolosan kita, tidak ada hal yang perlu ditutup-tutupi.  Karena itu rasul Paulus menasihati:  "Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!"  (1 Korintus 14:20).  Menjadi anak-anak dalam kejahatan berarti tidak turut ambil bagian, mampu menjaga diri atau menjauhkan diri dari segala bentuk kejahatan.




January 14, 2019, 05:25:07 AM
Reply #1879
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23991
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Monday, January 14, 2019
MENGALAMI SORGA: Jadi Seperti Anak Kecil (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 14 Januari 2019

Baca:  Lukas 18:15-17

"Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."  Lukas 18:17

Pelajaran berharga lain yang dapat kita teladani dari anak kecil adalah:  2.  Mudah diajar.  Anak kecil mudah sekali diajar.  Apa pun yang diajarkan akan mudah sekali terserap dan tersimpan di dalam memori otaknya.  Milikilah hati yang mau diajar!  Ada banyak orang Kristen tak mengalami pertumbuhan rohani karena mereka sulit sekali diajar, apalagi ditegur atau dinasihati, mudah sekali marah dan tersinggung.  "berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah."  (Amsal 9:9).  Kita harus mempertajam pendengaran kita terhadap ajaran Firman Tuhan dan memiliki roh yang mudah diajar agar kita bisa menikmati Kerajaan Sorga di bumi ini.

     3.  Percaya penuh kepada orangtua.  Seorang anak kecil sangat bergantung penuh kepada orangtuanya.  Ia tidak pernah merasa takut dan kuatir tentang apa pun karena ia sangat percaya bahwa bapanya pasti melindungi dan menyediakan apa yang ia perlukan.  Karena itu  "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;"  (Amsal 3:5-7).  Seorang yang memiliki kepercayaan penuh kepada Tuhan pasti akan mengalami Kerajaan Sorga di bumi, karena ia tahu bahwa ia punya Bapa yang baik, yang adalah Sang empunya segala-galanya.

     4.  Mudah memaafkan.  Tak mudah orang dewasa memaafkan kesalahan orang lain, biasanya kita cenderung mendendam, sakit hati dan sulit mengampuni.  Berbeda dengan seorang anak kecil!  Meskipun baru bertengkar dengan teman, secepat itu pula mereka akur kembali dan saling memaafkan.  Alkitab menyatakan bahwa orang yang tidak memiliki kasih adalah orang yang belum pindah dari maut:  "Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut."  (1 Yohanes 3:14).

Punya kerendahan hati, mau diajar, percaya penuh kepada Tuhan dan punya kasih adalah kunci untuk mengalami Kerajaan Sorga di bumi!



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)