Author Topic: Renungan Harian Air Hidup  (Read 179547 times)

0 Members and 6 Guests are viewing this topic.

January 15, 2019, 05:23:47 AM
Reply #1880
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Tuesday, January 15, 2019
TUHAN HADIR DALAM KEMULIAAN-NYA (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Januari 2019

Baca:  1 Raja-Raja 8:1-13

"Ketika imam-imam keluar dari tempat kudus, datanglah awan memenuhi rumah TUHAN, sehingga imam-imam tidak tahan berdiri untuk menyelenggarakan kebaktian oleh karena awan itu, sebab kemuliaan TUHAN memenuhi rumah TUHAN."  1 Raja-Raja 8:10-11

Ada hal yang sangat tragis bila dalam sebuah ibadah atau pelayanan rohani Tuhan tidak hadir di tengah-tengah umat-Nya dan tidak menyatakan kemuliaan-Nya.  Ketidakhadiran Tuhan ini dalam istilah bahasa Ibrani disebut ichabod, yang berarti:  kemuliaan Tuhan diambil atau dirampas dari umat Tuhan.

     Jika kita perhatikan, sekarang ini banyak sekali gedung gereja dibangun dengan megahnya di kota-kota besar, bahkan gedung tersebut dapat menampung jemaat yang bukan hanya ratusan, tapi ribuan.  Ini berita baik!  Namun jangan sampai kita hanya fokus pada kemegahan gedung gereja secara fisik semata, karena hal terpenting dan terutama adalah apakah Tuhan hadir melawat umat-Nya saat ibadah berlangsung.  Apalah artinya gedung megah dengan jemaat yang jumlahnya ribuan tanpa kehadiran Tuhan di tengah-tengah jemaat?  Pastilah ibadah akan terasa hambar dan tak lebih dari sekedar seremonial agamawi.  Dalam perjalanan bangsa Israel, keberadaan Tabut Tuhan adalah hal terpenting.  Tabut adalah kotak kayu, di dalamnya ditaruh loh-loh batu yang bertuliskan sepuluh perintah Tuhan.  "Pada waktu itu berfirmanlah TUHAN kepadaku: Pahatlah dua loh batu yang serupa dengan yang mula-mula, naiklah kepada-Ku ke atas gunung, dan buatlah sebuah tabut dari kayu; maka Aku akan menuliskan pada loh itu firman-firman yang ada pada loh yang mula-mula yang telah kaupecahkan itu, kemudian letakkanlah kedua loh ke dalam tabut itu."  (Ulangan 10:1-2).

     Tabut Tuhan menjadi barang sakral yang kerap dibawa ke mana-mana oleh bangsa Israel ketika mereka menempuh perjalanan di padang gurun.  Mengapa umat Israel selalu membawa Tabut Tuhan?  Karena Tabut Tuhan adalah tipologi dari kehadiran dan penyertaan Tuhan.  Dimana Tuhan hadir, perkara dahsyat pasti terjadi:  kemenangan, pemulihan, kesembuhan dan sukacita.  Ketika Tabut Tuhan ada di tengah-tengah umat Israel, bisa dipastikan kemenangan menjadi milik mereka karena Tuhan turut bekerja.  Sebaliknya ketika Tabut Tuhan tidak ada di tengah-tengah umat Israel, mereka harus terseok-seok menghadapi musuh dan berujung pada kekalahan.




January 16, 2019, 05:05:43 AM
Reply #1881
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Wednesday, January 16, 2019
TUHAN HADIR DALAM KEMULIAAN-NYA (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Januari 2019

Baca:  2 Tawarikh 5:2-14

"'Sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.' Pada ketika itu rumah itu, yakni rumah TUHAN, dipenuhi awan,"  2 Tawarikh 5:13b

Pembicaraan tentang Tabut Tuhan tak dapat dipisahkan dari kekudusan hidup.  "Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi. Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus."  (Imamat 11:44-45).  Karena Tuhan adalah kudus maka Ia pun memerintahkan agar umat-Nya hidup dalam kekudusan.  Inilah kunci untuk mengalami lawatan dan kehadiran Tuhan di setiap peribadatan.

     Ada banyak hamba Tuhan dan pelayan Tuhan yang menganggap remeh kekudusan ini sehingga mereka melayani ibadah tanpa memiliki persiapan yang baik, asal-asalan, dan sembarangan.  Melayani di rumah Tuhan itu bukanlah hal kebiasaan, punya talenta, kemampuan, atau mahir tentang pengetahuan Alkitab, namun haruslah ada kekudusan sebagai harga mati!  Jika para pelayan Tuhan tidak hidup dalam kekudusan, bagaimana mungkin mereka bisa membawa jemaat bertemu Tuhan?  Tertulis:  "Lalu para imam keluar dari tempat kudus. Para imam yang ada pada waktu itu semuanya telah menguduskan diri, lepas dari giliran rombongan masing-masing."  (2 Tawarikh 5:11).  Para imam adalah orang-orang yang dipercaya untuk melayani di Bait Tuhan.

     Rasul Paulus pun menasihati,  "...supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."  (Roma 12:2).  Di dalam kekudusan itulah Tuhan akan menyatakan kemuliaan dan kuasa-Nya.  Tuhan memang Mahahadir  (Omni Present), namun belum tentu semua orang mengalami dan merasakan kehadiran-Nya secara pribadi  (Manifest Present).  Adalah tragis sekali bila kita sudah berjerih lelah melayani Tuhan dan beribadah kepada-Nya tapi tidak mengalami kehadiran Tuhan secara pribadi.  Ibadah yang kita lakukan akhirnya takkan lebih dari sekedar formalitas tanpa kita merasakan jamahan dan hadirat Tuhan.

Ibadah tanpa kekudusan hidup tak menghasilkan kuasa, karena Tuhan tidak hadir!



January 17, 2019, 05:22:30 AM
Reply #1882
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Thursday, January 17, 2019
PENDERITAAN: Momok Orang Percaya
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Januari 2019

Baca:  1 Petrus 4:12-19

"Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya."  1 Petrus 4:13

Tak satu pun manusia di dunia ini yang mau hidup menderita tak terkecuali orang percaya.  Itulah sebabnya kebanyakan orang Kristen merasa  'alergi'  dan kurang senang jika mendengar khotbah hamba Tuhan yang bertemakan penderitaan.  Ayat-ayat di Alkitab yang berbicara tentang penderitaan seringkali dilewati dan tak dibacanya, padahal Firman Tuhan jelas menyatakan:  "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,"  (Filipi 1:29).  Jadi setiap orang percaya dipanggil untuk menderita bagi Kristus.

     Panggilan untuk menderita bagi Kristus inilah yang menjadi momok bagi orang percaya!  Tentunya tidak mudah mencari orang yang bersedia menjawab panggilan ini, terlebih hidup di zaman yang semakin menuntut orang untuk menjadi berhasil dan sukses.  Seringkali keberhasilan dan kesuksesan dijadikan ukuran atau tanda bagi seseorang apakah ia diberkati Tuhan.  Akhirnya fokus kita hanya pada berkat, kenyamanan, fasilitas dan sebagainya.  Perhatikan apa yang rasul Petrus tulis:  "...karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, --karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa--, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah."  (1 Petrus 4:1-2).

     Banyak orang menjadi sangat terkejut karena setelah percaya kepada Kristus seolah-olah badai hidup tidak pernah reda, padahal mereka berharap perjalanan hidupnya akan menjadi mulus dan berkecukupan secara materi.  Mereka pun menjadi apatis dan tidak lagi bersemangat melayani Tuhan.  Kita mulai membanding-bandingkan dengan kehidupan orang-orang di luar Tuhan, seperti yang diperbuat bangsa Israel ketika dibawa Tuhan ke luar dari Mesir dan harus melewati padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian  (Keluaran 14:11-12).  Tak ada Kekristenan tanpa salib!

Penderitaan adalah bagian hidup orang percaya, tapi percayalah penderitaan yang kita alami tak sebanding dengan kemuliaan yang Tuhan sediakan!  Roma 8:18


January 18, 2019, 05:39:37 AM
Reply #1883
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Friday, January 18, 2019
MERAGUKAN KRISTUS SEBAGAI TUHAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Januari 2019

Baca:  Yohanes 14:1-14

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."  Yohanes 14:6

Hingga detik ini banyak orang masih meragukan tentang keilahian Kristus.  Mereka menganggap bahwa Kristus adalah manusia biasa.  Tetapi, sebagai pengikut Kristus, kita sangat percaya bahwa Kristus adalah Tuhan yang hidup dan berkuasa, Dia Tuhan yang menjelma menjadi manusia demi satu misi mulia, yaitu menyelamatkan manusia.

     Bukti bahwa Kristus adalah Tuhan adalah adanya jaminan bahwa Ia menyediakan tempat bagi kita di sorga:  "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada."  (Yohanes 14:2-3).  Kristus berjanji bahwa Ia akan datang kembali ke dunia ini untuk menjemput umat-Nya dan memberikan sorga sebagai tempat tinggal yang pasti bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

     Ada pepatah yang mengatakan banyak jalan menuju Roma!  Ini tidak berlaku untuk kehidupan kekal  (sorga), sebab tidak ada jalan lain menuju kepada kehidupan kekal  (sorga)  selain melalui Kristus.  "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."  (ayat nas).  Jelas dinyatakan bahwa Kristus bukanlah penunjuk jalan menuju kepada Bapa, tapi Dia adalah Jalan itu sendiri.  Dan sebagai Jalan, Kristus tidak hanya sekedar memberi nasihat dan arahan, tapi Ia sendiri akan menuntun dan memimpin umat-Nya secara pribadi hari lepas hari melalui ROH KUDUS.  Kristus juga adalah kebenaran!  Banyak orang, bahkan para nabi, mungkin bisa mengajar tentang kebenaran sekalipun mereka belum tentu hidup dalam kebenaran sepenuhnya, seperti yang dilakukan oleh ahli Taurat dan orang-orang Farisi.  Hanya Kristus yang berni berkata:  "Akulah kebenaran.", sebab  "Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya."  (1 Petrus 2:22).  Selain itu Kristus adalah hidup, karena itu setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, melainkan akan beroleh kehidupan yang kekal  (Yohanes 3:16).

Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat manusia.  Tak perlu diragukan lagi!




January 19, 2019, 05:17:00 AM
Reply #1884
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Saturday, January 19, 2019
PELAYANAN YANG TUHAN PERHITUNGKAN (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Januari 2019

Baca:  Yohanes 12:20-36

"Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa."  Yohanes 12:26

Alkitab menyatakan bahwa Tuhan menyediakan upah-Nya bagi setiap orang yang sungguh-sungguh melayani Dia.  Jerih lelah dan sekecil apa pun pengorbanan kita untuk melayani pekerjaan Tuhan tidak ada pernah sia-sia, sebab semua Tuhan perhitungkan.  Rasul Paulus menasihati,  "...saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."  (1 Korintus 15:58).  Bahkan ayat nas menyatakan:  "Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa."  Dari ayat ini banyak orang Kristen berpikir bahwa semua pelayanan yang kita lakukan pasti akan mendapatkan upah atau penghormatan dari Tuhan.  Jawabnya adalah tidak semua pelayanan yang kita lakukan mendapatkan upah atau penghargaan dari Tuhan.

     Upah penghargaan itu hanya sebagai akibat dari yang kita lakukan.  Untuk mendapatkan upah dan penghargaan dari Tuhan kita harus melayani Dia dengan sungguh-sungguh dan disertai motivasi yang benar.  Banyak orang tampak sibuk melayani pekerjaan Tuhan tapi bukan melayani sesuai kehendak dan kemauan Tuhan, melainkan menurut kemauan dan kehendaknya sendiri.  Berhati-hatilah!  Tuhan yang kita layani adalah Tuhan yang tidak bisa ditipu dengan penampilan secara lahiriah, sebab Ia melihat hati.  "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab."  (Ibrani 4:13).

     Bahkan, Tuhan mengetahui segala isi hati, niat dan cita-cita  (1 Tawarikh 28:9).  Tuhan berfirman,  "Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya."  (Yeremia 17:10).  Kita bisa saja menutupi banyak hal atau mengelabui manusia dengan tutur kata yang santun atau sikap yang manis dalam pelayanan, tapi  di hadapan Tuhan... tidak!  Di hadapan manusia kita bisa menggunakan  'topeng-topeng'  tapi Tuhan sama sekali tidak bisa dikelabui!



January 20, 2019, 04:54:56 AM
Reply #1885
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Sunday, January 20, 2019
PELAYANAN YANG TUHAN PERHITUNGKAN (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Januari 2019

Baca:  1 Korintus 1:18-31

"dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,"  1 Korintus 1:28

Pelayanan kita akan dikenan Tuhan dan mendatangkan penghargaan dari-Nya apabila kita melayani Dia dengan penuh kerendahan hati.  Ada banyak orang Kristen menjadi sombong ketika sudah terlibat dalam pelayanan.  Tidak sedikit dari mereka yang mau melayani pekerjaan Tuhan asalkan pelayanan tersebut terlihat oleh banyak orang.  Secara kasat mata mereka tampak melayani Tuhan, tapi sesungguhnya motif pelayanan mereka adalah untuk kepentingan diri sendiri, mencari pujian dan pengakuan dari manusia.  Pelayanan yang berkenan adalah:  "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil."  (Yohanes 3:30).  Jadi pelayanan yang benar haruslah berorientasi dan berpusat hanya kepada Tuhan Sang empunya ladang pelayanan.

     Dalam melayani Tuhan kita tidak bisa mengandalkan akal atau kekuatan sendiri, kita harus senantiasa mengandalkan ROH KUDUS, sebab melayani Tuhan itu tidak berbicara tentang kemampuan atau kehebatan seseorang.  "Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin."  (1 Petrus 4:11).  Kesediaan kita untuk melayani itu jauh lebih penting daripada kemampuan kita.  Tuhan memanggil dan memilih seseorang untuk melayani pekerjaan-Nya bukan berdasarkan kualifikasi manusiawi atau menurut ukuran dunia;  sekalipun kita adalah orang-orang yang sederhana, tidak terpandang, atau bahkan dianggap bodoh oleh dunia, Tuhan tetap mau memakai kita.

     Pelayanan yang beroleh penghargaan dari Tuhan adalah pelayanan yang disertai dengan pertobatan.  Apalah artinya sibuk melayani jika kita sendiri tidak taat melakukan kehendak Tuhan.  "Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."  (Yohanes 14:21).

Upah besar Tuhan sediakan bagi setiap orang yang melayani Dia dengan penuh integritas!



January 21, 2019, 05:22:10 AM
Reply #1886
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Monday, January 21, 2019
KASIH SEBAGAI DASAR KETAATAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Januari 2019

Baca:  Ulangan 11:1-7

"Haruslah engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia kewajibanmu terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan-Nya, peraturan-Nya dan perintah-Nya."  Ulangan 11:1

Ketaatan berbicara tentang harga yang harus dibayar, sesuatu yang harus dikorbankan, penyangkalan diri.  Inilah yang berusaha dihindari orang, karena kebanyakan orang maunya hidup sesuka hati, tidak mau diatur, dan hidup menuruti segala keinginan daging.  Kalaupun orang mau taat, dilakukan dengan keterpaksaan, takut terkena sanksi.

     Dari pembacaan Firman Tuhan di atas ada dua kata yang menjadi dasar dari ketaatan yaitu mengasihi dan melakukan.  Ketaatan yang sejati haruslah berdasarkan kasih.  Karena itulah Kristus berkata,  "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku."  (Yohanes 14:15).  Jika seseorang benar-benar mengasihi Tuhan, ia akan melakukan perintah Tuhan tersebut dan terasa ringan atau tidak berat.  "Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,"  (1 Yohanes 5:3).  Ketaatan juga berkaitan erat dengan penundukan diri, yaitu tindakan sukarela dari seseorang untuk menempatkan dirinya di bawah kuasa orang lain.  Ketaatan adalah hal yang mutlak!  Karena itulah umat Israel diperintahkan Tuhan untuk menulis perintah-perintah tersebut di ambang pintu rumah mereka, sehingga mereka bisa melihatnya ketika mereka ke luar dan masuk rumah.

     Sekarang keputusan dan pilihan ada di tangan kita masing-masing!  Kalau kita mau taat, janji Tuhan pasti akan tergenapi dalam hidup kita.  Dengan kata lain ketaatan mendatangkan berkat!  Sebaliknya, ketidaktaatan akan mendatangkan kutuk bagi kita.  "Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal."  (Ulangan 11:26-28).

Seorang yang mengasihi Tuhan pasti akan taat melakukan kehendak Tuhan di segala situasi!



January 22, 2019, 05:58:06 AM
Reply #1887
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Tuesday, January 22, 2019
RASA AMAN DAN TENTERAM YANG SEMU
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Januari 2019

Baca:  Amos 6:1-14

"Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria, atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama, orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang!"  Amos 6:1

Melalui nabi Amos Tuhan memberikan peringatan keras kepada bangsa Israel  (Samaria dan Yehuda)  yang saat itu sedang terlena dengan zona nyaman.  Mereka sudah berpuas diri dengan keberadaan mereka saat itu.  Mereka berpikir bahwa keberhasilan secara materi adalah bukti bahwa mereka hidup di bawah berkat Tuhan.  Itulah sebabnya mereka merasa aman di Sion dan merasa tenteram di gunung Samaria.

     Sion adalah kota yang menjadi pusat peribadatan bagi bangsa Yehuda, tempat di mana mereka biasa melakukan ritual keagamaan dan mempersembahkan korban kepada Tuhan.  Mereka berpikir semua yang diperbuatnya itu berkenan di hati Tuhan.  Sayang sekali Tuhan sama sekali tidak tertarik dengan ibadah dan persembahan mereka, sebab ibadah mereka tidak lebih dari sekedar ritual agama atau kebiasaan saja, sedangkan hati mereka jauh dari Tuhan.  Ibadah dan persembahan tanpa disertai pertobatan hidup tidak ada gunanya, apalagi mereka masih suka menyembah kepada berhala.  Jangan pernah mengira bahwa dengan rajin ke gereja, terlibat pelayanan dan memberi persembahan dalam jumlah besar untuk gereja, hati Tuhan langsung disenangkan.  Ibadah yang sesungguhnya adalah berkenaan dengan ketaatan kita melakukan kehendak Tuhan:  "Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran."  (1 Yohanes 2:4).

     Samaria adalah pusat kekayaan dan kuasa.  Bangsa Israel merasa tenteram karena memiliki kekayaan materi yang melimpah.  Firman Tuhan memperingatkan agar kita tidak menyandarkan hidup kita kepada kekayaan, sebab kekayaan adalah sesuatu yang tidak pasti dan mudah lenyap seketika.  "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?"  (Matius 16:26).  Nabi Amos mengingatkan, daripada hidup berbahagia dengan segala kemewahan materi, adalah lebih baik bangsa Israel meratapi dosa-dosanya dan segera bertobat sebelum malapetaka datang menimpa mereka.

Hidup benar di hadapan Tuhan itulah yang memberikan rasa aman dan tenteram!



January 23, 2019, 05:28:59 AM
Reply #1888
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Wednesday, January 23, 2019
ADA HIKMAH DI BALIK PENDERITAAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 23 Januari 2019

Baca:  Ulangan 32:1-14

"Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya."  Ulangan 32:10

Alkitab mencatat bahwa Musa adalah seorang pemimpin yang memiliki kelembutan hati, seperti tertulis:  "Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi."  (Bilangan 12:3).  Kelembutan hati Musa benar-benar diuji saat ia memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir.

     Sepanjang perjalanan selama 40 tahun di padang gurun Musa harus menghadapi penderitaan yang datang silih berganti, termasuk berhadapan dengan umat Israel yang tegar tengkuk, yang tak henti-hentinya protes, mengomel dan bersungut-sungut seperti berikut ini:  "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan."  (Keluaran 16:3).  Namun demikian Musa tetap mampu menjaga sikap hatinya untuk tidak mengeluh kepada Tuhan, justru ia bisa bersyukur kepada Tuhan.  Bagaimana bisa?  Karena Musa mampu melihat sisi positif di balik masalah yang ada.

     Musa sadar bahwa penderitaan merupakan cara yang dipakai Tuhan untuk mendidik umat-Nya.  "Laksana rajawali menggoyangbangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya,"  (Ulangan 32:11).  Di atas bukit yang tinggi induk rajawali membuat sarangnya yang terbuat dari ranting kecil berduri yang dilapisi dengan bulu halus dan sejenis tumbuhan kecil yang lembut untuk melindungi telur dan anak-anaknya.  Tapi terkadang induk rajawali harus bertindak tegas dengan menggoyangbangkitkan sarang itu sampai tinggal ranting-ranting duri yang tersisa, sehingga si anak harus beranjak dari sarang agar tidak tertusuk duri sambil mengepak-ngepakkan sayapnya di pinggir sarang itu.  Karena letih mereka pun terjatuh dari ketinggian, namun secepat kilat induk rajawali itu menopang dengan kepak sayapnya.

Penderitaan yang diijinkan Tuhan pasti mendatangkan kebaikan!  Tak perlu takut karena tangan-Nya yang kuat siap menopang!



January 24, 2019, 05:43:31 AM
Reply #1889
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Thursday, January 24, 2019
MENANG TERHADAP ORANG AMORI
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 24 Januari 2019

Baca:  Amos 2:6-16

"Padahal Akulah yang menuntun kamu keluar dari tanah Mesir dan memimpin kamu empat puluh tahun lamanya di padang gurun, supaya kamu menduduki negeri orang Amori;"  Amos 2:10

Orang Amori  (suku Amori)  adalah salah satu suku asli di Kanaan.  Mereka dikenal memiliki kelebihan dalam hal postur tubuh yaitu tinggi dan kuat seperti raksasa:  "...orang Amori, yang tingginya seperti tinggi pohon aras dan yang kuat seperti pohon tarbantin; Aku telah memunahkan buahnya dari atas dan akarnya dari bawah."  (Amos 2:9).  Hal ini juga pernah diungkapkan oleh orang-orang yang diutus Musa untuk mengintai tanah Kanaan.  Mereka berkata,  "Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya, dan semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya. Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami."  (Bilangan 13:32-33).  Sepuluh dari kedua belas pengintai yang diutus Musa itu pun menjadi takut dan gemetar ketika melihat orang-orang raksasa, kecuali Kaleb dan Yosua.

     Namun ketika Israel dipimpin Yosua justru mereka mampu mengalahkan raja-raja Amori  (Yosua 12:1-6).  Luar biasa!  Mereka menang bukan karena kekuatan dan kemampuan sendiri, tapi karena Tuhan menyertai mereka dan turut bekerja.  Jika Tuhan ada di pihak mereka, bangsa manakah yang sanggup menghadangnya?  Sekalipun permasalahan yang Saudara hadapi saat ini begitu besar seperti orang-orang Amori yang tinggi perawakannya seperti raksasa, kita tak perlu takut menghadapinya, karena kita punya Tuhan, yang adalah Jehovah Nissi:  dia adalah panji-panji kita, Tuhan berperang ganti kita;  dan bersama Tuhan kemenangan pasti dapat kita raih.

     Jangan bersikap pesimis dan takut seperti 10 orang pengintai itu, jadilah seperti Kaleb dan Yosua, penuh iman percaya bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang Mahakuasa dan Mahasanggup.  Daud pun secara fisik tidak mampu mengalahkan Goliat, raksasa Filistin, tetapi karena Tuhan ada di pihaknya, ia pun tampil sebagai pemenang.

"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."  Roma 8:37



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)