Author Topic: Renungan Harian Air Hidup  (Read 170183 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 25, 2019, 05:29:50 AM
Reply #1890
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Friday, January 25, 2019
DAHSYATNYA KEKUATAN DOA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 25 Januari 2019

Baca:  Kisah Para Rasul 12:1-19

"Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar, mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia."  Kisah 12:10b

Raja Herodes dikenal sebagai raja yang sangat lalim.  Ia memerintah rakyatnya dengan tangan besi.  Dengan kekuasaan yang dimiliki ia bertindak semena-mena terhadap rakyatnya, bahkan ia melakukan penganiayaan dan pembunuhan secara sadis terhadap orang-orang percaya  (pengikut Kristus):  "Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang."  (Kisah 12:2).  Petrus pun tak luput dari hal ini, ia ditahan dan penjarakan.  Bisa dipastikan nasib Petrus takkan jauh berbeda dengan Yakobus.

     Petrus dijebloskan ke dalam penjara dengan pengawasan yang sangat ketat,  "...di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit."  (Kisah 12:4a).  Secara manusia Petrus sudah tidak memiliki harapan lagi untuk melihat  'dunia luar'  sebab ia dijaga ketat oleh prajurit-prajurit Herodes, dengan kaki dan tangan terbelenggu dengan rantai yang kuat.  Petrus hanya bisa berserah sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.  Dalam kondisi tak berdaya, ketika ia tertidur pulas di antara penjagaan para prajurit,  "Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: 'Bangunlah segera!' Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus."  (Kisah 12:7).  Dengan cara-Nya yang ajaib Tuhan menyatakan kuasa-Nya, Ia mengutus malaikat-Nya membebaskan Petrus.  Luar biasa!  Bagaimana Petrus dapat terlepas dari penjara?  Itu semua karena kekuatan doa.  Saat Petrus ditangkap dan dipenjarakan, jemaat Tuhan tekun berdoa untuk keselamatan Petrus  (Kisah 12:5b).  Doa yang dinaikkan dengan tekun dan penuh iman mampu menggetarkan sorga dan Tuhan pun turun tangan menyatakan kuasa-Nya.  Petrus pun luput dari kematian,  "Pada keesokan harinya gemparlah prajurit-prajurit itu. Mereka bertanya-tanya apakah yang telah terjadi dengan Petrus."  (Kisah 12:18).

     Masalah apa yang membelenggu Saudara saat ini?  Sekalipun sepertinya tidak ada lagi harapan, karena semua pintu serasa sudah tertutup, janganlah menyerah dan berputus asa, berserulah kepada Tuhan dengan iman, pertolongan-Nya pasti tepat pada waktunya.

"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."  Yakobus 5:16b



January 26, 2019, 05:43:26 AM
Reply #1891
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Saturday, January 26, 2019
BUKAN BUKIT DAN GUNUNG
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Januari 2019

Baca:  Yeremia 3:14-25

"Sesungguhnya, bukit-bukit pengorbanan adalah tipu daya, yakni keramaian di atas bukit-bukit itu! Sesungguhnya, hanya pada TUHAN, Allah kita, ada keselamatan Israel!"  Yeremia 3:23

Di zaman dahulu bukit-bukit dan gunung-gunung yang tinggi seringkali menjadi kebanggaan suatu bangsa.  Mengapa?  Karena menurut pemikiran mereka, bukit-bukit dan gunung-gunung yang tinggi menjulang dapat dijadikan sebagai tempat untuk berlindung.  Ketika musuh datang menyerang segeralah mereka berlari kesana untuk berlindung, dan apabila musuh sudah pergi, barulah mereka turun kembali untuk melakukan aktivitas seperti sediakala.  Jadi bukit-bukit dan gunung-gunung menjadi harapan semua orang untuk berlindung dan menyelamatkan diri dari segala marabahaya.

     Tetapi dengan tegas nabi Yeremia memperingatkan bahwa bukit-bukit dan gunung-gunung adalah tipu daya.  Adalah sia-sia kita berlindung kepadanya.  Nabi Amos pun menulis:  "Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion, atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria,..."  (Amos 6:1).  Namun sampai saat ini masih banyak orang yang memilih untuk pergi ke bukit-bukit, gunung-gunung, gua-gua dan makam-makam untuk mencari pertolongan dan berkat.  Kalau pun mereka beroleh jawaban, itu hanyalah tipu muslihat Iblis untuk menjerat mereka.  Pertolongan itu hanya sementara waktu dan semu belaka, dan pada akhirnya manusia harus membayar harganya.  Bukit dan gunung-gunung yang tinggi menjulang juga bisa berbicara tentang uang, kekayaan, emas, mobil, aset-aset berharga, jabatan atau dokter yang selalu diandalkan dan sebagainya.  Betapa banyak  'gunung-gunung'  mengelilingi kita yang nampak begitu kokoh dan bisa kita banggakan untuk tempat kita berlindung ketika kesesakan datang.

     Ada tertulis,  "Dan semua pulau hilang lenyap, dan tidak ditemukan lagi gunung-gunung."  (Wahyu 16:20).  Demikianlah gunung-gunung pengharapan kita tidak kekal.  Ada sumber pertolongan yang jauh lebih hebat dari apa pun yaitu Kristus, satu-satunya penolong kita,  "...tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal. Ia mengusir musuh dari depanmu dan berfirman: Punahkanlah!"  (Ulangan 33:27).

"Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi."  Mazmur 121:2


January 27, 2019, 04:57:53 AM
Reply #1892
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Sunday, January 27, 2019
PEMUDA EUTHIKUS: Bangkit Kembali
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 27 Januari 2019

Baca:  Kisah Para Rasul 20:7-12

"Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati."  Kisah 20:9b

Pernahkah Saudara mengantuk saat ibadah berlangsung?  Jujur jawabnya:  pernah!  Atau mungkin bukan hanya sekali atau dua kali kita mengantuk, tapi hampir di setiap ibadah kita diserang oleh rasa kantuk yang demikian hebatnya.  Apalagi kalau jam ibadahnya berlangsung pada siang hari dan udara terasa panas, plus cara si hamba Tuhan dalam menyampaikan khotbahnya begitu membosankan dan lama.

     Kantuk  (drowsiness)  adalah keadaan ketika seseorang ingin tidur.  Ada beberapa penyebab kantuk, di antaranya adalah karena kurang istirahat.  Orang dewasa memerlukan waktu tidur sekitar 7-9 jam per hari, dan apabila seorang tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk tidur, maka dirinya akan merasa mengantuk pada siang hari.  Penyebab lain adalah pola tidur yang berubah.  Orang dengan profesi yang mengharuskan dirinya bekerja dalam jadwal/shift kerja yang berganti-ganti akan memiliki pola tidur yang tidak tetap pula, sehingga hal itu menyebabkan gangguan irama tubuh atau ritme sirkadian.  Gangguan tersebut bisa menimbulkan perasaan kantuk.  Alkitab juga mencatat ada seorang pemuda yang mengantuk saat mendengarkan khotbah.  Pemuda itu bernama Euthikus, yang  "...duduk di jendela."  (Kisah 20:9a), saat mendengarkan Paulus berkhotbah.  Karena mengantuk, Euthikus sampai terjatuh dari tingkat tiga ke bawah.  "Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati."  (ayat nas).  Rasul Paulus merasa bertanggung jawab atas musibah ini, maka ia pun  "...turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: 'Jangan ribut, sebab ia masih hidup.'"  (Kisah 20:10).

     Mengapa Paulus begitu yakin bahwa Euthikus masih hidup?  Dalam hal ini Paulus tidak asal bicara atau berhalusinasi.  Imanlah yang membuat Paulus merasa yakin bahwa pemuda itu hidup dan dapat dibangkitkan lagi.  "...ia masih hidup."  adalah ungkapan iman Paulus.  Iman sanggup menentang alam logika manusia.  Dengan iman Paulus percaya meski segala sesuatunya belum terlihat secara kasat mata.  Terbukti:  Euthikus bangkit kembali.  Itu bukan karena kehebatan Paulus, tapi karena iman yang bekerja di dalamnya.

Iman kepada Kristus sanggup mengalahkan kemustahilan manusia!




January 28, 2019, 06:08:46 AM
Reply #1893
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Monday, January 28, 2019
KESEIMBANGAN ANTARA DOA DAN KERJA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 28 Januari 2019

Baca:  Markus 1:35-39

"Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana."  Markus 1:35

Ada ungkapan bahasa Latin:  Ora Et Labora  (berdoa dan bekerja).  Ungkapan ini sebagai penegasan bahwa berdoa dan bekerja adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan, saling melengkapi dan ada keseimbangan.  Kita tidak boleh hanya berdoa saja tanpa melakukan sesuatu.  Jadi harus disertai dengan tindakan, usaha atau bekerja.  Sebaliknya kita juga tidak boleh bekerja saja tanpa disertai berdoa, sebab itu artinya kita hidup mengandalkan kekuatan sendiri dan mengesampingkan Tuhan sebagai Sang Pemberi berkat.

     Kristus adalah teladan utama dalam hal berdoa dan bekerja ini:  "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga."  (Yohanes 5:17).  Semasa berada di bumi Kristus begitu giat mengerjakan tugas dari Bapa yaitu melayani jiwa-jiwa:  berkhotbah, memberitakan Injil dari desa ke desa, mengajar, dan menyembuhkan berbagai penyakit dan kelemahan.  Meski disibukkan dengan jadwal pelayanan-Nya yang padat Kristus tak mengabaikan jam-jam doa.  Ia selalu menyediakan waktu secara pribadi untuk berdoa dan bersekutu dengan Bapa.  Jadi ada keseimbangan antara bekerja  (pelayanan)  dan berdoa.  Ayat nas menyatakan bahwa pagi-pagi benar ketika hari masih gelap Kristus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa.  Ini menunjukkan bahwa Kristus menempatkan hubungan dengan Bapa  (doa)  sebagai hal yang terutama sebelum Ia melakukan segala sesuatu di hari yang baru.  Setelah berdoa barulah Kristus mengajak murid-murid-Nya untuk bekerja memberitakan Injil di seluruh Galilea.

     Bagaimana dengan Saudara?  Di zaman sekarang ini semua orang disibukkan dengan aktivitasnya yang padat:  sibuk dengan pekerjaan di kantor, sibuk dengan pelayanan dan sebagainya.  Sesibuk apa pun jangan sekali-kali Saudara meninggalkan jam-jam doa.  Kita semua diberi waktu yang sama yaitu 24 jam sehari,  "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?"  (Matius 26:40b).  Namun mungkin ada di antara kita yang justru menganggap bahwa doa saja sudah cukup dan tak perlu kita bekerja.  Itu pun salah besar!  "...jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan."  (2 Tesalonika 3:10).

Dengan berdoa, Tuhan memberkati apa pun yang kita kerjakan!



January 29, 2019, 05:32:57 AM
Reply #1894
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Tuesday, January 29, 2019
PEMIMPIN ROHANI: Bekerja Keras Untuk Kita (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 29 Januari 2019

Baca:  1 Tesalonika 5:12-22

"Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu;"  1 Tesalonika 5:12

Menjadi seorang pemimpin bukanlah pekerjaan mudah.  Kita harus siap mental karena jarang sekali beroleh pujian, sekalipun berprestasi, tapi kalau melakukan sedikit kesalahan, maka kritikan cibiran dan hujatan akan datang bertubi-tubi.  Terlebih-lebih menjadi pemimpin rohani!  Pemimpin rohani adalah seorang yang memberi tuntunan, arahan, nasihat, bimbingan kepada orang lain mengenai perkara-perkara rohani;  membimbing seseorang untuk semakin mendekat kepada Tuhan dan mengenal kebenaran-Nya.  Berdasarkan nas di atas, yang dimaksudkan pemimpin rohani adalah orang-orang yang bekerja keras dalam memimpin jemaat, menegor kesalahan, menasihati, memberikan dorongan semangat, dan juga menyampaikan Firman Tuhan.

     Rasul Paulus menasihati agar kita belajar memberikan kepada pemimpin rohani kita sikap hormat dan menghargai jerih lelah dan pengorbanan mereka.  Jangan hanya menyalahkan, menghakimi, membicarakan kelemahan dan kekurangannya.  Bukankah hal ini masih sering terjadi?  Dan mengapa hal ini perlu dipertegas kembali?  Karena pemimpin rohani adalah orang-orang yang telah ditetapkan Tuhan untuk memimpin kita dalam hal kerohanian;  mereka bekerja keras mengajar, membimbing, menegor dan menyampaikan kebenaran Firman Tuhan supaya jemaat semakin memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan, semakin bertumbuh imannya dan semakin dewasa rohani.

     Mengapa kita harus menghormati pemimpin rohani kita?  Karena mereka sudah bekerja keras untuk kita, tapi bukan mengkultuskan dia.  Tuhan tetaplah yang tertinggi dan terutama untuk disembah, ditinggikan dan dimuliakan, sedangkan pemimpin rohani layak untuk dihormati.  Pemimpin rohani adalah karunia Tuhan bagi jemaat.  "...Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,"  (Efesus 4:11-12).



January 30, 2019, 05:38:27 AM
Reply #1895
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Wednesday, January 30, 2019
PEMIMPIN ROHANI: Bekerja Keras Untuk Kita (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 30 Januari 2019

Baca:  Ibrani 13:17-25

"Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu."  Ibrani 13:17

Kita patut menghormati dan menghargai jerih lelah pemimpin rohani kita karena mereka  "...yang memimpin kamu dalam Tuhan..."  (1 Tesalonika 5:12)  dan dia juga berjaga-jaga atas jiwa-jiwa dari jemaat yang dipimpinnya.  Ini merupakan tugas yang sungguh mulia dan tak bisa dipandang sebelah mata.  Memimpin jiwa-jiwa dengan berbagai karakter dan problematikanya adalah hal yang membutuhkan kesabaran, ketekunan dan komitmen tinggi, seperti seorang gembala yang harus dengan sabar menuntun kawanan domba.

     Pemimpin rohani adalah orang yang memimpin jemaat untuk hidup dalam Tuhan.  Selain harus mengajarkan Firman Tuhan kepada jemaat yang dipimpinnya, ia juga dituntut untuk memberikan sebuah keteladanan hidup.  Bagaimanapun juga pemimpin rohani adalah manusia biasa, bukan malaikat, ia punya banyak kelemahan dan kekurangan.  Meski demikian kita harus tetap menghargai dan menghormatinya, jangan sekali-kali kita melecehkan, menghujat dan merendahkan mereka.  "Berdoalah terus untuk kami; sebab kami yakin, bahwa hati nurani kami adalah baik, karena di dalam segala hal kami menginginkan suatu hidup yang baik."  (Ibrani 13:18).

     Kita patut bersyukur memiliki pemimpin rohani, karena mereka juga menegur mengingatkan dan menasihati saat kita melakukan kesalahan.  Namun betapa banyak dari kita justru menjadi marah dan tersinggung ketika ditegur atau dinasihati oleh pemimpin rohaninya.  "Orang yang mengarahkan telinga kepada teguran yang membawa kepada kehidupan akan tinggal di tengah-tengah orang bijak. Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi."  (Amsal 15:31-32).  Kita pun bisa belajar dari jemaat Makedonia, yang bukan hanya menghormati pemimpin rohaninya, tapi juga memperhatikan apa yang menjadi kebutuhannya  (2 Korintus 11:9).

Pemimpin rohani adalah orang pilihan Tuhan!  Karena itu, hormati dan hargai dia.



January 31, 2019, 05:37:06 AM
Reply #1896
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Thursday, January 31, 2019
IMAN KITA SANGGUP MENGALAHKAN DUNIA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 31 Januari 2019

Baca:  1 Yohanes 5:1-5

"Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita."  1 Yohanes 5:4b

Hari-hari yang kita jalani di dunia ini tak luput dari berbagai macam masalah dan kesulitan hidup.  Sakit penyakit, krisis keuangan, kesulitan, penderitaan, kegagalan dan bencana, bisa saja terjadi tanpa diduga.  Contohnya seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu, di mana gempa bumi berkekuatan 6,4 SR melanda pulau Lombok  (29/7/2018).  Belum lagi sirna trauma itu, bencana terjadi lagi di Palu  (Sulteng), yaitu gempa bermagnitudo 7,4 disertai dengan tsunami yang mengakibatkan ribuan bangunan rusak dan lebih dari seribu orang meninggal dunia  (28/9/2018).  Karena masalah-masalah inilah banyak orang menjadi takut dan kuatir.  Kita semua tidak tahu apa yang terjadi esok hari.

     Sesuram apa pun hari-hari yang sedang kita jalani, sekalipun dunia bergoncang dengan hebatnya, biarlah kita tetap mengarahkan pandangan dan menguatkan percaya kepada Tuhan.  Hanyalah Tuhan satu-satunya pengharapan dalam hidup ini.  Di dalam Kristus kita memiliki rahasia hidup yang berkemenangan.  Apakah itu?  "sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?"  (1 Yohanes 5:4-5).  Alkitab menyatakan bahwa sewaktu kita percaya dan mengaku bahwa Kristus Tuhan dan Juruselamat, kita diberi kuasa mengalahkan dunia, karena di dalam kita ada ROH KUDUS.  Mengalahkan dunia berarti mengalahkan berbagai macam masalah dan pergumulan selama hidup di dunia ini.

     Tak perlu takut dan kuatir menghadapi hidup ini karena janji Tuhan adalah jaminan bagi kita.  Alkitab secara tegas menyatakan bahwa Kristus sudah mengalahkan kuasa maut dan mematahkan kutuk dosa melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.  Karena itu milikilah iman yang teguh di dalam Kristus!  Namun supaya iman kita benar-benar mampu mengubah situasi, maka iman itu harus disertai dengan perbuatan  (ketaatan).  "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya."  (Yohanes 15:7).  Iman yang disertai dengan ketaatan pasti menghasilkan kuasa yang dahsyat!

Di dalam Kristus kita tinggal di dalam kerajaan yang tak tergoncangkan!  Ibrani 12:28



February 01, 2019, 05:38:00 AM
Reply #1897
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Friday, February 1, 2019
DAMAI SEJAHTERA DI TENGAH GELORA
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 1 Februari 2019

Baca:  Roma 14:13-23

"Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh ROH KUDUS."  Roma 14:17

Dunia belum menunjukkan perubahan ke arah yang baik, malahan semakin hari semakin buruk.  Goncangan di segala aspek kehidupan, pun fenomena alam yang terjadi semakin menunjukkan kesudahan alam semakin dekat.  Banyak orang dihantui rasa takut, kuatir, cemas, was-was.  Gelora dunia ini benar-benar merampas damai sejahtera semua orang!

     Rasul Petrus mengingatkan,  "Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa."  (1 Petrus 4:7).  Sebagai orang percaya, haruskah kita kehilangan damai sejahtera di tengah dunia yang sedang bergelora ini?  Apa pun situasinya, tak seharusnya orang percaya kehilangan damai sejahtera.  Tuhan telah berjanji:  "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu."  (Yohanes 14:27).  Masalah, tantangan, tekanan, penderitaan dan ujian yang ada di dunia ini semestinya tak memengaruhi kita untuk tetap mengalami Kerajaan Sorga di bumi, sebab Kerajaan Sorga itu bukan soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh ROH KUDUS  (ayat nas).  Ingat!  Dunia dan segala yang ada tak dapat memberikan jaminan kepada kita untuk memiliki damai sejahtera.

     Di mana dan bagaimana kita dapat memiliki damai sejahtera?  "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya."  (Yesaya 32:17).  Dan Kristus adalah kebenaran itu sendiri:  "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup."  (Yohanes 14:6).  Jadi kunci mengalami damai sejahtera adalah tinggal di dalam Kristus dan kebenaran-Nya.  Ini berbicara tentang ketaatan!  Asalkan kita hidup taat tak ada yang perlu ditakutkan dan dikuatirkan karena Tuhan yang menjadi jaminan hidup kita.

"Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti,"  Yesaya 48:18



February 02, 2019, 06:22:47 AM
Reply #1898
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Saturday, February 2, 2019
MASA LALU... BIARKANLAH BERLALU (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 2 Februari 2019

Baca:  Lukas 9:57-62

"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."  Lukas 9:62

Di bawah kepemimpinan Musa bangsa Israel dituntun keluar dari perbudakannya di Mesir.  Salah satu mujizat terbesar yang bangsa Israel alami selama menempuh perjalanan di padang gurun adalah ketika Tuhan membawa mereka melewati laut Teberau.  Alkitab menyatakan bahwa Tuhan membelah laut itu menjadi tanah kering sehingga umat Israel dapat  "...berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka."  (Keluaran 14:22).  Setelah mereka berhasil sampai ke seberang, laut itu pun menutup kembali.  "Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut."  (Keluaran 14:30).  Dengan demikian bangsa Israel tidak pernah memiliki jalan untuk kembali lagi ke Mesir.

     Makna rohani di balik peristiwa ini adalah Tuhan ingin umat Israel melupakan Mesir dan fokus menatap ke depan.  Tapi sayang, mereka tak sepenuhnya menutup lembaran masa lalunya, sehingga bayang-bayang kehidupan Mesir tetap saja melekat di hati dan pikiran mereka.  Sekalipun secara fisik mereka sudah tidak lagi berada di Mesir, namun hati dan pikiran mereka masih berada di sana.  Sekalipun Tuhan telah membebaskan mereka dari perbudakannya di Mesir dan menutup jalan untuk kembali ke Mesir, mereka tetap saja bermental budak.  Akibatnya hampir semua orang yang keluar dari Mesir mati di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian.

     Untuk dapat menikmati apa yang Tuhan janjikan kita harus bersedia untuk melepaskan  'jubah budak'  dan mau mengenakan jubah sebagai  'anak', juga mengubah pola pikir dari status sebagai  'budak'  menjadi seorang  'anak', seperti tertulis:  "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: 'ya Abba, ya Bapa!' Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah."  (Galatia 4:6-7).  Karena itu Tuhan memperingatkan kita untuk tidak lagi menoleh ke belakang  (ayat nas), kembali kepada kehidupan lama.  Selama kita masih dibelenggu oleh masa lalu hidup kita, sulit rasanya untuk kita mencapai Tanah Perjanjian!



February 03, 2019, 05:09:18 AM
Reply #1899
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Sunday, February 3, 2019
MASA LALU... BIARKANLAH BERLALU (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 3 Februari 2019

Baca:  Keluaran 16:1-36

"Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan."  Keluaran 16:3

Sekalipun sudah dibawa keluar dari Mesir, umat Israel tetap saja menoleh ke belakang dan tak berhenti membanding-bandingkan keadaan sewaktu berada di Mesir.  Padahal Tuhan sudah menyediakan suatu kehidupan yang berpengharapan di Kanaan,  "...suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,"  (Keluaran 3:8).  Meski demikian bayang-bayang kehidupan masa lalu di Mesir terus menghantui pikiran mereka dan mental sebagai budak tetap saja melekat, padahal mereka sudah dipilih Tuhan sebagai umat pilihan dan kesayangan-Nya.  Hal itu terlihat di sepanjang perjalanan di padang gurun, mereka tak pernah berhenti mengeluh, bersungut-sungut dan terus-menerus membanding-bandingkan saat hidup di Mesir  (ayat nas).

     Karena terus memberontak dan terbelenggu oleh masa lalunya di Mesir, sebagian besar umat Israel akhirnya gagal mencapai Tanah Perjanjian  (Kanaan), kecuali Yosua dan Kaleb.  Kegagalan mereka mencapai Tanah yang dijanjikan Tuhan itu berkenaan dengan masalah mental atau pola pikir yang belum diperbaharui.  Jangan pernah menganggap remeh apa yang kita pikirkan karena hal itu akan berdampak pada setiap tindakan kita.  Alam pikiran kita acapkali membawa kita pada kenyataan seperti yang kita pikirkan:  baik atau tidak baik keadaannya, berkat atau kutuk.  "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia."  (Amsal 23:7a).

     Tuhan tidak pernah merancangkan kegagalan atau hal-hal yang buruk bagi kehidupan anak-anak-nya, rancangan-Nya selalu baik adanya  (Yeremia 29:11).  Tidak ada rencana dan rancangan Tuhan yang gagal  (Ayub 42:2), namun sikap hati, pola pikir kita sendiri, dan pilihan hidup yang kita pilih yang seringkali menggagalkan rencana Tuhan digenapi di dalam hidup ini.  Mulai dari sekarang lepaskan semua belenggu-belenggu masa lalu!

Di dalam Kristus kita adalah ciptaan baru,  "...yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."  2 Korintus 5:17



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)