Author Topic: Renungan Harian Air Hidup  (Read 179554 times)

0 Members and 4 Guests are viewing this topic.

February 04, 2019, 05:27:39 AM
Reply #1900
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Monday, February 4, 2019
TANTANGAN BESAR, BERKAT BESAR
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 4 Februari 2019

Baca:  Amsal 21:20-31

"Orang bijak dapat memanjat kota pahlawan-pahlawan, dan merobohkan benteng yang mereka percayai."  Amsal 21:22

Orang-orang yang berhasil mewujudkan impian dalam hidup tidaklah meraihnya tanpa hambatan atau rintangan.  Bahkan terkadang perjalanan yang harus ditempuh berliku-liku, penuh cadas dan mendaki.  Tapi yang pasti mereka tidak pernah berhenti untuk berusaha dan berjuang.  Namun kebanyakan orang menunjukkan reaksi yang negatif setiap kali diperhadapkan dengan tekanan dan tantangan yang berat:  mengeluh, kecewa, frustasi dan putus asa.  Mereka tak dapat melihat sedikit pun sisi positif di balik tantangan, dimana justru melalui tekanan atau tantangan sesungguhnya kita sedang dibentuk supaya menjadi pribadi yang kuat dan tangguh di segala keadaaan.  Di balik besarnya tekanan atau tantangan tersimpan kesempatan yang memungkinkan kita menjadi besar!

     Daud, tanpa melewati Goliat  (raksasa dari Filistin), takkan terlihat dan takkan teruji kualitas hidupnya;  dan ketika Daud berhasil mengalahkan raksasa itu sesungguhnya ia sedang menapaki anak tangga baru yang lebih tinggi dalam kehidupannya, sampai akhirnya Tuhan mengangkat dia menjadi raja atas Israel.  Jadi, memiliki impian bukanlah menunggu sampai badai berlalu, melainkan harus berani menghadapi badai seperti burung rajawali.  "Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;"  (1 Samuel 17:48).  Untuk dapat melihat perkara-perkara besar dari Tuhan ada harga yang harus dibayar!  Perlu upaya dan usaha yang keras untuk meraihnya, sebab berkat-berkat Tuhan yang besar tersedia di tempat yang  'dalam'.

     Jika menghadapi tantangan kecil saja kita sudah berkeluh kesah, bagaimana mungkin Tuhan mempercayakan berkat-berkat besar-Nya?  Hanya di laut yang dalam para nelayan akan menangkap ikan-ikan besar.  Tuhan memberi perintah kepada Simon Petrus:  "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."  (Lukas 5:4), dan ketika mereka taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan,  "...mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak."  (Lukas 5:6)."

Mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam."  Mazmur 107:24



February 05, 2019, 05:22:44 AM
Reply #1901
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Tuesday, February 5, 2019
JANGAN MEMANDANG REMEH
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 5 Februari 2019

Baca:  Hakim-Hakim 8:4-21

"Inilah Zebah dan Salmuna yang karenanya kamu telah mencela aku dengan berkata: Sudahkah Zebah dan Salmuna itu ada dalam tanganmu, sehingga kami harus memberikan roti kepada orang-orangmu yang lelah itu?"  Hakim-Hakim 8:15

Menurut sudut pandang atau tolak ukur dunia, orang dapat dikatakan berhasil apabila ia memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan, seperti:  rumah yang megah, mobil, uang atau deposito di bank, berpangkat dan terkenal.  Orang-orang seperti itulah yang kemudian dikagumi, dielu-elukan, dibangga-banggakan dan dikelilingi oleh banyak teman atau sahabat.  Sebaliknya orang yang sederhana dan tidak memiliki apa-apa menurut pandangan sesamanya seringkali dipandang sebelah mata, diabaikan dan diremehkan.  Meski demikian tak perlu kita berkecil hati, sebab Alkitab menyatakan:  "dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah."  (1 Korintus 1:28-29).

     Gideon adalah contoh orang yang dipandang remeh oleh sesamanya.  Ketika mengejar raja Midian dengan menyeberangi sungai Yordan bersama dengan pasukannya yang berjumlah 300 orang, sampailah ia dan pasukannya di Sukot.  Lalu berkatalah Gideon kepada orang Sukot,  "Tolong berikan beberapa roti untuk rakyat yang mengikuti aku ini, sebab mereka telah lelah, dan aku sedang mengejar Zebah dan Salmuna, raja-raja Midian."  (Hakim-Hakim 8:5).  Namun permintaan Gideon itu ditanggapi dengan sinis.  Mereka memandang rendah Gideon, pikirnya:  "Mana mungkin dengan pasukan yang berjumlah 300 orang dapat mengalahkan orang-orang Midian yang berjumlah jauh lebih besar yaitu 15.000 orang?"  Secara matematis atau logika adalah mustahil Gideon dapat mengalahkan dan menangkap raja Midian tersebut.

     Orang-orang Sukot lupa bahwa yang menyertai Gideon adalah Tuhan Israel yang hidup, dimana segala kuasa ada di tangan-Nya.  Meski dipandang sebelah mata dan direndahkan oleh manusia tak membuat Gideon mundur, ia tetap melangkah maju dengan hidup mengandalkan Tuhan.  Di akhir kisah ini dinyatakan bahwa orang-orang Midian bertekuk lutut di tangan pasukan gideon dan mereka pun mendapat malu.

Yang hidup mengandalkan Tuhan takkan pernah dipermalukan!




February 06, 2019, 05:34:50 AM
Reply #1902
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Wednesday, February 6, 2019
BERKAT BAGI ORANG YANG JUJUR (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 6 Februari 2019

Baca:  Amsal 3:27-35

"...orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat."  Amsal 3:32

Penulis Amsal secara tegas menyatakan bahwa Tuhan bergaul erat dengan orang yang jujur.  Jadi salah satu syarat utama untuk dapat memiliki hubungan yang karib atau bergaul karib dengan Tuhan adalah kita harus hidup jujur.  Artinya kita harus menjadi pribadi yang selalu terbuka di hadapan Tuhan, tidak ada yang ditutup-tutupi atau disembunyikan.  Kala kita melakukan pelanggaran atau dosa, kita harus jujur mengakuinya di hadapan Tuhan dan memohon pengampunan;  ketika ada masalah dan pergumulan apa pun, datanglah kepada Tuhan dan sampaikan semua kepada-Nya sehingga hubungan kita dengan Dia tidak menjadi kaku atau sekedar hubungan formalitas, melainkan suatu hubungan yang karib dan intim.

     Berbicara tentang kejujuran berarti berbicara tentang motivasi, niat dan juga kehendak, yang muncul dari dalam hati dan pikiran seseorang, yang kemudian menghasilkan suatu tindakan.  Hidup dalam kejujuran adalah kehidupan yang luar biasa!  Mengapa?  Karena kejujuran adalah sesuatu yang teramat langka dan semakin sulit ditemukan di antara insan manusia yang hidup di zaman seperti sekarang ini.  Sebaliknya, penipuan, kepalsuan, dusta dan kemunafikan sudah menjadi pemandangan yang biasa dan sudah menjadi menu hidup sehari-hari.  Hal ketidakjujuran ini tidak hanya terjadi di dunia bisnis, pekerjaan, perdagangan atau politik saja, tapi juga terjadi dalam kehidupan rumah tangga  (suami tidak jujur terhadap isteri dan sebaliknya), dan bahkan ketidakjujuran sudah merambah dunia pelayanan pekerjaan Tuhan.  Jadi apalah artinya tampak sibuk melayani pekerjaan Tuhan jika kita masih hidup di dalam ketidakjujuran, kebohongan, kepalsuan dan kemunafikan hidup...

     Sebagai orang percaya, apa pun situasi dan keadaannya, kita dituntut untuk tetap hidup dalam kejujuran.  Bagaimana bisa menjadi seorang yang jujur?  Diawali dengan ketulusan hati, seperti tertulis:  "Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya."  (Amsal 11:3).  Artinya orang yang hidup jujur pasti takkan terlepas dari yang namanya ketulusan hati pula.



February 07, 2019, 05:24:04 AM
Reply #1903
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Thursday, February 7, 2019
BERKAT BAGI ORANG YANG JUJUR (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 7 Februari 2019

Baca:  Mazmur 64:1-11

"Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah."  Mazmur 64:11

Orang yang tulus hati adalah orang yang mengasihi Tuhan tanpa syarat, yang melakukan segala sesuatu untuk Tuhan tanpa keluh kesah dan persungutan.  Daud, yang disebut orang yang berkenan di hati Tuhan  (Kisah 13:22b), memiliki kerinduan besar untuk menjadi orang yang jujur dan tulus hati.  "Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau."  (Mazmur 25:21).

     Bagi kebanyakan orang, berlaku jujur di zaman sekarang ini adalah kerugian besar.  Tetapi bagi orang yang takut akan Tuhan kejujuran justru mendatangkan keuntungan besar.  Orang yang hidup dalam kejujuran pasti akan mengalami berkat-berkat Tuhan secara luar biasa.  Sampai kapan pun ia tidak mengenal kata  'rugi atau sia-sia'  dengan berlaku hidup jujur.  Orang yang jujur tidak akan pernah ditinggalkan dan dipermalukan Tuhan, sebaliknya ia akan mendapatkan pembelaan dan berkat dari Tuhan.  Sekalipun seolah-olah perjalanan hidup orang jujur terasa berat, penuh tekanan, dan mungkin dijadikan bahwan tertawaan, ejekan, atau direndahkan, sedangkan orang yang tidak jujur mungkin sementara waktu hidupnya tampak kelihatan mujur dan beruntung, tapi pada saatnya orang yang tak jujur akan mengalami kehancuarkan, sebab ia akan berhadapan dengan Tuhan sendiri, Tuhan akan berperkara atas dirinya.  "Ia membuat mereka tergelincir karena lidah mereka; setiap orang yang melihat mereka menggeleng kepala."  (Mazmur 64:9).

     Sebaliknya ada masa depan yang baik yang Tuhan sediakan bagi orang yang berlaku jujur.  Salah satu berkat luar biasa bagi orang yang jujur adalah doanya pasti dijawab Tuhan.  "...doa orang jujur dikenan-Nya."  (Amsal 15:8).  Jadi Tuhan menyediakan berkat-berkat-Nya bagi orang yang jujur.  Karena itu tak perlu takut berlaku jujur sebab kita punya Tuhan yang tidak pernah tertidur dan terlelap  (Mazmur 121:4-5).  Ingat, orang percaya dipanggil untuk memiliki kehidupan yang tidak serupa dengan dunia!  Ketika orang -orang dunia hidup dalam ketidakjujuran, sanggupkah kita melawan arus?

Saat kita hidup dengan penuh kejujuran, saat itulah kehidupan kita menjadi kesaksian dan berkat bagi orang-orang di sekitar!


February 08, 2019, 05:35:53 AM
Reply #1904
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Friday, February 8, 2019
DUKACITA YANG MENGHASILKAN KEBAHAGIAAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 8 Februari 2019

Baca:  Matius 5:1-12

"Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur."  Matius 5:4

Kapan Saudara merasakan dukacita yang mendalam?  Kita berdukacita ketika ditinggalkan oleh orang yang kita kasihi untuk selamanya  (meninggal), kita berdukacita karena mendengar kabar ada teman, saudara atau keluarga yang tertimpa musibah atau bencana, dan sebagainya.  Arti kata dukacita adalah kesedihan atau kesusahan  (hati).

     Kita semua tahu bahwa yang namanya dukacita tentunya sangat bertolak belakang dengan berbahagia;  dukacita itu lawan kata dari kebahagiaan.  Tapi jika membaca ayat nas di atas pasti akan timbul pertanyaan besar:  dukacita yang bagaimana yang mendatangkan kebahagiaan?  Ketahuilah bahwa ada dukacita yang mendatangkan dosa dan ada juga dukacita yang mendatangkan pemulihan.  Dukacita yang mendatangkan dosa adalah kesedihan atau kemurungan hati yang berlarut-larut, yang pada akhirnya menghasilkan sikap mengasihani diri sendiri dan berujung pada keputusasaan.  Dukacita semacam ini hanya berbuahkan kesia-siaan.  Rasul Paulus berkata,  "...dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian."  (2 Korintus 7:10)  Tetapi, ada dukacita yang justru mendatangkan kebahagiaan yaitu dukacita karena dosa.  Inilah dukacita yang Firman Tuhan maksudkan!  Menyadari ketidakberdayaannya di hadapan Tuhan akibat dosa-dosa yang diperbuat akan menimbulkan rasa dukacita yang mendalam dalam diri seseorang.  Seorang berdosa yang telah dijamah oleh ROH KUDUS tidak akan bersukacita karena dosa-dosa yang telah diperbuatnya, sebaliknya ia akan meratap dan berdukacita yang sedalam-dalamnya karena sadar perbuatannya telah melukai hati Tuhan.

     Inilah dukacita yang menuntun seseorang kepada pertobatan!  Dukacita karena dosa inilah yang mendatangkan pemulihan dan kebahagiaan yang sejati karena dosa-dosanya telah diampuni Tuhan.  Tuhan akan mengubah ratapan itu menjadi tari-tarian karena Dia sudah menanggung segala dosa-dosa kita di atas kayu salib.  'Dukacita'  ini seharusnya ada di dalam hati kita setiap kali kita berbuat dosa dan menyadarinya.  Dukacita ini timbul bukan karena kekuatan diri sendiri melainkan karena pekerjaan ROH KUDUS.  Bila masih ada orang Kristen yang tetap bersukacita atau berbahagia ketika melakukan dosa, berarti mereka masih belum hidup dalam pertobatan yang sungguh.

Berdukacita karena dosa adalah tanda bahwa seorang memiliki kepekaan rohani!



February 09, 2019, 05:31:58 AM
Reply #1905
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Saturday, February 9, 2019
ADA PENYERTAAN TUHAN SAAT KITA TAAT
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 9 Februari 2019

Baca:  2 Raja-Raja 18:1-8

"Maka TUHAN menyertai dia; ke manapun juga ia pergi berperang, ia beruntung. Ia memberontak kepada raja Asyur dan tidak lagi takluk kepadanya."  2 Raja-Raja 18:1-8

Dalam situasi yang berat seperti sekarang ini tak ada jalan selain kita harus nggandol Gusti  (bahasa Jawa)  yang artinya bergantung penuh kepada Tuhan dan taat kepada kehendak-Nya.  Itulah kunci untuk mengalami perlindungan dan penyertaan Tuhan.

     Kita bisa belajar melalui Hizkia, raja Yehuda.  "Ia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem."  (2 Raja-Raja 18:2).  Meski berusia muda Hizkia bukanlah seorang pemimpin sembarangan, ia takut akan Tuhan dan hidup benar seperti bapa leluhurnya  (Daud), terbukti ia  "... menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan."  (2 Raja-Raja 18:4).  Setiap ketaatan dan kesungguhan kita dalam mengikut Tuhan pasti mendatangkan berkat atau upah dari Tuhan, sebaliknya  "...setiap pelanggaran dan ketidaktaatan mendapat balasan yang setimpal,"  (Ibrani 2:2b).  Karena ketaatannya, Hizkia mengalami penyertaan Tuhan.

     Meski demikian bukan berarti perjalanan hidup Hizkia akan luput dari masalah atau pencobaan.  Suatu ketika Hizkia harus menghadapi ujian yang berat,  "Setelah peristiwa yang menunjukkan kesetiaan Hizkia itu datanglah Sanherib, raja Asyur, menyerbu Yehuda. Ia mengepung kota-kota berkubu, dan berniat merebutnya."  (2 Tawarikah 32:1).  Tuhan mengijinkan hal itu terjadi supaya Hizkia dan seluruh rakyat Yehuda memiliki pengalaman iman bersama Tuhan;  dan ketika mereka  "...berpaut kepada TUHAN, tidak menyimpang dari pada mengikuti Dia dan ia berpegang pada perintah-perintah TUHAN yang telah diperintahkan-Nya kepada Musa."  (2 Raja-Raja 18:6), maka apa saja yang mereka perbuat Tuhan jadikan berhasil.  Hari-hari ke depan, tantangan yang kita hadapi tidaklah semakin mudah, namun tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi lemah.

Kita akan dijaga dan dipelihara Tuhan seperti biji mata-Nya sendiri asalkan kita tetap hidup dalam ketaatan penuh!





February 10, 2019, 05:15:39 AM
Reply #1906
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Sunday, February 10, 2019
TIDAK TAAT: Menjadi Orang Buangan
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 10 Februari 2019

Baca:  1 Tawarikh 9:1-34

"...orang Yehuda telah diangkut ke dalam pembuangan ke Babel oleh karena perbuatan mereka yang tidak setia."  1 Tawarikh 9:1

Bangsa Israel adalah bangsa yang paling beruntung di antara bangsa-bangsa lain, karena statusnya adalah bangsa pilihan Tuhan dan menjadi umat yang dikasihi-Nya sedemikian rupa.  Begitu luar biasanya Tuhan menuntun dan membela umat-Nya ini sehingga setiap kali mereka berperang melawan musuh, kemenangan selalu menjadi milik bangsa Israel, karena Tuhan selalu menyertai dan ada di pihak mereka.

     Namun di ayat nas tampak masa-masa kejayaan bangsa Israel hilang lenyap.  Kemegahan, kebesaran dan kejayaan di masa-masa Salomo hilang tak berbekas, tinggal puing-puing kehancuran, padahal pada waktu itu semua bangsa begitu mengagumi dan menghormatinya.  Mereka tak berdaya dan takluk di tangan orang-orang Babel.  Kerajaan Israel hancur dan semua penduduknya diangkut keluar dari Israel ke dalam pembuangan di Babel alias menjadi tawanan.  Saat itu orang-orang Israel menyandang status baru yaitu sebagai orang-orang buangan.  Tragis sekali!  Apakah kasih Tuhan sudah berubah?  Apakah mata Tuhan tidak melihat penderitaan yang mereka alami?  Bukankah Tuhan pernah berkata kepada Musa,  "Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan Aku telah mendengar seruan mereka yang disebabkan oleh pengerah-pengerah mereka, ya, Aku mengetahui penderitaan mereka."  (Keluaran 3:7).

     Firman Tuhan secara jelas menyatakan bahwa  "orang Yehuda telah diangkut ke dalam pembuangan ke Babel oleh karena perbuatan mereka yang tidak setia."  (ayat nas).  Bangsa Israel mengalami kegagalan dan dipermalukan oleh bangsa lain oleh karena mereka berlaku tidak setia kepada Tuhan.  Mereka tidak lagi mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati, bahkan hati mereka telah berpaut kepada ilah-ilah lain.  Sesungguhnya Tuhan telah berlaku sabar terhadap mereka, tapi kesabaran Tuhan justru disalahgunakan.  Teguran dan peringatan Tuhan tak pernah dihiraukannya!  Karena ketidaksetiaannya inilah akhirnya Tuhan mengijinkan hal-hal buruk menimpa mereka sebagai bentuk hajaran.  Mereka pun dengan mudah dikalahkan dan ditawan oleh Babel.

Tak ingin mengalami hal-hal yang buruk?  Perhatikan setiap teguran Tuhan dan taatlah!




February 11, 2019, 05:36:57 AM
Reply #1907
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Monday, February 11, 2019
BERJUANGLAH AGAR TIDAK TERTINGGAL
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 11 Februari 2019

Baca:  Yoel 3:9-21

"Maklumkanlah hal ini di antara bangsa-bangsa: bersiaplah untuk peperangan, gerakkanlah para pahlawan; suruhlah semua prajurit tampil dan maju!"  Yoel 3:9

Waktu kini bergulir sangat cepat!  Sadar atau tidak, sesungguhnya kita sedang berada dalam hitungan mundur menuju kepada hari kedatangan Tuhan yang mendekat.  Posisi kita ini layaknya seorang pelari yang sedang berlari di lintasan dan berada di putaran terakhir, tinggal selangkah lagi kita akan mencapai garis finis.  Tidak ada waktu untuk kita berleha-leha, melainkan kita harus berlari sedemikian rupa supaya tidak tertinggal.

     Oleh karena itu  "...marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita."  (Ibrani 12:1).  'Beban yang merintangi'  ini berbicara tentang zona nyaman, masalah, penderitaan, kemalasan, segala keinginan daging, dan semua perkara yang menghalangi kita untuk berbuat maksimal bagi Tuhan.  Seringkali karena hal-hal tersebut banyak orang percaya menunda-nunda waktu dan menangguhkan panggilan Tuhan dalam hidupnya.  Kita menyerah kalah pada situasi atau keadaan, tak mau membayar harga.  kita lebih memilih untuk berhenti dari perlombaan iman.  Hai prajurit-prajurit Kristus, inilah saatnya, dan  "...bersiaplah untuk peperangan, gerakkanlah para pahlawan; suruhlah semua prajurit tampil dan maju!"  (ayat nas).  Di akhir zaman ini Tuhan sedang mencari prajurit-prajurit sorgawi yang bermental pahlawan, bukan prajurit manja yang menyerah kalah sebelum berperang.  "Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya."  (2 Timotius 2:4).

     Mau kerjakan panggilan Tuhan dengan kasih dan kerelaan hati, tangkaplah kairos  (waktu perkenanan)  Tuhan ini!  "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan."  (Roma 12:11), karena pada saatnya kita harus mempertanggungjawabkan segala sesuatunya kepada Tuhan.  "Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut."  (Lukas 12:48b).

"Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."  Matius 20:16



February 12, 2019, 06:00:16 AM
Reply #1908
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Tuesday, February 12, 2019
PENYEMBAHAN KEPADA TUHAN YANG BENAR
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 12 Februari 2019

Baca:  Imamat 26:1-13

"Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN,..."  Imamat 26:1

Yang harus menjadi sasaran dan pusat penyembahan orang percaya adalah Tuhan yang benar dan hidup, bukanlah berhala-berhala dalam rupa patung, tugu, atau batu ukir-ukiran.  Ironisnya masih ada orang-orang yang tidak menjadikan Tuhan sebagai pusat penyembahan mereka, melainkan mereka menjadikan patung, tugu, atau batu ukiran sebagai pusat sesembahan.  Penyembahan kepada apa pun dan siapa pun, selain kepada Tuhan yang benar dan hidup, adalah penyembahan berhala.  Tentang hal ini pemazmur menyatakan,  "Berhala bangsa-bangsa adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, juga nafas tidak ada dalam mulut mereka. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, semua orang yang percaya kepadanya."  (Mazmur 135:15-18).

     Penyembahan terhadap ilah-ilah lain merupakan kekejian di mata Tuhan!  Oleh sebab itu rasul Paulus memperingatkan,  "...saudara-saudaraku yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala!"  (1 Korintus 10:14).  Sebagai orang percaya yang memiliki Tuhan yang hidup dan benar, seharusnya kita tidak menyembah Dia dengan asal-asalan atau sembarangan, sebatas ritual keagamaan semata.  Penyembahan kepada Tuhan menyangkut sikap hati dan juga ketaatan kita dalam melakukan kehendak-Nya.  Tanpa sikap hati yang benar dan ketaatan, penyembahan kita tak ada arti apa-apa di hadapan Tuhan, dan itu hanya akan membangkitkan murka Tuhan.

     Penyembahan kepada Tuhan sesungguhnya berbicara tentang gaya hidup kudus.  Ini adalah bentuk penyembahan yang berkenan kepada Tuhan dan mendatangkan berkat.  "Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya. Kamu akan makan makananmu sampai kenyang dan diam di negerimu dengan aman tenteram."  (Imamat 26:4-5).

Inti dari penyembahan kepada Tuhan yang hidup dan benar adalah ketaatan kita!  Penyembahan yang demikian pasti mendatangkan berkat Tuhan!



February 13, 2019, 05:35:19 AM
Reply #1909
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2019/

Wednesday, February 13, 2019
KERINDUAN TUHAN: Umat-Nya Hidup Rukun
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 13 Februari 2019

Baca:  Roma 15:1-13

"Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus,"  Roma 15:5

Dalam kehidupan bermasyarakat setiap orang harus hidup rukun satu sama lain.  Itulah sebabnya di setiap lingkungan di mana kita tinggal dibentuklah RT  (rukun tetangga)  dan RW  (rukun warga).  RT dan RW adalah satu bentuk organisasi masyarakat yang dibuat berdasarkan pembagian wilayah.  Tujuan dibentuknya RT dan RW adalah untuk menumbuhkan kerukunan antarwarga dalam lingkup kecil.  Mengapa kerukunan itu penting?  Sebab bila setiap warga memiliki hubungan yang dekat, saling bekerjasama dan saling tolong-menolong, terciptalah rasa tenang dan tenteram.  Dalam sila ke-3 Pancasila butir ke-6 juga ditegaskan tentang pentingnya sikap mengembangkan persatuan atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.  Ini berbicara tentang kerukunan hidup antarwarga, sekalipun kita memiliki latar belakang yang berbeda:  ras, suku, agama dan sebagainya.

     Tuhan pun tidak menghendaki orang percaya hidup dalam perpecahan dan perselisihan satu sama lain karena kita semua adalah satu dalam keluarga di dalam Kristus, warga Kerajaan Sorga  (Filipi 3:20).  Karena itu kita harus menjaga kerukunan hidup antarumat Tuhan.  Hal ini juga yang menjadi pokok doa Kristus kepada Bapa:  "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita,"  (Yohanes 17:21).  Alkitab secara jelas menyatakan bahwa kerukunan di antara jemaat Tuhan adalah sesuatu yang baik, indah, memiliki nilai istimewa di pemandangan mata Tuhan;  sesuatu yang dapat menggetarkan hati Tuhan untuk bertindak menolong dan memberikan apa yang umat-Nya perlukan.  "Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.  (Matius 18:19).

     Pemazmur mengungkapkan,  "Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!"  (Mazmur 133:1).  Di mana jemaat Tuhan hidup dalam kerukunan dan kesatuan hati, maka  "...ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya."  (Mazmur 133:3b).

Permusuhan, pertengkaran, pertikaian, kebencian dan sakit hati di antara jemaat Tuhan hanya akan menghambat berkat-berkat Tuhan dicurahkan!



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)