Author Topic: Renungan Harian Air Hidup  (Read 217084 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

March 15, 2020, 04:24:55 PM
Reply #2310
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/03/maksud-tuhan-di-balik-penderitaan.html

Sunday, March 15, 2020
MAKSUD TUHAN DI BALIK PENDERITAAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 15 Maret 2020

Baca:  1 Petrus 2:18-25

"Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung."  1 Petrus 2:19

Ada penderitaan sebagai akibat dari kesalahan atau dosa, ada penderitaan karena serangan dari Iblis, ada pula penderitaan yang dialami justru karena hidup dalam kebenaran.  Alkitab menyatakan jika kita berbuat baik dan karena itu kita harus menderita, maka itu adalah kasih karunia  (ayat nas),  "Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya."  (1 Petrus 2:21).  Tidak selamanya kebenaran mendatangkan berkat.  Terkadang kita sudah hidup dalam kebenaran, namun yang kita alami justru adalah tekanan dan penderitaan seperti yang dirasakan pemazmur:  "Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi."  (Mazmur 73:13-14).

     Yeremia, seorang hamba Tuhan yang diutus untuk menyampaikan nubuatan dari Tuhan, justru mendapatkan perlakuan yang tak manusiawi:  "Pasyhur bin Imer, imam yang pada waktu itu menjabat kepala di rumah TUHAN, mendengar Yeremia menubuatkan perkataan-perkataan itu. Lalu Pasyhur memukul nabi Yeremia dan memasungkan dia di pintu gerbang Benyamin yang ada di atas rumah TUHAN."  (Yeremia 20:1-2).  Mengapa Tuhan mengijinkan hal itu terjadi?  Karena Tuhan mau memproses dan memurnikan Yeremia, sama seperti logam emas ketika dimurnikan, ia harus melewati ujian api.  Alkitab menyatakan bahwa Tuhan adalah api yang menghanguskan  (Ulangan 4:24).  Yeremia diijinkan Tuhan melewati proses dengan suatu maksud yaitu supaya ia memiliki hati yang murni  (motivasi)  dalam melayani pekerjaan-Nya, serta punya keberanian untuk menyuarakan kebenaran, menyerukan pertobatan, bukan berkhotbah hanya untuk sekedar menyenangkan telinga orang.

     Tuhan ijinkan orang benar mengalami penderitaan karena Ia hendak menuntun kita kepada pengalaman mujizat.  Tuhan tidak mau kita hanya mendengar dari kata orang bahwa Ialah sumber mujizat, tetapi Ia mau kita juga mengalami mujizat-Nya sehingga hidup kita menjadi berkat dan kesaksian bagi orang lain.

Di balik penderitaan yang dialami orang benar, Tuhan punya rencana besar!



March 16, 2020, 06:22:07 AM
Reply #2311
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/03/tanah-liat-di-tangan-sang-penjunan-1.html

Monday, March 16, 2020
TANAH LIAT DI TANGAN SANG PENJUNAN (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Maret 2020

Baca:  Yeremia 18:1-17

"Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah Firman Tuhan. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku,"  Yeremia 18:6

Perjalanan hidup kita ini tak ubahnya seperti tanah liat di tangan penjunan.  Kita adalah tanah liat dan Tuhan adalah Sang Penjunan.  Tapi banyak orang tak menyadari bahwa dirinya adalah tanah liat sehingga mereka seringkali memaksakan kehendaknya kepada Tuhan;  kita suka mengatur Tuhan untuk mengikuti kemauan kita;  kita tak mau tunduk kepada kehendak Tuhan.  "Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: 'Apakah yang kaubuat?' atau yang telah dibuatnya: 'Engkau tidak punya tangan!'"  (Yesaya 45:9).  Karena itu Tuhan menyuruh Yeremia untuk pergi ke rumah tukang periuk supaya ia dapat belajar dari apa yang diperbuat oleh tukang periuk supaya ia dapat belajar dari apa yang diperbuat oleh tukang periuk atas tanah liat.

     Mengapa Tuhan menggambarkan manusia sebagai tanah liat?  Berbicara tentang tanah liat, Tuhan hendak menegaskan kepada kita bahwa sesungguhnya kita ini lemah adanya, tak punya kekuatan apa-apa.  Di luar Tuhan  (tanpa Tuhan turut campur tangan), kita tak mampu berbuat apa-apa.  Berbicara tentang tanah liat, Tuhan juga mau mengingatkan bahwa kita ini tak punya arti apa-apa, tidak ada harganya, dan kotor.  Tanah itu hanya bisa diinjak-injak oleh banyak orang dan akhirnya menjadi rusak...  namun ketika tanah itu berada dalam genggaman tangan si penjunan, maka tanah akan dibentuk sedemikian rupa menurut apa yang baik pada pemandangannya, sampai akhirnya tanah yang sebelumnya tidak berharga sama sekali menjadi sesuatu yang berharga, yang tidak berarti menjadi sesuatu yang sangat berarti.  "Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,"  (Mazmur 113:7).

     Untuk menjadi bejana yang berharga ada harga yang harus dibayar, ada proses yang harus kita jalani.  Proses memang menyakitkan secara daging dan banyak orang tidak tahan, dan gagal di tengah jalan, seperti bangsa Israel.  Karena itu milikilah penyerahan penuh kepada Tuhan, dan jangan sekali-kali kita memberontak kepada-Nya.  Sebab semakin kita memberontak, semakin panjang proses yang harus kita lewati.

Sebagai Penjunan Tuhan tahu yang terbaik untuk kita!  Karena itu tetaplah taat.



March 16, 2020, 06:34:51 AM
Reply #2312
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16


http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/03/tanah-liat-di-tangan-sang-penjunan-1.html

Monday, March 16, 2020
TANAH LIAT DI TANGAN SANG PENJUNAN (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 16 Maret 2020

Baca:  Yeremia 18:1-17

"Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah Firman Tuhan. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku,"  Yeremia 18:6

Perjalanan hidup kita ini tak ubahnya seperti tanah liat di tangan penjunan.  Kita adalah tanah liat dan Tuhan adalah Sang Penjunan.  Tapi banyak orang tak menyadari bahwa dirinya adalah tanah liat sehingga mereka seringkali memaksakan kehendaknya kepada Tuhan;  kita suka mengatur Tuhan untuk mengikuti kemauan kita;  kita tak mau tunduk kepada kehendak Tuhan.  "Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: 'Apakah yang kaubuat?' atau yang telah dibuatnya: 'Engkau tidak punya tangan!'"  (Yesaya 45:9).  Karena itu Tuhan menyuruh Yeremia untuk pergi ke rumah tukang periuk supaya ia dapat belajar dari apa yang diperbuat oleh tukang periuk supaya ia dapat belajar dari apa yang diperbuat oleh tukang periuk atas tanah liat.

     Mengapa Tuhan menggambarkan manusia sebagai tanah liat?  Berbicara tentang tanah liat, Tuhan hendak menegaskan kepada kita bahwa sesungguhnya kita ini lemah adanya, tak punya kekuatan apa-apa.  Di luar Tuhan  (tanpa Tuhan turut campur tangan), kita tak mampu berbuat apa-apa.  Berbicara tentang tanah liat, Tuhan juga mau mengingatkan bahwa kita ini tak punya arti apa-apa, tidak ada harganya, dan kotor.  Tanah itu hanya bisa diinjak-injak oleh banyak orang dan akhirnya menjadi rusak...  namun ketika tanah itu berada dalam genggaman tangan si penjunan, maka tanah akan dibentuk sedemikian rupa menurut apa yang baik pada pemandangannya, sampai akhirnya tanah yang sebelumnya tidak berharga sama sekali menjadi sesuatu yang berharga, yang tidak berarti menjadi sesuatu yang sangat berarti.  "Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,"  (Mazmur 113:7).

     Untuk menjadi bejana yang berharga ada harga yang harus dibayar, ada proses yang harus kita jalani.  Proses memang menyakitkan secara daging dan banyak orang tidak tahan, dan gagal di tengah jalan, seperti bangsa Israel.  Karena itu milikilah penyerahan penuh kepada Tuhan, dan jangan sekali-kali kita memberontak kepada-Nya.  Sebab semakin kita memberontak, semakin panjang proses yang harus kita lewati.

Sebagai Penjunan Tuhan tahu yang terbaik untuk kita!  Karena itu tetaplah taat.



March 17, 2020, 06:27:12 AM
Reply #2313
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/03/tanah-liat-di-tangan-sang-penjunan-2.html

Tuesday, March 17, 2020
TANAH LIAT DI TANGAN SANG PENJUNAN (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 17 Maret 2020

Baca:  2 Korintus 4:1-15

"Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami."  2 Korintus 4:7

Rasul Paulus adalah contoh orang yang mengalami proses pembentukan dari Tuhan:  "Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku."  (1 Korintus 15:9-10).  Dalam hal ini rasul Paulus hendak menegaskan bahwa kalau pun hidupnya dapat berharga, menjadi sesuatu yang berarti, itu karena kasih karunia Tuhan semata.  Ia sadar bahwa sesungguhnya ia tak lebih dari tanah liat yang hina dan tak berharga, tapi Tuhan sanggup membentuknya menjadi sebuah bejana yang berharga di mata-Nya.  Karena campur tangan Tuhan hidup Paulus diangkat dan dipakai untuk menjadi alat kemuliaan-Nya.

     Untuk menjadi bejana dan perabot untuk tujuan yang mulia kita harus rela dan mau dibentuk oleh Tuhan, sebab tanah liat tidak secara otomatis berubah menjadi bejana yang halus dan menarik tanpa melewati proses terlebih dahulu, sebab di dalam Tuhan tidak ada yang instan...  Bisa saja tukang periuk membuat bejana itu secara cepat atau instan, tapi hasilnya?  Tidak bisa dijamin kualitasnya, mungkin saja bejana tersebut tidak bisa bertahan lama, retak dan mudah pecah.  Bangsa Israel harus mengalami proses pembentukan Tuhan di padang gurun 40 tahun lamanya karena mereka suka memberontak, bersungut-sungut, mengeluh dan hidup dalam ketidaktaatan.

     Berbicara tentang proses berarti ada waktu yang dibutuhkan!  Ketika dibentuk Tuhan kadangkala waktunya tidak sebentar.  Ini bukan bicara tentang menit atau jam, hari atau bulan, kadangkala membutuhkan waktu tahunan.  Waktu masuk dalam prosesnya Tuhan, kita inginnya dipercepat.  Ingat, lamanya proses tergantung bagaimana kondisi tanah liat dan tergantung apa yang mau dibentuk.

Bila kita sedang menghadapi proses pembentukan yang membutuhkan waktu lama, itu artinya Tuhan sedang membentuk kita untuk bejana indah di pemandangan mata-Nya!



March 18, 2020, 06:24:19 AM
Reply #2314
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/03/tuhan-sanggup-menyediakan.html

Wednesday, March 18, 2020
TUHAN SANGGUP MENYEDIAKAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 18 Maret 2020

Baca:  1 Raja-Raja 3:1-15

"Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja."  1 Raja-Raja 3:13

Ada berbagai macam tujuan dan motivasi orang mengikut Kristus.  Sebagai orang percaya kita mengikut Kristus karena kita telah diselamatkan dan dilepaskan dari kutuk dosa.  Tetapi ada sebagian besar orang mengikut Kristus karena motivasi yang salah, yaitu ingin menjadi kaya atau memperoleh kekayaan  (materi).  Ketika banyak orang berbondong-bondong mengikuti kemana Kristus pergi, berkatalah Ia,  "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang."  (Yohanes 6:26).

     Roti berbicara tentang materi  (berkat jasmani).  Ketika orang hanya menginginkan berkat dari Tuhan, doa-doanya hanya berfokus pada kebutuhan jasmaninya atau keinginan dagingnya.  Tuhan tak pernah mengajar kita demikian.  Ia mengajarkan kita mengarahkan pandangan kepada pribadi-Nya, mencari wajah-Nya, dan tak perlu kuatir tentang apa pun kebutuhan kita:  "Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu."  (Matius 6:32).  Jika kita mencari Kerajaan Sorga dan kebenaran-Nya terlebih dahulu Tuhan pasti akan mengalami berbagai kesulitan.  "...mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan."  (1 Timotius 6:9).

     Salomo tak minta berkat materi, namun hikmat, tetapi Tuhan memberi lebih:  "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,"  (Efesus 3:20).  Asal setia, taat kepada-Nya,  "...Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu."  (Keluaran 23:25).

Milikilah motivasi yang benar dalam mengikut Tuhan dan taat kepada-Nya, berkat-Nya pasti disediakan!



March 19, 2020, 05:59:06 AM
Reply #2315
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/03/bangsa-israel-sebagai-pembelajaran.html

Thursday, March 19, 2020
BANGSA ISRAEL: SEBAGAI PEMBELAJARAN
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 19 Maret 2020

Baca:  Mazmur 78:1-31

"dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah."  Mazmur 78:8

Selama menempuh perjalanan di padang gurun bangsa Israel selalu menunjukkan kedegilan dan pemberontakannya kepada Tuhan, padahal di sepanjang perjalanan tersebut Tuhan telah menunjukkan kebesaran dan kedahsyatan kuasa-Nya melalui mujizat-mujizat yang Ia kerjakan.  Karena pemberontakannya, sebagian besar dari mereka mati di padang gurun sebelum mencapai Tanah Perjanjian.  Pemazmur menuliskan hal ini sebagai pembelajaran berharga bagi orang percaya agar bisa mengambil sisi positifnya.

     Bangsa Israel gagal karena tidak taat melakukan perintah Tuhan.  Mereka mendekat kepada Tuhan dan berseru kepada-Nya hanya saat perlu.  Begitu keadaan sudah membaik dan pulih, mereka kembali hidup dalam pemberontakan.  Tindakan mereka seperti suatu siklus, sampai-sampai Tuhan menyebut mereka  "...suatu bangsa yang tegar tengkuk."  (Keluaran 32:9).  Tegar tengkuk bisa diartikan:  keras kepala, sulit ditangani atau diajak bekerja sama, suka memberontak, menolak untuk patuh dan tidak dapat diatur.  Pemberontakan dan ketidaktaatan inilah yang menjadi akar kegagalan mereka.  Andaikan mereka mau taat, mereka pasti tidak akan mati di padang gurun.  Jadi, ketaatan atau ketidaktaatan selalu membawa dampak.  Ketaatan membuka pintu kesempatan bagi seseorang untuk mengalami dan menikmati janji-janji Tuhan.  Sebaliknya, ketidaktaatan semakin menuutup pintu berkat, tapi membuka pintu gerbang kehancuran.

     Contoh lain adalah kegagalan Saul.  Ia yang telah dipercaya Tuhan untuk menjadi pemimpin atas Israel justru tidak memberikan teladan hidup yang baik.  Karena ketidaktaatannya Saul harus menuai akibatnya juga.  Berkatalah Samuel kepada Saul,  "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim. Karena engkau telah menolak Firman Tuhan, maka Ia telah menolak engkau sebagai raja."  (1 Samuel 15:22-23).

Tak ingin gagal dan hancur?  Jadilah orang-orang yang taat kepada Tuhan.




March 20, 2020, 06:01:07 AM
Reply #2316
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/03/gagal-karena-respons-hati-negatif-1.html

Friday, March 20, 2020
GAGAL KARENA RESPONS HATI NEGATIF (1)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 20 Maret 2020

Baca:  Ulangan 1:1-8

"Majulah, berangkatlah, pergilah ke pegunungan orang Amori dan kepada semua tetangga mereka di Araba-Yordan, di Pegunungan, di Daerah Bukit, di Tanah Negeb dan di tepi pantai laut, yakni negeri orang Kanaan, dan ke gunung Libanon sampai Efrat, sungai besar itu."  Ulangan 1:7

Bangsa Israel harus terlebih dahulu menggembara dan berputar-putar di padang gurun selama empat puluh tahun lamanya sebelum mencapai Tanah Perjanjian.  Selama itukah seharusnya perjalanan yang ditempuh dari Mesir untuk menuju Kanaan?  Alkitab menyatakan,  "Sebelas hari perjalanan jauhnya dari Horeb sampai Kadesh-Barnea, melalui jalan pegunungan Seir."  (Ulangan 1:2).  Untuk mencapai Kanaan, normalnya, mereka hanya butuh waktu sebelas hari perjalanan, namun bangsa Israel harus menempuhnya selama empat puluh tahun.  Apakah karena medan yang harus ditempuh teramat sulit?  Apakah tantangan yang harus dihadapi terlalu besar?

     Tuhan mengijinkan bangsa Israel harus mengalami proses panjang selama 40 tahun karena respons hati yang negatif, yaitu selalu membesar-besarkan masalah atau kesulitan yang dialami.  Respons hati yang negatif adalah tanda ketidakpercayaan, lawan dari iman.  Janji Tuhan yang seharusnya dapat segera mereka nikmati menjadi tertunda begitu lama;  kemenangan di depan mata tidak dapat diraih dan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk meraihnya.  Bahkan sebagian besar dari generasi yang dipanggil keluar dari Mesir tidak pernah mencapai Tanah Perjanjian karena mereka mati di padang gurun.  Sesungguhnya Tuhan telah memanggil mereka keluar dari perbudakan di Mesir untuk pergi ke suatu negeri yang telah dijanjikan-Nya.  "Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka keluar dari negeri itu ke suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya,"  (Keluaran 3:8).  Sayang, bangsa Israel tidak memiliki respons hati yang benar.

     Hati dan pikiran mereka dikendalikan oleh situasi yang terlihat secara kasat mata.  Akibatnya?  Mereka mudah sekali mengerutu, mengomel, bersungut-sungut terhadap apa yang dialami.  Pengalaman masa lalu yang menyakitkan di Mesir telah membentuk pola pikir mereka, sehingga mereka berpikir bahwa hidup mereka tidak mungkin menjadi baik.  Semakin kita dikendalikan situasi, semakin kita meragukan kuasa Tuhan!




March 20, 2020, 02:25:39 PM
Reply #2317
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 2757
  • Gender: Male
    • Tertiga
  • Denominasi: Kristen
Tuhan mengijinkan (mendisiplikan) bangsa Israel harus mengalami proses panjang selama 40 tahun
karena respons hati yg negatif, yaitu selalu mem-besar2 masalah atau kesulitan yg dialami.
Respons hati yang negatif adalah tanda ketidakpercayaan, lawan dari iman.
Aku senang membaca "Renungan Harian Air Hidup"
Ini dpt memahamkan aku ttg Roh pd Kejadian 1:2
Bw "Roh Allah me-layang2 di atas permukaan air"

Mungkin Dia sedang memberi energi pd tiap materi
Atau mengaktivasi segala apa yg baru tercipta
Agar mudah kemudian nanatinya dijadikan

Dan kurasa Roh Allah tidak akan berhenti me-layang2
Menyertai bangsa-Nya dr Mesir, di padang pasir ke Kanaan
Pun kini mengajari dan menuntun kita kpd seluruh kebenaran

Salam Damai Bro!
« Last Edit: March 26, 2020, 01:26:49 AM by Maren Kitatau »
Firman itu hidup dan powerful dan lebih tajam dr pedang bermata dua manapun
Ia dpt menikam pun menyayat memisahkan jiwa dan roh, sendi2 dan sumsum
Ia sanggup membedakan akal pikir dan maksud hati yang sesungguhnya
March 21, 2020, 06:16:18 AM
Reply #2318
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/03/gagal-karena-respons-hati-negatif-2.html

Saturday, March 21, 2020
GAGAL KARENA RESPONS HATI NEGATIF (2)
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 21 Maret 2020

Baca:  Kolose 3:1-4

"Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi."  Kolose 3:2

Bangsa Israel selalu menyikapi setiap kejadian atau peristiwa yang dialami dengan respons yang negatif, sehingga yang keluar dari mulutnya pun hanya hal-hal yang negatif.  Tak ada ucapan syukur!  Menghadapi masalah atau kesukaran sedikit saja iman mereka langsung terjun bebas dan putus asa.  Bukan hanya itu, mereka terus saja mengingat-ingat dan membanding-bandingkan kehidupan saat di Mesir, yang dianggapnya lebih enak, daripada harus menggembara di padang gurun.  "Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: "Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini! Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?"  (Bilangan 14:2-3).

     Dari apa yang mereka ucapkan jelas sekali menunjukkan ketidakpercayaan mereka kepada Tuhan.  Mujizat dan perkara-perkara besar yang Tuhan nyatakan atas mereka di padang gurun ternyata belum juga cukup membuka mata rohani mereka.  Respons hati yang negatif menghalangi mereka sendiri untuk mengalami penggenapan janji Tuhan.  Bukankah sikap hati yang dimiliki bangsa Israel ini tidak jauh berbeda dengan sikap kebanyakan orang Kristen?  Kita mudah sekali melupakan kebaikan dan pertolongan Tuhan dalam hidup kita, sehingga mengalami masalah sedikit saja tak ada pujian dan ucapan syukur keluar dari mulut kita.  Pemazmur menasihati,  "Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!"  (Mazmur 103:2).  "Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya..."  (Mazmur 105:5).

     Seburuk apa pun keadaannya, sesulit apa pun perjalanan yang kita tempuh, bila kita memiliki respons hati yang benar kita akan mampu bertahan, sebab kita percaya bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala perkara  (Roma 8:28).  Rasul Paulus juga menasihati,  "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."  (Filipi 4:8).

Masalah seharusnya membuat kita makin mengaktifkan iman dan hidup mengandalkan Tuhan, bukan malah bersungut-sungut dan menyalahkan Tuhan!




March 22, 2020, 05:48:47 AM
Reply #2319
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 25760
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/

http://airhidupblog.blogspot.com/2020/03/tuhan-tahu-kita-hanyalah-debu.html

Sunday, March 22, 2020
TUHAN TAHU KITA HANYALAH DEBU
Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 22 Maret 2020

Baca:  Mazmur 103:1-22

"Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu."  Mazmur 103:14

Melalui kehidupan kita sehari-hari kita dapat merasakan betapa besar kasih dan kemurahan Tuhan kepada kita.  Sekalipun kita sering mengecewakan Tuhan melalui ketidaktaatan dan pemberontakan kita, tetapi kasih setia Tuhan kepada kita tidak pernah berubah, Ia tetap menyayangi kita.  "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia."  (Mazmur 103:13).

     Tuhan sangat menyadari kelemahan kita, karena Dia ingat bahwa kita ini debu  (ayat nas).  Sekalipun Tuhan tahu kelemahan kita, bukan berarti Ia akan membiarkan kita hidup dengan sembarangan, hidup seenaknya sendiri dan terus jatuh di dalam dosa.  Seringkali kita membuat dalil bahwa sebagai manusia adalah wajar bila melakukan kesalahan atau berbuat khilaf.  Bukan karena Tuhan mengerti bahwa kita ini lemah lalu Dia akan berkompromi dengan dosa-dosa yang kita perbuat.  Tuhan tahu bahwa hari-hari kita di dunia sangatlah singkat, karena itu Ia menghendaki agar kita menggunakan waktu dengan sebaik mungkin dan terus berjuang mengerjakan keselamatan yang telah kita terima dengan hati yang takut dan gentar.  "Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat,"  (Mazmur 103:3-4).

     Karena Tuhan tahu kita lemah maka Ia takkan melepaskan tangan-Nya untuk menolong kita dan  "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya."  (Yesaya 40:29).  Melalui ROH KUDUS sebagai Parakletos, yang artinya penolong atau pembela, Tuhan akan menolong, membimbing, dan menuntun kita kepada seluruh kebenaran-Nya.  Tujuannya adalah supaya kita tidak mengalami kebinasaan.  Bangsa Israel seringkali jatuh dalam dosa pemberontakan, namun Tuhan tetap sabar terhadap mereka.  "Makin Kupanggil mereka, makin pergi mereka itu dari hadapan-Ku; mereka mempersembahkan korban kepada para Baal, dan membakar korban kepada patung-patung. Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka Aku seperti orang yang mengangkat kuk dari tulang rahang mereka; Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan."  (Hosea 11:2, 4).

Dalam kelemahanlah kuasa Tuhan semakin sempurna dinyatakan atas kita!




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)