Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 110562 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

October 07, 2018, 04:54:08 AM
Reply #2030
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19604
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Sambutan yang Hangat
  07/10/2018 
Sambutan yang Hangat
Baca: Ibrani 13:1-3 | Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 28–29 ; Filipi 3


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-10-07.mp3

Marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. —Galatia 6:10

Dalam liburan kami baru-baru ini, saya dan istri mengunjungi sebuah kompleks olahraga yang terkenal. Pintu gerbangnya terbuka lebar, sehingga kami merasa tidak masalah masuk ke dalamnya. Kami sangat senang menyusuri lapangan dan mengagumi rumput lapangan yang terawat dengan baik. Namun, saat kami mau meninggalkan tempat itu, seseorang menegur kami dan mengatakan bahwa kami tidak seharusnya berada di tempat itu. Tiba-tiba saja kami diingatkan bahwa kami adalah orang luar—dan kami merasa tertolak.

Dalam liburan itu, kami juga beribadah di sebuah gereja. Pintunya juga terbuka dan kami pun masuk. Alangkah bedanya perlakuan yang kami terima! Banyak orang menyambut kami dengan hangat dan membuat kami betah. Kami meninggalkan gereja tersebut dengan perasaan disambut dan diterima.
Ketika kita menunjukkan keramahtamahan kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang membagikan kebaikan Allah.

Sayangnya tidak jarang orang luar yang datang ke sebuah gereja menangkap pesan yang memang tak terucapkan, tetapi jelas dirasakan, yakni, “Anda tak seharusnya berada di sini.” Namun, Kitab Suci memanggil kita untuk menunjukkan keramahtamahan kepada semua orang. Yesus berkata bahwa kita harus mengasihi sesama seperti diri kita sendiri, yang berarti menyambut mereka dalam hidup dan gereja kita (Mat. 22:39). Dalam kitab Ibrani, kita diingatkan untuk “memberi tumpangan kepada orang” (Ibr. 13:2). Lukas dan Paulus menginstruksikan kita untuk aktif mengasihi sesama yang mempunyai kebutuhan fisik dan sosial (Luk. 14:13-14; Rm. 12:13). Dan di antara komunitas orang percaya, kita memiliki tanggung jawab istimewa untuk menunjukkan kasih (Gal. 6:10).

Ketika kita menyambut semua orang dengan kasih Kristus, kita mencerminkan kasih dan belas kasihan Sang Juruselamat.
Tuhan, bukalah hati kami untuk menyambut siapa saja yang masuk ke dalam hidup kami dengan menunjukkan kasih Kristus dan keramahtamahan kepada mereka. Mampukan kami untuk menolong mereka merasakan kehangatan kasih Yesus.
Ketika kita menunjukkan keramahtamahan kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang membagikan kebaikan Allah.
Oleh Dave Branon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Setelah mengingatkan tentang landasan kokoh dan kepastian yang kita miliki, barulah Ibrani 13:1-3 mendorong orang percaya untuk saling mengasihi. Hanya Allah satu-satunya yang patut membuat kita merasa takut atau malu sebab kekudusan dan kekuasaan-Nya dahsyat. Namun, syukur, karena Kristus telah menyucikan orang percaya, kita tak perlu gemetar ketakutan di hadapan kekudusan Allah (12:18-21). Sebaliknya, tanpa gentar kita merayakan hidup yang penuh penyembahan dan sukacita dalam kerajaan-Nya dan persekutuan dengan umat-Nya (ay.22-24,28).

Dengan menyadari adanya rasa aman dalam kasih Allah dan bahwa kita takkan pernah ditinggalkan (13:5-6), janganlah lagi takut membangun relasi. Dalam Kristus, kita bisa saling mengasihi dan memperhatikan (ay.1,3). Kita pun dapat mengulurkan tangan untuk mengundang semua yang bisa kita jangkau agar menjadi anggota keluarga kasih karunia Allah (ay.2).

Monica Brands




October 08, 2018, 05:56:08 AM
Reply #2031
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19604
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Bapa yang Bernyanyi
  08/10/2018 
Bapa yang Bernyanyi
Baca: Zefanya 3:14-20 | Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 30–31 ; Filipi 4


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-10-08.mp3

Tuhan Allahmu ada diantaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, . . . Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak sorai. —Zefanya 3:17

Sebelum saya dan istri mempunyai anak, tidak ada yang memberitahukan kami tentang pentingnya bernyanyi. Anak-anak kami sekarang berusia enam, delapan, dan sepuluh tahun. Ketika ketiganya masih lebih kecil, mereka sempat sulit tidur. Tiap malam, saya dan istri bergantian menidurkan mereka sambil berharap mereka akan segera terlelap. Ratusan jam saya habiskan untuk menggendong mereka, sambil menyanyikan lagu ninabobo yang (semoga) membuat mereka cepat tidur. Namun, ketika malam demi malam saya bernyanyi untuk mereka, sesuatu yang menakjubkan terjadi: rasa kasih sayang dan ikatan saya dengan anak-anak makin bertambah dalam lewat cara-cara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Tahukah Anda, Alkitab juga menggambarkan Bapa kita di surga bernyanyi bagi anak-anak-Nya? Sama seperti saya menenangkan anak-anak dengan nyanyian, Nabi Zefanya memberikan gambaran tentang Bapa Surgawi yang bernyanyi gembira karena umat-Nya: “Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, . . . Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai” (3:17).
Bapa Surgawi bergembira melihat anak-anak-Nya seperti orangtua yang bernyanyi untuk bayinya yang baru lahir.

Sebagian besar nubuat Zefanya berisi peringatan akan datangnya penghakiman bagi mereka yang menolak Allah. Namun, itu bukanlah akhirnya. Zefanya tidak menutup dengan penghakiman, melainkan dengan gambaran tentang Allah yang tidak saja menyelamatkan umat-Nya dari semua penderitaan mereka (ay.19-20), tetapi juga yang mengasihi dengan lembut dan bersukacita karena mereka dengan sorak-sorai (ay.17).

Allah bukan hanya “pahlawan yang memberi kemenangan” dan memperbarui kita (ay.17), tetapi juga Bapa penuh kasih yang dengan lemah lembut melantunkan nyanyian kasih-Nya bagi kita.
Bapa, tolong kami menyambut kasih-Mu dan “mendengar” lagu yang Kau nyanyikan.
Bapa Surgawi bergembira melihat anak-anak-Nya seperti orangtua yang bernyanyi untuk bayinya yang baru lahir.
Oleh Adam Holz | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Sorak sorai Allah (Zefanya 3:17) hanya salah satu dari bentuk kasih dan kepedulian-Nya bagi kita. Tentu kita sudah tahu bahwa Dia menyelamatkan dan menyediakan kebutuhan kita. Kita juga tahu bahwa Dia menciptakan dan memperlengkapi kita untuk hidup bagi-Nya di dunia ini. Namun, itu baru permulaan. Dalam Lukas 15 dikatakan bahwa Allah bersukacita ketika kita diselamatkan dan kembali kepada-Nya, seperti sukacita sang ayah dalam perumpamaan anak yang hilang. Selain itu, Dia menghibur kita pada masa pencobaan (2 Korintus 1:3-8). Terlebih lagi, Dia juga turut merasakan penderitaan kita dan menghargai air mata kita (Mazmur 56:8). Dengan banyak cara, Allah kita terus mengungkapkan kedalaman kasih dan kepedulian terhadap anak-anak-Nya.

Bagaimana Anda mengalami perhatian itu pada berbagai musim kehidupan Anda?




October 09, 2018, 05:21:11 AM
Reply #2032
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19604
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Lebih dari Sekadar Kata-Kata
  09/10/2018 
Lebih dari Sekadar Kata-Kata
Baca: Roma 8:22-30 | Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 32–33 ; Kolose 1


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-10-09.mp3
Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita. —Roma 8:26

Pada acara peresmian Alkitab yang telah berhasil diterjemahkan ke dalam sebuah bahasa lokal di Afrika, kepala suku di wilayah itu menerima satu jilid Alkitab tersebut. Dengan penuh rasa syukur, ia mengangkat Alkitab itu dan berseru, ”Sekarang kita tahu bahwa Allah mengerti bahasa kita! Kini kita dapat membaca Alkitab dalam bahasa ibu kita.”

Bapa Surgawi kita mengerti apa pun bahasa yang kita gunakan. Namun, kita sering merasa tidak sanggup mengungkapkan kerinduan hati kita yang terdalam kepada-Nya. Rasul Paulus mendorong kita untuk tetap berdoa terlepas dari apa pun yang kita rasakan. Paulus berbicara tentang dunia yang menderita dan penderitaan kita sendiri: ”Sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin” (Rm. 8:22), dan ia membandingkan hal itu dengan karya ROH KUDUS bagi kita. “Roh membantu kita dalam kelemahan kita,” tulisnya. “Sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (ay.26).
Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita. —Roma 8:26

ROH KUDUS mengenal kita dengan intim. Dia tahu kerinduan kita, bahasa hati kita, dan kalimat-kalimat kita yang tidak terucapkan, dan Dia menolong kita untuk berkomunikasi dengan Allah. Roh-Nya membawa kita untuk diubahkan menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya (ay.29).

Bapa Surgawi mengerti bahasa kita dan berbicara kepada kita melalui firman-Nya. Di saat kita berpikir bahwa doa kita terlalu lemah atau terlalu pendek, ROH KUDUS menolong kita dengan berbicara melalui kita kepada Bapa. Allah Bapa ingin kita berbicara dengan-Nya di dalam doa.
Tuhan, terima kasih karena Engkau memahami ungkapan dan kerinduan hatiku yang terdalam. Saat doaku lemah dan kering, topanglah diriku dengan Roh-Mu.
Ketika kita merasa terlalu lemah untuk berdoa, Roh Allah menolong kita dengan cara-cara yang tak pernah terbayangkan.
Oleh Lawrence Darmani | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ada kalanya, kita merasa tidak tahu apa yang harus dikatakan saat berdoa. Fenomena itu merupakan salah satu bagian dari masalah yang lebih besar. Menurut surat Paulus kepada jemaat di Roma, banyak hal yang tidak bisa kita lakukan untuk diri sendiri. Misalnya, menghindari akibat perbuatan kita, mengubah hati kita, berdamai dengan Allah, bahkan memenuhi harapan kita sendiri (Roma 4:5; 6:23; 7:18-21). Namun, perkataan Paulus tidak berhenti di situ, membiarkan kita tak berdaya dan putus asa. Pasal 8 dimulai dan diakhiri dengan kata-kata pengharapan. Tiada kebenaran yang lebih melegakan selain fakta bahwa kita juga takkan bisa membuat Allah berhenti menolong dan mengasihi kita, apa pun yang terjadi (ay.11,31-39).

Mart DeHaan




October 10, 2018, 05:13:06 AM
Reply #2033
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19604
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Nyanyian untuk Regu Tembak
  10/10/2018 
Nyanyian untuk Regu Tembak
Baca: Markus 14:16-26 | Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 34–36 ; Kolose 2


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-10-10.mp3

Aku percaya, sekalipun aku berkata: “Aku ini sangat tertindas.” —Mazmur 116:10

Dua pria yang dipidana karena mengedarkan obat terlarang telah menunggu waktu eksekusi mereka selama satu dekade. Di penjara itu, mereka mengenal kasih Allah bagi mereka di dalam Yesus Kristus dan hidup mereka pun diubahkan. Ketika tiba saatnya bagi mereka untuk berhadapan dengan regu tembak, mereka menghadapi para eksekutor itu sembari mengucapkan Doa Bapa Kami dan menyanyikan pujian “Amazing Grace” (Sangat Besar Anugerah-Nya). Karena iman mereka kepada Allah, oleh kekuatan ROH KUDUS, mereka sanggup menghadapi kematian dengan keberanian yang luar biasa.

Mereka mengikuti teladan iman yang diberikan Juruselamat mereka, Yesus Kristus. Saat Yesus mengetahui kematian-Nya sudah dekat, Dia melewati malam itu dengan bernyanyi bersama sahabat-sahabat-Nya. Sungguh mengagumkan bagaimana Dia dapat bernyanyi dalam situasi seperti itu. Namun, yang lebih menakjubkan adalah apa yang dinyanyikan-Nya. Malam itu, Yesus dan sahabat-sahabat-Nya menikmati jamuan Paskah, yang selalu diakhiri dengan mengucapkan serangkaian mazmur yang dikenal sebagai Hallel, Mazmur 113–118. Menjelang kematian-Nya, Yesus bernyanyi tentang “tali-tali maut” yang melilit-Nya (Mzm. 116:3). Namun, Dia memuji kasih setia Allah (Mzm. 117:2) dan bersyukur kepada-Nya untuk keselamatan (Mzm. 118:14). Pastilah Mazmur itu telah menjadi penghiburan bagi Yesus pada malam sebelum Dia disalibkan.
Sungguh manis kabar anugerah Allah yang ajaib!

Kepercayaan Yesus kepada Allah sangatlah besar. Jadi, meski kematian-Nya sudah dekat—kematian yang tidak layak diterima-Nya—Dia memilih untuk bernyanyi tentang kasih Allah. Karena Yesus, kita juga dapat memiliki keyakinan bahwa apa pun yang kita hadapi, Allah selalu menyertai kita.
Allah terkasih, teguhkanlah iman kami di dalam Engkau agar di saat kami menghadapi pencobaan, atau bahkan menjelang maut, kami dapat bernyanyi tentang kasih-Mu dengan penuh keyakinan.
Sungguh manis kabar anugerah Allah yang ajaib!
Oleh Amy Peterson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kita kerap mendengar bahwa lagu adalah doa yang dinyanyikan. Setelah dipukuli dan ditangkap tanpa adanya kesalahan, Paulus dan Silas “berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah” di penjara (Kisah Para Rasul 16:25)! Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus menasihati mereka, “Berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan dengan segenap hati” (Efesus 5:19).

Apakah Anda sedang mengalami masa sulit? Mintalah Tuhan untuk menguatkan Anda lewat lagu pujian yang Anda naikkan.




October 11, 2018, 05:16:21 AM
Reply #2034
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19604
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kisah tentang Yesus
  11/10/2018 
Kisah tentang Yesus
Baca: 1 Yohanes 1:1-4; Yohanes 21:24-25 | Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 37–38 ; Kolose 3


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-10-11.mp3

Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus. —Yohanes 21:25a

Saat masih kecil, saya senang mengunjungi perpustakaan kecil di wilayah saya. Suatu hari, sambil melihat-lihat rak-rak yang memuat buku-buku untuk dewasa-muda, saya sempat berpikir bahwa saya pasti bisa membaca setiap buku di sana. Antusiasme itu membuat saya lupa tentang satu fakta penting—buku-buku baru akan selalu rutin ditambahkan ke rak-rak itu. Sekuat apa pun usaha saya, tetap saja saya tidak akan dapat membaca buku-buku yang terlalu banyak itu.

Buku-buku baru akan terus terbit dan bertambah. Bisa jadi Rasul Yohanes akan dibuat takjub oleh tersedianya begitu banyak buku di masa kini karena lima kitab yang ditulisnya dalam Perjanjian Baru—Injil Yohanes; Kitab 1, 2, dan 3 Yohanes; dan Wahyu—ditulis tangan di atas gulungan-gulungan perkamen.
Kiranya hidup Anda menceritakan tentang kasih dan anugerah Kristus.

Yohanes menulis kitab-kitab itu karena didorong oleh ROH KUDUS untuk memberikan catatan kepada umat Kristen sebagai saksi mata dari kehidupan dan pelayanan Yesus (1Yoh. 1:1-4). Namun, tulisan Yohanes itu hanyalah sebagian kecil dari apa yang Yesus lakukan dan ajarkan dalam pelayanan-Nya. Yohanes bahkan berkata bahwa apabila semua hal yang Yesus lakukan itu ditulis “maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh. 21:25).

Pernyataan Yohanes terbukti benar sampai hari ini. Terlepas dari semua buku tentang Yesus yang pernah ditulis manusia, perpustakaan-perpustakaan di dunia ini tidak akan cukup besar untuk dapat menyimpan setiap kisah tentang kasih dan anugerah-Nya. Kita juga dapat bersyukur karena setiap dari kita mempunyai kisah kita sendiri tentang kasih Tuhan yang dapat kita bagikan dengan penuh sukacita untuk selama-lamanya (Mzm. 89:2)!
Dengan langit s’bagai kertas, batang pohon s’bagai pena, air laut s’bagai dawat, tiap orang penulisnya. Tak mungkin akan menuliskan kasih Allah yang besar, langit dari timur ke barat, tak akan memuatnya. F. M. Lehman (Kidung Puji-Pujian Kristen, No. 27)
Kiranya hidup Anda menceritakan tentang kasih dan anugerah Kristus.
Oleh Lisa Samra | Lihat Penulis Lain


October 12, 2018, 05:07:48 AM
Reply #2035
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19604
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Aman dalam Tangan-Nya
  12/10/2018 
Aman dalam Tangan-Nya
Baca: Yesaya 40:9-11 | Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 39–40 ; Kolose 4


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-10-12.mp3

Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya. —Yesaya 40:11

Cuaca di luar sangat tidak bersahabat, dan pemberitahuan yang saya terima di ponsel memperingatkan saya akan kemungkinan terjadinya banjir bandang. Banyak sekali kendaraan diparkir di lingkungan tempat tinggal saya selagi para orangtua dan yang lainnya menjemput anak-anak di tempat pemberhentian bus sekolah. Saat bus tiba, hujan pun sudah turun. Saat itulah saya mengamati seorang wanita keluar dari mobil dan mengambil payung dari bagasi. Ia menjemput seorang anak kecil dan memastikannya terlindungi dari hujan sampai mereka masuk kembali ke dalam mobil. Itulah gambaran yang indah akan pengasuhan dan perlindungan dari orangtua yang mengingatkan saya pada pemeliharaan Bapa Surgawi kita yang sempurna.

Nabi Yesaya menubuatkan jatuhnya hukuman atas ketidaktaatan yang disusul dengan hari-hari yang lebih baik bagi umat Allah (Yes. 40:1-8). Kabar baik yang diserukan dari atas gunung yang tinggi (ay.9) meyakinkan bangsa Israel akan dahsyatnya kehadiran Allah dan kelembutan perhatian-Nya. Kabar baiknya bagi mereka, dan kita: karena Allah kuat dan berkuasa, kita tidak perlu merasa takut (ay.9-10). Termasuk dalam kabar baik itu adalah berita tentang perlindungan Tuhan, seperti yang diberikan oleh gembala (ay.11): anak-anak domba yang rentan akan merasa aman di tangan Sang Gembala; induk-induk domba dituntun-Nya dengan lemah lembut.
Alangkah bahagianya, Allah memelihara kita dengan sempurna!

Di dunia yang tidak selalu nyaman ini, gambaran akan rasa aman dan pemeliharaan ilahi itu mendorong kita untuk memandang dengan penuh keyakinan kepada Tuhan. Mereka yang percaya kepada Tuhan dengan segenap hati akan mendapatkan rasa aman dan kekuatan yang diperbarui di dalam Dia (ay.31).
Ya Bapa, di dunia yang sering membuat kami merasa terancam ini, kami terhibur oleh pemeliharaan-Mu yang penuh kasih—di dalam dan melalui Tuhan kami, Yesus Kristus.
Alangkah bahagianya, Allah memelihara kita dengan sempurna!
Oleh Arthur Jackson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Gambaran tentang gembala juga ada dalam Perjanjian Baru di mana Yesus dilukiskan sebagai Gembala yang Baik. “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yohanes 10:11); “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku” (ay.14-15). Seperti seorang gembala menjaga, merawat, dan melindungi kawanan dombanya dari bahaya dan kematian, bahkan mencari mereka ketika tersesat (Mazmur 23:1-3; Lukas 15:4), Yesus menyerahkan hidup-Nya untuk menebus dosa-dosa kita, lalu bangkit kembali agar kita dapat hidup kekal bersama Dia (Yohanes 3:16). Dengan demikian, Dia membebaskan semua orang yang menerima-Nya sebagai Juruselamat dari kuasa musuh kita, Iblis, dan dari siksa kekal. Dalam kehidupan yang sekarang, sang Gembala memimpin dan menuntun kita sepanjang jalan. Kita tak perlu takut, karena Dia beserta kita (Mazmur 23:4). Dia mengasihi dan mengenal kita (Yohanes 10:14-15).

Dalam hal apakah Anda membutuhkan penghiburan dari Gembala yang Baik saat ini?

Alyson Kieda




October 12, 2018, 05:14:22 AM
Reply #2036
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19604
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Aman dalam Tangan-Nya
  12/10/2018 
Aman dalam Tangan-Nya
Baca: Yesaya 40:9-11 | Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 39–40 ; Kolose 4


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-10-12.mp3

Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya. —Yesaya 40:11

Cuaca di luar sangat tidak bersahabat, dan pemberitahuan yang saya terima di ponsel memperingatkan saya akan kemungkinan terjadinya banjir bandang. Banyak sekali kendaraan diparkir di lingkungan tempat tinggal saya selagi para orangtua dan yang lainnya menjemput anak-anak di tempat pemberhentian bus sekolah. Saat bus tiba, hujan pun sudah turun. Saat itulah saya mengamati seorang wanita keluar dari mobil dan mengambil payung dari bagasi. Ia menjemput seorang anak kecil dan memastikannya terlindungi dari hujan sampai mereka masuk kembali ke dalam mobil. Itulah gambaran yang indah akan pengasuhan dan perlindungan dari orangtua yang mengingatkan saya pada pemeliharaan Bapa Surgawi kita yang sempurna.

Nabi Yesaya menubuatkan jatuhnya hukuman atas ketidaktaatan yang disusul dengan hari-hari yang lebih baik bagi umat Allah (Yes. 40:1-8). Kabar baik yang diserukan dari atas gunung yang tinggi (ay.9) meyakinkan bangsa Israel akan dahsyatnya kehadiran Allah dan kelembutan perhatian-Nya. Kabar baiknya bagi mereka, dan kita: karena Allah kuat dan berkuasa, kita tidak perlu merasa takut (ay.9-10). Termasuk dalam kabar baik itu adalah berita tentang perlindungan Tuhan, seperti yang diberikan oleh gembala (ay.11): anak-anak domba yang rentan akan merasa aman di tangan Sang Gembala; induk-induk domba dituntun-Nya dengan lemah lembut.
Alangkah bahagianya, Allah memelihara kita dengan sempurna!

Di dunia yang tidak selalu nyaman ini, gambaran akan rasa aman dan pemeliharaan ilahi itu mendorong kita untuk memandang dengan penuh keyakinan kepada Tuhan. Mereka yang percaya kepada Tuhan dengan segenap hati akan mendapatkan rasa aman dan kekuatan yang diperbarui di dalam Dia (ay.31).
Ya Bapa, di dunia yang sering membuat kami merasa terancam ini, kami terhibur oleh pemeliharaan-Mu yang penuh kasih—di dalam dan melalui Tuhan kami, Yesus Kristus.
Alangkah bahagianya, Allah memelihara kita dengan sempurna!
Oleh Arthur Jackson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Gambaran tentang gembala juga ada dalam Perjanjian Baru di mana Yesus dilukiskan sebagai Gembala yang Baik. “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yohanes 10:11); “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku” (ay.14-15). Seperti seorang gembala menjaga, merawat, dan melindungi kawanan dombanya dari bahaya dan kematian, bahkan mencari mereka ketika tersesat (Mazmur 23:1-3; Lukas 15:4), Yesus menyerahkan hidup-Nya untuk menebus dosa-dosa kita, lalu bangkit kembali agar kita dapat hidup kekal bersama Dia (Yohanes 3:16). Dengan demikian, Dia membebaskan semua orang yang menerima-Nya sebagai Juruselamat dari kuasa musuh kita, Iblis, dan dari siksa kekal. Dalam kehidupan yang sekarang, sang Gembala memimpin dan menuntun kita sepanjang jalan. Kita tak perlu takut, karena Dia beserta kita (Mazmur 23:4). Dia mengasihi dan mengenal kita (Yohanes 10:14-15).

Dalam hal apakah Anda membutuhkan penghiburan dari Gembala yang Baik saat ini?

Alyson Kieda




October 13, 2018, 05:18:02 AM
Reply #2037
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19604
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Dia Memikul Beban Kita
  13/10/2018 
Dia Memikul Beban Kita
Baca: 1 Petrus 1:18-25 | Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 41–42 ; 1 Tesalonika 1


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-10-13.mp3

Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. —1 Petrus 2:24

Bukanlah hal yang luar biasa apabila kita menerima tagihan air atau listrik dalam jumlah besar. Namun, Kieran Healy dari Carolina Utara, Amerika Serikat, menerima tagihan pemakaian air yang sangat mengejutkan. Pemberitahuan tersebut menyebutkan bahwa ia berhutang 100 juta dolar! Karena yakin bahwa ia tidak menggunakan air sebanyak itu pada bulan sebelumnya, dengan setengah bercanda Healy menanyakan kepada pihak pengelola apakah ia boleh menyicil pembayarannya.

Berhutang 100 juta dolar memang bisa menjadi beban yang sangat berat, tetapi itu tak seberapa jika dibandingkan dengan beban yang harus kita pikul akibat dosa—beban yang nyata dan tak terukur besarnya. Jika kita mencoba untuk memikul beban dan konsekuensi dari dosa-dosa kita, pada akhirnya kita akan merasa kewalahan dan dipenuhi perasaan malu dan bersalah. Sesungguhnya kita tidak akan pernah sanggup memikul beban tersebut.
Yesus memikul beban dosa kita supaya dapat memberi kita hidup baru.

Kita memang tidak perlu memikul beban itu. Perkataan Petrus mengingatkan orang percaya bahwa hanya Yesus, Anak Allah yang tidak berdosa, yang dapat memikul beban dosa kita dan konsekuensinya yang berat (1Ptr. 2:24). Lewat kematian-Nya di kayu salib, Yesus sendirilah yang memikul semua kesalahan kita dan memberi kita pengampunan. Karena Yesus memikul seluruh beban dosa kita, kita tidak perlu menderita hukuman yang seharusnya kita terima.

Alih-alih hidup dalam ketakutan atau rasa bersalah, yaitu “cara hidup [kita] yang sia-sia yang [kita] warisi dari nenek moyang” kita (1:18 BIS), kita dapat menikmati cara hidup yang baru dalam kasih dan kemerdekaan (1:22-23).
Tuhan, kadang beban rasa bersalah dan malu kami terasa begitu berat. Tolong kami menyerahkan masa lalu dan kepedihannya kepada Engkau agar kami merasakan damai-Mu, karena Engkau telah memikul semuanya dan memerdekakan kami.
Yesus memikul beban dosa kita supaya dapat memberi kita hidup baru.



October 15, 2018, 05:45:16 AM
Reply #2038
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19604
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Percaya kepada-Nya
  15/10/2018 
Percaya kepada-Nya
Baca: Yesaya 46:3-13 | Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 45–46 ; 1 Tesalonika 3


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-10-15.mp3

Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita. —Mazmur 68:20

“Ayah, jangan lepaskan aku!”

“Tidak, Ayah akan memegangmu dengan erat. Ayah janji.”
Allah membawa kita ke tempat-tempat baru yang penuh anugerah di saat kita percaya kepada-Nya.

Saat saya masih kecil dan takut pada air, ayah ingin saya tetap belajar berenang. Ia sengaja menarik saya menjauh dari tepi kolam renang menuju bagian kolam yang kedalamannya melebihi kepala saya. Di sana hanya ayah satu-satunya andalan saya. Lalu ayah mengajarkan agar saya tetap tenang dan berusaha mengapung.

Itu bukan hanya soal pelajaran berenang, melainkan juga latihan untuk percaya. Saya tahu ayah mengasihi saya dan takkan membiarkan saya dilukai secara sengaja, tetapi saya masih juga merasa takut. Biasanya saya merangkul erat leher ayah sampai ia berhasil meyakinkan saya bahwa takkan ada masalah. Pada akhirnya, kesabaran dan kebaikannya dapat menenangkan saya, dan saya pun mulai berenang. Namun, saya perlu mempercayai ayah terlebih dahulu.

Ketika saya merasa terbenam di dalam suatu kesulitan, saya sering mengingat kembali momen masa kecil tersebut. Semua itu menolong saya mengingat jaminan Tuhan kepada umat-Nya: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu” (Yes. 46:4).

Kita mungkin tidak selalu bisa merasakan tangan Allah yang menopang kita, tetapi Dia telah berjanji tidak akan meninggalkan kita (Ibr. 13:5). Ketika kita percaya pada pemeliharaan dan janji-janji-Nya, Dia menolong kita untuk belajar mempercayai kesetiaan-Nya. Dia mengangkat kita keluar dari kekhawatiran untuk menemukan damai yang baru di dalam Dia.
Abba, Bapa, aku memuji-Mu karena Engkau telah menopangku di sepanjang hidupku. Berilah aku iman untuk percaya bahwa Engkau selalu menyertaiku.
Allah membawa kita ke tempat-tempat baru yang penuh anugerah di saat kita percaya kepada-Nya.
Oleh James Banks | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Untuk bacaan lebih lanjut mengenai kepercayaan kepada Tuhan dalam masa-masa sulit, lihat booklet gratis Anchors in the Storm di discoveryseries.org/hp073   



October 16, 2018, 05:27:55 AM
Reply #2039
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 19604
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Hal Buruk dan Hal Indah
  16/10/2018 
Hal Buruk dan Hal Indah
Baca: Mazmur 57 | Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 47–49 ; 1 Tesalonika 4


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-10-16.mp3
Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar! —Mazmur 57:9

Rasa takut dapat membuat kita tak berdaya. Kita tahu segala hal yang bisa membuat kita takut—segala sesuatu yang menyakiti kita di masa lalu, yang sangat mudah melukai kita kembali. Jadi terkadang kita terperangkap—tak bisa mengulang kembali, tetapi terlalu takut untuk melangkah maju. Aku tak bisa melakukannya. Aku tak cukup pintar, tak cukup kuat, tak cukup berani untuk maju, karena aku khawatir akan disakiti seperti itu lagi.

Saya tertarik dengan cara penulis Frederick Buechner mendeskripsikan anugerah Allah. Anugerah Allah itu seperti suara lembut yang berkata, “Inilah dunia. Hal buruk dan hal indah akan terjadi. Jangan takut. Aku menyertaimu.”
Kasih dan keindahan Allah menjadikan kita berani.

Hal buruk akan terjadi. Di dunia ini, manusia saling menyakiti, bahkan sering dengan cara yang sangat pedih. Seperti Daud sang pemazmur, kita membawa kenangan masa lalu saat kejahatan mengepung kita, saat orang lain melukai kita bagai “singa yang suka menerkam” (Mzm. 57:5), dan itu membuat kita berduka sehingga kita pun berseru kepada Allah (ay.2-3).

Namun, karena Allah menyertai kita, hal-hal indah juga dapat terjadi. Ketika datang kepada-Nya dengan membawa luka hati dan ketakutan kita, kita menyadari bahwa kita ditopang oleh kasih yang jauh lebih besar daripada kuasa apa pun yang hendak melukai kita (ay.2-4), kasih yang begitu besar hingga sampai ke langit (ay.11). Bahkan ketika bencana berkecamuk di sekitar kita, kasih-Nya menjadi tempat perlindungan yang aman bagi pemulihan hati kita (ay.2,8). Suatu hari nanti, kita akan dibangunkan untuk menerima keberanian yang baru, sehingga kita siap menyambut hari dengan menyanyikan syukur tentang kasih setia-Nya (ay.9-11).
Penyembuh dan Penebus kami yang agung, terima kasih karena Engkau telah menyertai dan memulihkan kami dengan kasih setia-Mu yang tiada berkesudahan. Dalam kasih-Mu, tolonglah kami memperoleh keberanian untuk mengikuti-Mu dan membagikan kasih itu kepada orang-orang di sekitar kami.
Kasih dan keindahan Allah menjadikan kita berani.
Oleh Monica Brands | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mazmur sering didahului dengan keterangan tentang siapa pengarangnya, pemimpin pujian, atau situasi yang menjadi sumber inspirasinya. Pengantar Mazmur 57 mengatakan bahwa Daud menulis mazmur ini “ketika ia lari dari pada Saul, ke dalam gua.”

Alkitab mencatat dua kali Daud berlindung dari Saul di dalam gua (1 Samuel 22 dan 24). Kita tidak tahu pasti kejadian mana yang dimaksud dalam Mazmur ini, tetapi pesan Mazmur itu sangat jelas—orang yang ketakutan, resah, dan dalam pelarian dapat menemukan perlindungan sejati dalam Tuhan (Mazmur 57:2).

Kapan terakhir kali Anda mengalami keadaan sulit yang membuat Anda “berseru kepada Allah, yang Mahatinggi” (ay.3)?

Arthur Jackson




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)