Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 129008 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

December 04, 2018, 05:24:19 AM
Reply #2120
December 05, 2018, 05:36:24 AM
Reply #2121
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Tangan yang Mengangkat Kita
  05/12/2018 
Tangan yang Mengangkat Kita
Baca: Pengkhotbah 4:8-12 | Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 1–2 ; 1 Yohanes 4


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-05.mp3


Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya. —Pengkhotbah 4:10

Anak-anak saya sangat menikmati serunya berseluncur di halaman belakang rumah kami di Idaho pada musim dingin. Ketika masih kecil, sangat sulit bagi mereka untuk belajar memainkan seluncur es. Tak mudah membujuk mereka untuk mau menapaki permukaan es yang keras dan dingin karena mereka tahu rasanya sakit saat jatuh. Setiap kali mereka terpeleset, saya atau suami saya akan merengkuh dan membantu mereka berdiri kembali.

Mempunyai seseorang yang menolong kita saat jatuh adalah berkat yang digambarkan dalam Pengkhotbah. Bekerja bersama orang lain membuat pekerjaan kita lebih baik dan lebih efektif (Pkh. 4:9), ditambah lagi kehadiran seorang sahabat membawa kehangatan dalam hidup kita. Ketika kita menghadapi tantangan, kehadiran seseorang yang memberi dukungan emosional dan pertolongan praktis akan sangat membantu. Hubungan seperti itu memberi kita kekuatan, tujuan, dan penghiburan.
Bagaimana Anda dapat membuka diri lebih lagi untuk semakin mengalami kehadiran Allah dalam hidup Anda?

Ketika kita jatuh di atas dinginnya kesulitan hidup, adakah orang di sekitar Anda yang dapat mengangkat Anda kembali? Jika ada, Tuhanlah yang mengirimkannya. Sebaliknya, apabila orang lain membutuhkan teman, maukah kita menjadi jawaban Allah untuk mengangkat mereka kembali? Dengan menjadi sahabat bagi sesama, kita pun mendapatkan seorang sahabat. Bila tampaknya tidak ada orang yang membantu kita bangkit lagi, ketahuilah bahwa Allah selalu ada sebagai Penolong kita (Mzm. 46:2). Ketika kita mengulurkan tangan ke arah-Nya, Dia siap meraihnya dengan genggaman-Nya yang teguh.
Terima kasih, Bapa, sebab Engkau menolongku berdiri saat aku ditumbangkan oleh kerasnya kehidupan ini. Terima kasih untuk orang-orang yang Engkau pakai untuk menghibur dan menguatkanku. Namun, Engkaulah sahabatku yang paling setia.
Bagaimana Anda dapat membuka diri lebih lagi untuk semakin mengalami kehadiran Allah dalam hidup Anda?
Oleh Kirsten Holmberg | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Penulis kitab Pengkhotbah sedang meratapi betapa sia-sianya bila manusia hidup untuk hal-hal yang fana saja. Perikop ini berbicara tentang orang kaya kesepian yang diamati oleh Pengkhotbah. Mungkin dalam perjalanan meniti kesuksesannya, ia menginjak orang-orang lain (seperti tokoh Ebenezer Scrooge dalam buku karangan Charles Dickens). Bagaimana pun cara orang itu mencapainya, Pengkhotbah menyadari betapa sia-sianya usaha tersebut dan menyimpulkan, “Berdua lebih baik dari pada seorang diri” (4:9).

Sepanjang kitabnya, pokok pikiran Pengkhotbah ialah bahwa hidup dengan pandangan dunia sangat tidak memuaskan. Kita berjerih payah dan berjuang, tetapi tetap merasa ada sesuatu yang kurang. Sama seperti semua kitab lain, Pengkhotbah juga harus dipahami dalam konteks seluruh Alkitab. Jerome (347–420 M) dan Ambrose (340–397 M), bapa gereja mula-mula, termasuk orang-orang pertama yang menafsirkan bahwa sesuatu yang kurang, yang kita perlukan, adalah Kristus sendiri.

Tim Gustafson





December 06, 2018, 06:04:05 AM
Reply #2122
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Natal yang Sepi
  06/12/2018 
Natal yang Sepi
Baca: Mazmur 25:14-22 | Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 3–4 ; 1 Yohanes 5


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-06.mp3

Mataku tetap terarah kepada Tuhan. —Mazmur 25:15

Natal paling sepi yang pernah saya alami adalah ketika berada di pondok milik kakek saya di dekat Sakogu, wilayah utara Ghana. Saat itu, saya baru berusia lima belas tahun, sementara orangtua dan saudara-saudara saya tinggal seribu kilometer jauhnya. Tahun-tahun sebelumnya, ketika tinggal bersama mereka dan teman-teman sekampung, Natal selalu terasa ramai dan mengesankan. Namun, Natal kali ini begitu sunyi dan sepi. Sembari berbaring di atas tikar pada pagi harinya, saya teringat lagu daerah: Tahun telah berakhir; Natal telah tiba; Anak Allah lahir; damai dan sukacita bagi semua. Dengan sedih, saya menyanyikan lagu itu berulang-ulang.

Nenek saya datang dan bertanya, “Lagu apa itu?” Kakek dan nenek saya tidak tahu apa-apa tentang Natal, apalagi tentang Kristus. Jadi, saya pun menceritakan apa yang saya ketahui tentang Natal kepada mereka. Saat itulah kesepian saya terasa sirna.
Bersama Yesus di hari Natal, kita takkan pernah sendirian.

Sendirian di padang, dengan hanya ditemani domba dan hewan liar yang sesekali muncul, Daud sang gembala muda mengalami kesepian. Bukan kali itu saja ia mengalaminya. Di kemudian hari, ia menulis, “Aku kesepian dan sengsara” (MZM. 25:16 BIS). Namun, Daud tak membiarkan dirinya putus asa ditelan rasa sepi. Sebaliknya, ia bernyanyi: “Aku berharap kepada-Mu” (ay.21 BIS).

Dari waktu ke waktu, kita semua pasti mengalami kesepian. Di mana pun Anda berada pada Natal tahun ini, baik dalam kesepian maupun kehangatan, Kristus senantiasa menemani Anda.
Tuhan, terima kasih karena bersama-Mu aku tidak sendirian meski didera kesepian. Natal kali ini, tolonglah aku untuk menikmati persekutuan dengan Engkau dan juga melayani orang lain yang membutuhkan kasih-Mu.
Bersama Yesus di hari Natal, kita takkan pernah sendirian.
Oleh Lawrence Darmani | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mazmur 25 adalah doa dan ucapan syukur atas tuntunan Allah—yang diberikan kepada siapa pun yang dengan rendah hati mau belajar dari-Nya (ay.5,8-9,12). Strukturnya yang berbentuk sajak akrostik (setiap baris diawali dengan huruf sesuai urutan abjad Ibrani) memperkuat penekanan tema belajar dari Allah karena susunan itu kerap dipilih untuk memudahkan penghafalan.

Mazmur ini mengangkat tema ibadah sebagai gaya hidup belajar dari Allah, hal itu tampak lewat frasa “Kuangkat jiwaku” dalam ayat 14 (“jiwa” mengacu pada keseluruhan diri: tubuh dan roh). Dengan menggambarkan sikap beribadah (tangan yang terangkat), ungkapan ini menunjukkan indahnya berjalan bersama Allah: dengan jujur kita membuka diri dan segala pergumulan di hadapan Allah sambil terus menanti dengan tangan terbuka serta percaya bahwa Allah yang maha pengasih dan murah hati pasti memenuhi segala kebutuhan kita (ay.15-18,20-21).

Monica Brands





December 07, 2018, 06:22:05 AM
Reply #2123
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Tangan Allah yang Tersembunyi
  07/12/2018 
Tangan Allah yang Tersembunyi
Baca: Mazmur 139:13-18 | Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 5–7 ; 2 Yohanes


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-07.mp3


Dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. —Mazmur 139:16

Teman saya diadopsi oleh pasangan misionaris dari Amerika Serikat dan dibesarkan di Ghana. Setelah keluarganya kembali ke Amerika, ia sempat berkuliah tetapi kemudian terpaksa harus putus sekolah. Belakangan, ia masuk ke dalam ketentaraan. Pilihan itu membantunya untuk meneruskan kuliah dan membawanya keliling dunia. Melalui semua peristiwa itu, Allah sedang bekerja mempersiapkannya untuk suatu peran istimewa. Kini, ia menjadi penulis dan penyunting untuk sebuah terbitan Kristen yang memberkati pembaca dari seluruh dunia.

Istrinya juga memiliki kisah yang menarik. Ia pernah gagal dalam ujian-ujian mata kuliah kimia pada tahun pertama kuliahnya akibat obat keras yang harus diminumnya karena penyakit epilepsi. Setelah mempertimbangkan masak-masak, ia pun pindah ke jurusan Bahasa Isyarat Amerika dengan beban kuliah yang lebih mudah ia jalani. Becermin dari pengalaman itu, ia pun berkata, “Tuhan mengarahkan hidupku kepada tujuan yang lebih besar.” Kini, ia membantu penyebaran firman Allah yang mengubahkan hidup kepada para penyandang tunarungu.
Meski tangan-Nya yang berdaulat tampak tersembunyi, sesungguhnya Dia senantiasa mendampingi kita.

Pernahkah Anda bertanya-tanya ke mana Allah membawa Anda? Mazmur 139:16 mengakui kedaulatan tangan Tuhan dalam kehidupan kita: “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.” Kita memang tidak tahu bagaimana Allah akan memakai beragam situasi yang terjadi dalam hidup kita, tetapi kita dapat tetap tenang karena meyakini bahwa Allah tahu segala sesuatu tentang kita dan Dia menuntun langkah kita. Meski tangan-Nya yang berdaulat tampak tersembunyi, sesungguhnya Dia senantiasa mendampingi kita.
Ya Tuhan, tolong aku untuk mempercayai-Mu meski adakalanya aku tidak mengerti.
Apa yang Anda lakukan untuk mengenali pimpinan Allah atau melangkah sesuai dengan panggilan-Nya bagi hidup Anda?
Oleh Poh Fang Chia | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Daud menulis Mazmur 139 sebagai penyembahan kepada Allah, tetapi lagunya juga merupakan landasan teologi proper—yakni doktrin tentang pribadi Allah. Daud memaparkan tiga karakter Allah, dalam istilah teologi disebut “atribut”. Ayat 1 menyatakan Allah yang Mahatahu: “Engkau menyelidiki dan mengenal aku.” Selanjutnya, Allah Mahahadir—Dia ada di semua tempat pada saat bersamaan: “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?” (ay.7). Pemazmur juga menyatakan kemahakuasaan Allah—yakni kekuatan-Nya tidak terbatas—yang nyata dari cara Dia membentuk kita: “Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku” (ay.13).

Bill Crowder




December 08, 2018, 06:26:56 AM
Reply #2124
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Rumah
  08/12/2018 
Rumah
Baca: Yohanes 14:1-6 | Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 8–10 ; 3 Yohanes


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-08.mp3

Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. —Yohanes 14:2

Baru-baru ini, Patsy, seorang teman yang bekerja sebagai makelar rumah meninggal dunia karena kanker. Sewaktu mengenang kehidupan Patsy, istri saya ingat bahwa bertahun-tahun lalu Patsy pernah membawa seseorang percaya kepada Yesus dan orang itu sekarang menjadi salah satu teman baik kami.

Betapa indahnya mengingat bahwa Patsy tak hanya membantu orang menemukan rumah di dunia ini, tetapi juga membantu mereka mendapat rumah yang kekal.
Hari ini, siapa yang dapat Anda ajak bicara tentang rumah dan kepastian kekal yang mereka butuhkan?

Tatkala Yesus bersiap menuju salib demi kita, Dia menunjukkan perhatian yang besar pada kediaman kita yang kekal. Kata-Nya kepada para murid, “Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu” (Yoh. 14:2). Dia mengingatkan mereka bahwa ada banyak tempat tinggal di rumah Bapa-Nya bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.

Kita senang memiliki rumah yang indah dalam kehidupan ini—tempat yang istimewa bagi keluarga kita untuk makan-minum, beristirahat, dan menikmati kebersamaan. Namun, renungkanlah betapa luar biasanya ketika kita memasuki kehidupan selanjutnya dan melihat bahwa Allah telah menyiapkan rumah kita yang kekal. Terpujilah Allah yang memberi kita kehidupan ”dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10), termasuk kehadiran-Nya bersama kita saat ini dan persekutuan dengan Dia kelak di tempat yang telah disediakan-Nya untuk kita (Yoh. 14:3).

Mengingat apa yang telah Allah sediakan bagi orang percaya, semestinya kita pun tertantang untuk mengikuti jejak Patsy dengan memperkenalkan orang lain kepada Yesus.
Tuhan, selagi kami menantikan rumah yang Engkau siapkan, mampukan kami untuk mengabarkan kepada orang lain bahwa mereka juga dapat menikmati rumah kekal yang Engkau sediakan bagi semua yang percaya kepada Yesus.
Hari ini, siapa yang dapat Anda ajak bicara tentang rumah dan kepastian kekal yang mereka butuhkan?
Oleh Dave Branon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Yohanes 14:1-6 adalah perikop terkenal berisi perkataan Yesus bahwa Dialah jalan, kebenaran dan hidup. Kemudian Dia berbicara tentang kepergian-Nya untuk menyediakan tempat bagi pengikut-Nya. Sebagai orang percaya, kita menantikan saatnya untuk bersama dengan Kristus kelak (ay.3). Namun, perkataan itu pasti terdengar sangat berbeda di telinga murid-murid. Bagi kita, kata-kata tersebut meyakinkan bahwa suatu hari nanti kita akan bertemu muka dengan Yesus, tetapi bagi para murid, pertemuan itu adalah reuni.

Inti perikop ini bukan tempat di rumah Bapa, melainkan kebersamaan dengan Yesus. Dia akan kembali untuk menjemput para pengikut-Nya supaya di mana Dia berada, di situ pula mereka berada (ay.3). Bersama dengan Yesus menjadi penghiburan yang Dia berikan kepada para murid-Nya dahulu, hal yang sama juga Dia tawarkan kepada kita.





December 09, 2018, 04:33:40 AM
Reply #2125
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kasih yang Tak Berkesudahan
  09/12/2018 
Kasih yang Tak Berkesudahan
Baca: Mazmur 136:1-9 | Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 11–12 ; Yudas


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-09.mp3

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. —Mazmur 136:1

“Ayah sayang padamu!” seru ayah ketika saya membanting pintu mobil dan berlari ke gerbang sekolah. Waktu itu, saya masih kelas 6 sekolah dasar, dan selama berbulan-bulan adegan yang sama terjadi setiap pagi. Ayah mengantar saya ke sekolah, lalu beliau akan berkata, “Belajar yang rajin, ya! Ayah sayang padamu!” Namun, jawaban saya hanyalah, “Dah.” Saya tidak sedang marah atau berusaha mengabaikannya, hanya saja saya terlalu sibuk dengan pikiran sendiri, sehingga tidak menyimak kata-katanya. Meski demikian, ayah tetap menyayangi saya.

Seperti itulah kasih Allah—bahkan lebih. Kasih setia-Nya tetap untuk selamanya. Dalam bahasa Ibrani, kasih setia seperti itu disebut hesed. Kata tersebut sering dipakai dalam Perjanjian Lama, dan sebanyak dua puluh enam kali dalam Mazmur 136 saja! Tidak ada kata modern yang dapat merangkum maknanya secara penuh; kita menerjemahkannya menjadi “kebaikan,” “cinta kasih,” “belas kasihan,” atau “kasih setia.” Hesed adalah kasih sayang yang berdasarkan komitmen perjanjian; suatu cinta yang teguh dan setia. Bahkan, di saat umat-Nya berdosa, Allah tetap setia mengasihi mereka. Kasih setia adalah bagian yang tak terpisahkan dari karakter Allah (Kel. 34:6).
Ambillah waktu untuk menunjukkan kasih Allah kepada seseorang hari ini.

Waktu kecil, adakalanya saya menganggap kasih ayah sebagai hal yang biasa saja. Sekarang, adakalanya saya juga memperlakukan kasih Bapa surgawi dengan cara yang sama. Saya lupa mendengarkan Allah dan menanggapi-Nya. Saya lupa mengucap syukur. Namun, saya tahu bahwa kasih setia Allah kepada saya tetap teguh—itulah landasan pasti bagi seluruh kehidupan saya.
Ya Tuhan, kami memuji-Mu karena kasih setia-Mu tak berkesudahan bagi kami! Sekalipun kami tidak setia, Engkau tetap setia.
Ambillah waktu untuk menunjukkan kasih Allah kepada seseorang hari ini.
Oleh Amy Peterson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam tradisi Yahudi, Mazmur 136 dikenal sebagai Hallel Besar (dari kata “Haleluya”, artinya nyanyian pujian). Penulisnya tidak dicantumkan, tetapi beberapa penafsir menduga bahwa yang menulisnya adalah Daud. Kemungkinan besar mazmur sukacita ini dipakai sebagai bacaan atau nyanyian bertanggapan. Jemaat mengulang (atau menyanyikan) bersama-sama refrein “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” setelah penyanyi tunggal atau paduan suara imam dan orang Lewi menyanyikan kalimat pembuka. Lagu ini kemungkinan dipakai pada acara penahbisan Bait Allah yang dibangun Salomo (2 Tawarikh 7:3,6). Berbagai bentuk refrein itu juga terdapat dalam 1 Tawarikh 16:34 dan 2 Tawarikh 5:13; 20:21. Mazmur ini tak hanya menjadi pengingat bagi orang Israel tetapi juga bagi kita saat ini untuk memuji Allah karena semua kebaikan dan perbuatan ajaib-Nya bagi kita yang tiada habisnya.

Alyson Kieda




December 10, 2018, 05:26:47 AM
Reply #2126
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

“Kepunyaan Tuhan”
  10/12/2018 
“Kepunyaan Tuhan”
Baca: Yesaya 44: 1- 5 | Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 1– 4 ; Wahyu 1


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-10.mp3

Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. —Roma 8:16

Zaman sekarang, banyak sekali orang yang bertato. Ada tato yang sangat kecil sehingga hampir tidak kelihatan. Ada juga atlet, aktor, hingga orang biasa yang hampir seluruh tubuhnya dipenuhi dengan tato warna-warni berupa tulisan dan gambar. Tren yang menghasilkan pemasukan sebesar 3 milyar dolar AS sepanjang tahun 2014 itu—dan 66 juta dolar untuk usaha penghapusan tato—tampaknya masih akan bertahan lama.

Terlepas dari pandangan Anda terhadap tato, Yesaya 44 merupakan kiasan tentang orang yang menuliskan “Kepunyaan Tuhan” pada tangan mereka (ay.5). Tulisan yang ditulis sendiri itu merupakan puncak dari satu bagian firman yang berbicara tentang pemeliharaan Allah atas orang-orang pilihan-Nya (ay.1). Mereka dapat mengandalkan pertolongan-Nya (ay.2) dan tanah serta keturunan mereka akan penuh dengan berkat (ay.3). Dua kata yang sederhana tetapi dahsyat itu, “Kepunyaan Tuhan”, meneguhkan bahwa umat Allah tahu mereka adalah kepunyaan-Nya dan bahwa Dia akan senantiasa memelihara mereka.
Bagaimana status Anda sebagai “kepunyaan Tuhan” mempengaruhi cara hidup Anda?

Siapa saja yang datang kepada Allah dengan iman kepada Yesus Kristus boleh dengan yakin berkata bahwa mereka adalah “Kepunyaan Tuhan!” Kita adalah umat-Nya, domba-Nya, anak-Nya, warisan-Nya, dan tempat kediaman-Nya. Itulah yang menjadi pegangan kita dalam melewati berbagai musim kehidupan. Mungkin kita tidak mempunyai tanda yang kelihatan atau tato pada tubuh kita, tetapi yakinlah bahwa kita ini milik-Nya karena Roh Allah sendiri yang menyatakannya di dalam hati kita (Rm. 8:16-17).
Allah Bapa, bukti kasih dan pemeliharaan-Mu ada di sekelilingku, bahkan Roh-Mu tinggal di dalamku. Terima kasih!
Bagaimana status Anda sebagai “kepunyaan Tuhan” mempengaruhi cara hidup Anda?
Oleh Arthur Jackson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Yesaya merupakan salah satu nabi yang paling banyak menulis, tetapi nilai pesan yang disampaikannya lebih penting daripada panjangnya kitab. Menurut John Gill, seorang penafsir, “Yesaya lebih cocok disebut penginjil ketimbang nabi… ia paling lengkap dan jelas menulis tentang pribadi Kristus, peran-Nya, anugerah, serta kerajaan-Nya; tentang inkarnasi dan kelahiran dari seorang perawan; tentang penderitaan dan kematian-Nya serta kemuliaan-Nya kemudian.”

Fokus Yesaya kepada Mesias dan misi-Nya penting untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Kristus, karena hal tersebut memberi Israel tanda-tanda penting untuk mengenali Kristus dan harapan pasti akan kemenangan yang dijanjikan-Nya.

Bill Crowder



December 11, 2018, 05:59:42 AM
Reply #2127
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Mengharapkan Juruselamat
  11/12/2018 
Mengharapkan Juruselamat
Baca: Matius 13:53-58 | Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 5–8 ; Wahyu 2


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-11.mp3

“Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria?” —Matius 13:55

Montir itu tampak masih muda—terlalu muda untuk membereskan mesin mobil kami yang tidak bisa menyala. Dalam keraguan, suami saya, Dan, berbisik, “Ia masih kecil.” Ketidakpercayaannya kepada montir itu mirip seperti gerutuan orang banyak di Nazaret yang meragukan Yesus.

“Bukankah Ia ini anak tukang kayu?” tanya mereka (Mat. 13:55) ketika Yesus mengajar di rumah ibadah. Sambil mencemooh, warga kota itu heran melihat seseorang yang mereka kenal bisa menyembuhkan dan mengajar. Mereka pun bertanya, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?” (ay.54). Alih-alih percaya kepada Yesus, mereka merasa terganggu oleh kuasa yang ditunjukkan-Nya (ay.15,58).
Ketika aku meragukan Engkau, ya Tuhan, tolonglah aku yang tidak percaya ini.

Demikian pula kita mungkin sulit mempercayai hikmat dan kuasa Juruselamat kita, terutama untuk hal-hal yang biasa dialami sehari-hari. Ketika tidak mengharapkan pertolongan-Nya, mungkin saja kita akan melewatkan mukjizat-Nya yang mengubahkan hidup kita (ay.58).

Suami saya akhirnya menyadari bahwa bantuan yang ia perlukan sudah ada di hadapannya. Ia mau menerima pertolongan anak muda itu dan mengizinkannya memeriksa aki mobil tua kami. Hanya dengan mengganti satu baut, montir itu pun dapat menyalakan mesin mobil dalam sekejap. Mesin menderum dan lampu-lampu menyorot terang. “Lampunya terang sekali seperti pada hari Natal,” kata Dan.

Itulah yang kita harap akan dialami ketika Sang Juruselamat membawa cahaya, kehidupan, dan pertolongan yang selalu baru dalam perjalanan kita sehari-hari bersama-Nya.
Ketika aku meragukan Engkau, ya Tuhan, tolonglah aku yang tidak percaya ini.
Hal praktis apa yang bisa Anda lakukan untuk mengingatkan diri sendiri maupun orang lain bahwa Allah sanggup dan berdaulat penuh?
Oleh Patricia Raybon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Yesus adalah Mesias yang telah lama dinantikan, Dia yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama untuk menyelamatkan umat Allah dan memerintah dengan adil. Kata “Mesias” (dari bahasa Yunani messias) hanya dipakai dua kali dalam Perjanjian Baru—Yohanes 1:41 dan 4:25. Yohanes sangat berhati-hati dalam menerjemahkan kata itu untuk pembacanya: “Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)" (1:41). Nama “Kristus” (christos) berarti “yang diurapi.” Dalam PB, kata ini sepadan dengan “Mesias” dan dipakai berulang kali mulai dari Matius 1:1, “Inilah silsilah Yesus Kristus (christos), anak Daud, anak Abraham.” Mesias/Kristus memiliki arti majemuk yaitu Yesus, Allah sekaligus manusia, Raja yang telah dibangkitkan dari maut dan ditinggikan di sebelah kanan Allah Bapa (Kisah Para Rasul 2:32-36).

Arthur Jackson






December 12, 2018, 05:35:27 AM
Reply #2128
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Resep Hidup
  12/12/2018 
Resep Hidup
Baca: Roma 7:14-25 | Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 9–11 ; Wahyu 3


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-12.mp3

Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. —Roma 7:15

Seorang rekan kerja mengaku bahwa ia tidak merasa dirinya layak diselamatkan oleh Tuhan. Saya mendengarkan penuturannya tentang bagaimana ia hidup selama ini dengan begitu nyaman dan bersenang-senang, tetapi hal-hal itu ternyata tak memuaskannya. “Masalahnya, saya sudah berusaha menjadi orang baik, bahkan peduli kepada orang lain, tetapi rasanya semua itu percuma. Hal baik yang ingin saya lakukan justru tidak mampu saya lakukan, tetapi hal buruk yang kubenci, itulah yang terus kulakukan.”

“Apa resep hidupmu?” tanyanya dengan penuh kesungguhan. “Resepnya . . .” jawab saya, “sebenarnya tidak ada. Seperti kamu, saya juga tidak mampu hidup menurut standar Allah. Karena itu, kita memerlukan Yesus.”
Tanpa Yesus, takkan ada keselamatan dan pertumbuhan rohani.

Saya menunjukkan kepadanya perkataan Rasul Paulus dalam Roma 7:15. Ungkapan frustrasi Paulus sering mengena baik kepada orang belum percaya maupun orang Kristen yang merasa harus berusaha membuat diri layak di hadapan Allah tetapi tetap gagal juga. Mungkin Anda pun merasakannya. Jika demikian, pernyataan Paulus bahwa Kristuslah sumber keselamatan dan perubahan hidup kita seharusnya menggetarkan jiwa Anda (7:25–8:2). Yesus sendiri telah menyelesaikan karya penyelamatan agar kita terbebas dari hal-hal yang membuat kita frustrasi!

Dosa yang menjadi penghalang antara kita dan Allah telah disingkirkan tanpa usaha kita sama sekali. Keselamatan—dan perubahan hidup yang dikerjakan ROH KUDUS dalam proses pertumbuhan kita—adalah kehendak Allah bagi semua orang. Dia mengetuk pintu hati kita. Izinkanlah Dia masuk. Dialah “resep” hidup kita.
Tanpa Yesus, takkan ada keselamatan dan pertumbuhan rohani.
Oleh Randy Kilgore | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam Roma 7:14-26, Paulus secara terbuka menceritakan pergumulan rohani sekaligus keyakinannya yang teguh akan pertolongan dan pengharapan dalam Kristus (7:25). Selanjutnya, dalam Roma 8 dipaparkan pertolongan dan harapan tersebut. Janji penuh pengharapan bahwa “tidak ada penghukuman” (8:1) dikuatkan oleh pelayanan ROH KUDUS (ay.5-27) yang terdapat dalam seluruh Kitab Suci (selain Yohanes 14-16). Keyakinan Paulus akan pertolongan Kristus dan pengharapan bukan teori belaka, melainkan berasal dari ROH KUDUS yang tinggal dalam kita (8:11).

Bill Crowder



December 13, 2018, 05:46:34 AM
Reply #2129
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23169
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Pohon “Menanti Sang Bayi”
  13/12/2018 
Pohon “Menanti Sang Bayi”
Baca: Ratapan 3:1-3,13-24 | Bacaan Alkitab Setahun: Hosea 12–14 ; Wahyu 4


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-13.mp3


Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! —Ratapan 3:22-23

Setelah menghias pohon Natal dengan lampu kerlap-kerlip, saya ikatkan pita merah muda dan biru pada dahan-dahannya. Kami menamainya pohon “Menanti Sang Bayi”. Telah lebih dari empat tahun, saya dan suami menunggu kehadiran seorang bayi melalui proses adopsi. Kali ini kami pasti memperolehnya menjelang Natal!

Setiap pagi, sambil memandang pohon itu, saya berdoa dan mengingatkan diri sendiri akan kesetiaan Allah. Tanggal 21 Desember, kami menerima berita: tak ada bayi yang bisa kami adopsi pada Natal kali ini. Dengan hancur hati, saya berhenti sejenak di depan pohon yang menjadi lambang pemeliharaan Tuhan itu. Saya pun bertanya-tanya, Masihkah Allah setia? Apa salah saya?
Kesetiaan Allah adalah alasan terbaik untuk tetap berharap.

Terkadang, Allah menahan jawaban doa untuk mendisiplin kita. Adakalanya, Dia sengaja menunda untuk memperbarui kepercayaan kita. Dalam kitab Ratapan, Nabi Yeremia menggambarkan hukuman Tuhan atas Israel. Rasa sakitnya nyata: “Anak panah-Nya menembus tubuhku sampai menusuk jantungku” (3:13 BIS). Namun, di tengah semua penderitaan itu, Yeremia menyatakan kepercayaan mutlaknya kepada kesetiaan Allah: “Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (ay. 22-23).

Pohon itu tetap berdiri setelah Natal berlalu dan saya tetap berdoa setiap pagi. Akhirnya, menjelang Paskah, kami menerima seorang bayi perempuan. Allah terbukti selalu setia, meski tidak selalu sesuai dengan waktu atau keinginan kita.

Sekarang, anak-anak saya sudah berusia tiga puluhan, tetapi setiap tahun saya memasang miniatur pohon itu untuk mengingatkan diri dan orang lain untuk tetap berharap pada kesetiaan Allah.
Ya Allah, tolong aku untuk tetap percaya kepada-Mu meski aku tak melihat apa yang sedang Engkau kerjakan, sebab Engkau setia.
Kesetiaan Allah adalah alasan terbaik untuk tetap berharap.
Oleh Elisa Morgan | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kitab Ratapan mengungkapkan dukacita Yerusalem setelah serbuan Babel tahun 587 SM. Tembok Yerusalem diruntuhkan, warganya diangkut ke pembuangan, dan rakyat yang tersisa hidup di tengah puing-puing bekas masa kejayaan, semua itu menelanjangi jiwa bangsa yang tadinya angkuh.

Dalam versi aslinya berbahasa Ibrani, kitab Ratapan terdiri dari 5 bab sajak yang disusun dengan cermat. Komposisinya yang dipoles sangat halus menjadi karya sastra yang melegakan kekalutan suatu bangsa yang emosinya carut marut dan tak tahu bagaimana masa depannya. Satu-satunya harapan yang tersisa adalah dengan percaya bahwa di balik kekelaman yang menimpa bangsa itu, ada Allah yang di masa lampau telah membuktikan bahwa belas kasih dan cinta-Nya tidak pernah berakhir.

Mart DeHaan




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)