Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 125912 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

December 14, 2018, 05:24:18 AM
Reply #2130
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Lagu Cinta dari Surga
  14/12/2018 
Lagu Cinta dari Surga
Baca: Wahyu 5:1-13 | Bacaan Alkitab Setahun: Yoel 1–3 ; Wahyu 5


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-14.mp3

Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. —1 Yohanes 4:19

Tahun 1936, pengarang lagu Billy Hill merilis karya emasnya yang berjudul The Glory of Love (Kemuliaan Cinta). Dalam waktu singkat, seantero negeri pun bernyanyi tentang indahnya melakukan hal-hal sederhana karena cinta kepada sesama. Lima puluh tahun kemudian, pengarang lagu lainnya bernama Peter Cetera menulis lagu romantis dengan judul yang serupa. Ia membayangkan dua insan yang hidup selamanya dan melakukan semuanya—demi kemuliaan cinta.

Wahyu, kitab terakhir dalam Alkitab, menggambarkan tentang sebuah lagu cinta baru yang kelak dinyanyikan oleh semua orang di surga dan bumi (Why. 5:9,13). Namun, lagu itu diawali dengan nada sendu. Yohanes, sang narator, menangis karena tidak melihat adanya jawaban atas persoalan dunia (ay.3-4). Namun, suasana hatinya menjadi lebih cerah dan lagunya semakin bersemangat (ay.12-13) setelah Yohanes melihat kemuliaan dan kisah kasih yang sejati. Seketika ia mendengar seluruh ciptaan memuji sang Raja, Singa dari suku Yehuda yang penuh kuasa (ay.5). Dia telah merebut hati umat-Nya dengan jalan mengorbankan diri-Nya dalam kasih, seperti seekor Anak Domba, untuk penebusan kita (ay.13).
Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. —1 Yohanes 4:19

Lewat lirik lagu-lagu yang paling menyentuh hati di dunia ini, kita melihat bagaimana perbuatan baik yang paling sederhana pun bisa menginspirasi kita untuk bernyanyi. Lewat bagian dari kitab Wahyu tadi kita melihat bahwa kemuliaan kasih yang kita nyanyikan bercerita tentang isi hati Allah kita. Kita bernyanyi tentang Allah karena Dia telah memenuhi kita dengan nyanyian syukur.
Bapa, bantulah kami untuk melihat bahwa tindakan kasih dan kebaikan yang paling sederhana pun dapat mengingatkan kami akan kasih-Mu kepada kami.
Perbuatan sederhana apa yang dapat Anda lakukan hari ini sebagai ucapan syukur Anda kepada Allah?
Oleh Mart DeHaan | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam perikop hari ini, berulang kali muncul kata “layak” (ay.2,4,9,12) yang dipakai untuk menggambarkan Yesus. Apakah arti “layak”? Maknanya terdapat dalam bacaan itu sendiri. Pertama, Yesus layak karena Dia telah menang (ay.8) “sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.” Selanjutnya Yohanes juga menguraikan bagaimana Dia menang. Yesus layak karena Dia telah menang dengan cara disembelih dan menebus umat dengan darah-Nya (ay.9).




December 15, 2018, 05:37:43 AM
Reply #2131
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Mosaik Keindahan
  15/12/2018 
Mosaik Keindahan
Baca: Lukas 1:46-55 | Bacaan Alkitab Setahun: Amos 1–3 ; Wahyu 6


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-15.mp3


Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku. —Lukas 1:46-47

Tatkala duduk di halaman Gereja Visitasi di Ein Karem, Israel, saya sangat tergugah oleh keelokan enam puluh tujuh mosaik bertuliskan perkataan dari Lukas 1:46-55 dalam berbagai bahasa. Bagian Alkitab tersebut umumnya dikenal sebagai Magnificat, bahasa Latin yang artinya “memuliakan”, dan merupakan ungkapan sukacita Maria menanggapi berita bahwa ia akan menjadi ibu dari Sang Mesias.

Setiap plakat berisi pujian Maria tersebut, termasuk: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, . . . karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku” (ay.46-49). Nyanyian Alkitab yang terukir pada potongan mosaik itu adalah lagu pujian Maria yang menceritakan kesetiaan Allah kepadanya dan kepada bangsa Israel.
Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku. —Lukas 1:46-47

Setelah menerima anugerah Allah, Maria bersyukur dan bersukaria karena keselamatannya (ay.47). Ia mengakui bahwa rahmat Tuhan telah diberikan kepada bangsa Israel turun-temurun (ay.50). Sembari mengingat kembali pemeliharaan Allah bagi bangsa Israel, Maria memuji Allah atas perbuatan tangan-Nya yang penuh kuasa bagi umat-Nya (ay.51). Ia juga bersyukur kepada Allah, karena menyadari bahwa pemeliharaan yang ia alami setiap hari itu berasal dari Tuhan (ay.53).

Maria menunjukkan bahwa mengingat-ingat perbuatan besar Allah bagi kita adalah satu cara untuk mengungkapkan pujian dan dapat membuat kita bersukacita. Pada masa Natal ini, ingatlah kebaikan Allah yang telah dialami sepanjang tahun. Keping-keping kenangan itu akan menghasilkan bagi Anda mosaik pujian yang sangat indah.
Bapa, kami memuji-Mu atas perbuatan-perbuatan-Mu yang besar dalam kehidupan kami tahun ini. Kami bersukacita atas rahmat dan pemeliharaan-Mu atas kami.
Buatlah daftar berkat Allah tahun ini dan renungkanlah dalam keheningan. Lalu, ceritakanlah kebaikan-Nya kepada seseorang.
Oleh Lisa Samra | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kelahiran Yesus merupakan mukjizat karena ROH KUDUS membentuk tubuh Yesus di dalam rahim seorang dara. Informasi yang diberikan oleh Lukas ini penting karena Lukas seorang tabib (Kolose 4:14) sehingga ia tahu betul bahwa klaim mengenai kehamilan dan persalinan seorang perawan adalah hal yang terdengar muluk. Namun, Lukas sebelumnya juga menceritakan mujizat kehamilan lain yang terjadi enam bulan sebelum Yesus, yaitu Yohanes Pembaptis (Lukas 1:24-26). Menurut ukuran manusia, Zakharia dan Elisabet, orangtua Yohanes, sudah terlalu tua untuk bisa mempunyai anak (ay.7,18). Namun, dalam kelahiran Yesus dan Yohanes Pembaptis, tampaklah karya Allah yang bekerja, “sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (ay.37).

Bill Crowder



December 16, 2018, 04:29:55 AM
Reply #2132
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Cermin dan Firman
  16/12/2018 
Cermin dan Firman
Baca: Yakobus 1:16-27 | Bacaan Alkitab Setahun: Amos 4–6 ; Wahyu 7


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-16.mp3


Barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya . . . ia akan berbahagia oleh perbuatannya. —Yakobus 1:25

Saat keluar dari tempat penginapan saya di Kampala, Uganda, tuan rumah yang menjemput saya ke acara seminar menatap dengan senyum geli. “Apakah ada yang lucu?” tanya saya. Ia tertawa dan bertanya, “Sudahkah Anda menyisir rambut?” Giliran saya yang tertawa, karena saya memang lupa menyisir rambut, padahal tadi sudah becermin. Bisa-bisanya saya tidak sadar.

Yakobus menggunakan analogi dari kehidupan sehari-hari tentang cermin supaya pembelajaran Alkitab yang kita lakukan lebih memberi dampak. Kita becermin untuk memeriksa adakah yang perlu dikoreksi pada diri kita—rambut sudah disisir, muka sudah dicuci, baju sudah dikancing dengan benar. Seperti cermin, Alkitab membantu kita melihat pada karakter, sikap, pikiran, dan perilaku kita (Yak. 1:23-24). Dengan begitu, kita dapat menyelaraskan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah dinyatakan Allah. Kita mau “mengekang” lidah (ay.26), “mengunjungi yatim piatu dan janda-janda” yang berkesusahan (ay.27), memperhatikan pimpinan ROH KUDUS di dalam kita, dan menjaga diri supaya “tidak dicemarkan oleh dunia” (ay.27).
Seperti cermin memantulkan rupa kita, demikianlah Alkitab menyingkapkan jati diri kita.

Bila kita menyimak dan melakukan “hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang,” kita akan diberkati dalam apa yang kita lakukan (ay.25). Ketika memandang cermin Kitab Suci, kita dapat menerima “dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hati [kita]” (ay.21).
Bapa Surgawi, “singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu” (Mzm. 119:18). Tolong aku menata hidupku sesuai dengan pengajaran-Mu dalam Kitab Suci.
Seperti cermin memantulkan rupa kita, demikianlah Alkitab menyingkapkan jati diri kita.
Oleh Lawrence Darmani | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Definisi agama yang baik dan yang buruk dalam surat Yakobus bukan sekadar bertentangan. Hal ini menarik. Menurut Yakobus, agama yang buruk adalah “tidak mengekang lidah” (ay.26), otomatis kita menduga bahwa agama yang baik tentu berkenaan dengan soal mengekang lidah. Namun, ternyata ia mengatakan bahwa agama yang baik adalah memperhatikan orang-orang yang tak berdaya dan kekurangan, juga tidak dipengaruhi oleh cara hidup dunia.



December 17, 2018, 05:26:36 AM
Reply #2133
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Dari Aib Menjadi Mulia
  17/12/2018 
Dari Aib Menjadi Mulia
Baca: Lukas 1:18-25 | Bacaan Alkitab Setahun: Amos 7–9 ; Wahyu 8


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-17.mp3


Sekarang [Tuhan] berkenan menghapuskan aibku di depan orang. —Lukas 1:25

Natal adalah momen tahunan bagi keluarga untuk berkumpul merayakan kebahagiaan bersama. Namun, ada pula yang merasa segan bertemu dengan sanak dan kerabat tertentu yang suka menanyakan hal-hal ‘sensitif’ seperti “Kapan menikah?” atau “Kapan punya anak?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut seakan mengindikasikan ada yang tidak beres dengan orang yang ditanyai.

Bayangkan kesusahan Elisabet yang tidak mempunyai anak setelah lama menikah. Dalam budayanya, hal itu dipandang sebagai tanda bahwa Allah tak berkenan (lihat 1Sam. 1:5-6), bahkan dianggap sebagai aib. Jadi, meski Elisabet hidup benar di hadapan Allah (Luk. 1:6), tetangga dan kerabatnya mungkin menganggap ia hidup dalam dosa.
Tetaplah hidup bagi Allah dengan setia dan sabarlah menanti penggenapan rencana-Nya atas hidup Anda.

Kendati demikian, Elisabet dan suaminya terus melayani Tuhan dengan setia. Lalu, ketika keduanya telah sangat lanjut usia, terjadilah mukjizat. Allah mendengar doa mereka (ay.13). Allah suka menunjukkan kebaikan-Nya kepada kita (ay.25). Walau tampaknya Allah menunda-nunda, waktu-Nya selalu tepat dan hikmat-Nya selalu sempurna. Bagi Elisabet dan Zakharia, Allah memberikan karunia khusus: seorang anak yang akan mendahului Sang Mesias (Yes. 40:3-5).

Apakah Anda merasa tidak mampu karena tidak punya sesuatu, misalnya gelar sarjana, pasangan, anak, pekerjaan, atau rumah? Tetaplah hidup bagi Allah dengan setia dan sabarlah menanti Dia serta penggenapan rencana-Nya, seperti yang dilakukan Elisabet. Bagaimana pun keadaan kita, Allah terus bekerja di dalam dan melalui diri kita. Dia mengenal hati Anda. Dia mendengar doa Anda.
Tuhan, Engkau selalu setia dan baik. Tolong kami untuk terus percaya kepada-Mu, sekalipun hati kami telah dilukai.
Tetaplah hidup bagi Allah dengan setia dan sabarlah menanti penggenapan rencana-Nya atas hidup Anda.
Oleh Poh Fang Chia | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Zakharia dan Elisabet adalah keturunan Harun (Lukas 1:5). Allah sudah menetapkan bahwa hanya keturunan Harun yang boleh melayani sebagai imam (1 Tawarikh 23:13). Imamat Israel dibagi dalam dua puluh empat kelompok, setiap kelompok bergiliran melayani di Bait Allah selama dua minggu saja setiap tahun (24:1-19). Dengan begitu banyaknya imam, dilakukan undian guna menentukan imam mana yang mendapat kesempatan sekali seumur hidup untuk membakar ukupan di dalam Bait Suci. Zakharia mendapatkan kesempatan tersebut, ditambah lagi berita malaikat tentang kelahiran anak di hari tuanya, momen itu pasti merupakan puncak kehidupan Zakharia (Lukas 1:8-13,18). Gabriel, panglima malaikat yang juga memberitahu Daniel tentang arti penglihatan “mengenai akhir zaman” (Daniel 8:19) sekarang muncul di hadapan Zakharia, yang namanya berarti “Tuhan telah mengingat.” Allah mengingat janji-Nya untuk mengirim Mesias dan sekarang mulai menggerakkan peristiwa-peristiwa akhir zaman.




December 18, 2018, 04:57:15 AM
Reply #2134
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kebangkitan Agung
  18/12/2018 
Kebangkitan Agung
Baca: Ulangan 34:1-8 | Bacaan Alkitab Setahun: Obaja ; Wahyu 9



https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-18.mp3

Mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. —1 Tesalonika 4:14

Ada kenangan berharga ketika berkunjung ke rumah sahabat keluarga kami sewaktu anak-anak masih kecil. Orang-orang dewasa seperti kami biasa berbincang-bincang sampai larut malam, sementara anak-anak yang kelelahan bermain meringkuk tertidur di sofa atau di kursi.

Ketika tiba waktunya pulang, saya akan menggendong anak-anak dalam pelukan, membawa mereka ke mobil, membaringkan mereka di kursi belakang, lalu pulang. Sesampainya di rumah, saya membopong mereka lagi, menaruh mereka di tempat tidur, memberi kecupan selamat malam, dan mematikan lampu. Mereka pun bangun keesokan harinya—di rumah mereka sendiri.
Kematian hanya memindahkan kita dari ikatan waktu ke dalam keabadian. William Penn

Bagi saya, pengalaman itu sarat akan metafora dari peristiwa kita yang “meninggal dalam Yesus” (1Tes. 4:14). Kita hanya akan tertidur sejenak . . . lalu terbangun di kediaman abadi, suatu rumah yang akan memulihkan kita dari segala keletihan hidup yang pernah kita jalani.

Suatu hari, saya membaca teks dari Perjanjian Lama yang mengejutkan. Itu adalah kalimat dari bagian akhir kitab Ulangan: “Lalu matilah Musa, . . . di sana di tanah Moab, sesuai dengan Firman Tuhan” (Ul. 34:5). Dalam bahasa Ibrani, secara harfiah ayat itu berbunyi, “Matilah Musa . . . dengan mulut Tuhan.“ Menurut tafsiran kuno para rabi, frasa itu bisa diartikan “dengan kecupan dari Tuhan.”

Rasanya tidak berlebihan untuk membayangkan bahwa Allah membungkuk, membaringkan kita, lalu memberi kecupan selamat malam pada saat-saat terakhir kita di bumi. Kemudian, seperti kata John Donne, “Berlalulah satu tidur yang singkat, dan kita pun bangun dalam kekekalan.”
Bapa Surgawi, kami dapat tidur dengan damai karena tangan-Mu menggendong kami.
Kematian hanya memindahkan kita dari ikatan waktu ke dalam keabadian. William Penn
Oleh David H. Roper | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kitab Ulangan berisi kata-kata terakhir yang ditulis Musa. Dengan kehangatan seorang ayah yang akan meninggalkan anak-anaknya, ia mengenang bagaimana Tuhan, yang membebaskan mereka dari Mesir, telah secara ajaib memberi mereka makanan, memimpin, dan melindungi orang-orang Israel di padang gurun yang tak berpenghuni (1:1–4:40). Ia mengingatkan mereka tentang Firman Tuhan di Sinai (5:1–26:19). Kemudian Musa juga menjelaskan bahwa keindahan atau kesulitan hidup mereka nanti tergantung pada apakah mereka terus mengingat Allah dan percaya kepada Dia yang telah memimpin mereka ke perbatasan tanah perjanjian (Ulangan 27–30). Musa tentu berduka saat menyampaikan Firman Tuhan—bahwa umat yang ia kasihi akhirnya akan sangat menderita karena melupakan Allah yang telah melakukan begitu banyak hal bagi mereka (31:29). Dengan nyanyian (Ulangan 32) dan berkat (Ulangan 33), Musa mempercayakan Israel kepada Allah dan pimpinan Yosua, bujangnya (Ulangan 34:9).

Mart DeHaan




December 19, 2018, 06:34:03 AM
Reply #2135
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Sepucuk Surat Natal
  19/12/2018 
Sepucuk Surat Natal
Baca: Yohanes 1: 1- 14 | Bacaan Alkitab Setahun: Yunus 1– 4 ; Wahyu 10


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-19.mp3

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. —Yohanes 1:14

Setiap Natal, seorang teman menulis surat panjang untuk istrinya dengan menceritakan kembali peristiwa-peristiwa yang telah dilalui sepanjang tahun dan impian masa depannya. Di dalamnya ia mengungkapkan cinta beserta pujian kepada istrinya. Demikian pula ia menulis surat untuk setiap anaknya. Kata-kata cintanya menjadi hadiah Natal yang tak terlupakan.

Yesus bagaikan surat cinta Natal yang pertama—Firman yang menjadi manusia. Yohanes menekankan kebenaran itu dalam Injil yang ditulisnya: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh. 1:1). Kata “Firman” dalam bahasa Yunani adalah logos, dan dalam filsafat kuno dipahami sebagai pikiran atau tatanan ilahi yang menyatukan alam realitas. Namun, Yohanes memperluas definisi kata logos untuk mengungkapkan Firman itu sebagai pribadi: Yesus, Anak Allah yang “pada mulanya bersama-sama dengan Allah” (ay.2). Firman itu, “Anak Tunggal Bapa,” “telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (ay.14). Melalui Yesus sang Firman, Allah menyingkapkan diri-Nya dengan sempurna.
Yesus, surat cinta Allah kepada kita, telah datang dan berdiam di antara kita.

Selama berabad-abad, para teolog telah bergumul dengan misteri yang indah tersebut. Meski sukar dipahami, kita dapat meyakini bahwa Yesus adalah Firman pembawa terang ke dalam dunia kita yang gelap (ay.9). Jika kita percaya kepada-Nya, kita akan memperoleh kuasa untuk menjadi anak-anak kesayangan Allah (ay.12).

Yesus, surat cinta Allah kepada kita, telah datang dan berdiam di antara kita. Itulah hadiah Natal yang mengagumkan!
Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Firman Allah yang menghadirkan terang ke dalam hidupku. Kiranya aku memancarkan kebaikan dan rahmat-Mu sehingga nama-Mu dipermuliakan.
 
Oleh Amy Boucher Pye | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam catatan kehidupan Yesus, rasul Yohanes mengemukakan sesuatu yang paling ironis: Sang Pencipta datang kepada ciptaan-Nya, tetapi ciptaan-Nya tidak mengenal Dia (Yohanes 1:10). Terlebih lagi, umat pilihan Allah sendiri menolak Mesias mereka: “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya [Israel], tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya” (ay.11).

Jadi, tampaknya kunjungan Yesus ke planet kita tidak sukses. Namun, sesungguhnya banyak orang yang percaya, dan Yohanes menekankan, “Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (ay.12-13).

Tim Gustafson



December 20, 2018, 05:07:20 AM
Reply #2136
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Ikuti Sang Pemimpin
  20/12/2018 
Ikuti Sang Pemimpin
Baca: Lukas 9:21-24 | Bacaan Alkitab Setahun: Mikha 1–3 ; Wahyu 11


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-20.mp3


Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. —Lukas 9:23

Langit di atas rumah kami menderu dengan desingan tiga pesawat tempur yang membentuk formasi sedemikian dekat satu sama lain sehingga terlihat menyatu. Saya dan suami pun berdecak kagum. Kami tinggal di dekat pangkalan Angkatan Udara sehingga pemandangan itu tak lagi asing bagi kami.

Namun, setiap kali melihat pesawat-pesawat jet itu melintas, saya selalu bertanya-tanya: Bagaimana bisa mereka terbang begitu dekat tanpa kehilangan kendali? Ternyata, satu alasan yang jelas adalah kerendahan hati. Karena yakin bahwa pilot yang berperan sebagai pemimpin regu akan terbang persis dalam kecepatan dan lintasan yang seharusnya, para pilot pendamping di sisi kiri dan kanannya tidak akan mengambil arah yang berbeda atau mempertanyakan jalan yang ditunjukkan sang pimpinan. Sebaliknya, mereka mengikuti formasi yang ada dengan persis. Dengan demikian, mereka akan menjadi regu yang lebih kuat.
Hidup kita ibarat jendela—melaluinya, orang lain dapat melihat Yesus.

Demikian pula para pengikut Kristus. Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk. 9:23).

Jalan Yesus adalah penyangkalan diri dan penderitaan yang tak mudah diikuti. Namun, agar menjadi murid yang bertumbuh, kita harus mengesampingkan nafsu mementingkan diri sendiri dan rela memikul tanggung jawab rohani hari demi hari dalam mengikut Yesus—contohnya dengan mendahulukan kepentingan orang lain.

Betapa indahnya berjalan dalam kerendahan hati bersama Allah. Dengan mengikuti pimpinan-Nya dan melekat kepada-Nya, kita akan terlihat menyatu dengan Kristus, sehingga yang tampak bukan lagi kita, melainkan Dia.
Tuhan, bawalah kami dekat pada-Mu. Penuhi kami dengan Roh-Mu yang membawa kasih, sukacita, dan damai sejahtera. Mampukan kami menjadi terang yang bersinar di dunia ini.
Hidup kita ibarat jendela—melaluinya, orang lain dapat melihat Yesus.
Oleh Patricia Raybon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Selama beberapa tahun, Yesus menyatakan jati diri sekaligus misi-Nya, dan murid-murid-Nya yang terdekat sudah mengenal siapa Dia. Namun, saat Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah “Mesias dari Allah” (Lukas 9:20), Dia menanggapinya dengan peringatan “supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun” (ay.21). Yesus mengatakan dengan tegas agar para murid merahasiakan identitas-Nya. Mengapa Dia tidak mau orang-orang mengetahui siapa diri-Nya? Jawabannya mungkin terdapat dalam ayat 22, terutama pada kata “harus.” Menyebarluaskan identitas Yesus bisa menghalangi tujuan besar-Nya. Dia datang untuk berkorban dan mati, jika orang banyak tahu bahwa Dia adalah Mesias, mereka mungkin akan mengambil tindakan yang dapat menghalangi misi tersebut, misalnya menjadikan Dia raja secara paksa (Yohanes 6:15) atau mungkin melempari-Nya dengan batu (10:31). Yesus meminta para murid untuk merahasiakan identitas-Nya demi misi-Nya—“untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45).




December 21, 2018, 06:20:05 AM
Reply #2137
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Jangan Takut!
  21/12/2018 
Jangan Takut!
Baca: Lukas 2:42-52 | Bacaan Alkitab Setahun: Mikha 4–5 ; Wahyu 12


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-21.mp3


Kerajaan Allah sudah dekat. —Markus 1:15

Hampir semua kemunculan malaikat dalam Alkitab didahului dengan perkataan “Jangan takut!” Ini tak mengherankan, sebab ketika makhluk supernatural menampakkan diri, biasanya manusia yang melihatnya akan tersungkur gemetar. Namun, Lukas menceritakan kemunculan Allah dalam rupa yang tidak menakutkan. Allah hadir dalam rupa Yesus yang lahir di antara hewan dan terbaring dalam palungan. Allah mengambil cara yang tak menakutkan. Adakah yang menakutkan dari sosok bayi baru lahir?

Di bumi, Yesus adalah Allah sekaligus manusia. Sebagai Allah, Dia sanggup mengadakan mukjizat, mengampuni dosa, mengalahkan kematian, dan mengetahui masa depan. Namun, bagi orang Yahudi yang terbiasa dengan rupa Allah dalam bentuk awan terang atau tiang api, Yesus menyebabkan kebingungan. Bagaimana mungkin sang bayi di Betlehem, anak tukang kayu asal Nazaret, adalah Mesias dari Allah?
Dalam Yesus, Allah mendekat kepada kita.

Mengapa Allah mengambil rupa manusia? Peristiwa ketika Yesus yang berumur 12 tahun berdebat dengan para rabi di Bait Allah memberikan satu petunjuk. “Semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya,” tulis Lukas (2:47). Untuk pertama kalinya, manusia dapat bercakap-cakap langsung dengan Allah dalam wujud kasatmata.

Yesus bisa berbicara dengan siapa saja—orangtua-Nya, seorang rabi, seorang janda miskin—tanpa harus didahului dengan ucapan ”Jangan takut!” Dalam Yesus, Allah mendekat kepada kita.
Bapa Surgawi, pada Natal kali ini, kami mengingat Anak-Mu yang telah datang ke dunia dalam rupa seorang bayi tak berdaya. Kami menyembah dengan kagum dan takjub karena Allah datang mendekat kepada kami.
Yesus adalah Allah yang menjadi manusia supaya Allah dan manusia dapat kembali berbahagia bersama. George Whitefield
Oleh Philip Yancey | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Perayaan Paskah yang dihadiri oleh Yesus dan keluarga-Nya merupakan salah satu dari tiga pesta tahunan yang wajib diikuti oleh pria Israel (lihat Keluaran 23:14-17). Diperkirakan ada 100.000 orang pengunjung atau lebih datang ke Yerusalem untuk menghadiri acara khusus tersebut. Bacaan hari ini mencatat bagaimana Yesus tiba-tiba menghilang dari rombongan keluarga-Nya (Lukas 2:43-45). Saat itu Dia baru berumur 12 tahun—belum genap memasuki usia dewasa menurut ukuran Israel (yaitu 13 tahun) di mana seorang pria mulai bertanggung jawab penuh untuk menjalankan hukum Taurat—tetapi Dia sudah mengetahui tujuan-Nya (ay.49). Peristiwa awal dalam Bait Allah ketika orang-orang takjub akan pengajaran-Nya (ay.47) sangat bertolak belakang dengan masa akhir pelayanan Yesus, di mana orang banyak tak lagi kagum, melainkan justru ingin membunuh Dia (Lukas 19:45-47).

Arthur Jackson



December 22, 2018, 04:52:29 AM
Reply #2138
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Strategi Kita Hanyalah Berharap
  22/12/2018 
Strategi Kita Hanyalah Berharap
Baca: Mikha 7:1-7 | Bacaan Alkitab Setahun: Mikha 6–7 ; Wahyu 13


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-22.mp3

Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu Tuhan, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku! —Mikha 7:7

Tim sepakbola favorit saya sudah kalah delapan kali berturut-turut pada waktu saya menulis renungan ini. Dengan banyaknya kekalahan, sulit untuk berharap mereka akan bertahan hingga akhir musim. Pelatih sudah mengubah strategi permainannya setiap minggu, tetapi tak juga membuahkan hasil. Dalam percakapan dengan seorang rekan kerja, saya bergurau sambil mengatakan bahwa niat saja tidak akan menjamin terjadinya perubahan. “Harapan bukan strategi,” ledek saya.

Prinsip itu berlaku dalam dunia sepakbola, tetapi dalam kehidupan rohani justru sebaliknya. Berharap, beriman, dan percaya kepada Allah bukan hanya salah satu strategi, melainkan satu-satunya strategi. Dunia kerap mengecewakan kita, tetapi pengharapan dapat mengokohkan kita dalam kebenaran dan kekuatan Allah di tengah pergolakan.
Bagaimana kita dapat tetap berharap pada masa-masa sukar? Menunggu, sambil berdoa dan tetap mengingat Allah.

Nabi Mikha memahami kenyataan ini. Ia patah hati melihat Israel berpaling dari Allah. “Celaka aku! . . . Orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur di antara manusia” (Mi. 7:1-2). Namun, ia kembali memusatkan perhatian kepada pengharapannya yang sejati: “Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu Tuhan, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!” (ay.7)

Bagaimana kita dapat tetap berharap pada masa-masa sukar? Mikha menunjukkannya: dengan menunggu, sambil berdoa dan tetap mengingat Allah. Dia mendengar seruan kita sekalipun kita sedang terpuruk. Dalam situasi itu, strategi kita hanyalah berpaut kepada Allah dan bertindak sesuai dengan pengharapan kita. Itulah satu-satunya strategi yang memampukan kita melewati badai kehidupan.
Bapa, Engkau telah berjanji menjadi sumber kekuatan kami ketika keadaan tampak menakutkan. Tolong kami untuk berseru kepada-Mu dengan iman dan pengharapan, karena kami percaya Engkau mendengar jeritan hati kami.
Bagaimana kita dapat tetap berharap pada masa-masa sukar? Menunggu, sambil berdoa dan tetap mengingat Allah.
Oleh Adam Holz | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mikha bernubuat kepada Israel dan Yehuda selama lebih kurang enam puluh lima tahun selama pemerintahan Yotam, Ahas, dan Hizkia (Mikha 1:1). Ia sezaman dengan Hosea yang bernubuat kepada Israel (Hosea 1:1) dan Yesaya yang melayani kerajaan Yehuda (Yesaya 1:1). Mikha mengecam umat Allah yang menyembah berhala, melakukan kebejatan moral, dan penindasan (Mikha 1:7; 2:1-2; 3:9-11), serta memperingatkan mereka akan hukuman Allah. Ia memanggil umat untuk “berlaku adil, mencintai kesetiaan” (Mikha 6:8). Nubuatannya bahwa Israel akan dihancurkan (Mikha 1:6) terjadi pada tahun 722 SM (2 Raja-raja 17:5-7). Mikha juga memperingatkan bahwa “Yerusalem akan menjadi timbunan puing” (Mikha 3:12). Karena Hizkia, raja Yehuda, bertobat, Yerusalem diselamatkan dari serbuan Asyur (2 Tawarikh 32:20-22; Yeremia 26:18-19).




December 23, 2018, 04:44:56 AM
Reply #2139
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22581
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Dalam Kelimpahan atau Kesesakan
  23/12/2018 
Dalam Kelimpahan atau Kesesakan
Baca: Ayub 1:13-22 | Bacaan Alkitab Setahun: Nahum 1–3 ; Wahyu 14


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2018-12-23.mp3


Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan! —Ayub 1:21

Buku Ann Voskamp berjudul One Thousand Gifts (Seribu Anugerah) mendorong para pembaca untuk memikirkan apa yang sudah Tuhan lakukan bagi hidup mereka hari demi hari. Dalam buku itu, ia menulis catatan harian yang berisi limpahnya kemurahan Allah kepadanya dalam anugerah besar maupun kecil, dari yang sederhana seperti keindahan warna-warni busa sabun di tempat cuci piring hingga yang tak terukur seperti keselamatan orang berdosa seperti dirinya (dan kita semua!). Ann menegaskan bahwa bersyukur merupakan kunci untuk melihat Allah di tengah kesengsaraan yang berat sekalipun.

Tokoh Ayub terkenal dengan kisah “sengsaranya”. Kehilangan yang dihadapinya memang pahit dan besar. Sekejap setelah kehilangan seluruh ternaknya, Ayub mendapat kabar kematian sepuluh anaknya sekaligus. Reaksi Ayub mengungkapkan dukacitanya yang mendalam: ia “mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya” (Ayb. 1:20). Perkataannya di tengah kesengsaraan menunjukkan bahwa Ayub tahu arti bersyukur, karena ia mengakui semua miliknya berasal dari Allah (ay.21). Kalau tidak, mana mungkin ia bisa menyembah di tengah kesedihan yang begitu melumpuhkannya?
Bersyukur merupakan kunci untuk melihat Allah di tengah kesengsaraan yang berat sekalipun.

Kebiasaan mengucap syukur setiap hari memang tak dapat menghapus pedihnya penderitaan yang kita rasakan karena kehilangan. Di sepanjang kitab, kita melihat Ayub masih bertanya-tanya dan bergumul untuk mengatasi kepedihannya. Namun, mengenali kebaikan Allah kepada kita—bahkan dalam hal terkecil sekalipun—akan memampukan kita untuk berlutut menyembah Allah yang mahakuasa di tengah kekelaman yang kita jalani di dunia ini.
Ya Allah, Engkaulah Pemberi segala yang baik. Tolong aku untuk mengenali kemurahan-Mu dalam hal terkecil sekalipun dan percaya kepada-Mu di tengah kehilangan dan kesukaran yang kualami.
Cobalah menulis daftar ucapan syukur. Perhatikan bagaimana kebiasaan bersyukur yang dilakukan terus-menerus itu akan mengubah hidup Anda.
Oleh Kirsten Holmberg | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dengan dua gambaran yang sangat kontras, Ayub 1 menampilkan alasan Allah mengizinkan penderitaan. Pertama, kita melihat sukacita dalam keluarga Ayub ketika ia melayani Allah dengan sepenuh hati. Selanjutnya dikisahkan bagaimana Ayub tetap takut akan Allah sekalipun meratapi kehancuran hidupnya.

Monica Brands





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)