Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 117444 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 13, 2019, 04:47:12 AM
Reply #2160
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Nasib Buruk Lobster
  13/01/2019 
Nasib Buruk Lobster
Baca: 1 Tesalonika 5:11-18 | Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 31–32 ; Matius 9:18-38


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-01-13.mp3

Usahakanlah senantiasa yang baik, terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang. —1 Tesalonika 5:15

Ketika seorang sepupu mengajak saya memancing lobster air tawar, saya sangat bersemangat. Namun, saya menyeringai ketika ia memberikan ember plastik. “Tak ada tutupnya?”

“Tidak perlu,” katanya sembari mengambil tongkat pancing dan sebungkus kecil umpan dari irisan daging ayam.
Gereja dapat bertumbuh dan menjadi saksi Kristus lewat kesatuan umat yang saling mengasihi.

Saat mengamati lobster-lobster kecil saling memanjat agar bisa keluar dari ember yang hampir penuh, saya sadar mengapa embernya tak perlu ditutup. Tiap kali seekor lobster berhasil sampai ke mulut ember, lobster-lobster lain di dalam akan menariknya jatuh lagi.

Nasib buruk lobster itu mengingatkan saya pada bahaya dari keegoisan, yaitu ketika kita hanya memikirkan pencapaian pribadi daripada mengejar kebaikan seluruh komunitas. Dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika, Rasul Paulus memahami pentingnya relasi yang saling mendukung dan mengandalkan. Nasihatnya, “Tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang” (1Tes. 5:14).

Setelah memuji jemaat Tesalonika yang telah saling membangun (ay.11), Paulus mendorong mereka agar memperdalam kasih dan kedamaian di antara mereka (ay.13-15). Dengan berusaha menciptakan gaya hidup yang saling mengampuni, berbuat baik, dan berbelaskasihan, hubungan mereka dengan Allah dan sesama akan makin dikuatkan (ay.15,23).

Gereja dapat bertumbuh dan menjadi saksi Kristus lewat kesatuan umat yang saling mengasihi. Ketika umat percaya menghormati Allah, dengan berkomitmen untuk saling membangun daripada menjatuhkan lewat perkataan maupun perbuatan, kita sebagai pribadi maupun komunitas akan terus mengalami pertumbuhan.
Apa yang akan Anda lakukan untuk membangun orang lain? Perhatian dan perbuatan kasih apa yang pernah Anda terima dari saudara seiman?
Oleh Xochitl Dixon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Surat 1 Tesalonika ditulis oleh rasul Paulus kepada gereja yang baru lahir di kota Tesalonika, sebuah koloni Romawi. Tesalonika adalah ibu kota provinsi sekaligus kota terbesar dan terpenting di Makedonia. Karena pelabuhannya yang baik, lokasinya di pusat, dan banyaknya akses ke berbagai jalur, perdagangan di kota Tesalonika pun berkembang pesat. 1 Tesalonika mungkin merupakah salah satu surat Paulus yang pertama, ditulis dari Korintus kira-kira pada tahun 51 atau 52 M. Hanya dua atau tiga tahun sebelumnya, Paulus bersama Silas mengunjungi Tesalonika dalam perjalanan misinya yang kedua dan mendirikan gereja di sana. Menurut Kisah Para Rasul 17:1-4, Paulus baru mengajar di sana selama “tiga hari Sabat” sebelum kehadiran pengacau membuatnya terpaksa lari dari kota. Namun, dalam waktu yang singkat itu, beberapa orang Yahudi dan sejumlah besar orang Yunani yang takut akan Allah “menjadi percaya” dan mengikut Yesus, demikian juga perempuan-perempuan terkemuka. Paulus menulis surat ini untuk menguatkan iman orang-orang yang baru percaya itu serta meyakinkan mereka bahwa Kristus akan datang kembali.

Alyson Kieda





January 14, 2019, 05:25:46 AM
Reply #2161
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Fondasi Pengharapan yang Pasti
  14/01/2019 
Fondasi Pengharapan yang Pasti
Baca: Ibrani 11:1-6 | Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 33–35 ; Matius 10:1-20


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-01-14.mp3


Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. —Filipi 4:19

Pelajaran tentang iman kadang berasal dari hal-hal tak terduga—misalnya yang saya pelajari dari Bear, anjing peliharaan saya. Saya meletakkan mangkuk air milik Bear di sudut dapur. Setiap kali mangkuk besar itu kosong, Bear tidak akan menggonggong atau mengais-ngais bagian dalamnya. Ia hanya berbaring diam di dekat mangkuknya dan menunggu. Kadang, Bear harus menunggu cukup lama, tetapi ia tahu bahwa saya pasti akan masuk ke dapur, melihatnya di pojok, lalu memberikan apa yang ia butuhkan. Keyakinannya yang sederhana itu mengingatkan saya untuk lebih percaya kepada Allah.

Alkitab mengatakan bahwa “iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr. 11:1). Fondasi dari kepercayaan dan keyakinan itu adalah Allah sendiri, yang “memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia” (ay.6). Allah setia memenuhi janji-janji-Nya kepada semua yang percaya dan datang kepada-Nya melalui Yesus Kristus.
Jangan khawatir akan hari esok—Allah ada di sana.

Mempercayai apa “yang tidak kita lihat” itu memang tidak mudah. Namun, kita dapat mengandalkan kebaikan Allah dan pribadi-Nya yang penuh kasih, dengan mempercayai bahwa hikmat-Nya sempurna dalam segala sesuatu—bahkan ketika kita harus menunggu. Allah selalu menepati apa yang Dia janjikan, yakni bahwa Dia akan menyelamatkan jiwa kita dalam kekekalan dan mencukupi kebutuhan kita yang terdalam, dari saat ini sampai selamanya.
Bapa yang mahakuasa, terima kasih untuk kesetiaan-Mu yang selalu menjagaku. Tolong aku untuk mempercayai-Mu dan bersandar pada kasih-Mu yang sempurna.
Jangan khawatir akan hari esok—Allah ada di sana.
Oleh James Banks | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ibrani 11:1 menyatakan keterkaitan erat antara iman dan pengharapan (“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan”). Hubungan ini menjadi dasar bagi semua hal tentang “saksi-saksi iman” dalam Ibrani 11. Dengan pengertian tersebut, setiap peristiwa iman yang dikutip tertambat pada pengharapan yang dipegang oleh setiap orang itu dalam Allah. Pengharapan itulah yang membuat Habel mempersembahkan korban yang lebih baik (ay.4), Henokh berjalan bersama Allah (ay.5), Nuh membuat bahtera (ay.7), Abraham berangkat ke negeri yang jauh (ay.8), dan Ishak dan Yakub memberikan berkat mereka kepada generasi berikutnya (ay.20-21). Semua pernyataan iman itu dilakukan oleh orang-orang yang menantikan pengharapannya digenapi Allah, tempat mereka menaruh iman mereka.

Bill Crowder




January 15, 2019, 05:24:44 AM
Reply #2162
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Lagu di Malam Hari
  15/01/2019 
Lagu di Malam Hari
Baca: Mazmur 42:1-12 | Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 36–38 ; Matius 10:21-42


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-01-15.mp3


Jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. —Roma 8:25

Sepanjang hidupnya, ayah saya merasakan kekosongan. Ia mendambakan kesehatan, tetapi penyakit Parkinson secara perlahan melumpuhkan pikiran dan tubuhnya. Ia mendambakan kedamaian, tetapi tersiksa oleh depresi yang sangat menekan. Ia rindu dikasihi dan dihibur, tetapi sering merasa sendirian.

Namun, ketika membaca Mazmur 42 yang sangat disukainya, ia merasa tidak terlalu kesepian. Seperti ayah, pemazmur sangat memahami rasa rindu yang amat mendalam, suatu kehausan yang tak terpuaskan akan pemulihan (ay.1-3). Pemazmur juga pernah mengalami kesedihan yang sepertinya takkan sirna (ay.4), dan itu membuat masa-masa sukacita hanya tinggal kenangan (ay.7). Seperti ayah saya, ketika gelombang kepanikan dan kesakitan menerjang (ay.8), pemazmur merasa ditinggalkan Allah dan bertanya, “Mengapa?” (ay.10).
Dalam menantikan pemulihan total, tetaplah bersandar pada kasih Allah.

Saat perkataan Mazmur 42 menyentuh hati ayah saya dan meyakinkannya bahwa ia tidak sendirian, ia mulai merasakan teduhnya kedamaian di tengah rasa sakitnya. Ia mendengar suara lembut melingkupinya, suara yang meyakinkannya bahwa meskipun ia tidak tahu apa jawabannya, dan meskipun gelombang penderitaan masih menerjang, ia tetap dikasihi (ay.9).

Mendengar mazmur kasih yang menenangkan di malam hari itu sudah cukup bagi ayah. Cukup baginya untuk mengandalkan sekilas pengharapan, kasih, dan sukacita yang diterimanya. Dengan sabar, ia dapat menantikan hari agung itu ketika semua kerinduannya akan dipenuhi seluruhnya (ay.6,12).
Tuhan, kami tahu Engkau telah menanggung semua penderitaan kami dan kelak akan mengubahnya dalam kebangkitan. Namun, kami masih menantikan pemulihan total. Saat menunggu tibanya hari itu, tolong kami untuk mengandalkan mazmur kasih-Mu.
Dalam menantikan pemulihan total, tetaplah bersandar pada kasih Allah.
Oleh Monica Brands | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Bagi orang yang memegang Perjanjian Baru, pertanyaan dalam Mazmur 42:3, “Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” mungkin terdengar aneh karena kita tahu bahwa kita bisa bertemu Allah setiap waktu. Namun, dalam kepercayaan Israel kuno, kehadiran Allah dibatasi pada suatu tempat khusus—yaitu bait suci. Pemazmur meratapi kenyataan bahwa ia tak bisa lagi beribadah kepada Allah bersama-sama (lihat terutama ayat 4). Seruannya mengungkapkan kerinduan untuk mengetahui kapan ia dapat berjumpa lagi dengan Allah. Alangkah indahnya karunia mengetahui bahwa kini kita dapat selalu menikmati hadirat Allah karena Dia tinggal dalam kita (1 Korintus 6:19).




January 16, 2019, 05:06:27 AM
Reply #2163
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Berbagi Segalanya
  16/01/2019 
Berbagi Segalanya
Baca: Rut 1:11-18 | Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 39–40 ; Matius 11


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-01-16.mp3

Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku. —Rut 1:16

“Aku tak mau berbagi!” jerit anak bungsu saya. Ia tidak rela melepaskan satu saja dari sekian banyak keping LEGO miliknya. Saya tidak habis pikir melihat sikapnya itu. Namun, sejujurnya, sikap kekanak-kanakan itu tak hanya dimiliki oleh anak-anak. Seberapa sering kita sebagai orang dewasa menunjukkan sikap keras kepala lewat keengganan kita untuk memberi dengan tulus dan murah hati kepada orang lain?

Sebagai pengikut Yesus, kita dipanggil untuk berbagi hidup satu sama lain. Rut telah melakukan itu kepada Naomi, mertuanya. Naomi adalah janda miskin yang hampir tak punya apa-apa untuk diberikan kepada Rut. Namun, Rut tetap mengabdikan hidupnya kepada sang ibu mertua, dengan bersumpah bahwa mereka akan selalu bersama dan dalam kematian pun mereka tidak akan terpisahkan. Ia berkata kepada Naomi, ”Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku” (Rut 1:16). Dengan tulus dan murah hati, Rut berbagi hidup dengan mertuanya—ia menunjukkan cinta dan belas kasihnya.
Membagikan kasih Allah dinyatakan lewat kerelaan memperhatikan sesama.

Berbagi hidup seperti itu memang tidak mudah, tetapi ingatlah ada buah dari kemurahan hati. Rut berbagi hidup dengan Naomi, dan kemudian ia melahirkan seorang putra yang menjadi kakek dari Raja Daud. Yesus memberikan nyawa-Nya bagi kita, lalu Dia dimuliakan dan sekarang memerintah di sebelah kanan Allah Bapa di surga. Ketika kita saling berbagi, yakinlah bahwa kita akan mengalami hidup yang jauh lebih indah.
Tuhan Yesus, kiranya hati-Mu yang penuh kasih terpancar saat kami berbagi hidup dengan sesama.
Membagikan kasih Allah dinyatakan lewat kerelaan memperhatikan sesama.
Oleh Peter Chin | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dari segi isi sekaligus penempatannya dalam Alkitab, kitab Rut merupakan jembatan penting antara masa hakim-hakim dan masa nabi raja. Setelah Israel menetap di tanah perjanjian, hakim-hakim dipanggil untuk menarik orang Israel kembali kepada Allah selama masa pemberontakan mereka dari waktu ke waktu. Namun, pada akhirnya seorang raja akan memerintah—meskipun orang Israel menginginkan kerajaan dengan motivasi yang salah. Sebagai pengantar kepada masa kerajaan yang akan datang, kitab Rut (yang peristiwanya terjadi pada masa para hakim memerintah; lihat Rut 1:1) diakhiri dengan menyoroti keturunannya, yaitu Daud (4:22) sebagai suatu “pendahuluan untuk kisah yang akan datang” saat kisah demi kisah dalam Alkitab terungkap nanti.

Bill Crowder




January 17, 2019, 05:23:17 AM
Reply #2164
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 20530
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Tak Bisa Dilepaskan
  17/01/2019 
Tak Bisa Dilepaskan
Baca: Hosea 11:8-11 | Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 41–42 ; Matius12:1-23



https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-01-17.mp3

[Tiada yang] dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. —Roma 8:39

“Satu hal apa yang tak bisa Anda lepaskan?” tanya seorang penyiar radio. Para penelepon memberi sejumlah jawaban menarik. Ada yang menyebutkan keluarga mereka, termasuk seseorang yang menceritakan kenangan tentang istrinya yang sudah wafat. Yang lain menyebutkan impian mereka, seperti menjadi seorang ibu atau berkarir di dunia musik. Kita semua memiliki sesuatu yang sangat berharga—seseorang, impian, harta milik—sesuatu yang tak bisa dilepaskan.

Dalam kitab Hosea, Allah berfirman bahwa Dia takkan melepaskan Israel, umat pilihan-Nya yang sangat berharga. Seperti seorang suami yang penuh kasih terhadap Israel, Allah menyediakan semua kebutuhannya: tempat tinggal, makanan, minuman, pakaian, dan rasa aman. Namun, seperti seorang istri yang berzina, Israel menolak Allah lalu mencari kesenangan dan rasa aman dari sumber yang lain. Semakin Allah memanggil mereka, semakin mereka menjauh dari hadapan-Nya (Hos. 11:2). Meski Israel sangat menyakiti hati-Nya, Allah takkan menyerah atas mereka (ay.8). Dia akan menghukum Israel untuk kemudian menebus mereka; Dia rindu membangun kembali hubungan dengan mereka (ay.11).
Allah selalu menerima anak-Nya yang kembali kepada-Nya.

Semua anak Allah dapat memiliki kepastian yang sama saat ini: kasih-Nya kepada kita membuat-Nya takkan pernah melepaskan kita (Rm. 8:37-39). Ketika kita menjauh dari Allah, Dia mendambakan agar kita kembali kepada-Nya. Ketika Allah menghukum kita, itulah tanda pengejaran-Nya, bukan penolakan-Nya. Kita ini milik-Nya yang berharga; Dia takkan pernah melepaskan kita.
Bapa Surgawi, terima kasih atas kasih-Mu yang tak pernah melepaskanku. Tolong aku untuk mengasihi-Mu dengan segenap hati.
Allah selalu menerima anak-Nya yang kembali kepada-Nya.
Oleh Poh Fang Chia | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Hosea hidup sezaman dengan nabi Yesaya dan Mikha. Wilayah pelayanannya terutama di kerajaan Israel bagian utara (Hosea 1:1). Gaya nubuatnya unik karena pesan Allah ia sampaikan kepada orang Israel tak hanya dengan kata-kata, tetapi juga lewat tindakan simbolis (pasal 1, 3). Hosea diperintahkan untuk menikahi Gomer, seorang perempuan sundal, untuk memperlihatkan bahwa “Umat-Ku sama seperti istrimu itu; mereka tidak setia kepada-Ku, dan meninggalkan Aku." (1:2 BIS). Setelah Gomer berlaku tidak setia, Hosea diperintahkan untuk mengambilnya kembali sebagai isteri dan mengasihinya “seperti [Tuhan] juga mencintai orang Israel” (3:1 BIS). Contoh-contoh tragis tersebut mencerminkan kasih Allah yang tanpa pamrih kepada Israel. Meski Israel berlaku serong, tidak bertobat (pasal 1–3), dan telah diperingatkan akan datangnya hukuman yang mengerikan (pasal 4–10), Allah menjanjikan pemulihan dan berkat. Hal itu menunjukkan betapa besar dan gigih kasih-Nya. Dalam rahmat-Nya, Allah memelihara mereka (11:8-9); dalam kasih karunia-Nya, Dia akan menebus dan memulihkan mereka (ay.10-11).



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)