Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 133358 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

January 23, 2019, 05:29:53 AM
Reply #2170
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/


Berusaha Mengesankan
  23/01/2019 
Berusaha Mengesankan
Baca: Matius 15:1-11,16-20 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 7–8 ; Matius 15:1-20


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-01-23.mp3

Karena dari hati timbul segala pikiran jahat . . . . Itulah yang menajiskan orang. —Matius 15:19-20

Dalam perjalanan karyawisata yang dilakukan oleh suatu kelas perguruan tinggi, seorang dosen sangat pangling melihat salah satu mahasiswi unggulannya. Di kelas, ia biasa memakai sepatu setinggi 15 CM. Namun, saat berjalan dengan sepatu santai, tingginya tak lebih dari 153 CM. “Sepatu bertumit itu adalah tinggi badan impianku,” katanya sambil tertawa. “Tetapi sepatu bot ini adalah diriku apa adanya.”

Tampilan fisik tidak menentukan jati diri kita, karena yang terutama adalah hati. Yesus menegur keras orang Farisi dan ahli Taurat yang sangat mengedepankan aspek lahiriah. Mereka bertanya kepada Yesus mengapa para murid tidak mencuci tangan sebelum makan seperti adat istiadat Yahudi (Mat. 15:1-2). Yesus balik bertanya, “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” (ay.3). Lalu Dia menunjukkan bagaimana mereka berusaha mencari-cari celah hukum untuk mempertahankan harta agar tidak perlu merawat orangtua (ay.4-6), sehingga mereka sesungguhnya tidak menghormati orangtua dan melanggar hukum kelima (Kel. 20:12).

Jika kita mengutamakan tampilan luar dan mencari-cari celah dalam perintah Allah yang sudah jelas, kita sedang melanggar maksud dari hukum yang diberikan-Nya. Yesus berkata, “Dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan,” dan hal-hal buruk lainnya (Mat. 15:19). Hanya Allah yang dapat memberi kita hati yang bersih oleh kebenaran Anak-Nya, Yesus Kristus.
Tuhan, kami cenderung mengandalkan usaha sendiri untuk membuat Engkau dan orang lain terkesan. Tolong kami bersikap tulus dalam semua hubungan kami dan memiliki hati yang dipulihkan lewat pengampunan-Mu.
Allah tidak akan terkesan ketika motivasi kita adalah untuk mengesankan orang lain.
Oleh Tim Gustafson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ketika para pemuka agama di Yerusalem bertanya kepada Yesus perihal murid-murid-Nya yang mengabaikan tradisi membasuh tangan (Matius 15:1-2), Dia mengutip perkataan salah satu nabi mereka. Tujuh ratus tahun sebelumnya, Yesaya telah memperingatkan tentang bahaya menghormati Allah dengan mulut tetapi hati mereka jauh dari-Nya (Yesaya 29:13; Matius 15:7-8). Peraturan agamawi tidak bisa menggantikan air hidup dan pemurnian dari Tuhan Yesus (lihat Yohanes 13:1-17).




January 24, 2019, 05:44:25 AM
Reply #2171
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/Hal Besar
  24/01/2019 
Hal Besar
Baca: Yesaya 58:6-9 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 9–11 ; Matius 15:21-39


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-01-24.mp3
Berpuasa yang Kukehendaki, ialah . . . supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk. —Yesaya 58:6

Seorang kerabat membutuhkan bantuan untuk membayar sewa bulanannya. Keluarga yang dimintai bantuan itu sebenarnya keberatan—apalagi mereka sendiri mempunyai pengeluaran tak terduga pada akhir tahun. Namun demikian, dalam ucapan syukur atas pemeliharaan Allah, mereka menguras tabungan untuk memberikan bantuan. Mereka pun merasa bahagia karena kerabat yang mereka tolong sangat berterima kasih atas bantuan itu.

Kerabat itu memberikan sepucuk kartu terima kasih yang bertuliskan, “Sekali lagi kalian telah begitu bermurah hati, bahkan mungkin tidak menganggapnya sebagai hal yang besar.”

Namun, bagi Allah, menolong orang lain adalah hal besar. Nabi Yesaya menekankan hal tersebut kepada bangsa Israel. Bangsa itu berpuasa, tetapi masih saja berselisih dan berkelahi. Yesaya mengatakan, seharusnya mereka berusaha memerdekakan orang yang tertindas, meringankan beban orang lain, berbagi kepada yang lapar dan yang tidak memiliki pakaian, memberi tumpangan kepada yang membutuhkan tempat tinggal, dan tidak menolak saudara mereka yang memerlukan pertolongan (Yes. 58:6-7).

Pengorbanan seperti itu, kata Yesaya, tak hanya memancarkan terang Allah, tetapi juga memulihkan luka batin kita (ay.8). Ketika keluarga tadi menolong kerabatnya, mereka dihadapkan pada keadaan mereka sendiri dan bertekad untuk mengatur keuangan mereka dengan lebih baik di tahun mendatang. Inilah janji Allah kepada orang yang murah hati, “Aku akan menyertaimu untuk menyelamatkan kamu. Kehadiran-Ku akan melindungi kamu dari segala penjuru” (ay.8 BIS). Pada akhirnya, dengan membantu kerabat, mereka sendiri lebih diberkati. Bagaimana dengan Allah sendiri? Dia telah memberikan segala-galanya dalam kasih.
Tuhan, ajarlah kami bermurah hati dan tolong kami untuk memberi seperti diri-Mu.
Allah memberikan segala-galanya. Marilah mengikuti teladan-Nya.
Oleh Patricia Raybon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Pada zaman Yesaya, orang Israel menjalani kehidupan yang munafik. Yesaya memperingatkan mereka bahwa hidup keagamaan yang mereka pamer-pamerkan justru tidak menyenangkan Allah. “Mereka menyembah Aku setiap hari, . . . Mereka berkata bahwa mereka senang menyembah Aku. . . . Apabila kamu berpuasa, kamu menyiksa dirimu; . . . Sangkamu Aku senang dengan perbuatanmu itu? (58:2,5 BIS). Yesaya membandingkan ritual agamawi dengan kerohanian sejati. Hidup religius tidak sama dengan kebenaran; giat berpuasa bukan wujud kerohanian; kesalehan palsu itu munafik. Yesaya memanggil umat Allah untuk menyenangkan Dia dengan melakukan apa yang benar: Bertindaklah dengan adil dan jangan menindas sesama (ay.3, 6, 9), berhentilah berbantah dan berkelahi (ay.4), tolonglah orang yang tertindas atau terbelenggu oleh keadaan hidup dan kemiskinan (ay.6), bermurah hatilah kepada siapa pun yang membutuhkan (ay.7,10).




January 25, 2019, 05:30:32 AM
Reply #2172
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Sudut Pandang yang Luas
  25/01/2019 
Sudut Pandang yang Luas
Baca: 1 Petrus 2:1-10 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 12–13 ; Matius 16


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-01-25.mp3


Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. —1 Petrus 2:9

Dalam liputan upacara pelantikan presiden Amerika Serikat pertama yang berasal dari keturunan Afrika-Amerika, kamera televisi menyorot kerumunan warga dari hampir dua juta orang yang berkumpul untuk menyaksikan langsung peristiwa bersejarah tersebut. Koresponden CBS News, Bob Schieffer, berkata, “Aspek terbaik dari acara ini adalah sudut pengambilan gambarnya yang luas.” Tak ada cara lain yang lebih baik untuk menyorot kumpulan orang yang membentang dari Monumen Lincoln Memorial sampai ke Gedung Capitol.

Kitab Suci menampilkan sekilas pandang sebuah kumpulan yang jauh lebih besar, yang disatukan oleh iman kepada Yesus Kristus: “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1Ptr. 2:9).

Itu bukanlah gambaran tentang segelintir orang yang memiliki hak istimewa, tetapi tentang sejumlah besar orang dari “tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa” (Why. 5:9) yang telah mengalami penebusan. Hari ini kita tersebar di seluruh muka bumi, dan banyak dari kita yang masih mengalami penganiayaan serta pengucilan karena kesetiaan mereka kepada Yesus. Namun, melalui lensa firman Allah yang memberikan sudut pandang yang luas, kita melihat saudara-saudari seiman dari berbagai penjuru dunia yang bersama kita memuliakan Allah yang telah menebus dan menjadikan kita milik-Nya.

Marilah kita semua memuji Allah yang telah membawa kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib!
Tuhan, Engkau layak menerima segala pujian! Kami, umat-Mu, kagum akan Engkau.
Pujian apa yang akan Anda berikan kepada Allah?
Oleh David C. McCasland | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Pemakaian kata “batu” dalam 1 Petrus 2 sungguh menarik untuk dicermati. Mungkin, permainan kata itu berasal dari nama penulisnya sendiri, Petros, yang berarti “batu karang” atau “batu.” Ia menyebut Yesus sebagai “batu yang hidup” (ay.4) yang berharga di mata Allah. Dia adalah batu penjuru—batu terpenting dalam suatu bangunan (ay.6-7). Dia juga adalah batu sandungan (ay.8), tetapi barang siapa percaya kepada Kristus akan aman tenteram (ay.6). Orang-orang yang percaya kepada Yesus juga disebut batu hidup yang diletakkan di atas batu penjuru untuk pembangunan rumah Allah (ay.5).




January 26, 2019, 05:44:20 AM
Reply #2173
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Bebas dalam Batasan
  26/01/2019 
Bebas dalam Batasan
Baca: Mazmur 119:33-48 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 14–15 ; Matius 17


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-01-26.mp3
Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya. —Mazmur 119:35

Suatu hari di musim dingin, anak-anak saya merengek untuk main seluncuran salju. Suhu saat itu hampir mencapai minus tujuh belas derajat Celcius. Kepingan-kepingan salju menerpa jendela kami. Saya mempertimbangkan sejenak permohonan mereka, lalu mengizinkan mereka—dengan syarat mereka harus berpakaian tebal, tidak boleh berjauhan, dan tidak boleh lebih dari 15 menit.

Karena kasih, saya membuat aturan itu supaya anak-anak saya bisa bebas bermain tanpa kedinginan dan membeku di luar. Saya pikir, penulis Mazmur 119 mengenali maksud yang sama dalam diri Allah ketika ia menuliskan dua ayat yang berurutan tetapi yang seakan bertentangan: “Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa, untuk seterusnya dan selamanya” lalu “Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu” (ay.44-45). Mengapa pemazmur menghubungkan kelegaan dengan kehidupan rohani yang menaati hukum-hukum Allah?
Ketika hati dipenuhi kasih, kita akan taat kepada Allah dengan rela.

Dengan mengikuti instruksi Allah yang penuh hikmat, kita dapat terhindar dari konsekuensi yang mengikuti pilihan buruk yang akan kita sesali di kemudian hari. Tanpa beban rasa bersalah atau kepedihan, kita menjadi lebih lega dan bebas menikmati hidup kita. Allah tidak ingin mengendalikan kita dengan berbagai aturan tentang apa yang boleh atau tidak boleh kita lakukan; sebaliknya, Dia memberikan tuntunan sebagai bukti kasih-Nya kepada kita.

Saya senang menyaksikan anak-anak saya berseluncur menuruni bukit dengan riang gembira. Mereka bebas bermain dalam batasan yang saya berikan. Paradoks menarik itu juga berlaku dalam hubungan kita dengan Allah—hal itulah yang membuat kita dan pemazmur berkata, “Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya” (ay.35).
Ya Tuhan, ajarku menyukai perintah-perintah-Mu seperti pengalaman pemazmur. Aku ingin memuliakan Engkau lewat pilihan-pilihan yang kuambil setiap hari.
Ketika hati dipenuhi kasih, kita akan taat kepada Allah dengan rela.
Oleh Jennifer Benson Schuldt | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mazmur 119 adalah mazmur terpanjang dalam Alkitab. 176 ayatnya menegaskan otoritas, kecukupan, dan kuasa firman Allah dalam hidup orang percaya. Meski ditindas dan dianiaya oleh lawan yang kuat (ay.23, 157, 161) yang menghina dan mencelanya (ay.41-42), pemazmur yang tidak disebut namanya itu mendapatkan kekuatan besar serta penghiburan dengan merenungkan dan menaati firman Allah. Dalam ayat 33-48, pemazmur berdoa secara khusus meminta kesetiaan penuh kepada Allah. Dalam tulisannya tentang betapa dalamnya ia mendambakan, bergemar, mengasihi, percaya, merenungkan, dan menuruti firman Allah, ia juga menyebutkan dua hal yang bisa mengancam ibadahnya: laba (ay.36, juga diterjemahkan sebagai “kekikiran” dalam TL, “keinginan menjadi kaya” dalam BIS, atau “cinta akan uang” dalam sebagian versi bahasa lain) dan hal yang hampa (ay.37, atau hal-hal yang tidak bernilai kekal).



January 27, 2019, 04:58:58 AM
Reply #2174
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Orang Baik dari Berbagai Bangsa
  27/01/2019 
Orang Baik dari Berbagai Bangsa
Baca: Ester 4:5-14 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 16–18 ; Matius 18:1-20


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-01-27.mp3

Mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu. —Ester 4:14

Di Yad Vashem, Museum Peringatan Holocaust di Yerusalem, saya dan suami mengunjungi taman Orang Baik dari Berbagai Bangsa, yang dibangun untuk menghormati mereka yang mempertaruhkan nyawa dalam menyelamatkan orang Yahudi selama peristiwa Holocaust. Di sana, kami bertemu sekelompok orang dari Belanda. Seorang wanita dari rombongan itu datang untuk melihat nama kakek dan neneknya yang tercantum pada plakat besar. Karena penasaran, kami pun bertanya tentang kisah keluarganya.

Kakek nenek wanita itu—Pdt. Pieter dan Adriana Müller—adalah anggota jaringan perlawanan yang mengadopsi seorang anak laki-laki Yahudi berumur dua tahun menjadi putra bungsu mereka pada tahun 1943–1945.
Kiranya Allah memberi kita keberanian melakukan yang benar.

Tersentuh oleh ceritanya, kami lalu bertanya, “Apakah anak itu selamat?” Seorang pria yang lebih tua dalam rombongan tadi menyahut, “Sayalah anak itu!”

Keberanian banyak orang untuk menyelamatkan orang Yahudi itu mengingatkan saya pada Ratu Ester. Ia mungkin sempat berpikir bisa lolos dari keputusan Raja Ahasyweros untuk memusnahkan orang Yahudi pada sekitar tahun 475 SM karena ia berhasil menyembunyikan asal-usulnya. Namun, Ester akhirnya tergerak untuk bertindak—meski risikonya mati—ketika sepupunya memohon agar Ester tidak mengabaikan asal-usulnya sebagai orang Yahudi, sebab ia ditempatkan pada posisinya sebagai ratu “justru untuk saat yang seperti ini” (Est. 4:14).

Kita mungkin belum pernah didesak membuat keputusan hidup-mati seperti itu. Namun, adakalanya kita menghadapi pilihan untuk menentang ketidakadilan atau tetap diam; untuk membantu seseorang yang mengalami kesulitan atau menutup mata. Kiranya Allah memberi kita keberanian melakukan yang benar.
Bapa, terima kasih atas kasih-Mu bagi orang yang tertindas dan tak berdaya. Tolong kami untuk peka pada tuntunan-Mu agar tahu kapan harus bertindak.
Adakah orang-orang yang perlu Anda bela? Mintalah Allah untuk memberi Anda keberanian bertindak pada waktu yang tepat.
Oleh Lisa Samra | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Karena Allah tidak disebutkan dalam kitab Ester, sebagian orang mempertanyakan mengapa kitab Ester termasuk dalam Firman Tuhan. Salah satu pandangan menyatakan bahwa dalam kitab Ester, kita melihat pemeliharaan Allah bekerja di balik layar, misalnya dalam bacaan hari ini. Tanpa menyatakannya secara eksplisit, melalui kata-katanya kepada Ester (4:13-14), Mordekhai menyatakan bahwa ia percaya kepada Allah dan pengaturan-Nya terhadap peristiwa-peristiwa dunia. Sekalipun Ester tidak membuka mulut, Allah akan memberikan kelepasan dengan cara lain.

Alyson Kieda





January 28, 2019, 06:09:52 AM
Reply #2175
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Pujian Pengubah Suasana Hati
  28/01/2019 
Pujian Pengubah Suasana Hati
Baca: Mazmur 94:2,16-23 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 19–20 ; Matius 18:21-35


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-01-28.mp3

Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku. —Mazmur 94:19

Di suatu stasiun, saat saya menunggu kereta untuk perjalanan yang saya lakukan setiap minggu, pikiran-pikiran negatif memadati benak saya seperti banyaknya penumpang yang mengantre untuk naik kereta—stres karena utang yang melilit, komentar pedas yang ditujukan kepada saya, perasaan tak berdaya dalam menghadapi ketidakadilan yang baru-baru ini dialami kerabat saya. Saat kereta tiba, suasana hati saya pun kacau.

Di dalam kereta, timbul pikiran lain: bagaimana kalau saya menulis sebuah doa kepada Allah sebagai ungkapan ratapan saya. Setelah menuangkan keluh-kesah saya dalam jurnal, saya mengambil ponsel dan mendengarkan lagu pujian yang tersimpan di dalamnya. Tanpa sadar, suasana hati saya yang kacau telah diubah total.
Pujian kepada Allah sanggup meringankan beban terberat sekalipun.

Secara tak sengaja, saya telah mengikuti pola yang digunakan oleh penulis Mazmur 94. Pertama, pemazmur mencurahkan keluhannya: “Bangunlah, ya Hakim bumi, balaslah kepada orang-orang congkak apa yang mereka lakukan! . . . Siapakah yang bangkit bagiku melawan orang-orang jahat, siapakah yang tampil bagiku melawan orang-orang yang melakukan kejahatan?” (Mzm. 94:2,16). Dengan sangat gamblang, pemazmur menceritakan kepada Allah segala ketidakadilan yang dialami para janda dan anak yatim piatu. Sesudah mencurahkan ratapannya, pemazmur beralih menyatakan pujian: “Tetapi Tuhan adalah kota bentengku dan Allahku adalah gunung batu perlindunganku” (ay.22).

Allah mengundang kita untuk membawa ratapan kita kepada-Nya. Dia sanggup mengubah ketakutan, kesedihan, dan ketidakberdayaan kita menjadi pujian yang memuliakan-Nya.
Tuhan, kucurahkan isi hatiku kepada-Mu. Angkatlah kepedihan dan amarahku, lalu berikanlah aku damai sejahtera-Mu.
Pujian kepada Allah sanggup meringankan beban terberat sekalipun.
Oleh Linda Washington | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Banyak doa dicatat dalam Alkitab, tetapi kitab Mazmur secara khusus berisi doa-doa umat kepada Allah secara aktif. Mazmur-mazmur itu penuh dengan ekspresi perasaan umat Allah. Dukacita, sukacita, kebingungan, amarah, keputusasaan, pujian, dan ratapan terlihat dari awal sampai akhir. Kita sering membacanya saat kita memerlukan dorongan untuk menyatakan perasaan kita yang terdalam dan paling jujur kepada Allah. Mazmur tak hanya mengajarkan tentang Allah, tetapi terutama bagaimana cara umat Israel kuno menghampiri Dia, baik secara perorangan maupun berjamaah. Di dalam bait Allah memang ada ritual yang diatur dengan hukum Taurat, tetapi pemazmur menunjukkan Allah sebagai seorang Pribadi yang mengenal setiap individu dan merasakan pergumulan tiap orang secara khusus.




January 29, 2019, 05:33:57 AM
Reply #2176
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Mengoyakkan Langit
  29/01/2019 
Mengoyakkan Langit
Baca: Yesaya 64:1-8 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 21–22 ; Matius 19


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-01-29.mp3

Koyakkanlah langit dan turunlah, ya Tuhan. —Yesaya 64:1 BIS

Dalam suatu percakapan baru-baru ini, seorang teman menceritakan bahwa ia telah meninggalkan imannya dengan alasan yang tak lagi asing bagi saya. Ia mengeluh, Bagaimana aku bisa percaya kepada Allah yang sepertinya tak pernah melakukan apa pun? Kebanyakan dari kita pasti pernah memikirkan pertanyaan serupa, seperti ketika melihat berita tentang tindak kejahatan maupun pengalaman pahit yang kita alami sendiri. Pergumulan yang dialami teman saya mengungkapkan kerinduannya yang besar agar Allah melakukan sesuatu baginya, dan itu adalah kerinduan yang pernah dirasakan oleh kita semua.

Israel tahu betul perasaan itu. Kerajaan Babel telah menaklukkan Israel, menghancurkan mereka dengan tangan besi, dan mengubah Yerusalem menjadi reruntuhan. Nabi Yesaya pun mengungkapkan keraguan orang Israel yang amat mendalam: Di manakah Allah yang seharusnya menyelamatkan kami? (Yes. 63:11-15). Namun, tepat di saat seperti itulah, Yesaya mengucapkan doa yang berani: “Koyakkanlah langit dan turunlah, ya Tuhan” (64:1 BIS). Kepedihan dan kesusahan hati Yesaya tidak membuatnya menjauh dari Allah, melainkan justru semakin mendekat kepada-Nya.
Pertanyaan atau keraguan apa yang ingin Anda nyatakan kepada Allah?

Keraguan dan masalah kita menunjukkan betapa kita telah jauh tersesat dan membutuhkan Allah untuk menjangkau kita kembali. Di sinilah kita melihat tindakan-Nya yang luar biasa dan tak terbandingkan. Dalam Yesus, Allah memang mengoyakkan langit dan turun bagi kita. Kristus menyerahkan tubuh-Nya yang koyak dan hancur agar Dia dapat merengkuh kita dengan kasih-Nya. Dalam diri Yesus, Allah datang kepada kita.
Ya Tuhan, aku sering bersikap seolah-olah aku bisa mengatur sendiri hidupku dan menemukan jawaban atas segala pertanyaan hidupku. Namun, sesungguhnya aku tak bisa. Aku membutuhkan-Mu. Koyakkanlah langit dan turunlah, ya Tuhan!
Pertanyaan atau keraguan apa yang ingin Anda nyatakan kepada Allah?
Oleh Winn Collier | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Nubuat Yesaya menyatakan hati Bapa yang penuh kasih bagi umat yang tersesat (Yesaya 1:1-3). Dalam penglihatan selama berpuluh-puluh tahun lamanya tentang peringatan, penjajahan, dan pembuangan, nabi Yesaya mendorong umatnya agar mengingat bahwa tidak ada bangsa yang pernah melihat ataupun mendengar adanya allah yang bisa membebaskan orang yang menanti-nantikannya, kecuali Allah Israel (64:4). Berabad-abad kemudian, rasul Paulus mengulang perkataan Yesaya dengan sedikit perbedaan. Ia menggambarkan Allah yang kuasa penyelamatan-Nya tiada taranya, yang tak pernah dilihat oleh mata maupun didengar oleh telinga. Dengan merenungkan penyaliban Yesus (1 Korintus 2:2, 8), Paul mengingatkan kita bahwa hanya melalui Roh Kuduslah kita bisa percaya kepada Allah yang sedemikian baiknya hingga rela mati bagi kita (ay.7-16).

Mart DeHaan




January 30, 2019, 05:39:06 AM
Reply #2177
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Alga dan Diatom
  30/01/2019 
Alga dan Diatom
Baca: Ayub 37:14-24 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 23–24 ; Matius 20:1-16


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-01-30.mp3

Diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah. —Ayub 37:14

“Apa itu diatom?” tanya saya kepada seorang kawan sembari melongok ponselnya yang menampilkan foto-foto yang diambilnya lewat mikroskop. “Oh, itu ganggang mirip alga, tetapi lebih sulit untuk dilihat. Untuk melihatnya, lensa harus ditetesi minyak atau diatom itu harus dalam kondisi mati,” katanya. Saya dibuat kagum oleh gambar-gambar itu. Betapa kompleksnya detail dalam suatu makhluk hidup ciptaan Allah yang hanya bisa kita lihat dengan mikroskop!

Ciptaan dan karya Allah sungguh tidak terbatas. Dalam kitab Ayub, salah satu sahabatnya, Elihu, menyatakan hal tersebut saat Ayub bergumul dengan kehilangan yang dialaminya. Elihu menantangnya, “Berilah telinga kepada semuanya itu, hai Ayub, diamlah, dan perhatikanlah keajaiban-keajaiban Allah. Tahukah engkau, bagaimana Allah memberi tugas kepadanya, dan menyinarkan cahaya dari awan-Nya? Tahukah engkau tentang melayangnya awan-awan, tentang keajaiban-keajaiban dari Yang Mahatahu?” (Ayb. 37:14-16). Sebagai manusia, kita takkan sanggup memahami segala kompleksitas Allah dan karya ciptaan-Nya.
Allah senantiasa bekerja.

Bagian-bagian dari alam ciptaan yang tidak bisa kita lihat pun mencerminkan keagungan dan kuasa Allah. Kemuliaan-Nya ada di sekitar kita. Apa pun yang sedang kita alami, Allah terus berkarya, sekalipun kita tak dapat melihat dan memahaminya. Pujilah Allah hari ini, sebab “Ia melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan yang tak terduga, serta keajaiban-keajaiban yang tak terbilang banyaknya” (Ayb. 5:9).
Tuhan, terima kasih atas detail yang Engkau berikan atas alam ciptaan-Mu. Terima kasih juga karena Engkau terus berkarya sekalipun kami tak dapat melihatnya.
Allah senantiasa bekerja.
Oleh Julie Schwab | Lihat Penulis Lain



January 31, 2019, 05:37:56 AM
Reply #2178
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Diangkat Menjadi Anak
  31/01/2019 
Diangkat Menjadi Anak
Baca: Galatia 4:1-7 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 25–26 ; Matius 20:17-34


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-01-31.mp3

Allah mengutus Anak-Nya . . . supaya kita diterima menjadi anak. —Galatia 4:4-5

Saya merasa senang ketika seorang dermawan membangun panti asuhan untuk anak-anak tunawisma. Saya lebih senang lagi ketika orang itu melangkah lebih jauh dan mengangkat salah satu anak itu menjadi anaknya sendiri. Kebanyakan anak yatim piatu sudah merasa bahagia ketika ada yang membiayai hidup mereka. Namun, saat anak itu tahu bahwa sang penyandang dana tak hanya menolongnya, tetapi juga menginginkan dirinya, bayangkan bagaimana perasaannya!

Saat Anda menjadi anak Allah, Anda tentu tahu, karena Anda mengalaminya sendiri. Kita sudah sangat bersyukur bahwa Allah begitu mengasihi kita hingga Dia mengirimkan Anak-Nya agar kita “tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Itu sudah cukup bagi kita. Namun, Allah melangkah lebih jauh. Tindakan Allah “mengutus Anak-Nya, . . . untuk menebus” kita bukanlah tujuan akhir, melainkan Dia ingin “supaya kita diterima menjadi anak” (Gal. 4:4-5).
Anda tak hanya diselamatkan, tetapi juga dikasihi.

Rasul Paulus menyebut kita sebagai “anak” (kata dengan bentuk maskulin dalam bahasa aslinya) karena pada zaman itu, yang mewarisi kekayaan orangtua adalah anak laki-laki. Maksudnya, sekarang siapa saja yang beriman kepada Yesus, baik laki-laki maupun perempuan, akan menjadi “anak” Allah dengan hak penuh sebagai ahli waris yang setara (ay.7).

Allah tidak hanya ingin menyelamatkan Anda. Dia menginginkan Anda. Allah telah mengadopsi Anda ke dalam keluarga-Nya, memberi Anda nama-Nya (Why. 3:12), dan dengan bangga menyebut Anda anak-Nya. Tak seorang pun dapat melebihi kasih-Nya kepada Anda. Allah tak hanya memberkati, tetapi juga mengangkat Anda sebagai anak. Sebagai anak, Anda sangat dikasihi oleh Allah Bapa.
Bapa, alangkah istimewanya dapat menyebut-Mu sebagai Bapa! Terima kasih karena Engkau telah menyelamatkan dan menginginkan diriku.
Anda tak hanya diselamatkan, tetapi juga dikasihi.
Oleh Mike Wittmer | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ungkapan yang diterjemahkan sebagai frasa “diterima menjadi anak” (Galatia 4:5) hanya muncul beberapa kali dalam Perjanjian Baru dan sarat akan makna. Bahasa aslinya adalah huiothesia, sebuah kata Yunani majemuk yang terbentuk dari huios (“putra”) dan thesia (“penempatan”). Adopsi terjadi ketika seorang anak ditempatkan ke dalam suatu keluarga yang tidak mempunyai ahli waris (pada zaman kuno biasanya hanya anak lelaki). Melalui adopsi, seseorang mendapatkan keistimewaan, hak, sekaligus tanggung jawab sebagai anggota keluarga. Paulus memakai istilah “adopsi,” tetapi konsep anggota keluarga juga ada dalam tulisan Yohanes: “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, . . . Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” (1 Yohanes 3:1-2).




February 01, 2019, 05:38:53 AM
Reply #2179
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23981
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kedalaman Kasih
  01/02/2019 
Kedalaman Kasih
Baca: 1 Petrus 4:7-11 | Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 27–28 ; Matius 21:1-22


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-01.mp3


Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. —Roma 5:8

Waktu pertama kali keduanya bertemu, Edwin Stanton memandang rendah presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, secara pribadi maupun profesional. Stanton bahkan menjuluki Lincoln sebagai “mahkluk bertangan panjang”. Namun, Lincoln menghargai kemampuan Stanton dan memaafkannya, bahkan memberi Stanton posisi penting di dalam kabinetnya semasa Perang Saudara. Stanton pun mulai menganggap Lincoln sebagai sahabatnya. Stantonlah yang sepanjang malam berada di samping tempat tidur Lincoln setelah sang presiden ditembak di Gedung Ford’s Theater. Pada saat Lincoln wafat, dengan berlinang air mata Stanton berkata, “Sekarang, ia telah masuk dalam keabadian.”

Perdamaian adalah hal yang indah. Rasul Petrus menganjurkannya kepada para pengikut Yesus lewat tulisannya, “Yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1Ptr. 4:8). Perkataan Petrus membuat saya bertanya-tanya apakah saat itu ia teringat akan penyangkalannya sendiri terhadap Yesus (Luk. 22:54-62) dan pengampunan yang Yesus berikan kepadanya (dan kepada kita) melalui karya-Nya di kayu salib.
Kerelaan Allah untuk mengampuni menjadi ujian terhadap sikap saya sendiri. Oswald Chambers

Kedalaman kasih yang ditunjukkan Yesus melalui kematian-Nya di kayu salib membebaskan kita dari utang dosa dan membuka jalan bagi kita untuk berdamai dengan Allah (Kol. 1:19-20). Pengampunan-Nya memampukan kita mengampuni sesama ketika kita menyadari ketidakmampuan kita untuk mengampuni dengan kekuatan kita sendiri dan meminta Dia untuk menolong kita. Ketika kita mengasihi sesama karena Sang Juruselamat juga mengasihi mereka, dan kita bersedia mengampuni orang lain karena Dia sudah mengampuni kita, Allah akan memberi kekuatan untuk meninggalkan masa lalu dan berjalan maju bersama-Nya untuk mengalami anugerah yang indah dan baru.
Kerelaan Allah untuk mengampuni menjadi ujian terhadap sikap saya sendiri. Oswald Chambers
Oleh James Banks | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Bacaan hari ini mungkin terkesan seperti daftar perintah belaka dari Petrus kepada pembacanya. Namun, pernyataan dalam 1 Petrus 4:11 bernada dorongan atau saran yang menguatkan. Hal itu tampak dalam frasa pembuka, yakni, “Jika ada.” Tantangan Petrus bagi orang-orang yang berbicara (mengajar dan berkhotbah) serta kepada orang yang melayani menunjukkan bagaimana pelayanan tersebut harus dilakukan—yaitu dengan keyakinan. Barang siapa berbicara, hendaknya ia berbicara dengan keyakinan bahwa pesan yang disampaikannya mencerminkan hati dan pikiran Allah, dan para pelayan melakukannya dengan pengetahuan bahwa kekuatan Allah akan menyediakan segala yang diperlukan untuk tugas tersebut. Apakah hasil dari kebergantungan itu? “Supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus.”

Bill Crowder




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)