Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 128963 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

February 12, 2019, 06:02:43 AM
Reply #2190
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Dilihat oleh Allah
  12/02/2019 
Dilihat oleh Allah
Baca: Kejadian 16:7-14 | Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 13 ; Matius 26:26-50


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-12.mp3


Kemudian Hagar menamakan Tuhan yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: “Engkaulah El-Roi.” Sebab katanya: “Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?” —Kejadian 16:13

Kacamata saya yang pertama membuat saya melihat dunia dengan lebih jelas. Saya rabun jauh, artinya benda-benda yang dekat tampak lebih tajam. Tanpa kacamata, objek di seberang ruangan atau dalam jarak tertentu terlihat buram. Pada usia dua belas tahun, dengan kacamata pertama itu, saya terkejut dapat melihat lebih jelas kata-kata di papan tulis, daun-daun kecil di pepohonan, dan mungkin yang paling penting, wajah-wajah yang tersenyum kepada saya.

Melihat teman-teman yang balik tersenyum saat saya menyapa mereka, saya pun sadar bahwa dilihat merupakan karunia yang sama berharganya dengan melihat.
Allah mengenal dan melihat Anda secara pribadi.

Hagar menyadari hal itu ketika ia kabur dari Sara, majikan yang memperlakukannya dengan buruk. Hagar yang “bukan siapa-siapa” pada zamannya, dalam keadaan hamil dan sendirian, melarikan diri ke padang gurun tanpa pertolongan maupun harapan. Namun, karena dilihat oleh Allah, Hagar pun mampu melihat Dia. Allah tak lagi merupakan konsep yang samar, melainkan sungguh nyata bagi Hagar, begitu nyata hingga ia menyebut-Nya El Roi, yang berarti “Engkaulah Allah yang telah melihat aku.” Kata Hagar, “Di sini kulihat Dia yang telah melihat aku” (Kej. 16:13).

Allah yang melihat itu juga memperhatikan kita masing-masing. Apakah Anda merasa tak dianggap, sendirian, atau bukan siapa-siapa? Allah melihat Anda dan masa depan Anda. Oleh sebab itu, pandanglah Dia yang menjadi pengharapan, kekuatan, keselamatan, dan sukacita kita yang selalu nyata—baik untuk hari ini maupun masa mendatang. Pujilah Dia hari ini atas karunia luar biasa yang memampukan kita melihat satu-satunya Allah yang hidup dan sejati.
Ya Tuhan, aku hanyalah satu pribadi kecil di dunia yang besar, tetapi aku bersyukur karena Engkau melihat dan memperhatikanku sehingga aku juga boleh melihat-Mu.
Allah mengenal dan melihat Anda secara pribadi.
Oleh Patricia Raybon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kepastian yang diberikan kepada Hagar oleh Malaikat Tuhan (yang adalah Allah sendiri; Kejadian 16:7,9) mengingatkan kita pada keyakinan yang Allah berikan kepada Abraham bertahun-tahun sebelumnya. Malaikat itu berkata kepada Hagar, “Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu, sehingga tidak dapat dihitung karena banyaknya” (ay.10). Tuhan pernah berfirman kepada Abraham (waktu itu namanya masih Abram) bahwa keturunannya kelak tidak terhitung, seperti bintang-bintang di langit (15:5). Keturunan Hagar adalah anak Abraham (21:11-13), dan Tuhan sangat mempedulikan mereka juga. Rasul Paulus menjelaskan bahwa keturunan Abraham yang sejati adalah orang-orang yang beriman kepada Yesus sang Mesias. “Karena itulah kebenaran berdasarkan iman supaya merupakan kasih karunia, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapa kita semua” (Roma 4:16).

Tim Gustafson




February 13, 2019, 05:36:18 AM
Reply #2191
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Peperangan
  13/02/2019 
Peperangan
Baca: Mazmur 39:1-8 | Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 14 ; Matius 26:51-75
 
 
https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-13.mp3

Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap. —Mazmur 39:8

Di tengah dentuman senjata-senjata artileri yang mengguncang bumi, seorang prajurit muda berdoa dengan sungguh-sungguh, “Tuhan, jika Engkau menyelamatkan aku dari peperangan ini, aku akan masuk ke sekolah Alkitab seperti kemauan ibuku.” Prajurit itu adalah ayah saya. Allah menjawab doanya, dan setelah Perang Dunia ke-2 usai, ayah saya pun masuk kuliah di Moody Bible Institute dan menyerahkan dirinya melayani penuh waktu.

Ada pejuang lain yang mengalami suatu krisis yang membawanya berhadapan dengan Allah, yakni Raja Daud. Namun, masalah Daud timbul justru karena ia menghindari peperangan. Saat pasukannya berperang melawan bani Amon, Daud tinggal di istana dan berbuat lebih jauh daripada sekadar memandang istri orang (lihat 2Sam. 11). Dalam Mazmur 39, Daud mencatat proses pemulihan yang menyakitkan dari dosa keji yang pernah dilakukannya. “Aku kelu, aku diam, aku membisu, . . . tetapi penderitaanku makin berat. Hatiku bergejolak dalam diriku, menyala seperti api, ketika aku berkeluh kesah” (ay.3-4).
Tiada tempat yang lebih baik bagi kita untuk mengadu daripada di dalam doa kepada Allah.

Jiwanya yang hancur membuat Daud merenung: “Ya Tuhan, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku” (ay.5). Saat fokus pikirannya diperbarui, Daud tidak putus asa. Ia tidak berpaling kepada yang lain. “Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap” (ay.8). Daud pun berhasil menang atas pergumulan pribadinya dan masih terus melayani Allah.

Fokus doa kita lebih penting daripada motivasi doa itu sendiri. Allah adalah sumber pengharapan kita. Dia mau kita mencurahkan isi hati kita kepada-Nya.
Bapa, hanya kepada-Mu kami berharap. Ampuni kami karena mencari-cari jawaban di luar Engkau. Bawalah kami mendekat kepada-Mu hari ini.
Tiada tempat yang lebih baik bagi kita untuk mengadu daripada di dalam doa kepada Allah.
Oleh Tim Gustafson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mazmur 38 dan 39 mengungkapkan penyesalan Daud terhadap berbagai kesalahannya yang tidak disebutkan secara spesifik. Mungkin, ia menuliskan mazmur-mazmur itu setelah ditegur karena perzinahannya dengan Batsyeba dan persekongkolannya untuk membunuh Uria (2 Samuel 11–12); kemungkinan lain, mazmur ini mencerminkan penyesalan Daud atas keputusannya mengadakan sensus untuk mengetahui kekuatan militer negara (pasal 24).

Yang jelas, melalui dua ratapannya, raja kedua Israel itu memberikan gambaran hati yang bergejolak (Mazmur 39:4). Semuanya mencerminkan proses pemurnian yang dipakai oleh Roh Allah. Dalam kasih-Nya, Dia membakar habis usaha kita untuk memuaskan atau membela diri sendiri dengan merugikan orang lain. Ketika menyala, api itu menjadi terang. Bagi Daud, kobaran api pelanggarannya juga melalap habis keyakinannya pada kehidupan yang fana ini (ay.5-6) dan kecenderungan manusia untuk menimbun kekayaan materi yang bernilai sementara (ay.7,12).

Mart DeHaan




February 14, 2019, 06:30:50 AM
Reply #2192
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Di Luar Konteks
  14/02/2019 
Di Luar Konteks
Baca: Yohanes 20:13-16 | Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 15–16 ; Matius 27:1-26


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-14.mp3


Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. —Yohanes 20:14

Ketika sedang mengantre masuk ke pesawat, seseorang menepuk pundak saya. Saya pun menengok dan menerima sapaan hangat. “Elisa! Masih ingat aku? Aku Joan!” Saya berpikir keras mengingat-ingat sejumlah “Joan” yang saya kenal, tetapi yang ini tidak kunjung teringat. Apakah ia tetangga lama? Mantan rekan kerja? Oh tidak . . . saya benar-benar lupa.

Melihat kebingungan saya, Joan berkata, “Elisa, kita dulu teman SMA.” Sebuah kenangan muncul: pertandingan-pertandingan sepakbola Jumat malam, dan kami sama-sama menyoraki tim sekolah kami dari bangku penonton. Begitu konteksnya menjadi jelas, saya bisa mengenali Joan.
Nantikanlah Yesus di tempat-tempat yang tak terduga.

Setelah kematian Yesus, Maria Magdalena pergi ke kubur pagi-pagi, lalu mendapati batu sudah terguling dan jasad-Nya tidak ada (Yoh. 20:1-2). Maria berlari menemui Petrus dan Yohanes, lalu mereka ikut bersamanya untuk melihat kubur yang kosong (ay.3-10). Namun, Maria termenung di luar kubur dalam kesedihannya (ay.11). Ketika Yesus muncul di sana, “[Maria] tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus” (ay.14). Maria mengira Dia adalah tukang kebun (ay.15).

Bagaimana mungkin Maria tidak mengenali Yesus? Apakah tubuh kebangkitan-Nya telah jauh berubah sehingga sulit dikenali? Apakah kepedihan membutakannya untuk mengenali Yesus? Atau mungkin, seperti saya, karena Yesus telah berada “di luar konteks”, Dia hidup dan muncul di taman, sedangkan Maria berpikir Dia mati di dalam kubur, sehingga ia tidak mengenali-Nya?

Mungkinkah kita juga melewatkan Yesus ketika Dia datang di tengah keseharian kita—saat kita berdoa atau membaca Alkitab, atau saat Dia berbicara dalam hati kita?
Tuhan, berilah kami mata untuk melihat Yesus, bagaimana pun caranya Dia datang—dalam konteks yang kami kenal maupun dengan cara-cara tak terduga.
Nantikanlah Yesus di tempat-tempat yang tak terduga.
Oleh Elisa Morgan | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam Yohanes 20:13-16, perhatikanlah sebutan yang dipakai oleh setiap orang kepada tokoh lainnya. Maria Magdalena menyebut Yesus sebagai “Tuhanku” (sembari berpikir bahwa Dia telah mati, ay.13), memanggilnya-Nya “Tuan” (dengan menyangka Dia adalah penunggu taman, ay.15), dan “Rabuni” atau “Guru” (ketika mengenali-Nya, ay.16). Yesus menyapa Maria sebagai “Ibu” (ay.15; bahasa aslinya: “Hai wanita”), baru kemudian memanggil namanya (ay.16).

Dengan sebutan “Tuhan,” Maria menunjukkan rasa hormat terhadap Yesus yang dianggapnya sebagai mendiang, bahkan di tengah dukanya, ia menghargai orang yang disangka penunggu taman dengan memanggilnya “Tuan” (bentuk umum dan hormat dari kurios atau “tuan”). Bagi kita, Yesus terdengar tidak ramah bahkan kasar ketika Dia memanggil Maria “hai wanita”. Namun, dalam budaya zaman itu, panggilan tersebut adalah sebutan hormat dan dipakai Yesus untuk menyapa ibu-Nya dalam Yohanes 2:4. Segalanya berubah ketika Yesus menyebut nama Maria dan ia mengenali Yesus sebagai Gurunya yang telah bangkit.

Bill Crowder






February 15, 2019, 06:41:23 AM
Reply #2193
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
 https://santapanrohani.org/

Masuk dalam Peristirahatan
  15/02/2019 
Masuk dalam Peristirahatan
Baca: Mazmur 127:1-2 | Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 17–18 ; Matius 27:27-50


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-15.mp3


Sebab [Allah] memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur. —Mazmur 127:2

Akhirnya, pada 8 Januari 1964, Randy Gardner yang berusia 17 tahun melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama sebelas hari dan dua puluh lima menit: ia tertidur. Ia ingin mengalahkan rekor berapa lama manusia dapat bertahan tanpa tidur dalam Guinness Book World Record. Ditemani minuman ringan, bermain basket, dan boling, Gardner berhasil bertahan tidak tidur selama 1,5 minggu. Ketika menyerah, indera pengecap, penciuman, dan pendengarannya sudah terganggu. Ternyata, beberapa puluh tahun kemudian, Gardner mengidap insomnia akut. Ia menciptakan rekor, tetapi juga membuktikan sesuatu yang pasti: tidur itu penting.

Banyak dari kita bergumul untuk dapat tidur cukup di malam hari. Tak seperti Gardner yang sengaja tidak mau beristirahat, kita mungkin sulit tidur karena sejumlah alasan—antara lain kegelisahan yang menumpuk, khawatir dikejar tenggat, tuntutan orang lain, tekanan dari kehidupan yang serba cepat. Kadangkala sulit bagi kita untuk meredam segala ketakutan itu dan beristirahat.
Mempercayai Allah melenyapkan kegelisahan dan memberikan kita kelegaan.

Pemazmur mengajarkan, “Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya” (Mzm. 127:1). Kerja keras dan upaya kita yang tanpa henti akan berakhir sia-sia jika Allah tidak menyediakan keperluan kita. Syukurlah, Allah setia menyediakan apa yang kita perlukan. Dia “memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur” (ay.2). Kasih Allah menjangkau kita semua. Dia mengundang kita untuk menyerahkan kegelisahan kita kepada-Nya dan masuk dalam peristirahatan-Nya, ke dalam anugerah-Nya.
Tuhan, aku sangat gelisah. Hatiku bergolak. Tolonglah aku mempercayakan hari-hariku, siang dan malam, serta seluruh hidupku kepada-Mu.
Mempercayai Allah melenyapkan kegelisahan dan memberikan kita kelegaan.
Oleh Winn Collier | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mazmur 127:1-2 menyatakan bahwa setiap rencana dan kegiatan manusia tidaklah berarti tanpa keterlibatan Tuhan. Namun, apa artinya “sia-sialah usaha orang yang membangunnya” dan “sia-sialah pengawal berjaga-jaga”? Sia-sia artinya “tanpa tujuan” atau “tidak berguna.” Hal ini bukan berarti rumahnya tidak terbangun atau kotanya tidak terkawal. Yang dimaksudkan ialah bahwa pembangunan rumah dan pengawalan kota itu berada dalam kendali Tuhan. Walaupun kita telah mengupayakan yang terbaik, Tuhanlah yang menentukan hasilnya. Usaha menjadi sia-sia jika kita berpikir bahwa kitalah yang menjadi penentu atas apa yang terjadi pada kehidupan kita.





February 16, 2019, 05:45:33 AM
Reply #2194
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
 https://santapanrohani.org/

Berbuat Baik
  16/02/2019 
Berbuat Baik
Baca: Kisah Para Rasul 9:39-42 | Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 19–20 ; Matius 27:51-56


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-16.mp3

[Tabita] banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. —Kisah Para Rasul 9:36

“Estera, ada hadiah buatmu dari Helen, teman kita!” kata ibu sepulang dari tempat kerjanya. Kehidupan keluarga kami memang tidak berlimpah. Jadi, menerima kiriman hadiah lewat pos terasa seperti hari Natal kembali. Saya merasa dikasihi, diingat, dan dihargai oleh Allah melalui wanita luar biasa yang memberikan hadiah itu.

Janda-janda miskin yang dibuatkan pakaian oleh Tabita (Dorkas) tentu merasakan hal yang sama. Ia adalah murid Yesus yang tinggal di Yope dan terkenal di lingkungannya karena kebaikan hatinya. Tabita “banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah” (Kis. 9:36). Kemudian, ia sakit lalu meninggal. Pada waktu itu, Petrus sedang mengunjungi sebuah kota dekat Yope, maka dua orang dari jemaat pergi menemui Petrus dan memintanya datang ke Yope.
Jadilah bukti nyata dari kebaikan Allah.

Ketika Petrus tiba, para janda yang pernah ditolong Tabita menunjukkan bukti kebaikannya—“semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup” (ay.39). Kita tidak tahu apakah mereka meminta Petrus untuk melakukan sesuatu, tetapi dengan pimpinan ROH KUDUS, Petrus berdoa dan Allah pun membangkitkan Dorkas! Dampak dari kebaikan Allah tersebut adalah “peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan” (ay.42).

Kiranya perbuatan baik yang kita tunjukkan kepada orang-orang di sekitar kita akan mendorong mereka memikirkan tentang Allah dan merasa dikasihi pula oleh Allah.
Tuhan, tolong kami untuk mengikut Engkau dan menunjukkan kebaikan kepada orang-orang di sekitar kami sehingga mereka dapat melihat Engkau dalam diri kami.
Jadilah bukti nyata dari kebaikan Allah; kebaikan yang terpancar di wajah Anda, di mata Anda, di senyum Anda. Bunda Teresa
Oleh Estera Pirosca Escobar | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Yope adalah pelabuhan utama Yudea di pesisir Laut Tengah. Setelah membangkitkan Dorkas, Petrus tinggal di Yope, di rumah Simon si penyamak kulit (Kisah Para Rasul 9:43). Di situ, Petrus naik ke atap untuk berdoa, lalu ia mendapat penglihatan yang menyatakan bahwa berkat keselamatan Allah diberikan kepada orang non-Yahudi juga (10:9-16; 11:18). Kota Yope (Yafo) juga penting dalam kisah Yunus, sebab dari sanalah ia berangkat ke Tarsis guna menghindari perintah untuk memberitakan tentang Allah kepada orang Niniwe (Yunus 1:3). Jadi, ada makna khusus mengapa Allah memanggil Petrus dari Yope supaya ia pergi memberitakan kabar baik kepada bangsa lain (Kisah Para Rasul 10:24-28).








February 17, 2019, 05:12:00 AM
Reply #2195
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Suasana yang Membangun
  17/02/2019 
Suasana yang Membangun
Baca: Roma 15:1-7 | Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 21–22 ; Matius 28


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-17.mp3

Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. —Roma 15:2

Saya bersemangat setiap kali masuk ke pusat kebugaran dekat rumah kami. Tempat yang ramai itu penuh dengan orang-orang yang berusaha meningkatkan kesehatan dan kekuatan fisik mereka. Tulisan-tulisan yang dipajang di sana mengingatkan kami untuk tidak saling menghakimi, tetapi justru mendorong kami untuk memberikan kata-kata dan sikap yang menyemangati upaya orang lain.

Itu sangat tepat menggambarkan kehidupan rohani yang seharusnya kita jalani! Mungkin ada sebagian dari kita yang sedang berupaya untuk berubah dan bertumbuh dalam iman, tetapi kadangkala merasa tidak termasuk dalam komunitas karena kerohanian yang belum matang dan tidak sedewasa saudara-saudara seiman yang lain.
Kata-kata yang membangun dapat menguatkan orang untuk tetap maju di saat mereka hampir menyerah.

Paulus memberikan nasihat yang tegas dan singkat ini: “Nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu” (1Tes. 5:11). Kepada orang percaya di Roma, Paulus berkata, “Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya” (Rm. 15:2). Dengan menyadari kemurahan hati Bapa kepada kita, marilah kita meneruskan kemurahan itu kepada orang lain lewat perkataan dan perbuatan kita.

Ketika kita “menerima satu sama lain dengan senang hati” (Rm. 15:7 BIS), marilah kita juga mempercayakan pertumbuhan rohani kita kepada Allah dan karya ROH KUDUS-Nya. Selagi kita berusaha mengikut Dia setiap hari, kiranya kita menciptakan suasana yang membangun bagi saudara-saudari seiman kita, karena mereka juga sedang berusaha untuk bertumbuh dalam iman.
Tuhan, tolong aku untuk menyemangati orang lain yang kutemui hari ini. Bimbinglah aku untuk tidak mengucapkan hal-hal yang mengecilkan hati, melainkan memacu mereka untuk hidup semakin dekat kepada-Mu dalam kasih-Mu.
Kata-kata yang membangun dapat menguatkan orang untuk tetap maju di saat mereka hampir menyerah.
Oleh Dave Branon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Sebelum menasihatkan tentang kerukunan dan keramahtamahan dalam Roma 15, Paulus terlebih dahulu mempersiapkan hati para pembaca dari pasal sebelumnya. Orang percaya yang sepaham dalam ajaran dasar Kekristenan ternyata saling menghakimi karena perbedaan praktik pola makan dan perhitungan hari-hari baik. Pengajaran Paulus bersifat lugas dan bertujuan untuk mengoreksi mereka. “Janganlah saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!” (14:13). “Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia. Apa yang baik yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah” (ay.15-16). “Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! . . . Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu” (ay.20-21).

Arthur Jackson




February 18, 2019, 05:49:29 AM
Reply #2196
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Berdoa dan Bertumbuh
  18/02/2019 
Berdoa dan Bertumbuh
Baca: Yunus 4 | Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 23–24 ; Markus 1:1-22


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-18.mp3


Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. —Kolose 3:17

Ketika istrinya mengidap penyakit Alzheimer, kawan saya David sangat bergumul dengan berbagai perubahan yang harus dijalaninya. Ia harus pensiun dini, dan ketika penyakit itu semakin parah, istrinya memerlukan perhatian yang lebih besar.

“Aku sangat marah kepada Allah,” katanya kepada saya. “Namun, semakin sering aku mendoakannya, semakin Allah membukakan hatiku dan menunjukkan betapa egoisnya aku dalam pernikahan kami selama ini.” Air matanya berlinang saat ia berkata, “Sudah sepuluh tahun istriku sakit, tetapi Allah menolongku untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Sekarang, aku merawatnya karena cintaku padanya dan karena aku mengasihi Yesus. Merawat istriku adalah kehormatan terbesar dalam hidupku.”
Allah membuat kita bertumbuh ketika kita menyediakan waktu untuk bersekutu dengan-Nya.

Kadang, Allah bukan menjawab doa-doa kita dengan memberikan apa yang kita inginkan, melainkan dengan menantang kita untuk berubah. Ketika Nabi Yunus marah karena Allah menyelamatkan kota Niniwe yang jahat dari kehancuran, Allah menumbuhkan pohon jarak untuk menaungi Yunus dari terik matahari (Yun. 4:6). Lalu, Tuhan membuat pohon jarak itu layu. Saat Yunus mengeluh, Allah menjawab, “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” (ay.7-9). Yunus yang hanya mementingkan dirinya tetap berusaha membenarkan diri. Namun, Allah menantangnya untuk memikirkan orang lain dan mempunyai belas kasihan.

Adakalanya, Allah memakai doa kita dengan cara tak terduga untuk membuat kita belajar dan bertumbuh. Bukalah hati untuk perubahan itu karena Allah ingin mengubah kita dengan kasih-Nya.
Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau menolongku bertumbuh saat aku berdoa. Tolong aku untuk mengenali kehendak-Mu atas hidupku hari ini.
Allah membuat kita bertumbuh ketika kita menyediakan waktu untuk bersekutu dengan-Nya.
Oleh James Banks | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Keengganan Yunus untuk mengampuni musuh-musuhnya mengingatkan kita bahwa hati Allah lebih besar dan lapang daripada hati manusia.




February 19, 2019, 05:45:15 AM
Reply #2197
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Simpan dan Terus Melangkah
  19/02/2019 
Simpan dan Terus Melangkah
Baca: Amsal 15:30-33 | Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 25 ; Markus 1:23-45


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-19.mp3


Orang yang mengindahkan teguran tergolong orang bijaksana. —Amsal 15:31 BIS

Saya teringat nasihat bijak yang pernah diberikan oleh teman saya yang bekerja sebagai penyiar radio. Pada awal kariernya, ketika ia merasa kesulitan untuk menyikapi baik kritik maupun pujian dengan baik, ia merasa Allah mendorongnya untuk menyimpan kedua-duanya dalam hati. Apa yang ia pelajari dari sikapnya tersebut? Ia berkata, “Aku belajar memperbaiki diri lewat kritik dan juga menerima pujian. Aku menyimpan kedua-duanya, lalu berusaha merendahkan hati untuk melangkah lagi dalam anugerah dan kuasa Allah.”

Kritik dan pujian memang membawa dampak besar bagi perasaan kita. Jika perasaan itu dibiarkan, kritik dapat membuat kita membenci diri sendiri, dan sebaliknya, pujian bisa membuat kita tinggi hati. Dalam kitab Amsal tertulis manfaat dari dorongan dan nasihat bijak: “Wajah gembira meriangkan hati, berita yang baik menyegarkan jiwa. . . . Orang yang tidak mau dinasihati, tidak menghargai diri sendiri; orang yang mau menerima teguran, menjadi berbudi” (15:30,32 BIS).
Belajarlah dari pujian maupun kritik, simpanlah kedua-duanya, dan teruslah melangkah.

Ketika menerima teguran, kiranya kita memberi diri untuk diasah olehnya. Amsal berkata, “Orang yang mengindahkan teguran tergolong orang bijaksana” (ay.31). Namun ketika menerima pujian, kiranya kita disegarkan dan hati kita dipenuhi ucapan syukur. Saat kita berjalan dengan rendah hati di hadapan Allah, Dia akan menolong kita belajar dari kritik sekaligus pujian, menyimpan kedua-duanya, dan terus melangkah maju di dalam Dia (ay.33).
Allah Bapa, terima kasih atas pujian dan kritik yang kuterima. Kiranya aku bertumbuh dan diasah oleh kedua hal itu saat aku berserah pada-Mu dalam kerendahan hati.
Belajarlah dari pujian maupun kritik, simpanlah kedua-duanya, dan teruslah melangkah.
Oleh Ruth O'Reilly-Smith | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam kitab Amsal, yang dimaksud orang benar adalah mereka yang berhikmat, sedangkan orang bebal adalah mereka yang fasik (contoh, lihat 10:1-3). Orang yang berhikmat adalah yang menaati Allah dan firman-Nya. Dengan demikian, ia terhindar dari jebakan dan kemerosotan moral. Sebaliknya, orang bebal adalah yang berkata, “Tidak ada Allah” (Mazmur 14:1). Salomo membedakan orang yang bijak dan yang bebal (Amsal 10–15) dengan membandingkan sikap hidup, tindakan, serta perkataan mereka. Amsal 15 menggambarkan orang yang bijak berjalan lurus (ay.21), mencari pertimbangan yang benar (ay.22), berbicara dengan baik dan membawa sukacita (ay.23), hidup dengan saksama (ay.24), rendah hati (ay.25), suci (ay.26), jujur (ay.27), bisa mengendalikan diri (ay.28), senang berdoa (ay.29), dapat dididik (ay.31-32), dan takut akan Tuhan (ay.33). Dasar hidup yang benar seperti ini disebutkan sejak permulaan kitab Amsal yakni 1:7, diulangi dalam 9:10, dan ditekankan lagi pada pasal 15:33. Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan dan hikmat.



February 20, 2019, 05:53:44 AM
Reply #2198
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kirimkan Lewat Surat
  20/02/2019 
Kirimkan Lewat Surat
Baca: Kolose 1:9-12 | Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 26–27 ; Markus 2


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-20.mp3

Sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. —Kolose 1:9

Seperti kebanyakan anak usia empat tahun, Ruby suka berlari, bernyanyi, menari, dan bermain. Namun, ia mulai sering mengeluh tentang rasa sakit di lututnya. Orangtua Ruby pun membawanya ke dokter. Hasilnya mengejutkan—Ruby didiagnosis menderita kanker neuroblastoma (sejenis kanker sel-sel saraf yang belum matang pada anak-anak) stadium 4. Ternyata kesehatan Ruby bermasalah dan ia langsung dirawat di rumah sakit.

Ruby diopname cukup lama, sampai mendekati Natal, masa-masa yang sulit untuk berada jauh dari rumah. Salah satu perawat memiliki ide untuk menempatkan kotak surat di luar kamarnya sehingga kerabat Ruby dapat mengirimkan dukungan doa dan semangat untuknya. Hal ini kemudian tersiar di Facebook, hingga jumlah surat yang masuk dari para sahabat dan orang-orang yang tidak dikenalnya sangat mengejutkan, terutama bagi Ruby. Setiap surat yang masuk (lebih dari 100.000 surat) sangat membangkitkan semangat Ruby, sampai akhirnya ia bisa kembali ke rumah.
Kata-kata kita yang memberi semangat dapat menjadi berkat luar biasa bagi orang lain yang membutuhkannya.

Hal serupa terjadi dengan jemaat di Kolose yang menerima surat Paulus (Kol. 1:2). Kata-kata yang ditulis sang rasul di atas lembaran papirus membawa harapan bagi mereka untuk terus berbuah dan bertumbuh dalam pengetahuan, kekuatan, ketekunan, serta kesabaran (ay.10-11). Dapatkah Anda bayangkan dampak luar biasa dari kata-kata tersebut bagi orang percaya di Kolose? Dengan mengetahui bahwa seseorang mendoakan mereka tanpa henti, mereka pun dikuatkan untuk tetap teguh dalam iman kepada Tuhan Yesus.

Kata-kata kita yang memberi semangat dapat menjadi berkat luar biasa bagi orang lain yang membutuhkannya.
Bagaimana perkataan orang lain telah menguatkan saya? Bagaimana saya dapat menolong orang lain dengan kata-kata yang menguatkan mereka?
Ya Allah, tunjukkan seseorang yang membutuhkan dorongan semangat dan tolonglah aku bertindak sesuai dengan tuntunan-Mu.
Oleh John Blase | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam Kolose 1:9-12, Paulus merangkai pemikiran sebab akibat yang saling berkaitan dengan indah. Ia menggunakan kata “sehingga” untuk menghubungkan pernyataannya (ay.10). Runtutan pemikiran Paulus adalah seperti ini: Mengenali kehendak Tuhan melalui ROH KUDUS (ay.9) menghasilkan pengambilan keputusan dan cara hidup yang memuliakan Dia; mengenal Dia lebih lagi (ay.10) menghasilkan ketekunan, kesabaran, dan ucapan syukur (ay.11-12). Dalam rangkaian perkembangan itu, tampaklah bagaimana rencana Allah bagi pertumbuhan kita—hal yang satu membangun yang lainnya. Patut kita perhatikan bahwa daftar ini diakhiri dengan hasil yang terutama, yaitu ucapan syukur penuh sukacita kepada Allah.



February 21, 2019, 05:26:08 AM
Reply #2199
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 23159
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Persembahan yang Hidup
  21/02/2019 
Persembahan yang Hidup
Baca: Roma 12:1-8 | Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 1–3 ; Markus 3


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-21.mp3


Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup. —Roma 12:1

Bibi buyut saya pernah memiliki pekerjaan yang bagus dalam bidang periklanan dan kerap bepergian antara kota Chicago dan New York. Namun, ia memilih untuk melepaskan karier itu demi kasihnya pada orangtuanya. Mereka tinggal di Minnesota dan perlu dirawat. Kedua saudaranya telah meninggal dengan tragis pada usia muda dan bibi buyut saya adalah satu-satunya anak yang masih hidup. Baginya, merawat orangtua merupakan perwujudan imannya.

Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma menasihatkan orang Kristen untuk menjadi “persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (Rm. 12:1). Ia berharap mereka akan menerapkan kasih Kristus yang rela berkorban kepada satu sama lain. Ia juga meminta mereka untuk tidak menganggap diri lebih tinggi dari yang seharusnya (ay.3). Ketika mereka mengalami perselisihan dan perpecahan, Paulus mengingatkan mereka untuk mengesampingkan keangkuhan mereka, sebab “kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; . . . kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain” (ay.5). Paulus rindu agar mereka saling menunjukkan kasih yang rela berkorban.
Kita menyenangkan Allah dengan melayani orang lain demi nama-Nya.

Setiap hari, kita mendapat kesempatan untuk melayani orang lain. Misalnya, kita dapat mempersilakan orang lain mendahului kita di jalur antrean, atau memberi diri merawat orang sakit, seperti yang dilakukan bibi buyut saya. Kita juga bisa berbagi pengalaman, saran, dan nasihat kepada orang lain. Kita menghormati Allah dengan mempersembahkan diri kita sebagai korban yang hidup.
Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah merendahkan diri dan mengorbankan nyawa-Mu agar aku dapat hidup. Kiranya aku takkan pernah melupakan anugerah dan kasih yang paling berharga tersebut.
Kita menyenangkan Allah dengan melayani orang lain demi nama-Nya.
Oleh Amy Boucher Pye | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Paulus menasihatkan kita, “Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu” (Roma 12:2). Bagaimana rupa dunia yang dimaksud di sini? Paulus tidak menjelaskannya, tetapi kita mendapatkan petunjuknya segera ketika ia mengemukakan masalah kesombongan. Pada ayat 3, ia berkata, “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan.” Selanjutnya, ia menekankan bahwa kita harus mempergunakan karunia-karunia dari Allah untuk hidup dalam kesatuan dan komunitas. “Demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain” (ay.5). Allah memberikan berbagai karunia bukan supaya kita meninggikan diri sendiri melainkan supaya kita bisa saling melayani dalam kasih.

Tim Gustafson




 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)