Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 127573 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

February 22, 2019, 05:41:36 AM
Reply #2200
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22927
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Tuhan Memegang Tangan Kita
  22/02/2019 
Tuhan Memegang Tangan Kita
Baca: Yesaya 41:8-13 | Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 4–6 ; Markus 4:1-20


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-22.mp3


Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan. —Yesaya 41:10

Pada suatu hari Minggu, saya menyaksikan seorang gadis cilik yang tampaknya belum berusia dua tahun berusaha menuruni tangga gereja. Ia sangat lucu, berani, dan mandiri. Satu demi satu anak tangga itu ditapakinya dengan penuh tekad, dan ia berhasil. Saya tersenyum saat memikirkan keberanian dan kemandiriannya. Anak itu tidak takut karena tahu bahwa ibunya yang penuh perhatian selalu mengawasi dan tangan ibunya selalu siap menolong. Hal itu sangat tepat menggambarkan kesiapan Allah untuk menolong anak-anak-Nya di tengah perjalanan hidup mereka yang diwarnai beragam ketidakpastian.

Bacaan Kitab Suci hari ini dua kali berbicara tentang “tangan”. Setelah memperingatkan umat Israel agar tidak takut dan bimbang, Tuhan berkata kepada mereka, “Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yes. 41:10). Anak-anak yang merasa takut dan cemas biasanya akan ditenangkan oleh kekuatan orangtuanya. Di sinilah kita melihat kuasa Allah. Kata “tangan” disebutkan sekali lagi tentang Tuhan yang bekerja untuk menjamin keselamatan umat kesayangan-Nya. “Sebab Aku ini, Tuhan, Allahmu, memegang tangan kananmu” (ay.13). Walau situasi hidup dan zaman telah berubah, Allah tidak pernah berubah. Kita tidak perlu putus asa karena Tuhan masih meyakinkan kita dengan janji-Nya untuk menopang kita (ay.10) dan dengan firman yang sangat kita rindukan, “Janganlah takut” (ay.10,13).
Aku aman, karena tangan Allah selalu memegang tanganku!
Bapa, terima kasih karena Engkau selalu menjagaku.
Aku aman, karena tangan Allah selalu memegang tanganku!
Oleh Arthur Jackson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Tuhan meyakinkan umat Israel bahwa mereka adalah “biji mata-Nya” (Ulangan 32:10). Mereka “dipilih . . . untuk menjadi umat kesayangan-Nya” (7:6). Dia memberi mereka gelar terhormat sebagai “hamba-Ku” seperti yang juga diberikan kepada Musa, sang pemberi hukum Taurat (Maleakhi 4:4), serta Daud, raja mereka yang terkasih (1 Tawarikh 17:7). Secara lahiriah, mereka adalah “keturunan Abraham, yang Kukasihi” (Yesaya 41:8). Abraham adalah satu dari dua orang yang disebut sahabat Allah dalam Perjanjian Lama; yang satunya lagi adalah Musa, sebab Allah berbicara dengannya “seperti seorang berbicara kepada temannya” (Keluaran 33:11). Ayub berharap memiliki seorang pembela dan pendoa syafaat yang akan membelanya di hadapan Allah “seperti seorang yang rela membela sahabatnya” (Ayub 16:21 BIS). Sekarang, kita memiliki Sahabat itu—Tuhan kita Yesus (Yohanes 15:13-15). Kita “bergembira juga atas kebaikan Allah melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Sebab melalui Kristus, kita sekarang menikmati hubungan kita yang baik itu dengan Allah (Roma 5:11 BIS).





February 23, 2019, 05:51:38 AM
Reply #2201
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22927
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16




https://santapanrohani.org/

Hidup dalam Kisah Allah
  23/02/2019 
Hidup dalam Kisah Allah
Baca: Roma 13:8-14 | Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 7–8 ; Markus 4:21-41


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-23.mp3

Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. —Roma 13:12

Ernest Hemingway pernah ditanya apakah ia bisa menulis sebuah kisah yang menyentuh hanya dengan enam kata. Tanggapannya: “Dijual: Sepatu Bayi. Belum pernah dipakai.” Kisah Hemingway itu sangat luar biasa karena kita didorong untuk memikirkan isi ceritanya. Kita pun bertanya-tanya, apakah sang bayi itu sehat sehingga ia tidak memerlukan sepatu itu? Ataukah ada kematian yang tragis—suatu peristiwa yang memerlukan kehadiran kasih dan penghiburan dari Allah?

Kisah-kisah yang terbaik adalah cerita yang memicu imajinasi kita. Jadi, tidaklah mengejutkan apabila kisah terbaik sepanjang sejarah—kisah Allah—akan membangkitkan kreativitas kita. Kisah Allah memiliki alur cerita utama: Dia menciptakan segala sesuatu; kita (manusia) jatuh ke dalam dosa; Yesus datang ke dunia, lalu mati dan bangkit kembali untuk menyelamatkan kita dari dosa; sekarang kita menantikan kedatangan-Nya kembali dan pemulihan atas segala sesuatu.
Jalani peran Anda dalam kisah Allah dengan taat mengikuti tuntunan-Nya.

Setelah mengetahui apa yang telah terjadi di masa silam dan apa yang menanti di masa depan, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup saat ini? Jika Yesus sedang memulihkan seluruh ciptaan-Nya dari cengkeraman Iblis yang jahat, maka kita harus “menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang” (Rm. 13:12). Hal itu mencakup tindakan kita untuk berpaling dari dosa dengan kuasa Allah dan memilih untuk sungguh-sungguh mengasihi Dia dan sesama (ay.8-10).

Cara kita berjuang bersama Yesus dalam melawan kejahatan tergantung pada karunia kita masing-masing dan kebutuhan yang ada di sekitar kita. Pakailah imajinasi dan lihatlah sekeliling Anda. Carilah mereka yang terluka dan menderita, kemudian jadilah saluran kasih, keadilan, dan penghiburan Allah, dengan taat mengikuti tuntunan-Nya.
Bapa, datanglah kerajaan-Mu di bumi dan dalam hidupku.
Jalani peran Anda dalam kisah Allah dengan taat mengikuti tuntunan-Nya.
Oleh Mike Wittmer | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam Roma 13, Paulus menjelaskan jenis-jenis respons yang harus dimiliki oleh orang Kristen terhadap pemerintah yang berkuasa, salah satunya adalah tunduk kepada mereka dan membayar pajak. Mengapa? Karena Allah yang menetapkan setiap pemerintah (ay.1-7). Kemudian, ia menekankan agar kita tidak “berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi” (ay.8). Dengan saling mengasihi, kita memenuhi hukum Taurat yang terangkum dalam perintah ini, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ay.9-10).

Paulus memberi alasan lain mengapa kita harus mengasihi dan berupaya menjalankan prinsip-prinsip hidup saleh yang dijelaskan dalam pasal 12 dan 13. “Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya” (13:11). Waktu kedatangan Kristus yang kedua semakin dekat setiap harinya. Karena itu, marilah kita “hidup dengan sopan” dan “kenakanlah Tuhan Yesus Kristus” (ay.13-14).




February 24, 2019, 04:51:27 AM
Reply #2202
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22927
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kagum dalam Keheningan
  24/02/2019 
Kagum dalam Keheningan
Baca: Mazmur 104:10-24 | Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 9–11 ; Markus 5:1-20


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-24.mp3

Betapa banyak perbuatan-Mu, ya Tuhan, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu. —Mazmur 104:24

Hidup saya sering terasa padat dan sesak, bergerak dari satu kesibukan ke kesibukan lain dengan tergesa-gesa. Di tengah perjalanan, saya menerima telepon sembari memeriksa daftar pekerjaan yang tampaknya tak kunjung habis. Suatu hari Minggu, karena kelelahan, saya memutuskan untuk berbaring di atas tempat tidur gantung yang ada di halaman belakang rumah. Ponsel saya ada di dalam, begitu juga suami dan anak-anak. Semula saya berencana untuk rebah sejenak. Namun, dalam keheningan itu, saya mulai memperhatikan hal-hal yang membuat saya enggan beranjak. Saya bisa mendengar derit ayunan tempat tidur gantung, dengungan lebah di dekat bunga lavender, dan suara kepak burung di atas kepala. Langit berwarna biru cerah, awan berarak ditiup angin.

Air mata saya menetes tatkala menyadari semua yang telah Allah ciptakan. Ketika saya mengambil waktu untuk menyerap banyak hal menakjubkan yang bisa ditangkap oleh mata dan telinga, saya pun tergerak untuk menyembah Allah dalam ucapan syukur atas kuasa penciptaan-Nya. Penulis Mazmur 104 juga dibuat kagum oleh karya tangan Allah, dan ia berseru, “Bumi penuh dengan hasil karya-Mu”(ay.13 BIS).
Kita dilingkupi oleh karya ciptaan Allah yang Mahakuasa.

Di tengah kehidupan yang serba cepat, saat-saat hening yang kita ambil dapat mengingatkan kita pada kuasa penciptaan Allah! Dia melingkupi kita dengan bukti kekuatan sekaligus kelembutan-Nya; Dia menciptakan gunung-gunung yang menjulang dan juga ranting-ranting pepohonan agar burung-burung dapat bertengger. “Semuanya Kaujadikan dengan bijaksana” (ay.24 BIS).
Tuhan, aku kagum pada ciptaan-Mu. Engkau menciptakan segala sesuatu dengan kuasa tak terbatas, dan kami diajak menikmati keindahannya di sekitar kami. Tolong aku untuk menyadari karya-Mu dan menyembah-Mu dalam keheningan.
Kita dilingkupi oleh karya ciptaan Allah yang Mahakuasa.
Oleh Kirsten Holmberg | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mazmur 104 mengumandangkan kuasa, kebesaran, dan keajaiban Allah Israel—sebuah tema yang sering muncul dalam kitab Mazmur. Bagian awal Mazmur 104 bahkan sama dengan Mazmur 103: “Pujilah TUHAN, hai jiwaku.” Namun, walaupun sebagian besar dari mazmur ini serupa dengan nyanyian lainnya, pujian ini unik karena berbicara secara dua arah. Pemazmur bergantian menyapa Allah secara pribadi (dengan sebutan “Engkau”, ay.1-2,24-30) dan bernyanyi kepada jemaat tentang Allah (dengan sebutan “Dia”, ay.3-23,31-35). Pemazmur memuji Allah seraya mengundang pendengarnya—termasuk kita—untuk turut melakukannya!

Bill Crowder




February 25, 2019, 05:44:08 AM
Reply #2203
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22927
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Semangat Fika
  25/02/2019 
Semangat Fika
Baca: Lukas 24:28-35 | Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 12–14 ; Markus 5:21-43


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-25.mp3



Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. —Lukas 24:30

Kedai kopi dekat rumah saya diberi nama Fika, kata dalam bahasa Swedia yang berarti beristirahat dengan menyantap roti dan segelas kopi bersama keluarga, rekan kerja, atau teman-teman. Saya bukan orang Swedia, tetapi kata fika menggambarkan satu hal yang paling saya sukai tentang Yesus—sikap-Nya yang senang mengambil waktu untuk makan dan bergaul dengan orang lain.

Para pakar Alkitab berpendapat bahwa perjamuan makan Yesus bukanlah sesuatu yang dilakukan tanpa tujuan. Teolog Mark Glanville menyebutnya sebagai “hidangan kedua yang menyenangkan” dari pesta dan perayaan yang biasa dilakukan bangsa Israel pada masa Perjanjian Lama. Di meja perjamuan-Nya, Yesus menjadi apa yang dikehendaki Allah dari bangsa Israel, yaitu “sumber sukacita, kemeriahan, dan keadilan bagi seluruh dunia.”
Luangkanlah waktu untuk menikmati Sang Roti Hidup.

Lewat perjamuan yang dilayani Yesus, dari pemberian makan kepada 5.000 orang, Perjamuan Terakhir bersama para murid, hingga makan bersama dua murid setelah kebangkitan-Nya (Luk. 24:30)—kita diajak berhenti sejenak dari pergumulan kita dan berserah penuh kepada-Nya. Setelah kedua murid itu bersantap bersama Yesus, mereka baru menyadari bahwa Dialah Tuhan yang telah bangkit. “Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia” (ay.30-31).

Baru-baru ini, saat duduk bersama seorang teman di kedai kopi Fika sembari menikmati cokelat panas dan bolu gulung, kami pun berbincang-bincang tentang Yesus. Dialah Sang Roti Hidup. Kiranya kita menikmati perjamuan-Nya dan semakin mengenal Dia.
Tuhan, terima kasih karena Engkau menyediakan waktu dan tempat bagi kami di meja perjamuan-Mu agar kami semakin mengenal-Mu.
Luangkanlah waktu untuk menikmati Sang Roti Hidup.
Oleh Patricia Raybon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Pada zaman Alkitab, roti dan meja (makan) adalah lambang dari berbagi hidup dan relasi. Jadi, ketika Yesus memecahkan roti bersama para murid-Nya pada malam Dia dikhianati dan berkata, “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu” (1 Korintus 11:24; lihat Lukas 22:19), Dia menggunakan kata-kata yang kaya makna untuk menyatakan sesuatu yang melampaui pemahaman para murid. Tak sampai tiga hari kemudian, ketika Yesus mengangkat tangan-Nya yang berlubang untuk memecahkan roti di meja makan di Emaus, para murid mengenali si Orang Asing yang telah membuka pengertian mereka terhadap Kitab Suci (Lukas 24:13-32). Mereka termasuk orang-orang pertama yang menyaksikan apa yang akan segera didengar dan dilihat sendiri oleh murid-murid lain (ay.33-43). Roti itu telah dipecahkan pada malam Paskah. Kabar itu pun segera menyebar ke “meja” yang lebih besar, yakni sebuah komunitas yang berbagi kehidupan, serta sebuah cara baru untuk membaca Kitab Suci dan kisah tentang Allah (ay.45-49).

Mart DeHaan




February 26, 2019, 05:52:23 AM
Reply #2204
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22927
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Mengatasi Informasi Buruk
  26/02/2019 
Mengatasi Informasi Buruk
Baca: Amsal 23:9-12 | Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 15–16 ; Markus 6:1-29


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-26.mp3 

Arahkanlah perhatianmu kepada didikan, dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan. —Amsal 23:12

Dalam kunjungan ke kota New York baru-baru ini, saya bersama istri ingin menikmati malam yang bersalju. Kami pun menyewa taksi untuk membawa kami ke sebuah restoran Kuba yang berjarak sekitar 5 KM dari hotel. Setelah memasukkan alamat ke aplikasi pemesanan taksi, saya terbelalak melihat tarif untuk jarak sependek itu: Rp. 22.340.887. Setelah beberapa saat, saya baru sadar telah memasukkan alamat rumah kami yang jaraknya ratusan kilometer dari sana sebagai tujuan!

Dengan informasi yang salah, apa yang Anda kerjakan pasti akan berantakan. Itulah sebabnya Amsal mendorong kita untuk mengarahkan “perhatian [kita] kepada didikan, dan telinga [kita] kepada kata-kata pengetahuan”—yakni hikmat Allah (Ams. 23:12). Jika kita meminta nasihat dari orang bodoh dan bebal, yaitu mereka yang bersikap sok tahu dan mengabaikan Allah, kita pasti akan mendapat masalah. Mereka akan “meremehkan [kata-kata] yang bijak” dan bisa membuat kita tersesat dengan saran yang tidak bermanfaat, keliru, bahkan menipu (ay.9).
Hikmat orang bebal selalu membawa kita ke jalan buntu, tetapi hikmat Allah selalu memberikan jalan keluar.

Karena itu, lebih baik kita mencondongkan “telinga [kita] kepada kata-kata pengetahuan” (ay.12). Bukalah hati untuk menerima petunjuk Allah yang memberi kemerdekaan, yakni firman-Nya yang penuh kejelasan dan pengharapan. Nasihat dari orang-orang yang mengenal Allah akan menolong kita untuk menerima dan menaati hikmat-Nya. Hikmat Allah takkan pernah menyesatkan, tetapi selalu menguatkan dan menuntun kita menuju keutuhan hidup di dalam Dia.
Tuhan, condongkanlah telinga dan hatiku kepada hikmat. Tolong aku agar terbuka terhadap kebenaran-Mu dan menolak sikap yang bebal.
Hikmat orang bebal selalu membawa kita ke jalan buntu, tetapi hikmat Allah selalu memberikan jalan keluar.
Oleh Winn Collier | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Amsal 23:9-12 merujuk pada prinsip-prinsip yang saling berhubungan: mencari hikmat dari orang yang dapat dipercaya (ay.12) dan mengenali orang yang tidak dapat dipercaya (ay.9). Prinsip mengenali dan membedakan karakter seseorang serta membatasi kontak dengan mereka yang bebal—karena besarnya pengaruh yang diberikan orang terdekat—muncul kembali dalam pasal 26:4-5. Namun, ayat-ayat ini menunjukkan perbedaan tipis antara prinsip tersebut dengan menempatkan kalimat yang berlawanan secara berdampingan. Pertama, kita dinasihati untuk tidak menjawab orang bebal menurut kebodohannya (ay.4); selanjutnya, dikatakan bahwa kita harus memberi jawaban supaya kita jangan terpengaruh oleh pemikiran dan karakter mereka yang merusak (ay.5).

Nasihat yang tampak bertentangan itu menggambarkan prinsip utama dalam kitab Amsal: hikmat sejati bukan didapat dengan ketaatan buta—melakukan serangkaian peraturan begitu saja tanpa mengetahui esensinya, melainkan dengan bersandar pada bimbingan Tuhan terus menerus untuk mengenali setiap keadaan.

Monica Brands




February 27, 2019, 05:55:18 AM
Reply #2205
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22927
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Dari Mulut Bayi-Bayi
  27/02/2019 
Dari Mulut Bayi-Bayi
Baca: Matius 21:14-16 | Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 17–19 ; Markus 6:30-56


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-27.mp3

Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu. —Mazmur 8:3

Setelah melihat Viola yang berumur 10 tahun menggunakan ranting pohon sebagai mikrofon untuk meniru sikap seorang pendeta, Michele memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Viola untuk “berkhotbah” dalam suatu pelayanan di sebuah desa. Viola bersedia. Menurut kesaksian Michele, misionaris di Sudan Selatan, “Para hadirin terpana . . . melihat seorang anak perempuan yang pernah ditelantarkan itu berdiri dengan penuh wibawa di hadapan mereka sebagai putri dari Raja segala raja. Dengan penuh semangat, Viola berkhotbah tentang Kerajaan Allah yang hidup. Separuh hadirin pun menanggapinya dengan maju ke depan dan menerima Yesus pada saat itu” (Michele Perry, Love Has a Face).

Para hadirin hari itu tidak menyangka akan mendengar seorang anak berkhotbah. Peristiwa itu mengingatkan saya pada frasa “dari mulut bayi-bayi” yang terdapat dalam Mazmur 8. Daud menulis, “Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu” (ay.2). Yesus mengutip ayat itu dalam Matius 21:16, setelah imam-imam kepala dan para ahli Taurat mengecam anak-anak yang memuji Yesus di Bait Allah. Anak-anak itu dianggap sebagai gangguan di mata para pemimpin agama. Dengan mengutip nas itu, Yesus menunjukkan bahwa Allah benar-benar memperhitungkan puji-pujian dari anak-anak. Mereka memuliakan Mesias yang telah lama dinantikan, sesuatu yang tidak mau dilakukan oleh para pemimpin agama itu.
Tuhan, tolonglah aku memiliki hati yang tulus seperti seorang anak saat aku memuji-Mu.

Seperti yang ditunjukkan oleh Viola dan anak-anak di Bait Allah, Allah bahkan dapat memakai seorang anak kecil untuk memuliakan nama-Nya. Puji-pujian mengalir dengan limpahnya dari hati mereka yang tulus.
Bagaimana aku bisa memuji Allah hari ini? Mengapa Dia layak menerima pujianku?
Tuhan, tolonglah aku memiliki hati yang tulus seperti seorang anak saat aku memuji-Mu.
Oleh Linda Washington | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Setelah tiba di Yerusalem pada hari yang dikenal sebagai Minggu Palem, Yesus menuju ke Bait Allah. Di situ, secara simbolis dan profetis Dia mengembalikan rumah Allah kepada tujuannya yang benar (Matius 21:12). Saat itu, Dia mengutip Nabi Yesaya dan Yeremia (ay.13): “Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa [Yesaya 56:7], tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun [Yeremia 7:11]”. Kasih Yesus yang berkobar bagi Bait Allah—walaupun penuh risiko—membuat-Nya tidak tinggal diam membiarkan kebobrokan para pemimpin agama dalam mengurus rumah Allah itu. Kegiatan berdagang di sana digantikan—setidaknya untuk sementara waktu—dengan tindakan belas kasihan yang ajaib (ay.14). Inilah perbuatan yang lebih sesuai dengan tujuan keberadaan rumah Bapa. Namun, meski orang yang buta jasmani telah sembuh, kebutaan para pemimpin agama tidak berubah. Hal itu tampak dari kekesalan dan perkataan mereka kepada Yesus (ay.15-16).

Arthur Jackson




February 28, 2019, 06:19:49 AM
Reply #2206
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22927
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kabar Baik!
  28/02/2019 
Kabar Baik!
Baca: Mazmur 51:1-9 | Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 20–22 ; Markus 7:1-13


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-02-28.mp3


Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu. —Mazmur 51:3

Saya membaca kisah yang begitu menyentuh dalam sebuah artikel singkat di surat kabar. Setelah mengikuti program pembinaan iman tentang cara mempererat ikatan keluarga, sekelompok narapidana memperoleh kesempatan langka. Mereka diizinkan menerima kunjungan terbuka dari keluarga mereka. Ada sejumlah narapidana yang bertahun-tahun belum pernah bertemu dengan anak-anak mereka. Kali ini, mereka tidak hanya berbicara melalui pembatas kaca, melainkan boleh bersentuhan dan berpelukan dengan keluarga yang mereka kasihi. Air mata pun mengalir ketika hubungan dalam keluarga para narapidana itu bertambah erat dan mengalami pemulihan.

Bagi kebanyakan pembaca, artikel itu hanya cerita biasa. Namun, bagi keluarga-keluarga tersebut, kesempatan untuk saling berpelukan adalah peristiwa yang mengubahkan hidup—bagi sebagian yang lain, hal itu menjadi awal dari pengampunan dan rekonsiliasi.
Pengampunan adalah kabar baik yang luar biasa bagi setiap orang!

Pengampunan dosa dan perdamaian yang Allah tawarkan melalui Anak-Nya sesungguhnya lebih dari sekadar fakta dalam iman Kristen. Rekonsiliasi yang diceritakan dalam artikel di atas mengingatkan kita bahwa pengorbanan Yesus merupakan kabar baik, tak hanya bagi dunia, tetapi juga bagi Anda dan saya secara pribadi.

Pada saat kita tertekan oleh rasa bersalah karena pelanggaran yang pernah kita lakukan, kabar baik itu menjadi suatu kepastian yang dapat kita andalkan. Fakta tentang belas kasihan Allah yang tak berkesudahan itu patut kita terima secara pribadi: karena Yesus telah mati bagi kita, kita boleh datang kepada Bapa dalam kondisi suci, “lebih putih dari salju” (Mzm. 51:9). Ketika kita sadar bahwa kita tak layak untuk diampuni, kita dapat berpegang pada satu hal yang selalu bisa diandalkan: kasih setia Allah dan belas kasihan-Nya (ay.3).
Bapa, ampuni aku jika aku pernah memandang remeh belas kasih dan cinta-Mu. Terima kasih atas berkat dan hak istimewa yang indah ini, sesuatu yang tak layak kuterima tetapi yang Engkau berikan secara cuma-cuma.
Pengampunan adalah kabar baik yang luar biasa bagi setiap orang!
Oleh Leslie Koh | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mazmur 51 adalah salah satu dari tujuh mazmur pertobatan (Mazmur 6, 32, 38, 51, 102, 130, 143) yang memuat dukacita penulis saat mengakui dosa-dosanya dan berbalik kepada Tuhan untuk mendapatkan pengampunan. Sub-judul mazmur ini berbunyi: “Mazmur dari Daud, ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba.” Dosa Daud dan teguran terhadapnya dicatat dalam 2 Samuel 11–12. Banyak pakar Alkitab meyakini bahwa Daud menuliskan Mazmur 32 dan 51 setelah bertobat dari dosa perzinahan dengan Batsyeba dan pembunuhan Uria. Mazmur 32 menggambarkan kekeringan rohani Daud semasa ia tidak mengakui dosa-dosanya (ay.3-4), serta kebahagiaan dan kelegaan setelah ia mengakui semua dosanya (ay.1-2, 5-11). Dalam Mazmur 51, setelah Daud ditegur Nabi Natan, ia mengakui dosa-dosanya, mencurahkan isi hatinya kepada Allah, serta memohon pengampunan-Nya. Mazmur 51 merupakan teladan doa untuk memohon pengampunan dosa.




March 01, 2019, 07:46:00 AM
Reply #2207
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22927
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Tidak Terbandingkan
  01/03/2019 
Tidak Terbandingkan
Baca: Yohanes 21:17-25 | Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 23–25 ; Markus 7:14-37


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-01.mp3

Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang. —Amsal 14:30

“Kapan-kapan, akan kutaruh semuanya di Facebook—dan bukan cuma yang baik-baik saja, lho!”

Itu komentar teman saya, Sue—saat makan siang bersama suaminya—yang membuat saya tertawa terbahak-bahak sekaligus berpikir. Media sosial bisa bermanfaat—kita dapat menjalin hubungan dengan teman-teman yang tinggal jauh dan sudah lama tidak berjumpa, serta berdoa untuk mereka. Namun, jika tidak hati-hati, media sosial bisa membuat kita terjebak dalam pandangan hidup yang tidak realistis. Ketika sebagian besar dari apa yang kita lihat di media sosial adalah “hal-hal baik” yang ditampilkan orang, kita bisa tertipu dan mengira hidup orang lain bebas dari masalah, sambil merasa ada yang tidak beres dengan hidup kita sendiri.
Membanding-bandingkan akan merenggut sukacita. Theodore Roosevelt

Membanding-bandingkan diri dengan orang lain akan membuat kita tidak bahagia. Ketika para murid saling membandingkan diri (lihat Luk. 9:46; 22:24), Yesus segera menengahi mereka. Tak lama setelah kebangkitan-Nya, Yesus memberi tahu Petrus bahwa ia akan menderita karena imannya. Lalu Petrus melihat Yohanes dan bertanya kepada Tuhan, “Apakah yang akan terjadi dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.” (Yoh. 21:21-22).

Yesus menunjukkan kepada Petrus cara terbaik untuk berhenti membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Saat pikiran kita terfokus kepada Allah dan semua yang telah diperbuat-Nya untuk kita, kita akan mulai berhenti memikirkan diri sendiri dan rindu untuk mengikuti-Nya. Di dunia yang penuh persaingan dan tekanan ini, Dia hadir memberikan kita kasih dan damai sejahtera-Nya. Tiada yang sebanding dengan-Nya.
Bagaimana Anda bisa menggunakan media sosial dengan cara-cara yang menghormati Allah? Bagaimana hubungan yang erat dengan Allah dapat menjaga Anda dari sikap membanding-bandingkan diri dengan orang lain?
Membanding-bandingkan akan merenggut sukacita. Theodore Roosevelt
Oleh James Banks | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Sebagian pakar Alkitab menduga bahwa Yohanes 21 ditulis (dalam pimpinan ROH KUDUS) belakangan, tidak bersamaan dengan dua puluh pasal sebelumnya. Penambahan ini tampaknya dilakukan untuk meluruskan suatu kesalahpahaman. Kelihatannya, waktu itu beberapa orang menyimpulkan bahwa Yesus menjanjikan Yohanes tidak akan mati sampai Dia kembali, dan rumor itu sudah tersebar luas. Jadi, bagian yang dikenal dengan sebutan “akhir kedua” tersebut (ay.21) dimaksudkan untuk mengatasi kekeliruan tadi dengan menjelaskan perkataan Yesus (ay.22-23).

Bill Crowder




March 02, 2019, 03:31:59 PM
Reply #2208
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22927
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Pencarian Harta Karun
  02/03/2019 
Pencarian Harta Karun
Baca: Amsal 4:5-19 | Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 26–27 ; Markus 8:1-21



https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-02.mp3


Keuntungan [hikmat] melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. —Amsal 3:14

Harta karun yang terpendam. Kedengarannya seperti dongeng anak-anak. Namun, seorang jutawan eksentrik bernama Forrest Fenn mengaku menyembunyikan peti berisi emas permata senilai 2 juta dollar di suatu tempat di Pegunungan Rocky. Banyak orang pun pergi mencarinya. Bahkan, 4 orang kehilangan nyawa saat berusaha memburu harta karun yang tersembunyi itu.

Penulis kitab Amsal memberikan alasan yang patut kita pikirkan sungguh-sungguh: Adakah harta yang begitu berharganya hingga layak ditukar dengan nyawa? Dalam Amsal 4, seorang ayah yang menuliskan nasihat tentang menjalani hidup yang baik kepada anak-anaknya menunjukkan bahwa hikmat adalah satu-satunya harta berharga yang layak dikejar dengan sekuat tenaga (ay.7). Hikmat, katanya, akan menuntun kita dalam menjalani kehidupan, menjaga langkah kita agar tidak tersandung, dan memahkotai kita dengan kehormatan (ay.8-12). Beratus-ratus tahun kemudian, Yakobus, salah seorang murid Yesus, juga menuliskan tentang pentingnya hikmat. “Hikmat yang dari atas,” tulisnya, “adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik” (Yak. 3:17). Saat kita mencari hikmat, kita akan mendapati segala sesuatu yang baik berkembang dalam hidup kita.
Keuntungan [hikmat] melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. —Amsal 3:14

Mencari hikmat pada dasarnya adalah mencari Allah, sumber segala hikmat dan pengertian. Hikmat yang datang dari atas sungguh jauh lebih berharga daripada segala harta terpendam yang pernah kita bayangkan.
Apakah Anda selalu mencari hikmat Allah secara aktif? Apa yang bisa Anda lakukan untuk mencari hikmat itu hari ini?
Tuhan, latihlah hatiku untuk mengingini hikmat dan latihlah kakiku untuk berjalan sesuai kehendak-Mu.
Oleh Amy Peterson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam Amsal 4, Salomo menasihati anak-anaknya untuk mengejar hikmat. Ia lantas menekankan apa saja manfaatnya. Hikmat akan memelihara dan menjaga mereka (ay.6). Barang siapa menemukan hikmat akan ditinggikan dan dihormati (ay.8), memperoleh “karangan bunga” dan “mahkota”—simbol kehormatan dan martabat (ay.9). Hikmat juga akan menjaga orang yang mendapatkannya agar tak tersandung dan tersesat ke jalan orang fasik (ay.12,14). Melihat segala berkat itu, tidak heran kita harus mengejar dan mendapatkan hikmat berapa pun harganya, bahkan senilai dengan seluruh harta milik kita (ay.7).




March 03, 2019, 08:57:58 AM
Reply #2209
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22927
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Maksud dari Penderitaan?
  03/03/2019 
Maksud dari Penderitaan?
Baca: 2 Korintus 1:3-7 | Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 28–30 ; Markus 8:22-38


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-03.mp3

[Allah] menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. —2 Korintus 1:4

Ketika Siu Fen menerima kabar bahwa dirinya mengalami gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah seumur hidup, rasanya ia ingin menyerah saja. Sebagai pensiunan yang hidup melajang, ia merasa tidak ada gunanya lagi hidup. Namun, teman-teman meyakinkannya untuk bertahan dan melakukan cuci darah, serta terus percaya bahwa Tuhan akan menolongnya.

Dua tahun kemudian, ia mengunjungi seorang teman gereja yang sakit parah dan mendapati keadaannya persis dengan apa yang pernah dialaminya. Teman itu merasa kesepian, karena tidak banyak orang yang benar-benar memahami kondisinya. Namun, Siu Fen memahami betul penderitaan fisik dan emosional wanita itu sehingga ia bisa menjadi dekat dengannya. Pengalaman Siu Fen membuatnya bisa mendampingi wanita itu dan memberikan penghiburan yang tidak dapat diberikan oleh orang lain. “Kini saya melihat Allah masih bisa memakai saya,” katanya.
Allah dapat memakai penderitaan kita dengan cara yang tidak terduga.

Mungkin sulit dimengerti mengapa kita menderita. Namun, Allah dapat memakai penderitaan kita dengan cara yang tidak terduga. Saat kita berpaling kepada-Nya untuk menerima penghiburan dan kasih di tengah masalah, kita juga dikuatkan untuk menolong orang lain. Tidak heran Paulus pun belajar melihat maksud dari penderitaannya sendiri: Ia mendapat kesempatan menerima penghiburan dari Allah, yang kemudian dapat digunakannya untuk memberkati orang lain (2Kor. 1:3-5). Kita tidak diminta untuk menyangkali kesakitan dan penderitaan kita, tetapi kita percaya Allah sanggup menggunakannya untuk kebaikan.
Bagaimana Allah telah memakai Anda untuk menghibur orang lain? Bagaimana iman Anda telah menolong Anda bertahan selama ini?
Tuhan, tolong aku tetap mempercayai-Mu di tengah kesulitan, karena yakin bahwa aku akan menerima penghiburan yang tak terbatas dari-Mu dan dimampukan untuk membagikannya kepada orang lain.
Oleh Leslie Koh | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Surat Paulus yang kedua kepada jemaat Korintus dibuka dengan empati bagi orang-orang seperti kita. Sembilan kali ia menyebut tentang penghiburan yang kita semua perlukan sehingga kita dapat menghibur dan menguatkan sesama (1:3-7). Berikutnya, Paulus menggambarkan penghiburan dari Kristus yang diberikan kepada orang yang menderita sengsara bersama Kristus (1:5,8-9). Seluruh isi surat selanjutnya menunjukkan bahwa kata-kata penghiburan itu bukan hanya bagi mereka yang menderita karena berkorban seperti Kristus, tetapi juga karena alasan-alasan lain yang lebih sederhana. Rasul Paulus menunjukkan—sebagaimana tampak juga dalam kehidupan Yesus—bahwa dalam segala kekurangan, kecemasan, dan kegagalan kita, selalu ada jalan untuk menemukan jaminan dari Allah yang ikut menderita bersama kita, bahkan sebelum rasa sakit dan permasalahan itu membuat kita mau membuka hati bagi Dia (Roma 8:18-39).



 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)