Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 126053 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

March 04, 2019, 07:04:19 AM
Reply #2210
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Selalu Menyertai Kita
  04/03/2019 
Selalu Menyertai Kita
Baca: Matius 14:13-21 | Bacaan Alkitab Setahun: Bilangan 31–33 ; Markus 9:1-29


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-04.mp3


Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” —Matius 14:17

Wanita itu memusatkan perhatiannya pada rak paling atas, tempat botol-botol saus spageti dipajang. Sudah sejak tadi saya berdiri di sampingnya, memperhatikan rak yang sama dan menimbang-nimbang. Akan tetapi, wanita itu sepertinya tidak menyadari kehadiran saya dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tidak sulit bagi saya untuk mengambil botol dari rak paling atas karena badan saya yang lumayan tinggi. Namun, tidak demikian dengan wanita itu. Saya menyapanya sambil menawarkan bantuan. Wanita itu sempat tersentak, lalu berkata, “Ya ampun, saya tidak sadar Anda ada di sini. Terima kasih bantuannya, Pak.”

Murid-murid Yesus menghadapi situasi yang cukup pelik—orang-orang yang kelaparan, lokasi yang terpencil, dan hari yang semakin larut. Mereka berkata kepada Tuhan, “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa” (Mat. 14:15). Ketika ditantang oleh Yesus untuk mengurus orang banyak itu, mereka menjawab, “Yang ada pada kami di sini hanya . . .” (ay.17). Yang mereka lihat hanyalah kekurangan mereka. Padahal, tepat di samping mereka berdiri Yesus, yang bukan hanya sanggup melipatgandakan roti, tetapi adalah Roti Hidup itu sendiri.
Di mana pun kita berada dan apa pun tantangannya, Kristus, Imanuel, selalu menyertai kita.

Sering kali kita terlalu sibuk memikirkan pergumulan hidup kita dan berusaha mencari jalan keluar dengan sudut pandang kita yang terbatas, sampai-sampai kita melupakan kehadiran Kristus yang telah bangkit itu. Padahal, dalam segala situasi kehidupan kita, Dia, Imanuel—Allah yang menyertai kita—selalu siap dan mampu menolong dalam kesesakan kita.
Bagaimana Anda dapat meningkatkan kesadaran Anda terhadap kehadiran Yesus? Mengapa penting bagi kita mendapatkan sudut pandang Tuhan dalam hal-hal yang kita hadapi?
Di mana pun kita berada dan apa pun tantangannya, Kristus, Imanuel, selalu menyertai kita.
Oleh John Blase | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Pelayanan Yesus yang sigap dan berkuasa, serta pergolakan emosional para murid yang mengikuti-Nya tergambar dalam rangkaian tiga peristiwa. Yang pertama, kisah kematian Yohanes Pembaptis, diakhiri dengan laporan para murid Yohanes kepada Yesus tentang kematiannya (Matius 14:1-12). Kedua, mukjizat Yesus memberi makan 5000 orang, belum termasuk wanita dan anak-anak (ay.13-21). Ketiga, Yesus menyuruh murid-murid-Nya pergi naik perahu (ay.22-33), lalu Dia menyusul mereka malam itu dengan berjalan di tengah danau Galilea yang berombak besar. Peristiwa itu membuat para murid menyembah Dia sebagai “Anak Allah” (ay.33).

Bill Crowder




March 06, 2019, 05:48:19 AM
Reply #2211
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Pengembalian Investasi
  06/03/2019 
Pengembalian Investasi
Baca: Markus 10:17-31 | Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 1–2 ; Markus 10:1-31


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-06.mp3

Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau! —Markus 10:28

Pada tahun 1995, para investor pasar modal AS menerima rekor pengembalian tertinggi—rata-rata mendapatkan keuntungan sebesar 37,6 persen atas investasi mereka. Kemudian, di tahun 2008, para investor mengalami kerugian dalam jumlah yang hampir sama besarnya: negatif 37,0 persen. Tingkat keuntungan pada tahun-tahun di antaranya bervariasi besarnya, sehingga mereka yang menginvestasikan uangnya di pasar modal bertanya-tanya—terkadang dengan perasaan takut—bagaimana nasib investasi mereka.

Yesus meyakinkan para pengikut-Nya bahwa mereka akan mendapatkan hasil yang luar biasa apabila mereka menginvestasikan hidup mereka dalam Dia. Mereka “telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut [Dia]”—rumah, pekerjaan, status, dan keluarga untuk mempertaruhkan hidup mereka kepada Yesus (ay.28). Namun, para murid mulai merasa khawatir kalau-kalau investasi mereka akan sia-sia setelah melihat bagaimana seorang yang kaya raya tidak sanggup melepaskan diri dari hartanya yang sangat banyak. Namun, jawab Yesus, setiap orang yang rela berkorban bagi Dia “pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat . . . dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal” (ay.30). Itu hasil yang sungguh jauh lebih baik daripada hasil investasi mana pun.
Hidup bagi Tuhan adalah investasi yang tidak pernah gagal.

Kita tidak perlu mengkhawatirkan “tingkat suku bunga” dalam investasi spiritual kita—kepastian yang kita dapatkan dari Allah sungguh tidak terbandingkan. Tujuan investasi keuangan adalah untuk memperoleh keuntungan finansial sebesar-besarnya. Namun hasil investasi dalam Allah bukanlah berupa rupiah, melainkan sukacita yang datang dari pengenalan akan Dia, sekarang dan selamanya—dan dari membagikan sukacita itu kepada sesama!
Apa yang dapat Anda “investasikan” dalam Tuhan hari ini—waktu, bakat, atau harta Anda? Sukacita apa saja yang pernah Anda alami dalam hubungan dengan Yesus?
Hidup bagi Tuhan adalah investasi yang tidak pernah gagal.
Oleh Kirsten Holmberg | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Hukum Perjanjian Lama tidak pernah memerintahkan untuk menjual semua kepunyaan kita, tetapi Yesus meminta si orang muda yang kaya untuk melakukannya. Mengapa? Apakah hal itu bisa menyelamatkannya? Tidak! Yesus menyingkapkan apa yang sesungguhnya orang itu kasihi—harta. Hukum Taurat tidak sanggup mengubah hati manusia, hanya dapat menghakimi. Yesus memenuhi Hukum itu dan menyelesaikan apa yang tidak mampu kita lakukan (Markus 10:27).

Tim Gustafson




March 07, 2019, 05:37:34 AM
Reply #2212
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Lepas dari Kebisingan
  07/03/2019 
Lepas dari Kebisingan
Baca: 1 Raja-Raja 19:9-13 | Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 3–4 ; Markus 10:32-52


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-07.mp3


Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa. —1 Raja-Raja 19:12

Beberapa tahun lalu, pimpinan sebuah kampus mengajak para mahasiswa untuk bergabung dalam kegiatan “mematikan gawai” pada suatu malam. Awalnya para mahasiswa merasa berat meninggalkan telepon genggam dan masuk ke kapel. Namun, mereka akhirnya bersedia dan selama satu jam, duduk diam dalam kebaktian yang diisi dengan musik dan doa. Sesudahnya, salah seorang mahasiswa menggambarkan pengalamannya itu sebagai “suatu kesempatan indah untuk menenangkan diri . . . untuk lepas dari segala kebisingan yang tidak perlu.”

Kadang kala memang sulit melepaskan diri dari “kebisingan yang tidak perlu.” Kebisingan dari luar maupun dari dalam diri kita bisa memekakkan telinga. Namun, ketika kita bersedia “mematikannya”, kita akan mulai memahami maksud sang pemazmur yang mengingatkan bahwa kita perlu berdiam diri untuk dapat mengenal Allah (Mzm. 46:11). Dalam 1 Raja-Raja 19, kita melihat bagaimana ketika Nabi Elia mencari Tuhan, ia tidak menemukan-Nya dalam keriuhan angin, gempa bumi, atau api (ay.9-13). Namun kemudian, Elia mendengar bisikan lembut Allah (ay.12).
Dalam keheninganlah kita lebih mungkin mendengar bisikan lembut Allah.

Dalam suatu keramaian sudah pasti terjadi kebisingan. Saat keluarga dan teman-teman berkumpul bersama, di sanalah terjadi obrolan seru, makan-makan, senda gurau, dan kehangatan. Namun, saat kita membuka hati dalam keteduhan, kita mendapati bahwa waktu-waktu yang dilalui bersama Allah ternyata lebih indah dari semua itu. Seperti Elia, kita lebih mungkin bertemu Allah dalam keheningan. Adakalanya, jika kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh, kita juga bisa mendengar bisikan lembut dari-Nya.
Apa yang dapat menolong Anda mendekat kepada Allah dalam ketenangan dan kesendirian? Bagaimana Anda dapat secara teratur menyisihkan gawai maupun meneduhkan pikiran Anda?
Dalam keheninganlah kita lebih mungkin mendengar bisikan lembut Allah.
Oleh Cindy Hess Kasper | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Perjumpaan Elia dengan Tuhan di “gunung Allah, yakni gunung Horeb” (1 Raja-Raja 19:8) bukanlah kali pertama Tuhan menemui salah satu hamba-Nya di tempat itu. Berabad-abad sebelumnya, Tuhan bertemu dengan Musa di sana. “Adapun Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb” (Keluaran 3:1). Di Horeb, Tuhan menyatakan diri kepada Musa dan mengutusnya untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir (ay.2-12). Gunung yang biasanya identik dengan kisah Musa adalah gunung Sinai (19:18-20). Namun, ayat-ayat seperti Ulangan 4:10 menunjukkan bahwa nama Horeb dan Sinai dipakai secara bergantian dalam Alkitab dan merujuk kepada gunung yang sama. Dua hamba Allah yang terpilih berjumpa dengan Dia di gunung itu dan berangkat dari sana untuk melakukan kehendak-Nya dalam kekuatan-Nya.

Arthur Jackson




March 08, 2019, 05:32:25 AM
Reply #2213
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Lemah Lembut Sekaligus Perkasa
  08/03/2019 
Lemah Lembut Sekaligus Perkasa
Baca: Yesaya 40:10-11 | Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 5–7 ; Markus 11:1-18



https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-08.mp3

Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. —Filipi 4:5

Ketika wilayah pendudukan musuh di Belanda makin meluas, Anne Frank dan keluarganya menyiapkan diri lalu pindah ke tempat persembunyian untuk menghindari bahaya. Mereka bersembunyi selama dua tahun di masa Perang Dunia ke-2, sebelum akhirnya ditemukan dan dikirim ke kamp konsentrasi. Walaupun demikian, dalam catatannya yang kemudian diterbitkan sebagai buku terkenal berjudul Diary of a Young Girl, Anne menulis, “Untuk jangka panjang, senjata yang paling ampuh adalah kebaikan hati dan kelemahlembutan.”

Namun, kelemahlembutan bukan hal yang mudah saat kita berhadapan dengan dunia nyata.
Kelemahlembutan menolong kita menyatakan sikap tanpa menciptakan musuh.

Dalam Yesaya 40 kita melihat gambaran Allah yang lemah lembut sekaligus perkasa. Di ayat 11 kita membaca, “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya.” Namun, ayat itu muncul setelah yang ini, ”Lihat, itu Tuhan Allah, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa” (ay.10). Berkuasa penuh, tetapi lemah lembut saat melindungi yang lemah.

Ingatlah juga pada Yesus, yang meraih cambuk dan mengayunkannya untuk membalikkan meja para penukar uang di Bait Allah, tetapi bersikap lemah lembut kepada anak-anak. Dia berkata-kata dengan keras untuk mengecam orang Farisi (Mat. 23) tetapi mengampuni seorang wanita yang membutuhkan belas kasihan-Nya yang lembut (Yoh. 8:1-11).

Memang ada saatnya kita harus bersikap tegas membela yang lemah dan menantang yang lain untuk memperjuangkan keadilan, tetapi kita juga perlu membiarkan “kebaikan hati [kita] diketahui semua orang” (Flp. 4:5). Dalam melayani Allah, terkadang menunjukkan hati yang lemah lembut kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan justru menjadi kekuatan kita yang terbesar.
Bagaimana Anda mengupayakan keadilan dan belas kasihan dengan lembut tetapi tegas hari ini? Bagaimana ROH KUDUS menolong kita agar lemah lembut dan perkasa?
Kelemahlembutan menolong kita menyatakan sikap tanpa menciptakan musuh.
Oleh Dave Branon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kiasan gembala dan domba dipakai berulang kali dalam nubuatan Yesaya. Pada pasal 40:11, Yesaya menggambarkan Allah sebagai Gembala yang penuh kasih dan merawat Israel. Dalam pasal 38:12, nabi mengutip perkataan Raja Hizkia yang menyebut kediamannya sebagai “kemah gembala”; dan dalam 44:28, Allah sendiri menyebut Raja Koresy sebagai gembala dari-Nya! Terakhir, dalam pasal 63:11, orang Israel mengingat kasih Allah kepada nenek moyang mereka di padang gurun dan mereka merindukan hal yang sama. Dalam tulisan Yesaya, ada empat penutur ( yaitu dirinya sendiri, Hizkia, Allah, dan bangsa Israel) yang menggunakan gambaran gembala dengan cara yang berbeda-beda. Kiasan itu dipakai tentunya karena yang sangat mengena untuk masyarakat agraris yang akrab dengan gembala dan domba dalam kehidupan sehari-hari. Gambaran gembala yang memperhatikan kawanannya mengingatkan bangsa Israel bahwa mereka juga memerlukan pemeliharaan serupa dari Allah.

Bill Crowder





March 09, 2019, 05:25:38 AM
Reply #2214
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Menyambut Orang Asing
  09/03/2019 
Menyambut Orang Asing
Baca: Ulangan 10:12-19 | Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 8–10 ; Markus 11:19-33


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-09.mp3


Haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir. —Ulangan 10:19

Ketika teman-teman saya tinggal di Moldova, salah satu negara termiskin di Eropa, mereka dibuat terharu oleh sambutan hangat yang mereka terima, terutama dari saudara seiman di sana. Suatu kali, mereka membawa sumbangan pakaian dan sembako untuk sepasang suami-istri di gereja mereka. Pasangan itu sangat miskin tetapi masih bersedia menjadi orangtua asuh bagi beberapa anak. Mereka menghidangkan teh manis dan makanan dan memperlakukan teman-teman saya layaknya tamu kehormatan. Teman-teman saya pulang membawa buah tangan berupa buah-buahan dan sayur-mayur. Mereka sangat kagum pada kebaikan hati dan keramahan pasangan itu.

Orang-orang Kristen itu menunjukkan keramahtamahan sebagaimana yang Allah perintahkan kepada umat-Nya, orang-orang Israel. Dia memerintahkan mereka untuk “hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu” (Ul. 10:12). Bagaimana orang Israel dapat menjalankannya? Jawabannya ada di beberapa ayat kemudian, “Haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir” (ay.19). Menyambut orang asing sama dengan melayani dan memuliakan Allah; menunjukkan kasih dan kepedulian berarti memperlihatkan iman mereka kepada Allah.
Orang percaya menunjukkan kasih Allah lewat keramahtamahan mereka.

Kondisi kita mungkin berbeda dengan kondisi orang Moldova atau orang Israel, tetapi kita juga dapat menunjukkan kasih kita kepada Allah lewat sikap kita yang terbuka menyambut orang lain. Baik dengan membuka rumah kita atau tersenyum ramah kepada orang yang kita temui, kita dapat meneruskan kasih dan perhatian Allah di dunia yang penuh dengan jiwa-jiwa yang terluka dan kesepian.
Ketika Anda disambut baik oleh orang lain, pengaruh apa yang Anda alami? Adakah orang tertentu yang teringat oleh Anda ketika berpikir tentang keramahtamahan?
Orang percaya menunjukkan kasih Allah lewat keramahtamahan mereka.
Oleh Amy Boucher Pye | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ulangan, kitab kelima dalam Taurat, dikenal sebagai tulisan Musa. Kitab ini berisi rangkaian tiga khotbah (pasal 1–4; 5–26; 27–34) Musa kepada bangsa Israel beberapa waktu sebelum kematiannya dan sebelum Israel merebut tanah perjanjian di bawah pimpinan Yosua. Salah satu tema kitab Ulangan adalah panggilan untuk taat, seperti yang tampak dalam pasal 10:12-19. Allah menghendaki umat-Nya mengasihi dan menaati Dia (ay.12), salah satu caranya ialah dengan berlaku baik kepada orang lain (termasuk orang asing atau pendatang). Mengapa? Karena Allah pun melakukannya dan karena orang Israel sendiri pernah menjadi orang asing (ay.18-19). Prinsip ini terus diajarkan sepanjang kitab-kitab Taurat (Keluaran 22:21; Imamat 19:34; Ulangan 23:7). Seperti bangsa Israel, kita sebagai umat Allah juga harus mengikuti teladan kasih-Nya. Lagi pula, sebelum Allah mengangkat kita sebagai anakNya, kita semua pun orang asing (Efesus 2:12-19).

Alyson Kieda




March 10, 2019, 03:32:43 PM
Reply #2215
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Misi Penyelamatan Terbesar
  10/03/2019 
Misi Penyelamatan Terbesar
Baca: Lukas 19:1-10 | Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 11–13 ; Markus 12:1-27



https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-10.mp3

Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. —Lukas 19:10

Pada 18 Februari 1952, sebuah badai besar menghantam kapal tanker SS Pendleton hingga patah menjadi dua bagian sekitar 16 kilometer dari tepi pantai Massachusetts. Lebih dari 40 orang pelayar terjebak di buritan kapal yang perlahan tenggelam di tengah tiupan angin kencang dan terjangan ombak ganas.

Saat kabar tentang musibah itu sampai ke kantor Penjaga Pantai AS di Chatham, Massachusetts, Kepala Kelasi Bernie Webber pun menurunkan perahu penyelamat dengan 3 orang awak. Mereka berusaha menyelamatkan para anak buah kapal yang terjebak itu dalam keadaan yang hampir mustahil. Usaha mereka akhirnya berhasil menyelamatkan tiga puluh dua ABK. Tindakan mereka yang berani itu tercatat sebagai salah satu aksi penyelamatan terbesar sepanjang sejarah Penjaga Pantai AS, dan kisah mereka telah diangkat ke layar lebar dengan judul The Finest Hours yang rilis pada tahun 2016.
Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. —Lukas 19:10

Di Lukas 19:10, Yesus menggambarkan misi penyelamatan-Nya demikian: “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Salib dan kebangkitan menjadi ungkapan penyelamatan terbesar yang pernah ada, lewat penyerahan diri Yesus demi menanggung dosa kita dan memulihkan kembali hubungan semua orang yang percaya kepada-Nya dengan Allah Bapa. Selama 2.000 tahun, begitu banyak orang telah menerima tawaran hidup berkelimpahan di dunia dan hidup kekal bersama-Nya di surga. Mereka semua selamat!

Sebagai pengikut Yesus, kita mempunyai hak istimewa, dengan pertolongan ROH KUDUS, untuk mengikuti Juruselamat kita dalam misi penyelamatan-Nya. Siapa orang dalam hidup Anda yang membutuhkan kasih-Nya yang menyelamatkan?
Bagaimana cara Allah menyelamatkan Anda meninggalkan pengaruhnya bagi Anda? Apa yang dapat menolong Anda secara efektif membagikan rencana keselamatan-Nya kepada sesama Anda?
Bapa, mampukan aku melihat dunia seperti cara-Mu melihat dunia dan terlibat dalam misi penyelamatan-Mu. Jadikan aku alat kasih karunia-Mu.
Oleh Bill Crowder | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Lukas 19 mengisahkan permulaan minggu terakhir dalam kehidupan Yesus (19:28-23:56). Pada pasal-pasal sebelumnya, kabar burung tentang Yesus menyebar begitu cepat sementara sang pembuat mukjizat dari Nazaret sedang berjalan melalui lembah Yordan menuju Yerusalem. Saat seorang buta berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” (18:38), kabar itu pasti semakin riuh. Namun, sewaktu Yesus mau datang ke rumah Zakheus (19:1-10), pemungut cukai terkemuka di Yerikho, banyak orang menjadi marah. Orang Yahudi yang memungut pajak bagi Romawi dianggap sebagai pengkhianat. Kejadian ini membuat banyak orang menjadi curiga.

Akan tetapi, tak lama kemudian semua tahu bahwa Zakheus menanggapi kebaikan Yesus dengan berjanji memberikan setengah dari hartanya kepada orang-orang miskin dan mengembalikan empat kali lipat kepada mereka yang pernah diperasnya. Saat itulah Yesus menunjukkan kepada bangsa-Nya dan kepada kita suatu pengertian yang lebih dalam mengenai arti keselamatan dan pengampunan bagi orang berdosa.

Mart DeHaan





March 11, 2019, 12:36:42 PM
Reply #2216
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Dihapus Sampai Bersih
  11/03/2019 
Dihapus Sampai Bersih
Baca: Yesaya 43:25; 44:21-23 | Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 14–16 ; Markus 12:28-44


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-11.mp3


Aku telah menghapus segala dosa pemberontakanmu seperti kabut diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup. —Yesaya 44:22

Saat menciptakan penghapus pensil, insinyur Inggris bernama Edward Nairne awalnya menggunakan sepotong roti. Pada tahun 1770, kulit roti tawar digunakan untuk menghapus tulisan di kertas. Namun, tanpa sengaja, Nairne mengambil lembaran karet lateks dan mendapati bahwa ternyata karet bisa menghapus tulisan, meninggalkan “remah-remah” karet yang mudah dibersihkan dengan tangan.

Kesalahan kita yang terburuk pun dapat dihapus, karena Tuhan Yesus, Sang Roti Hidup yang membersihkan semua itu dengan nyawa-Nya sendiri, berjanji tidak akan pernah mengingat dosa-dosa kita lagi. “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri,” kata Yesaya 43:25, “dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.”
Hal apa di masa lalu yang tidak mudah Anda lupakan? Minta Allah menolong Anda meyakini firman-Nya.

Mungkin kita menganggap hal itu terlalu ajaib, bahkan tidak layak kita terima. Banyak orang sulit mempercayai bahwa dosa masa lalu dapat begitu saja dihapuskan oleh Allah “seperti kabut diterbangkan angin.” Benarkah Allah, yang tahu segala sesuatu, dengan mudah melupakan dosa kita?

Namun, persis itulah yang Allah lakukan saat kita menerima Yesus sebagai Juruselamat. Dengan memilih mengampuni dosa-dosa kita dan tidak lagi “mengingat-ingat dosa [kita]”, Bapa Surgawi membuat kita bebas untuk melangkah maju. Dengan tidak lagi terbebani oleh kesalahan-kesalahan di masa lalu, kita bersih dari segala dosa dan siap untuk melayani Allah kembali, sekarang dan selamanya.

Memang tetap ada konsekuensi yang harus kita tanggung. Namun, Allah telah menghapus dosa itu sendiri lalu mengajak kita kembali menjalani hidup yang baru dan bersih. Tidak ada cara lain yang lebih baik untuk memulai kembali.
Hal apa di masa lalu yang tidak mudah Anda lupakan? Minta Allah menolong Anda meyakini firman-Nya.
Tuhan, hapuskan dosa-dosa lamaku, gantikan dengan hidup baru di dalam-Mu. Ajar aku menghayati berkat pengampunan-Mu dengan penuh sukacita.
Oleh Patricia Raybon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Tema pengampunan dalam Yesaya 44:21-23 menggambarkan betapa limpahnya anugerah dan belas kasih Allah yang memberi pengampunan. Di sini, Allah berbicara kepada umat-Nya yang telah menyimpang dan memanggil mereka untuk memberikan tiga respon penting. Pertama, umat Allah ditantang untuk mengingat bahwa mereka diciptakan oleh Dia dan dipanggil untuk bersekutu dengan-Nya—sebab Dia takkan pernah melupakan mereka (ay.21). Walaupun secara rohani mereka sesat, Allah melimpahkan pengampunan kepada mereka. Bagaimana seharusnya mereka menanggapi pengampunan itu? Dengan kembali kepada-Nya (ay.22) dan menerima karunia penebusan-Nya. Terakhir, mereka perlu menyaksikan bagaimana seluruh ciptaan merayakan rahmat dan kasih Allah yang maha pengampun (ay.23). Sebagaimana kemuliaan Allah diwahyukan melalui ciptaan-Nya, Dia juga mau menyatakan kemuliaan itu dalam umat perjanjian-Nya yang telah diampuni, dipulihkan, dan ditebus.

Bill Crowder



March 12, 2019, 05:30:42 AM
Reply #2217
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Mengharapkan Penundaan
  12/03/2019 
Mengharapkan Penundaan
Baca: Amsal 16:1-3,9 | Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 17–19 ; Markus 13:1-20



https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-12.mp3

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. —Amsal 16:9

Yang benar saja? Saya sudah terlambat, tetapi tulisan di papan informasi jalan di depan saya mengandaskan harapan saya untuk tiba di kantor tepat waktu: “Ada Hambatan di Depan”.

Saya berharap segala sesuatu berjalan sesuai jadwal yang sudah saya susun, tetapi tidak memperkirakan adanya perbaikan jalan.
Ganti kekhawatiran Anda dengan kepercayaan. Allah akan menuntun Anda.

Dalam hal rohani, tak banyak dari kita mempersiapkan diri untuk menghadapi hal-hal yang akan menghambat perjalanan kita atau memaksa kita mengubah rencana. Namun, kalau dipikir-pikir, saya jadi ingat betapa seringnya keadaan memaksa saya menata ulang rencana hidup saya—dalam hal besar maupun kecil. Hambatan akan selalu ada.

Dalam Amsal 16, Raja Salomo menulis tentang bagaimana rencana kita terkadang tidak sama dengan rencana Allah. Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari menuliskan ayat 1 sebagai berikut: “Manusia boleh membuat rencana, tapi Allah yang memberi keputusan.” Salomo mengulangnya di ayat 9 (BIS), dengan berkata, “Manusia dapat membuat rencana, tetapi Allah yang menentukan jalan hidupnya.” Dengan kata lain, kita dapat membayangkan apa yang seharusnya terjadi, tetapi adakalanya Allah mempunyai jalan lain untuk kita jalani.

Bagaimana saya bisa melupakan kebenaran rohani itu? Saya menyusun rencana-rencana saya, tetapi bisa jadi lupa bertanya kepada Allah apa rencana-Nya bagi saya. Saya pun frustrasi ketika sesuatu menyela dan mengubah rencana saya.

Namun, daripada khawatir, kita dapat mengikuti nasihat Salomo dengan belajar mempercayai bahwa Allah menuntun kita, langkah demi langkah, sembari terus berdoa mencari wajah-Nya, menanti tuntunan-Nya, dan mengizinkan-Nya terus mengarahkan kita.
Bagaimana biasanya reaksi Anda saat menghadapi penundaan dan perubahan rencana yang tidak terduga? Ketika merasa frustrasi, apa yang akan menolong Anda berserah kepada Allah dan mempercayai Dia lebih lagi?
Ganti kekhawatiran Anda dengan kepercayaan. Allah akan menuntun Anda.
Oleh Adam Holz | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Amsal bukanlah panduan langkah demi langkah yang harus diperbuat pada tiap keadaan. Wejangan tersebut memberikan kita prinsip-prinsip umum untuk hidup dengan bijak. Amsal menunjukkan bagaimana cara berinteraksi dengan sesama manusia dan cara menghindari kebebalan—atau berhenti menjadi orang bebal. Ketika kita menerapkan hikmat dari amsal, kita akan lebih bijak untuk tidak tergesa-gesa dalam membuat perencanaan. Kita belajar untuk mengatur berbagai sumber daya yang telah diberikan Tuhan. Dalam proses itu, kita bertumbuh dan terhindar dari berbagai bencana. Amsal tidak memberitahukan rencana apa yang harus kita buat, tetapi mengajar kita untuk membuat rencana yang berhikmat dan menyerahkannya kepada Tuhan (Amsal 16:3).

Tim Gustafson





March 13, 2019, 06:01:04 AM
Reply #2218
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Memilih Menggelandang
  13/03/2019 
Memilih Menggelandang
Baca: Ibrani 2:9-18 | Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 20–22 ; Markus 13:21-37


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-13.mp3

Oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai. —Ibrani 2:18

Keith Wasserman memilih hidup menggelandang di jalanan selama beberapa hari setiap tahunnya sejak tahun 1989 agar ia bisa belajar lebih mengasihi dan berbelaskasihan kepada orang lain. “Saya pergi menggelandang di jalanan untuk memperluas sudut pandang dan pemahaman” tentang kaum tunawisma, kata Keith, direktur eksekutif dari Good Works, Inc.

Saya berpikir, mungkinkah cara Keith menjadi seperti orang-orang yang ia layani itu merupakan sekilas gambaran tentang apa yang pernah Yesus lakukan bagi kita. Allah sendiri, Pencipta alam semesta, memilih membatasi diri-Nya dalam keadaan yang rapuh sebagai seorang bayi, menjalani hidup sebagai manusia, merasakan apa yang kita semua rasakan, dan akhirnya mengalami kematian di tangan manusia—semua itu agar kita dapat menikmati suatu hubungan pribadi dengan Allah.
Tuhan Yesus, terima kasih untuk pengorbanan-Mu.

Penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa Yesus “menjadi sama dengan [manusia] dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut” (2:14). Yesus dibuat menjadi lebih rendah daripada malaikat, meskipun Dialah yang menciptakan mereka (ay.9). Dia menjadi manusia dan mati, meskipun Dia abadi. Dia pun menderita bagi kita, meskipun Dia Allah yang Mahakuasa. Mengapa Dia melakukan semua itu? Supaya Dia dapat menolong kita ketika kita menghadapi berbagai pencobaan dan memulihkan hubungan kita dengan Allah (ay.17-18).

Kiranya kita mengalami kasih-Nya hari ini, dengan menyadari bahwa Dia memahami sisi kemanusiaan kita dan telah menyediakan jalan bagi penghapusan dosa-dosa kita.
Sudahkah Anda datang kepada Yesus untuk mengalami kasih dan pengampunan-Nya? Jika sudah, bagaimana realitas itu berdampak dalam kehidupan Anda hari ini? Jika belum, maukah Anda menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat hari ini?
Tuhan Yesus, terima kasih untuk pengorbanan-Mu.
Oleh Estera Pirosca Escobar | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Para pakar Alkitab tidak dapat memastikan siapa penulis surat Ibrani. Namun, jelas bahwa surat itu ditujukan kepada sekelompok orang Kristen (kemungkinan dengan latar belakang Yahudi) yang menderita karena iman mereka, termasuk penganiayaan dan kehilangan harta benda, tetapi tetap menunjukkan belas kasihan (10:32-34). Penulis mendorong mereka untuk berpegang teguh pada kepercayaan mereka kepada Allah, bertekun, dan terus melakukan kehendak-Nya (ay.35-36).

Alyson Kieda





March 14, 2019, 05:35:27 AM
Reply #2219
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22603
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kehidupan yang Tiada Tara
  14/03/2019 
Kehidupan yang Tiada Tara
Baca: Kejadian 29:31-35 | Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 23–25 ; Markus 14:1-26


https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-14.mp3

Mengandung pulalah ia, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, maka ia berkata: “Sekali ini aku akan bersyukur kepada Tuhan.” —Kejadian 29:35

Dalam sebuah acara TV, beberapa orang pemuda berperan menjadi murid SMA agar dapat lebih memahami kehidupan remaja. Mereka mendapati bahwa media sosial memiliki peranan yang sangat penting bagi remaja dalam mengukur harga diri mereka. Salah satu peserta mengamati, “Nilai diri [para pelajar] terkait erat dengan media sosial—tergantung dari berapa banyak ‘likes’ yang mereka dapat pada foto yang mereka unggah.” Kebutuhan untuk diterima orang lain dapat mendorong kaum muda bertindak ekstrem di dunia maya.

Keinginan untuk diterima orang lain sudah ada sejak zaman lampau. Dalam Kejadian 29, kita dapat memahami bagaimana Lea rindu dicintai oleh suaminya, Yakub. Itu terlihat dari nama tiga anak lelaki pertamanya—semuanya menyiratkan kesepian yang dirasakannya (ay.31-34). Sedihnya, tidak ada tanda-tanda Yakub pernah memberi perhatian yang didambakan Lea.
Hanya dalam Yesus kita menemukan identitas sejati sebagai anak-anak Allah.

Setelah kelahiran putra keempatnya, Lea berpaling kepada Allah daripada suaminya, dan menamai anak itu Yehuda, yang berarti “pujian” (ay.35). Sepertinya Lea, pada akhirnya, memilih menemukan nilai dirinya dalam Allah. Ia menjadi bagian dari rencana keselamatan Allah atas umat-Nya: Yehuda adalah leluhur dari Raja Daud, dan kemudian, Yesus.

Kita bisa mencoba mencari nilai diri kita lewat berbagai cara, tetapi hanya dalam Yesus kita menemukan identitas sejati sebagai anak-anak Allah, pewaris Kerajaan Allah bersama Kristus, yang akan hidup kekal bersama Bapa Surgawi. Seperti yang ditulis Paulus, tidak satu hal pun di dunia ini yang sebanding dengan “pengenalan akan Kristus Yesus, [yang] lebih mulia dari pada semuanya” (Flp. 3:8).
Dalam hal apakah, atau pada siapakah, Anda berusaha mendapatkan pengakuan dan penerimaan? Bagaimana iman kepada Yesus menyingkapkan identitas sejati Anda?
Bapa Surgawi, tolonglah aku memandang nilai diriku dalam Engkau dan bukan dalam hal-hal lain. Hanya dalam Engkaulah aku menemukan identitas sejatiku dan keindahan hidup yang tiada tara!
Oleh Peter Chin | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kisah Rahel dan Lea memang menyedihkan, tetapi kita perlu memahaminya dalam konteks budaya zaman itu. Kejadian 29:1-30 menceritakan bagaimana Yakub datang kepada keluarga Laban (yang masih termasuk kerabatnya). Ia jatuh cinta pada Rahel dan bermaksud menikahinya. Namun, menurut adat pada masa itu, putri tertua harus menikah terlebih dahulu; dan karena Rahel lebih muda, ia tak boleh menikah sebelum kakaknya, Lea (ay.26).
“Tuhan melihat, bahwa Lea tidak dicintai” (ay.31); sang kakak diberikan kepada pria yang menyukai adiknya. Lea berpikir dengan mempunyai anak, ia akan dicintai suaminya. Namun, anak-anak itu menyadarkannya bahwa Tuhanlah yang harus ia dambakan (ay.35).





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)