Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 127188 times)

0 Members and 2 Guests are viewing this topic.

March 15, 2019, 05:56:24 AM
Reply #2220
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Teruslah Maju
  15/03/2019 
Teruslah Maju
Baca: Keluaran 10:21-29 | Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 26–27 ; Markus 14:27-53



https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-15.mp3

Karena beriman, maka Musa meninggalkan Mesir tanpa merasa takut terhadap kemarahan raja. —Ibrani 11:27 BIS

Bekerja di dunia swasta membuat saya berinteraksi dengan banyak orang yang berbakat dan berpikiran sehat. Namun, saya menemui kesulitan dalam satu proyek yang dipimpin oleh manajer yang tinggal di luar kota. Meskipun tim kami menunjukkan perkembangan, si manajer terus saja mengkritik dan menuntut kami bekerja lebih keras dalam rapat via telepon yang kami lakukan tiap minggu. Komentarnya membuat saya tawar hati dan takut, bahkan sempat terpikir untuk mengundurkan diri saja.

Bisa jadi Musa juga ingin menyerah saat menghadap Firaun di saat Mesir dijatuhi tulah kegelapan. Allah telah menjatuhkan delapan tulah atas Mesir sebelumnya, dan akhirnya kali ini kemarahan Firaun meledak. Ia berkata kepada Musa, “Pergilah dari padaku; awaslah engkau, jangan lihat mukaku lagi, sebab pada waktu engkau melihat mukaku, engkau akan mati” (Kel. 10:28).
ROH KUDUS memberi kekuatan yang kita butuhkan untuk terus maju dan mengikuti pimpinan Allah dalam hidup kita.

Meski diancam, Musa tetap dipakai Allah untuk membebaskan bangsa Israel dari cengkeraman Firaun. “Karena beriman, maka Musa meninggalkan Mesir tanpa merasa takut terhadap kemarahan raja. Musa maju menuju tujuannya seolah-olah ia sudah melihat Allah yang tidak kelihatan itu” (Ibr. 11:27 BIS). Musa menghadapi Firaun dengan mempercayai bahwa Allah akan menepati janji pembebasan-Nya (Kel. 3:17).

Hari ini, kita dapat berpegang pada janji bahwa Allah akan selalu menyertai kita dalam segala keadaan dan menopang kita lewat Roh-Nya yang kudus. Ia menolong kita bertahan terhadap intimidasi dan menjaga kita dari respons yang salah. Caranya dengan memberi kita roh yang menjadikan kita kuat, penuh kasih, dan dapat menahan diri (2Tim. 1:7). ROH KUDUS memberi kekuatan yang kita butuhkan untuk terus maju dan mengikuti pimpinan Allah dalam hidup kita.
Situasi seperti apa yang membuat Anda kesal? Bagaimana cara Anda bergantung kepada Tuhan?
Tuhan, tolong aku tetap berfokus kepada-Mu ketika aku kesal. Lindungi, pimpin, dan tolonglah aku mempercayai-Mu dalam segala keadaanku.
Oleh Jennifer Benson Schuldt | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Setiap tulah merupakan bentuk serangan terhadap dewa-dewa Mesir, yakni ilah palsu. Tulah pertama, air sungai Nil menjadi darah (Keluaran 7:14-24), ditujukan kepada salah satu dewa terpenting Mesir, yaitu sungai Nil sendiri! Nil dianggap sumber kehidupan bagi pertanian Mesir. Mengubahnya menjadi darah adalah ledekan yang hebat terhadap mereka. Tulah kesembilan—gelap gulita—juga menunjukkan keunggulan Allah Israel atas Ra, dewa Matahari, salah satu dewa utama dalam sistem kepercayaan rakyat Mesir (10:21-23). Setiap tulah menyatakan bahwa Allah Israel, satu-satunya Allah yang benar, berkuasa atas ilah palsu sembahan orang Mesir.

Bill Crowder




March 16, 2019, 06:02:54 AM
Reply #2221
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Lebih dari Sekadar Simbol
  16/03/2019 
Lebih dari Sekadar Simbol
Baca: 2 Samuel 23:13-17 | Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 28–29 ; Markus 14:54-72



https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-16.mp3

Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. —Filipi 2:3

Dengan sengaja, bintang bola basket Jordan Bohannon dari Universitas Iowa memelesetkan tembakan bebas yang jika masuk dapat memecahkan rekor kampus yang sudah bertahan selama dua puluh lima tahun. Mengapa ia melakukannya? Pada tahun 1993, Chris Street, bintang bola basket dari kampus yang sama, berhasil mencetak rekor dengan tiga puluh empat kali tembakan bebasnya masuk berturut-turut. Namun, beberapa hari kemudian ia tewas dalam sebuah kecelakaan mobil. Bohannon memilih menghormati kenangan terhadap Street dengan menolak memecahkan rekornya.

Lewat sikapnya, Bohannon menunjukkan kepekaan terhadap hal-hal yang lebih penting daripada prestasinya sendiri. Kita melihat nilai-nilai yang sama dalam diri seorang pejuang muda bernama Daud. Saat bersembunyi dalam gua bersama pasukannya, Daud ingin sekali minum air dari perigi di kampung halamannya Betlehem, tetapi pasukan Filistin sedang menduduki wilayah itu (2Sam. 23:14-15).
Bapa, tolong aku mengatur ulang prioritasku agar aku bisa memperhatikan kebutuhan sesamaku seperti kebutuhanku

Dengan penuh keberanian, tiga perwira bawahan Daud “menerobos perkemahan orang Filistin”, mengambil air, lalu membawanya kepada Daud. Melihat hal itu, Daud pun tidak tega meminumnya. Ia justru “mempersembahkannya sebagai korban curahan kepada Tuhan”, dengan berkata, “Bukankah ini darah orang-orang yang telah pergi dengan mempertaruhkan nyawanya?” (ay.16-17).

Di dunia yang sering kali lebih menghargai mereka yang berhasil merebut apa saja yang bisa diraih, alangkah dahsyatnya tindakan yang didasari oleh kasih dan pengorbanan! Tindakan mulia seperti itu mempunyai arti lebih daripada sekadar simbol.
Alih-alih menggolkan agenda sendiri, bagaimana caranya Anda dapat menghargai keberhasilan orang lain dan usaha mereka? Bagaimana tindakan kasih kita merefleksikan kasih Tuhan?
Bapa, bimbing hatiku hari ini. Tolong aku mengatur ulang prioritasku agar aku bisa memperhatikan kebutuhan sesamaku seperti kebutuhanku sendiri.
Oleh Tim Gustafson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Daud memiliki kelompok perwira khusus yang dikenal sebagai “Tridasawira” (2 Samuel 23:13, 23-24 BIS) yang terdiri dari tiga puluh tujuh “pahlawan” yang memimpin pasukannya (ay.39). Karena kesetiaannya kepada Daud, mereka disebut sebagai orang-orang yang dipakai Allah untuk menggenapi rencana-Nya dalam menjadikan Daud raja atas seluruh Israel (1 Tawarikh 11:10-47). Dalam 2 Samuel 23:13-17, Daud menghormati dedikasi tiga perwiranya (dikenal sebagai “Triwira”, ay.8,13-19,23 BIS) dengan tidak meminum air yang mereka ambil dengan mempertaruhkan nyawa. “Tetapi Daud tidak mau meminumnya, melainkan mempersembahkannya sebagai korban curahan kepada Tuhan” (ay.16). Sikap Daud bukan pelecehan, justru karena kerendahan hati dan rasa terima kasih yang mendalam, ia menganggap air itu sebagai simbol darah ketiga perwiranya (ay.17). Dengan mengingat bahwa “darah adalah nyawa,” ia mencurahkan air tersebut sebagai persembahan kepada Allah (Ulangan 12:23-24). Daud mengakui bahwa Dialah yang patut menerima pengorbanan hidup mereka.



March 17, 2019, 11:30:58 AM
Reply #2222
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Bertahan dengan Berani
  17/03/2019 
Bertahan dengan Berani
Baca: Ulangan 31:1-8 | Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 30–31 ; Markus 15:1-25

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-17.mp3

Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar. —Ulangan 31:6

Ketika sebagian besar pemimpin gereja di Jerman tunduk kepada Hitler, pendeta dan teolog Martin Niemöller termasuk segelintir orang yang berani menentang kejahatan Nazi. Saya ingat pernah membaca cerita tentang suatu hari di dekade 1970-an, ketika sekelompok orang tua Jerman berdiri di depan sebuah hotel besar, seorang lelaki yang terlihat lebih muda dari mereka semua terlihat sibuk mengurusi koper-koper. Seseorang bertanya tentang mereka. “Mereka para pendeta dari Jerman,” jawab seseorang. “Lalu, siapa pria yang lebih muda itu?” “Itu Martin Niemöller—umurnya sudah delapan puluh tahun. Namun, ia tetap terlihat muda karena ia tidak kenal takut.”

Niemöller tidak kenal takut bukan karena ia manusia super yang memiliki kemampuan untuk tidak merasa takut, tetapi semata-mata karena anugerah Allah. Sebenarnya dahulu ia anti dengan orang Yahudi. Namun, ia bertobat dan Allah memulihkannya. Dia menolongnya untuk memberitakan dan menghidupi kebenaran.
Hidup dengan berani bukan berarti tidak merasa takut, melainkan tidak ditundukkan oleh ketakutan itu.

Musa mendorong bangsa Israel untuk mengalahkan ketakutan dan mengikuti kebenaran Allah. Ketika bangsa itu takut karena menyadari Musa akan segera wafat, sang pemimpin meneguhkan mereka dengan kata-kata yang tegas: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar . . . sebab Tuhan, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau” (Ul. 31:6). Tidak ada alasan untuk gentar terhadap masa depan yang tidak pasti karena satu alasan: Allah menyertai mereka.

Masalah apa pun yang menghadang Anda di depan, apa pun persoalan yang bertubi-tubi melanda—Allah menyertai Anda. Dengan anugerah-Nya, kiranya Anda dapat menghadapi ketakutan itu dengan kesadaran bahwa Allah “tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (ay.6,8).
Ketakutan apa yang sedang Anda hadapi? Bagaimana kehadiran Allah memberikan keberanian kepada hati Anda?
Hidup dengan berani bukan berarti tidak merasa takut, melainkan tidak ditundukkan oleh ketakutan itu.
Oleh Winn Collier | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Perintah untuk menguatkan hati dalam Ulangan 31:1-8 datang ketika bangsa Israel menghadapi situasi genting. Mesir ada di belakang mereka; Tanah Perjanjian ada di hadapan mereka; dan Musa, satu-satunya pemimpin yang dikenal oleh bangsa yang baru terbentuk ini, sebentar lagi menempuh ajalnya (ay.1-2). Umat Tuhan berada dalam masa transisi. Hal ini dapat menimbulkan ketidakpastian, kerentanan, dan keguncangan. Namun, pada saat-saat kritis ini pun tetap ada alasan untuk menguatkan hati (ay.6-8). Mengapa? Sebab hadirat Tuhan akan berjalan di hadapan mereka dan kuasa-Nya terwujud lewat kekalahan bangsa-bangsa yang melawan Israel (ay.3-5). Tuhan juga sudah memilih dan menugaskan Yosua untuk menggantikan Musa (Bilangan 27:12-23).

Arthur Jackson




March 18, 2019, 06:45:28 AM
Reply #2223
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Bersukacita di Masa Sukar
  18/03/2019 
Bersukacita di Masa Sukar
Baca: Habakuk 3:16-19 | Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 32-34 ; Markus 15:26-47



https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-18.mp3

Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. —Habakuk 3:18

Setiap kali teman saya tidak menjawab panggilan telepon, ada mesin perekam suara yang meminta saya meninggalkan pesan. Di penghujung rekaman suaranya, ada pesan bernada riang, “Jadikan hari ini luar biasa!” Saat merenungkan kata-kata itu, saya menyadari bahwa kita tidak berkuasa menjadikan setiap hari “luar biasa”, karena adakalanya keadaan memang terlalu berat. Namun, jika mau melihat lebih dalam, bisa jadi saya akan menemukan sesuatu yang baik dan indah di hari itu, entah keadaan sedang baik-baik saja atau tidak.

Habakuk juga mengalami situasi yang tidak mudah. Sebagai nabi, Habakuk telah ditunjukkan Allah tentang hari-hari mendatang ketika tanaman maupun ternak—yang dijadikan sumber penghidupan banyak orang—tidak menghasilkan bahan makanan (3:17). Tidak cukup sekadar optimis untuk menghadapi masa-masa sukar yang akan datang. Sebagai sebuah bangsa, Israel akan mengalami masa kelaparan yang parah. Habakuk didera ketakutan yang sangat besar hingga ia gemetar dan menjadi lemah (ay.16).
Tuhan, bagaimana pun keadaanku, tolong aku bersukacita di dalam-Mu.

Meskipun demikian, Habakuk berkata bahwa ia akan “bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah” (ay.18). Dia menyatakan harapannya di dalam Allah yang akan memberinya kekuatan untuk berjalan melewati masa-masa sulit (ay.19).

Terkadang kita harus melewati masa-masa yang sangat sulit dan berat. Namun, apa pun kehilangan yang kita alami, apa pun keinginan kita yang kandas, seperti Habakuk, kita dapat tetap bersukacita dalam hubungan kita dengan Allah yang Maha Pengasih. Bahkan ketika kita merasa tidak memiliki apa-apa lagi, Dia tidak pernah membiarkan atau meninggalkan kita (Ibr. 13:5). Dia yang “memberi kegembiraan dan sukacita kepada orang yang bersedih dan berkabung” adalah alasan utama kita untuk bersukacita (Yes. 61:3 bis).
Dalam hal apa hubungan Anda dengan Yesus membawa kebahagiaan terbesar? Bagaimana Dia menjamah Anda di tengah cobaan atau dukacita yang Anda alami?
Tuhan, bagaimana pun keadaanku, tolong aku bersukacita di dalam-Mu.
Oleh Kirsten Holmberg | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam kitab Habakuk, sang nabi bergumul dengan keadilan Allah dalam menghukum Israel melalui tindakan bangsa-bangsa yang lebih buruk daripada mereka (1:12-13). Pergumulan Habakuk hanya salah satu di antara banyaknya pergumulan dengan Allah yang dicatat dalam Alkitab. Penderitaan, keraguan, bahkan amarah kepada Allah bukan masalah yang perlu dipendam atau ditekan. Berjalan bersama Allah artinya mau membuka seluruh aspek manusiawi kita—isi hati kita—dengan jujur di hadapan-Nya.

Perubahan Habakuk dari seruan kesesakan, “Berapa lama lagi” (1:2-4) menjadi keyakinan, sukacita, dan kekaguman (3:16-19) melukiskan prinsip alkitabiah bahwa pergumulan yang jujur dengan Allah menghasilkan perubahan yang mendalam. Seperti Ayub, dengan membawa rasa sakit dan kemarahannya ke hadapan Allah, Habakuk diubahkan—bukan dengan penjelasan yang membuat ia memahami pergumulan itu, tetapi melalui perjumpaan langsung dengan kebaikan, kuasa, dan keindahan Allah yang luar biasa (ay.3-15).

Monica Brands





March 19, 2019, 06:22:25 AM
Reply #2224
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Iman Nenek yang Membekas
  19/03/2019 
Iman Nenek yang Membekas
Baca: 2 Timotius 1:3-7 | Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 1–3 ; Markus 16

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-19.mp3


Hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. —2 Timotius 3:14

Namanya panjang tetapi umurnya lebih panjang lagi: Madeline Harriet Orr Jackson Williams hidup hingga umur 101 tahun, lebih lama dari kedua suaminya. Kedua suaminya adalah pengkhotbah. Madeline adalah nenek saya, dan kami memanggilnya Momma. Saya dan saudara-saudara saya sangat dekat dengannya; kami tinggal di rumahnya sampai ia pindah mengikuti suami keduanya. Tidak terlalu jauh, karena tempat tinggalnya kurang dari 80 kilometer jauhnya dari kami. Nenek kami senang menyanyi lagu gereja, menghafal katekismus, bermain piano, dan seorang yang takut akan Allah. Imannya sangat membekas dalam diri saya dan saudara-saudara saya.

Menurut 2 Timotius 1:3-7, nenek Timotius, Lois, dan ibunya, Eunike, memiliki dampak besar atas hidup Timotius. Kehidupan dan pengajaran mereka berakar dalam Kitab Suci (ay.5; 2Tim. 3:14-16) dan akhirnya iman mereka bertumbuh dalam hati Timotius. Pengalaman dibesarkan menurut nilai-nilai Alkitab tidak hanya mendasari hubungan Timotius dengan Allah, tetapi juga sangat penting bagi keefektifannya dalam pelayanan kepada Tuhan (1:6-7).
Allah memakai pria-wanita yang setia untuk meninggalkan warisan iman kepada generasi mendatang.

Hari ini, seperti pada zaman Timotius, Allah memakai pria-wanita yang setia untuk meninggalkan warisan iman kepada generasi mendatang. Doa, perkataan, tindakan, dan pelayanan kita dapat dipakai Tuhan secara luar biasa, baik saat kita hidup maupun setelah kita meninggal dunia. Itulah sebabnya saya dan saudara-saudara masih melakukan hal-hal yang diajarkan Momma kepada kami. Saya berdoa agar warisan Momma tidak berhenti hanya pada kami.
Bagaimana Anda menggunakan doa, perkataan, tindakan, dan pelayanan Anda untuk menolong orang lain bertumbuh dalam Yesus? Apa yang kelak akan Anda wariskan bagi generasi berikutnya?
Bapa Surgawi, pakailah hidup kami sebagai warisan bagi kemuliaan-Mu dan yang memperkaya sesama kami.
Oleh Arthur Jackson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Alkitab memberitahukan sedikit latar belakang Timotius. Ia masih cukup muda (1 Timotius 4:12), tampaknya memiliki masalah pencernaan dan mudah sakit (5:23). Ada pula informasi yang lebih penting. Misalnya, pengaruh keluarganya dalam imannya kepada Yesus Kristus (2 Timotius 1:5). Timotius bepergian dengan Paulus dan membantunya dalam perintisan gereja-gereja di Filipi, Tesalonika, dan Berea (Kisah Para Rasul 16:1-17:14). Ia adalah murid yang taat pada Firman Tuhan (2 Timotius 3:14-15), dan Paulus mempercayakan kepadanya berbagai pelayanan: ia diutus ke Tesalonika untuk menguatkan orang-orang percaya di sana (1 Tesalonika 3:2), ke gereja di Korintus untuk memastikan nasihat Paulus dijalankan di sana (ada ketegangan antara Paulus dan jemaat Korintus, lihat 1 Korintus 16:10-11), Timotius juga ditugaskan untuk menegur dan meluruskan guru-guru palsu di Efesus (1 Timotius 1:3).




March 20, 2019, 05:28:11 AM
Reply #2225
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Dari Ratapan Menjadi Pujian
  20/03/2019 
Dari Ratapan Menjadi Pujian
Baca: Mazmur 30 | Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 4–6 ; Lukas 1:1-20

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-20.mp3
Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, . . . pinggangku Kauikat dengan sukacita. —Mazmur 30:12

Kim mulai berjuang melawan kanker payudara pada tahun 2013. Empat hari setelah pengobatannya berakhir, Kim didiagnosis menderita penyakit paru-paru stadium lanjut dan diberi tahu bahwa harapan hidupnya hanya sisa tiga sampai lima tahun. Ia sedih sekali, dan di tahun pertama, ia sering berdoa dan menangis di hadapan Tuhan. Waktu saya bertemu Kim lagi pada tahun 2015, ia sudah lebih berserah kepada Allah dan memancarkan sukacita serta kedamaian yang menular ke banyak orang. Meski masih bergumul, penderitaan Kim yang berat itu diubah Allah menjadi kesaksian indah yang penuh harapan lewat semangat yang ia teruskan kepada orang lain.

Saat kita berada dalam situasi yang menakutkan, Allah sanggup mengubah ratapan kita menjadi tari-tarian. Meski kesembuhan dari-Nya tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan, kita bisa mempercayai jalan-jalan Allah (Mzm. 30:2-4). Meskipun jalan yang harus kita tempuh bersimbah air mata, tetap tidak terhitung banyaknya alasan untuk memuji Dia (ay.5). Kita dapat bersukacita dalam Allah, dan Dia akan meneguhkan iman kita (ay.6-8). Kita bisa berseru meminta belas kasihan-Nya (ay.9-11), mensyukuri harapan yang Dia bawa kepada begitu banyak orang yang menangis dan memohon kepada-Nya. Hanya Allah yang dapat mengubah ratapan putus asa menjadi sukacita besar yang tidak tergantung pada keadaan (ay.12-13).
Apakah sumber damai dan sukacita sejati? Apa artinya berserah total kepada Allah?

Saat Allah yang berbelaskasihan itu menghibur kita yang bersedih, Dia melingkupi kita dengan damai sejahtera dan memampukan kita menyalurkan belas kasihan itu kepada orang lain dan diri sendiri. Allah yang penuh kasih setia itu sanggup dan memang mengubah ratapan kita menjadi pujian, bahkan kita mampu mempercayai-Nya sepenuh hati, memuji dan menari-nari dengan penuh sukacita.
Apakah sumber damai dan sukacita sejati? Apa artinya berserah total kepada Allah?
Tuhan, peganglah kami erat-erat karena kami percaya Engkau sanggup mengubah ratapan kami menjadi pujian.
Oleh Xochitl Dixon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Karena dosanya, Daud kerap ditimpa sakit penyakit meski biasanya tidak disebutkan secara spesifik (Mazmur 6:2-3; 38:2-4; 41:4-5). Sejumlah pakar Alkitab meyakini bahwa Daud menuliskan Mazmur 30 karena pengalamannya pada 1 Tawarikh 21 (lihat juga 2 Samuel 24). Dalam kesombongannya—yaitu percaya pada jumlah pasukan yang besar, bukan pada Allah—Daud menghitung jumlah tentara untuk menunjukkan betapa besar kekuatannya (Mazmur 30:7-9). Allah menghukum Daud dengan penyakit yang mengancam hidupnya, tetapi dalam rahmat-Nya, Dia memulihkan Daud sesuai doanya (ay.4-13). Selanjutnya, Daud membeli sebuah lahan dan mendedikasikannya sebagai lokasi Bait Allah (1 Tawarikh 21:25-26; 22:1). Pengantar Mazmur ini memberitahukan bahwa Daud menulis Mazmur 30 untuk ibadah pentahbisan: “Mazmur. Nyanyian untuk pentahbisan Bait Suci.”




March 21, 2019, 06:09:12 AM
Reply #2226
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Dibuat Khusus dengan Tangan
  21/03/2019 
Dibuat Khusus dengan Tangan
Baca: Efesus 2:4-10 | Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 7–9 ; Lukas 1:21-38

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-21.mp3

Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. —Efesus 2:10

Nenek saya sangat pintar menjahit. Ia selalu merayakan peristiwa penting dalam hidup saya dengan memberi hadiah sebuah hasil jahitannya sendiri. Sweter rajut berwarna merah anggur sebagai hadiah saya lulus SMA. Sehelai selimut warna pirus sebagai hadiah pernikahan kami. Saya suka membuka lipatan pada ujung setiap hasil jahitannya, karena saya akan menemukan sebaris tulisan khasnya yang berbunyi, “Dibuat khusus dengan tangan untukmu.” Lewat setiap kata yang tersulam, saya bisa merasakan kasih nenek saya dan keyakinannya pada masa depan saya.

Paulus menulis kepada jemaat di Efesus mengenai tujuan keberadaan mereka di dunia ini, dengan menggambarkan mereka sebagai “buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik” (2:10). Kata “buatan Allah” merujuk kepada karya seni atau mahakarya. Kemudian Paulus menyatakan bahwa karya tangan Allah yang menciptakan kita akan membuat kita melakukan pekerjaan baik dengan tangan kita—atau untuk mengungkapkan hubungan kita yang sudah dipulihkan dengan Yesus—demi kemuliaan-Nya di dunia ini. Kita tidak diselamatkan oleh perbuatan baik kita, tetapi ketika tangan Allah membentuk kita demi tujuan-Nya, Dia dapat memakai kita untuk membawa orang lain kepada kasih-Nya yang besar.
Allah dapat memakai kita untuk membawa orang lain kepada kasih-Nya yang besar.

Hasil jahitan tangan nenek saya mengungkapkan kasih sayangnya kepada saya dan kerinduannya agar saya menemukan tujuan hidup saya di bumi ini. Dengan tangan-Nya, Allah membentuk hari-hari kita dengan sangat mendetail. Dia merajut kasih dan tujuan-Nya dalam hati kita agar kita bisa mengalami Dia dalam hidup kita dan memperlihatkan karya tangan-Nya kepada sesama kita.
Menurut Anda, apa yang Allah mau Anda lakukan sebagai tujuan penciptaan-Nya? Kepada siapa Anda bisa menunjukkan kasih-Nya hari ini?
Bapa, terima kasih Engkau telah membentuk diriku; tolonglah aku menyatakan diri-Mu kepada dunia.
Oleh Elisa Morgan | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Saat Paulus mengingatkan para pembacanya bahwa mereka adalah salah satu karya Allah yang masih berlangsung (Efesus 2:8-10), ia menulis berdasarkan kisah hidupnya sendiri. Setelah mengenyam pendidikan Taurat sebagai orang Farisi, Paulus menggambarkan seperti apa dirinya sebelum berjumpa dengan Yesus di jalan menuju Damsyik (Kisah 22:1-5; 1 Timotius 1:12-15). Paulus tahu karya Tuhanlah yang mengubahnya dari seorang penegak ajaran Musa yang kejam menjadi seorang yang tidak pernah berhenti mengagumi kebaikan Yesus. Oleh kasih karunia dan Roh Kristus, semangat Paulus terhadap amal hukum Taurat (Efesus 2:3) telah diganti menjadi hati yang mencerminkan rahmat Juruselamat yang telah mati bagi kita (ay.4-5, 5:1).

Mart DeHaan




March 22, 2019, 07:13:50 AM
Reply #2227
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Menanggung Beban Kesalahan
  22/03/2019 
Menanggung Beban Kesalahan
Baca: 1 Petrus 3: 8-14 | Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 10–12 ; Lukas 1:39-56

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-22.mp3

Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan. —1 Petrus 3:9

Tanggal 30 Januari 2018, setelah hampir tiga puluh delapan tahun dijebloskan ke penjara, Malcolm Alexander dibebaskan. Bukti DNA telah membebaskan Alexander, yang selama proses pengadilan tetap gigih menyatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Pengacara yang tidak kompeten (belakangan izin praktiknya dicabut), bukti yang tidak kuat, dan taktik penyelidikan yang meragukan telah membuat seseorang yang tidak bersalah harus mendekam dalam penjara selama hampir empat dekade. Namun, ketika dibebaskan, Alexander masih menunjukkan rasa syukur atas anugerah besar yang diterimanya. “Tidak perlu marah,” katanya. ”Saya tidak punya waktu untuk marah.”

Perkataan Alexander itu menunjukkan kebesaran hati yang luar biasa. Seandainya kita diperlakukan tidak adil dan harus mendekam di penjara selama tiga puluh delapan tahun serta kehilangan nama baik, besar kemungkinan kita akan sangat marah dan mendendam. Meskipun Alexander harus menanggung beban kesalahan yang ditimpakan kepadanya selama puluhan tahun, ia tidak mau kalah oleh ketidakadilan itu. Alih-alih menghabiskan energi untuk membalas dendam, Alexander menerapkan apa yang diperintahkan oleh Rasul Petrus: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan” (1Ptr. 3:9).
Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan. —1 Petrus 3:9

Kitab Suci melangkah lebih jauh: daripada membalas dendam, Rasul Petrus justru mendorong kita untuk memberkati (ay.9). Kita mengampuni dan mendoakan mereka yang telah memperlakukan kita secara tidak adil. Tanpa membenarkan perbuatan jahat mereka, kita bisa “membalas” mereka dengan belas kasihan Allah. Tuhan Yesus sudah menanggung dosa-dosa kita di kayu salib supaya kita menerima anugerah-Nya dan meneruskannya kepada orang lain—termasuk mereka yang pernah menyakiti kita.
Bagaimana Anda dapat berbelaskasihan kepada orang yang telah menyakiti Anda tanpa membenarkan tindakannya? Bagaimana cara Anda “memberkati” mereka?
Tuhan, sulit untuk tidak membalas mereka yang telah menyakiti hatiku. Tolonglah agar aku mampu menunjukkan belas kasihan dan anugerah-Mu.
Oleh Winn Collier | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Ketika Petrus menulis, “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki” (1 Petrus 3:9) ia menggemakan perkataan Yesus sendiri, “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Lukas 6:27). Yesus menambahkan, “Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka” (ay.32).

Mengapa kita harus menunjukkan kasih ilahi yang sedemikian? Sebab kasih seperti itu menyatakan hati Bapa kepada dunia. Dengan mengasihi musuh, Yesus berkata, “Kamu akan menjadi anak-anak Allah yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (ay.35-36). Seperti kata Petrus, “Karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat” (1 Petrus 3:9). Dengan memberkati musuh, kita sendiri diberkati. Demikianlah natur Injil yang bertolak belakang dengan naluri kita pada umumnya.

Tim Gustafson




March 23, 2019, 05:43:52 AM
Reply #2228
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Tersembunyi di Balik Awan
  23/03/2019 
Tersembunyi di Balik Awan
Baca: 2 Korintus 4:16-18 | Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 13–15 ; Lukas 1:57-80

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-23.mp3

Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan. —2 Korintus 4:18

Fenomena supermoon langka muncul pada bulan November 2016, ketika bulan pada orbitnya berada di titik terdekat dengan bumi dalam masa enam puluh tahun terakhir, sehingga terlihat lebih besar dan lebih terang dibandingkan pada waktu-waktu lain. Namun, sayang sekali hari itu langit di tempat saya berada sedang tertutup awan kelabu. Meskipun saya dapat melihat keindahan fenomena tersebut lewat foto-foto yang dikirim teman dari tempat lain, saat menengadah ke langit, saya perlu meyakini bahwa ada supermoon tersembunyi di balik awan.

Rasul Paulus menghadapi banyak kesulitan, tetapi ia percaya bahwa apa yang tidak kelihatanlah yang bertahan selamanya. Ia mengatakan bahwa “penderitaan ringan yang sekarang ini” akan menghasilkan “kemuliaan kekal” (2Kor. 4:17). Oleh karena itu, ia “tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan,” karena yang “tak kelihatan adalah kekal” (ay.18). Paulus merindukan agar iman kita—seperti iman jemaat Korintus—bertumbuh, sehingga walaupun menderita, kita tetap percaya kepada Allah. Mungkin kita tidak bisa melihat Dia, tetapi kita percaya bahwa Dia memperbarui batin kita dari hari ke hari (ay.16)
Mungkin kita tidak bisa melihat Dia, tetapi kita percaya bahwa Dia memperbarui batin kita dari hari ke hari.

Saya teringat kepada Allah yang tidak kelihatan tetapi kekal ketika saya menatap awan-awan hari itu dan mengetahui bahwa supermoon tersembunyi di baliknya. Saya pun berharap, apabila suatu saat nanti saya merasa Allah jauh dari saya, saya akan memusatkan perhatian pada apa yang tidak kelihatan.
Apa maksudnya bagi Anda untuk memperhatikan yang tidak kelihatan? Bagaimana pengharapan Anda dalam Yesus menolong Anda menghadapi segala kesulitan hidup?
Tuhan Allah, terkadang aku merasa Engkau jauh dariku. Tolonglah aku untuk mempercayai bahwa Engkau selalu dekat, entah aku dapat merasakan kehadiran-Mu ataupun tidak.
Oleh Amy Boucher Pye | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Panggilan pelayanan Paulus meliputi panggilan untuk menderita (Kisah 9:15-16). Dalam 2 Korintus 4, Paulus memaparkan kesulitan demi kesulitan yang ia hadapi. “Dalam segala hal kami ditindas. . . dianiaya. . . dihempaskan. . . terus menerus diserahkan kepada maut” (ay.8-11). Setelah dipelihara dan dicukupkan oleh kuasa dan anugerah Allah yang berdaulat (ay,7-9), Paulus tergerak oleh kemuliaan Allah yang melebihi segalanya (ay.16-18). Walaupun fisiknya semakin merosot, ia terus diperbarui oleh Allah setiap hari. Dengan memandang kekekalan, Paulus menyebut penderitaannya hanya sementara karena dalam kehidupan kekal nanti hal itu tak ada lagi, dan “ringan” karena imbalan yang menunggunya jauh lebih besar (ay.17). Seperti Paulus, kita bisa melihat melampaui permasalahan kita sekarang dan memandang “kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya” (ay.17).




March 24, 2019, 04:53:41 AM
Reply #2229
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 22855
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Bernyanyi dalam Roh
  24/03/2019 
Bernyanyi dalam Roh
Baca: 2 Tawarikh 5:7-14 | Bacaan Alkitab Setahun: Yosua 16–18 ; Lukas 2:1-24

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-03-24.mp3
Hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. —Efesus 5:18-19

Semasa Kebangunan Rohani di Wales pada awal abad kedua puluh, guru Alkitab dan penulis G. Campbell Morgan menceritakan apa yang ia lihat di sana. Ia meyakini Allah ROH KUDUS bergerak di tengah umat-Nya “bagaikan gelombang besar saat lagu-lagu pujian dinyanyikan.” Morgan menulis bahwa ia menyaksikan bagaimana musik dapat menyatukan seluruh jemaat dalam kebaktian-kebaktian yang mendorong jemaat untuk berdoa tanpa diminta, mengakui dosa, dan menyanyi secara spontan. Ketika ada yang terbawa perasaan dan berdoa terlalu lama, atau mengatakan sesuatu yang tidak sejalan dengan yang lain, seseorang akan mulai bernyanyi perlahan. Yang lain pun mengikuti, satu demi satu, hingga akhirnya terbentuk paduan suara yang kekuatannya menenggelamkan suara-suara lain.

Alkitab juga memiliki kisah-kisah tentang bagaimana musik memainkan peranan penting dalam kebangunan rohani seperti yang digambarkan Morgan. Musik digunakan untuk merayakan kemenangan (Kel. 15:1-21); dalam doa pentahbisan Bait Suci (2Taw. 5:12-14); dan sebagai bagian dari strategi militer (20:21-23). Kita memiliki buku nyanyian di tengah-tengah Alkitab (Mzm. 1–150). Lalu di Perjanjian Baru, dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus, kita membaca tentang gambaran hidup dalam Roh: “Berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani”(Ef. 5:19).
Roh Allah menaruh pujian dalam hati mereka yang mau mendengarkan-Nya.

Di tengah perselisihan, dalam penyembahan, dan dalam segala aspek kehidupan, musik yang lahir dari iman dapat menolong untuk menyatukan suara kita. Melalui lagu-lagu zaman lampau dan masa kini, kita terus-menerus diperbarui, bukan oleh kuat dan gagah kita, tetapi oleh Roh dan nyanyian-nyanyian tentang Allah kita.
Nyanyian apa yang baru-baru ini terasa begitu mengena di hati Anda? Bagaimana musik dapat semakin mendekatkan hubungan Anda dengan Allah?
Roh Allah menaruh pujian dalam hati mereka yang mau mendengarkan-Nya.
Oleh Mart DeHaan | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Mengapa Alkitab menjabarkan rincian mengenai tabernakel dan tabut perjanjian dengan begitu mendetail? Dalam bacaan hari ini, kita tahu bahwa “dalam tabut itu tidak ada apa-apa selain dari kedua loh yang ditaruh Musa ke dalamnya di gunung Horeb” (2 Tawarikh 5:10). Sebuah rincian yang tampaknya tidak perlu. Tabernakel adalah tempat kediaman Allah di antara umat-Nya, sehingga tiap rincian itu berharga. Menyebutkan isi tabut itu merupakan bentuk perjanjian hubungan Allah dengan umat-Nya. Hal ini memperkuat keyakinan akan penyertaan Allah atas mereka.





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)