Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 148409 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

April 14, 2019, 04:22:35 AM
Reply #2250
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26532
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kembali Berharap
  14/04/2019 
Kembali Berharap
Baca: Yohanes 5:1-8 | Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 25–26 ; Lukas 12:32-59

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-04-14.mp3

Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ . . . berkatalah Ia kepadanya: “Maukah engkau sembuh?” —Yohanes 5:6

Apakah matahari terbit dari timur? Apakah langit berwarna biru? Apakah air laut asin? Apakah massa atom kobalt 58,9? Baiklah, pertanyaan terakhir itu mungkin hanya bisa Anda jawab apabila Anda penggemar sains atau pengetahuan umum, tetapi pertanyaan-pertanyaan lainnya memiliki jawaban yang sangat jelas: Ya. Bahkan, pertanyaan-pertanyaan seperti itu biasanya dilontarkan dengan nada sedikit sinis.

Jika tidak berhati-hati, kita bisa mengira Yesus sedang bersikap sinis dengan mengajukan pertanyaan kepada seorang lumpuh: “Maukah engkau sembuh?” (Yoh. 5:6). Bagi sebagian dari kita, mungkin jawabannya seperti ini, “Yang benar saja?! Saya sudah menunggu-nunggu selama tiga puluh delapan tahun!” Namun, sebenarnya sama sekali tidak ada nada sinis dalam pertanyaan Yesus. Suara Yesus selalu penuh dengan belas kasihan, dan pertanyaan-pertanyaan-Nya selalu ditujukan untuk kebaikan kita.
Yesus melihat kita dan dengan penuh belas kasihan mengundang kita untuk kembali berharap kepada-Nya.

Yesus tahu laki-laki itu ingin disembuhkan. Dia juga tahu bahwa mungkin sudah lama sekali tidak ada orang menunjukkan kepedulian kepadanya. Sebelum mengadakan mukjizat, Yesus bermaksud menghidupkan kembali harapan yang mungkin sudah lama mati dalam diri orang lumpuh itu. Caranya adalah dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat jelas, dan kemudian memberinya kesempatan untuk merespons: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah” (ay.8). Sama seperti orang lumpuh itu, masing-masing dari kita menyimpan harapan yang sudah lama layu. Yesus melihat kita dan dengan penuh belas kasihan mengundang kita untuk kembali berharap serta percaya kepada-Nya.
Dalam hal apa saja harapan Anda telah memudar? Apa yang pernah Yesus lakukan untuk menyatakan belas kasihan-Nya kepada Anda?
Tuhan Yesus, Engkau tahu betul ada bagian-bagian dalam hidupku yang di dalamnya harapanku telah pudar, layu, bahkan mati. Engkau juga tahu aku ingin kembali berharap. Kumohon, buatlah aku kembali bersukacita dalam pengharapan yang lahir karena aku mempercayai-Mu.
Oleh John Blase | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kota Yerusalem terletak sekitar 760 meter di atas permukaan laut, 53 km sebelah timur Laut Tengah, dan 22 km sebelah barat dari ujung utara Laut Mati. Seperti Roma, kota ini dibangun di atas perbukitan. Pintu Gerbang Domba yang disebutkan dalam Yohanes 5:2 adalah salah satu gerbang masuk ke Yerusalem zaman dahulu. Gerbang ini terletak di timur Gerbang Ikan dekat kolam Betesda dan tidak terlalu jauh dari Gerbang Santo Stefanus pada zaman modern. Pintu gerbang Domba inilah bagian dari tembok runtuh yang diperbaiki oleh “imam besar Elyasib dan para imam” di bawah pengawasan Nehemia (Nehemia 3:1; sekitar tahun 445 SM). Orang-orang lain bergotong royong membangun pintu gerbang Ikan, Lama, Lebak, Mata Air, Kuda, Timur, Pendaftaran, dan tembok-tembok penghubungnya (Nehemia 3:2-32).

Alyson Kieda




April 15, 2019, 05:58:49 AM
Reply #2251
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26532
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Tanda-Tanda Persahabatan
  15/04/2019 
Tanda-Tanda Persahabatan
Baca: Yohanes 15:9-17 | Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 27–29 ; Lukas 13:1-22

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-04-15.mp3

Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. —Yohanes 15:14

Saat masih kecil dan bertumbuh di Ghana, saya senang sekali menggandeng tangan ayah saya dan berjalan bersamanya ke tempat-tempat ramai. Beliau ayah sekaligus teman saya, dan bergandengan tangan di budaya kami adalah tanda persahabatan sejati. Sambil berjalan-jalan, kami mengobrol tentang berbagai hal. Setiap kali merasa kesepian, saya terhibur oleh kehadiran ayah saya. Saya sangat menghargai persahabatan kami!

Tuhan Yesus menyebut para pengikut-Nya sebagai sahabat, dan Dia menunjukkan kepada mereka tanda persahabatan-Nya. “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu,” kata Yesus (Yoh. 15:9), bahkan hingga memberikan nyawa-Nya untuk mereka (ay.13). Dia menunjukkan tatanan yang berlaku dalam kerajaan-Nya (ay.15). Dia mengajarkan segala sesuatu yang telah Bapa katakan kepada-Nya (ay.15). Dia juga memberikan kepada mereka kesempatan untuk mengambil bagian dalam misi-Nya (ay.16).
Yesus berjalan bersama kita sebagai Sahabat kita seumur hidup.

Yesus berjalan bersama kita sebagai Sahabat kita seumur hidup. Dia mendengarkan setiap kesakitan dan kerinduan hati kita. Ketika kita kesepian dan kecewa, Yesus Sang Sahabat sejati tetap menemani kita.

Persahabatan kita dengan Yesus akan terjalin lebih erat ketika kita mengasihi satu sama lain dan menuruti perintah-perintah-Nya (ay.10,17). Saat kita mematuhi perintah-perintah-Nya, kita akan menghasilkan buah yang tetap (ay.16).

Dalam mengarungi dunia yang penuh sesak dan berbahaya ini, kita dapat mengandalkan penyertaan Tuhan kita. Itulah tanda dari persahabatan-Nya.
Apakah artinya “menjadi sahabat Yesus” bagi Anda? Bagaimana Dia telah menyatakan kehadiran-Nya kepada Anda?
Bapa Surgawi, sahabat kami akan mengecewakan kami, dan kami juga akan mengecewakan mereka. Namun, Engkau tidak pernah mengecewakan, bahkan Kau berjanji menyertai kami “sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20). Tolong kami menunjukkan syukur dengan selalu setia melayani-Mu.
Oleh Lawrence Darmani | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Yohanes 14–16 sering disebut “Khotbah Yesus di Ruang Atas” Yesus. Inilah saat terakhir-Nya untuk mengajar murid-murid, yang dilakukan pada waktu antara penetapan Perjamuan Kudus (Matius 26; Markus 14; Lukas 22) dan rangkaian peristiwa sengsara-Nya, yang dimulai dengan doa dan pengkhianatan di Getsemani (Yohanes 18).

Dalam Yohanes 15:9-13, berbagai bentuk kata kasih muncul delapan kali. Kasih ini mengacu kepada kasih antara Bapa dan Anak, kasih Allah (Bapa dan Anak) kepada kita, dan kasih kita kepada sesama. Pada ayat 14-17, kata sahabat atau sahabat-sahabat muncul dua kali –menggambarkan sebuah gebrakan baru dalam relasi kita dengan Kristus. Apa artinya? Relasi dihasilkan dari kasih, dan seperti yang ditekankan dalam ayat 17, relasi kita satu sama lain ditandai oleh kasih timbal balik yang berakar dalam kasih-Nya kepada kita.

Bill Crowder

April 16, 2019, 07:41:05 AM
Reply #2252
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26532
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Merayakan Kreativitas
  16/04/2019 
Merayakan Kreativitas
Baca: Kejadian 1:1-21 | Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 30–31 ; Lukas 13:23-35

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-04-16.mp3

Berfirmanlah Allah, “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup.” —Kejadian 1:20

Seekor ubur-ubur langka berenang mengikuti arus di kedalaman 1.200 meter di lautan dekat Baja, California. Badannya mengeluarkan cahaya berkilauan berwarna biru, ungu, dan merah muda, kontras dengan latar belakang air yang hitam. Tentakel-tentakelnya yang elegan melambai dengan indahnya seiring dengan tiap denyutan bagian payungnya yang berbentuk lonceng. Saat menonton video National Geographic tentang ubur-ubur Halitrephes maasi, saya membayangkan bagaimana Allah memilih dengan khusus bentuk yang unik bagi makhluk licin kenyal yang indah ini. Allah juga merancang secara khusus ubur-ubur jenis lain yang menurut para ahli sampai Oktober 2017 telah mencapai 2.000 jenis banyaknya.

Meskipun kita menyadari Allah adalah Sang Pencipta Agung, pernahkah kita berhenti sejenak dari kesibukan kita untuk benar-benar memikirkan kebenaran luar biasa yang diungkapkan dalam Kejadian pasal pertama? Allah kita yang luar biasa menghadirkan terang dan kehidupan ke dalam keragaman dunia yang diciptakan-Nya dengan penuh kreativitas melalui kuasa firman-Nya. Dia merancang “binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air” (Kej. 1:21). Bahkan sampai saat ini, para ilmuwan baru menemukan sebagian kecil saja dari banyaknya makhluk hidup menakjubkan yang diciptakan Tuhan sejak permulaan zaman.
Allah secara khusus membentuk setiap pribadi di dunia ini dan memberi makna dalam setiap hari hidup kita.

Allah juga secara khusus membentuk setiap pribadi di dunia ini dan memberi makna dalam setiap hari hidup kita, bahkan sejak sebelum kita dilahirkan (Mzm. 139:13-16). Sembari merayakan kreativitas Allah, kita dapat bersukacita pula atas banyaknya cara yang dipakai-Nya untuk menolong kita berimajinasi dan berkreasi bersama Dia serta untuk kemuliaan-Nya.
Karunia kreatif apa yang Allah berikan kepada Anda? Bagaimana Anda dapat memakainya untuk kemuliaan-Nya?
Allah Pencipta, terima kasih Kau mengajak kami menghargai kreativitas-Mu yang luar biasa dan menikmati segala yang telah Kau berikan kepada kami.
Oleh Xochitl Dixon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kitab Kejadian menggambarkan karya penciptaan Allah: pertama langit, bumi, dan lautan; diikuti oleh segala bentuk kehidupan—burung, ikan, binatang darat, dan manusia (Kejadian 1:1-27). Para ilmuwan memperkirakan ada dua sampai lima puluh juta jenis hewan pada masa kini, dan hanya kurang dari dua juta yang sudah diberi nama. Jumlah ini sangat luar biasa dan menjadi bukti dari Allah kita yang kreatif dan penuh kuasa.



April 17, 2019, 09:47:18 AM
Reply #2253
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26532
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Bertumbuh Mekar Seperti Bunga
  17/04/2019 
Bertumbuh Mekar Seperti Bunga
Baca: Mazmur 103:13-22 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 1–2 ; Lukas 14:1-24

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-04-17.mp3

Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga. —Mazmur 103:15

Cucu saya yang paling kecil baru berusia dua bulan, tetapi setiap kali saya melihatnya, ada saja perubahan-perubahan kecil dalam dirinya. Baru-baru ini, ketika saya sedang berbicara lembut kepadanya, ia menatap saya dan tersenyum! Tiba-tiba saja saya menangis. Mungkin saya gembira melihat senyumnya, sekaligus terharu mengenang senyum pertama anak-anak saya sendiri—sesuatu yang saya saksikan sekian puluh tahun lalu, tetapi yang rasanya baru terjadi kemarin. Terkadang memang ada saat-saat yang tidak bisa dijelaskan seperti itu.

Dalam Mazmur 103, Daud menuliskan sebuah pujian puitis yang memuji Allah sembari mengingat betapa cepatnya saat-saat indah dalam hidup kita berlalu: “Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia” (ay.15-16).
Allah menyediakan apa yang kita butuhkan untuk bertumbuh bagi-Nya.

Meskipun mengakui betapa singkatnya hidup ini, Daud menggambarkan bunga itu “berbunga” atau berkembang. Meskipun setiap tangkai bunga mekar dan tumbuh dengan cepat, tetapi wangi, warna, serta keindahannya membawa sukacita besar pada saat itu. Berbeda dengan setangkai bunga yang bisa sedemikian cepatnya dilupakan—“dan tempatnya tidak mengenalnya lagi” (ay.16)—kita mendapatkan jaminan bahwa ”kasih setia Tuhan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia” (ay.17).

Seperti bunga, kita dapat bersukacita dan bertumbuh pada suatu waktu; tetapi kita juga bisa mensyukuri bagaimana setiap momen dalam kehidupan kita tidak pernah benar-benar terlupakan. Allah mengendalikan setiap detail hidup kita, dan kasih setia-Nya yang kekal akan selalu menyertai anak-anak-Nya selama-lamanya!
Dalam hal apa Anda bisa “berbunga” di saat ini? Bagaimana Anda dapat memberikan sukacita kepada orang lain?
Allah menyediakan apa yang kita butuhkan untuk bertumbuh bagi-Nya.
Oleh Alyson Kieda | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam Mazmur 103, Daud memuji sifat belas kasih Allah. Dengan membandingkan kasih Allah dengan dengan kasih seorang ayah, ia menuliskan bahwa Tuhan berbelas kasihan kepada orang-orang yang takut akan Dia. Maksud Daud bukanlah bahwa Allah berbelas kasih kepada mereka yang ketakutan terhadap Dia, seolah Tuhan mengawasi dan memastikan agar semua orang menerima otoritas-Nya karena tertekan oleh rasa takut. Sebaliknya, kata “takut” di sini memiliki pengertian sebagai pengenalan yang tepat dan sikap yang patut kepada pribadi yang memang layak dihormati. Allah menunjukkan kasih-Nya kepada mereka yang takut akan Dia, yang memiliki pengertian dan menyembah-Nya dengan penuh hormat.

Mungkin kita cenderung berpikir bahwa rasa takut kitalah yang menghasilkan belas kasih-Nya. Namun, dalam ungkapan puitisnya, Daud mengajarkan bahwa belas kasihan itu berasal dari Allah, sama sekali bukan balasan atas pengakuan kita tentang Dia. Belas kasih Allah merupakan sikap Allah terhadap kita karena melihat siapa kita sebenarnya—debu. Allah berbelas kasih kepada kita karena kita hanya debu.




April 18, 2019, 05:46:39 AM
Reply #2254
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26532
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Pada Waktunya
  18/04/2019 
Pada Waktunya
Baca: Lukas 23:32-46 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 3–5 ; Lukas 14:25-35

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-04-18.mp3

Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. —Yohanes 10:17-18

Pintu mobil ambulans hampir tertutup—dan saya ada di dalamnya. Di luar, anak lelaki saya sedang menelepon istri saya. Dengan penglihatan yang mulai kabur karena kondisi gegar otak, saya memanggil nama anak saya. Menurut ceritanya, saat itu saya sempat berkata kepadanya dengan suara lirih, “Beri tahu ibumu aku sangat mencintainya.”

Rupanya saya mengira saya akan berpisah dengannya, dan saya ingin kalimat itu menjadi kata-kata terakhir saya. Hal itulah yang terpenting bagi saya waktu itu.
Setiap perkataan Yesus diucapkan-Nya dengan penuh kasih.

Ketika Yesus memasuki masa tergelap dalam hidup-Nya, Dia tidak hanya memberi tahu kita bahwa Dia mengasihi kita; Dia menunjukkannya dengan cara-cara yang spesifik. Dia menunjukkannya kepada prajurit-prajurit yang memaku tangan-Nya ke kayu salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Dia memberikan harapan kepada penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Dia: “Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (ay.43). Menjelang saat-saat terakhir, Dia menatap ibu-Nya. “Ibu, inilah, anakmu,” kata-Nya kepada Maria, dan kepada sahabat karib-Nya Yohanes, Dia berkata, “Inilah ibumu” (Yoh. 19:26-27). Lalu, ketika nyawa-Nya hendak meninggalkan raga-Nya, tindakan kasih terakhir dari Yesus adalah mempercayai Bapa-Nya: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Luk. 23:46).

Yesus sengaja memilih jalan salib untuk menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa-Nya—dan kedalaman kasih-Nya kepada kita. Sampai akhir, Dia menunjukkan kasih-Nya yang tak menyerah.
Apa yang paling berarti bagi Anda? Bagaimana kasih dan ketaatan saling melengkapi?
Setiap perkataan Yesus diucapkan-Nya dengan penuh kasih.
Oleh Tim Gustafson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kematian Yesus mengubahkan orang-orang yang hadir menyaksikannya. Salah satu dari dua penjahat yang disalibkan bersama Dia berkata, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Lukas 23:39-43). Kepala pasukan yang ditugaskan untuk menghukum Yesus berseru, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Markus 15:39).

Tim Gustafson



April 19, 2019, 06:52:35 AM
Reply #2255
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26532
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Tabir yang Terkoyak
  19/04/2019 
Tabir yang Terkoyak
Baca: Ibrani 10:10-23 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 6– 8 ; Lukas 15:1-10

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-04-19.mp3

Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri. —Ibrani 10:19-20

Hari itu hari yang gelap dan suram di luar kota Yerusalem. Di atas bukit di luar tembok kota, seorang Manusia yang telah menarik perhatian banyak pengikut setia selama tiga tahun terakhir tergantung dengan penuh aib dan rasa sakit pada sebuah salib kayu yang kasar. Mereka yang mengiringi-Nya menangis dan meratap dalam kesedihan. Cahaya matahari tidak lagi menerangi langit pada siang itu. Kemudian, penderitaan tidak terkira dari Manusia yang tergantung pada kayu salib tersebut berakhir ketika Dia berseru dengan nyaring, “Sudah selesai”(Mat. 27:50; Yoh. 19:30).

Pada saat yang sama, terdengar suara lain dari Bait Suci di dalam kota—suara kain yang terkoyak. Secara ajaib, tanpa campur tangan manusia, tabir tebal yang memisahkan bagian luar dari Bait Suci dengan ruang maha kudus terkoyak menjadi dua dari atas ke bawah (Mat. 27:51).
Tabir yang terkoyak itu melambangkan realitas salib: jalan yang baru menuju Tuhan sekarang telah terbuka!

Tabir yang terkoyak itu melambangkan realitas salib: jalan yang baru menuju Tuhan sekarang telah terbuka! Yesus, sang Manusia yang tergantung pada salib tersebut, telah mencurahkan darah-Nya sebagai pengorbanan terakhir—persembahan satu kali untuk selama-lamanya (Ibr. 10:10)—yang memungkinkan semua orang yang percaya kepada-Nya menikmati pengampunan dan masuk ke dalam hubungan dengan Allah (Rm. 5:6-11).

Di tengah kegelapan yang melingkupi Jumat Agung itu, kita menerima kabar yang paling indah—Tuhan Yesus telah membuka jalan bagi kita untuk selamat dari dosa dan memungkinkan kita mengalami persekutuan dengan Allah selamanya (Ibr. 10:19-22). Terima kasih, Tuhan, untuk pesan agung dari tabir yang terkoyak.
Bagaimana realitas yang terjadi pada Jumat Agung membawa Anda keluar dari kegelapan menuju terang? Apa artinya bagi Anda mengalami persekutuan dengan Tuhan?
Tuhan Yesus telah membuka jalan bagi kita untuk selamat dari dosa.
Oleh Dave Branon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam surat Ibrani, pelayanan Yesus sebagai Imam Besar menempati posisi yang penting. Pertama kali dikatakan dalam Ibrani 1:3: “Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi.” Pasal 13 juga berbicara tentang hal tersebut: “Karena tubuh binatang-binatang yang darahnya dibawa masuk ke tempat kudus oleh Imam Besar sebagai korban penghapus dosa. . . Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita. . . untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri” (ay.11-12).

Arthur Jackson



April 20, 2019, 05:39:05 AM
Reply #2256
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26532
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Siapakah Itu?
  20/04/2019 
Siapakah Itu?
Baca: 2 Samuel 12:1-14 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 9–11 ; Lukas 15:11-32

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-04-20.mp3

Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.” Dan Natan berkata kepada Daud: “Tuhan telah menjauhkan dosamu itu.” —2 Samuel 12:13

Ketika seorang pria memasang kamera pengawas di luar rumahnya, ia memeriksa fitur video untuk memastikan sistemnya berfungsi dengan baik. Namun, ia kaget melihat sosok seorang laki-laki berdada bidang dan berbaju warna gelap berkeliaran di halaman rumahnya. Ia memperhatikan lebih jauh apa yang hendak dilakukan lelaki itu. Akan tetapi, ia merasa mengenal orang tersebut. Barulah ia tersadar bahwa yang diperhatikannya bukanlah video orang tak dikenal, melainkan rekaman dirinya sendiri!

Apa yang akan kita lihat jika kita bisa keluar dari tubuh kita dan mengamati diri kita sendiri dalam situasi tertentu? Ketika hati Daud mengeras dan ia memerlukan sudut pandang yang lain—suatu sudut pandang ilahi—tentang perselingkuhannya dengan Batsyeba, Allah mengirimkan Nabi Natan kepadanya (2Sam. 12).
Pertobatan membuka jalan bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Nabi Natan bercerita kepada Daud tentang seorang kaya yang merebut satu-satunya anak domba milik seorang miskin. Meskipun orang kaya tersebut mempunyai ternak yang banyak, ia menyembelih satu-satunya anak domba milik orang miskin tersebut dan membuatnya menjadi makanan. Ketika Natan mengungkapkan bahwa cerita tersebut menggambarkan apa yang Daud lakukan, Daud pun sadar ia telah mencelakakan Uria. Natan menjelaskan konsekuensi yang harus diterima Daud, tetapi yang lebih penting ia meyakinkan Daud, “Tuhan telah menjauhkan dosamu itu” (ay.13).

Ketika Tuhan menyingkapkan dosa kita, tujuan utama-Nya bukanlah untuk menghukum, melainkan untuk memulihkan dan menolong kita agar berdamai dengan mereka yang telah kita sakiti. Pertobatan membuka jalan bagi kita untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui kuasa pengampunan dan anugerah-Nya.
Dosa-dosa apa yang perlu Anda bawa hari ini kepada Tuhan dalam pertobatan? Bagaimana anugerah-Nya mendorong Anda untuk tulus datang kepada-Nya?
Tuhan, tolonglah aku untuk dapat memandang hidupku sebagaimana Engkau melihatnya agar aku makin mengalami indahnya anugerah-Mu.
Oleh Jennifer Benson Schuldt | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Teguran nabi Natan atas perzinahan Daud, konspirasi pembunuhan, dan usaha untuk menutupinya yang tercatat dalam 2 Samuel 12 bisa saja dirahasiakan oleh para sejarawan Israel. Namun, catatan kejahatan Daud tetap ada dalam Alkitab kita sebagai bukti bahwa Alkitab dapat dipercaya, tidak menyembunyikan kegagalan moral para pahlawannya, sekaligus tetap meyakinkan kita bahwa Allah senantiasa siap mengampuni sekalipun konsekuensi dosa tetap ada.

Mart DeHaan




April 21, 2019, 04:54:52 AM
Reply #2257
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26532
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Dicuci Bersih
  21/04/2019 
Dicuci Bersih
Baca: Yeremia 2:13,20-22 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 12–13 ; Lukas 16

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-04-21.mp3

Darah Yesus, Anak [Allah] itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. —1 Yohanes 1:7

Semua jadi benar-benar kacau. Sebuah pulpen gel berwarna biru entah bagaimana bisa terselip di antara lipatan handuk-handuk putih saya dan aman dari gilingan mesin cuci, tetapi kemudian pecah saat berada di dalam mesin pengering. Alhasil, bercak biru pun menyebar ke mana-mana. Rusak sudah handuk-handuk putih saya. Diberi pemutih sebanyak apa pun tetap tidak akan bisa menghilangkan noda-noda gelap tersebut.

Meski sebenarnya enggan, akhirnya saya menjadikan handuk-handuk itu sebagai lap. Saya jadi teringat pada ratapan Nabi Yeremia dalam Perjanjian Lama yang menggambarkan tentang dampak merusak dari dosa. Dengan menolak Allah dan berpaling kepada para dewa (Yer. 2:13), Yeremia menyatakan bahwa bangsa Israel telah meninggalkan noda yang tidak akan dapat hilang dalam hubungan mereka dengan Allah. “Bahkan, sekalipun engkau mencuci dirimu dengan air abu, dan dengan banyak sabun, namun noda kesalahanmu tetap ada di depan mata-Ku, demikianlah Firman Tuhan Allah” (ay.22). Mereka tidak kuasa meniadakan kerusakan yang telah mereka buat.
Darah Yesus menghilangkan noda akibat dosa.

Dengan kekuatan kita sendiri, kita tidak akan sanggup menghapus noda dosa-dosa kita. Namun, Tuhan Yesus telah melakukan apa yang tidak sanggup kita lakukan. Melalui kuasa kematian dan kebangkitan-Nya, Dia “menyucikan [orang percaya] dari pada segala dosa” (1Yoh. 1:7).

Bahkan jika ini sulit dipercaya, tetaplah bersandar pada kebenaran ini: tidak ada kerusakan akibat dosa yang tidak dapat dihapus oleh Yesus Kristus. Allah rela dan siap menghapus akibat dosa siapa saja yang bersedia kembali kepada-Nya (ay.9). Melalui Kristus, kita dapat hidup setiap hari dengan merdeka dan penuh pengharapan.
Apa yang bisa Anda lakukan dengan rasa bersalah Anda? Bagaimana Anda dapat hidup secara berbeda hari ini setelah mengetahui bahwa kematian Yesus berkuasa menghapuskan rasa bersalah dan “noda” akibat dosa Anda?
Darah Yesus menghilangkan noda akibat dosa.
Oleh Lisa M. Samra | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam bahasa asli Alkitab, ada beberapa kata yang diterjemahkan sebagai dosa, masing-masing memiliki pengertian berbeda. Dalam bacaan hari ini, Yeremia menggunakan kata yang berarti “buruk” atau “jahat” dan kerap digunakan untuk menyebut sesuatu yang memiliki dampak negatif. Namun, walaupun berbagai definisi dapat memberikan pengertian teknis tentang apa itu dosa, sering kali definisi tersebut gagal untuk menjelaskan gambaran tentang realitas dosa.

Dalam bacaan hari ini, Yeremia menggunakan empat metafora untuk menggambarkan hakikat kejijikan dosa Israel terhadap Allah—menggali kolam (ay.13), mematahkan kuk dan memutuskan tali pengikat (ay.20), persundalan (ay.20), dan pohon anggur liar (ay.21). Ketika dosa diartikan sekadar “meleset dari sasaran” (suatu tembakan yang baik tetapi tak sempurna), dosa menjadi sesuatu yang lebih mudah dimaklumi. Namun, persundalan sebagai metafora dari dosa kita adalah gambaran yang keras, tidak mudah diberi lapisan pemanis. Yeremia mengatakan bahwa tindakan Israel sangat menjijikkan sehingga usaha apapun untuk membersihkan diri mereka sendiri tidak akan mampu menghapuskan kesalahan mereka.



April 22, 2019, 06:28:11 AM
Reply #2258
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26532
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kekuatan Baru
  22/04/2019 
Kekuatan Baru
Baca: Yesaya 40:27-31 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 14–15 ; Lukas 17:1-19

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-04-22.mp3

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. —Matius 11:28

Di usia ke-54 saya mengikuti perlombaan maraton Milwaukee dengan dua target—mencapai garis akhir dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari 5 jam. Pencapaian saya akan sangat mengagumkan seandainya saja paruh kedua ditempuh selancar paruh pertama. Namun, pada kenyataannya, perlombaan tersebut sangat melelahkan, dan kekuatan baru yang saya butuhkan untuk menuntaskan paruh kedua itu tidak pernah datang. Saat saya mencapai garis finis, langkah-langkah mantap saya di awal perlombaan telah berubah menjadi langkah yang tertatih-tatih.

Perlombaan lari bukan satu-satunya yang membutuhkan kekuatan baru—perlombaan hidup ini pun membutuhkannya. Agar mampu bertahan, orang-orang yang letih lesu membutuhkan pertolongan Allah. Yesaya 40:27-31 memadukan puisi dengan nubuatan dengan sangat indah untuk menghibur dan memotivasi mereka yang membutuhkan kekuatan untuk terus maju. Kata-kata yang abadi mengingatkan mereka yang letih lesu dan kecewa bahwa Tuhan tidaklah jauh dan masih peduli (ay.27), bahwa keadaan kita yang sulit tidak pernah luput dari perhatian-Nya. Kata-kata ini memberikan penghiburan dan jaminan, mengingatkan kita pada Allah yang kuasa-Nya tak terbatas dan pengetahuan-Nya tak terhingga (ay.28).
Kekuatan baru akan diterima—lewat perenungan Firman Tuhan dan berdoa—oleh mereka yang menanti-nantikan Tuhan.

Kekuatan baru yang dijelaskan dalam ayat 29-31 sangatlah tepat untuk kita—entah kita sedang berjuang membesarkan anak-anak dan mencari nafkah untuk keluarga, berjuang menjalani hidup yang dibebani masalah fisik maupun keuangan, atau sedang dikecewakan oleh hubungan yang renggang atau pergumulan dalam hal spiritual. Kekuatan baru itulah yang akan diterima—lewat perenungan Firman Tuhan dan berdoa—oleh mereka yang menanti-nantikan Tuhan.
Kapan kehidupan ini begitu menguras tenaga dan membebani Anda? Dalam area tertentu apa Anda membutuhkan kekuatan Tuhan hari ini?
Tuhan, aku datang kepada-Mu dalam kelemahan dan kelelahan, berikanlah kepadaku kekuatan yang baru.
Oleh Arthur Jackson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Yesaya—namanya berarti “TUHAN menyelamatkan”—memperingatkan Yehuda yang tidak juga mau bertobat bahwa Allah akan menggunakan dua negara adidaya, Asyur dan Babel, untuk menghukum Yehuda karena ketidaksetiaan dan penyembahan berhala mereka (Yesaya 1–39). Yesaya juga menghibur Yehuda dengan janji pemulihan dan berkat Allah setelah hukuman mereka selesai dijalani (pasal 40–66). Dalam pasal 40, Yesaya mengalihkan pandangan kepada otoritas, kedaulatan, kebesaran, dan kemuliaan Allah (ay.1-26) serta dengan lembut berbicara tentang kasih dan pemeliharaan Allah (ay.11, 27-31). Menjawab rasa terabaikan yang dialami Yehuda (ay.27), Yesaya meyakinkan mereka bahwa Allah tidak hanya berketetapan untuk memberkati mereka, tetapi juga memiliki kuasa mutlak untuk melakukannya (ay.28). Sebagai Allah Pencipta yang kekal dan maha kuasa, Dia adalah sumber kekuatan mereka (ay.29). Yesaya mengundang bangsa Yahudi yang patah semangat ini untuk bangkit memulai komitmen baru saat mereka percaya bahwa Allah akan memenuhi janji-Nya (ay.30-31).




April 23, 2019, 05:45:17 AM
Reply #2259
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 26532
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Melihat Cahaya Terang
  23/04/2019 
Melihat Cahaya Terang
Baca: Matius 4:12-25 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Samuel 16–18 ; Lukas 17:20-37

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-04-23.mp3

Mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. —Yesaya 9:1

Di kota Los Angeles, Brian, seorang tunawisma yang sedang berjuang mengatasi kecanduannya, datang ke suatu lembaga pelayanan tunawisma bernama The Midnight Mission. Itulah awal perjalanan panjang Brian menuju pemulihan.

Dalam proses pemulihan itu, Brian menemukan kembali kecintaannya kepada musik. Ia pun bergabung dengan Street Symphony—sekelompok musisi profesional yang memiliki hati untuk melayani para tunawisma. Mereka meminta Brian tampil solo membawakan karya Handel dari oratorio Messiah yang berjudul “The People that Walked in Darkness (Mereka yang Berjalan dalam Kekelaman).” Dengan menggunakan kata-kata yang ditulis oleh Nabi Yesaya pada masa kekelaman bangsa Israel, ia bernyanyi, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Yes. 9:1). Seorang kritikus musik dari majalah The New Yorker menulis bahwa Brian “membuat lirik lagu tersebut seolah-olah berasal dari kehidupannya sendiri.”
Mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. —Yesaya 9:1

Penulis kitab Injil Matius mengutip bagian Alkitab yang sama. Sebagai murid yang dipanggil Yesus keluar dari kehidupan lamanya yang menipu kaum sebangsanya, Matius menggambarkan bagaimana Yesus menggenapi nubuatan Yesaya dengan membawa misi penyelamatan-Nya hingga ke “seberang sungai Yordan” sampai ke “Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain” (Mat. 4:13-15).

Siapa yang mengira salah seorang pemungut cukai Romawi yang kejam (lihat Mat. 9:9), seorang pecandu yang menggelandang di jalanan seperti Brian, atau orang-orang seperti kita akan mendapat kesempatan untuk menyaksikan perbedaan hidup dalam terang dan gelap melalui kehidupan kita?
Bagaimana terang Kristus telah mempengaruhi Anda? Dalam hal apakah Anda memantulkan terang itu kepada orang lain?
Bapa, dalam gelapnya kehidupan kami, tolonglah kami melihat terang Anak-Mu, Tuhan dan Juruselamat kami.
Oleh Mart DeHaan | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Kerajaan Allah adalah sebuah jalan hidup yang berbeda dari jalan yang diterapkan oleh “kerajaan dunia,” di mana kekuatan budaya dominan ditentukan oleh pihak yang berkuasa. Ketika Kekaisaran Romawi menyatakan bahwa pemerintahan mereka adalah kabar baik, Kristus menekankan bahwa hanya pemerintahan Allah sajalah kabar baik yang sejati.

Monica Brands





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)