Author Topic: Our Daily Bread / RBC Indonesia  (Read 135632 times)

0 Members and 1 Guest are viewing this topic.

May 04, 2019, 07:37:19 AM
Reply #2270
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24403
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Lebih dari Sekadar Menunggu
  04/05/2019 
Lebih dari Sekadar Menunggu
Baca: Kisah Para Rasul 1:4-11 | Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 16–18 ; Lukas 22:47-71

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-05-04.mp3

[Yesus] melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang . . . “telah kamu dengar dari pada-Ku.” —Kisah Para Rasul 1:4

Polisi menindak seorang wanita yang mengemudi ugal-ugalan dengan membawa mobilnya keluar dari jalan, naik ke trotoar, dan kembali ke jalan. Itu dilakukannya karena ia tidak mau menunggu sebuah bus sekolah yang sedang menurunkan murid-murid.

Meski menunggu dapat membuat kita merasa tidak sabar, tetapi ada hal-hal baik yang bisa dilakukan dan dipelajari ketika menunggu. Yesus mengetahui hal itu ketika Dia melarang murid-murid-Nya untuk “meninggalkan Yerusalem” (Kis. 1:4). Mereka sedang menunggu “untuk dibaptis dengan ROH KUDUS” (ay.5)
Menantikan Allah bukan berarti tidak melakukan apa-apa atau terburu-buru berbuat sesuatu karena tidak sabar.

Ketika berkumpul di ruang atas, rasanya dalam suasana kegembiraan dan penuh harap, para murid mengerti bahwa ketika Yesus meminta mereka untuk menunggu, Dia tidak menyuruh mereka untuk berhenti melakukan apa-apa. Mereka pun menggunakan waktu untuk berdoa (ay.14); dan seperti dituliskan dalam Kitab Suci, mereka juga memilih seorang murid baru menggantikan Yudas (ay.26). Ketika mereka bersatu dalam doa dan penyembahan, ROH KUDUS pun turun atas mereka (2:1-4).

Para murid tidak hanya menunggu—mereka juga bersiap-siap. Menantikan Allah bukan berarti tidak melakukan apa-apa atau terburu-buru berbuat sesuatu karena tidak sabar. Kita dapat berdoa, beribadah, serta menikmati kebersamaan dengan saudara seiman sambil menantikan apa yang akan Dia lakukan. Penantian itu menyiapkan hati, pikiran, dan tubuh kita untuk hal-hal yang akan datang.

Ketika Allah meminta kita untuk menunggu, kita boleh merasa bersemangat, karena tahu bahwa kita bisa mempercayai diri-Nya dan rencana yang dimiliki-Nya bagi kita!
Apakah Anda sedang dalam masa penantian? Bagaimana Anda dapat melihatnya sebagai masa persiapan?
Ya Allah, saat aku bergumul, ingatkan aku bahwa masa penantian bukanlah kesia-siaan, melainkan cara-Mu menyingkapkan karya-Mu dalam hidupku.
Oleh Peter Chin | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Sebelum diangkat ke surga, Yesus menegaskan kembali Amanat Agung kepada para pengikut-Nya: “Kamu akan menjadi saksi-Ku . . . sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8). Mereka juga menerima tiga janji. Pertama, ROH KUDUS akan turun ke atas mereka (ay.8) sesuai perkataan Yesus sebelumnya di ruang atas (Yohanes 14–16). Beberapa hari kemudian, janji ini digenapi pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2). Kedua, hadirat ROH KUDUS dalam kehidupan mereka akan memampukan mereka menjalankan amanat tersebut (1:8). Hingga sekarang, para pengikut Kristus harus hidup dalam kuasa ROH KUDUS, bukan kekuatan mereka sendiri. Terakhir, ketika tiba waktunya, Yesus akan kembali ke dunia ini dalam tubuh yang nyata (ay.11).

Bill Crowder




May 05, 2019, 02:38:26 PM
Reply #2271
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24403
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
 https://santapanrohani.org/

Kecil tetapi Penting
  05/05/2019 
Kecil tetapi Penting
Baca: 2 Korintus 1:8-11 | Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 19–20 ; Lukas 23:1-25
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-05-05.mp3

Kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi, karena kamu juga turut membantu mendoakan kami. —2 Korintus 1:10-11

Hari itu dimulai seperti hari-hari biasa, tetapi berakhir seperti mimpi buruk. Esther (bukan nama sebenarnya) dan beberapa ratus wanita lain diculik dari asrama sekolah mereka oleh sebuah kelompok relijius yang militan. Sebulan kemudian, semua tawanan wanita itu dibebaskan—kecuali Esther, karena ia menolak menyangkal Kristus. Ketika saya dan seorang teman membaca tentang pengalaman Esther dan orang-orang lain yang dianiaya karena iman mereka, hati kami tergerak. Kami ingin melakukan sesuatu. Namun, apa?

Saat menulis surat kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus menuliskan tentang kesulitan yang dialaminya di Asia Kecil. Penganiayaan luar biasa yang dialami Paulus dan rekan-rekannya membuat mereka “putus asa juga akan hidup” (2Kor. 1:8). Namun, Rasul Paulus tertolong oleh doa-doa orang percaya (ay.11). Walaupun jemaat Korintus berada sangat jauh dari sang rasul, doa mereka sangat berarti dan Allah mendengarkan mereka. Di sinilah terdapat misteri yang luar biasa: Allah yang berdaulat memilih menggunakan doa-doa kita untuk mencapai tujuan-Nya. Sungguh sebuah hak istimewa!
Dalam doa, kita menyerahkan diri kita di bawah kaki Allah Mahakuasa.

Hari ini, kita dapat terus mengingat saudara-saudari kita dalam Kristus yang mengalami penderitaan karena iman mereka. Ada sesuatu yang dapat kita lakukan. Kita dapat berdoa bagi mereka yang terpinggirkan, tertindas, tersingkir, tersiksa, dan terkadang dibunuh karena keyakinan mereka kepada Kristus. Marilah mendoakan mereka agar mereka mengalami penghiburan dan kekuatan dari Allah, serta dikuatkan oleh pengharapan di saat mereka berdiri teguh bagi nama Yesus.
Bagi siapa Anda berkomitmen untuk berdoa minggu ini? Kapan Anda pernah mengalami kesetiaan Allah di tengah masa-masa penganiayaan?
Dalam doa, kita menyerahkan diri kita di bawah kaki Allah Mahakuasa.
Oleh Poh Fang Chia | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam bacaan hari ini, Paulus ingin pembacanya mengetahui beratnya aniaya yang telah ia alami bersama teman-teman seperjalanan setelah meninggalkan Korintus dan selama berada di Asia, salah satu provinsi Romawi. Mungkin yang ia maksudkan adalah saat-saat menegangkan dan mengancam nyawa yang mereka alami di tangan massa yang mengamuk di Efesus (Kisah Para Rasul 19:23-34). Namun, Paulus tidak menceritakan secara terperinci. Mengapa?

Mungkin Paulus tidak mau pengharapan mereka terjerat dalam hal-hal yang spesifik. Sesuai argumennya dalam surat 1 Korintus, ia ingin penghiburan dan kekuatan mereka tertanam pada Allah yang membangkitkan Putra-Nya dari antara orang mati (15:35–58). Dialah Allah yang memberi kelepasan di masa silam, sekarang, dan yang akan datang; Dialah yang memberikan pengharapan dan kepastian—baik dalam kehidupan maupun kematian (2 Korintus 1:9-10; 4:13-18).

Mart DeHaan







May 07, 2019, 09:50:44 AM
Reply #2272
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24403
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Seorang Pembimbing
  07/05/2019 
Seorang Pembimbing
Baca: 2 Raja-Raja 2:1-6 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 1–3 ; Lukas 24:1-35
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-05-07.mp3
Demi Tuhan yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau. —2 Raja-Raja 2:6

Saat mendengar kata “mentor”, siapa yang terlintas dalam benak Anda? Bagi saya, itulah Pendeta Rich. Ia melihat potensi yang saya miliki dan menguatkan saya ketika saya merasa diri tidak mampu. Beliau memberi teladan kepemimpinan lewat pelayanan yang penuh kasih dan kerendahan hati. Saya pun kini melayani Tuhan dengan membimbing orang lain.

Nabi Elia berperan sangat penting dalam pertumbuhan Elisa sebagai pemimpin. Elia menemukan Elisa sedang membajak dan mengajaknya menjadi anak didiknya setelah Allah menyuruhnya mengurapi Elisa sebagai penggantinya (1Raj. 19:16,19). Sang murid muda ini melihat langsung bagaimana Nabi Elia mengadakan berbagai mukjizat dan patuh kepada Allah tanpa kompromi. Allah menggunakan Elia untuk menyiapkan Elisa untuk pelayanan seumur hidupnya. Menjelang akhir hidup Elia, Elisa punya kesempatan untuk pergi. Namun, ia memilih memperbarui komitmennya kepada sang mentor. Tiga kali Elia menawarkan Elisa untuk melepaskan tanggung jawabnya, tetapi setiap kali Elisa selalu menolak dengan berkata, “Demi Tuhan yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau”(2Raj. 2:2,4,6). Sebagai hasil dari kesetiaan Elisa, ia juga dipakai Allah secara luar biasa.
Kiranya Allah memberikan kepada kita orang-orang beriman yang dapat membimbing kita bertumbuh secara rohani.

Kita semua membutuhkan seseorang yang memberi teladan arti sesungguhnya dari mengikut Tuhan Yesus. Kiranya Allah memberikan kepada kita orang-orang beriman yang dapat membimbing kita bertumbuh secara rohani. Kiranya kita pula, dengan pertolongan ROH KUDUS, membimbing sesama dengan teladan kita.
Saat ini, siapakah mentor yang sedang atau pernah membimbing hidup Anda? Kenapa penting bagi kita untuk membimbing sesama dalam iman kepada Tuhan?
Bapa, kami bersyukur Kau tempatkan orang-orang di sekitar kami yang mau menegur dan menguatkan kami. Mampukan kami berbuat yang sama kepada sesama.
Oleh Estera Pirosca Escobar | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Perjalanan Elia dan Elisa yang dikisahkan dalam 2 Raja-Raja 2:1–6 mengandung aspek yang menarik, yaitu tempat-tempat penting dalam peristiwa masuknya Israel ke tanah perjanjian. Di Gilgal, bangsa Israel berhenti untuk merayakan Paskah pertama mereka di negeri itu dan untuk menyunatkan orang-orang yang lahir di padang gurun (Yosua 5). Yerikho merupakan kota pertama yang ditaklukkan secara dahsyat saat Israel mulai merebut tanah perjanjian (Yosua 6). Sungai Yordan adalah jalan masuk orang Israel ke tanah Kanaan dengan mukjizat Allah yang membelah airnya (Yosua 3). Penyeberangan sungai itu tentu mengingatkan mereka akan peristiwa terbelahnya Laut Merah empat puluh tahun sebelumnya sehingga nenek moyang mereka bisa menyeberang dari Mesir menuju kebebasan dan hidup sebagai bangsa yang baru.

Bill Crowder




May 07, 2019, 10:03:29 AM
Reply #2273
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24403
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Datang dan Terimalah
  06/05/2019 
Datang dan Terimalah
Baca: Yesaya 55:1-6 | Bacaan Alkitab Setahun: 1 Raja-raja 21–22 ; Lukas 23:26-56
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-05-06.mp3

Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! —Yesaya 55:3

Saya mengintip melalui pagar tanaman anggur yang mengelilingi halaman belakang rumah kami. Dari sana saya bisa melihat orang-orang yang sedang berlari, jogging, berjalan kaki, dan berjalan cepat mengitari jalur yang mengelilingi taman di belakang rumah kami. Saya pernah melakukan itu semua ketika saya masih kuat, pikir saya. Seketika itu juga gelombang ketidakpuasan melanda saya.

Belakangan, ketika sedang membaca Alkitab, saya dibuat terhenyak oleh Yesaya 55:1, “Ayo, hai semua orang yang haus,” dan menyadari lagi bahwa ketidakpuasan (kehausan) dalam hidup ini merupakan keniscayaan, bukan pengecualian. Tidak ada, bahkan hal-hal baik dalam hidup sekalipun, yang dapat sepenuhnya memuaskan kita. Andai kata saya memiliki kaki yang kuat untuk mendaki gunung, pasti tetap saja ada sesuatu dalam hidup saya yang akan membuat saya merasa tidak puas.
Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup! —Yesaya 55:3

Budaya kita selalu mengatakan kepada kita melalui berbagai cara bahwa kebahagiaan hidup dapat diperoleh melalui apa yang kita lakukan, yang kita beli, pakai, miliki, atau naiki. Semua itu tidak benar. Kita tidak akan bisa memperoleh kepuasan penuh dari apa pun di dunia ini, tak peduli apa yang kita lakukan.

Nabi Yesaya mengajak kita untuk datang dan datang lagi kepada Allah dan Kitab Suci untuk mendengarkan apa yang Allah katakan. Jadi, apa yang Allah katakan? Kasih-Nya kepada Daud di masa silam adalah “abadi” dan “teguh” (ay.3). Kasih itu berlaku juga untuk Anda dan saya! Kita boleh “datang” kepada-Nya.
Dalam hal apakah Anda merasa haus? Bagaimana kesadaran bahwa Allah itu setia akan menolong Anda hari ini?
Siapakah yang kami miliki, Tuhan, selain Engkau yang puaskan dahaga jiwa? Mata air yang tiada habis-habisnya mengalir! Air anugerah yang cuma-cuma! Mata air lain tak bisa diharapkan. Mary Bowley
Oleh David H. Roper | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Yesaya 55 merupakan satu rangkaian dengan dua pasal sebelumnya. Pasal 53 menubuatkan penderitaan sang Mesias yang akan datang dan menunjuk pada keturunan yang akan lahir karenanya. Melalui penderitaan ini, Mesias akan “menanggung dosa banyak orang” (ay.12)—dengan kata lain, menyelamatkan kita. Pasal 54 menggambarkan bahwa Mesias ini kelak akan memulihkan bangsa Israel sepenuhnya. Dalam pasal 55 ini, nabi Yesaya menunjukkan bahwa Allah menawarkan keselamatan tersebut kepada kita semua: “Ayo, hai semua orang yang haus” (ay.1). Ia mengundang kita untuk menerima sesuatu yang sangat dibutuhkan dan kita tak sanggup menggapainya dengan usaha sendiri. Kontras dengan roti “yang tidak mengenyangkan” (ay.2), Yesus berkata, “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yohanes 6:35). Melalui Kristus sang Air Hidup (4:1-15), kita meredakan dahaga rohani yang mendalam. Kelegaan ini tak bisa diperoleh dengan uang maupun upaya kita sendiri.

Tim Gustafson
May 08, 2019, 06:05:53 AM
Reply #2274
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24403
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Mangkuk Air Mata
  08/05/2019 
Mangkuk Air Mata
Baca: Mazmur 55:4-19 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 4–6 ; Lukas 24:36-53
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-05-08.mp3
Tetapi aku berseru kepada Allah, dan Tuhan akan menyelamatkan aku. —Mazmur 55:17

Di Boston, Massachusetts, terdapat sebuah plakat bertuliskan “Menyeberangi Mangkuk Air Mata” yang dipasang untuk mengenang orang-orang yang dengan berani menyeberangi Samudra Atlantik agar tidak mati kelaparan di tengah bencana kelaparan hebat yang melanda Irlandia di akhir tahun 1840-an. Lebih dari sejuta orang meninggal dalam bencana kelaparan itu, sementara satu juta lebih lainnya memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk menyeberangi lautan, yang secara puitis oleh John Boyle O’Reilly disebut sebagai “Mangkuk Air Mata.” Terdorong oleh kepedihan dan kelaparan hebat, orang-orang itu pergi mencari setitik pengharapan di tengah masa-masa sulit.

Dalam Mazmur 55, Daud menceritakan bagaimana ia mengejar pengharapan. Walaupun kita tidak tahu pasti ancaman apa yang sedang dihadapinya saat itu, tetapi begitu beratnya pengalaman itu hingga mentalnya jatuh (ay.5-6). Reaksi pertamanya ketika menghadapi kesulitan itu adalah berdoa, “Sekiranya aku diberi sayap seperti merpati, aku akan terbang dan mencari tempat yang tenang” (ay.7).
Allah berjanji suatu hari nanti akan menghapuskan segala air mata dari mata kita (Why. 21:4).

Seperti halnya Daud, mungkin kita ingin melarikan diri ke tempat aman di tengah-tengah situasi yang menyakitkan. Namun, setelah melihat keadaannya yang buruk, Daud memilih lari kepada Allah daripada melarikan diri dari kesulitannya, dengan bernyanyi, “Tetapi aku berseru kepada Allah, dan Tuhan akan menyelamatkan aku” (ay.17).

Ketika masalah datang, ingatlah bahwa Allah sumber segala penghiburan mampu membawa Anda melewati masa-masa yang tergelap dan paling menakutkan. Dia berjanji suatu hari nanti akan menghapuskan segala air mata dari mata kita (Why. 21:4). Dengan dikuatkan oleh pengharapan ini, kita bisa sungguh-sungguh mempercayakan seluruh air mata kita kepada-Nya.
Apa yang membuat Anda ingin lari? Apa reaksi pertama Anda ketika masalah datang?
Bapa, ketika hidup terasa menekan, berilah aku kekuatan. Hadir dan hiburlah aku, karena tanpa Engkau, aku tidak tahu harus berbuat apa.
Oleh Bill Crowder | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dalam Mazmur 55, Daud meratapi pengkhianatan pribadi yang sangat menyakitkan. Diduga, yang ia maksud di sini adalah pengkhianatan Ahitofel, penasihat yang mendukung pemberontakan Absalom, anak Daud (2 Samuel 15:12). Namun, karena tidak adanya rincian, mazmur ini dapat mewakili ungkapan kepedihan yang sifatnya umum, sebuah ekspresi yang menyatakan betapa sulitnya untuk kembali percaya setelah dikhianati (Mazmur 55:6-8), apalagi jika pengkhianatan itu terselubung dalam topeng persahabatan dan pelayanan bagi Allah (ay.12-15).

Monica Brands




May 09, 2019, 06:11:20 AM
Reply #2275
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24403
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Strategi Terbaik untuk Hidup Ini
  09/05/2019 
Strategi Terbaik untuk Hidup Ini
Baca: Pengkhotbah 4:1-12 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 7–9 ; Yohanes 1:1-28
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-05-09.mp3
Bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. —Pengkhotbah 4:12

Saat menyaksikan pertandingan basket regu anak perempuan saya dari bangku penonton, saya mendengar pelatih meneriakkan kata “dobel” kepada regunya yang sedang bermain di lapangan. Saat itu juga, strategi pertahanan mereka bergeser dari satu-lawan-satu menjadi dua pemain bertugas menjaga anggota tim lawan dengan postur tubuh yang paling tinggi. Mereka sukses menghalang-halangi usaha pemain itu untuk menembak dan mencetak skor, hingga berhasil merebut bola dan mencetak angka bagi tim mereka sendiri.

Ketika Salomo, penulis kitab Pengkhotbah, bergumul dengan rasa frustrasi dan jerih payah di dunia ini, ia juga mengakui bahwa mempunyai seorang rekan dalam pekerjaan kita akan menghasilkan “upah yang baik” (Pkh. 4:9). Ketika orang yang berjuang sendirian “dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan” (ay.12). Ketika kita jatuh, seorang sahabat dapat mengangkat kita kembali (ay.10).
Allah memberikan para sahabat untuk menolong kita menghadapi pergumulan hidup.

Perkataan Salomo mendorong kita untuk berbagi perjalanan hidup kita kepada orang lain sehingga kita tidak akan menghadapi berbagai cobaan hidup sendirian. Sebagian dari kita perlu bersikap lebih terbuka dan itu mungkin akan membuat kita sedikit tidak nyaman. Namun ada juga yang justru merindukan kedekatan tetapi menemui kesulitan mendapatkan teman untuk berbagi. Apa pun kondisinya, kita tidak boleh putus asa dalam berusaha.

Salomo dan si pelatih basket tadi sepakat: bahwa memiliki rekan di sekitar kita yang bisa diajak bekerja sama merupakan strategi terbaik untuk menghadapi tantangan-tantangan yang menghadang kita, baik di lapangan pertandingan maupun dalam kehidupan nyata. Terima kasih, Tuhan, atas orang-orang yang Kau hadirkan dalam hidup kami untuk mendorong dan menguatkan kami.
Siapa yang pernah membantu Anda melewati masa-masa sulit? Siapa yang dapat Anda dukung dan kuatkan? Bagaimana cara Anda menolong mereka?
Allah memberikan para sahabat untuk menolong kita menghadapi pergumulan hidup.
Oleh Kirsten Holmberg | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Setelah mengamati kehidupan di dunia ini, penulis kitab Pengkhotbah menyimpulkan, “Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia” (1:2). Sia-sia diterjemahkan dari kata Ibrani hebel (38 kali dipakai dalam kitab ini) yang secara harfiah berarti “uap” dan secara tersirat mengandung arti hal-hal yang sementara, cepat pudar, tanpa tujuan. Meski demikian, tulisannya tidak berakhir tanpa harapan. Salomo mengingatkan kita akan makna dan kepuasan yang bisa ditemukan dalam persekutuan dengan sesama (4:4-12).

Arthur Jackson




May 11, 2019, 07:38:16 AM
Reply #2276
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24403
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Tuhan Menyediakan
  11/05/2019 
Tuhan Menyediakan
Baca: Kejadian 22:2-14 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 13–14 ; Yohanes 2
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-05-11.mp3

Abraham menamai tempat itu: “Tuhan menyediakan.” —Kejadian 22:14

Kegelisahan saya semakin menjadi-jadi sepanjang musim panas setelah saya lulus sarjana dan akan memulai program magister. Saya senang jika segala sesuatu sudah terencana, jadi membayangkan harus pindah ke luar negara bagian dan masuk kuliah tanpa memiliki pekerjaan membuat saya gelisah. Namun, beberapa hari sebelum mengakhiri pekerjaan saya di musim panas, saya diminta terus bekerja untuk perusahaan tersebut dari jarak jauh. Saya menerima tawaran tersebut dan merasa tenang karena tahu Allah memelihara hidup saya.

Allah menyediakan, tetapi menurut waktu-Nya, bukan waktu saya. Abraham mengalami situasi yang jauh lebih sulit dengan anaknya, Ishak. Ia diminta membawa anaknya untuk dipersembahkan di atas gunung (Kej. 22:1-2). Tanpa ragu, Abraham taat dan membawa Ishak ke sana. Dalam perjalanan yang memakan waktu 3 hari, Abraham sebenarnya mempunyai banyak waktu untuk berubah pikiran, tapi ia tidak melakukannya (ay.3-4).
Abraham menamai tempat itu: “Tuhan menyediakan.” —Kejadian 22:14

Saat Ishak bertanya kepada ayahnya, Abraham menjawab, “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya” (ay.8). Saya bertanya-tanya apakah Abraham merasakan kegelisahan yang semakin menjadi-jadi setiap kali ia membuat simpul demi simpul yang mengikatkan badan Ishak di mezbah dan juga saat ia mulai mengambil pisau untuk menyembelih anaknya (ay.9-10). Betapa leganya Abraham ketika malaikat meminta ia berhenti! (ay.11-12). Allah benar-benar menyediakan korban bakaran, seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut dalam belukar (ay.13). Allah telah menguji iman Abraham, dan ia telah terbukti setia. Pada saat yang tepat, dengan tidak terlambat sedetik pun, Tuhan menyediakan (ay.14).
Adakah jawaban doa yang sudah lama Anda tunggu? Pernahkah Anda melihat Tuhan menyediakan bagi Anda pada saat yang tepat?
Tuhan, terima kasih atas penyediaan-Mu. Tolong aku untuk percaya bahwa Engkau selalu menyediakan, meskipun penantianku terasa sangat lama.
Oleh Julie Schwab | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Dengan menyuruh Abraham ke tanah Moria untuk mempersembahkan Ishak (Kejadian 22:2), Allah mempersiapkan persembahan-persembahan korban di masa mendatang. Daud membeli tempat pengirikan Arauna untuk persembahan yang mengakhiri suatu tulah (2 Samuel 24:21-25). Di lokasi yang sama, yaitu Gunung Moria, Salomo putra Daud membangun Bait Suci tempat bangsa mereka mengadakan persembahan korban (2 Tawarikh 3:1).

Bill Crowder




May 11, 2019, 07:40:48 AM
Reply #2277
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24403
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Menteri Urusan Kesepian
  10/05/2019 
Menteri Urusan Kesepian
Baca: Ibrani 13:1-8 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 10–12 ; Yohanes 1:29-51
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-05-10.mp3

Peliharalah kasih persaudaraan! —Ibrani 13:1

Sejak suaminya meninggal, Betsy banyak menghabiskan waktu di rumah, menonton TV dan membuat teh untuk dirinya sendiri. Bukan hanya Betsy yang hidup dalam kesepian. Lebih dari 9 juta warga Inggris (15% dari populasi) mengatakan bahwa mereka sering atau selalu merasa kesepian, dan pemerintah Inggris Raya telah menunjuk seorang Menteri Urusan Kesepian untuk mencari tahu penyebab dan cara menolong orang-orang yang kesepian tersebut.

Sejumlah penyebab kesepian yang umum ditemui: Kita terlalu sering berpindah-pindah sehingga tidak berakar di satu tempat. Kita yakin bisa mengurus diri sendiri, sehingga merasa tidak memerlukan orang lain. Kita dipisahkan oleh teknologi—terlalu asyik dengan gawai dan layar kita masing-masing.
Keluarga Allah hadir untuk menjadi jawaban bagi masalah kesepian.

Saya merasakan sisi gelap kesepian, dan mungkin Anda merasakannya juga. Itulah satu alasan mengapa kita membutuhkan saudara-saudari seiman. Dalam kitab Ibrani, pembahasan panjang mengenai pengorbanan Yesus diakhiri dengan dorongan bagi kita untuk tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah (10:25). Kita adalah bagian dari keluarga Allah, sehingga kita harus memelihara “kasih persaudaraan” dan senang “memberi tumpangan kepada orang” (13:1-2). Jika setiap dari kita melakukan hal-hal tersebut dengan sungguh-sungguh, setiap orang akan merasa diperhatikan.

Orang-orang yang kesepian mungkin tidak dapat membalas kebaikan kita, tetapi itu bukan alasan untuk menyerah. Yesus berjanji tidak akan pernah membiarkan atau meninggalkan kita (13:5), dan kita dapat menggunakan kasih persahabatan-Nya sebagai motivasi untuk mengasihi orang lain. Apakah Anda kesepian? Apa yang dapat Anda lakukan untuk melayani keluarga Allah? Para sahabat yang Anda dapatkan dalam persekutuan dengan Yesus akan bertahan selamanya, sepanjang hidup ini, bahkan sampai selamanya.
Siapa yang membutuhkan persahabatan Anda saat ini? Bagaimana Anda dapat melayani seseorang dalam gereja atau komunitas Anda dalam minggu ini?
Keluarga Allah hadir untuk menjadi jawaban bagi masalah kesepian.
Oleh Mike Wittmer | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Banyak surat Perjanjian Baru memiliki bagian penutup berupa nasihat atau dorongan kepada pembaca untuk memiliki sikap dan perilaku tertentu. Demikian pula halnya surat Ibrani.

Secara berturut-turut, penulis menyebutkan apa saja yang harus dilakukan pembaca, dan tidak banyak yang berhubungan. Hal unik dalam deretan nasihat ini adalah adanya alasan untuk setiap nasihat. Misalnya, kita harus memberi tumpangan (ay.2), sebab dengan berbuat demikian, siapa tahu kita menjamu malaikat. Kita harus menghormati kesucian perkawinan (ay.4), sebab Allah akan menghakimi. Kita juga harus mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki, (ay.5), sebab Allah menyertai kita. Perintah itu diberikan bukan supaya kita menjadi budak peraturan, melainkan demi kebaikan kita.


May 12, 2019, 01:18:35 PM
Reply #2278
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24403
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kasih Takkan Berhenti
  12/05/2019 
Kasih Takkan Berhenti
Baca: Lukas 15:1-7 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 15–16 ; Yohanes 3:1-18
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-05-12.mp3

Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. —Lukas 15:6

Saat saya berumur 19, bertahun-tahun sebelum memiliki pager ataupun ponsel, saya pindah ke satu wilayah yang berjarak 1.000 kilometer lebih dari rumah ibu saya. Suatu hari, saya berangkat pagi-pagi sekali untuk suatu keperluan, hingga lupa kalau saya sudah berjanji akan menelepon ibu saya. Malam itu, 2 petugas polisi datang ke rumah. Ternyata ibu saya khawatir karena sebelumnya saya tidak pernah lupa dengan janji saya. Setelah menelepon berkali-kali dan mendengar nada sibuk, ibu saya meminta polisi mengecek kondisi saya. Salah seorang polisi itu berkata kepada saya, “Anda sungguh diberkati karena kasih ibu takkan berhenti mencari sampai Anda ditemukan.”

Saat mengangkat telepon untuk menghubungi ibu saya, saya baru sadar rupanya gagang telepon tidak diletakkan dengan benar di atas perangkatnya. Sesudah saya meminta maaf, ibu saya berkata ia harus menyebarkan kabar baik tentang saya yang ditemukan kembali kepada keluarga dan teman-temannya. Saya merasa ibu saya agak sedikit berlebihan, walaupun saya merasa senang karena disayang begitu rupa.
Allah takkan berhenti mencari kita. Dia akan selalu mencari kita sampai kita kembali kepada-Nya.

Kitab Suci memberikan gambaran indah tentang Allah, Sang Kasih, yang tanpa henti memanggil anak-anaknya yang terhilang. Seperti gembala yang baik, Dia mempedulikan dan mencari setiap domba yang hilang, dan dengan itu menegaskan bahwa setiap anak Allah sungguh tak ternilai di hadapan-Nya (Luk. 15:1-7).

Kasih takkan berhenti mencari kita. Dia akan selalu mencari kita sampai kita kembali kepada-Nya. Kita juga dapat berdoa untuk mereka yang perlu mengetahui bahwa Kasih—Allah itu sendiri—tidak akan pernah berhenti mencari mereka.
Bagaimana rasanya mengetahui bahwa Allah selalu mencari Anda karena kasih-Nya? Bagaimana Dia memakai Anda untuk membawa kasih-Nya kepada orang lain?
Tuhan, terima kasih karena Engkau terus mencari kami dan menyediakan tempat perlindungan yang aman bagi kami yang kembali ke pelukan-Mu.
Oleh Xochitl Dixon | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Perumpamaan ini (Lukas 15:1-7) adalah yang pertama dalam rangkaian perumpamaan tentang kehilangan: domba yang hilang, dirham yang hilang, dan perumpamaan terkenal tentang anak bungsu yang hilang (ay.11-32). Yang membuat Yesus menceritakan kisah-kisah ini adalah gerutuan “orang Farisi dan ahli-ahli Taurat”—para pemimpin agama. Kita lekas sekali menghakimi para pemimpin yang merasa dirinya benar itu, tetapi mungkin kita perlu berhenti sejenak dan memikirkan alasan kejengkelan mereka. Para pemuka itu kesal karena Yesus menerima “para pemungut cukai dan orang-orang berdosa” (ay.1-2) yang bahkan tidak berupaya hidup menenuhi standar yang ditetapkan oleh kalangan elit agama bagi mereka. Para pemungut cukai misalnya, mereka memeras sesama orang Ibrani, memanfaatkan kekuasaan penjajah Romawi demi mendapat uang dari bangsa mereka sendiri. Yesus memandang orang-orang itu bukan sebagai kaum pengacau yang perlu dihindari, melainkan sebagai “domba yang hilang,” berharga dan perlu diselamatkan.

Tim Gustafson





May 13, 2019, 07:06:22 AM
Reply #2279
  • FK - Hero
  • *****
  • Posts: 24403
  • Gender: Male
  • 1 kor 9 : 16
https://santapanrohani.org/

Kerinduan yang Terukir
  13/05/2019 
Kerinduan yang Terukir
Baca: Ulangan 34:1-5 | Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-raja 17–18 ; Yohanes 3:19-36
00:00
Unduh MP3

https://santapanrohani.org/wp-content/themes/odbm-base/assets/download.php?file=https://d1qj9y79pcvssa.cloudfront.net/odb/id/id-odb-2019-05-13.mp3

Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana. —Ulangan 34:4

“Ah, setiap dermaga adalah kerinduan yang terukir!” begitulah bunyi sebaris kalimat dalam puisi berbahasa Portugis “Ode Marítima” karya Fernando Pessoa. Dermaga itu mewakili perasaan kita saat sebuah kapal beranjak perlahan meninggalkan kita. Kapal berangkat tetapi dermaga tetap di tempatnya, menjadi monumen abadi yang melambangkan harapan dan impian, perpisahan dan kerinduan. Kita merasa sedih karena ada yang hilang, dan atas sesuatu yang tidak dapat kita raih.

“Kerinduan” merujuk kepada hasrat nostalgia yang kita rasakan—suatu kepedihan mendalam yang tak terjelaskan. Sang pujangga melukiskan sesuatu yang tidak terlukiskan.
Tuhanlah yang memuaskan segala kerinduan kita.

Bagi Musa, Gunung Nebo mungkin adalah “kerinduan yang terukir”. Dari Nebo, ia melihat tanah perjanjian yang takkan dicapainya. Firman Tuhan kepada Musa—“Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana”(Ul. 34:4)—mungkin terdengar keras. Namun, jika hanya itu yang kita lihat, kita justru melewatkan inti masalahnya. Allah justru sedang menghibur Musa: “Inilah negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub; demikian: Kepada keturunanmulah akan Kuberikan negeri itu” (ay.4). Tidak lama setelah itu, Musa meninggalkan Nebo untuk suatu negeri yang jauh lebih indah dari Kanaan (ay.5).

Dalam kehidupan ini, sering kita seperti berdiri di dermaga. Orang yang kita cintai pergi; pengharapan kita musnah; impian kita pupus. Namun di tengah itu semua, kita merasakan sekilas keindahan taman Eden dan secercah surga. Kerinduan kita membawa kita kepada Tuhan. Dialah yang memuaskan segala kerinduan kita.
Apa saja kerinduan Anda yang belum tergenapi? Area mana saja dalam hidup ini yang coba Anda puaskan dengan hal-hal yang salah? Bagaimana Anda dapat menemukan kepuasan sejati dalam Allah saja?
Hal terindah dalam hidupku adalah kerinduan—untuk meraih Gunung yang mulia dan menemukan asal usul semua keindahan yang ada. C. S. Lewis
Oleh Tim Gustafson | Lihat Penulis Lain
Wawasan
Pasal terakhir dalam kitab Ulangan menceritakan kembali perihal Musa yang dilarang masuk ke tanah perjanjian karena ketidaktaatannya kepada Allah di mata air Meriba (Bilangan 20:1-13; Mazmur 106:32-33). Namun, Musa diizinkan melihat tanah perjanjian dari Gunung Nebo di Moab (wilayah Yordania zaman modern), di sebelah timur Sungai Yordan (Ulangan 34:1-4).

Seluruh angkatan Israel pertama yang berumur dua puluh tahun ke atas telah mati di padang gurun, kecuali Musa, Yosua, dan Kaleb (Bilangan 32:11-12). Musa sedang mempersiapkan angkatan kedua untuk memasuki Kanaan, saat itulah orang Israel menggerutu kepada Musa karena tidak ada air untuk diminum (20:1-13). Allah menyuruh Musa, “Katakanlah kepada bukit batu itu . . . demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka” (ay.8). Namun bukannya berkata kepada bukit batu, Musa memukulnya dua kali (ay.11). Dengan perbuatan itu, di depan rakyat ia menunjukkan kurangnya iman bahwa Allah mampu memenuhi kebutuhan umat-Nya, dan hal itu sama dengan tidak menghormati Allah (ay.12).





 


[X]
Shalom! Selamat datang di Komunitas Kristen Online!

Nampaknya anda belum login. Klik disini untuk login

Belum menjadi member? Klik disini untuk DAFTAR GRATIS (cuma 1 menit)